Articles
21 Documents
Search results for
, issue
"1993: HARIAN BALI POS"
:
21 Documents
clear
GURU SD YANG "FRUSTASI"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.277 KB)
      Beberapa waktu lalu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Prop. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan seminar pendidikan yang diikuti oleh berbagai kalangan, terutama kalangan pengambil kebijakan serta praktisi pendidikan. Adapun topik yang dibahas menyangkut kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi berku rangnya murid Sekolah Dasar (SD); sebuah topik yang bagi DIY bersifat khas dan senantiasa aktual.        Memang, bagi Propinsi DIY masalah persekolahan di jenjang pendidikan dasar, khususnya SD, bukan saja khas dan aktual akan tetapi juga sangat perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Hal ini disebabkan adanya fenomena inefficiency (ketidakefisienan) penyelenggaraan sekolah yang tak dapat terhindarkan.        Berdasarkan statistik persekolahan pendidikan da-sar di DIY, sekarang ini terdapat lebih dari 250 SD yang mengalami nasib mengenaskan,yaitu kekurangan siswa. Pada sekolah-sekolah dasar tersebut siswa kelas satunya tidak lebih dari 10 anak. Prediksi akademis saya, untuk tahun-tahun mendatang angka tersebut akan membengkak dan mem-bengkak lagi sampai tidak kurang dari 500 SD kalau pihak pengambil kebijakan tak segera mengantisipasinya dengan langkah-langkah yang konkrit. Apapun alasannya kenyataan ini menunjukkan adanya ketidakefisienan; jenis "penyakit" yang harus dihindari dalam manajemen profesional.
KELUARGA SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (412.064 KB)
      Setiap kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang "timing"-nya diambil dari hari lahirnya tokoh pendidikan nasional kita, Ki Hadjar Dewantara, ma-ka sangatlah bijaksana bila kita sanggup melihat kembali konsep-konsep pendidikan yang pernah ditawarkan olehnya, untuk selanjutnya diaktualisasikan dalam konteks kependi dikan yang berlaku saat ini. Hal ini kiranya cukup pen-ting dan strategis sebab manakala terdapat deviasi dalam mengoperasionalisasikan sebuah konsep maka kita akan me-miliki kesempatan untuk meluruskannya; tentu saja kalau kita bersepakat untuk meluruskan hal-hal yang "bengkok". .lh8        Kemajuan dunia yang terindikatori oleh munculnya fenomena "impersonal relationship" dalam pola hubungan antar umat manusia menjadikan konsep pendidikan keluarga pantas diaktualisasi dan didiskusikan. Mengapa ...? Fe-nomena tersebut bukan saja mengingatkan kita pada sistem birokrasi ala Max Weber yang kurang cocok diaplikasikan secara apa adanya di negara kita, tetapi telah mengancam keharmonisan hubungan antar umat manusia itu sendiri.
TENTANG WAWASAN KEBANGSAAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.922 KB)
      Sudah menjadi kebiasaan bangsa Indonesia setiap datang hari kebangkitan nasional senantiasa diperingati dengan seksama dan penuh khidmat; hal ini sangat wajar karena kebangkitan nasional telah disepakati oleh bangsa kita sebagai momentum yang sangat strategis dalam menum-buhkan wawasan kebangsaan Indonesia.        Secara historis memang harus diakui bahwa masalah perjuangan, persatuan dan kesatuan "bangsa" yang menan-dai adanya wawasan kebangsaan memang sudah tumbuh subur di negara kita ini sejak berabad-abad yang silam; sejak Zaman Majapahit (abad ke-14) atau bahkan Zaman Sriwijaya(abad ke-7) semangat "kebangsaan" tersebut telah mulai memercik, meskipun secara embrional. Tentu saja termino-logisasi "bangsa" dalam konteks ini harus diinterpretasi secara khusus.        Beberapa contoh dapat diangkat; perlawanan Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro (Jawa), Sultan Hassanudin (Sulawesi), Teuku Umar (Aceh), Pattimura (Ambon), Sisi-ngamangaraja (Batak), dsb, terhadap kaum penjajah yang terjadi pada abad belasan menunjukkan adanya kesamaan wawasan; yaitu wawasan anti penjajahan.
PENDIDIKAN DAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT (1)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (408.13 KB)
      Pendidikan dan kebudayaan sering diibaratkan se-bagai dua sisi dari sekeping mata uang, kalau pendidikan merupakan satu sisi dari keping mata uang tersebut maka kebudayaan merupakan sisi yang lainnya. Begitu pula yang sebaliknya, kalau kebudayaan merupakan satu sisi dari keping mata uang tersebut maka pendidikan merupakan sisi yang lainnya.         Pengibaratan tersebut ingin melukiskan demikian eratnya hubungan atau kaitan di antara pendidikan dengan kebudayaan. Implikasi konotatifnya adalah apabila dalam dunia pendidikan terjadi perubahan-perubahan maka hal ini pun secara langsung maupun tak langsung akan terjadi dalam dunia kebudayaan.        Eratnya hubungan antara pendidikan dan kebudayaan juga sering dilukiskan dalam suatu hubungan timbal balik (reciprocal relationship); artinya hubungan yang saling mempengaruhi. Implikasinya apabila terjadi fenomena-fe- nomena tertentu dalam dunia pendidikan maka fenomena ini akan berpengaruh bagi dunia kebudayaan, demikian pula yang sebaliknya, bila terjadi fenomena-fenomena tertentu dalam dunia kebudayaan maka fenomena ini akan berpenga-ruh bagi dunia pendidikan. Dengan bahasa lain terjadinya "kegegeran" dalam dunia pendidikan akan menimbulkan "ke-gegeran" dalam dunia kebudayaan, demikian pula hal yang sebaliknya.
KONTRIBUSI PROFESI PGRI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.399 KB)
      Ketidak-hadiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro dalam peringatan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke-48 tgl 25 November 1993 yang lalu di Jakarta merupakan cerminan sikap pemerintah yang kurang memperhatikan nasib guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Demikianlah kira-kira yang dinyatakan oleh Wakil Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Sukowaluyo.        Lebih lanjut Pak Sukowaluyo menyatakan bahwasanya guru hanya diperlukan jika ada kepentingan tertentu saja sesudah itu sering dilupakan; padahal perjuangan mereka ini merupakan kata kunci pendidikan dasar.        Apa yang dinyatakan oleh Pak Sukowaluyo tersebut bernada "keras",seperti mengandung prasangka yang kurang baik (suudzaan) atau lebih cenderung berprasangka buruk (prejudice), meskipun mungkin maksud hatinya cukup baik untuk "menyentil" pemerintah agar supaya lebih memperha-tikan nasib guru, khususnya yang tergabung dalam PGRI.
DOSEN SEBAGAI PENELITI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.051 KB)
      Kalau ada dua ilmuwan dan sekaligus orang penting yang saling berbeda pendapat tentu bukan beda sembarang beda, artinya masing-masing tentu mempunyai argumentasi yang dapat dipertanggung-jawabkan. Secara kebetulan per-bedaan pendapat ini terjadi antara dua ilmuwan dan orang penting kita; yaitu mantan rektor Universitas Airlangga (Unair) yang pernah bekerja di berbagai lembaga nasional dan internasional, Marsetio Donoseputro, dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Wardiman Djojonegoro.        Mulanya biasa saja. Pak Marsetio beropini bahwa dosen sebagai pengajar di perguruan tinggi sebaiknya tak merangkap sebagai peneliti. Dosen yang lebih berpotensi mengajar diberi tugas mengajar tanpa meneliti, sedangkan dosen yang lebih berpotensi meneliti diberi tugas mene-liti tanpa mengajar. Menurut beliau rangkap tugas dosen antara mengajar dan meneliti telah menyebabkan kualitas penelitian dosen menjadi rendah. Itulah sebabnya beliau mengusulkan agar dosen yang lebih senang mengajar hanya diberi tugas mengajar, sedangkan dosen yang lebih senang meneliti hanya diberi tugas meneliti.        Pak Marsetio pun menyatakan bahwa temuan-temuan penelitian dosen yang meneliti dapat saja dipakai untuk mengajar oleh para dosen yang mengajar di kelas.
TAMANSISWA SEBAGAI LEMBAGA KEJUANGAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.695 KB)
      Merunut sejarah berdirinya Tamansiswa jelas tidak akan dapat dilepaskan dengan sejarah kejuangan Ki Hadjar Dewantara sebagai pendirinya. Mendudukkan Tamansiswa sebagai lembaga pendidikan dan kebudayaan yang berkiprah di tengah-tengah masyarakat sejak jaman prakemerdekaan memang tidak salah, namun demikian sebenarnya Tamansiswa bukanlah sekedar lembaga pendidikan dan kebudayaan akan tetapi merupakan lembaga kejuangan yang tak pernah ber-henti berusaha untuk mengentaskan rakyat Indonesia dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.        Ki Hadjar sendiri sebenarnya memulai kejuangannya melalui jalur politik. Ketika berusia sekitar 16 tahun Ki Hadjar sempat mengikuti pendidikan di STOVIA Jakarta, dan dari sana Ki Hadjar banyak bergaul dengan teman-te-mannya yang berasal dari berbagai daerah. Dari sana pula Ki Hadjar banyak berhubungan dengan tokoh pergerakan na-sional. Boleh dikatakan pengalaman berorganisasi secara modern juga banyak diperoleh dari STOVIA ini.        Pada waktu Boedi Oetomo berdiri pada tahun 1908, yang oleh para sejarawan sering disebut sebagai permula-an sejarah modern di Indonesia, Ki Hadjar sudah mendapat kepercayaan untuk duduk pada bagian propaganda. Ketika Sarekat Islam berdiri maka Ki Hadjar pun ikut bergabung di dalamnya, bahkan satu tahun berikutnya bersama dengan Tjipto Mangoenkoesoema dan Dauwes Dekker mendirikan In-dische Partij. Dari aktivitas politiknya ini Ki Hadjar mulai menjadi dissident di mata pemerintah kolonial.
AKTIVITAS ANTISOSIAL DI KAMPUS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (408.975 KB)
      Baru-baru ini terjadi peristiwa antisosial pada salah satu PTN di Surabaya. Konon mahasiswa PTN tersebut berhasil "menduduki" salah satu kantor pusatnya, akibat-nya proses belajar mengajar menjadi terganggu.Menanggapi peristiwa ini rektor PTN yang bersangkutan mengemukakan bahwa gerakan oknum-oknum mahasiswanya itu sama dengan gerakannya clandestein. Wah, wah ...        Aktivitas antisosial yang terjadi di Surabaya itu ternyata juga terjadi pada beberapa perguruan tinggi di negara kita akhir-akhir ini. Di Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang "menyimpan" banyak ilmuwan. cendekiawan, dan budayawan ternyata juga terjadi peristiwa yang sama dan senada. Salah satu PTN di kota ini para mahasiswanya saling "berontak" gara-gara keputusan yang diambil oleh kelompok senat (mahasiswa) yang satu ditentang oleh ke-lompok senat yang lain. Di kota ini juga sedang berlang- sung sidang pengadilan yang perkaranya berawal mula dari sebuah kampus PTS.        Bagaimana dengan berbagai perguruan ringgi di ko-ta-kota yang lain? Rasanya sama saja, meskipun peristiwa tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk semua perguru-an tinggi di semua kota.
MEMPERSOALKAN DUALISME PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.65 KB)
      Sistem dualisme pengelolaan pendidikan dasar atau tepatnya Sekolah Dasar (SD) kembali direaktualisasi dan disorot oleh para pengambil keputusan. Baru-baru ini di dalam pertemuan antara Mendikbud dan staf dengan anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI perbincangan mengenai dualisme pengelolaan pendidikan dasar kembali muncul di permukaan. Efisiensi dan efektivitas sistemnya kembali didiskusikan.        Sesungguhnya pembicaraan mengenai sistem dualisme tersebut bukan pertama kalinya dilakukan; sejak beberapa tahun yang lalu, semenjak Pak Wardiman Djojonegoro belum memegang pucuk pimpinan departemen pendidikan, semenjak Peraturan Pemerintah (PP) No.28/1990 tentang Pendidikan Dasar disusun,bahkan semenjak sebelum Undang-Undang (UU) No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional terbakukan, maka pembicaraan tentang dualisme pengelolaan pendidikan dasar sudah sering dilakukan. Bahkan, masalah dualisme ini menjadi semacam agenda klasik untuk pertemuan Mendik bud dengan anggota Komisi IX DPR RI; bermula dari perta-nyaan mengenai efisiensi dan efektivitas sistem kemudian berakhir dengan keinginan untuk mengakhiri sistem.        Tegasnya: secara historis pertanyaan dan keraguan mengenai efisiensi dan efektivitas sistem dualisme dalam pengelolaan pendidikan dasar serta keinginan untuk meng-akhiri sistem tersebut sudah muncul sejak lama. Meskipun demikian ternyata sampai saat ini sistem tersebut masih berjalan seperti biasa, tidak pernah ada perubahan sedi-kitpun,bahkan melalui peraturan tertentu sistem tersebut terasa makin dibakukan.
TRAUMA AKADEMIK DALAM "SISTEM NEM"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.849 KB)
      Perburuan kursi belajar di SLTP, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, baik negeri maupun swasta telah dimulai sejak tanggal 22 Juni 1993 yang lalu. Para lulusan SD, Sekolah Dasar, dan/atau orangtuanya dipersilakan memilih SLTP yang dianggap paling cocok dan paling banyak membe-rikan kemudahan belajar. Tidak ada larangan sedikit pun bagi lulusan SD untuk melanjutkan studinya di SLTP, bah-kan untuk menyongsong dicanangkannya program wajib bela-jar SLTP tahun 1994 mendatang oleh pemerintah maka para lulusan SD justru dianjur-anjurkan untuk melanjutkan stu dinya di SLTP.        Bagaimana apabila sekolah-sekolah setempat tidak mampu menampung lulusan SD yang ada? Ini baru masalah! Memang sampai sekarang ini angka melanjutkan (continuity rate) SD-SLTP di negara kita masih berkisar pada angka 65%, artinya baru 65 dari setiap 100 lulusan SD yang da-pat ditampung di SLTP. Bagaimana dengan nasib 35 lulusan yang lainnya? Ada yang bekerja, membantu orang tua, me-nganggur, dan entah apa lagi.       Meskipun angka melanjutkan SD-SLTP secara nasional masih jauh dari memadai akan tetapi di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan la-innya masalah tersebut tidak terlalu meresahkan. Umumnya jumlah kursi belajar di sekolah-sekolah setempat relatif cukup untuk menampung lulusan SD yang ada; masalahnya se karang adalah bagaimana memilih SLTP yang bermutu berka-itan dengan sistem seleksi yang diaplikasi.