cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Sosiologi
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 76 Documents
TINDAKAN SOSIAL ORGANISASI IKMR (IKATAN KELUARGA MINANG RIAU) DALAM PEMILUKADA PROVINSI RIAU TAHUN 2013 105120100111001, RAHMAN MALIK
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 3 (2015): Agustus
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peristiwa kerusakan hutan di Dusun Junggo, Kota Batu menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor pada tahun 2005 sehingga menjadi perhatian umat Hindu-Dharma. Kesadaran mereka pada alam terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian pada umat Hindu-Dharma ini dilihat dari teori agama sebagai realitas sosial karya Berger. Menurutnya, agama merupakan salah satu peranan penting dalam proses pembangunan dan pemeliharaan dunia. Seperti halnya yang terjadi pada umat Hindu-Dharma dalam memelihara, dan menyelamatkan alam dirinya berpedoman pada nilai-nilai ajaran agama. Penelitian ini menyimpulkan umat Hindu-Dharma mendapatkan pengetahuan nilai-nilai ajaran agama melalui proses pembelajaran di dalam hidupnya baik dari pendidikan sekolah hingga tokoh agama. Nilai kosmologi Hindu mampu membimbing tingkah laku umat Hindu untuk melestarikan alam. Ketika bencana banjir dan tanah longsor melanda, mengajarkan mereka bahwa terjadi perubahan lingkungan fisik karena campur tangan manusia. Dengan pengalaman yang sama, umat Hindu kemudian melahirkan pula kesadaran yang sama tentang bagaimana memperlakukan alam yaitu dengan mengamalkan nilai ajaran Agama Hindu berupa kegiatan penghijauan hutan (Wana Kartika) dan menjalankan upacara keagamaan yang berhubungan dengan alam, serta menerapkan prinsip etika lingkungan dalam kehidupan yang berguna untuk menjaga dan melestarikan alam. Permasalahan yang terjadi  adalah kurang terjalinnya kerjasama umat Hindu di Dusun Junggo dengan lembaga pemerintahan yang terkait. Hal tersebut karena minimnya komunikasi antar keduanya. Jika diadakan kerja sama tiap tahunnya dalam hal pelestarian lingkungan dapat memudahkan umat Hindu dan umat lainnya untuk mengatasi kerusakan hutan dan mengantisipasi bencana yang mungkin akan terjadi. Kata Kunci : Kerusakan Hutan, Kosmologi Hindu, Pelestarian Lingkungan Alam.
DISKURSUS KAMPUNG WISATA (Studi Kasus Diskursus Pembentukan dan Pelaksanaan Program Kampung Wisata Kungkuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu) 105120100111040, ATANTIA RISKY ANANDA
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 3 (2015): Agustus
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang diskursus kampung wisata, khususnya proses awal perencanaan hingga pelaksanaan Kampung Wisata Kungkuk (KWK) di Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Penelitian ini menggunakan teori Diskursus yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas. Diskursus merupakan bentuk tindakan komunikatif-intersubjektif yang argumentatif, kritis, dan terbuka untuk mencapai sebuah konsensus dalam sebuah sistem dan lebenswelt. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus jenis perjodohan pola dan deret waktu. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan 3 hasil penelitian, pertama, pembentukan KWK tahun 2007 tidak komunikatif kepada masyarakat Kungkuk secara utuh karena hanya melibatkan penggagas saja yaitu pihak perhotelan dan beberapa anggota masyarakat. Komunikasi di tingkat penggagas  berjalan komunikatif-diskursif  karenan ditunjang lebenswelt mereka mengenai pertanian yang tak mengetahui pariwisata sehingga mempertanyakan pembentukan KWK. Selanjutnya terjadi  permasalahan  karena lebenswelt ketua KWK adalah pembangunan itu selalu dibuktikan dengan keberadaan bukti fisik sarana prasarana, namun tertipu oleh bantuan dana parpol yang tidak terealisasi  akhirnya KWK berhenti tahun 2009-2011. Kedua, pemerintah membentuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) tahun 2010. Pemilihan Dusun Kungkuk sebagai kampung wisata oleh Kepala Dinas Pariwisata bermakna ganda, satu sisi secara birokratis kepala dinas memiliki wewenang untuk membangun desa wisata tertentu, sisi yang lain lebenswelt beliau sebagai warga Desa Punten yang ingin memprioritaskan pembangunan wisata desanya sendiri terlebih dahulu. Ketiga, program KWK tidak melibatkan POKDARWIS, seharusnya program wisata di desa secara prosedural melalui POKDARWIS, sehingga pemerintah yang memutus tindakan komunikatif para stakeholders.     Kata Kunci: Diskursus, Tindakan Komunikatif, Kampung Wisata.
