cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2016)" : 25 Documents clear
ANALISIS KUAT LENTRUK STRUKTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN LUBANG HOLLOW CORE PADA TENGAH PENAMPANG BALOK Permana, Muhamad Hilman; Dewi, Sri Murni; Arifi, Eva
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton adalah material penyusun suatu struktur. Penggunaan beton di Indonesia pertama kali pada abad ke-7. Benteng Indrapatra milik kerajaan Lamuri adalah infrastruktur pertama yang menggunakan beton. Dalam penggunaannya, beton digabung dengan baja tulangan untuk menahan gaya tarik yang terjad. Beton bertulang dapat digunakan untuk segala macam struktur bangunan, seperti balok, kolom, pelat, dan pondasi. Dalam penggunaannya dilapangan, berat beton yang telah mengeras dapat mencapai 2400 kg/m3. Dalam penelitian ini, akan diuji penggunaan struktur beton ringan dengan membuat lubang hollow core di dalam balok. Pengujian difokuskan pada struktur balok. Dalam pengujian ini, digunakan benda uji balok beton penampang persegi dengan tiga buah lubang persegi dengan arah memanjang balok di tengah struktur balok beton. Lubang ini diisi oleh styrofoam, diletakkan dibawah garis netral penampang, tepatnya pada bagian tarik. Dengan asumsi, penggunaan beton pada bagian tarik kurang efisien dan penggunaan bahan beton pada bagian tarik hanya untuk mendistribusikan gaya yang diterima oleh struktur balok tersebut. Hasil dari penelitian menunjukkan berat volume beton dengan lubang ukuran 5 x 10 x 60 cm mengalami pengurangan sebesar 13.9%, sedangkan balok dengan lubang ukuran 7 x 10  60 cm dan 9 x 10 x 60 cm berturut – turut mengalami penurunan sebesar 15% dan 18.9%. Kuat lentur balok beton bertulang dengan lubang hollow core tidak mengalami penurunan dikarenakan lubang hollow core ditempakan pada daerah tarik balok. Daerah tarik balok ditahan oleh baja tulangan, sehingga jika lubang hollow core ditempatkan pada daerah ini, tidak berpengaruh terhadap kuat lentur balok. Nilai kuat lentur balok beton bertulang dengan lubang hollow core sebesar 2287.5 kgm, 2100 kgm dan 2167.5 kgm, berturut – turut untuk balok dengan lubang hollow core ukuran 5 x 10 x 60 cm, 7 x 10 x 60 cm dan 9 x 10 x 60 cm. Kata kunci: balok beton, lubanghollow core, kuat lentur, berat volume
PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH BATU ONYX SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT KASAR PADA CAMPURAN BETON TERHADAP MODULUS ELASTISITAS BETON Dhiya Ulhaq, Abdullah Ghiyats; Soehardjono, Agoes; Setyowati, Edhi Wahjuni
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Struktur beton sendiri mengalami berbagai perkembangan, dimana pada dasarnya berawal dari inovasi-inovasi para creator bangunan dalam memecahkan berbagai masalah yang muncul pada bangunan-bangunan sebelumnya. Pada umumnya  beton dipakai secara luas sebagai bahan konstruksi bangunan, dengan keutamaan nilai ekonomisnya yang baik serta mudah dalam pembuatannya. Onyx merupakan batuan metamorf yang memiliki klasifikasi hampir menyerupai marmer dari hasil penggalian pegunungan kapur di Panggungrejo, Blitar yang sampai saat ini pemanfaatannya umumnya digunakan sebagai bahan dasar kerajinan furniture. Salah satu pihak pengerajin batu onyx ini berpusat di daerah Campurdarat, Tulungagung. Dari hasil pembuatan furniture tersebut, tentunya tersisa limbah hasil pemotongan maupun kerajinan batu onyx ini. Pada penelitian ini, limbah onyx dicoba dimanfaatkan sebagai pengganti pada agregat kasar untuk campuran beton dengan variasi faktor air semen (FAS) 0,4; 0,5; dan 0,6 untuk mencari nilai modulus elastisitas beton tersebut. Nilai modulus elastisitas untuk beton onyx dengan variasi FAS 0,4; 0,5; dan 0,6; beton berumur 28 hari adalah 24496, 20876, dan 17919 MPa. Sedangkan  hasil penelitian mengenai modulus elastisitas untuk beton normal dengan variasi FAS 0,4; 0,5; dan 0,6; beton berumur 28 hari adalah 17675, 15978, dan 14592 MPa. Terjadi peningkatan modulus elastisitas pada beton onyx. Pada FAS 0,4 terjadi peningkatan nilai modulus elastisitas sebesar 38,59%. Pada FAS 0,5 terjadi peningkatan nilai modulus elastisitas sebesar 30,65%. Pada FAS 0,6 terjadi peningkatan nilai modulus elastisitas sebesar 22,80%. Kata kunci: beton, limbah onyx, FAS, modulus elastisitas
KAJIAN KINERJA PELAYANAN DAN OPERASIONAL BUS SEKOLAH GRATIS KOTA MALANG MENGGUNAKAN METODE IPA DAN ANALISIS BOK Zubizaretta, Zaid Dzulkarnain; Saputra, Dicky Andrianto; Sulistio, Harnen; Wicaksono, Achmad
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masih banyaknya siswa di Kota Malang yang berkendara sendiri maupun diantarkan oleh orang tuanya menggunakan kendaraan pribadi menyebabkan terjadinya kemacetan dibeberapa titik pada jam sibuk seperti jam berangkat sekolah dan jam pulang sekolah. Hal ini membuat Pemerintah Kota Malang memiliki inovasi baru yaitu pengadaan bus sekolah gratis yang beroperasi dua kali setiap hari. Namun dalam pengoperasiannya saat ini bus tersebut masih belum beroperasi secara sehingga penumpang bus sekolah ini masih sepi pada rute-rute tertentu. Oleh karena itu, kajian ini dilakukan bertujuan untuk:(1) mengetahui tingkat kepuasan kinerja operasional dan pelayanan serta kepentingan dari variabel yang mengacu pada Peraturan Menteri No.29 Th. 2015 tentang Standar Pelayanan Umum Penumpang di Daerah Perkotaan, (2) mengetahui apa saja yang harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja dari moda tersebut serta (3) mengetahui besarnya subsidi per penumpang yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Malang untuk pengoperasian bus sekolah gratis di kota Malang. Kajian ini menggunakan metode survei wawancara terhadap siswa pengguna bus sekolah gratis. Populasi dari kajian ini berjumlah 235 responden dengan jumlah sampel minimal 149 responden dengan tingkat keandalan diasumsikan  95% (galat 5%) dan survei BOK dilakukan dengan cara survei wawancara kepada supir bus angkutan sekolah dan Dinas Pendidikan serta Dinas Perhubungan. Penyebaran kuisioner dan wawancara dilakukan di dalam bus sekolah ini dengan responden pengguna bus sekolah yaitu siswa dari sekolah di kota Malang. Dalam kajian ini digunakan dua metode yaitu Importance-Performance Analysis(IPA)dan Biaya Operasional Kendaraan (BOK). Untuk Travel Time sendiri dapat dikatakan baik karena untuk perjalanan angkutan perkotaan masih diantara 30-60 menit (menurut SK Dirjen Perhubungan Darat No. 687, 2002), selain itu juga selama ini tidak pernah terjadi keterlambatan penjemputan maupun waktu tiba di sekolah masing-masing.UntukLoad Factor pada jam masuk sekolah hanya Poll A yang dapat dikatakan baik karena hasil rata-rata dari Load Factor melebihi dari 70% yaitu 77%. Sedangkan pada saat pulang sekolah pada semua Poll masih belum dapat dikatakan baik karena terjadi penurunan hingga rata-rata Load Factor menunjukkan dibawah 70%(menurut SK Dirjen Perhubungan Darat No. 687, 2002).Dari hasil analisis IPA didapat 2 variabel atau atribut yang dianggap penting namun kinerjanya kurang sehingga menjadi prioritas utama yang mempengaruhi kepuasan pengguna yaitu berfungsinya dan penggunaan produk SNI untuk visual audio secara maksimal pada setiap fasilitas bus serta adanya tanda larangan merokok bagi pengguna bus sekolah. Dari analisis Biaya Operasional Kendaraan didapatkan hasil subsidi per penumpang yang berbeda-beda sesuai dengan rute bus sekolah. Untuk Poll A sebesar Rp23.297,-; Poll B sebesar Rp29.832,-; Poll C sebesar Rp27.888,-; Poll D sebesar Rp9.519,-; Poll E sebesar Rp29.051,-; Poll F sebesar Rp25.461,-. Kata kunci: Kajian, Bus, Sekolah, Malang, IPA, BOK
PEMILIHAN MODA ANTARA TRAVEL DENGAN BUS EKSEKUTIF CITRA TRANS RUTE KOTA MADIUN - MALANG R.A.A.G.S, Syafalia; Ghifari, Reza Iqbal; Bowoputro, Hendi; K, Rahayu
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pergerakan penumpang dengan menggunakan angkutan travel dari Kota Madiun menuju Kota Malang semakin meningkat sehingga pertambahan jumlah kendaraan pribadi di jalan ikut meningkat dan menimbulkan kepadatan di jalan raya. Alternatif angkutan yang bisa digunakan calon penumpang dari Kota Madiun menuju Kota Malang melalui Kota Batu tanpa perlu berpindah bus di terminal Kota Jombang yaitu bus  eksekutif citra trans yang melayani penumpang dari Kota Magetan sampai ke Kota Malang melalui Pujon, Kota Batu. Bus citra trans memiliki fasilitas seperti televisi, Air Conditioner (AC), Wireless Fidelity (Wi-Fi), dan CCTV di dalam bus yang menjaga keamanan para penumpang. Sayangnya, dengan fasilitas yang cukup lengkap dan harga yang lebih terjangkau dari angkutan travel jumlah peminat bus citra trans belum maksimal. Objek yang diteliti adalah penumpang travel dengan jumlah sampel sebanyak 271 responden yang diperoleh menggunakan rumus Slovin, dan pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuisioner karakteristik sosial ekonomi dan perjalanan serta kuisioner dengan teknik penyusunan Stated Preference yang memiliki atribut biaya perjalanan, waktu tempuh dan frekuensi keberangkatan per hari dari angkutan travel dan bus citra trans. Nilai Ability to Pay (ATP), dan Willingness to Pay (WTP) yang diperoleh dari kuisioner yang telah disebarkan dibandingkan dengan tarif yang berlaku sekarang. Hasil studi dapat diketahui karakteristik sosial ekonomi dan perjalanan dari penumpang travel Madiun-Malang. Nilai ATP rata-rata responden sebesar Rp79.864,71 dan WTP rata-rata responden untuk angkutan travel Rp75.627,54 serta WTP rata-rata untuk bus citra trans Rp53.376,38 dalam satu kali perjalanan. Dengan demikian nilai ATP dan WTP penumpang lebih rendah dari tarif yang berlaku saat ini. Hasil dari pemodelan pemilihan angkutan travel dan bus citra trans adalah sebagai berikut: Selisih biaya perjalanan 2. Selisih waktu tempuh3. Selisih frekuensi keberangkatan per hariKata Kunci: angkutan travel, bus citra trans, ATP, WTP, Stated Preference
KAJIAN PENENTUAN TARIF ANGKUTAN KOTA DI KOTA MALANG (STUDI KASUS ANGKUTAN KOTA TRAYEK AG DAN TST) Agung Wijaya, Marga Rista; Rizqian, Mufidz Akbar; Sulistio, Harnen; Wicaksono, Achmad
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenaikan harga bahan bakar minyak mempengaruhi kenaikan tarif angkutan kota yang berlaku di Kota Malang. Perlu dilakukan kajian mengenai kesesuaian kenaikan tarif yang berlaku dengan kebutuhan sopir, pemilik kendaraan dan kemampuan penumpang angkutan kota Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan survei statis dan dinamis, analisis biaya operasional kendaraan sopir dan pemilik kendaraan juga kemampuan (ATP) dan kemauan (WTP) penumpang angkutan kota Malang trayek AG dan TST. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah penumpang yang dapat ditampung dalam satu hari. Teknik sampling menggunakan rumus metode random sampling. Jumlah sampel untuk penumpang trayek AG dan TST masing – masing berjumlah 100 orang. Jumlah armada angkutan yang diteliti sebesar 10% dari jumlah armada yang beroperasi yaitu diambil 30 armada pada trayek AG dan 12 armada pada trayek TST. Hasil penelitian menunjukkan biaya operasional kendaraan (BOK) harian dari sopir angkutan kota trayek AG sebesar Rp.225.580 per hari dan untuk trayek TST yaitu sebesar Rp.230.483,33per hari. Dengan tarif yang berlaku sebesar Rp. 4000, pendapatan sopir untuk trayek AG sebesar Rp.2.016.6560 per bulan untuk trayek TST sebesar Rp. 2.035.911 per bulan. Sedangkan pemilik kendaraan mendapatkan penghasilan sebesar Rp 158.703 per bulan untuk trayek AG dan sebesar Rp.541.133,417 per bulan untuk trayek TST. Besar tarif angkutan kota berdasarkan grafik hubungan kemampuan (ATP) dan kemauan (WTP) penumpang angkutan kota adalah sebesar Rp. 3.400 untuk trayek AG dan Rp. 3.200 untuk trayek TST. Dengan tarif baru tersebut sopir angkutan kota trayek AG mendapatkan penghasilan Rp. 1.340.379,26 per bulan dan Rp. 637.311,69 untuk trayek TST. Pendapatan sopir dengan tarif berlaku sebesar Rp. 4.000 berada diatas nilai upah minimum regional kota malang, yang berada pada besaran Rp. 1.882.250, sehingga masih relevan untuk diberlakukan. Sedangkan tarif dari grafik ATP dan WTP tidak bisa diberlakukan karena pendapatan sopir setiap bulannya berada dibawah nilai upah minimum regional Kota Malang. Kata Kunci :   tarif, angkutan kota malang, Biaya Operasional Kendaraan (BOK), ability to pay (ATP), willingness to pay (WTP)
EVALUASI KINERJA DAN PENENTUAN TARIF ANGKUTAN UMUM KOTA BATU (Studi Kasus Angkutan Trayek Batu – Bumiaji, Batu – Selecta – Sumberbrantas, dan Batu – Gunungsari) Panji Saputra, Cita Ahmat; Wiguna, Raynaldy Arya; Sulistio, Harnen; Suharyanto, Agus
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Batu adalah sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Timur yang sebagian besar mata pencaharian penduduk Kota Batu adalah petani dan dikenal oleh masyarakat sebagai kota wisata. Berbagai fasilitas dan sarana umum yang ada di Kecamatan Batu seperti, perkantoran, pasar, terminal, dan berbagai sarana pendidikan, maka Pemerintah Kota Batu menyediakan angkutan umum sebagai salah satu sarana transportasi yang dapat digunakan menjadi salah satu moda transportasi selain kendaraan pribadi. Kajian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui karakteristik kinerja angkutan berdasarkan headway, load factor, dan waktu perjalanan, mengetahui tarif angkutan yang sesuai berdasarkan Ability To Pay (ATP) dan Willingness To Pay (WTP), dan mengetahui kinerja angkutan menggunakan metode IPA dan memberikan solusi perbaikan kinerja angkutan umum Kota Batu dengan trayek yang dikaji meliputi trayek BB (Batu-Bumiaji), BG (Batu-Gunung Sari), dan BSS (Batu-Sumber Brantas). Survei dilakukan pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu yang dibagi atas jam pagi pada pukul 06.00-08.00, jam siang pukul 11.00-13.00, dan jam sore pukul 15.00-17.00. Kajian yang dilakukan menggunakan metode survei statis, survei dinamis, dan survei wawancara. Survei statis dilakukan dengan mencatat selisih waktu antar angkutan(headway) pada masing-masing trayek. Sedangkan survei dinamis dilakukan dengan cara mengikuti satu perjalanan penuh angkutan sebanyak 3 angkutan pada setiap segmen waktu untuk masing-masing trayek untuk mendapatkan load factor dan waktu perjalanan. Survei wawancara dilakukan di terminal Kota Batu, di dalam angkutan, dan beberapa titik naiknya penumpang. Jumlah responden untuk trayek angkutan BB dan BG sebanyak 180 responden dan untuk trayek BSS sebanyak 300 responden. Hasil dari survei wawancara diolah menggunakan metode IPA untuk mengetahui tingkat kinerja angkutan dan metode ATP dan WTP untuk mengetahui tarif berdasarkan kemampuan dan kemauan penumpang. Dari hasil pengolahan data yang telah dilakuan didapatkan karakteristik kinerja berdasar menunjukan bahwa headway tidak memenuhi standar pada ketiga trayek tersebut yang melebihi 10 menit untuk menunggu calon penumpang.Hasil load factor pada ketiga trayek tersebut menunjukan bahwa masih dibawah standar kurang dari 70% dan untuk waktu perjalanan rata-rata yang memenuhi standar antara 1 – 1,5 jam untuk ketiga trayek tersebut. Dari kemampuan dan kemauan masyarakat, diketahui bahwa tarif yang berlaku lebih tinggi dibanding tarif yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan masyarakat. Sehingga perlu adanya perbaikan dan peningkatan kinerja dari sisi operator. Dari analisa hasil metode IPA diperoleh bahwa perbaikan kinerja angkutan yang perlu diperbaiki untuk trayek BB yaitu kesesuaian rute angkutan yang beroperasi berdasarakan rute yang telah ditentukan agar penumpang dapat mengakses sesuai rute trayek. Untukketiga trayek BB, BSS, dan BG memiliki perbaikan kinerja yang harus diperbaiki yang sama yaitu lamanya kedatangan angkutan atau jarak antar kendaraan. Kata kunci : karakteristik angkutan, load factor, headway, waktu perjalanan, ATP, WTP, IPA, persepsi penumpang
KAJIAN KINERJA OPERASIONAL ANGKUTAN UMUM PADA TRAYEK MALANG – LUMAJANG Fahmi, Ahmad; Pradhana, Bintang; Arifin, M. Zainul; K, Rahayu
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transportasi  menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari pada zaman ini, tranportasi digunakan untuk menunjang segala aspek kehidupan sehari-hari manusia mulai dari kegiatan ekonomi, sosial budaya, dan kegiatan-kegiatan lainnya.  Kondisi dari angkutan yang beroperasi saat ini masih kurang layak untuk melayani para pengguna jasa angkutan umum, karena angkutan yang beroperasi saat ini termasuk angkutan lama yang masih beroperasi hingga saat ini.Penumpang angkutan umum juga mulai beralih menggunakan kendaraan pribadi untuk melakukan aktifitas sehari-hari, karena angkutan pribadi dinilai lebih cepat dan efisien dalam menunjang aktifitas sehari-hari.Dari hal tersebut perlu dilakukan kajian mengenai kinerja operasional dari angkutan umum untuk mengetahui kinerja operasional pada saat ini agar kinerja operasional angkutan umum bisa ditingkatkan. Pada kajian ini akan dibahas mengenai kinerja operasional angkutan umum yang beroperasi pada bus Malang – Dampit, bus Malang – Lumajang dan MPU Malang – Dampit.  Untuk survei asal tujuan pada kajian ini ada 278 responden untuk bus Malang-Dampit,  182 responden untukbus Maang-Lumajang, dan 78 responden untuk MPU Malang-Dampit yang didapat dari rumus slovin, dan dalam pengambilan sampel menggunakan metode Random Sampling.Dalam kajian yang akan dilakukan digunakan dua metode survei, yaitu survei statis dan survei dinamis untuk mendapatkan data kinerja operasional kendaraan dimana dilakukan pada hari kerja (weekday) dan pada hari libur (weekend).  Untuk survei biaya operasional kendaraan (BOK) pengkaji melakukan dua cara, yaitu dengan wawancara pengemudi angkutan umum  dan mendatangi kantor setiap penyedia jasa angkutan umum, agar mendapatkan besar biaya yang dikeluarkan penyedia jasa untuk memberikan pelayanan yang maksimal pada pengguna jasa angkutan umum. Kinerja operasional yang ada dari segi faktor muat, waktu antara, dan waktu perjalanan.Dimana untuk faktor muat yang terjadi dibawah standar ideal 70%, sedangkan untuk waktu antara dan waktu perjalanan sesuai dengan standar.Dari hasil faktor muat yang kurang dari standar hal ini berkaitan dengan kebutuhan armada, sehingga kebutuhan armada yang didapat dari hasil analisa berkurang dari armada yang semula.Dan direncanakannya jadwal keberangkatan dari kebutuhan armada yang didapat, agar angkutan umum yang beroperasi bisa berangkat sesuai dengan jadwal.Dari segi biaya operasional kendaraan didapatkan biaya operasional kendaraan berbeda – beda sesuai dengan km tempuh angkutan yang beroperasi untuk Bus Malang-Dampit BOK / bus adalah Rp. 2.816,34 / km , Bus Malang – Lumajang BOK / bus adalah Rp. 2.642,58 /km, dan untuk MPU Malang – Dampit BOK / MPU adalah Rp. 1.670,22 /km. Kata kunci : kinerja operasional, angkutan umum, trayek Malang – Lumajang, BOK, kebutuhan armada, jadwal keberangkatan.
KAJIAN LAIK FUNGSI JALAN (Studi Kasus pada Jalan Provinsi Nomor Ruas 171 Pare - Kediri Km 8 - Km 22) M, Jundina Syifa’ul; F, Bestananda; Bowoputro, Hendi; Djakfar, Ludfi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruas jalan di Kabupaten Kediri sebagian besar belum teruji laik fungsi salah satunya yaitu ruas jalan Pare - Kediri Km 8 - Km 22. Menurut data Polres Kabupaten Kediri bahwa pada tahun 2013 jumlah peristiwa kecelakaan tiap bulannya dirata - rata yaitu 18 kejadian. Demi mengurangi jumlah kecelakaan, tidak mungkin dilakukan dengan cara mengurangi keinginan untuk melakukan perjalanan. Sesuatu yang memungkinkan adalah dengan cara melaksanakan uji dan evaluasi serta penetapan laik fungsi jalan agar tercipta jalan yang memenuhi ketentuan keselamatan, kelancaran, ekonomis, dan ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui kategori kelaikan fungsi teknis Ruas Jalan Pare - Kediri Km 8 - Km 22 berdasarkan parameter perencanaan laik fungsi jalan, dan (2) Mengetahui tindak lanjut yang perlu dilakukan apabila Ruas Jalan Pare -Kediri Km 8 - Km 22 belum memenuhi kategori kelaikan jalan secara teknis. Pengambilan data di lapangan menggunakan Metode Uji dengan cara pengamatan dan pengukuran kondisi ruas jalan Pare - Kediri Km 8 - Km 22 terhadap standar teknis, meliputi: (1) teknis geometrik jalan; (2) teknis struktur perkerasan jalan; (3) teknis struktur bangunan pelengkap jalan; (4) teknis pemanfaatan bagian - bagian jalan; (5) teknis penyelenggaraan manajemen dan rekayasa lalu lintas; (6) teknis perlengkapan yang terkait langsung dengan pengguna jalan maupun yang tidak terkait langsung dengan pengguna jalan. Dari hasil uji lapangan dilakukan analisis laik fungsi jalan secara teknis menggunakan  Metode Evaluasi yaitu membandingkan dengan parameter perencanaan laik fungsi jalan (Peraturan Menteri Nomor: 11/PRT/M/2010 dan Panduan Teknis Pelaksanaan Laik Fungsi Jalan Tahun 2012). Hasil analisis kelaikan fungsi jalan pada ruas jalan Pare - Kediri Km 8 - Km 22 yaitu laik fungsi bersyarat dengan rekomendasi (LS). Tindak lanjut yang dilakukan pada ruas jalan Pare - Kediri Km 8 – Km 22 yaitu dengan memberikan rekomendasi sesuai dengan kondisi fisik lingkungan jalan yang dapat memenuhi ketentuan keselamatan, kelancaran, ekonomis, dan ramah lingkungan. Kata kunci: Ruas Jalan Kediri, Laik Fungsi Jalan, Standar Teknis
EVALUASI KINERJA OPERASIONAL PESAWAT UDARA RUTE SUMENEP - SURABAYA S, Efriyanda Rahim; Darmawan, Deny; Sulistio, Harnen; K, Rahayu
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Madura merupakan salah satu pulau berkembang yang terletak di sebelah  timur Laut Jawa. Sebagai wilayah yang sedang berkembang, aktivitas warganya pun  juga ikut meningkat. Kabupaten Sumenep memiliki Bandar Udara Trunojoyo, tetapi  pengoperasiannya masih belum optimal. Sehingga perlu diadakan evaluasi terhadap  potensi penumpang dan kinerja dari bandara tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui karakteristik penumpang moda bus patas, travel dan mobil pribadi rute  Sumenep-Surabaya; mengetahui kinerja operasional pesawat terbang rute Sumenep-  Surabaya; mengetahui bentuk model pemilihan pengguna moda bus patas, travel dan  mobil pribadi dibanding dengan pesawat terbang rute Sumenep-Surabaya. Evaluasi yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode Importance– Performance Analysis untuk analisis kinerja dan juga digunakan metode Stated Preference untuk mengetahui perbandingan dengan moda lain, yang juga bertujuan  untuk mengevaluasi kekurangan dan keunggulan moda pesawat terbang. Penelitian ini  dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2015 yang berlokasi di Kabupaten  Sumenep. Survei ini dilakukan terhadap penumpang bus patas, travel, mobil pribadi dan  pesawat terbang dengan rute Sumenep-Surabaya dengan jumlah responden 100 orang  untuk masing-masing moda bus patas, travel dan  mobil pribadi sedangkan untuk moda  pesawat terbang menggunakan jumlah responden sebanyak 50 orang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka diketahui karakteristik  responden bus patas didominasi oleh penumpang dengan pendidikan terakhir SMA  (58%), pekerjaan swasta (37%) dan penghasilan keluarga sebesar 1-3 juta rupiah  perbulan. Untuk responden travel didominasi oleh penumpang dengan pendidikan  terakhir SMA (60%), pekerjaan swasta (49%) dan penghasilan keluarga sebesar 1-3 juta  rupiah perbulan. Sedangkan untuk pengguna mobil pribadi didominasi oleh penumpang  dengan pendidikan terakhir SMA (49%), pekerjaan swasta (39%), dan penghasilan  keluarga sebesar 3-5 juta rupiah perbulan. Maksud tujuan dari perjalanan yang  dilakukan umumnya dengan maksud tujuan non-bisnis dengan menggunakan biaya  sendiri serta alasan penggunaan moda tersebut adalah karena alasan biaya perjalanan.  Dari analisis metode Importance–Performance Analysis, diperoleh hasil ada tujuh belas  poin yang dirasa penting oleh penumpang dan perlu diadakan pembenahan, tujuh belas  poin ini meliputi fasilitas keamanan, keselamatan, ruangan ibadah, pusat informasi,  pengkondisian cahaya ruangan bandara dan fasilitas parkir, serta dua belas poin yang  dianggap kurang penting oleh penumpang namun kinerjanya masih belum memuaskan  yang terdiri dari pelayanan petugas, pengkondisian suhu pesawat, rambu, fasilitas  trolley dan fasilitas ruang tunggu serta satu poin yang kinerjanya dianggap terlalu  berlebih yaitu toilet bandara. Sedangkan dari metode Stated Preference, diperoleh  model untuk bus patas (UPT–UBP)= 0,906-0.00001072(ΔX1) & (UPT–UBP)=-  1,101+0,869(ΔX2); travel (UPT–UTR)= 1,054-0.00001262(ΔX1) & (UPT–UTR)= 0,312+1,080(ΔX2); mobil pribadi (UPT–UMP)= 1,562-0.00001636(ΔX1) dimana ΔX1 =  selisih biaya perjalanan dan ΔX2 = selisih frekuensi keberangkatan. Kata Kunci : Evaluasi  Kinerja,  Bus  Patas,  Travel,  Mobil  Pribadi,  Pesawat  Terbang,  Sumenep  –  Surabaya,  Importance–Performance Analysis, Stated Preference.
EVALUASI KINERJA ANGKUTAN KAPAL LAUT TUJUAN SURABAYA-MAKASSAR Ridlo, Miftahur; Prabowo, Bimantoro Beny; Wicaksono, Achmad; K, Rahayu
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar areanya terdiri dari  lautan.  Dengan begitu,  salah satu moda transportasi yang dapat diandalkan adalah kapal laut.  Kapal laut merupakan moda transportasi murah yang dapat menjangkau  sebagian besar pulau-pulau yang ada di Indonesia dengan daya angkut yang besar.  Namun,  telah terjadi penurunan jumlah penumpang dari waktu ke waktu.  Maka dari itu  perlu dilakukan evaluasi kinerja kapal. Penelitian ini bertujuan untuk;  mengetahui  karakteristik penumpang kapal laut rute Surabaya – Makassar,  mengetahui kinerja  operasional kapal laut rute pelayanan Surabaya – Makassar, dan mengetahui bentuk  model pemilihan pengguna layanan antara kapal laut dan pesawat terbang dengan tujuan  Surabaya – Makassar. Survei ini dilakukan terhadap penumpang kapal laut dengan rute Surabaya –  Makassar dengan jumlah responden 150 orang penumpang untuk metode Importance – Performance Analysis dan Stated Preference.  Evaluasi yang dilakukan dalam penelitian  ini menggunkan metode Importance – Performance Analysis untuk analisis kinerja  pelayanan kapal laut dan juga digunakan metode Stated Preference untuk mengetahui  perbandingan dengan moda pesawat terbang,  yang juga bertujuan untuk mengevaluasi  kekurangan dan keunggulan moda kapal laut. Penelitaian ini dilakukan pada bulan  September 2015 yang berlokasi di atas kapal laut rute Surabaya – Makassar dan juga di  pelabuhan. Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, maka diketahui karakteristik  responden yang didominasi oleh penumpang dengan usia 25 – 40 tahun (58%) dengan  pendidikan terakhir SMA (44%) dan penghasilan keluarga sebesar 3 – 4 juta rupiah  perbulan.  Maksud tujuan dari perjalanan yang dilkukan umumnya dengan maksud  tujuan non-bisnis dan menggunakan biaya sendiri serta alasan penggunaan kapal laut  adalah karena alasan biaya perjalanan. Dari analisis metode Importance – Performance Analysis, fasilitas yang perlu dibenahi diantaranya adalah naik turun penumpang dari  dan  ke kapal, toilet, fasilitas pengatur suhu, ruang pelayanan kesehatan, fasilitas  kemudahan naik turun penumpang, fasilitas penyandang difable, dan ruang ibu  menyusui. Sedangkan dari metode Stated Pereference, diperoleh model (UP– UK) = 1,823-0,688(ΔX₂) dimana ΔX₂ = selisih ketepatan jadwal. (UP– UK) = 7,838+0,778(ΔX3) dimana ΔX3 = selisih frekuensi keberangkatan. Kata Kunci :   Evaluasi Kinerja,  Kapal,  Laut, Surabaya-Makassar, Metode Stated Preference, Metode Importance Performance Analisis.

Page 2 of 3 | Total Record : 25