cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
TENTANG PENERTIBAN DOSEN MENGAJAR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.387 KB)

Abstract

       Semenjak kalender akademik tahun 1988 dibuka, maka lembaga pendidikan tinggi di negara kita nampaknya telah dan akan mendapatkan "sentuhan" yang lebih memadahi; dan kiranya ini adalah merupakan angin yang sangat menyejukkan bagi kalangan akademisi pada khususnya serta masyarakat pada khususnya.       Dimulai dari wawancara "ekslusif" TVRI yang menampilkan Menteri Pendidikan kita, Prof. Dr. Fuad Hassan, bersama Menteri Luar Negeri, Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja pada awal Januari 1988 yang lalu.  Dalam acara ini Mendikbud mengkomunikasikan bahwa pendekatan pendidikan yang ditempuh oleh Depdikbud untuk pendidikan tinggi ialah 'pendekatan kualitatif.
AIDS ANGGOTA BARU PENYAKIT SEKSUAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.95 KB)

Abstract

       AIDS, Acquired Immune Deficiency Syndrome, adalah jenis penyakit yang sedemikian populer di seluruh dunia pada akhir-akhir ini; meskipun sebenarnya AIDS merupakan jenis penyakit yang relatif baru. Secara medik penyakit yang relatif "ganas" ini baru ditemukan pada awal tahun 80-an yang lalu; meskipun ada pula yang melaporkan sejak tahun 1979 AIDS sudah berhasil diidentifikasi.          Penyakit yang sulit "dikendalikan" tersebut mena-rik perhatian dunia,  bukan saja terbatas pada kalangan medik namun juga kalangan masyarakat umum. Penyakit ini, sebagaimana dengan berbagai penyakit lain, tidak pandang bulu dalam memilih sasaran; politisi, ilmuwan, penyanyi, olahragawan, wanita tuna susila (WTS), dan juga masyara-kat umum. Bahkan, para dokter pun tak luput dari incaran AIDS. Kalau penyanyi terkenal Freddy "Queen" Mercury ha-rus merelakan nyawanya, kalau olahragawan AS berprestasi Earvin Magic Johnson harus "bersiap-siap", dan kalau dua WTS di Gang Dolly harus kehilangan langganan,  itu semua merupakan contoh konkrit dari hasil kiprahnya AIDS.          Dalam era globalisasi sekarang ini penyebaran dan perkembangan informasi memang berjalan dengan cepat, be-gitu halnya dengan AIDS.  Penyakit ini telah menyebar di seluruh dunia; tak terkecuali Indonesia dan negara-nega-ra ASEAN lainnya.  Itulah sebabnya; ketika para menteri-menteri kesehatan se ASEAN bertemu di Jakarta awal bulan ini mereka sepakat untuk menjadikan AIDS sebagai masalah regional yang harus mendapatkan prioritas.
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (21) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.798 KB)

Abstract

Akhirnya terbukti, setelah tes masuk Perguruan Tinggi Negeri, siswa yang bisa masuk mendekati angka 90 %. Luar biasa, karena siswanya memang sudah pandai-pandai, berasal dari SMA Favorit. Setelah itu kita mengucapkan ?SELAMAT? kepada siswa kita yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dengan  diumumkan di Harian Kedaulatan Rakyat satu halaman penuh. Setelah itu seakan-akan Bimbingan Tes yang kecil tersebut seperti ?meledak?, siswanya tahun-tahun berikutnya luar biasa banyak. Strategi mengkomunikasikan di Harian Kedaulatan Rakyat tersebut, yang sekarang baru tahu disebut sebagai Strategi Positioning, yaitu strategi menempatkan produk mempunyai posisi yang baik di benak konsumen. Konsep Positioning sebagai dasar dari strategi pemasaran dikemukakan oleh Jack Trout dan All Ries pada awal tahun 1970-an dan menjadi dasar yang populer dari pengembangan strategi kreatif. Gagasan umum dari positioning adalah menempatkan sebuah produk untuk mendapatkan posisi yang baik dalam benak konsumen. Merek yang telah memiliki posisi mapan dalam benak akan menjadi faktor pengaruh yang kuat pada saat konsumen memerlukan solusi. Biasanya berorientasi pada market leader. Keunggulan bersaing perusahaan, sesungguhnya adalah keunggulan komunikasi. Sehingga masalah dalam bersaing adalah masalah dalam berkomunikasi. Strategi Positioning sesungguhnya adalah strategi komunikasi. Periklanan merupakan bentuk komunikasi yang, dari sudut pandang penerima, dibangun dalam penghargaan yang rendah. Jika Anda berhasil dalam dalam periklanan, kemungkinan Anda akan berhasil  dalam bidang bisnis, agama, politik atau aktivitas lainyang membutuhkan komunikasi massa. Positioning merupakan konsep yang mengubah keaslian iklan, konsep yang sederhana yang membuat orang menghadapi kesulitan dalam memahami kekuatannya. Positioning dimulai dengan sebuah produk, barang, jasa, perusahaan, atau orang. Tetapi positioning bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap produk. Positioning adalah sesuatu yang Anda lakukan terhadap pikiran calon konsumen, yaitu menempatkan produk itu pada pikiran calon konsumen. Maka merupakan kesalahan jika menyebut konsep ini sebagai ?positioning produk?. Seperti halnya Anda melakukan sesuatu hal terhadap fisik produk itu. Juga salah jika positioning tidak melibatkan perubahan. Tetapi perubahan tersebut adalah perubahan terhadap nama, harga dan kemasan bukan terhadap produk secara keseluruhan. Pada dasarnya ada perubahan penampilan yang akan dilakukan dengan tujuan menjamin sustu posisi yang lebih berharga dalam pikiran calon konsumen. Positioning juga merupakah tubuh pemikiran yang pertama yang dirancang untuk memegang permasalahan dalam mendengarkan masyarakat kita yang kebanjiran informasi. Satu-satunya pertahanan yang dimiliki seseorang dalam masyarakat adalah pemikiran yang sangat sederhana. Maka pendekatan terbaik yang akan diambil sesorang dalam masysrakat adalah pesan yang sederhana.  Dalam komunikasi, seperti halnya dalam arsitektur, lebih sedikit lebih baik. Anda harus mempertajam pesan agar masuk di pikiran konsumen. Bahkan Jack Trout dan Al Ries mengatakan bahwa positioning bukan yang dikerjakan terhadap produk, tetapi yang dikerjakan terhadap benak konsumen. Primagama menggunakan kata ?Terdepan Dalam Prestasi? sebagai positioning.  
MENGGANTI DOLAR DENGAN DINAR Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perdagangan merupakan dasar perekonomian di Arabia sebelum Islam datang. Prasyarat untuk melakukan transaksi adalah adanya alat pembayaran yang dapat dipercaya. Arabia dan wilayah-wilayah tetangganya berada langsung dibawah kekuasaan Persia dan Roma. Satuan uang yang dipergunakan negara-negara  itu adalah dirham dan dinar. Dalam transaksi bisnis di Arabia kedua jenis uang ini juga diterima. Dengan kian kuatnya politik kedua negara tersebut, alat pembayarannya pun makin dipercaya di wilayah yang berada di bawah pengaruh kekuasaannya. Karena faktor itulah, bangsa Persia dan bangsa Romawi menjadi satu-satunya mitra dagang orang-orang Arab (Sadr, 1989). Koin dirham dan dinar mempunyai berat yang tetap dan memiliki kandungan perak atau emas yang tetap. Akan tetapi, pada masa dinasti Umayyah dan dinasti Abbassiyah beratnya berubah, demikian juga di Persia sendiri. Pada masa sesudah Islam, kandungan perak koin-koin dirham berbeda antara wilayah yang satu dengan yang lainnya, namun pada periode awal Islam sudah tetap. Pada saat ini jumlah zakat emas dan perak seperti yang disebutkan dalam kitab suci didasarkan pada beratnya koin dirham dan dinar yang ditetapkan pada masa periode awal Islam (Kattani, 1975:413). Nilai satu dinar sama dengan sepuluh dirham (Sadr, 1989). Tetapi pada masa Dinasti Fathimiyah yaitu pada masa Al-Hakim bin Amrillah harga dinar sama dengan 34 dirham karena banyak dirham-dirham campuran (Al Maqrizy, 1988:70-80). Pada masa Dinasi Ottoman, sistem keuangan resmi Utsmaniah sejak 1534 di dasarkan pada barang tambang emas dan perak dengan perbandingan 1:15 (Imarah, 1993:101). Selain dinar dan dirham, terdapat pula uang untuk memenuhi kebutuhan barang-barang jualan yang sedikit lebih murah dari harga satu dirham atau merupakan bagian dari dirham, karena sejak dulu hingga sekarang orang-orang membutuhkan alat tukar selain emas dan perak. Untuk memenuhi kebutuhan pembelian barang murah ini, mereka mencetak sedikit dari tembaga dalam proses potongan kecil yang diberi nama fulus (uang tembaga) (Al Maqrizy, 1988:90). Nilai fulus dibanding dirham pada periode awal Islam adalah 1 : 48 (Al Hallaq, 1986:17). Nilainya tidak tetap uang tembaga mengalami kenaikan terhadap dirham pada tahun 756 H dengan rasio 1 : 24 (Al-Sayuthi, 1975:104). Dinar dan dirham merupakan mata uang dunia yang stabil dari awal Islam sampai saat ini. Inflasi setelah 1400 tahun adalah nol. Harga ayam pada masa Rasulullah s.a.w. adalah 1 dirham dan sekarang (2006) masih sekitar 1 dirham (Vadillo, 1998). Dinar merupakan mata uang ideal untuk memfasilitasi dan meningkatkan perdagangan internasional dan meminimalisasi spekulasi dalam uang kertas yang dapat memicu krisis mata uang Asia 1997. Keberadaan suatu kesatuan dana antara negara-negara dunia Muslim  akan meningkatkan kuantitas perdagangan antara negara-negara Muslim tersebut dan membantu meningkatkan pengembangan ekonomi jika kondisi penyediaan uang dinar tesebut berhasil (Beshir, 2003). Ide mata uang dinar emas membantu meminimalisasi hagemoni mata uang dolar Amerika Serikat dan menggunakan dinar sekali lagi sebagai sebuah mata uang internasional karena nilai mata uang kertas terus berfluktuasi tidak seperti stabilnya mata uang emas yang mempunyai nilai tahan lama, nilainya merupakan nilai logam itu sendiri. Sistem dibangun pada ide bahwa pemerintah yang Islam menjaga emas tersebut pada Bank Sentral dan menggunakannya dalam kerangka transaksi komersial daripada bergantung pada pasar keuangan asing dan perusahaan keuangan asing (Hanafi, 2003). Peluang untuk menggunakan mata uang dinar itu cukup besar, karena jumlah penduduk anggota dari Islamic Development Bank (IDB) mencapai 1,1 milyar atau  19,2 % dari penduduk dunia. Maka sudah saatnya kita menghganti dolar dengan dinar.
BILA PROGRAM PGSD GAGAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.061 KB)

Abstract

       Sudah dapat dipastikan bahwa mulai tahun 1990 ini Depdikbud menyelenggarakan program peningkatan kualitas guru-guru sekolah dasar yang lazim disebut dengan PGSD, Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Penyelenggaraan program ini ditempuh melalui dua jalur; masing-masing adalah jalur konvensional dan jalur nonkonvensional.       Jalur yang pertama, konvensional,  dengan  sasaran seba-nyak 6.460 mahasiswa diselenggarakan pada 18 perguruan tinggi negeri, PTN, dan perguruan tinggi swasta, PTS, yang ditunjuk.  Adapun rincian dari 18 perguruan tinggi ini adalah 10 IKIP Negeri, 2 FKIP Negeri, 3 IKIP Swasta, dan 3 FKIP Swasta. Jenis mahasiswanya adalah mereka yang belum bekerja,  dalam arti tidak atau belum menjadi guru SD. Jalur ini dikenal dengan 'jalur prajabatan'.       Sementara itu jalur yang kedua, nonkonvensional, dengan sasaran sekitar 20.000 mahasiswa diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) yang dalam hal ini adalah Universitas terbuka (UT). Jenis mahasiswanya adalah mereka yang sudah/sedang bekerja menjadi guru SD,  dalam arti belajar sambil bekerja atau bekerja sambil belajar.  Jalur ini dikenal dengan 'jalur penyetaraan'.
PELAKSANAAN CBSA CENDERUNG GAGAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.389 KB)

Abstract

       Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI  Wardiman Djojonegoro baru-baru ini, tepatnya tanggal 21 Juni 1995 yang lalu,  membuka satu simposium nasional tentang Sistem Pembinaan Profesional (SPP) dan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).  Di dalam sambutan pembukaannya yang dilakukan di ruang sidang Depdikbud tersebut beliau menyatakan kalau memang CBSA terbukti kurang efektif bisa saja segera dihentikan pelaksanaannya.          Menyimak sambutan beliau dari kalimat per kalimat nampaknya selaku menteri pendidikan Pak Wardiman pernah mendengar masukan dan kritik mengenai pelaksanaan CBSA di lapangan; di samping, tentu saja, laporan langsung tentang pelaksanaan CBSA dari staf Depdikbud yang diberi tugas untuk itu.          Lepas dari berbagai komentar positif yang ada,  selama ini kritik terhadap pelaksanaan CBSA memang cukup gencar;  ada yang menyatakan CBSA hanya baik di teori, CBSA baik di laporan, sesungguhnya tidak ada sekolah yang dapat menerapkan pendekatan CBSA secara optimal, sampai ada yang menyatakan CBSA sebenarnya tidak cocok bagi masyarakat kita yang paternalistik.
KENDALA SISTEM MAGANG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.608 KB)

Abstract

       Keinginan pemerintah kita untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan dunia industri sebenarnya sudah muncul sejak lama,  akan tetapi untuk merealisasi keinginan ini ternyata tidak gampang.  Berbagai kebijakan untuk merea-lisasi kebijakan ini telah diaplikasi, meskipun hasilnya belum optimal; katakanlah misalnya saja dengan kebijakan Pengembangan Sekolah Seutuhnya  (School Integrated Deve-lopment), Institusi Pasangan, Link and Match, serta SLTP Keterampilan.  Apabila baru-baru ini Mendikbud Wardiman Djojonegoro menyatakan bahwa mulai tahun depan Depdikbud akan mengaplikasi sistem magang di  Sekolah Menengah Ke-juruan (SMK), maka hal itu sesungguhnya merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk lebih mendekatkan lagi dunia pendidikan dengan dunia industri.          Seperti diketahui baru-baru ini Pak Wardiman me-nyatakan bahwa sistem magang akan dimulai tahun 1994 dan penerapan sistem magang ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.  Sistem magang nantinya bukan saja hanya bermanfaat bagi lembaga pendidikan akan tetapi juga sangat bermanfaat pula bagi dunia industri; oleh karena itu  sudah tiba waktunya secara bersama-sama dunia pendidikan dan dunia industri mengkampanyekan sis-tem magang tersebut.          Sistem magang itu sendiri memiliki berbagai isti-lah di berbagai negara yang mengaplikasikannya; misalnya di Australia disebut dengan 'industry apprentice' atau 'apprentship system',di Jerman sistem ini disebut dengan 'dual system', dan di negara-negara lain ada yang menye-but dengan istilah yang lain lagi.
PILIHAN PASCA UMPTN : UT DAN PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.767 KB)

Abstract

       Seleksi tertulis Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) yang dilaksanakan pada tanggal 18 dan 19 Juni 1996 hasilnya telah di-umumkan tanggal 27 Juli 1996 yang lalu. Dari keseluruhan peserta UMPTN yang jumlahnya mencapai 375.452 orang ternyata hanya 63.753 peserta, atau 17 persen, yang dinyatakan berhasil. Selebihnya, 311.699 peserta, atau 83 persen, dinyatakan gagal.  Bagi mereka yang berhasil menembus dinding PTN memang tidak banyak mengundang problem; akan tetapi bagaimana dengan nasib mereka yang gagal yang jumlahnya jauh lebih banyak?       Sebagian dari mereka yang gagal memang ada yang sudah  mem-buat antisipasi semenjak dini; misalnya dengan "memburu" perguruan tinggi alternatif, baik perguruan tinggi di dalam negeri maupun pergu-ruan tinggi di luar negeri.  Dan .....,  ketika tahu atas kegagalannya di UMPTN maka mereka pun di samping sudah siap juga sudah mengadakan langkah-langkah yang perlu.       Di samping sudah membuat antisipasi maka sebagian dari mereka yang gagal juga banyak yang tidak menyiapkan diri untuk menerima kegagalannya tersebut.  Ada yang sangat yakin akan berhasil menembus UMPTN sehingga tidak menyiapkan langkah-langkah lain apabila gagal, dan ada pula yang berpola aktivitas "linear"; mereka baru akan melangkah ke tahapan berikutnya apabila sudah tahu dengan pasti atas hasil dari aktivitas sebelumnya.  Akibatnya mereka baru melangkah ketika tahu dan yakin dirinya benar-benar telah gagal dalam upayanya menembus tebalnya dinding PTN.       Sampai saat ini pun kiranya masih banyak peserta gagal UMPTN yang masih "bengong"" tidak taahu apa yang harus dikerjakan, meski hasrat untuk melanjutkan studi masih membara.  Hal ini dapat terjadi karena terbaatasnya informasi pada para kandidat mahasiswa tentang dunia perguruan tinggi kita.
MENGGALI POTENSI WANITA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.755 KB)

Abstract

       Konon menurut ceriteranya wanita itu makhluk yang lemah lembut;  lemah karena tidak perkasa,  serta lembut karena tidak garang.  Hal ini ternyata ada "tetapi"-nya; yaitu  kalau sampai wanita tersebut kehilangan kelemahan dan kelembutannya maka akan menjadi wanita yang perkasa dan "garang";  bahkan keperkasaan serta "kegarangan"-nya akan melebihi kaum pria.       Tentunya  kita boleh setuju dan boleh pula tidak, pembenaran dari hipotesis tersebut pun masih memerlukan bukti-bukti teoretik dan empirik yang cukup; akan tetapi pendapat kedua pakar dari University of Columbia  yang juga diangkat sebagai staf pada  'Columbia Presbyterian Medical Center' yang berkedudukan di New York AS berikut ini kiranya sedikit banyak memberi "dukungan" terhadap hipotesis di atas.       Landrum B. and Shettles MD di dalam bukunya "Your Baby's Sex: Now You Can Choose" mengintrodusir sbb: dari hasil penelitian tentang daya tahan terhadap berbagai penyakit, tekanan hidup,  kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkung-annya,  umur,  dan sebagainya, telah lama diketahui oleh para ahli bahwa kaum laki-laki justru lebih lemah dibandingkan dengan kaum wanita. Memang laki-laki  mempunyai otot yang lebih kekar,  tetapi daya tahan untuk tetap hidup justru lebih lemah kalau diban- dingkan dengan wanita.         Tentu kita boleh percaya atau boleh tidak percaya terhadap kesimpulan tersebut di atas;  akan tetapi bahwa kaum wanita pun mempunyai potensi serta daya juang yang cukup hebat,  dan tidak kalah dengan apa yang dimiliki oleh kaum pria,  kiranya memang tidak perlu didiskusikan lagi.
BELAJAR DARI KEGAGALAN ABRAHAM LINCOLN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abraham Lincoln dilahirkan dari keluarga petani di pedalaman Kentucky pada 1809. Ketika berusia 5 tahun membantu ayahnya menebarkan biji semangka di sawahnya. Tidak lama kemudian biji semangka tersebut dibawa air, ia menangis. ?Janganlah menangis Nak, kita kerjakan lagi. Jangan perdulikan kesulitan apapun, kita tidak boleh menyerah. Kita harus mencoba hingga berhasil, inilah jiwa yang harus dimiliki seorang pionir? kata ayahnya.  Abraham Lincoln tumbuh di lingkungan yang sulit, terpaksa harus berhenti dari sekolah ketika baru menguasai 26 huruf dan 10 angka. ?Selamat tinggal Pak Guru!. Saya sebenarnya masih ingin belajar lebih banyak? katanya kepada gurunya. Ia harus mengikuti orangtuanya pindah rumah. ?Tanah ini bukan bukan milik kita lagi, kita terpaksa harus pindah? kata ayahnya. Ketika usianya 9 tahun, ibunya sakit keras terserang penyakit susu. Ibunya berpesan ?Sarah, kau harus menjaga adikmu dan kau Abra, Ibu tidak bisa lagi membacakan kitab suci buatmu! Jadilah Satria?. Sesaat kemudian ?Ibu-ibu.........? pekik tangis Abraham sambil memeluk ibunya yang telah meninggalkannya selamanya. Kini Sarah dan Abraham dibesarkan tanpa ibu. Kesepian menyelimuti keduanya. Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pergi. Mereka berdua tinggal di rumah, tidak tahu ayahnya akan kemana dan kapan kembali. Kehidupan yang sulit harus dihadapi Sarah dan Abraham. Tiga minggu kemudian, ayahnya tiba membawa ibu baru dan saudara baru dan mulailah kesepian itu berubah menjadi keceriaan. Semangat hidup timbul kembali dan akhirnya melanjutkan sekolah. Pulang sekolah ia membantu keluarganya. Tetangganyapun terkesima melihat kerja keras Abraham. Akhirnya meminta untuk membantu dengan diberi sedikit imbalan. Setelah Abraham mengenal tulisan, kemana-mana ia membawa buku. Buku yang ia idam-idamkan adalah riwayat George Washington, Presiden Amerika yang pertama. Pada usia 17 tahun, kakak yang paling dicintainya, Sarah meninggal dunia. Duka tak pernah lepas dari Abraham Lincoln. Untuk membantu kebutuhan keluarga Abra bekerja apa saja. Pada awalnya Abraham Lincoln bekerja sebagai pemotong rel kereta api, pengemudi kapal laut, penjaga toko, pengantar pos dan juru ukur sebelum menjadi pengacara. Abraham Lincoln merupakan peminpin yang belajar dari kegagalan. Kegagalan pertama dimulai ketika ia berbisnis pada 1931. Kalah di Badan Legislatif pada 1832. Pada 1833, mengalami kegagalan kembali dalam bisnisnya dan mengalami patah semangat pada 1836. Abraham Lincoln gagal menduduki dewan pemilih pada 1840 dan gagal menjadi anggota Konggres pada 1846 serta gagal menjadi anggota Dewan Senat 1855. Pada 1856, Lincoln gagal menjadi Presiden dan gagal menjadi Dewan senat pada 1858. Akhirnya dilantik menjadi Presiden Amerika ke-16 dan salah seorang Presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.  

Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue