cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
BENARKAH MATEMATIKA HANYA MILIK ANAK SEKOLAH DI KOTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.026 KB)

Abstract

       Baru-baru ini di Yogyakarta telah digelar lomba Matematika bagi siswa SD, SLTP dan SMU di Jawa Tengah dan DIY. Lomba yang antara lain disponsori oleh SKH Kedaulatan Rakyat ini ternyata cukup menarik minat masyarakat;buktinya sebanyak 450 siswa dari berbagai sekolah ikut aktif sebagai peserta.  Mereka ada yang datang dari jauh; Semarang, Demak, Pati, Sokahardjo, Magelang, dan sebagainya.       Kedatangan para peserta yang dari jauh tersebut merupakan suatu fenomena yang positif;  di tengah-tengah banyaknya para siswa yang merasa "ketakutan" terhadap bidang studi Matematika ternyata masih banyak pula yang mempunyai hobby "ilmu dasar" tersebut. Memang harus kita akui bahwa sampai saat ini masih banyak anak didik yang menganggap Matematika sebagai momok sehingga sedapat mungkin mereka akan menghindarkan diri untuk berakrab-akrab dengan bidang studi tersebut.       Lebih daripada itu  ada pula siswa di sekolah  yang menaruh rasa tidak senang terhadap Matematika sejak sebelum mereka dikenalkan dengan ilmu dan rumus-rumusnya. Keadaan ini juga dialami oleh para siswa di beberapa negara; katakanlah di Singapura, Malaysia, Brunai, Thailand, dan sebagainya.  Pemerintah Singapura sampai membangun Singapore Science Centre (SSC) yang salah satu ruangan besarnya diisi koleksi benda-benda matematis.Para siswa "digiring" ke ruangan ini agar mereka mendapatkan gambaran konkrit dari dunia ilmu pasti ini; dengan demikian mereka diharapkan tidak takut terhadap Matematika, bahkan kalau mungkin dapat menyenanginya.       Visualisasi matematis sebagaimana yang dilakukan oleh pemerin-tah Singapura tersebut memang cukup membantu.  Banyak anak-anak SD dan SLTP yang setelah melihat dan mengamati benda-benda mate-matis menjadi tertarik pada Matematika;  dan kemudian mereka pun menjadi bersemangat untuk mempelajarinya.
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (4) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.18 KB)

Abstract

Belum mampu secara penuh dalam mengatasi kesulitan ketika itu, AMIKOM Yogyakarta harus menghadapi lingkungan yang disebut krisis pada 1998. Pengalam saya bersama-sama kawan dalam menghadapi krisis, barangkali meskipun sedikit dapat kita pakai sebagai pelajaran. Pelajaran yang sederhana tersebut mudah-mudahan dapat menambah wawasan dalam menjadikan kita seorang entrepreneur yang sukses. Seorang pemasar dari salah satu Biro Iklan di Yogyakarta mendatangi saya, sambil mengeluh “Kami sekarang kesulitan Pak Yanto untuk dapat iklan dari Perguruan Tinggi”. “Mengapa kesulitan?” saya menanyakan. “Banyak jawaban dari bagian Humasnya kalau iklan atau tidak sama saja. Situasi krisis mahasiswa yang datang ke Yogyakarta sedikit. Begitu kata mereka Pak Yanto” kata pemasar dari Biro Iklan tersebut. “Oh begitu” saya menyahut. “Kalau Pak Yanto pendapatnya bagaimana dalam situasi krisis seperti ini?” dia bertanya kepada saya. Saya mencoba menjawab dengan menggunakan sikap mental positif “Saya mengumpulkan staf-staf saya, kemudian saya jelaskan kepada mereka bahwa jumlah calon mahasiswa itu seperti segitiga, yang dapat kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian atas adalah segitiga kecil adalah calon mahasiswa dari kelas atas, bagian tengah adalah trapesium merupakan kelompok calon mahasiswa  dari kelas menengah dan bagian terbawah trapesium lebih besar yang merupakan calon mahasiswa kelas bawah” saya menjelaskan sambil menggambar di papan tulis ruangan saya. “Apa hubungannya dengan krisis Pak?” dia melanjutkan pertanyaan. Kemudian saya menjelaskan “Kalau krisis, kelas atas sebagian turun menjadi kelas menengah, kelas menengah sebagian turun menjadi kelas bawah, sehingga calon mahasiswa untuk kelas menengah dan kelas bawah menjadi lebih besar”. “Maksudnya bagaimana Pak?” dia melanjutkan pertanyaan. “Karena yang dibidik AMIKOM kelas menengah dan kelas bawah, maka AMIKOM justru akan tambah jumlah mahasiswanya. Itulah yang saya jelaskan kepada staf-staf saya untuk tetap bersemangat mencari calon mahasiswa, karena peluangnya menjadi lebih baik dibandingkan tidak terjadi krisis. Sambil kita kita iringi dengan doa” jawab saya dengan menggunakan sikap mental positif. “Kalau begitu Pak Yanto akan pasang iklan?” dia berharap. “Iya. Saya akan pasang iklan” jawab saya. “Terima kasih Pak Yanto. Akhirnya ada juga yang pasang iklan. Selama ini saya pusing untuk mencari iklan” Keluh dari pemasar tersebut. Pemasar dari salah satu Biro Iklan itu akhirnya membuatkan order iklan yang akan saya pasang, sambil merasa bahagia, karena akhirnya ada yang pasang. Setelah selesai, kemudian order itu saya tanda tangani dan kemudian satu lembar diserahkan saya dan yang satu dibawa pemasar tersebut. Setelah itu, ia berpamitan untuk pulang. Saya antar sampai pintu masuk AMIKOM yang terdepan dan saya tunggu sampai ia mengendarai sepeda motornya. Di depan gedung AMIKOM tersebut, ia melambaikan tangannya dan saya balas dengan lambaian tangan. Ia menuju ke jalan dan sekejap kemudian ia telah meninggalkan gedung AMIKOM tersebut.  Setelah akhir dari penerimaan mahasiswa baru, mahasiswa yang melakukan registrasi di AMIKOM Yogyakarta 779 mahasiswa, yang tahun sebelumnya yang melakukan registrasi 639 mahasiswa atau meningkat lebih dari 20 %. Saya menganggap peningkatan ini cukup luar biasa, tidak saya perkirakan, karena Pergurun Tinggi lain, banyak yang mengalami penurunan. Sikap mental positif dan doa telah terbukti mampu untuk membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan menjadikan ancaman itu menjadi peluang.
KI HADJAR DEWANTARA DAN KEJUANGANNYA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SINAR HARAPAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.643 KB)

Abstract

“Karangan-karangan beliau (Ki Hadjar Dewantara) adalah sangat luas serta mendalam, yang tidak saja membangkitkan semangat perjuangan nasional sewaktu jaman penjajahan, tetapi juga meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi pendidikan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan generasi mendatang” (Presiden RI, Soekarno, 1962).          Setiap memperingati Hari Pendidikan Nasional maka nama Ki Hadjar Dewantara selalu melekat didalamnya. Memang demikianlah keadaannya!  Penetapan tanggal 2 Mei oleh pemerintah RI sebagai Hari Pendidikan Nasional memang dimaksudkan agar kita senantiasa dapat memahami dan menghormati jasa-jasa Ki Hadjar yang telah berhasil menanamkan konsep-konsep pendidikan bagi kemajuan bangsa.          Sebagaimana kita ketahui pemerintah kita melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomer:316/1959 tertanggal 16 Desember 1959 dengan tegas menetapkan tanggal atau hari lahir Ki Hadjar Dewantara, 2 Mei, sebagai Hari Pendidikan Nasional sebagaimana yang senantiasa kita peringati pada setiap tahunnya. 
KITA YANG KAYA GAGASAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.421 KB)

Abstract

Dunia pendidikan memang dunia yang mengasyikkan walaupun serba kompleks. Dunia yang penuh liku, penuh pertimbangan, penuh kebijaksanaan, penuh kontra pendapat, penuh humor dan bahkan terkadang penuh dengan .... sensasi!Betapa tidak, hampir semua orang terlibat didalamnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Kita tak bisa lepas dari sebuah definisi, pendidikan adalah upaya untuk menyesuaikan tingkah laku manusia agar senantiasa siap menghadapi hari esok. Dunia kita berjalan terus, terkadang pelan tapi pasti dan dilain saat cepat tak terkendali, sehingga manusia yang tidak siap tentu akan tertinggal oleh lajunya peradaban dunia.Manusia dalam hal ini selalu mendambakan sumbangsih pendi-dikan supaya hari esoknya manusia bukan hari merupakan hari kemarinnya dunia karena manusia tidak boleh dikuasai oleh alam ini.Akan tetapi pada kenyataannya untuk mewujudkan sebuah idealita seringkali harus menempuh jalan yang berliku ganda, hingga tidak mustahil bila realita dipelupuk mata nampak bersifat kontroversi dengan hakekat kebenaran yang kita dambakan.
MEREFORMASI BP3 DI SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.477 KB)

Abstract

       Pada momentum seperti sekarang ini ketika orang tua disibukkan dengan urusan mencari sekolah lanjutan bagi anaknya, khususnya di SLTP dan SMU/SMK, banyak di antara mereka yang menjadi "grogi" karena harus berhadapan dengan suatu organisasi yang paling populer di sekolah, yaitu Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan BP3.        Organisasi atau badan yang dalam banyak kasus sering memungut iuran pendidikan secara berlebihan untuk ukuran kemampuan ekonomi para orangtua siswa di sekolah-sekolah yang bersangkutan itulah yang membuat BP3 menjadi populer;  sudah barang tentu di dalam konotasi yang tidak (sepenuhnya) konstruktif.  Secara empirik memang banyak orang tua siswa yang mengeluh disebabkan tingginya iuran pendidikan yang ditetapkan oleh pengurus BP3. Akibatnya banyak orang tua yang harus menghadapi dilema;  membayar iuran berarti menambah beban, sedangkan tidak membayar khawatir kalau anaknya mendapat dampak akademik atas ketidakmembayarannya itu.       Pada banyak kasus BP3 sering dianggap sebagai badan legitimasi sekolah untuk menarik uang dari para orang tua siswa.  Oleh sebab itu tidaklah mengherankan bila kemudian muncul anggapan di sementara orang tua sbb: kalau dirinya berhubungan langsung dengan (pengurus) BP3 artinya dirinya sedang berhubungan dengan soal iuran pendidikan di sekolah.  Itulah sebabnya di kalangan orang tua yang tidak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup maka BP3 sering dianggap sebagai hantu yang menakutkan.       Sekarang ini  ketika pemerintah membebaskan siswa SMU negeri dari kewajiban membayar Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) maka banyak orang tua yang tidak hilang kekhawatirannya. Me-reka khawatir,  hilangnya SPP justru akan dikompensasi dengan iuran BP3 yang lebih melangit.
MEMBANGUN SIKAP MASA DEPAN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sikap biasanya digunakan dalam menggambarkan orang dan menjelaskan perilakunya. Sikap dapat didefinisikan sebagai kecenderungan terus-menerus untuk merasakan dan berperilaku dalam sebuah cara yang khusus terhadap suatu objek. Sedangkan Edwood Chapman mendefinisikan sikap sebagai cara untuk mengkomunikasikan atau mengekspresikan suasana hati atau watak kepada orang lain. Para manajer hendaknya tertarik pada sikap-sikap karyawan mereka karena sikap memberikan peringatan terhadap problem potensial dan karena sikap mempengaruhi perilaku. Karyawan yang terpuaskan dan komitmen, misalnya mempunyai tingkat keluar dan kemangkiran yang lebih rendah. Bila para manajer menginginkan agar permohonan berhenti dan absensi berkurang - terutama di antara karyawan mereka yang produktif - mereka akan menginginkan melakukan hal-hal yang akan membangkitkan sikap kerja yang positif, demikian tulis Stephen Robbins dalam Organizational Behavior. Sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu emosi, informasi dan perilaku. Komponen emosi merujuk pada kecerdasan emosi yang berpengaruh terhadap perilaku organisasi. Jenis-jenis emosi dalam dunia kerja terdiri dari marah, takut, senang, cinta, sedih dan terkejut. Kecerdasan rasional (IQ) hanya memberikan sumbangan 4% dari keberhasilan dunia nyata, menurut Sternberg dalam bukunya Succesfull Intelligence. Dengan demikian peran kecerdasan emosi ini semakin besar. Humor yang merupakan bagian dari rasa senang. ”Humor sejauh ini merupakan perilaku paling menonjol yang menunjukkan kecerdasan manusia” kata Edward deBono, seorang tokoh kreativitas organisasi. ”Kita menyukai organisasi yang tidak kuna, orang dengan selera humor ” jelas Herb Kelleher, CEO Southwest Airlines. Para staf Macromedia menggunakan humor dengan menyediakan tangga berputar yang memungkinkan karyawan meluncur dari lantai dua ke dapur perusahaan. Komponen informasi menyangkut kepercayaan dan informasi individu mengenai suatu objek. Kepercayaan merupakan kekuatan emosi yang dimulai dengan memiliki harga diri dan makna diri sehingga kita terpanggil untuk memancarkan kepada orang lain, seperti jari-jari sebuah lingkaran, yang akhirnya mengimbas kepada setiap orang dalam tim kita, di departemen kita, di devisi kita atau di seluruh perusahaan, tulis Cooper dan Sawaf dalam buku Executive EQ. ”Percaya pada diri sendiri dan siapapun di sekitar Anda sebegitu besar sehingga Anda memberikan 70% yang Anda miliki dan dalam proses menjadikan ribuan manajer dan karyawan Anda jutawan” kata Bill Gates. ”Jaringan kepercayaan itu sangat berharga” kata Minoru Makihara, Direktur Mitsubishi Corporation. Komponen perilaku terdiri dari kecenderungan orang untuk berperilaku dalam sebuah cara yang khusus terhadap suatu objek. Komponen perilaku terdiri dari motivasi, cara berpikir, cara bertindak dan cara berinteraksi. Teori motivasi Maslow yang lebih mengutamakan kebutuhan bertahan hidup, yaitu fisiologis, yang berakibat krisis makna yang amat dalam, ketiadaan keyakinan pada apa pun, standar moralitas yang rendah, egoisme yang kejam dan harga diri yang rendah yang merupakan konsekuensinya, ketiadaan tujuan dan nilai, rasa jemu yang menjadi ciri dari sebagian besar kehidupan pada abad 20 di dunia Barat yang maju adalah bukti kuat untuk membalikkan prioritas kapitalisme. Pada akhir hidupnya, Abraham Maslow sendiri merasa bahwa sesungguhnya piramida kebutuhannya terbalik, sehingga kebutuhan yang harus diutamakan adalah kebutuhan aktualisasi diri, yang menjunjung tinggi nilai, standar moral, keyakinan dan kebaikan serta bermanfaat bagi manusia lain. ”Sesungguhnya di dalam surga terdapat rumah-rumah bagi orang-orang yang berbuat baik, termasuk orang yang berbuat baik kepada keluarga dan pengikutnya” sabda Rasulullah Saw
SEKOLAH PUN BERKOLUSI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.59 KB)

Abstract

       Mendengar berita  tentang terjadinya kolusi  yang dilakukan oleh pihak sekolah (dengan penerbit) kesedihan saya mencapai tiga tingkat-an sekaligus.  Tingkatan pertama atas kesedihan tersebut menyangkut keterlibatan banyak sekolah yang dalam hal ini adalah kepala sekolah dan guru (bersifat oknum meskipun jumlahnya banyak) dalam kasus kolutif. Kepala sekolah yang nota bene juga guru serta guru itu sendiri yang oleh masyarakat telah dijadikan standar keteladanan ternyata bisa terseret oleh arus situasi yang tidak sehat.  Apabila sang teladan telah berkolusi dengan merugikan pihak lain, dalam hal ini siswa dan orang tua, lalu dimanakah letak keteladanannya tersebut.       Tingkatan kedua atas kesedihan saya tersebut terjadi  karena soal kolusi yang berkonotasi negatif dan yang dilakukan oleh kepala sekolah dan guru tersebut justru diinformasikan oleh menteri pendidikan dalam forum resmi.        Sebagaimana kita ketahui di dalam pertemuannya dengan anggota Komisi IX DPR RI baru-baru ini Mendikbud Wardiman Djojonegoro secara gamblang menyatakan terjadinya kolusi antara sekolah dengan penerbit dalam soal jual beli buku di sekolah.  Apabila penerbit yang satu memberi potongan harga sebesar 20 persen untuk diberikan pada sekolah maka penerbit yang lainnya akan memberikan potongan harga yang lebih besar lagi.  Akibatnya harga buku yang harus dibayar oleh siswa atau orangtua menjadi mahal; dengan demikian siswa dan orang tua lah yang menjadi korban kolusi ini.       Sudah barang tentu  kita tidak ingin menyalahkan  Pak Wardiman atas "kejujuran" informasinya itu; namun yang menyedihkan kita ialah kalau kasus kolusi yang menyangkut civitas sekolah dan yang mengu-mumkan justru menteri pendidikan sendiri maka hal tersebut mestinya memang benar-benar terjadi di lapangan. Dengan bahasa lain memang benar ada kolusi antara sekolah dengan penerbit.
REFORMASI PENDIDIKAN REFORMASI GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.461 KB)

Abstract

       Bahwa keadaan bangsa Indonesia sekarang ini  sedang dalam keadaan terpuruk kiranya tidak terbantahkan lagi. Kondisi ekonomi yang semakin runyam dengan salah satu indikator nilai rupiah yang semakin melemah sangat mudah dibaca. Kondisi politik yang semakin tidak menentu  dengan salah satu indikator tidak akurnya di antara para elite politik sangat mudah diamati. Kondisi sosial yang semakin semrawut dengan salah satu indikatornya semakin tingginya tingkat kecurigaan antarwarga masyarakat semakin dirasakan. Kondisi kea-manan yang semakin rapuh dengan salah satu indikatornya semakin menipisnya rasa aman masyarakat mudah dipahami.          Keadaan seperti itu  didukung dengan data kuantitatif yang dipublikasi oleh berbagai lembaga,  baik dalam skala nasional mau-pun internasional. UNDP hanya menempatkan Indonesia dalam posisi ke-109 dari 174 negara dalam hal pembangunan manusia. WEF hanya memposisikan Indonesia di urutan ke-44 dari 53 negara dalam hal daya saing ekonomi.  Sementara itu World Bank menempatkan posisi Indonesia di nomer "bontot" di antara negara-negara Asia tenggara dalam hal kemampuan membaca anak-anak.          Hal itu semua memberikan bukti empirik  bahwa kita memang sedang berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Dan, itu semua bisa terjadi dikarenakan pelaksanaan pendidikan nasional kita masih jauh dari kata memuaskan. Memang kinerja pendidikan nasional kita sekarang benar-benar mengkhawatirkan  sehingga sangat beralasan dengan adanya berbagai gagasan dan pemikiran  untuk mengadakan reformasi pendidikan.
OGAH BELAJAR DI PTN, GEJALA POSITIF ?! Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.368 KB)

Abstract

       Ada sementara pengamat dan birokrat pendidikan di negara kita,  khususnya para pengelola  perguruan tinggi negeri (PTN),  yang masih merasa "pusing" atau tidak habis mengerti: mengapa begitu banyak calon mahasiswa baru yang telah dinyatakan "welcome" oleh PTN ternyata "rela" melepaskan kesempatan emasnya tersebut.       Seperti kita ketahui bersama baru-baru ini telah terjadi suatu "kejanggalan" di dalam salah satu komponen dari sistem pendidikan kita; yaitu relatif banyaknya kan didat mahasiswa baru yang telah dinyatakan diterima pada PTN tetapi tidak melaksanakan pendaftaran ulang, artinya mereka melepaskan kesempatan emasnya untuk belajar pada PTN. Pada hal kesempatan emas seperti ini sangat sulit untuk mendapatkannya.       Di IKIP Negeri Semarang dan di  Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang misalnya, ratusan kandidat mahasiswa yang telah dinyatakan "lulus" UMPTN ternyata tidak melaksanakan pendaftaran ulang. Itu berarti bahwa mereka kehilangan  (sengaja menghilangkan) haknya untuk menjadi warga "elite" PTN.       Peristiwa tersebut di atas ternyata juga terjadi pada PTN-PTN lain di negara kita, baik PTN di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa,  meski dengan kapasitas yang bervariasi.
PENETUAN POSISI BERDASARKAN KATEGORI (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Pengalaman saya mengajarkan bahwa jika tidak bisa menjadi yang pertama, maka dapat menjadi yang pertama dalam suatu kategori. STMIK AMIKOM Yogyakarta dengan mulai dari Akademi Komputer sejak 1994, yang menyewa sebuah rumah kecil di jalan Monginsisi No. 8 Yogyakarta dan belum dibayar sewanya, atas kebaikan pemiliknya Bapak Budi Sutrisno, SE, bukan merupakan sekolah tinggi komputer yang pertama di Yogyakarta. Disamping itu calon yang masuk adalah calon mahasiswa yang tidak diterima dimana-mana atau calon mahasiswa yang mengalami kegagalan. Hanya ada satu cara untuk membangkitkan semangat calon mahasiswa yang baru jatuh, yaitu membangkitkan kembali semangatnya atau memberikan pendidikan dengan kategori berbeda, yaitu memberikan tekanan pada sikap mental (softskill) daripada hardskill. Setiap calon mahasiswa diberikan pendidikan yang disebut Achievement Motivation Training (AMT) yang kemudian disempurnakan menjadi Pelatihan Super Unggul (PSU). Pendidikan ini diharapkan mahasiswa tersebut menjadi lebih percaya diri, mengetahui jati dirinya, termotivasi untuk meraih cita-citanya, mempunyai rasa empati yang tinggi dan mempunyai ketrampilan sosial yang baik. Salah satu komentar calon mahasiswa yang telah diberikan pelatihan ini ”Saya hampir saja bunuh diri, karena saya ditakdirkan oleh Tuhan menjadi anak yang buta warna, tetapi setelah saya mengikuti PSU, saya bersemangat kembali untuk hidup dan meraih cita-cita saya sebagai desainer grafis. Saya akan membuktikannya”. Agar sikap mental yang tertanam tersebut tejaga dengan baik, maka bagi mahasiswa yang laki-laki diwajibkan untuk memakai dasi dan akhirnya muncullah slogan ”Tempat Kuliah Orang Berdasi” sebagai sebagai Strategi Positioningnya. Dengan demikian Sekolah Tinggi Komputer dengan kategori yang pertama mahasiswanya memakai dasi. Pada 2007, STMIK AMIKOM berusia 13 tahun, meskipun hanya Sekolah Tinggi, bukan Universitas ataupun Institut, tetapi menjadi Perguruan Tinggi di Kopertis Wilayah V dengan jumlah mahasiswa baru untuk Program Studi Sistem Informasi mempunyai Peringkat Pertama dengan jumlah mahasiswa baru mendekati angka 700 mahasiswa dan mahasiswa baru untuk keseluruhan menempati peringkat 4 dengan jumlah mendekati angka 2300 mahasiswa. Sedangkan student bodynya peringkat 7 dengan  jumlah lebih dari 8500 mahasiswa. Keberhasilan ini dapat terjadi semata-mata karena rahmat Allah Yang Maha Tingggi.

Page 15 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN KOMPAS 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN JAWA POS 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue