Articles
19 Documents
Search results for
, issue
"1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT"
:
19 Documents
clear
MENIADAKAN JABATAN REKTOR PTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.938 KB)
      Dalam pertemuan dengar pendapat antara beberapa pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) dengan anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru-baru ini muncul pendapat yang sungguh mengejutkan; yaitu pendapat mengenai perlu ditiadakannya jabatan rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN).        Pendapat yang berbau kontroversial tersebut dikemukaan oleh Koordinator Kopertis Wilayah III (untuk DKI Jakarta dan sekitarnya), Sambas Wirakusumah. Dalam forum itu Pak Sambas menyatakan bahwa keberadaan rektor PTN di Indonesia saat ini sudah saatnya ditiadakan karena dalam banyak hal langkah dan operasinya lebih banyak diatur o-leh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) maupun Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti).       Lebih lanjut beliau bahkan menyatakan bahwa rektor PTN sekarang ini lebih banyak berperan sebagai provost atau polisi karena gerak serta langkahnya kurang mandiri karena banyak diatur oleh Mendikbud maupun Dirjen Dikti; dengan demikian rektor tinggal mengoperasikan sekaligus mengamankannya.
NAIKNYA SPP DI UGM
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.601 KB)
      Jujur saja, apabila berbicara mengenai perguruan tinggi di negara kita yang sangat jenius dalam mengantisipasi PP No:30/1990 tentang Pendidikan Tinggi maka UGM, Universitas Gadjah Mada, adalah termasuk dalam kelompok perguruan tinggi ini. Penilaian ini tentunya bisa saja kurang tepat, akan tetapi penilaian ini lebih didasarkan pada referensi empirik yang pernah muncul di dalam dunia pendidikan tinggi kita daripada didasarkan pada interest pribadi yang seringkali justru dapat menyesatkan.        Keputusan pimpinan UGM untuk menciptakan formasi Pembantu Rektor (PR) IV yang didasarkan pada kepentingan pengembangan lembaga hanya beberapa saat setelah PP No: 30/1990 diberlakukan merupakan manifestasi spesifik dari ketetapan di dalam Pasal 29 (dan penjelasannya). Gagasan mengenai royalti dan kompensasi dosen PTN yang mengajar di PTS, meskipun tidak mulus dalam operasionalisasinya, juga tidak lepas dari ketetapan Pasal 111 dan Pasal 112 PP tersebut. Itulah sebagian contoh yang sekaligus meru-pakan referensi empirik mengenai kejeniusan UGM di dalam mengantisi PP No:30/1990 yang secara formal memang telah dibakukan sebagai "pegangan" dalam menyelenggarakan per-guruan tinggi di negara kita.        Bagaimana dengan gagasan ataupun rencana kenaikan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang akan dilakukan UGM mulai tahun akademik 1992/1993 yang akan datang? Se-perti diketahui UGM akan menaikkan SPP-nya dengan nilai kenaikan 50% mulai tahun ini. Gagasan atau rencana yang inipun kiranya tidak dapat dilepaskan dari ketetapan-ke-tetapan yang diatur dalam PP No:30/1990 tersebut.
SALING-SILANG STATUS PENYELENGGARAAN PROGRAM MBA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.766 KB)
      Munculnya berbagai lembaga penyelenggara program MBA, Master of Business Administration, akhir-akhir ini seperti tak terkendalikan lagi. Pada berbagai kota besar program ini menunjukkan eksistensinya; namun bersamaan dengan itu "saling-silang" mengenai program ini pun menjadi tak terhindarkan lagi.        Diakui atau tidak dewasa ini penilaian masyarakat mengenai penyelenggaraan program MBA sedang "terbagi"; ada yang menyatakan kehadiran program MBA secara eksistensional merupakan ekspresi kreativitas masyarakat yang dapat melengkapi program-program pendidikan yang ada dan secara material lulusannya diperlukan oleh industri dan perusahaan. Sementara itu di pihak lain ada yang menyatakan bahwa lulusan MBA sudah tidak diperlukan lagi oleh karena mutunya yang makin lama semakin menurun, peserta didiknya tidak lagi berorientasi pada keterampilan namun lebih pada gelar, sedangkan penyelenggaraannya makin tak beraturan sehingga perlu segera ditertibkan.        Mengenai pendapat yang terakhir, yaitu penertiban lembaga MBA, rasanya memang ada benarnya. Disadari atau tidak pemerintah pun saat ini sedang dalam proses mener-tibkan lembaga MBA dan sejenisnya. Kalau beberapa waktu yang lalu koordinator Kopertis di berbagai wilayah telah mengundang para penyelenggara program MBA untuk diajak dialog mengenai eksistensi lembaga berkaitan dengan pe-ran sertanya di masyarakat; hal ini kiranya merupakan bagian dari upaya penertiban tersebut. Memang, istilah penertiban ini tidaklah relevan dengan "pelarangan", setidak-tidaknya untuk saat ini.
KI HADJAR, TAMANSISWA DAN PEMERATAAN PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (215.381 KB)
"Oleh karena pengajaran yang hanya terdapat pada sebagian kecil rakyat kita itu tidak berfaedah untuk bangsa, maka haruslah golongan rakyat yang besar memperoleh pengajaran secukupnya.Kekuatan bangsa dan negara itu merupakan jumlah kekuatan orang-orangnya. Karena itu lebih baik memajukan pengajaran bagi rakyat umum daripada mempertinggi pengajaran, kalau usaha mempertinggi itu akan mengurangi tersebarnya pengajaran".  ( Ki Hadjar Dewantara )         Masalah pemerataan pelayanan pendidikan sangatlah sering kita diskusikan setiap ada kesempatan; nampaknya hal ini memang sangat wajar dan argumentatif mengingat sampai sekarang ini masih sangat sering dijumpai keluhan masyarakat mengenai pelayanan pendidikan di negara kita yang dianggap cenderung ke arah elite ekonomik, dalam ar-ti ada gejala bahwa sektor pendidikan tertentu hanya da-pat dinikmati oleh kaum berduit.        Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hassan, ketika memberikan ceramah di dalam Kongres XVI Persatuan Tamansiswa 6 Juli 1992 di Balai Persatuan Tamansiswa Yo-gyakarta secara langsung juga telah menyinggung masalah pemerataan pelayanan pendidikan ini. Dibangunnya gedung sekolah, ditambahnya guru, digandakannya buku pelajaran dan buku bacaan, serta diintensifkannya media pengajaran tidak lain juga dimaksudkan untuk lebih lebih meratakan pelayanan pendidikan bagi rakyat banyak.
BANYAK GURU SD ENGGAN NAIK JABATAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.471 KB)
      Beberapa hari lalu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Propinsi DIY menyelenggarakan seminar pendidikan yang diikuti oleh berbagai kalangan, terutama kalangan pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan. Adapun salah satu topik yang dibahas menyangkut kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi berkurangnya murid Sekolah Dasar (SD); sebuah topik yang bagi DIY bersifat khas dan senantiasa aktual.        Memang, bagi Propinsi DIY masalah persekolahan di jenjang pendidikan dasar, khususnya SD, bukan saja khas dan aktual akan tetapi juga sangat perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Hal ini disebabkan adanya fenomena inefficiency (ketidakefisienan) penyelenggaraan sekolah yang tak dapat terhindarkan.        Berdasarkan statistik persekolahan pendidikan da-sar di DIY, sekarang ini terdapat lebih dari 200 SD yang mengalami nasib mengenaskan,yaitu kekurangan siswa. Pada sekolah-sekolah dasar tersebut siswa kelas satunya tidak lebih dari 10 anak. Prediksi akademis saya, untuk tahun-tahun mendatang angka tersebut akan membengkak dan mem-bengkak lagi sampai tidak kurang dari 500 SD kalau pihak pengambil kebijakan tak segera mengantisipasinya dengan langkah-langkah yang konkrit. Apapun alasannya kenyataan ini menunjukkan adanya ketidakefisienan; jenis "penyakit" yang harus dihindari dalam manajemen profesional.
IBU DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.885 KB)
      Seorang negarawan dan religis dari India, Mahatma Gandhi, pernah menyatakan "woman is the mother of man". Wanita adalah ibunya kaum pria; demikian kira-kira terjemahan bebas atas kalimat tersebut. Apa yang dinyatakan oleh Gandhi ini mengandung makna yang cukup dalam; yaitu sedemikian tingginya penghargaan beliau terhadap kaum wanita pada umumnya dan kaum ibu pada khususnya.        Apabila kita sempat menelusuri perjalanan sejarah manusia dari masa ke masa memang sejak semula terdapat kelompok manusia di bumi ini yang sedemikian mengagung-agungkan wanita; di samping ada pula sekelompok lainnya yang kurang menghargai kaum yang "lemah" ini. Munculnya mitos di Yunani tentang dewa-dewa wanita yang sangat di-hormati (misalnya Dewi Fortuna, Dewi Minerva, Dewi Venus, dsb) menandakan sedemikian diagungkannya kaum wanita. Di dalam kebudayaan Mesir kuno terdapat Tuhan-Tuhan wanita; di negara lain kita mengenal Dewi Kuan Him; bahkan di Indonesia, khususnya di Jawa, kita mengenal Dewi Sri serta Nyai Roro Kidul. Secara langsung maupun tak langsung hal itu menyiratkan adanya penghormatan terhadap wanita.        Bagaimana dengan kelompok yang kurang menghargai kaum wanita, terutama kaum ibu? Ada pula; dalam sejarah kuno bangsa Nomad di Arab, yang dikenal dengan zaman ja-hiliyah, maka eksistensi wanita bukan saja kurang diakui akan tetapi cenderung dilecehkan. Anak wanita dibunuh, gadis-gadis diperkosa, dan ibu-ibu sekedar dijadikan pemuas duniawi saja. Itulah sejarah buram kaum ibu.
KEBIJAKAN BARU DIY
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (245.909 KB)
      Pelaksanaan Ebtanas pada Sekolah Dasar (SD) baru saja selesai, dan hasilnya diumumkan secara serentak pa-da tanggal 20 Mei 1992, meski konon ada beberapa SD yang mendahuluinya. Bagi para siswa dan orang tuanya, serta siapapun yang mempunyai kepedulian pada pendidikan dasar sejak semula berharap supaya hasil Ebtanas bisa optimal; karena dengan demikian kelulusan siswa pun bukan sekedar menjadi lebih lancar, akan tetapi juga lebih "bersih".        Apakah dengan selesainya Ebtanas maka akan bera-khir kesibukan akademik di SD? Sudah barang tentu tidak! Saat ini para guru justru sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyongsong kesibukan baru yang beberapa hari lagi akan segera tiba, yaitu kesibukan penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 1992/1993. Bukan itu saja, sebagaian kepala SD bahkan ada yang mulai "pusing" memikirkan mo-ment penerimaan siswa barunya; yaitu memikirkan penyakit "kekeringan" siswa yang mungkin saja melanda sekolahnya. Belajar dari pengalaman tahun lalu banyak ditemukan SD yang "kering", dalam artian tidak memperoleh siswa baru dalam jumlah yang proporsional dan memadai.        Marilah bernostalgia sejenak; tahun lalu relatif banyak SD di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tidak mampu menggaet siswa baru dalam jumlah yang "lazim". Le-bih daripada itu ada beberapa SD yang hanya mendapatkan belasan atau bahkan kurang dari 10 siswa baru; pada hal guru, sarana pendidikan dan fasilitas belajarnya disiap-kan untuk puluhan siswa.
ASPIRASI PENDIDIKAN MASYARAKAT MAKIN KRITIS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.276 KB)
      Ini sungguh-sungguh terjadi; calon mahasiswa baru yang sudah dinyatakan diterima pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternyata tak mendaftar ulang (her-registrasi) sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan sehingga terjadilah "misteri" kursi kosong yang tidak terisi oleh mahasiswa. Akibatnya hak untuk menjadi civitas akademika PTN menjadi hilang serta tidak berlaku lagi. Peristiwa semacam ini tentu patut disayangkan mengingat kompetisi masuk PTN itu sendiri relatif sangat ketat; dalam beberapa tahun terakhir ini tiap satu kursi kuliah pada PTN saling diperebutkan oleh enam atau tujuh kandidat.        Kursi kosong tersebut terjadi hampir untuk semua program studi pada PTN,tak terkecuali program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Karena program ini juga diselenggarakan oleh beberapa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) maka PTS penyelenggara program PGSD juga tak luput dari fenomena akademik kursi kosong.        Fenomena akademik seperti tersebut di atas sebe-narnya tidak hanya terjadi kali ini saja karena semenjak beberapa tahun yang lalu masalah kursi kosong sudah mun-cul pada beberapa PTN di negara kita, hanya saja persen-tasenya tidaklah "sehebat" kali ini. Jumlah kursi kosong PTN kali benar-benar "luar biasa"; ada PTN yang angkanya mencapai 10%, artinya sepersepuluh dari calon mahasiswa baru yang dinyatakan diterima tidak her-registrasi.Lebih daripada itu ada juga PTN yang jumlah kursi kosongnya relatif sangat tinggi, lebih dari 17%.
BUDAYA ANTI SERIUS DALAM TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.657 KB)
      Membuat kemasan audio-visual bagi program-program pengajaran yang mendidik sekaligus menarik itu memang sangat sulit. Ketika saya diminta presentasi dalam seminar sehari Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) untuk mencari masukan konstruktif bagi pengembangan TPI itu sendiri saya katakan bahwa program-program pengajaran yang diaudio visualkan itu seperti pepatah Cina "jamu yang berkhasiat pahit rasanya".        Pada kenyataannya memang permasalahan itulah yang sampai sekarang dihadapi oleh teman-teman di TPI; yaitu membuat program-program pengajaran yang secara material pada berisi (berkhasiat) dan secara medional dapat mena-rik pirsawan untuk mengikutinya (tidak pahit). Di sekeli ling kita banyak jamu yang manis namun kurang berkhasiat, dan banyak jamu yang berkhasiat namun kurang manis. Bagi TPI, kini banyak program pengajaran yang secara material sangat hebat akan tetapi secara medional kurang menarik, atau sebaliknya program pengajaran yang secara medional sangat menarik akan tetapi secara material kurang berisi. Sangatlah sedikit program pengajaran yang materinya padat berisi sekaligus penyajiannya menarik.        Dalam kapasitasnya sebagai lembaga pertelevisian yang mengemban misi utama pendidikan, termasuk di dalam-nya pengajaran, maka TPI mau tidak mau harus dapat menya jikan program-program pendidikan, khususnya pengajaran, yang materinya memang padat berisi serta dari sisi media memang menarik minat pemirsanya (interestable).
PRESTASI BELUM MEMUASKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (246.27 KB)
      Tepat tanggal 5 Juni 1992 yang lalu hasil Ebtanas SMA di lingkungan Kanwil Depdikbud Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diumumkan secara resmi kepada para siswa serta orang tuanya. Berbagai macam ekspresi bermunculan manakala saat pengumuman tiba; ada yang senang dan mengekspresikannya secara demonstratif, ada yang sedih, tetapi ada pula yang bersikap "biasa-biasa" saja karena menganggap peristiwa tersebut tidak terlalu istimewa.        Dari kalangan pendidik serta civitas sekolah yang lainnya ada yang menanggapi pengumuman Ebtanas tersebut dengan nada gembira bercampur sedih; gembira karena ting kat kelulusan sekolah umumnya relatif tinggi, sekaligus sedih karena pencapaian Nilai Ebtanas Murni (NEM) siswa yang sama sekali belum optimal. Seperti halnya yang bia-sa terjadi pada tahun-tahun yang sebelumnya maka tingkat kelulusan siswa relatif cukup tinggi, rata-rata di atas 95%, akan tetapi pencapaian NEM komulatif siswa relatif rendah, rata-rata kurang dari 55,00 untuk tujuh bidang studi yang diEbtanaskan.        Apabila diamati dengan jeli memang banyak siswa SMA yang semata-mata merasa berkepentingan terhadap kelu lusannya, namun kurang concern terhadap NEM-nya. Mungkin hal ini dianggap aneh, tetapi sebenarnya tidak. Mengapa? Karena untuk memasuki perguruan tinggi maka yang lebih diperhatikan adalah kelulusannya, bukan pada NEM; bahkan banyak perguruan tinggi, PTN mapun PTS, yang sama sekali tidak "menghargai" NEM kandidat mahasiswa barunya.