Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"1993: HARIAN SUARA KARYA"
:
11 Documents
clear
TERMINOLOGI SEKOLAH KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.621 KB)
      Banyak pengamat menyatakan bahwa akhir-akhir ini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tengah mendapatkan angin baik dalam pengembangannya; dan angin baik ini terasakan mulai semilir sejak Pak Wardiman Djojonegoro mendapatkan tugas untuk memimpin departemen pendidikan yang terlalu syarat dengan berbagai permasalahan. Tegasnya: semenjak Pak Wardiman dipercaya Presiden RI menjadi menjadi orang nomor satu di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Dep-dikbud) pengembangan SMK mendapat perhatian secara pro-porsional, bahkan cenderung mendapat prioritas.        Pernyataan atau sinyalemen tersebut kiranya tidak terlalu salah; kita lihat saja akhir-akhir ini relatif banyak kebijakan-kebijakan yang bersangkut-paut langsung untuk memajukan sekolah kejuruan. Ambillah contoh antara lain kebijakan tentang penyelenggaraan SLTP Keterampilan, Sistem Magang (Apprentice System), Program Sekolah Seu-tuhnya (School Integrated Development), Pengembangan SDM Sekolah Kejuruan (Vocational HRD), dan sebagainya.        Memang demikianlah keadaannya; sekolah kejuruan memang sedang mendapat tempat.Meski demikian kita sempat sedikit "terkejut" dengan pernyataan Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan, J.Pakpahan, baru-baru ini bahwa mulai tahun depan Sekolah Teknologi Menengah (STM) dan Sekolah Menengah Ekonomi tingkat Atas (SMEA) akan dihapuskan.
MUSIM "GEGERAN" KAMPUS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.059 KB)
      Situasi kampus akhir-akhir ini ada gejala semakin memanas. Beberapa perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS, nampak makin meriah dengan adanya gerakan antisosial di antara civitas akademika, antara mahasiswa dengan maha-siswa, mahasiswa dengan pimpinan perguruan tinggi, dosen dengan pimpinan perguruan tinggi; bahkan di beberapa PTS terjadi perselisihan antara mahasiswa serta dosen dengan pengurus yayasan penyelenggara PTS.        Rasanya memang aneh; di kampus sebagai "rumahnya" para akademisi, cendekiawan, ilmuwan, serta calon ilmuan ternyata dapat terjadi hal-hal yang bersifat antisosial. Anehnya lagi hal-hal semacam ini ada yang sampai kepada aktivitas fisik. Aneh memang, tapi nyata!        Di Surabaya ada mahasiswa PTN yang secara fisik "menduduki" kantor pusatnya,sampai pimpinan PTN tersebut menilai gerakan mahasiswa itu tidak ubahnya seperti ge-rakan kaum jalanan. Di Jawa Tengah ada beberapa PTS yang mahasiswa dan dosennya berselisih faham dengan pengurus yayasan untuk menentukan rektor baru dalam kerangka suk-sesi di kampus tersebut. Di Bandung ada rektor yang ber-selisih faham dengan pengurus yayasannya, sampai rektor tersebut mengundurkan diri dari jabatannya. Padahal, ini terjadi pada PTS yang cukup bonafide.
