cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2015)" : 20 Documents clear
TERBENTUKNYA POLA RUANG DALAM BATIH BARU RUMAH PANGGUNG DAYAK KENYAH DI DESA PAMPANG SAMARINDA Ririn Prasetya P; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.032 KB)

Abstract

Perpindahan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Desa Pampang Samarinda merupakan keputusan yang diambil mereka untuk dapat hidup yang lebih layak dan memisahkan diri dari Lamin adat. Lamin adat yang terbentuk di Desa Pampang merupakan bentuk batih baru, dimana batih baru merupakan tempat tinggal masyarakat Dayak Kenyah yang dihuni dua belas kepala keluarga oleh para tetua suku. Pola ruang yang terbentuk masing-masing rumah panggung dilakukan berdasarkan keputusan adat dan hukum adat batih baru. Penelitianini dilakukan untuk menemukan bagaimana bentuk pola ruang dalam batih baru yang terbentuk setelah perpindahan Suku Dayak Kenyah dari Apouyakan ke Desa Pampang, dan faktor apa yang mempengaruhi terbentuknya pola ruang. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskripsi. Data yang didapatkan secara langsung melalui wawancara terhadap para tetua suku Dayak Kenyah di Desa Pampang, dianalisis untuk mendapatkan pola ruang batih baru yang terbentuk setelah perpindahan mereka ke Desa Pampang. Terbentuknya pola ruang batih baru oleh faktor modernisasi dikarenakan letak dari Desa Pampang tepat dipinggir Kota Samarinda.Kata kunci: pola ruang dalam, rumah panggung
Sistem Insulasi Termal sebagai Dasar Perancangan Pasar Ikan Higienis di Sendang Biru Sona Maharahmi; Jusuf Thojib; Rinawati P Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.738 KB)

Abstract

Pasar ikan di Indonesia umumnya berfungsi kurang optimal karena masih bersifattradisional. Kondisi pasar ikan tradisional umumnya bau, kotor, dan becek, sehinggamenyebabkan konsumen lebih memilih untuk berbelanja di pasar swalayan, khususnyamasyarakat dari golongan ekonomi menengah ke atas. Oleh karena itu, saat ini Pasar IkanHigienis sangat diperlukan di Indonesia. Di Jawa Timur, potensi pengembangan pasar ikanyang berorientasi higienis adalah Pasar Ikan Sendang Biru, Kabupaten Malang.Berdasarkan hasil wawancara, permasalahan yang sering dihadapi adalah kurangnyahigienitas akibat kondisi fisik bangunan dan sanitasi yang tidak sesuai dengan ketentuanpasar sehat. Jenis ikan pelagis besar yang merupakan komoditas utama di Sendang Biruadalah ikan tuna, namun penanganan pada ikan tersebut tidak higienis. Perlu adanyapenanganan khusus pada tempat penjualan ikan pelagis besar agar kualitas ikan tetapterjaga. Oleh karena itu, perancangan Pasar Ikan Higienis ini melalui pendekatan sisteminsulasi termal yang difokuskan untuk menjaga suhu agar kesegaran ikan tetap terjaga.Perancangan Pasar Ikan Higienis di Sendang Biru ini menggunakan metode perancangan,yaitu metode kanonik dan metode pragmatik. Perancangan Pasar Ikan Higienis denganmenggunakan metode tersebut diharapkan dapat menghasilkan suatu rancangan yanghigienis dan memenuhi kebutuhan Pasar Ikan Sendang Biru. Hasil akhir merupakanrancangan Pasar Ikan Higienis dengan dasar sistem insulasi termal.Kata kunci: pasar ikan, higienis, sistem insulasi termal
PERANCANGAN PUSAT KUNJUNGAN DI KOTA BLITAR (BLITAR VISITOR CENTER) Pandu Panoto Gomo; Tito Haripradianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.124 KB)

Abstract

Kota Blitar sering dikaitkan dengan nama besar Bung karno dan oleh karenanya Kota Blitar terkenal dengan nilai historisnya. Seiring dengan terus berkembangnyapembangunan, Kota Blitar memiliki visi dan misi menjadi kota pariwisata danperdagangan jasa yang berwawasan kebangsaan dan lingkungan. Untuk itulah KotaBlitar harus dapat mewadahi sistem kepariwisataan nasional baik melalui sistempariwisatanya maupun fasilitas yang menunjang pariwisata tersebut. Sistemkepariwisataan sendiri telah diatur dan ditetapkan oleh pemerintah, akan tetapi menjaditanggung jawab tersendiri bagi suatu daerah untuk memfasilitasi pariwisatanya. Dalamilmu kepariwisataan, banyak sekali aspek yang perlu dipenuhi untuk menunjangaktivitas pariwisata seperti upaya promosi, akomodasi, transportasi, dan lainsebagainya, serta kebutuhan Kota Blitar akan kualitas dan kuantitas untuk menampungwisatawannya. Agar dapat memenuhi kebutuhannya, Kota Blitar perlu menyediakansebuah media yang dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut. Untuk itu peran sebuahVisitor Center sangat dibutuhkan untuk mewadahi berbagai macam kebutuhan fungsiruang yang ada. Pendekatan yang digunakan dalam perancangan ini adalah ArsitekturHibrid, dengan tujuan untuk mengkerucutkan banyaknya kebutuhan ruang pada fasilitasvisitor center. Hasil dari penggabungan fungsi ruang tersebut nantinya dapat menjadiruang transisi antara fasilitas satu dengan yang lainnya.Kata kunci: fasilitas penunjang, pariwisata, arsitektur hibrid
Penerapan Struktur Lipat pada Pengembangan Terminal Kepuhsari di Jombang Nurul Hidayat Sihabuddin; Tito Haripradianto; Bambang Yatnawijaya Soebandono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.35 KB)

Abstract

Struktur lipat merupakan salah satu jenis struktur bentang panjang yang memiliki nilaiestetika tersendiri. Pada pengembangan Terminal Kepuhsari diterapkan sebuah jenisstruktur lipat yang menaungi bangunan utama terminal tersebut. Bentuk yangmemanjang menjadi salah satu alasan penerapan struktur lipat ini. Penerapan strukturlipat dalam bangunan tidak hanya pada atap bangunan, struktur ini bisa digunakanpada bagian bangunan lain seperti selubung bangunan. Metode pragmatis digunakanuntuk menyelesaikan permasalahan tersebut.Kata kunci: terminal, struktur, struktur lipat
PERANCANGAN RUANG LUAR RSO PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA DENGAN KONSEP GREEN HOSPITAL Samuel Bawole; Tito Haripradianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.384 KB)

Abstract

“Pada tahun 2020 semua rumah sakit di Indonesia harus sudah menerapkan Green Hospital”. Demikian disampaikan dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan pada Seminar Green Hospital tanggal 27 September 2012 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Green Hospital merupakan rumah sakit yang berwawasan lingkungan dan jawaban atas tuntutan kebutuhan pelayanan dari pelanggan rumah sakit yang telah bergeser ke arah pelayanan paripurna serta berbasis kenyamanan dan keamanan lingkungan rumah sakit. Dalam rangka mendukung kebijakan tersebut, maka pihak Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta memiliki gagasan untuk menyelenggarakan perancangan Desain Green Hospital Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta dalam kesatuan desain yang utuh khususnya pada perancangan ruang luar dalam kawasan rumah sakit, yang berpotensi untuk dikembangkan melalui penerapan green hospital. Dengan penerapan green hospital pada pengembangan masterplan RSO Prof. DR. R. Soeharso Surakarta diharapkan nantinya akan menjadi ciri khas sekaligus model pembangunan Green Hospital yang berkelanjutan untuk industri rumah sakit.Kata kunci: green hospital, pengembangan masterplan, perancangan ruang luar
RESORT BATU AMPAR BALI DENGAN KONSEP VENTILASI SILANG MELALUI RASIO BUKAAN RAGAM HIAS Erick Christ P.S P.S; Jusuf Thojib; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.201 KB)

Abstract

Keadaan alam yang berada di Kawasan Pariwisata Batu Ampar berdasarkan hasil Balaibesar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika wilayah III, Denpasar tahun 2010.Kawasan Pariwisata Batu Ampar memiliki suhu udara sebersar 280C, kelembapanudara 78%, curah hujan 2023 mm, dan kecepatan angin 7-12 knot. DalamWonorahardjo (2010) sistem pengendalian termal bangunan merupakan upaya untukkonservasi energi dengan cara pengendalian kalor yang masuk pada ruangan, efesiensisistem pendinginan, dan pengendalian beban pendinginan. Kelembaban udara yangtinggi pada Kawasan Batu Ampar memerlukan sistem sirkulasi udara yang baiksehingga ruangan tidak panas dan lembab. Sistem ventilasi alami yang optimalditerapkan sebagai elemen penangkap angin dan pelepas angin pada bangunan resortBatu Ampar. Dengan adanya penerapan sistem ventilasi silang dengan penerapanragam hias diharapkan mampu menyelesaikan masalah kenyaman termal dan dapatmemenuhi persyaratan yang diwajibkan peraturan daerah Bali. Strategi penyusunanResort Batu Ampar Bali pada tahap awal adalah dengan penentuan pola penyusunantata masa yang disesuaikan dengan lokalitas arsitektur Bali dan keadaan eksistingsesuai dengan arah datangnya angin. Setelah itu menentukan posisi inlet serta outletdengan parameter posisi dan besar rasio bukaan yang berasal dari bentuk pola ragamhias Karang Sae. Penentuan Karang Sae disesuaikan dengan ciri dan indentitas dariarsitektur Bali.Kata kunci: sistem ventilasi silang, posisi bukaan, rasio bukaan
PENERAPAN ELEMEN-ELEMEN AKUSTIKA RUANG DALAM PADA PERANCANGAN AUDITORIUM MONO-FUNGSI, SIDOARJO - JAWA TIMUR Ika Budi Setya Zuyyinati; Jusuf Thojib; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.73 KB)

Abstract

Perkembangan MICE (Meeting, Insentive, Convention and Exhibition) di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya mengakibatkan kebutuhan akan wadah tersebut terus meningkat terutama untuk kota-kota besar. Selaras dengan permasalahan tersebut, kabupaten Sidoarjo berencana membangun gedung serbaguna terbesar. Gedung tersebut terutama digunakan untuk kegiatan pertemuan, seminar dan sebagainya sehingga dibutuhkan ruang auditorium. Menyikapi permasalahan tersebut, dalam perancangan auditorium perlu memperhatikan beberapa hal terutama kenyamanan audio dan visual. Metode perancangan berawal dari menganalisis jumlah pelaku, menentukan sifat elemen-elemen pembentuk ruang sebagai pemantul atau penyerap, pemilihan material yang digunakan, dan menghitung waktu dengung yang terjadi dalam ruangan. Penghitungan waktu dengung digunakan sebagai tolak ukur kenyamanan audio yang disarankan terjadi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penempatan material sesuai dengan karakter material itu sendiri mempengaruhi penyebaran suara yang terjadi di dalam ruang.Kata kunci: Sidoarjo, auditorium, akustika ruang dalam
PENGARUH FASADE BANGUNAN TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI PADA LABORATORIUM POLITEKNIK NEGERI MALANG Adila Bebhi Sushanti; Jusuf Thojib; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.973 KB)

Abstract

Pemanasan global dan keterbatasan sumber energi merupakan permasalahan yangtelah dihadapi selama 20 tahun terakhir. Penghematan energi dapat dilakukan denganmemanfaatkan pencahayaan alami untuk mengurangi penggunaan energi. Desainfasade (dinding, jendela, dan atap), orientasi dan luas jendela dapat mempengaruhibesar cahaya yang masuk. Indonesia merupakan daerah beriklim tropis yang memilikiketersediaan cahaya yang melimpah, begitu pula di Kota Malang. Perguruan tinggimerupakan satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi yang memiliki saranadan prasarana akademik khusus berupa laboratorium, laboratorium memilikikebutuhan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan aktivitasnya. Politeknik NegeriMalang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuankhusus yang mahasiswanya diarahkan untuk melakukan praktek di laboratorium danbengkel yang telah tersedia. Permasalahan pada laboratorium di Politeknik NegeriMalang yaitu pada beberapa laboratorium menggunakan pencahayaan buatan danalami, karena cahaya dalam ruangan kurang memenuhi standar dan tidak merata.Tingkat pencahayaan 500lux menurut Kepmenkes nomor 1405 tahun 2002 denganjenis kegiatan dalam ruang yaitu pekerjaan agak halus - pekerjaan dengan mesin.Dengan menggunakan 3(tiga) tahap untuk memperoleh hasil pengukuran didapatkanbahwa tingkat pencahayaan pada masing-masing ruangan kurang memenuhi standarminimal. Untuk memenuhi tingkat pencahayaan dalam ruangan laboratorium sesuaidengan standar, maka dapat diperhatikan lokasi, letak dan orientasi bangunan, bentuk,ukuran dan orientasi jendela.Kata kunci: fasade bangunan, pencahayaan alami, laboratorium
DOMINASI PENCAHAYAAN ALAMI SEBAGAI DASAR RANCANGAN GALERI KERAJINAN KALIMANTAN TIMUR DI SAMARINDA Nirmala Ashita; Jusuf Thojib; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.904 KB)

Abstract

Kalimantan Timur memiliki beragam kerajinan yang terbuat dari bahan-bahan alam seperti kayu, rotan, dedaunan, manik-manik, bebatuan, dan tanah liat. Beragam kerajinan tersebut dapat dijadikan potensi bagi Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda yang merupakan ibukota dari Provinsi Kalimantan Timur untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung serta mengenal kebudayaan Kalimantan Timur. Oleh sebab itu dibutuhkanlah suatu wadah untuk memamerkan benda-benda kerajinan tersebut, yaitu galeri kerajinan. Salah satu faktor penting pada sebuah galeri adalah faktor pencahayaan, karena aktivitas utama dari sebuah galeri adalah melihat benda kerajinan, maka diperlukanlah suatu pencahayaan alami yang dapat memenuhi aktivitas utama tersebut. Fungsi pencahayaan task lighting merupakan fungsi pencahayaan yang dapat memenuhi aktivitas melihat pada galeri karena fugsi pencahayaan tersebut adalah untuk menerangi objek pamer (benda kerajinan) sehingga pengunjung dapat melihat benda kerajinan yang dipamerkan dengan baik. Kota Samarinda terletak di titik koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BT - 141°45'BT memiliki iklim tropis dengan energi panas bumi yang besar yang dapat dimanfaatkan sehingga pemakaian energi listrik yang pada akhirnya menyumbangkan CO2 dan menyebabkan efek rumah kaca dapat berkurang. Oleh sebab itu pencahayaan pada galeri kerajinan, khususnya ruang pameran, menggunakan pencahayaan alami sebagai sumber penerangannya.Kata kunci: galeri kerajinan, kerajinan Kalimantan Timur, pencahayaan alami
TATA LETAK RUANG HUNIAN-USAHA PADA RUMAH LAMA MILIK PENGUSAHA BATIK KALANGBRET TULUNGAGUNG Rizky Amelia; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.725 KB)

Abstract

Desa Kalangbret merupakan salah satu sentra industri batik tertua di Kecamatan Tulungagung. Pada kawasan ini terdapat rumah-rumah lama berusia lebih dari 50 tahun milik pengusaha/ juragan Batik Kalangbret yang dulu berfungsi sebagai hunian-usaha. Industri Batik Kalangbret yang mengalami kemunduran pada tahun 1970-an menyebabkan rumah-rumah lama tersebut berubah menjadi fungsi hunian saja. Setiap rumah memiliki kelengkapan dan tata letak ruang yang berbeda-beda. Ruang-ruang usaha tersebut pada beberapa rumah masih dipertahankan namun telah mengalami perubahan fungsi. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui tata letak ruang hunian-usaha pada rumah lama milik pengusaha Batik Kalangbret dan faktor yang membentuk tata letak ruang tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan memaparkan hasil pengamatan di lapangan untuk kemudian dianalisis berdasarkan variabel-variabel yang telah dipilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi jenis dan fungsi ruang usaha yang dimiliki terdapat tiga tingkat kelengkapan ruang, lalu terdapat delapan macam pola tata letak yang terbagi dalam tiga tipe, yaitu tipe ruang usaha berada di dalam bangunan utama, tipe ruang usaha berada di dalam skala tapak (halaman rumah) dan tipe ruang usaha yang berada terpisah di luar tapak. Faktor-faktor yang membentuk tata letak ruang tersebut adalah faktor ekonomi, faktor sosial, dan sistem kepemilikan usaha.Kata kunci: tata letak ruang, rumah hunian-usaha, rumah lama

Page 1 of 2 | Total Record : 20