PERSEPSI PEREMPUAN TERHADAP ALAT KONTRASEPSI (Studi Fenomenologi pada Akseptor Perempuan atas Tubuh yang Dipasang Alat Kontrasepsi di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang) 0911213011, IKA HUTAMININGSIH
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 3 (2015): Agustus
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Negara program Keluarga Berencana yang diselenggarakan oleh negara yang bertujuan untuk menurunkan jumlah penduduk dengan mensosialisasikan pemakaian alkon sehingga tercipta keluarga sejahtera. Namun, pada praktiknya, pemakaian alkon lebih banyak ditujukkan pada perempuan walaupun memiliki efek samping diantaranya perdarahan, tidak menstruasi, kegemukan maupun efek secara psikologis. Penelitian ini berupaya menjelaskan persepsi akseptor perempuan terhadap tubuh yang dipasangi alkon. Teori Fenomenologi Persepsi oleh Maurice Marleau-Ponty menjadi alat analisis untuk menjelaskan persepsi perempuan terhadap alkon dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan pengalaman prarefleksi mengenai alkon diperkenalkan pihak medis dibantu oleh keluarga, lingkungan sekitar, dan media. Ketika perempuan mengalami kegagalan alkon, perempuan hanya bisa pasrah sedangkan ketika mengalami efek samping ada dua persepsi yaitu alkon menjadi pembebas perempuan dari efek samping yang ditimbulkan alkon sebelumnya, kedua, perempuan tidak apa-apa dengan efek samping yang dirasakan. Persepsi yang kedua merupakan upaya medis mengubah efek samping alkon menjadi “tidak apa-apa” agar perempuan tetap memakai alkon dan tujuan program KB dapat berhasil. Wacana jumlah anak dan alkon menjadi norma yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Perempuan tidak terlalu terbuka dalam menceritakan pengalaman ketertubuhan pada orang lain termasuk pada suami. Laki-laki tidak memiliki pengetahuan mengenai alkon sehingga acuh dalam setiap tahap pengalaman perempuan karena negara dan medis tidak melibatkan laki-laki dalam sosialisasi alkon secara sistemis sehingga menunjukkan  program KB bias gender.   Kata kunci : perempuan, kontrasepsi, efek samping, persepsi.  
REPRODUKSI PENGETAHUAN FOTOGRAFI DASAR PADA KOMUNITAS FOTOGRAFI “WARKOP MALANG” 0811213068, WAHYU INDRA PRATANU
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 3 (2015): Agustus
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunitas Fotografi WARKOP Malang memiliki kegiatan mempelajari keilmuan fotografi secara mendalam. Komunitas ini mencoba membangun konsep fotografi dasar dengan lebih memperdalam pengetahuan fotografi dasar yang sudah ada di luar komunitas. Tulisan ini menitikberatkan pada pengetahuan yang dimiliki dalam membuat sebuah karya foto. Setiap foto hasil karya seseorang, selalu ada pengalaman pengetahuan yang melatarbelakangi si pembuat foto tersebut. Fotografer yang berjejaring atau berkumpul dengan sesama penghobi foto akan dapat memperbaharui pengetahuannya tentang fotografi di mana seorang atau sekelompok fotografer mampu mengembangkan pemikiran dan pengetahuannya dalam sebuah komunitas. Proses berdarnya pengetahuan dapat dilihat dengan trialektika Berger dan Luckmann. Mulai dari realitas obyektif yakni kurikulum WARKOP sebagai acuan belajar dasar fotografi dan sebagai sebuah nilai dalam komunitas. Sebuah pengetahuan yang disebarkan kepada para anggotanya dan penerapan pengetahuan dalam diri para anggota ini masuk pada tahap internalisasi. Kemudian para anggota ini membuat sebuah karya fotografi yang beracuan pada kurikulum sebagai bentuk eksternalisasi mereka yang nantinya dijadikan bahan diskusi pada komunitas tersebut. Foto tersebut kemudian dikoreksi sebagai bahan  pembelajaran. Kesepakatan-kesepakatan pengetahuan dalam diskusi tersebut merupakan bentuk dari obyektivasi. Proses reproduksi ini terjadi karena produksi pengetahuan yang telah ada belum cukup mampu memperdalam teknik fotografi. Maka dari itu penting untuk mereproduksi pengetahuan fotografi yang sudah ada sehingga fotografer layak untuk menjadi fotografer profesional yang menguasai teknik fotografi secara menyeluruh.   Kata kunci: Pengetahuan, Fotografi Dasar, Kurikulum, WARKOP Malang  
KONSTRUKSI SOSIAL ATAS SIKAP DAN CARA HIDUP BERTOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA (Studi Fenomenologi Tentang Konstruksi Sosial Atas Sikap Dan Cara Hidup Bertoleransi Antar Umat Beragama Pada Masyarakat Dusun Puhsarang, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupa 105120107111017, HENRIKUS VARIAN ORLANDO
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 4 (2015): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai proses konstruksi sosial atas sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama pada masyarakat Dusun Puhsarang. Sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama ini dikonstruksi secara sosial dengan tujuan untuk menunjang kehidupan sosial mereka dan melanggengkan realitas sosial dalam bentuk kemampuan masyarakat Dusun Puhsarang untuk hidup berdampingan di Dusun Pusharang yang multiagama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses konstruksi sosial atas sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Puhsarang tidak terlepas dari: Pertama, penanaman sisi subyektif keagamaan, penanaman paham pluralisme serta penanaman sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama. Kedua, penerapan paham pluralisme, penerapan sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama, serta pengakuan identitas keberagaman agama. Ketiga, nilai Budaya Jawa, pengalaman masa lalu atas ketegangan dan pertentangan sosial dan nilai agama yang mengajarkan toleransi. Sehingga dengan adanya proses konstruksi sosial ini, realitas sosial dalam bentuk kemampuan masyarakat Dusun Puhsarang untuk hidup berdampingan di sebuah lingkungan sosial yang multiagama masih bisa ditemukan hingga saat ini.   Kata Kunci : Pluralisme, Toleransi, Konstruksi sosial, Realitas sosial
ADAPTASI MASYARAKAT PESISIR DALAM PENGELOLAAN LIMBAH PABRIK IKAN DI MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI 115120101111017, ALISA AGUSTIN
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 4 (2015): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk menggambarkan bentuk adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir pengolah limbah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat pesisir pengolah limbah menjadikan pengetahuan sebagai dasar pengolahan limbah di Desa Kedungrejo. Masyarakat pesisir pengolah limbah mengembangkan pengetahuan untuk perilaku yang diputuskan secara sadar untuk mengolah limbah pabrik ikan menjadi minyak ikan, pupuk cair organik biofish, dan petis. Pengolahan limbah yang dilakukan masyarakat menggunakan teknologi yang diciptakan oleh masyarakat pengolah limbah untuk kepentingan ekonomi. Beberapa kendala teknis seperti kurangnya kendaraan untuk distribusi, barang tidak cepat terjual dan toko-toko belum bisa menjualkan  pupuk cair biofish (pada pengolahan pupuk) menjadi dasar terbentuknya pengetahuan dalam proses adaptasi yang terus menerus berlangsung.   Kata kunci: Adaptasi, Difusi Inovasi,  Masyarakat pesisir, Teknoekonomi.
ETIKA LINGKUNGAN MASYARAKAT HINDU-DHARMA (Studi Fenomenologi Tentang Pandangan Etika Lingkungan Alam Di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu) 115120107111040, MUTYA HANDAYANI
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 4 (2015): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peristiwa kerusakan hutan di Dusun Junggo, Kota Batu menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor pada tahun 2005 sehingga menjadi perhatian umat Hindu-Dharma. Kesadaran mereka pada alam terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian pada umat Hindu-Dharma ini dilihat dari teori agama sebagai realitas sosial karya Berger. Menurutnya, agama merupakan salah satu peranan penting dalam proses pembangunan dan pemeliharaan dunia. Seperti halnya yang terjadi pada umat Hindu-Dharma dalam memelihara, dan menyelamatkan alam dirinya berpedoman pada nilai-nilai ajaran agama. Penelitian ini menyimpulkan umat Hindu-Dharma mendapatkan pengetahuan nilai-nilai ajaran agama melalui proses pembelajaran di dalam hidupnya baik dari pendidikan sekolah hingga tokoh agama. Nilai kosmologi Hindu mampu membimbing tingkah laku umat Hindu untuk melestarikan alam. Ketika bencana banjir dan tanah longsor melanda, mengajarkan mereka bahwa terjadi perubahan lingkungan fisik karena campur tangan manusia. Dengan pengalaman yang sama, umat Hindu kemudian melahirkan pula kesadaran yang sama tentang bagaimana memperlakukan alam yaitu dengan mengamalkan nilai ajaran Agama Hindu berupa kegiatan penghijauan hutan (Wana Kartika) dan menjalankan upacara keagamaan yang berhubungan dengan alam, serta menerapkan prinsip etika lingkungan dalam kehidupan yang berguna untuk menjaga dan melestarikan alam. Permasalahan yang terjadi  adalah kurang terjalinnya kerjasama umat Hindu di Dusun Junggo dengan lembaga pemerintahan yang terkait. Hal tersebut karena minimnya komunikasi antar keduanya. Jika diadakan kerja sama tiap tahunnya dalam hal pelestarian lingkungan dapat memudahkan umat Hindu dan umat lainnya untuk mengatasi kerusakan hutan dan mengantisipasi bencana yang mungkin akan terjadi. Kata Kunci : Kerusakan Hutan, Kosmologi Hindu, Pelestarian Lingkungan Alam.
STRATEGI BERTAHAN HIDUP PETANI SAAT MUSIM KEMARAU (Studi pada Petani Sayur Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu) 115120107111021, ANWAR CHIARI
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 4 (2015): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berawal dari ketertarikan peneliti mengenai fenomena musim kemarau yang tidak sedikit membuat petani menghentikan aktifitas pertanian. Tidak terkecuali petani sayur yang ada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Padahal, sebagian besar warga yang tinggal di Desa ini menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Maka dari itu, fokus dalam penelitin ini adalah ingin mengetahui bagaimana strategi yang diterapkan oleh petani sayur saat tidak ada aktifitas pertanian di musim kemarau untuk menambah pemasukan keuangan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Peneliti menggunakan teori etika subsistensi dari James Scott. Dalam teori tersebut, Scott membaginya menjadi tiga bagian, yang pertama adalah mengikat sabuk lebih kencang, alternatif subsistensi, dan pemanfaatan jaringan diluar lembaga keluarga. Menggunakan metode penelitian kualitatif, serta pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini, strategi bertahan hidup petani sayur yang tidak melakukan aktifitas pertanian di musim kemarau adalah dengan cara menerapkan strategi penghematan, dimana petani sayur biasanya setiap pagi mengkonsumsi nasi, diganti dengan jagung dan ubi. Kedua adalah dengan menerapkan srategi wirausaha dan jasa, dimana saat musim kemarau petani beralih pekerjaan menjadi pedagang bunga di sekitar jalan Desa Tulungrejo dan menjual jasa dengan cara menjadi tukang ojek. Ketiga yaitu dengan menerapkan strategi berhutang, petani memanfaatkan jaringan sosial yang mereka miliki dengan cara berhutang meminjam uang kepada teman dan tetangga di sekitar tempat tinggal mereka. Dan terakhir yaitu keempat, adalah dengan menerapkan strategi pemanfaatan lembaga Gapoktan, dimana petani yang tergabung dalam sebuah anggota kelompok tani, saling pinjam dan meminjamkan alat-alat penyedot air untuk mengairi sawah yang mereka miliki pada saat awal musim kemarau. Kata kunci : Strategi, Bertahan Hidup, Petani Sayur, Musim Kemarau.
MAHASISWA CLUBBERS DAN DUNIA MALAM DALAM PERSPEKTIF DRAMATURGI ERVING GOFFMAN (Studi Kasus Terhadap Pola Perilaku Mahasiswa Pada Tempat Hiburan Night Club Di Kota Malang) 105120103111002, FIRLI JUWITA SARI
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 4 (2015): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan akan hiburan (physiological) yang juga harus dipenuhi. Salah satu hiburan yang ditawarkan adalah tempat hiburan night club yang hingga saat ini masih banyak yang tertarik untuk mengunjunginya. Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang melakukan clubbing secara berulang-ulang telah membentuk pola perilaku. Penelitian ini menggunakan teori Erving Goffman tentang Dramaturgi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pola perilaku mahasiswa clubbers yang terbagi menjadi dua wilayah yaitu panggung depan dan panggung belakang. Pada panggung depan mahasiswa clubbers mempresentasikan dirinya sesuai dengan status sosial yang dimilikinya yaitu sebagai mahasiswa dan sesuai dengan nilai pada umumnya di masyarakat. Selain itu terdapat tim yang dibentuk untuk menjaga pertunjukan di panggung depan. Sedangkan pada panggung belakang terdapat aktivitas yang disembunyikan yaitu aktivitas mengunjungi night club (clubbing) yang rata-rata dilakukan sebanyak 2 sampai 3 kali dalam seminggu.  Beberapa aktivitas yang dilakukan di night club antara lain seperti merokok, menikmati lagu, minum alkohol, menari dan mengkonsumsi inex. Masyarakat menganggap aktivitas clubbing merupakan aktivitas negatif. Sehingga menurut masyarakat, mahasiswa tidak pantas melakukan aktivitas tersebut, karena menurut pandangan masyarakat bahwa mahasiswa adalah calon intelektual yang dapat memecahkan permasalahan kehidupan dalam masyarakat. Jadi, diperlukan perubahan penampilan dan gaya dari panggung belakang ke panggung depan atau sebaliknya, dalam Goffman hal tersebut disebut sebagai manajemen kesan. Kata Kunci: Dramaturgi, Perilaku, Night club, Clubbers
KONSTRUKSI SOSIAL PRAKTEK MENGEMIS MASYARAKAT DESA KELAMPAYAN, KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN 115120107111029, RIZKY RAHMATILLAH
Jurnal Mahasiswa Sosiologi Vol 2, No 4 (2015): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan mengenai kebiasaan mengemis yang ada pada masyarakat Desa Kelampayan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Mengemis pada masyarakat Desa Kelampayan sudah menjadi praktek turun-temurun dan berlangsung dari generasi ke generasi. Praktek mengemis yang sudah ada sejak lama pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang sangat sulit untuk dihilangkan. Tujuan penelitian ini adalah mencari tahu bagaimana praktek mengemis dapat terbentuk dan konstruksi sosial seperti apa yang kemudian membuat praktek mengemis dapat bertahan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teori Konstruksi Sosial dari Peter. L. Berger. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengenai Konstruksi Sosial Praktek Mengemis Masyarakat Desa Kelampayan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa praktek mengemis di Desa Kelampayan terbentuk sekitar awal tahun 1900an diawali pasca dibangunnya kubah dan kompleks pemakaman untuk seorang wali kenamaan Kalimantan Selatan. Pemicu dari munculnya pengemis adalah karena tindakan dari seorang bangsawan kerajaan yang awalnya berziarah ke makam sang wali sembari membagikan uangnya kepada penduduk Desa Kelampayan, setelahnya apa yang dilakukan oleh si bangsawan kemudian diikuti pula oleh peziarah lain yang berkunjung ke makam sang wali di Desa Kelampayan. Maksud dan tujuan dari berbagi uang adalah untuk berbagi zakat dan sebagai sebuah penteladanan kepada karomah (kelebihan) sifat yang dimiliki oleh sang wali yang dimakamkan di Desa Kelampayan. Masyarakat Desa Kelampayan kemudian memanfaatkan hal ini dan memanifestasikan tindakan yang dilakukan para peziarah dengan mengemis. Dalam perkembangannya dari dulu hingga sekarang terdapat beberapa aspek yang membuat praktek mengemis dapat terus bertahan, diantaranya adalah karena adanya proses pembiasaan, legitimasi, dan proses sosialisasi pada keluarga maupun lingkungan. Kata Kunci : Mengemis, Tradisi, Habitualisasi, Legitimasi, Sosialisasi