TAMANSISWA 71 TAHUN : CITA-CITA DAN KEJUANGANNYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.407 KB)
      Sejarah Tamansiswa tidak dapat dilepaskan dari Ki Hadjar Dewantara (KHD) yang lahir pada 2 Mei 1889 putera Pangeran Soerjaningrat trah Paku Alaman. Waktu kecil KHD bernama R.M. Soewardi Soerjaningrat. Ketika belajar di STOVIA Jakarta (1905), beliau bergaul dengan teman-teman yang menjadi tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia, dan secara langsung memperoleh pengalaman berorganisasi secara modern. KHD turut dalam organisasi Boedi Oetomo (1908) dan diserahi tugas pada bagian propaganda; beliau juga membantu gerakan Sarekat Islam (1911).        Pada tahun 1912 bersama dr Tjipto Mangoenkoesoema dan Dauwes Dekker, KHD mendirikan Indische Partij (IP). Permohonan IP menjadi badan hukum ditolak pemerintah ko-lonial Belanda karena dianggap berbahaya. Tokoh IP yang terkenal dengan sebutan tiga serangkai (Soewardi-Tjipto-Dekker) akhirnya berjuang melalui pers.        Tahun 1913 pemerintah kolonial Belanda akan menga dakan perayaan 100 tahun kemerdekaannya di Indonesia de-ngan memungut biaya dari rakyat. KHD dan kawan-kawan tak setuju, dan untuk memprotesnya dibentuklah Komite Bumi Poetera. Selanjutnya KHD menulis protes yang tajam namun secara halus di dalam tulisan yang berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Andaikan Aku Seorang Belanda) dan "Een voor Allen, maar Ook Allen voor Een" (Satu untuk Semua, tetapi Juga Semua untuk Satu). Akibat tulisannya ini dan juga tulisan senada yang dibuat oleh Tjipto dan Dekker maka ketiganya dibuang ke Belanda.
MODEL PILIHAN GANDA DALAM EBTANAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (178.52 KB)
      Kritik tajam tentang tidak relevannya model-model soal pilihan ganda (multiple choice) untuk diaplikasi didalam sistem evaluasi pengajaran dan pendidikan yang di-lontarkan Pak Habibie kiranya bukan untuk pertama kali kita dengar. Sejak beberapa tahun terakhir ini kita me-mang sering mendengar kritik semacam itu.        Selama ini Pak habibie termasuk rajin memberikan kritik tentang diaplikasikannya model-model soal pilihan ganda yang dianggap tidak dapat mengukur kemampuan ana-litis anak didik. Implikasinya: apabila siswa dibiasakan dengan soal-soal pilihan ganda,yang nota bene mengandung unsur "gambling" di dalamnya, maka kelak siswa tersebut akan mengalami banyak kesulitan dalam mengembangkan daya nalarnya untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya.        Menanggapi kritik tajam tersebut Mendikbud kita yang dulu, Fuad Hassan, menyatakan agar kita tidak perlu terlalu risau mengembangkan model-model pilihan ganda di dalam sistem evaluasi pengajaran dan pendidikan karena model-model pilihan ganda,sebagaimana dengan model-model tes yang lain, memiliki kelebihan yang spesifik. Perso-alannya adalah bagaimana mengoptimalkan kelebihan model pilihan ganda tersebut.
PELANGGARAN SEKSUAL DAN MEDIA MASSA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.329 KB)
      Pada tahun 1975 dua orang peneliti sosial, Blumer dan Hauser, melakukan penelitian tentang kasus-kasus pe-langgaran seksual terhadap beberapa remaja pada sebuah wilayah di Amerika Serikat (AS).Salah satu konklusi atas penelitian ini menyebutkan bahwa dari 752 gadis berusia 14 s/d 18 tahun ternyata 25% di antaranya sudah mengadakan hubungan seks secara ilegal (pranikah).        Beberapa waktu yang lalu konon seorang "sosiawan" dari negeri Paman Sam tersebut, John Napoleon Lacorte, menawarkan bonus sebesar US$ 1.000 kepada siswi-siswi se kolah menengah di New York (Brooklyn, Queens, dan Staten Island); dan bonus itu akan diberikan bagi mereka yang sanggup mempertahankan "keperawanannya" sampai pada usia 19 tahun. Gagasan ini berangkat dari keprihatinan mendalam mengenai seriusnya masalah pelanggaran seksual pada kalangan remaja di AS yang mengakibatkan tingginya angka kehamilan remaja puteri. Waktu itu ribuan gadis AS yang berusia di bawah 15 tahun diketahui sedang hamil.        Dua ilustrasi tersebut secara tak langsung dapat menggambarkan terjadinya berbagai pelanggaran seksual di kalangan anak-anak sekolah.Sebagai akibatnya maka banyak gadis-gadis hamil sebelum waktunya.
ANGKA KREDIT BAGI GURU : ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.439 KB)
      Selama hampir setengah abad kita menikmati alam kemerdekaan barangkali baru kali ini terjadi dalam seja-rah ada sebuah agen penerbangan yang mau memperhatikan nasib guru.Agen tersebut mau memberi discount (potongan) 50% bagi para guru yang ingin bepergian di dalam negeri memakai jasa penerbangan yang ditawarkannya (sayangnya untuk memperoleh potongan tersebut disyaratkan para guru sudah memiliki kartu anggota PGRI, Persatuan Guru Repu-blik Indonesia, suatu organisasi profesi yang justru ti-dak semua guru menyukai dan mau bergabung di dalamnya).        Kenapa para guru yang dipilih untuk diberi perha-tian? Konon salah satu pertimbangannya adalah bahwa guru di Indonesia umumnya belum mempunyai kesejahteraan yang memadai sehingga sangat wajar bila dibantu. Secara kela-kar ada yang menyatakan biar dikasih potongan sampai 75% toh hampir tidak ada guru yang sanggup membeli tiket pe-sawat terbang untuk bepergian yang bersifat rekreatif.        Kelakar tersebut mengingatkan saya pada "protes" seorang guru; mengapakah kenaikan tunjangan jabatan yang rasional, yang sedikit dapat meningkatkan kesejahteraan, hanya diberikan bagi dosen saja tanpa dapat dinikmati o-leh kaum guru, pada hal antara guru dan dosen sama-sama memiliki tugas mendidik yang cukup berat. Sejak Januari 1993 tunjangan jabatan dosen memang mengalami kenaikan yang sangat signifikan, mencapai lebih dari 200%; namun demikian kenaikan yang demikian ini tidak diberlakukan bagi para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
DOSEN : ANTARA PENGAJAR DAN PENELITI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.466 KB)
Apabila perguruan tinggi bisa diibaratkan sebagai panglima maka dosen merupakan ujung tombak penelitian; hal itu berarti bahwa maju atau tidaknya penelitian akan sangat tergantung pada perguruan tinggi, dan akan lebih tergantung lagi pada dosennya. Dengan ungkapan lain para dosen di perguruan tinggi sangat menentukan produktivi-tas dan kualitas penelitian. Apakah penelitian kita sudah maju? Ternyata belum maju; dan hal ini tidak bisa dilepaskan dari "dosa" para dosen kita. Mengapa? Produktivitas penelitian dosen pada umumnya masih rendah, hasil penelitiannya kurang bermutu dan budaya meneliti belum tumbuh pada seluruh dosen kita. Pada hal, penelitian itu sendiri memiliki posisi yang a-mat strategis untuk mengembangkan perguruan tinggi serta untuk memacu berputarnya roda-roda pembangunan nasional yang tengah kita galakkan. Barangkali karena kenyataan itulah kalau kemudian Pak Marsetio Donoseputra, mantan Rektor Unair dan mantan konsultan UNESCO yang kini banyak bergelut pada lembaga legislatif, mengemukakan opini dan usulannya yang sangat kontroversial; yaitu dosen yang lebih berbakat mengajar hendaknya diminta mengajar saja tanpa meneliti dan dosen yang lebih berbakat meneliti diminta meneliti saja tanpa mengajar. Hasil penelitian dosen yang meneliti (peneliti/researcher) dapat digunakan sebagai bahan mengajar bagi dosen-dosen yang mengajar (pengajar/educator).
