cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
Sistem Usahatani Berbasis Kelapa DOAH DEKOK TARIGANS
Perspektif Vol 1, No 1 (2002): Juni 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v1n1.2002.18-32

Abstract

Tanaman kelapa (Cocos nucifera) memiliki peran yang strategis bagi masyarakat Indonesia, bahkan tanaman kelapa termasuk sebagai komoditas sosial kedua setelah padi mengingat produknya merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok masyarakat. Peran strategis demikian terlihat dari total areal 3.74 juta hektar, dan sekaligus sebagai areal perkebunan terluas dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya. Sekitar 3.59 juta hektar (96%) merupakan perkebunan rakyat yang memiliki berbagai masalah seperi , (1) luas kepemilikan lahan yang sempit ,(2) sebagian besar diusahakan dengan pola monokultur dan bersifat subsistan, (3) produkivitas kelapa rendah, (4) pendapatan usahatani rendah, (5) adopsi teknologi sangat terbatas, (6) produk yang dihasilkan masih dalam bentuk produk primair dan idak kompeiif dan (7) harga produk diingkat petani rendah dan fluktuaif. Berdasarkan kondisi tersebut, dalam dua dekade terakhir telah dilaksanakan penelitian sistem usahatani berbasis kelapa (SUBK) secara intensif dan terencana pada berbagai agroekosistem disentra-sentra produksi kelapa. Hasilpenelitian menyimpulkan bahwa pengembangan tanaman kelapa secara monokultur idak dianjurkan lagi, karena secara teknis maupun ekonomis idak menguntungkan. Saat ini di negara-negara penghasil kelapa utama seperi India, Filipina, Sri Lanka, dan Indonesia merekomendir dikembangkannya SUBK dengan introduksi berbagai tanaman sela yang prospekif. SUBK ini memiliki beberapa keunggulan yaitu (1) pemanfataan lahan usahatani menjadi efisien dan produkif, (2) meningkatkan produkifitas usahatani, (3) meningkatkan pendapatan usahatani, (4) pemakaian input usahatani lebih efisien dan pendapatan petani lebih terjamin. Namun demikian hasil studi SUBK di Indonesia menunjukkan suatu kenyataan bahwa peningkatan luas areal dan produksi belum sepenuhnya diikui dengan peningkatan pendapatan petani. Kondisi ini terutama disebabkan (1) rendahnya produkivitas dan harga produk diingkat petani, (2) rendahnya efisiensi pemanfaatan lahan serta (3) belum optimalnya pengolahan semua produk yang dihasilkan. Masalah tersebut dapat diatasi melalui diversifikasi usahatani horizontal dan vertikal. Penerapan diversifikasi secara terpadu dapat diharapkan (1) kehidupan petani lebih layak, (2) petani kelapa menjadi pelaku didalam sistem agribisnis kelapa, (3) tumbuhnya semangat petani untuk melakukan usahatani kelapa, (4) sumber daya fisik perkebunan kelapa dapat dimanfaatkan secara opimal, (5) terpenuhinya bahan baku untuk industi pengolahan, (6) tumbuh dan berkembangnya kelembagaan dan industri baru dari hasil tanaman campuran, (7) transfer teknologi dapat dipercepat, dan (8) meningkatnya sumbangan kelapa terhadap pendapatan devisa negara.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, sistem usahatani, tanaman sela, diversifikasi horisontal, diversifikasi verikal.
Prospect of Genetics Improvement of Physic Nut (Jatropha curcas L.) . HASNAM
Perspektif Vol 10, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v10n2.2011.%p

Abstract

The development of physic nut in Indonesia is hampered by technological obstacles, limited infrastructure, and institutional constraints. Limited radiation, due to shading, exeside or lock of rainfall, nutrient deficiencies, and various changes in environmental condition results in variation in male to female flower ratio and alteration of reproductive system that lowers plant productivity. The crop productivity is too low and costly to manage physic nut plantation commercially. The potential of Jatropha curcas L. has not yet been realized. One of the reasons is the lack of high yielding varieties with high oil content. As an often cross pollinated crop, the following methods can be employed to exploit its genetic variation such as : (a) mass selection, (b) utilization of hybrid and  inter-specific hybridization, (c) recurrent selection, and (d) molecular breeding. Assessment of superior genotypes, exploitation of heterosis effect, utilization of inter-specific hybridization, and application of genetic transformation through agro-bacterium vector mediated or particle shooting will bring in the increase in yield and oil traits.Keywords: Jatropha curcas L., environment, selection, yield, plus tree, molecular, genetic transformation, agro-bacterium vector, particle shooting.
SINTESIS DAN POTENSI APLIKASI LIPIDA TERSTUKTUR BERBASIS MINYAK KELAPA DAN MINYAK KELAPA SAWIT UNTUK INDUSTRI PANGAN FUNGSIONAL /Synthesis and Potential Applications of Coconut and Palm Oils Based Structured Lipid for Functional Food Industry Siti Nurhasanah; Purwiyatno Hariyadi; Nur Wulandari; Joni Munarso
Perspektif Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n2.2017.111-121

Abstract

Berkembangnya teknologi proses pengolahan pangan berdampak pada kebutuhan lipida dengan sifat khusus untuk diaplikasikan pada produk tertentu. Sifat lipida alami belum tentu sesuai dengan kebutuhan industri, baik dari segi sifat fisikokimia, gizi, maupun sifat fungsional lain yang diinginkan.  Karena itu, perlu dilakukan modifikasi untuk membentuk lipida dengan nilai tambah tertentu. Salah satunya melalui modifikasi stuktur molekuler lipida; yaitu untuk menghasilkan lipida terstruktur (structured lipids, SL). Lipida terstrukturadalah lipida yang termodifikasi, dengan penambahan dan/atau pengaturan posisi asam-asam lemak pada kerangka gliserolnya untuk tujuan menghasilkan lipida dengan nilai tambah sesuai aplikasinya.  Perbedaan jenis dan posisi asam-asam lemak pada kerangka gliserol akan menentukan sifat kimia, fisika, biokimia lipida dan fungsionalnya yang berpotensi memberikan nilai tambah tertentu. Sintesis SL dengan interesterifikasi secara kimia maupun enzimatis memungkinkan potensi aplikasi yang lebih luas, khususnya untuk industri pangan fungsional. Saat ini telah beredar di pasaran produk SL dengan nilai tambah tertentu; misalnya mudah diserap tubuh, kandungan kalori lebih rendah, dan mempunyai komposisi asam lemak mirip dengan lemak ASI untuk formulasi makanan bayi.  Minyak kelapa dan kelapa sawit sebagai hasil perkebunan, yang masing-masing memiliki keunggulan kaya asam lemak rantai menengah dan kaya asam lemak tak-jenuh merupakan bahan bakupotensial untuk pengembangan SL dengan nilai tambah khas.Pembuatan SL sesuai dengan kebutuhan industri pangan fungsional ini dapat meningkatkan daya saing produk perkebunan dalam pasar dunia. Hilirisasi riset perlu dikembangkan agarmampu menghasilkan inovasiyang dapat diaplikasikan di industri, yang melibatkan komitmen pemerintah maupun pelaku usaha.  ABSTRACTThe growth of process technology in food processing affecting the needs of lipid with special characteristics for specific products. The characteristic of natural lipid is not always suitable with industry requirement, either from its physicochemical characteristic, nutrition, or from other desirable functional characteristics. Therefore it is necessary to develop modification technique to produce lipid with desirable added value, such as generating structured lipids (SL). Structured lipids is modified lipid, with the addition and/or arrangement of the fatty acid position on its glycerol backbone.The difference of types and positions of fatty acids on glycerol backbone will determine the chemical, physical, biochemical characteristic and the functionality of the lipid. Structured lipids synthesed by chemical or enzymatic interesterification will potentially have broader potential of applications, especially for functional food industry. Currently, SL products with several added values, such as more easily absorbed, lower calorie content, or having fatty acid composition similar to that of breastmilk lipid for baby food formulation, have been introduced in the market. Coconut oil and palm oil are, respectively, known to be rich in medium saturated fatty acid and unsaturated fatty acids. Both oil are potential to be used for development of SL. Structured lipids production suitable for functional food industry could increase the competitiveness of coconut and palm oil as plantation comodities in world market. Downstream policy research by promoting research and development toward industrial application is needed, involving commitment from government and private sectors. 
Masalah Kadar Cl Daun Tembakau Virginia pada Tanah Vertisols Bojonegoro ABDUL RACHMAN
Perspektif Vol 2, No 2 (2003): Desember 2003
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v2n2.2003.56-66

Abstract

Kadar Cl daun yang tinggi dapat menurunkan mutu tembakau. Masalah Cl pernah mencuat tahun 1985 di Sulawesi Selatan dan pada tahun 1988 di Bojonegoro dan Jombang. Akhir-akhir ini untuk tanah Vertisol Bojonegoro masalah Cl ini masih dipersoalkan. Sifat tanah Vertisol Bojonegoro, berkadar Hat tinggi dan berlahan datar, memberi peluang tanah berkadar Cl tinggi. Hubungan kadar Cl tanah dengan kadar Cl daun bersifat linier dengan persamaan y = 0,1297 + 0,0128 x (R2 = 0,98), dimana x = ppm kadar Cl tanah, y ■ % kadar Cl di daun bawah. Apabila kadar Cl daun tetinggi yang diperbolehkan 1%, maka kadar Cl tanah tidak boleh melampaui 68 ppm. Hubungan pemupukan KC1 pada padi pada tanah Vertisol, Bojonegoro, selama tiga tahun percobaan adalah y = 0,789 + 0,0036 x (R2 = 0,94), dimana x = kg/ha KC1 pada padi, dan y = % kadar Cl di daun bawah. Dengan kadar Cl kritis 1% di daun tembakau, maka dosis pemupukan KCI pada padi tidak boleh melebihi 50 kg/ha Beberapa teknik budidaya telah dicoba untuk menurunkan kadar Cl daun tembakau. Sistem tumpangsari dapat menurunkan kadar Cl daun tembakau. Tetapi karena sangat menurunkan hasil tembakau belum dapat dianjurkan. Peningkatan populasi tanam sampai 60.000 tanaman/ha dan perbedaan bentuk hasil (krosok vs rajangan) tidak berpengaruh pada kadar Cl daun tembakau. Tembakau ajangan Virginia menyusun 12% dari blending tembakau untuk rokok kretek. Blending tembakau diharapkan dapat mengurangi pengaruh jelek dari tembakau Bojonegoro yang berkadar Cl tinggi. Saran yang dapat diajukan adalah agar tidak menggunakan pupuk mengandung Cl tinggi secara langsung pada tanaman tembakau. Penggunaan pupuk KCI pada padi dibatasi paling tinggi 50 kg/ha. Perlu pemetaan daerah berdasar kadar Cl daun, untuk mengetahui penyebaran masalah Cl. Pada tanaman padi sumber pupuk kalium alternatip dapat digunakan pupuk ZK. Saran lain adalah perlu dicoba penggunaan bahan organik dan gipsum untuk memperbaiki sifat infiltrasi tanah, perlu dilihat pula pengaruh angkutan panen terhadap kadar Cl tanah, diukur pula kadar Cl air hujan dan air irigasi, serta pemetaan kadar Cl tanah dan daun tembakau pada lahan berkadar Hat tinggi (lebih 35 % Hat) dengan kemiringan < 1 %. Kata kunci Nicotiana tabacum, tembakau, Virginia, rajangan, Cl, Vertisols
URET PADA TANAMAN TEBU DAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENGENDALIANNYA DALAM MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN . Siswanto; . Sumanto; Deciyanto Soetopo
Perspektif Vol 15, No 2 (2016): Desember, 2016
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v15n2.2016.110-123

Abstract

AbstrakUret atau lundi merupakan hama endemis di berbagai wilayah tebu di Indonesia, terutama pada lahan kering dengan kandungan tanah dominan berpasir. Akibat serangan uret pada pertanaman tebu sering menyebabkan kehilangan  hasil gula cukup besar, yakni mampu menurunkan hasil gula hingga 50 % per ha. Di Indonesia tercatat ada 30 spesies uret, dan empat genera di antaranya berpotensi sebagai hama tebu yaitu Lepidiota, Leucopholis, Phyllophaga dan Apogonia, dan spesies Lepidiota stigma paling dominan di berbagai wilayah pengembangan tebu yang menghadapi masalah uret. Hampir semua Negara produsen gula tebu mengalami kendala serangan uret dalam usahatani tebunya, tetapi genus dan spesies uret yang menyerang umumnya berbeda di setiap Negara.  Strategi pengendalian uret di berbagai negara, sebagaimana halnya pengendalian hama dan penyakit saat ini lebih mengarah pada keamanan lingkungan dan kesehatan, yakni mengusahakan seminim mungkin penggunaan insektisida kimiawi sintetis dengan memadukan berbagai teknik pengendalian yang efisien, efektif dan kompatibel. Karena itu berbagai kegiatan penelitian dan pengendalian uret difokuskan pada pengembangan varietas toleran, pemanfaatan musuh alami, tindakan kultur teknis, serta cara mekanis dan fisik, yang kompatibel satu sama lain melalui konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT).   Hasil penelitian penting terkait, antara lain:(1) Klon tebu toleran serangan uret di Indonesia PS862 dan Kenthung (khususnya L. stigma:), di Philipina klon CP29116,  di Thailand, varieties Uthong 3 dan K 88-92, (2) Entomophatogen serangga potensial pengendali uret: jamur Metharizium anisopliae, Beauveria bassiana, nematode Steinernema sp. Implementasi strategi pengendalian uret ramah lingkungan mendukung program pertanian berkelanjutan akan efektif bila diselaraskan dengan karakter biologi hama, sarana prasarana pengembangan perbenihan dan pengendali hayati, cukup memadainya pemahaman tentang pengendalian hama terpadu baik petani maupun para pengambil kebijakan terkait usaha tani tebu.Kata Kunci : Tebu, uret, pengendalian, pertanian berkelanjutanAbstract          White grubs are endemic pest in sugarcane plantation of Indonesia, mainly on the sandy loam dry land.  The pest attack would cause up to 50%  loss of yield  in a ha.  In Indonesia there are 30 species of grubs related to sugarcane plantation, while four of them dominantly are Lepidiota, Leucopholis, Phyllophaga dan Apogonia, but the species of Lepidiota stigma is the most dominant in the plantation which usually have severe  problem on grubs infestation. Most of sugarcane producing countries are undergone the grubs problem in their plantation though in different genus or species. In the decade, the grubs control to be developed in some countries are directing to friendly environment strategy supporting sustainable agricultural development, by minimizing the use of chemical insecticides.  Therefore research and development for the grubs control in Indonesia are also focusing on these strategy such as the development of tolerant varieties/klones,the use of natural enemies, cultivation methods, as well as mechanize and physical control methodes. Research results showed (1) PS862 and Kenthung klones are tolerant to L. stigma, (2) Entomophatogenic agents such as Metharizium anisopliae, Beauveria bassiana, Steinernema sp. To implement the strategy of friendly environment control supporting sustainable agricultural program would be effective by understanding the biological character of grubs, development infrastructure for superior seeds and biological control agents, empowering farmer and policy makers concerning  sugarcane plantation.Keyword: Sugarcane, whitegrubs, control strategy, sustainable agriculture
Control of Cocoa main pest (Conomorpoha cramerella and Helopeltis spp.) Using Botanical Pesticide and Biological Agents . SISWANTO; ELNA KARMAWATI
Perspektif Vol 11, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v11n2.2012.%p

Abstract

One of the causes of cacao low productivity in Indonesia is pests attack on the cacao plantation. There are many types of pests and diseases attacking the cacao trees, however, major pest on cacao plantation in Indonesia include cacao fruit borer (Conopomorpha cramerella) and fruit sucker ladybugs (Helopeltis spp.). To control these pests, farmers generally use chemical insecticides that have negative impacts on the environment. One effort to reduce the negative impacts in pests control is by using botanical pesticides and biological agents, such as parasitoids, predators, and pathogens that are friendly to the environment. The botanical pesticides that can be used to control cacao fruit borer (CFB) and Helopeltis spp. are tobacco, betel forest, neem, yam, anona, gliricidea, jatropha, suren, and tithonia. Entomopathogenic fungi potential to control CFB are B. bassiana, Spicaria sp., Fusarium sp., Verticilium sp., Acrostalagmus sp., Penicillium sp., and Paecilomyces fumosoroseus, while effective fungi to control Helopeltis spp. are B. bassiana and Spicaria sp. This paper describes some aspects related to major cacao pests (such as C. cramerella and Helopeltis spp.) and control effort that is environmentally sound.Keywords: cacao, C. cramerella, Helopeltis spp., botanical pesticides, biological agents
PENINGKATAN DAYASAING LADA(Piper nigrum L.) MELALUI BUDIDAYA ORGANIK Enhancement of Pepper (Piper nigrum L.) Competitiveness Through Organic Cultivation Agus Kardinan; I Wayan Laba; Rismayani Rismayani
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.26-39

Abstract

ABSTRAKLada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan penghasil devisa terbesar ketujuh pada kelompok tanaman perkebunan. Daerah pengembangan lada di Indonesia sebagian besar berada di Lampung, Bangka, Kalimantan dan Sulawesi. Indonesia bukanlah Negara terbesar pemasok kebutuhan lada di tingkat dunia, namun Indonesia merupakan negara pemasok lada nomor tiga di dunia. Negara pemasok kebutuhan lada terbesar di dunia adalah Vietnam, disusul oleh Brazil. Salah satu kunci keberhasilan Vietnam adalah diterapkannya budidaya lada yang baik didukung oleh pemerintah dan swasta, sedangkan di Indonesia sebagian besar perkebunan lada adalah milik petani dengan teknik budidaya yang beragam seringkali tidak sesuai dengan SOP budidaya lada yang dianjurkan. Bersaing secara kuantitas dirasa berat untuk Indonesia, karena sampai saat ini produktivitas lada di Indonesia masih relatif rendah. Banyak permasalahan yang dihadapi oleh petani lada di Indonesia di antaranya mutu dari produk lada yang masih rendah. Untuk meningkatkan daya saing lada salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas produk lada, melalui budidaya organik. Di tingkat internasional, produk organik mendapatkan harga premium, dihargai lebih mahal, karena selain produknya dianggap sehat juga konsumen rela memberikan harga lebih sebagai bentuk apresiasi bagi produsen organik yang telah berbudidaya ramah lingkungan, sehingga dianggap pahlawan lingkungan. Makalah ini menguraikan tentang budidaya tanaman lada secara organik dengan harapan dapat ikut memberikan kontribusi dalam rangka peningkatan dayasaing lada Indonesia di Pasar dunia, sekaligus mendukung program pemerintah mewujudkan “Seribu Desa Organik”. ABSTRACTPepper (Piper nigrum L.) is a spice crop that has a high economic value, the seventh largest income earner in the plantation crop. The pepper development areas in Indonesia are mostly in Lampung, Bangka, Kalimantan and Sulawesi. Indonesia is not the bigest Country to supply international market, however Indonesia is number three to supply international market. The largest supplier of pepper needs in the words is Vietnam, followed by Brazil. One of the keys factor of Vietnam's success is the application of good pepper cultivation practice supported by both the government and the private sector, while in Indonesia most of the pepper plantations belong to farmers with diverse cultivation techniques that are often not following the recommended Standard Operation Procedure of pepper cultivation.To compete with other countries quantitatively is not easy for Indonesia, since the productivity of pepper in Indonesia is still low. One effort to anticipate this is by increasing pepper competitiveness through organic cultivation (Qualitatively). Internationally, organic produce/ product will have premium price, since the organic product is more healthy and as an appreciation from the consumers to the producer that the producers have implemented ecofriendly farming and  also consumers assume that the producer  is as an environmental hero. This paper describes organic pepper cultivation in the hope of contributing to improve the competitiveness of Indonesian pepper in the world market and also on supporting the successfull of Goverment of Indonesia program on actualizing of  “Thousands of Organic Village Program”  
STATUS TEKNOLOGI PEMUPUKAN TANAMAN LADA DAN PENERAPANNYA DI TINGKAT PETANI / The status of the technology of manuring of pepper plant and its application at the level farmer Rosihan Rosman; Rudi Suryadi
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.15-25

Abstract

ABSTRAK Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang bernilai ekonomi dan penghasil devisa bagi Indonesia. Tanaman lada telah berkembang di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Namun hingga saat ini produktivitasnya masih rendah. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas diakibatkan tingkat kesuburan tanah yang rendah. Rendahnya tingkat kesuburan tanah menyebabkan tanaman terganggu pertumbuhan dan hasilnya. Untuk meningkatkan kesuburan tanah diperlukan teknologi pemupukan yang tepat sesuai kondisi lahan. Inovasi teknologi pemupukan untuk tanaman lada belum banyak diterapkan di tingkat lapang. Salah satu penyebabnya adalah kebutuhan pupuk yang sangat bersifat spesifik lokasi.  Namun pada prinsipnya, kebutuhan pupuk seyogyanya berbasis pada analisis laboratorium. Tujuannya agar pupuk yang digunakan tepat dan efisien. Penggunaan pupuk yang tidak memperhatikan sifat kimia tanah, bila berlebihan akan menyebabkan pemborosan biaya, pencemaran tanah dan mungkin keracunan pada tanaman. Sebaliknya bila tidak dipupuk, maka produksi tanaman pun akan rendah. Begitu pula pada tanaman lada. Dosis yang ditetapkan untuk tanaman lada, saat ini masih bersifat umum dan digunakan untuk semua kondisi lahan, belum spesifik lokasi. Dengan demikian, maka kebutuhan yang sesungguhnya perlu diterjemahkan kedalam bentuk kebutuhan unsur hara yang spesifik lokasi. Untuk itu dibutuhkan metode yang tepat dan efektif. Dukungan pemerintah sangat diperlukan, terutama kebijakan dalam penyediaan pupuk di tingkat lapang di berbagai wilayah pengembangan lada.  ABSTRACT Pepper plants (Piper nigrum L.) is one of estate plants that have economy value and foreign exchange for Indonesia. This plant has developed in almost provincially in Indonesia, but the producitivity of this plant still low. One of the cause of low productivity is low in soil fertility. The low of soil fertility to be effect on growth and result of plant. To increase a soil fertility, needed a technology of fertilizing on soil that base on spesific location.  Innovation of technology of fertilizing of pepper plant was not yet use at the level of farmer. One of the reasons is the need for fertilizer that is very specific location. However, in principle, the need for fertilizer should be based on laboratory analysis. The goal is to use the right and efficient fertilizer. The use of fertilizers that do not pay attention to soil chemical properties, if excessive will lead to waste of costs, soil contamination and possibly poisoning in plants. Conversely, if not fertilized, then the production of plants will be low. Similarly in pepper plants. The dosage prescribed for pepper plants, is currently still general and is used for all land conditions, not location specific. Thus, the actual needs need to be translated into a specific site-specific nutrient requirement. For that needed appropriate and effective method. A support from goverment very needed. especially the policy of provision of fertilizer at field, in all area development of pepper. 
DIVERSIFIKASI PRODUK TEMBAKAU NON ROKOK Diversification of Non-Cigarette Tobacco Products Elda Nurnasari; Subiyakto Subiyakto
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.40-51

Abstract

ABSTRAK Selain sebagai bahan baku utama rokok, tembakau dapat dimanfaatkan untuk produk lain, yaitu dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah sebagai pengembangan diversifikasi produk. Kebijakan diversifikasi tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Kesehatan (PP Tembakau). Dalam PP Tembakau tersebut (Pasal 58 ayat 1) menyebutkan bahwa diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan.Hasil penelitian yang telah dilakukan, daun tembakau dapat dimanfaatkan menjadi bahan kimia dasar antara lain sebagai bahan baku pestisida, produk kosmetik dan industri farmasi. Tulisan ini ingin menyajikan status penelitian diversifikasi produk tembakau untuk non rokok, antara lain untuk pestisida nabati, identifikasi minyak atsiri dan pemanfaatannya untuk campuran parfum (tabac perfume) dan debu tembakau untuk pupuk kompos. Beberapa produk seperti parfum dan asap cair tembakau sudah dipatenkan. Produk hasil diversifikasi tembakau ini diharapkan dapat memiliki nilai tambah bagi pendapatan petani dan bermanfaat bagi masyarakatAbstractAddition to the main raw material for cigarettes, tobacco can be used for other products, which is in order to support government policy as product diversification. Diversification policy listed in the Indonesian Government Regulation No. 109/2012 on the safeguarding of Materials Containing Additive Form Health Tobacco Products (Tobacco Regulation) In the Tobacco Regulation (Article 58 paragraph 1).rticle 58 paragraph 1) states that diversification is intended that the use of tobacco products are not harmful to health. The results of research that has been done, tobacco leaves can be used as basic chemicals, among others, a raw materials for pesticide, drug, cosmetic products, and pharmaceutical industry. This paper wants to present research status of product diversification to non-cigarette tobacco among others for the pesticide plant, the identification of essential oil and used for the perfume (tabac perfume) and the tobacco dust for the fertilizer. Some products such as perfume and tobacco liquid smoke have been patented. The products of this tobacco diversification are expected to have added value for farmers' income and benefit the community
KINERJA DAN PERSPEKTIF AGRIBISNIS LADA DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI / Performance and Perpective Agribusiness of Agribusiness In Efforts to Increase Farmer Welfare Andi Amran Sulaiman; Valeriana Darwis
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.52-66

Abstract

ABSTRAKIndonesia pernah menjadi negara peringkat pertama sebagai produsen lada dunia dan pada tahun 2017 kontribusi lada Indonesia terhadap lada dunia sebesar 19% dibawah kontribusi Vietnam sebesar 27%. Agar bisa mempertahankan peringkat atau meraih kembali sebagai produsen tertinggi dunia, maka produksi lada harus ditingkatkan. Disisi lain perlu dioptimalkan kinerja agribisnis lada dalam meningkatkan kesejahteraan petaninya. Tulisan ini mempergunakan data sekunder dari BPS, IPC dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode deskriptif. Produksi lada bisa ditingkatkan dengan cara: (1) penambahan luas areal berdasarkan pedoman teknis yang sudah dibuat oleh Direktorat Jenderal Perkebunan dan (2) peningkatan produktivitas lada yang masih dibawah rata-rata 1 ton/ha atau jauh dibawah Vietnam (3,2 ton/ha) melalui penerapan budidaya berdasarkan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufacture Practices (GMP)  terutama dalam: (i) peningkatan sosialisasi dan pemakaian bibit unggul yang sudah dirilis oleh Litbang Kementan atau bibit lokal yang sudah memperhatikan mutu genetis, mutu fisik dan mutu fisiologis.  (ii) Jenis dan dosis pupuk hendaknya memperhatikan jenis tanah dan umur tanaman. (iii) Lebih disarankan mempergunakan tajar hidup, karena bisa memperpanjang umur ekonomis tanaman lada. Adapun peningkatan kinerja agribisnis lada dimulai dari: (i) peningkatan mutu produk dengan memperbaiki teknologi pasca panen khususnya mempergunakan alat pengolahan dalam perontokkan, pengupasan dan pengeringan lada. (ii) Penerapan standar SNI dalam perdagangan lada dimulai dari tingkat petani. Tujuannya agar petani dapat menjual lada sesuai dengan mutu produk yang dihasilkan. (iii) Memperpendek rantai pasar dengan cara membuat kerjasama perdagangan antara petani dengan pedagang besar atau eksportir. (iv) Petani tidak menjual lada dalam bentuk primer. (v) Untuk stabilisasi harga lada disarankan pemerintah menerapkan kebijakan resi gudang.ABSTRACTIndonesia has been the first country to rank as a world pepper producer and by 2017 Indonesia pepper contribution to the world pepper by 19% under Vietnam's contribution by 27%. In order to maintain a rank or regain as the world's highest producer, pepper production must be improved. On the other hand need to be optimized pepper agribusiness performance in improving the welfare of the farmers. This paper uses secondary data from BPS, IPC and Directorate General of Plantation Ministry of Agriculture. The collected data was analyzed by descriptive method. The production of pepper can be increased by (1) additional area based on technical guideline made by Directorate General of Plantation and (2) increase of pepper productivity which is still below average 1 ton/ha or far below Vietnam (3.2 ton/ha ) through the application of cultivation based on Good Agricultural Practices (GAP) and Good Manufacture Practices (GMP), especially in: (i) enhancement of socialization and use of superior seeds that have been released by Research and Development of the Ministry of Agriculture or local seedlings that have paid attention to genetic quality, physical quality and physiological quality. (ii) The type and dosage of fertilizer should consider soil type and plant age. (iii) It is advisable to use live supports, because it can extend the economic life of pepper plants. The improvement of pepper agribusiness performance starts from: (i) improvement of product quality by improving post harvest technology especially using processing tool in threshing, peeling and drying of pepper. (ii) Implementation of SNI standard in pepper trade starting from farmer level. The goal is that farmers can sell pepper in accordance with the quality of the resulting product. (iii) Shortening the market chain by making trade cooperation between farmers and wholesalers or exporters. (iv) Farmers do not sell pepper in primary form. (v) For the stabilization of the price of pepper it is recommended that the government adopt a warehouse receipt policy.