cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
TAWURAN PELAJAR DALAM TEORI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.733 KB)

Abstract

       Tawuran pelajar akhir-akhir ini kambuh lagi! Beberapa hari yang lalu di Semarang meletus perkelahian antar pelajar yang melibatkan puluhan siswa. Korban tawuran yang belasan orang jumlahnya itu ter-nyata tidak seluruhnya siswa akan tetapi ada pula gurunya.  Pak Guru yang barangkali bermaksud baik hati ternyata justru menjadi korban tawuran massal; konon kepalanya bocor terkena lemparan batu dari oknum remaja sekolah yang berhuru-hara tersebut.       Bukan itu saja.  Setelah aparat keamanan  berhasil mengamankan oknum-oknum pelajar yang terlibat perkelahian tersebut ternyata men-dapatkan senjata tajam, belati.  Sudah sebegitu profesionalkah oknum pelajar kita dalam berkelahi fisik?  Entahlah; tetapi di samping senjata tajam tersebut juga ditemukan pil koplo jenis nipam.  Pil ini termasuk jenis obat-obat terlarang yang dapat membawa "terbang" (fly) orang yang meminumnya. Pil ini dapat menurunkan kadar rasionalitas orang yang meminumnya; dan pil jenis nipam ini pulalah yang diminum oleh sopir bis yang menewaskan puluhan penumpang di salah satu jalan tol menuju Jakarta beberapa waktu yang lalu.       Kenapa oknum-oknum pelajar  yang terlibat perkelahian  tersebut harus membawa senjata tajam?  Kenapa mereka juga harus membawa pil koplo? Nampaknya mereka sengaja menyiapkan diri untuk berkelahi dan bikin keributan. Meskipun setiap muncul kasus tawuran maka aparat keamanan kita segera turun tangan akan tetapi secara empirik menunjukkan banyaknya oknum pelajar yang setelah dilepas dari pe-ngamanannya segera bikin ulah lagi.      Ibarat nila setitik merusak susu sebelanga maka persentase oknum pelajar yang senang berkelahi yang jumlahnya relatif kecil inilah yang dapat "menarik" teman-teman lainnya dalam jumlah banyak. Tawuran pelajar pun kambuh dimana-mana; Medan, Yogyakarta, Karanganyar, Jakarta, dan di berbagai kota lainnya.
INDEPENDENTITAS DAN KREATIVITAS BAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.578 KB)

Abstract

       Munculnya keterangan  Ketua Badan Akreditasi Nasional (BAN), Sukadji Ranuwihardjo, yang menyatakan bahwa BAN akan segera menjalankan fungsinya untuk mengakreditasi seluruh perguruan tinggi (PTS dan PTN) di negara kita pantas disambut secara positif. Lebih daripada itu boleh pula disambut dengan penuh harap.          Seperti kita ketahui baru-baru ini Pak Sukadji memberi informasi bahwa tahun 1996 nanti sistem dan mekanisme akreditasi (yang baru) akan segera dilaksanakan.  Apabila selama ini sistem akreditasi hanya berlaku bagi PTS, maka nantinya akan diberlakukan bagi PTS maupun PTN;  hal ini sesuai dengan pesan UU No.2/1989 tentang Sistem Pen-didikan Nasional dan PP No.30/1990 tentang Pendidikan Tinggi. Pada sisi yang lain bila selama ini dipakai terminologi "Terdaftar","Diakui" dan "Disamakan" dalam penstatusannya,  maka nantinya akan dipakai istilah "Accredited" dan "Not-Accredited".          Informasi mengenai akan bekerjanya BAN  untuk mengakreditasi perguruan tinggi sedikit menggembirakan karena sekarang ini anggota masyarakat kita memang sedang menunggu prestasi BAN. Masyarakat kita, terutama masyarakat perguruan tinggi,  sangat ingin BAN segera berfungsi.  Jujur saja,  meski anggota BAN sudah dilantik Mendikbud pada Desember 1994 lalu tetapi sampai kini belum sanggup menjalankan fungsinya sebagai akreditator PTS dan PTN. Bahkan, meskipun BAN telah diresmikan dan anggota BAN telah dilantik, ternyata sam-pai kini pelaksanaan akreditasi bagi PTS di Indonesia masih dilakukan secara konvensional  (Supriyoko,  "Meningkatkan Mutu Perguruan Tinggi Swasta, Suara Pembaharuan", 4 Agustus 1995).
DIMULAI LAHIRNYA BAYI "PREMATUR" TPI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.574 KB)

Abstract

       Sebagaimana yang pernah terjadi pada tahun-tahun yang sebelumnya maka perjalanan pendidikan tahun 1991 ini sangat menarik untuk direview dan dicermati kembali. Pada dasarnya  pendidikan itu sendiri merupakan fenomena universal yang oleh birokrasi manusia senantiasa dicoba disistematisasi pengembangannya; maka berbagai kompleksitas problematika menjadi eksist karenanya. Upaya untuk mensolusi kompleksitas problematika inilah yang kemudian menimbulkan kemenarikan-kemenarikan tertentu.          Kalau perjalanan pendidikan kita pada  tahun 1989 dan 1990 yang lalu diwarnai dengan bermunculnya berbagai produk hukum tertentu,  khususnya munculnya UU No:2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, SK Menpan No:26/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru, PP No:27/1990 tentang pendidikan prasekolah, PP No:28/1990 tentang pen didikan dasar, PP No:29/1990 tentang pendidikan menengah serta PP No:30/1990 tentang pendidikan tinggi; maka pada tahun 1991 ditandai dengan munculnya "lembaga pendidikan" yang baru dan nonkonvensional.          Seperti yang telah kita ketahui bersama pada awal tahun 1991, tepatnya pada tanggal 23 Januari 1991, maka Presiden Soeharto  telah berkenan meresmikan berdirinya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI).  Lembaga pertelevi-sian ini memiliki orientasi yang agak spesifik dibanding dengan lembaga pertelevisian yang sudah ada (TVRI, RCTI, dan SCTV);  yaitu lebih menitik-beratkan siarannya pada program-program pendidikan.
TENTANG PENERTIBAN SMK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.703 KB)

Abstract

       Kalangan praktisi  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  sekarang ini banyak yang bersikap hati-hati, khawatir dan bahkan ada pula yang resah; pasalnya berkait dengan nasib sekolah yang dikelolanya. Seper-ti diketahui baru-baru ini telah dilakukan "penutupan" puluhan bahkan ratusan SMK yang dipandang tidak layak operasi dan/atau tidak dapat memenuhi persyaratan administratif sebagai lembaga pendidikan. Di DKI Jakarta saja ada puluhan SMK yang ditutup; belum lagi yang ada di wilayah-wilayah lain.      Di DKI Jakarta ada beberapa puluhan SMK yang terpaksa ditutup dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditentukan Depdikbud.  Di luar itu juga terdapat puluhan SMK lainnya yang terpaksa ditutup karena tidak mampu menyediakan peralatan dan fasilitas praktik dengan kualitas standard minimal.  Memang peralatan praktik relatif mahal sehingga bisa dimaklumi bila ada beberapa SMK yang menemui kesulitan di dalam sistem pengadaannya.      Di Jawa Timur bahkan terdapat SMK yang sudah beroperasi lebih dari lima tahun dan sudah berkali-kali meluluskan siswa (via Ebtanas) akan tetapi juga terkena kebijakan "penutupan" dikarenakan adanya persyaratan administrasi sekolah yang belum terselesaikan. Padahal, kualitas sekolah tersebut relatif baik.       Berbagai kasus tersebut  memang sempat membuat  para  praktisi pendidikan tersentak,  khususnya para pengelola SMK swasta, karena dari berbagai kasus yang muncul tidak satu pun SMK negeri yang ter-kena kebijakan "penutupan".  Memang ada praktisi pendidikan yang pandai mengambil hikmah atas kasus tersebut;  yaitu segera mengadakan koordinasi dengan unsur-unsur sekolah untuk mengevaluasi diri sejauh mana lembaganya telah memenuhi persyaratan administrasi dan sejauh mana penyediaan peralatan praktiknya dapat mendukung kurikulum dan silabi.
BELAJAR DARI PENJUAL KRUPUK (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ?Klinting klinting ??? suara klinting sebagai pengganti bel di rumah saya. Saya menuju ke depan untuk menyambut tamu yang baru saja membunyikan klinting tersebut. Setelah pintu saya buka, tamu tersebut seorang Bapak sambil melempar senyum berkata ?Apakah krupuknya masih Pak??. ?Sebentar ya Pak? jawab saya sambil saya menuju ke belakang untuk melihat kaleng krupuk. Setelah kaleng yang berwarna hijau kotak dengan panjang 20 cm, lebar juga 20 cm tinggi 30 cm, salah satu sisinya diberi kaca tembus pandang dan tutup bulat saya lihat, ternyata krupuknya tinggal 4 buah. Kemudian saya keluarkan 4 buah krupuk tersebut dan saya letakkan di toples plastik di atas meja. Kaleng yang kosong tersebut, saya bawa ke depan saya serahkan kepada Bapak penjual krupuk. Penjual krupuk membawa kaleng menuju ke dua buah plastik besar berisi krupuk yang diletakkan pada dua keranjang di bagian belakang sepedanya. Ia mengisi kaleng kosong dengan krupuk, sambil saya perhatikan. Lima buah krupuk dimasukkan ke dalam kaleng, diikuti lima lagi sampai kaleng tersebut hampir penuh, setelah itu menambah 2 buah krupuk sebagai bonusnya. Saya melihat kejadian tersebut tersenyum dan mengucapkan dalam hati ?Luar biasa?. Pelajaran pertama saya peroleh dari penjual krupuk adalah berusaha untuk memberikan kelebihan. Meskipun ia seorang penjual krupuk dengan untung yang kecil dan bertahun-tahun hanya naik sepeda ontelnya untuk menawarkan dagangannya kemana-mana, tetapi ia adalah penjual yang murah hati, penjual yang berlapang dada dan pintu hatinya terbuka. Melalui pintu itu komunikasi dengan pelanggannya menjadi lebih mudah, perasaan hangatnya menciptakan keterbukaan yang menghapus rasa takut, rasa ragu dan tidak aman. Rahasia memberi,mulai dari memberi senyum maupun memberi harta,meskipun hanya 2 krupuk, tetapi akan membawanya sebagai pedagang yang tetap bahagia. Ia memilih mendapatkan rahmat Allah daripada keuntungan semata. Rahmat Allah yang diturunkan di bumi hanya 1 %, sangat kecil dibandingakan yang diturunkan di akhirat kelak 99 %.   Meskipun kecil tetapi telah menyebar ke suluruh dunia berujud kasih sayang, baik kasih sayang manusia dengan manusia lain maupun kasih sayang dengan makhluk lain.  Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah bersabda : ?Semoga Allah merahmati seorang hamba yang lapang hati apabila ia menjual dan berlapang hati apabila ia membeli dan lapang hati tatkala ia menagih?  (Bukhari, Ibnu Majah). Diriwayatkan oleh A-Tirmidzi dengan klaimat yang sedikit berbeda :?Semoga Allah mengampuni seorang laki-laki di antara kalian, ia bersikap lembut apabila menjual dan lembut apabila ia membeli,lembut apabila menuntut. Dari hanya seorang penjual krupuk, tetapi ternyata kita dapat memetik pelajaran yang sangat berharga untuk dapat kita terapkan dalam kehidupan kita menuju kebahagian dunia dan akhirat.
Bekerja dengan Indah Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar orang sukses, mengerjakan pekerjaan dengan apa yang disukainya. ?Katika sedang bekerja, saya rileks, tidak mengerjakan apa-apa? kata Pablo Picasso. Bill Gates menyukai komputer sejak kecil, bahkan tertarik pada perangkat lunak dan pemrograman komputer pada usia 13 tahun. Pada usia 18 tahun telah mampu mengembangkan sebuah versi bahasa pemrograman BASIC untuk pertama kalinya pada komputer mikro MITS Altair di Harvard University. Ia rela meninggalkan Harvard untuk pekerjaan yang disenangainya dengan mencurahkan energinya pada perusahaan perangkat lunak yang baru didirikannya bersama kawan kecilnya Paul Allen, yaitu Microsoft. Perusahaan tersebut memperoleh pendapatan 39,79 milyar dolar Amerika pada akhir tahun fiskal Juni 2005, mempunyai lebih dari 61.000 karyawan, tersebar di 102 negara.           Keichiro Toyoda sangat mencintai otomotif. Sampai-sampai perusahaan tenun ayahnya, ketika diserahkan kepadanya diganti perusahaan otomotif dan namanya diganti dari ?TOYODA? menjadi ?TOYOTA?. Saat ini merupakan salah satu perusahaan otomotof yang terunggul di dunia. Dari Januari 2005 sampai dengan Desember 2005, Toyota mampu menjual mobil sebanyak 8,12 juta unit. Mulai dari Toyota Lexus, Daihatzu dan Hino. Toyota mempunyai 12 pabrik di Jepang dan 53 pabrik di 27 negara. Karyawannya mencapai 265.800 orang dan penjualannya mencakup 170 negara. Penjualan Toyota, termasuk bisnis keuangan mencapai 18,55 triliun yen pada akhir Maret 2005.           Bill Gates dan Keichiro Toyoda mengembangkan pekerjaan yang dicintainya menjadi perusahaan legenda dunia. Kita membutuhkan pekerjaan yang kita senangi yang dapat membangkitkan semangat kita, menantang  kita dan membawa kita ke tempat yang kita impikan. Mereka memandang bahwa berkerja adalah waktu bermain. Bekerja merupakan tempat untuk mengembangkan diri, mempelajari hal-hal baru, menjelajahi cara-cara baru dan mempraktekkanya dalam perilaku baru. Bahkan pekerjaan merupakan tempat pengabdian kepada Tuhan. Bila mereka gagal, mereka selalu mencoba lagi dengan gigih, melakukan koreksi kemudian memperbaiki kesalahan tersebut, dan melihat setiap kegagalan selalu ada sisi positifnya sehingga akhirnya berhasil. Karena di benak mereka tidak ada kata gagal, yang ada hanya kata ?hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka inginkan?. Itulah yang dilakukan orang sukses. ?Rahasia sukses adalah menjadikan pekerjaan Anda sebagai liburan Anda? kata Mark Twain. Tetapi jika memandang pekerjaan itu sebagai suatu keharusan dan dikerjakan seadanya, hanya bertujuan untuk mencari uang maka kemungkinan besar Anda akan memperoleh tidak lebih daripada itu. Dengan memandang pekerjaan itu sebagai tempat bermain, tempat belajar dan tempat mengabdi kepada Tuhan, Insya Allah pekerjaan itu akan menjadi sangat indah dan memotivasi kita untuk menjadi lebih baik..
KONTRIBUSI MENCIPTA MASYARAKAT INFORMASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.893 KB)

