cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Sosiologi
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 76 Documents
HEGEMONI PUNGUTAN PENDIDIKAN PADA WALI MURID 105120107111019, DHIAN PRASETYO
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 4 (2015): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang hegemoni pungutan pendidikan di SMPN 99 Shinobi Konoha. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik  purposive, yaitu menentukan informan dengan kategori yang ditentukan oleh peneliti. Peneliti menggunakan teknik penjodohan pola, dengan membuat perbandingan proposisi alternatif  peneliti dengan bukti-bukti ilmiah maupun dari segi teoritis. Dalam kerangka teori, peneliti menggunakan teori hegemoni Antonio Gramsci sebagai alat analisis pungutan pendidikan pada wali murid di SMPN 99 Shinobi Konoha. Hegemoni menerut Gramsci ialah hubungan persetujuan dengan kepemimpinan politik dan ideologi. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya peran kaum intelektual (komite sekolah) dalam keberhasilan proses hegemoni pungutan pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Dalam proses pembuatan kebijakan pungutan pendidikan kepala sekolah menekankan, bahwa pungutan pendidikan akan digunakan untuk kebutuhan murid. Pungutan pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah bukan tanpa perlawanan dari wali murid. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan aktor wali murid yang menggunakan hegemoni baru (kontra hegemoni) untuk melawan kebijakan kepala sekolah. Kontra hegemoni yang dilakukan oleh aktor wali murid yaitu merubah cara beripikir wali murid, bahwa dalam proses belajar-mengajar murid sudah ditanggung oleh negara. Sehingga tidak dibenarkan apabila wali murid membayar pungutan yang dibebankan oleh sekolah. Selanjutnya, dalam penelitian ini menemukan tingkatan hegemoni minimum, yaitu  pelaku hegemonik (kepala sekolah) bersandar pada kesatuan ideologis dengan komite sekolah.   Kata Kunci: Pungutan Pendidikan, Hegemoni, Ideologi, Kaum Intelektual, Kontra Hegemon
UPAYA GURU DALAM MELATIH KEMANDIRIAN SISWA USIA DINI MENURUT KONSEP PENYADARAN PAULO FREIRE DI TK AN-NAYARA OMA VIEW MALANG 0811213054, PARAMITA MAULIDYAH
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 4 (2015): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  ini membahas tentang upaya guru dalam melatih kemandirian siswa usia dini di sekolah Taman Kanak-Kanak. Penelitian ini menggunakan teori konsep penyadaran Paulo Freire. Menurutnya sangat penting sebuah proses pendidikan yang humanis. Dimana pendidikan yang menempatkan manusia sebagai manusia,  pada hakikatnya individu adalah subyek yang aktif, bukan pasif. Dengan demikian pendidikan harus menempatkan siswa sebagai seorang individu yang aktif, siswa bukanlah sebuah obyek melainkan sebuah subyek dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi dengan delapan informan yaitu satu informan kunci, dan tujuh informan utama yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut : 1) Sistem pembelajaran TK An-Nayara Malang telah terintegrasi  komponen  tujuan pembelajaran, kurikulum pembelajaran  sebagai program dan strategi pembelajaran, komponen tenaga kependidikan yang kompeten, komponen anak didik usia 4-6 tahun, sarana dan prasarana sekolah serta pelaksanaan evaluasi (penilaian) pembelajaran, 2) Langkah guru dalam melatih kemandirian anak usia dini berdasarkan konsep penyadaran Paulo Freire di TK An-Nayara Kota Malang tidak tampak secara nyata (eksplisit) tetapi tercermin dalam strategi pembelajaran yang dilaksakan (secara implisit) dimana para guru berusaha melatih kemandirian anak didiknya melalui strategi, peneladanan,  latihan dan pengamalan, permainan, nyanyian, dan cerita, pujian dan sanjungan (penghargaan) serta lebih menunjukkan ciri pembelajaran dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang menghendaki keterlibatan siswa secara aktif, 3) Faktor yang mempengaruhi upaya guru dalam melatih kemandirian anak usia dini di TK An Nayara Malang berdasarkan konsep penyadaran Paulo Freire  dapat dibedakan menjadi faktor pendukung  antara lain: kompetensi tenaga kependidikan, tingginya rasa ingin tahu (antusiasme) anak didik,  dukungan (empati) pimpinan dan pengurus  sekolah, dan  iklim  sosial  lingkungan sekolah yang kondusif. Faktor penghambat meliputi; perbedaan latar belakang murid, masih terdapat orang tua yang overprotektif (berlebihan dalam melindungi anaknya, pengaruh media komunikasi dan teknologi, dan perangkat pembelajaran yang terlalu banyak.   Kata Kunci: Upaya guru, Kemandirian, Penyadaran Paulo Freire
MODAL DALAM PRAKTIK SOSIAL ARISAN SOSIALITA (Studi Fenomenologi Terhadap Dua Kelompok Arisan Sosialita di Malang dan Jakarta) 105120101111010, KARTIKA SUNU WATI
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 5 (2015): October
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya kelompok arisan sosialita menjadi salah satu alasan adanya penelitian ini.Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan bagaimana modal yang digunakan oleh anggota kelompok arisan dalam melakukan praktik sosial mereka di arisan sosialita. Penelitian ini menggunakan teori praktik sosial dari Pierre Bourdieu dengan menggunakan teori dari Pierre Bourdieu dapat dianalisis habitus dan modal yang mereka miliki dan metode yang digunakan dalam peneltian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi serta teknik pengumpulan data melalui observasi , dokumentasi dan wawancara Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa  kelompok arisan SM dan kelompok arisan CC diketahui bahwa pada keduanya melakukan praktik sosial di arisan sesuai dengan modal yang mereka miliki serta sejarah dari habitus yang mereka bawa. Pertaruhan di dalam ranah arisan mereka wujudkan dengan pertaruhan akan modal-modal yang mereka miliki,modal ekonomi menjadi salah satu modal yang dipertaruhkan di ranah pada arisan CC di Jakarta, sedangkan di arisan SM di Malang modal simbolik dan modal budaya merupakan modal yang dipertaruhkan. Posisi mereka dalam arisan ditentukan oleh siapa yang memiliki modal terkuat dibanding dengan yang lain.   Kata Kunci    : Arisan Sosialita, Habitus, Fenomenologi, Modal
MAKNA PELATIHAN BAGI ANAK JALANAN DALAM PROGRAM PELATIHAN KETERAMPILAN OTOMOTIF DI KOTA MALANG 115120101111015, MOCH WAHYU NIKKO HADI AL ROSIT
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 5 (2015): October
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai makna pelatihan bagi anak jalanan dalam program pelatihan keterampilan otomotif. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis makna pelatihan bagi anak jalanan dalam program pelatihan keterampilan otomotif. Sehingga memberikan gambaran, mengapa program pelatihan keterampilan otomotif yang sudah berjalan belum mencapai tujuan. Penelitian ini mengunakan teori yang dikemukan Peter L. Berger dan Luckman, melalui proses tiga momen dialektika, yaitu obyektivasi, internalisasi dan eksternalisasi. Untuk menggali data, peneliti melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi serta menggunakan teknik analisis data secara horisonalisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak jalanan memiliki pemaknaan terhadap pelatihan, bahwa pelatihan merupakan kegiatan yang bermanfaat. Karena menurut kelima anak jalanan, pelatihan bisa membuat mereka terampil dalam keterampilan otomotif. Sehingga, ketika terampil dalam keterampilan otomotif, bisa dijadikan sebagai modal untuk bekerja dan akhirnya tidak membuat anak jalanan terpaksa turun ke jalanan lagi. Namun menurut pemaknaan anak jalanan terhadap pelatihan, seharusnya pelatihan harus berjalan lebih lama, harus memberikan pembelajaran otomotif yang baik, harus memberikan perlengkapan otomotif yang lengkap dan pelatihannya harus sesuai dengan umur. Karena menurut mereka, bila tidak mencangkup empat hal tersebut, pelatihan tidak akan bisa membuat mereka bisa terampil dalam keterampilan otomotif. Proses munculnya pemaknanya anak jalanan sendiri, dimulai dari proses internalisasi (proses anak jalanan mendapatkan pengetahuan terhadap pelatihan), eksternalisasi (proses anak jalanan memberikan penyikapan terhadap pengetahuan yang mereka terima) dan objektivasi (proses anak jalanan memiliki pemaknanya sendiri terhadap pelatihan). Kata Kunci : Anak jalanan, Makna, Pelatihan, Otomotif
HEGEMONI ELIT MEMBANGUN GERAKAN SOSIAL (STUDI KASUS PADA MASYARAKAT DESA SEKITAR PERTAMBANGAN GALIAN C DI DESA MANYARAN KECAMATAN BANYAKAN KABUPATEN KEDIRI) 115120101111021, ANIS SURYANI
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 6 (2015): November
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kerusakan lingkungan fisik seperti polusi, sarana prasarana desa dan juga lingkungan sosial di Desa Manyaran Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri sebagai desa pertambangan galian C. Melihat hadirnya dampak dari aktivitas penambangan tersebut mendorong tokoh masyarakat untuk mengajak masyarakat lainnya melakukan gerakan sosial dalam menuntut, menolak dan menutup penambangan galian C. Oleh karena itu tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis inisiatif dari elit lokal dalam membangun gerakan sosial masyarakat sipil menutup tambang galian C. Penelitian ini menggunakan teori hegemoni dari Antonio Gramsci, yaitu tentang hubungan atau bentuk kekuasaan dari kelas superordinat terhadap subordinat atas nilai kehidupan seperti kultur, nilai dan norma yang pada akhirnya membentuk masyarakat sebagai kelompok terdominasi mengikuti kerangka sistem dan pemikiran dari kelas superordinat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus instrumental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan sosial penutupan tambang berangkat dari dampak kerusakan lingkungan fisik dan sosial serta hegemoni penguasa dari PT. Kejora dan pemerintah desa terhadap masyarakat Manyaran. Hegemoni penguasa kemudian berkembang menjadi hegemoni progresif. Dalam hegemoni progresif, elit lokal sebagai pemimpin gerakan sosial melalui tiga tahapan yaitu korporat-ekonomis, penyadaran solidaritas ekonomis dan penyadaran solidaritas atas konservasi lingkungan jangka panjang. Untuk mencapai keberhasilan gerakan sosial, dalam hegemoni progresif elit lokal menerapkan beberapa strategi yaitu pertama memobilisasi sumber daya manusia (human asset) dengan melalui penguatan jaringan sosial dan komitmen warga melalui sosialisasi dalam musyawarah bersama. Sedangkan strategi memobilisasi sumber daya tangible yang meliputi fasilitas dan finansial adalah dengan mendirikan portal untuk menggalang dana dan membagi hasil retribusi portal sebagai perbaikan sarana umum seperti jalan dan jembatan, serta untuk kegiatan sosial warga Manyaran.   Kata Kunci: Tambang Galian C, Gerakan Sosial, Elit Lokal, Masyarakat Sipil, Mobilisasi Sumber Daya
HUBUNGAN TINGKAT PENGGUNAAN TEKNOLOGI MOBILE GADGET DAN EKSISTENSI PERMAINAN TRADISIONAL PADA ANAK SEKOLAH DASAR 0911210050, OKKY RACHMA FAJRIN
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 6 (2015): November
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Munculnya alternatif permainan baru pada anak, khususnya permainan mobile gadget pada anak akibat pertumbuhan teknologi, memungkinkan adanya sebuah hubungan, baik secara langsung atau tidak, dengan eksistensi permainan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat penggunaan teknologi mobile gadget dan eksistensi permainan tradisional pada siswa SDNU-1 Trate Gresik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif explanatory atau penjelasan, dengan menggunakan analisis korelasi Spearman untuk mengetahui kekuatan hubungan kedua variabel, yakni variabel tingkat penggunaan mobile gadget dan variabel eksistensi permainan tradisional. Sampel penelitian ialah siswa SDNU-1 Trate Gresik sebanyak 88 siswa. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukan bahwa angka signifikasi sebesar 0,249 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima, dan H1 ditolak, sehingga tidak ada hubungan antara tingkat penggunaan mobile gadget terhadap eksistensi permainan tradisional. Berkaitan dengan teori konsumsi dari Baudrillard, mengenai sebuah bentuk konsumsi terhadap tanda atau simbol, dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa dengan memiliki sebuah gadget dapat membuat responden merasa dirinya gaul dan tidak ketinggalan jaman.   Kata kunci: Tingkat penggunaan teknologi, mobile gadget, Eksistensi permainan tradisional, Masyarakat konsumsi