LIMA KENDALA LIMA "WARNING" UNTUK TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.408 KB)
Untuk menghormati berdirinya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dua tahun yang lalu, atau tepatnya pada tanggal 23 Januari 1991, maka di harian ini saya pernah menulis tentang perlunya pengembangan media audio-visual (yang di dalam konteks tulisan tersebut ialah TPI) untuk memperluas jangkauan pelayanan pendidikan di negara kita (Supriyoko, "Selamat Datang Televisi Pendidikan", Suara Karya: 23/01/91). Saat ini TPI genap berusia dua tahun. Dalam usianya yang baru "seumur jagung" ini berbagai kritik, saran dan bahkan sinisme masyarakat yang ditujukan kepada TPI seperti tidak henti-hentinya mengalir. Hal ini mengingat kan kita pada hari-hari pertama ketika TPI dilahirkan, yang mana saat itu kritik tajam, saran, dan sinisme juga banyak bermunculan. Kalau waktu itu TPI sering dikepanjangkan sebagai "Televisi Prematur Indonesia" karena program-programnya yang dianggap tidak berbobot, "Televisi Periklanan Indonesia" karena siarannya banyak diselingi dengan iklan, atau "Televisi Pembantu Indonesia" karena siarannya kebanyakan diikuti oleh para pembantu RT, dsb, hal itu merupakan ekspresi dari berbagai sinisme. Dalam usianya yang sudah dua tahun sekarang ini pun ternyata berbagai kritik, saran, serta sinisme masih tetap saja bermunculan. Tidaklah mengapa; karena kritik, saran dan sinisme itu justru menunjukkan adanya rasa ke-cintaan serta besarnya harapan masyarakat kita terhadap TPI dengan program-programnya.
TIGA TIPE KEMISKINAN DAN PERAN GURU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.661 KB)
Dalam sebuah seminar kependidikan yang baru-baru ini diselenggarakan oleh sebuah perguruan tinggi kependi dikan dan diikuti oleh para mahasiswa calon guru muncul sebuah pertanyaan yang sangat menarik serta menggelitik; yaitu apakah guru yang notabene berfungsi sebagai tenaga pendidik mempunyai hubungan langsung (direct relation) dengan masalah kemiskinan yang sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Tegasnya: sejauh mana peran guru dalam upaya mengentas kemiskinan. Pertanyaan tersebut memang sungguh menarik bukan saja karena masalah kemiskinan sedang aktual akan tetapi pada kenyataannya sampai kini banyak guru yang secara e-konomis hidup di bawah garis kemiskinan. Sampai sekarang banyak guru yang kaya pengalaman tentang hidup miskin. Banyak hikayat dan anekdot untuk melukiskan kemis kinan guru karena penghasilan yang sangat terbatas kalau dibandingkan dengan nilai pengabdiannya.
MENYUKSESKAN SLTP KETERAMPILAN (2)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.556 KB)
Salah satu permasalahan pada penyelenggaraan SLTP Keterampilan adalah menyangkut fondasi hukum ("basic le-gality"). Dari sisi legalitas maka penyelenggaraan SLTP Keterampilan kurang mempunyai fondasi hukum yang kokoh, meskipun bukan berarti tidak memiliki fondasi hukum sama sekali. Keadaan ini lebih disebabkan adanya berbagai in-terpretasi operasional yang antagonistik dan ambibalen-tif dari berbagai ketentuan yang ada, terutama ketentuan di dalam pasal-pasal dan ayat-ayat dalam UU Nomer 2/1989 dan PP Nomer 28/1990. Dengan mengacu pada Pasal 13 UU Nomer 2/1989 yang menyatakan bahwa pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan penge tahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hi-dup dalam masyarakat serta menyiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah (ayat 1), maka kemungkinan penyelenggaraan SLTP Keteram-pilan yang memberikan bekal pengalaman dan keterampilan dasar kepada siswanya memang terbuka. Dengan bahasa lain ketentuan ini memberi dukungan kuat atas diselenggarakan nya SLTP Keterampilan yang memberikan bekal keterampilan bagi lulusannya. Meskipun demikian pada sisi yang lain ternyata ada beberapa pasal dan ayat yang kurang memberi dukungan secara optimal. Pasal 1 PP Nomer 28/1990 menyebutkan bahwa pendi-dikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun,diselenggarakan selama enam tahun di Sekolah Dasar dan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau satuan pendidikan yang sederajat (ayat 1).