Abstract

Dalam rangka meningkatkan peranan pers dalam pembangunan perlu ditingkatkan usaha pengembangan pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab, yaitu pers yang dapat menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang obyektif melakukan kontrol sosial yang konstruktif, menyalurkan aspirasi rakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat. Dalam hal ini maka perlu dikembangkan interaksi positif antara pers, pemerintah dan masyarakat.                                (GBHN Tahun 1978)       MARK TWIN pernah mengatakan bahwa didunia ini hanya ada atau terdapat dua macam penerangan saja, masing-masing adalah matahari  di langit dan pers di bumi.  Dan Matahari lebih menunjuk pada "sumber penerangan" fisik, sedangkan pers lebih menunjuk pada "sumber penerangan" non-fisik.       Sinar matahari telah menerangi seluruh pelosok dunia, dan potensinya telah digunakan untuk berbagai ke-pentingan. Demikian pula dengan pers maka berita-berita atau informasi-informasi yang disajikan juga telah mene-rangi dunia, dan potensinya juga telah digunakan untuk berbagai kepentingan.       Itulah sebabnya maka setiap negara selalu berusa-ha untuk "menguasai" pers. Menguasai di sini tidak selalu berarti memiliki,akan tetapi bagaimana memanfaatkan jasapers untuk kepentingan pembangunan negara yang bersangkutan, dan menjadikan pers sebagai media interaksi antara pemerintah dengan masyarakat. Tak terkecuali untuk negara kita sendiri, Indonesia!
SALING-SILANG PENGATURAN GELAR AKADEMIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.346 KB)

