cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
KEBIJAKAN FISKAL PADA MASA RASULULLAH S.A.W. (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rasulullah adalah kepala negara pertama yang memperkenalkan konsep baru di bidang keuangan negara di abad ketujuh yaitu semua hasil pengumpulan negara harus dikumpulkan terlebih dahulu dan kemudian dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan negara. Hasil pengumpulan itu adalah milik negara dan bukan milik individu. Meskipun demikian, para pemimpin negara dan gubernur dapat menggunakannya untuk mencukupi kebutuhan pribadinya. Tempat pengumpulan itu disebut baitul maal (rumah harta) atau bendahara negara. Ada dua kebijakan yang dilakukan Rasulullah s.a.w untuk pengembangan ekonomi dan peningkatan partisipasi kerja dan produksi. Kebijakan pertama adalah mendorong masyarakat memulai aktivitas ekonomi baik dalam kelompok sendiri maupun kerjasama dengan kelompok lainnya tanpa dibiayai baitul maal. Kebijakan kedua adalah kebijakan dan aksi yang dilakukan Rasulullah s.a.w. dengan mengeluarkan dana baitul maal. Kebijakan pertama yang diambil Rasulullah adalam rangka meningkatkan permintaan agregat masyarakat muslim di Madinah setelah hijrah adalah dengan mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshar.  Kesepakatan ini, yang menempatkan setiap Anshar bertanggung jawab atas saudara Muhajirinnya, menyebabkan terjadinya distribusi pendapatan dari Anshar kepada Muhajirin. Karena orang-orang Muhajirin mempunyai kecenderungan konsumsi yang lebih besar dibandingkan orang-orang Anshar, distribusi pendapatan cara ini telah meningkatkan permintaan total di Madinah. Kebijakan lain yang diterapkan Rasulullah di Madinah pada era permulaan Islam setelah hijrah adalah menyediakan lapangan kerja bagi orang-orang Muhajirin sekaligus meningkatkan pendapatan nasional muslim dengan menerapkan kontrak-kontrak muzaraa, musaqat, dan mudharabah serta kerja sama terbatas antara Muhajirin yang menyediakan tenaga kerja dengan Anshar yang memiliki tanah pertanian, perkebunan dan tabungan.  Imam Bukhari meriwayatkan sebagai berikut : Setibanya kaum Muhajirin di Madinah, Rasulullah s.a.w. mempersaudarakan Abdur Rahman bin Auf dan Sa’d bin ar-Rabi’. Kemudian Sa’d bin ar-Rabi’ berkata kepada Abdur Rahman bin Auf, “Aku termasuk orang Anshar yang mempunyai banyak harta. Harta itu akan kubagi dua, setengah untuk Anda dan setengah untuk aku. Aku mempunyai dua orang istri, lihatlah mana yang Anda pandang paling menarik. Sebutkan namanya, dia akan segera aku cerai. Setelah habis masa iddahnya Anda kupersilakan menikahinya.”  Abdur Rahman bin Auf menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan kekayaan Anda. Tunjukkan saja kepadaku, di manakah pasar kota kalian?”. Abdur Rahman bin Auf kemudian ditunjukkan tempat pasar Bani Qainuqa’. Ketika pulang ternyata ia membawa gandum dan samin. Begitulah seterusnya ia berusaha dan berdagang di pasar. Demikian pula diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata : Kaum Anshar berkata kepada Nabi s.a.w. ,”Bagikan kami pohon kurma di antara kami dan ikhwan kami.” Beliau berkata, “Tidak.” Kaum Muhajirin berkata, “Kalian memenuhi kebutuhan kami dan kami ikut bekerja bersama kalian dalam mengurus buah itu.” Kaum Anshar menjawab, “Kami dengar dan kami taat.”  Dari hadis tersebut ditunjukkan bahwa kaum Anshar mempunyai sifat rela berkorban, mengutamakan orang lain dan menyayangi kaum Muhajirin. Sedangkan kaum Muhajirin sangat menghargai keikhlasan budi kaum Anshar. Mereka tidak menggunakan hal itu sebagai kesempatan untuk kepentingan yang bukan pada tempatnya. Mereka hanya mau menerima bantuan dari kaum Anshar sesuai dengan jerih payah yang mereka curahkan di dalam suatu pekerjaan. Secara alami, perluasan produksi dan fasilitas perdagangan meningkatkan produksi total kaum muslimin dan menghasilkan peningkatan pemanfaatan sumberdaya tenaga kerja, lahan dan modal. Selanjutnya pada periode yang sama Rasulullah membagikan tanah kepada Muhajirin untuk pembangunan pemukiman. Kebijakan ini juga meningkatkan partisipasi kerja dan aktivitas pembangunan pemukiman di Madinah sekaligus memenuhi kebutuhan penting Muhajirin akan tempat tinggal. Dengan cara ini tingkat kesejahteraan umum kaum muslimin meningkat.
HARUSKAH IKIP BANDUNG MENJADI UNIVERSITAS? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.516 KB)

Abstract

Selama ini banyak orang menyatakan salut kepada IKIP Bandung sebagai kelompok Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang tidak mudah dan pernah tergiur untuk mengubah eksistensinya menjadi universitas.  Namun demikian kesalutan ini akhirnya menjadi luntur,  bahkan hilang bersamaan dengan munculnya informasi bahwa senat institut keguruan dan ilmu pendidikan ini menyatakan siap untuk mengubah eksistensi lembaga keguruannya menjadi universitas; meski dengan beberapa catatan.       Seperti yang  telah  kita ketahui bersama  pembicaraan  mengenai pengubahan status  IKIP menjadi universitas akhir-akhir ini menjadi aktual lagi setelah Depdikbud,baik Pak Wardiman Djojonegoro selaku menteri pendidikan maupun Pak Bambang Soehendro selaku direktur jenderal pendidikan tinggi, memberi lampu hijau mengenai hal itu.        Banyak orang menyatakan  bahwa  pengubahan status IKIP  tidak akan menyelesaikan masalah kependidikan;  bahkan tidaklah mustahil dilaksanakannya pengubahan status IKIP nanti justru akan menimbulkan berbagai persoalan baru.Itulah sebabnya maka banyak orang yang menyatakan salut dan simpati kepada IKIP Bandung,  yang di tengah-tengah gencarnya IKIP lain ingin mengubah eksistensi dan statusnya maka IKIP Bandung tetap bersikukuh untuk bertahan. Dengan cara ini diharapkan IKIP Bandung justru dapat menjadi pioner untuk mengem-balikan kejayaan IKIP dengan peran aktifnya dalam memproduksi tenaga kependidikan yang diperlukan di lapangan.       Rasa salut serta simpati itupun akhirnya sirna  bersamaan dengan munculnya informasi bahwa IKIP Bandung akan "ikutan" mengubah eksistensi dan statusnya menjadi universitas.  Bahkan kini muncul ber-bagai pertanyaan sekitar dasar, tujuan dan alasan IKIP Bandung harus mengubah diri menjadi universitas.
ANGGARAN PENDIDIKAN DAN PENATAAN GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.188 KB)

Abstract

         Setelah gencar menerima masukan, permintaan, permohonan, harapan, aspirasi,  dan terkadang juga kritik dari masyarakat luas akhirnya pemerintah mau juga memberi respon secara positif. Dari pidato pengantar nota keuangan  yang beberapa hari lalu disampaikan oleh Presiden Megawati bisa disimpulkan adanya perhatian yang cukup serius dari pemerintah terhadap pembangunan pendidikan nasional di negara kita.          Keseriusan perhatian pemerintah tersebut dicerminkan dalam besarnya anggaran  yang dialokasi untuk bidang pendidikan, yang tahun ini mencapai angka 11,6 triliun rupiah.  Apabila dipersentase terhadap dana pembangunan yang jumlahnya 47,1 triliun  maka alo-kasi anggaran pendidikan  tahun ini  jumlahnya hampir mencapai 25 persen. Sungguh ini merupakan angka yang "menggembirakan".          Selama ini masyarakat kita  memang menginginkan  anggaran pendidikan yang proporsional  karena secara empiris besar kecilnya anggaran pendidikan di suatu negara  menentukan mutu pendidikan itu sendiri yang pada akhirnya sangat menentukan kualitas manusia di negara yang bersangkutan.  Kalau kita mau belajar dari negara-negara maju seperti  Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dsb,  umumnya mereka mengalokasi anggaran pendidikan dalam jumlah yang memadai.          Negara jiran Malaysia juga pantas kita contoh;  negara yang seperempat abad lalu masih "berguru"  kepada Indonesia dalam soal pendidikan  kini sudah mencapai  kemajuan luar biasa dikarenakan kualitas manusianya  yang kompetitif.  Rahasianya?  Malaysia selalu mengalokasi anggaran pendidikan dalam jumlah yang memadai.  
BEAYA PENDIDIKAN PADA PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.096 KB)

Abstract

       Beaya yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi, terutama di perguruan tinggi nonpemerintah alias swasta  (private university), di mana-mana memang cukup mahal; hal itu terjadi baik di negara maju maupun di negara-negara sedang berkembang.       Di Harvard (private) University misalnya, perguruan tinggi swasta (PTS) di Amerika Serikat yang sangat terkenal itu,  pengeluaran seorang mahasiswa konon dapat mencapai $ 15.000 untuk tiap tahunnya.  Hal itu berarti, apabila  seorang mahasiswa memerlukan waktu penyelesaian studi selama lima tahun maka dia harus mengeluarkan beaya pendidikan sebanyak $ 75.000.        Beaya pendidikan pada PTS di Jepang lebih murah lagi, sekitar $ 3.500 tiap mahasiswa tiap tahunnya. Jadi untuk lima tahun masa studi "hanya" memerlukan dana pendidikan sekitar $ 17.500.       Benarkah beaya pendidikan PTS di Jepang tersebut relatif murah? Kiranya tidak juga; beaya pendidikan yang bernilai $ 17.500 tersebut apabila dirupiahkan mencapai 31 juta rupiah lebih.  Jumlah ini tergolong tinggi bagi rata-rata penghasilan penduduk Indonesia; bahkan mungkin untuk rata-rata penghasilan penduduk Jepang itu sendiri.
STRATEGI PENETAPAN HARGA NABI SAW Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strategi harga yang digunakan Nabi Muhammad s.a.w. berdasarkan prinsip suka-sama-suka. Dalam surat An Nisaa’ ayat 29 : ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” Demikian pula Anas meriwayatkan bahwa Nabi pernah menawarkan sebuah kain pelana dan bejana untuk minum seraya mengatakan : “Siapakah yang ingin membeli kain pelana dan bejana air minum?” Seorang laki-laki menawarnya seharga satu dirham dan Nabi menanyakan apakah ada orang yang akan membayar lebih mahal. Seorang laki-laki menawar padanya dengan harga dua dirham dan ia menjual barang tersebut padanya (Timidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Dari Anas r.a, katanya Nabi saw. bersabda : “Hai Bani Najjar ! Tetapkanlah harga kebunmu kepadaku didalamnya ada runtuhan dan pohon kurma.” (Bukhari). Strategi harga yang digunakan Nabi Muhammad s.a.w. yang lain adalah prinsip tidak menyaingi harga orang lain dan tidak menyongsong membeli barang sebelum dibawa ke pasar serta tidak berbohong. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya Rasulullah saw, bersabda ”Janganlah kamu menjual menyaingi penjualan saudaramu.” (Bukhari). Dari Abu Hurairah r.a. katanya : “Rasulullah saw melarang orang kota menjualkan barang (dagangan) orang desa dan janganlah kamu membohongkan harga barang dan janganlah seseorang menjual menyaingi harga jual saudaranya, janganlah menawar sesuatu yang sedang dalam penawaran saudaranya dan jangan seorang wanita minta supaya diceraikan saudaranya (madunya) untuk menunggangkan isi bejananya.” (Bukhari). Nabi Muhammad s.a.w. menetapkan strategi harga dengan prinsip membantu orang lain. Dari Jabir bin Abdullah r.a., katanya : “Aku pernah bersama-sama dengan Nabi saw. dalam suatu peperangan tetapi untaku terlambat karena lelah. Nabi saw. datang kepadaku seraya berkata, “Jabir !” Aku menyahut, “Ya, Rasulullah !” Tanya Nabi, “Bagaimana kabarmu ?“ Jawabku, “Untaku lambat dan lelah : makanya aku terlambat.”Lalu dihela beliau untaku itu dengan tongkatknya, dan bersabda : “Nah, naiklah !” Lalu aku naiki unta itu, dan agak kutahan jalannya supaya jangan mendahului Rasulullah saw.” Tanya beliau, “Apakah engkau sudah menikah ?” Jawabku, “Sudah, ya Rasulullah.” Tanya beliau pula, “Apakah gadis atau janda ?” Jawabku, “Dengan janda, ya Rasulullah.” Sabda beliau pula, “Kenapa tidak dengan gadis saja. Engkau dapat bersedagurau dengannya dan dia dapat bersendagurai denganmu.” Jawabku, “Aku mempunyai banyak saudara perempuan. Aku ingin kawin dengan wanita yang mau berkumpul, menyisiri dan mengurus mereka.” Sabda beliau, “Sesungguhnya engkau bakal datang kepada mereka. Apabila engkau tiba, maka senanglah, senanglah !” Selanjutnya beliau bersabda, “Akan engkau jualkah untamu ?” Jawabku, “Ya.” Lalu beliau beli dariku seharga satu uqiyah, Beliau tiba lebih dahulu dariku, dan aku tiba pagi-pagi. Kami pergi ke mesjid, maka di sana aku bertemu dengan beliau di pintu mesjid. Sabda beliau, “Baru tibakah engkau ?” Jawabku, “Ya, benar.” Sabda beliau lagi, “Tinggalkanlah untamu, masuklah dan shalatlah dua raka’at !” Aku masuk ke mesjid, kemudian aku shalat. Beliau menyuruh Bilal supaya menimbang untuk beliau satu uqiyah. Bilal menimbang, dan diberatkannya timbangan untukku. Kemudian aku pergi, Tetapi baru saja aku membelakang, beliau bersabda, “Panggil Jabir !.” Tiba-tiba beliau mengembalikan unta (yang telah dibelinya itu) kepadaku. Belum pernah ada sesuatu lebih kubenci daripada hal itu. Sabda beliau, “Ambillah kembali untamu serta uang harganya untukmu !” (Bukhari).
PENGHAPUSAN STM DAN SMEA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.583 KB)

Abstract

       Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Depdikbud, J. Pakpahan, baru-baru ini meluncurkan berita yang mengundang tanda tanya besar di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat akademik. Beliau menyatakan bahwa mulai tahun depan Sekolah Menengah Teknologi (STM) serta Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) akan dihapus.          Informasi resmi, karena dinyatakan oleh seorang pejabat yang memang berwenang di bidangnya,  yang berni-lai "news" tersebut ternyata bukan saja mengundang aneka pertanyaan akan tetapi sekaligus menciptakan sedikit ke-bingungan pada sementara masyarakat akademik kita, baik guru, pengurus sekolah, maupun para siswa. Mereka banyak yang mengeluh,  kebijakan apa lagi yang akan diaplikasi oleh pejabat departemen pendidikan;  kebijakan yang satu belum  dapat dilaksanakan secara tuntas sudah muncul ke-bijakan lain lagi.          Seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini memang banyak kebijakan-kebijakan pendidikan yang berhubungan langsung dengan pendidikan kejuruan;  misalnya kebijakan tentang penyelenggaraan SLTP Keterampilan, Sistem Magang (Apprentice System),  Program Sekolah Seutuhnya (School Integrated Development), Institusi Pasangan,Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Kejuruan  (HRD of Vocational School), dan sebagainya.
FONDASI KEPEMIMPINAN (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Menurut Drucker, fondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah memikirkan visi dan misi organisasi, mendefinisikannya, dan menegakkannya secara jelas dan nyata. Pemimpin menetapkan tujuan, menentukan prioritas, serta menetapkan dan memonitor standar. Sedangkan menurut Tony Buzan dalam buku The Power of Spiritual Intelegence, visi didefinisikan sebagai kemampuan berpikir atau merencanakan masa depan dengan bijak dan imajinatif, menggunakan gambaran  mental tentang situasi yang dapat dan mungkin terjadi di masa mendatang. “Kepemimpinan merupakan inti dari strategi” kata Jack Trout . Tidak seorangpun akan mengikuti Anda jika Anda tidak tahu kemana mesti melangkah. Akio Morita memberikan arah Sony untuk menemukan pasar-pasar baru dengan sebutan “semangat perintis”. “Sony adalah perintis dan tidak pernah bertujuan untuk mengikuti yang lain. Melalui kemajuan, Sony ingin melayani seluruh dunia. Sony akan selalu menjadi penemu hal yang belum diketahui. Sony memiliki prinsip menghargai dan mendukung kemampuan seseorang dan selalu membawa yang terbaik dari seseorang. Ini merupakan kekuatan vital bagi Sony” kata Morita. Sony menciptakan handycam, home video recorder pertama dan floppy disk.  Kesuksesannya paling terkenal adalah ide Morita tetantang Walkman.  “Sebuah komputer di atas setiap meja kerja di setiap rumah, menjalankan perangkat Microsoft” kata Bill Gates. Maka setelah Bill Gates menciptakan MS-DOS, ia membuat sistem operasi Windows seperti halnya rumah menggunakan jendela (window) yang menyebabkan Bill Gates menjadi entrepreneur terkaya di dunia. Tidaklah benar benar bahwa hanya Bill Gates semata yang berperan dalam menempatkan PC di kantor-kantor dan di rumah-rumah di seluruh dunia, tetapi Bill Gates mempunyai visi untuk melihat apa yang mungkin dan keinginan untuk mengubah visi tersebut menjadi kenyataan.  Thomas Watson Sr. mengganti nama perusahaan Computing Tabulating Recording Company menjadi International Business Machine (IBM), meskipun pada saat belum beroperasi secara internasional, tetapi Thomas Watson mempunyai visi bahwa perusahaan tersebut di kemudian hari menjadi perusahaan yang beroperasi secara internasional. Ketika Watson menamai International Business Machine (IBM) banyak orang ketika itu mentertawakannya. Bahkan ada yang bilang bahwa Watson memberi nama tersebut terlalu membesar-besarkan perusahaannya. Tetapi sekarang IBM merupakan perusahaan modern dan para manajernya menjadi model peranan utama dengan setelan baju putih, dasi polos, semangat menjual yang luar biasa. Pada tahun 2003 ini IBM terpilih sebagai Perusahaan Komputer yang paling mengagumkan dunia versi majalah Fortune.
PENDIDIKAN NONFORMAL TERABAIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.266 KB)

Abstract

Dalam tahap wacana, terminologi globalisasi dan industrialisasi sering dibawa keluar masuk ruangan yang sejuk dan ber-ac untuk didiskusi atau diseminarkan para pakar; meskipun demikian dalam realita ternyata masih sangat banyak anggota masyarakat kita yang belum mampu masuk di pasar global dan sektor industri.           Data dari Depnakertrans yang dikutip oleh Bambang Ismawan (2003) menyatakan sebanyak 44 persen penduduk kita bekerja di sektor pertanian, 13 persen penduduk bekerja di sektor industri, 19 persen penduduk bekerja di sektor jasa dan perdagangan, dan selebihnya di sektor lain. Kalau kita mengacu pada tulisan Daniel Bell dalam ‘The Coming of Post Industrial Society’ (1986) ternyata mayoritas masyarakat kita masih berada pada tingkat masyarakat praindustri (preindustrial society). Seperti kita ketahui di dalam bukunya tersebut Bell membagi masyarakat dunia ini menjadi tiga kelompok; masing-masing ialah masyarakat praindustri, masyarakat indus-tri, dan masyarakat pasca industri.          Selanjutnya hasil survei yang telah dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) (2001) menyatakan bahwa sebanyak 42 persen pekerja kita hanya berpendidikan  SD ke bawah, 17 persen berpendidikan SLTP, 30 persen berpendidikan SM, 5 persen berpendidikan diploma, dan hanya sebanyak 6 persen yang berpendidikan sarjana. Ini berarti bahwa profil pekerja kita masih menyedihkan karena mayoritas pekerja kita hanyalah berpendidikan dasar, termasuk tak berpendidikan sama sekali. 
SKEMA KETENAGAKERJAAN DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.705 KB)

Abstract

       Ada berita duka dari "kota buaya" Surabaya; yaitu sekitar meninggalnya beberapa orang pencari kerja secara "bersamaan" waktunya pada saat mereka berdesak-desakan untuk mengadu nasib memanfaatkan peluang kerja yang ada.       Sangat sempitnya peluang kerja yang tersedia pada satu pihak, dan sangat banyaknya para pencari kerja pada pihak yang lainnya telah menciptakan situasi dan kondisi sedemikian rupa sehingga para pencari kerja tersebut "rela"  mempertaruhkan nyawanya untuk mengadu nasib guna memanfaatkan peluang kerja yang tersedia.       Peristiwa dan keadaan tersebut tentu saja sangat memprihatinkan; untuk tidak mengangkatnya sebagai sebuah keprihatinan nasional,  karena sesungguhnya hal tersebut lebih merupakan "potret mini" tentang skema ketenagakerjaan di Indonesia.       Oleh karena itu kalau Presiden Soeharto dan Menaker Drs. Cosmas Batubara menyatakan keprihatinannya atas musibah itu,  maka mungkin saja di balik keprihatinannya tersebut juga terkandung keprihatinan yang lain, yaitu tentang betapa masih  sangat kompleksnya masalah ketenagakerjaan di negara kita. Kompleksitas permasalahan yang belum pernah dapat terselesaikan secara sempurna.
LAMPU MERAH BAGI SMA-SMA DI DIY Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.241 KB)

Abstract

       Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini minat masyarakat lebih terkonsentrasi pada sekolah umum, SMA, daripada sekolah kejuruan. Oleh karena tingginya keinginan untuk dapat menapaki jenjang pendidikan formal yang seoptimal mungkin, lepas dari sejauh mana kemampuan akademiknya, maka mayoritas anggota masyarakat memilih jalur SMA yang dipandang dapat menghantarkan cita-citanya tersebut.          Memang, lulusan SMA dipersiapkan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, sementara lulusan sekolah kejuruan dipersiapkan untuk terjun langsung ke lapangan kerja. Hal ini secara eksplisit dijamin oleh Peraturan Pemerintah (PP) No:29/1990 mengenai pendidikan menengah. Nah siapa orangnya yang tidak ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi?          Menghadapi keinginan masyarakat yang menggebu itu selanjutnya gedung-gedung SMA dibangun di mana-mana, sam pai menelusup ke desa-desa. Bahkan, dalam satu kecamatan pun  seringkali dijumpai lebih dari tiga atau empat SMA; negeri dan swasta (untung belum ada SMA Inpres?!).

Page 19 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue