cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 86 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 3 (2018)" : 86 Documents clear
Prinsip Arsitektur Tropis Jawa Terhadap Peningkatan Kinerja Termal Pada Bangunan Djati Lounge Kota Malang Fikran Hadinata; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Djati Lounge merupakan salah satu bangunan yang menerapkan kembali konsep Arsitektur Jawa secara kontemporer. Namun terdapat kekurangan dimana aspek tanggap iklim dari Arsitektur Jawa tidak tercapai karena menggunakan penghawaan buatan. Ketidaksesuaian pengelolaan bangunan terhadap desain tersebut menyebabkan kinerja termal bangunan kurang baik. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prinsip Arsitektur Tropis Jawa apa saja yang diterapkan serta mengetahui dan meningkatkan kinerja termal bangunan dengan penerapan konsep Arsitektur Tropis Jawa pada bangunan Djati Lounge. Penelitian ini dilakukan dengan metode evaluatif dengan analisis numerik dan simulasi. Analisis numerik menghitung nilai OTTV bangunan, kemudian analisis simulasi mensimulasikan model bangunan Djati Lounge untuk mengetahui nilai Insolation bangunan. Hasil yang diperoleh ialah rekomendasi desain bangunan Djati Lounge berdasarkan prinsip Arsitektur Tropis Jawa yang dapat meningkatkan kinerja termal bangunan. Peningkatan kinerja termal bangunan dari Nilai OTTV dan Insolation eksisting sebesar 48,09 W/m2 dan 42,75 W/m2 menjadi 28,50 W/m2 dan 29,27 W/m2. Rekomendasi desain yang diberikan dapat menurunkan nilai OTTV hingga 40,73% dan nilai Insolation bangunan sebesar 31,53%.
Pelestarian Bangunan SMPN 3 Surabaya Andyani Sarasati; Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Surabaya memiliki banyak bangunan kuno yang merupakan peninggalan dari Hindia Belanda.  Salah satu bangunan peninggalan Hindia Belanda di Surabaya adalah SMPN 3 Surabaya. Sekolah yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya ini mulanya bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang merupakan sekolah setara SMP pada zaman penjajahan Belanda. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik elemen spasial, visual, dan struktural bangunan SMPN 3 Surabaya; dan  menganalisis dan menentukan strategi pelestarian dari bangunan SMPN 3 Surabaya. Tiga metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, evaluatif, dan development. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik elemen spasial yang mengalami perubahan signifikan ditemukan pada massa C. Pada elemen visual hanya beberapa variabel yang mengalami perubahan signifikan dari ketiga massa. Untuk karakter struktural bangunan masih terjaga keasliannya. Hasil dari analisis elemen bangunan didapatkan tiga kelas nilai potensial. Nilai potensial tinggi dengan tindakan pelestarian berupa preservasi, konservasi, dan rehabilitasi; nilai potensial sedang dengan tindakan konservasi dan rehabilitasi; dan nilai potensial rendah dengan tindakan rehabilitasi.
Pengaruh Huma-Sawah dan Leuit terhadap Tumbuh-Kembang Permukiman Adat Kasepuhan Ciptagelar Rahayu Putri Pratiwi; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasepuhan Ciptagelar merupakan permukiman adat di mana masyarakat memiliki sistem kepercayaan terhadap padi dan telah melahirkan budaya padi. Budaya padi yang masih melekat dalam jati diri masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yaitu budaya padi huma dan padi sawah. Hal ini menunjukkan bahwa huma-sawah memiliki keterikatan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Budaya padi huma datang lebih awal ke dalam lingkungan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sehingga menjadikan kehadiran padi huma lebih di utamakan namun tidak melepas kehadiran padi sawah seperti pada upacara ngadiekeun. Upacara ngadieukeun merupakan puncak ritual rangkai budaya padi di mana memiliki prasyarat dan syarat harus hadirnya dua pasang entitas budaya padi yaitu padi huma dan padi sawah. Hadirnya sepasang padi huma dan padi sawah secara bersama-sama dalam upacara ngadiukeun berada di dalam leuit sehingga leuit menjadi wadah aktivitas budaya. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa leuit terus mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan leuit diakibat oleh surplus hasil produksi padi sawah. Kehadiran leuit jika dilihat dari sudut pandang leuit sebagai wadah aktivitas budaya dalam upacara ngadiukeun menunjukkan bahwa leuit memiliki keterikatan yang kuat dengan padi huma di mana kehadiran padi huma sebagai prasyarat dalam ngadiukeun namun dalam pertumbuhan leuit tidak bergantung dengan kehadiran padi huma. Hal ini terbalik dengan hubungan leuit terhadap padi sawah di mana padi sawah hanya sebagai syarat ngadiukeun didalam leuit tetapi pertumbuhan leuit sangat bergantung dengan padi sawah. Pertumbuhan leuit dalam lingkungan permukiman ini dapat menyebabkan adanya suatu perkembangan sehingga memperlihatkan tumbuhkembang permukiman. Dengan demikian, penelitihan ini berujuan untuk : (1) mengetahui gambaran secara umum tentang kondisi hubungan huma-sawah dan leuit terhadap proses tumbuh-kembang permukiman Adat kasepuhan Ciptagelar; (2) menyediakan sebuah detail gambaran yang akurat berkaitan dengan pengaruh huma-sawah dan leuit terhadap proses tumbuh-kembang permukiman Adat Kasepuhan Ciptagelar. Metode yang digunakan yaitu kualtatif-deduktif dengan paradigma rasionalistik. Hasil penelitihan ini menunjukkan bahwa proses tumbuhkembang permukiman di lihat dari pertumbuhan leuit yaitu bergerak ke arah indung di mana jika dilihat dari hubungan dan pengaruhnya memunculkan konsep diam – gerak – diam yang dihasilkan dari represntasi hubungan dan pengaruh huma-sawah dan leuit. Konsep tersebut memiliki arti memiliki arti yaitu yang diam adalah bergerak yang sebenarnya adalah diam.Kata kunci: budaya padi, tumbuh-kembang permukiman, permukiman adat, Kasepuhan Ciptagelar.
Sakuren dan Paparakoan : Konsep Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar Teva Delani Rahman; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasepuhan Ciptagelar merupakan salah satu permukiman adat Sunda di Indonesia yang sampai sekarang masih mempertahankan nilai kepercayaan dan religi dari budaya padi (rice culture). Sebagai masyarakat berbudaya padi yang kuat, segala bentuk aktivitas utama masyarakat Ciptagelar berpusat pada padi dan disertai dengan ritual. Aktivitas ritual terhadap padi diperjalankan dari lingkungan agrikultur (huma-sawah) hingga ke area domestik. Dalam aktivitas rutin dan ritual sepanjang satu siklus budaya padi pada ruang domestik di Kasepuhan Ciptagelar, eksistensi perempuan sangat dominan. Dengan demikian terbangun preposisi bahwa semua ruang yang terkait dengannya akan terbangun menjadi ruang perempuan saat aktivitas tersebut berlangsung. Aspek apa saja yang mendasari dan bagaimana proses terbentuknya ruang perempuan pada masyarakat budaya padi Kasepuhan Ciptagelar? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-induktif dengan pendekatan eksploratif-deskriptif dan menggunakan paradigma partisipatoris. Hasil yang ditemukan adalah bahwa Sakuren dan Paparakoan menjadi konsep yang membentuk ruang perempuan pada masyarakat budaya padi Kasepuhan Ciptagelar. Ruang perempuan terbentuk ketika perempuan mengambil padi di leuit, menumbuk di saung lisung, menyimpan dan mengambil beras di pangdaringan, dan menanak nasi di goah.Kata kunci: jender, konsep ruang, rice culture, ruang perempuan
Sawen: Proteksi Teritori Lembur pada Permukiman Adat Kampung Gede Ciptagelar diana wahyu pratiwi; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kampung Gede Ciptegelar merupakan pusat pemerintahan kasepuhan komunitas Pancer-Pangawinan terkini yang selanjutnya disebut sebagai Kasepuhan Ciptagelar. Komunitas Pancer-Pangawinan sendiri telah hadir lebih dari 350 tahun lalu dan berdiaspora di wilayah Pegunungan Kendeng Banten dan Jawa Barat dalam teritori (a) leuweng; terdiri dari tutupan, titipan, dan garapan dan (b) perkampungan; terdiri dari kampung gede, lembur dan tari kolot yang berada dalam wewengkon adat. Secara berkala mereka memeriksa, memelihara, dan mempertahankan teritori tersebut. Dalam satu permukiman terdapat dua elemen lingkungan yang saling melengkapi, yaitu lingkungan agrikultur (garapan) dan lembur. Di sisi lain, Kasepuhan Ciptagelar merupakan masyarakat yang masih mempertahankan budaya padi hingga sekarang. Mereka menghormati dan menjadikan padi sebagai entitas suci yang harus dijaga yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat Komunitas Ciptagelar. Budaya padi juga mempengaruhi cara mereka menata permukimannya. Bagaimana warga memproteksi: memeriksa, memelihara, dan mempertahankan wilayah permukimannya dalam konteks budaya padi? Terdapat satu ritual prah-prahan yang diselenggarakan masyarakat secara berkala dalam menjaga permukimannya. Banyak elemen-elemen vegetatif yang digunakan dan dijadikan sebagai media sawen (protektor). Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu eksploratif dan deskriptif. Pertama, mengidentifikasi teritori permukiman dari aspek lingkungan lembur pada Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar berdasarkan penempatan sawen lembur. Kedua, memahami cara masyarakat memproteksi lingkungan lembur berdasarkan ritual prah-prahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif- deduktif dalam paradigma rasionalistik. Penelitian ini menggunakan strategi observasi lapangan. Responden ditentukan berdasarkan proses maksimalisasi informasi atas siapa yang memiliki pengetahuan terhadap subyek penelitian sehingga merupakan seseorang yang unik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) berdasakan penempatan sawen lembur, wilayah atau teritori spasial lingkungan lembur yang perlu diproteksi adalah akses/jalan menuju permukiman; (2) berdasarkan ritual prah-prahan, aktivitas memproteksi merupakan kegiatan menurunkan berkah Yang Maha Kuasa untuk keselamatan permukiman atau lembur. Kata kunci: budaya padi, prah-prahan, proteksi, sawen lembur, teritori.
Studi Tingkat Keandalan Keselamatan Kebakaran Pasar Andir Kota Bandung Meikha Erfarida Fitri; Heru Sufianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar merupakan bangunan yang memiliki resiko tinggi kebakaran. Pada umumnya,pasar tradisional di Indonesia belum dilengkapi dengan sistem proteksi kebakaransecara memadai sehingga dampak yang ditimbulkan bila terjadi kebakaran sangatmerugikan baik pemilik maupun penghuni. Tata letak komoditi pedagang dan minimnyakesadaran penghuni terhadap bahaya kebakaran akan meningkatkan potensi terjadinyakebakaran. Studi ini bertujuan mencari solusi arsitektural untuk menimalisir potensiterjadinya kebakaran dengan Pasar Andir Kota Bandung digunakan sebagai objek studi.
Faktor Pembentuk Pola Ruang Tradisional Bali Aga Pada Desa Adat Bugbug, Karangasem, Bali Made Bayu Arya Pradnyana
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali merupakan salah satu pulau yang mendapatkan pengaruh dari kerajaan Majapahit. Sebelumnya,  terdapat  masyarakat  Bali  Aga  yang  lebih  dahulu  bermukim  dengan berbagai warisan  budaya.  Salah  satunya  dalam  bentuk  rumah  tinggal  tradisional  dan juga  pemukimannya.  Salah  satu  desa  yang  masih  mempertahankan  budaya  tersebut adalah  Desa  Adat  Bugbug.  Seiring  perkembangan  jaman,  kondisi  permukiman warga mulai ditinggalkan dan meninggalkan warisan kultur terdahulu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi permukiman desa, khususnya pada pola ruang permukiman desa dan rumah tinggal tradisional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan analisis  kualitatif.  Dalam  penelitian  ini,  ditemukan  terdapat  tujuh  bagian  identifikasi pola  ruang  pemukiman  tradisional.  Ketujuh  bagian  tersebut  adalah  organisasi  ruang, sirkulasi, pola persebaran, zonasi ruang, sistem pencapaian, orientasi hadap dan solid – void ruang. Masing – masing bagian tersebut dianalisis kembali dengan tujuan mencari faktor  pembentuk  pola  ruang.  Hasil  analisis  menunjukan  terdapat  berbagai  faktor dalam pembentuk pola ruang. Faktor tersebut adalah nature,  man,  society,  shell,  network dan konsep kosmologi ruang seperti Tri  Hita  Karana,  Tri  Angga dan Hulu  –  Teben.
Tata Cahaya Ruang Dalam Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar Chici Nur Ayum; wasiska iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Blitar memanfaatkan bukaan untuk memasukkan pencahayaan alami ke dalam bangunan. Namun beberapa bukaan menyebabkan silau dan tata perabot perpustakaan ini mengurangi kinerja bukaan sehingga beberapa ruang memiliki intensitas cahaya rendah. Hal ini menyebabkan bangunan memanfaatkan pencahayaan buatan selama jam operasional. Pada penelitian ini variabel bebas yang diteliti adalah karakteristik material interior, pembayang interior dan desain tata letak perabot. Sedangkan variabel terikatnya adalah pencahayaan alami ruang dalam dan distribusi pencahayaan alami. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan eksperimental, dimana simulasi dilakukan dengan memberikan perlakuan pada setiap ruang sesuai variabel untuk meningkatkan intensitas cahaya setiap ruang sesuai standar kenyamanan visual pengguna, simulasi ini menggunakan software DIALux 4.12. Berdasarkan hasil analisis dengan perubahan tata interior mulai dari orientasi perabot, warna perabot, penambahan pembayang internal hingga penambahan shaft cahaya dapat meningkatkan intensitas cahaya hampir 95% area sesuai standar kenyamanan visual pengguna. Hal tersebut menunjukkan bahwa Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar dapat meningkatkan standar kenyamanan visual ruang menggunakan pencahayaan alami. Kata Kunci: bukaan cahaya alami, pembayang internal, perpustakaan. tata interior. 
Aksesibilitas Lansia pada Ruang Dalam Panti Werdha (Obyek Kasus: Pelayanan Kasih Bethesda Malang) Triananda Dea Damara; Rinawati P. Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah penduduk lansia di Indonesia tiap tahunnya akan semakin meningkat denganmeningkatnya jumlah lansia maka panti werdha merupakan salah satu wadah yangdapat menampung, merawat, dan mensejahterakan lansia. Sebuah bangunan yangmengalami alih fungsi berdasarkan peraturan yang berlaku diperlukan melakukan ubahsuai (retrofitting). Penghuni lansia yang mulai mengalami penurunan fisik akanmemerlukan alat bantu seperti kursi roda. Hal ini mengakibatkan diperlukannya ruanggerak yang lebih besar dan perlu diperhatikannya faktor keamanan. Tujuan daripenelitian ini ialah menganalisis kondisi aksesibilitas dengan melakukan evaluasiberdasarkan standar yang ada dan menilai tingkat kesesuaian aksesibilitas. Hasil daripenelitian ialah pengelompokan tingkat kesesuaian aksesiblitas yang dapat menjadiprioritas saat akan dilakukannya renovasi bangunan.
Pengaruh Ergonomi Perabot dan Tatanan Ruang Studio Terhadap Aktivitas Pengguna Ruang (Objek Studi: Ruang Studio Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang) Pocut Yasmine Adlina; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat beberapa keluhan yang dirasakan oleh mahasiswa di ruang studio mengenai ergonomi perabot dan tatanan ruang studio, serta ruang studio yang juga masih digunakan untuk mata kuliah teori. Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui hubungan antara ergonomi perabot dan tatanan ruang terhadap aktivitas pengguna pada ruang studio Jurusan Arsitektur. Metode yang digunakan ialah kuantitatif deskriptif, dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui pengaruh antara ergonomi perabot dan tatanan ruang terhadap aktivitas di ruang studio. Dilakukan pula wawancara dengan mahasiswa ketika observasi awal dan juga kepada dosen guna menjadi data penunjang penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukan hasil bahwa ergonomi perabot dan tatanan ruang dapat mempengaruhi aktivitas di ruang studio secara signifikan, dan didapati variabel yang lebih mempengaruhi aktivitas adalah tatanan ruang. Hasil akhir dilakukan beberapa simulasi tatanan ruang studio, dan hasil yang dianggap lebih menunjang aktivitas di ruang studio adalah dengan menggunakan pola tatanan cluster dan dimensi ergonomi perabot eksisting sesuai parameter dari hasil kuesioner dan wawancara.Kata kunci: Ruang Studio Arsitektur, Ergonomi Perabot, Tatanan Ruang, Aktivitas