cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Teknologi Pasca Panen
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 18583504     EISSN : -     DOI : -
Buletin Penelitian Pascapanen Pertanian memuat tinjauan (review) hasil-hasil penelitian dikaitkan dengan teori, aplikasi dan kebijakan dengan tujuan memberikan informasi teknologi dan kebijakan pascapanen pertanian kepada pengguna. Buletin ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
PENGEMBANGAN BIOFARMAKA SEBAGAI OBAT HERBAL UNTUK KESEHATAN nFN Hernani
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 1 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Herbal merupakan campuran bahan alami yang berbentuk racikan/ramuan dalam formulasinya tanpa penambahan bahan kimia sintetik. Pemakaian herbal untuk penanganan kesehatan telah berkembang sangat pesat seiring dengan trend kembalinya ke bahan alami (back to nature). Dalam bidang perdagangan, herbal diklasifikasikan dalam 3 katagori, yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka, dan masing-masing mempunyai logo yang sangat spesifik. Sediaan obat herbal berbentuk racikan/ramuan, kapsul, tablet, kaplet yang berisi serbuk tanaman obat, baik yang sudah terstandarisasi ataupun belum. Khasiat dan keamanan obat herbal belum terjamin, karena kandungan senyawa aktifnya sebagian besar belum terstandar, sehingga sulit menentukan dosis pemakaian yang tepat. Dengan berkembangnya kemajuan teknologi dibidang farmasi, obat herbal bisa lebih terkontrol, terutama kualitas, kuantitas, efektifitas dan keamanannya melalui analisa, uji farmakologi, praklinik dan klinik. Obat herbal cukup berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat dalam penanganan kesehatan. Hal ini merupakan tantangan yang cukup besar, sehingga dimasa datang obat herbal bisa diperoleh diapotik dengan pemakaian resep dari paramedik.
Studi Kandungan Residu Pestisida pada Kubis, Tomat dan Wortel Di Malang dan Cianjur S Joni Munarso; nFN Miskiyah; Wisnu Broto
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pestisida dipercaya dapat menurunkan populasi hama dengan cepat sehingga meluasnya hama dapat dicegah. Pestisida pada tanaman dapat terserap tanaman dan terbawa oleh hasil panen berupa residu yang dapat terkonsumsi oleh konsumen lewat makanan. Residu pestisida menimbulkan efek yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan berupa gangguan pada sistem syaraf serta metabolisme enzim. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui insiden residu pestisida pada sayuran kubis, tomat, dan wortel di Malang, Jawa Timur dan Cianjur, Jawa Barat. Metode penelitian yang dilakukan bersifat survai. Contoh diambil secara acak, dari petani, pedagang, dan pasar swalayan, di Malang dan Cianjur masing-masing 3 contoh. Contoh kemudian diambil secara komposit sebanyak 2 kg, kemudian dimasukkan kedalam ice box, dan dibawa segera ke laboratorium untuk dianalisis kadar residu pestisida menggunakan Gas Chromatography (GC). Untuk ucuan uji digunakan 17 jenis bahan aktif pestisida dari 3 golongan organoklorin, organofosfat, dan karbamat. Data hasil analisis kemudian diinterpretasikan, dan angka yang diperoleh dibandingkan dengan standar Batas Maksimum Residu pestisida yang tercantum dalam SNI 7313:2008, dan disajikan secara deskriptif. Hasil analisis residu pestisida pada kubis menunjukkan bahwa bahan aktif endosulfan dominan ditemukan pada contoh kubis baik yang berasal dari Malang maupun Cianjur, dengan kandungan residu pestisida tertinggi 7,4 ppb yang dianalisis dari contoh yang diambil dari petani di Cianjur. Residu lain yang terdeteksi antara lain pestisida yang mengandung bahan aktif klorpirifos, metidation, malation, dan karbaril. Contoh wortel yang dianalisis menunjukkan bahwa bahan aktif endosulfan juga dominan pada contoh wortel baik yang diambil dari Malang maupun Cianjur dengan kadar tertinggi 10,6 ppb. Sedangkan bahan aktif lain yang terdeteksi antara lain klorpirfos, metidation, dan karbofuran.
Performance of technology and prospects agribusiness for salacca fruit Dwi Amiarsi; Edy Mulyono
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 9, No 1 (2013): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The potency of salacca edulis has not been fully utilized yet. Its use is limited as Salacca edulis decoration/parcel, of sweets fruits in syrup (in can or glass bottles). The improvement of fruits quality, the longer shelf life and product diversity can increase the usefulness of the fruits in modern life. Postharvest handling activities generally still has not done well by the farmers and traders. To increase the production of as well as the direction of development of fruits is to implemental quality assurance system that cover post harvest handling is good and right, and distribution. Postharvest handling of fruits through harvesting, collecting, cleaning, sorting and grading, pre-treatment, packaging and storage, transportation, distribution, and display. Technology of processed fruits which is increased the added value, i.e. sweet pickle, chips, fruit in syrup, pickles, edible coating. Abstrak Versi IndonesiaPotensi buah salak belum dimanfaatkan secara maksimal, penggunaannya terbatas sebagai buah meja, parsel, manisan dan buah salak dalam sirup (dikemas kaleng atau botol gelas). Peningkatan mutu buah salak, masa simpan yang lebih lama dan keragaman produk dapat menambah kegunaan buah salak dalam kehidupan modern. Kegiatan penanganan pascapanen umumnya masih belum dilakukan secara baik oleh petani maupun pedagang. Untuk meningkatkan produksi sekaligus sebagai arah pengembangan buah salak adalah dengan menerapkan sistem jaminan mutu yang meliputi cara penanganan pascapanen yang baik dan benar, dan cara distribusi yang baik dan benar. Penanganan pascapanen buah salak melalui kegiatan panen, pengumpulan, pembersihan, sortasi dan grading, perlakuan awal, pengemasan dan penyimpanan, transportasi, distribusi, dan peragaan. Teknologi olahan buah salak untuk peningkatan nilai tambah dapat berupa manisan, keripik, buah dalam sirup, asinan, edible coating.
Kajian Pengolahan Bubuk Instant Wortel dengan Metode Foam Mat Drying Kasma Iswari
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 3, No 1 (2007): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produk pangan yang dikehendaki oleh masyarakat moderen tidak hanya mempertimbangkan unsur pemenuhan gizi, akan tetapi juga harus praktis, cepat saji, tahan lama dan tidak memerlukan tempat penyimpanan yang banyak. Untuk itu produk pangan bubuk siap saji (bubuk instan) merupakan salah satu alternatif dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Wortel merupakan salah satu komoditas sayuran yang dapat dijadikan bubuk instant mengingat ß- karotin yang dikandungnya cukup tinggi yang bermanfaat untuk kesehatan mata terutama anak balita. Penelitian bertujuan untuk memperoleh teknologi pengolahan bubuk instan wortel yang bermutu dan layak diterapkan oleh industri rumah tangga. Penelitian terdiri dari dua tahap. Tahap pertama pengujian metode pengeringan dalam pembuatan bubuk instant yang terdiri dari dua metode yaitu: foam mat drying dan tanpa foam mat drying. Tahap kedua adalah pengujian tipe wortel yang cocok untuk diolah menjadi bubuk instant yang terdiri dari dua tipe yaitu: Tipe Chantenay dan Tipe Imperator. Pengkajian dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen BPTP Sumbar pada bulan Oktober sampai dengan Desember Tahun 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi pengolahan dengan metode foam mat draying, dan menggunakan varietas Tipe Chantenay layak untuk diterapkan oleh industri rumah tangga dengan B/C ratio 2,05. Dengan metode ini menghasilkan bubuk instan yang memenuhi standar mutu bubuk instan SII 0364-80 dengan waktu pengeringan lebih cepat 90 jam dibandingkan dengan pengeringan tanpa foam. Disamping itu memberikan penampakan, dan rasa pada skor suka sampai sangat suka (5-6). Wortel tipe Chantenay cocok untuk dijadikan bubuk instan dibandingkan dengan wortel tipe Imperator karena bubuk instant wortel tipe Chantenay mengandung â- karotin ( 1276 mg/100 g bahan) dan gula lebih tinggi ( 25,92 %) dan lama partikel melarut lebih cepat ( 0,1404 g/detik) walaupun kandungan vitamin C lebih rendah ( 14,4 mg/100 g bahan). Bubuk instan wortel Tipe Imperator hanya mengandung â - karotin 1175 mg/100 g, gula 23,86% dengan lama partikel melarut 0,1155 g/detik, vitamin C 15 mg/100 g.
PERANAN TEKNOLOGI PASCAPANEN UNTUK MENINGKATKAN MUTU BUAH PEPAYA (Carica papaya L) nFN Suyanti
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 2 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah pepaya (Carica papaya L) termasuk buah klimaterik berdaya simpan singkat. Kandungan gizi yang tinggi, rasanya yang netral, mudah dicerna dan harga yang terjangkau menyebabkan banyak diminati oleh masyarakat baik di dalam negeri maupun luar negeri. Mutu yang prima sangat di butuhkan untuk pasar lokal, pasar swalayan, toko buah segar, hotel, restoran, katering, rumah sakit maupun industri olahan buah.Buah pepaya dipanen dengan cara dipetik dengan tangan pada tingkat ketuaan Star 1 untuk pepaya Dampit dan semburat warna merah untuk pepaya Solo. Grading dilakukan dengan cara memilah-milah buah berdasarkan berat, digolongkan menjadi grade super (3,95±0,30 kg), grade A (3,39±0,40 kg) grade B ( 2,06±0,25 kg), grade C (1,25±0,33kg) dan grade D (0,76±0,09 kg). Daya simpan buah dapat diperpanjang dengan menyimpan buah pada suhu dingin (10-25oC). Pada penyimpanan suhu 5oC buah tidak dapat menjadi matang karena chilling injury. Pemilihan tingkat ketuaan yang tidak tepat dan penanganan yang kurang hati hati saat pengemasan dan transportasi akan menghasilkan kerusakan yang cukup besar. Jumlah kerusakan dapat mencapai 40-100%. Kerusakan terbesar karena penyakit anthracnose (68%) dan lewat matang (42%). Teknik penundaan kematangan buah menggunakan pelilinan dapat mempertahankan mutu buah dan daya simpan buah sampai 11 hari. Kombinasi perlakuan menggunakan pencelupan dalam air panas 53oC selama 3 menit, dan penggunaan fungisida dapat menekan perkembangan anthracnose selama penyimpanan. Kombinasi benomyl 250 ppm, prochloraz 125 ppm dan air panas 53oC selama 3 menit lebih efektif dalam menekan perkembangan penyakit sampai 5 hari lebih lama dibanding kontrol.
PENGEMBANGAN PENGOLAHAN KELAPA TERPADU UNTUK INDUSTRI KECIL DI PERDESAAN A.H Bambang Setiaji
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 2 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelapa merupakan tanaman multiguna karena seluruh bagian tanaman ini bermanfaat bagi kehidupan manusia serta mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Produk-produk yang dapat dihasilkan dari kelapa, antara lain virgin coconut oil (VCO), minyak goreng, bahan kosmetik, farmasi, asap cair, briket, dan nata de coco. Pengembangan kelapa yang paling efektif adalah dengan pemberdayaan masyarakat melalui model teknologi industri rumah tangga menggunakan ilmu kimia terapan yang sederhana. Model pengembangan industri kecil kelapa terpadu di perdesaan ini akan mempunyai manfaat antara lain meningkatkan nilai tambah dari petani kelapa karena mereka dapat mengolah buah kelapa menjadi banyak produk yang dapat dipasarkan. Semakin besar usahanya akan semakin besar pendapatan petani kelapa sehingga akan menjadi bisnis yang berbasis riil pada masyarakat kecil. Semua produk dihasilkan dan dilimpahkan pada tingkat kecamatan, sehingga kecamatan dapat dikatakan sebagai koordinator pemasaran, maka kecamatan akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada pengolahan kelapa.
Pengembangan Produk Jahe Kering dalam Berbagai Jenis Industri Sri Yuliani; Sari Intan Kailaku; nFN Suyanti
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jahe (Zingiber officinale Rosc) termasuk salah satu komoditas rempah dan obat yang juga merupakan tanaman prioritas dalam temu-temuan. Penggunaan jahe sangat sesuai untuk berbagai macam olahan karena selain mempunyai rasa dan aroma yang enak dan khas, juga memiliki fungsi sebagai obat yaitu untuk memperbaiki pencernaan, menambah nafsu makan, memperkuat lambung dan mencegah infeksi. Sebelum diolah lebih lanjut saat disimpan jahe segar memiliki beberapa kerugian seperti memerlukan banyak tempat (bulky), mutu dan flavour bervariasi tergantung pada umur, selama penyimpanan memungkinkan kehilangan minyak atsiri atau komponen lainnya. Pengembangan produk jahe kering dalam berbagai bentuk produk antara maupun produk jadi sangat menguntungkan dan belum jenuh, hal ini disebabkan karena permintaan pasar yang cukup tinggi baik di dalam maupun di luar negeri dengan demikian memberikan peluang untuk dikembangkan secara serius oleh petani, industri makanan dan minuman juga industri farmasi. Produk olahan jahe telah banyak beredar di pasaran untuk produk antara diantaranya adalah jahe kering (simplisia), bubuk, minyak jahe, oleoresin jahe dan mikrokapsul oleoresin jahe, sedangkan untuk produk jadi yang diusahakan oleh industri makanan dan minuman diantaranya adalah bumbu masak instan, pikel atau asinan jahe, anggur, sirup, permen jahe, wedang dan serbat jahe. Dalam industri farmasi jahe banyak digunakan untuk obat dalam (oral) produknya antara lain obat batuk dalam bentuk sirup (komix, OBH jahe), bentuk tablet/ kapsul zinaxin rapid untuk obat rematik dan untuk obat luar minyak jahe digunakan dalam bentuk balsam, parem kocok, koyo dan lain-lain. Makalah ini mengkaji berbagai usaha pengembangan produk jahe kering sebagai usaha pemanfaatan jahe untuk bahan baku industri.
Studi Penempatan Lokasi dan Karakteristik Potensi Agroindustri Mangga dan Sirsak di Wilayah Jawa Barat Dondy Anggono Setyabudi; nFN Setyadjit; Wisnu Broto
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 3, No 1 (2007): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan melalui survai lokasi guna memperoleh data primer dan sekunder, pada Februari-Desember 2001, di wilayah Jawa Barat. Lokasi tingkat provinsi dipilih tiga kabupaten, berturut-turut ditentukan tiga kecamatan, dan tiga desa. Di masing-masing desa diwawancarai 10 petani, satu pedagang pengumpul, dan satu eksportir. Penelitian dilakukan secara desk study dan survey. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui data BPS, Ditjen Hortikultura, Dinas Pertanian, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan lain-lain. Hasil survai menunjukkan bahwa petani di sentra produksi mangga wilayah Jawa Barat mengusahakan tumpang sari berbagai varietas tanaman (pisang, petai, nangka, kelapa, palawija, dan tanaman sayuran). Petani dengan kepemilikan lahan lebih dari 5 Ha menanam mangga varietas komersial (Arumanis, Cengkir, dan Gedong) secara monokultur. Varietas mangga komersial yang diusahakan petani di sentra produksi wilayah Jawa Barat adalah Arumanis (Cirebon dan Garut), dan Gedong (Indramayu). Asal benih berupa okulasi dari proyek pemerintah. Petani menggunakan teknologi budidaya maju, meskipun masih terbatas. Petani perlu mendapatkan bimbingan dan latihan teknologi budidaya, agar dihasilkan mangga bermutu dan memenuhi selera pasar. Petani umumnya melakukan penanganan pascapanen pada tahap pemetikan, seperti umur petik dan kriteria fisik lainnya yang mudah dikenali. Petani belum melakukan pemilihan/grading, penyimpanan, dan pengolahan. Teknik pemetikan, pemilihan, penyimpanan, dan pengolahan sebagian besar dilakukan tengkulak, pedagang pengumpul, atau pun pedagang antar kota. Kelompok Tani (kebanyakan tanaman pangan) sebagai wadah organisasi bagi petani dengan fasilitas umum cukup memadai, namun belum sepenuhnya difungsikan, sehingga pemasaran mangga dan sirsak dilakukan pedagang. Tiga alternatif penempatan agroindustri mangga dan sirsak didasarkan pada wilayah berpotensi produksi, potensi produksi tertinggi, varietas mangga dan sirsak. Hasil survai menunjukkan bahwa kabupaten Indramayu yang berbatasan dengan Majalengka merupakan alternatif lokasi agroindustri berdasarkan karakteristik potensi produksi mangga dan sirsak. Kecamatan Widasari (Indramayu) dan Pamulihan (Garut) merupakan lokasi alternatif penempatan agroindustri berdasarkan potensi produksi tertinggi, sedangkan Garut sebagai alternatif penempatan agroindustri berdasar varietas mangga dan sirsak. Potensi agroindustri berdampak terhadap penentuan kebijakan, baik pemasaran, ekonomi, distribusi, dan investasi, berguna bagi industri bidang pengolahan, dan industri lainnya serta berdampak pada lapangan kerja, baik di tingkat pedesaan, nasional, dan menyangkut daerah lainnya.
Mekanisme Proses Pembuatan Mi Berbahan Baku Jagung Tjahja Muhandri
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 8, No 2 (2012): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang proses pembuatan mi berbasis jagung, secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga metode yaitu kalendering, ekstrusi pencetak dan ekstrusi pemasak-pencetak. Meskipun demikian belum semua penelitian yang dilakukan dapat menghasilkan mi yang baik, yaitu yang memiliki cooking loss rendah dan elongasi tinggi. Tujuan dari makalah ini adalah mengkaji berbagai mekanisme proses untuk menghasilkan mi jagung yang bermutu tinggi, termasuk mekanisme adonan selama proses pembuatan mi. Mi berbasis tepung jagung memiliki karakteristik unik yang berbeda dibandingkan dengan mi dari pati dan mi dari tepung terigu. Mi dari tepung jagung memerlukan mekanisme gelatinisasi, pemecahan granula tepung dan retrogradasi. Tahapan proses tersebut memerlukan kadar air, tekanan dan tekanan geser (shear stress) pada adonan yang optimum, sehingga mi dari tepung jagung memiliki cooking loss yang tinggi dan elongasi yang rendah.
Pemanfaatan Kacang-Kacangan Lokal Sebagai Substitusi Bahan Baku Tempe dan Tahu Winda Haliza; Endang Yuli Purwani; Ridwan Thahir
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 3, No 1 (2007): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar kedelai di Indonesia dimanfaatkan untuk memenuhi industri tempe dan tahu. Saat ini, produksi kedelai dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu kedelai perlu diimpor. Cara lain untuk mengatasinya adalah memanfaatkan kacang-kacangan selain kedelai. Ada beberapa jenis kacang-kacangan yang belum termanfaatkan untuk produksi tempe dan tahu. Beberapa kacang-kacangan yang belum termanfaatkan seperti seperti kacang tunggak (Vigna unguiculata), kacang gude (Cajanus cajan), kacang babi (Vacia faba) dan lain-lain banyak dijumpai di Indonesia. Sifat fisiko-kimia kacang-kacangan tersebut sangat beragam. Berdasarkan komposisi kimia utama yang ada di dalamnya, kacang-kacangan di atas hanya sesuai untuk produksi tempe. Pengembangan tempe tampaknya memiliki prospek cukup baik di masa yang akan datang. Tempe selain bergizi tinggi juga memiliki efek menyehatkan bagi manusia.