Abstract

       Masalah pengaturan pemakaian gelar akademik yang sebenarnya telah diisyaratkan oleh Undang-Undang (UU) RI Nomer 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional sekarang ini benar-benar tengah menjadi topik pembicaraan yang aktual. Keaktualan ini mulai nampak nyata bersamaan dengan dikeluarkannya SK Mendikbud Nomer 036/U/1993 yang meluncur di awal tahun ini.          Bahwa SK tersebut telah menimbulkan saling-silang kiranya memang benar; bahkan Mendikbud Fuad Hassan sem-pat "jengkel" terhadap orang-orang atau pihak-pihak yang merasa kecewa atas diberlakukannya SK tersebut. Menurut-nya,maksud diberlakukannya SK tersebut antara lain untuk mengakhiri kebiasaan-kebiasaan yang keliru pada masyara-kat kita dalam hal pemakaian gelar akademik selama ini, namun demikian  ada saja anggota masyarakat yang tak mau mengerti. Hal inilah yang tidak dapat dimengerti.         Untuk meyakinkan ketidakmengertiannya tersebut Pak Fuad sempat memberi ilustrasi.Istilah doktorandus (Drs.) itu sesungguhnya bukan gelar,  akan tetapi oleh sebagian sarjana kita dipasang menjadi gelar akademik.  Kasus ini merupakan contoh dari kebiasaan keliru yang selama ini sering tidak disadari.
INDONESIA IKUT MEMBIDANI LAHIRNYA "PAPE" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.209 KB)

Abstract

       Hari Kamis s/d Sabtu 8 s/d 10 November 1979 lebih dari delapan belas tahun  yang lalu bertempat di Tokyo Jepang telah berkumpul 36 pakar dan praktisi pendidikan dari lima negara di Kawasan Pasifik; yaitu Amerika Serikat (AS), Indonesia, Jepang, Taiwan dan Thailand.  Ke-36 pakar tersebut sedang asik membahas posisi dan perkembangan pendidikan swasta pada era 80-an  dalam suatu seminar internasional yang mengambil tema "Private Schools in 1980's".        Dari komunikasi antar pakar dan praktisi tersebut terbetik adanya kesamaan pendapat tentang pentingnya persamaan persepsi di antara masyarakat Pasifik dalam mengantisipasi perkembangan pendidikan, khususnya pendidikan swasta,  yang makin hari dirasa tidak semakin ringan akan tetapi justru semakin kompleks.        Sejak  hari pertama pertemuan,  para pakar dan praktisi  tersebut memandang perlu dibentuknya organisasi yang menghimpun aspirasi masyarakat Pasifik dalam hal pengembangan pendidikan pada umum-nya dan pendidikan swasta pada khususnya. Dan setelah melalui tahap pembahasan akhirnya mereka memutuskan untuk membentuk organisasi sebagaimana yang dimaksudkan.       Nah ...,  pada saat itulah kemudian lahir "bayi mungil"  yang  di-beri nama Kan-Taiheiyo Shigaku Kyoiku Rengokai (bahasa Jepang), atau dalam bahasa Inggris 'The Conference of Pan-Pacific Private Education', yang kemudian dikenal dengan nama 'Pan-Pacific Asso-ciation of Private Education' (PAPE).  Sebagai catatan, pergantian nama yang lama menjadi PAPE terjadi satu tahun kemudian ketika di-selenggarakan kongres di Taipei, Taiwan.  Dari perjalanan historis ini jelaslah bahwa Indonesia termasuk satu dari lima negara yang membidani lahirnya PAPE.
KI HADJAR DEWANTARA DAN KONSEPNYA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.998 KB)

Abstract

Adalah Ki Hadjar Dewantara yang bernama kecil Raden Mas (RM) Soewardi Soerjaningrat. Bagi bangsa Indonesia, khususnya yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan kiranya sangat mengenal nama agung dan monumental ini. Ia bukan saja seorang pendidik dan tokoh pendidikan akan tetapi juga seorang Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Oleh karena jasanya yang demikian besar dalam mengembangkan sistem pendidikan nasional maka wajar saja kalau hari kelahirannya ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.          Ki Hadjar bukanlah seorang nabi, bukan pula seorang rasul, atau sebangsanya. Ia hanyalah manusia biasa sebagaimana manusia lain pada umumnya; namun di balik kebiasaannya itu telah lahir konsep-konsep pendidikan yang tetap relevan sampai sekarang.          Apabila kita cermati konsep pendidikannya pun sangat komplit; bukan saja terbatas pada pendidikan formal atau persekolahan, melainkan juga pendidikan informal atau pendidikan keluarga serta pendidikan non-formal atau pendidikan kemasyarakatan; ketiga lingkup pendidikan yang sampai sekarang tetap berjalan sesuai kaidahnya.

Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SURYA POS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue