Articles
1,592 Documents
MENUJU PERGURUAN TINGGI INDONESIA BERKELAS DUNIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (123.652 KB)
     Sekitar dua puluh tiga abad yang lalu, atau tepatnya dalam kurun waktu tahun 427-347 SM, bertempat di Athena, Plato mendi-rikan forum pertemuan yang dihadiri oleh banyak orang yang pada saat itu disebut dengan academia. Forum yang dikelola Plato sampai akhir hayat inilah yang menjadi cikal-bakal keberadaan perguruan tinggi di dunia ini; dan Plato sendiri merupakan guru atau dosen pertama yang mengajar di perguruan tinggi.        Di dalam forum academia tersebut, peserta pertemuan diberi kebebasan untuk mengembangkan daya nalarnya melalui pendekatan "deductive-reasoning". Filsafat pendidikan Plato berangkat dari satu asumsi bahwa setiap orang memiliki karakter, kemampuan, dan kepentingan yang berbeda-beda; oleh karenanya pendidikan harus berupaya menemukan potensi alamiah setiap individu, dan kemudian mengembangkan potensi tersebut sehingga sanggup menjadi warga yang baik di tengah-tengah masyarakat, dan sanggup melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien.        Lembaga semacam academia, yang berkembang menjadi per-guruan tinggi, selanjutnya banyak didirikan di Timur Tengah dan Eropa.        Pada jamannya kota-kota Bagdad, Kairo dan Kordova pernah memiliki perguruan tinggi yang diakui kredibilitasnya. Sekarang lembaga perguruan tinggi sudah menyebar di seluruh dunia. Meski- pun sudah melewati masa sejarah sekitar dua puluh tiga abad tetapi tujuan utama pendirian perguruan tinggi tidak pernah berubah; yaitu meningkatkan kualitas manusia supaya dapat berperan secara konkrit dan kontributif di tengah-tengah masyarakat.Â
"MORAL RESTRAINT" UNTUK GENERASI MENDATANG
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.728 KB)
      Dahulu orang tidak begitu percaya bahwa bumi ini begitu cepat dipadati oleh makhluk yang bernama manusia; tetapi ketidakpercayaan itu akhirnya menjadi kenyataan. Seorang pakar kependudukan, Ida Bagus Tantra, melukiskan bahwa "dunia baru" sudah mulai tidak sanggup menampung jumlah penduduk yang bertambah tak henti-hentinya. Tiap minggu lebih dari satu juta bayi lahir di dunia, hal ini berarti bahwa satu juta lagi "mulut" manusia yang harus diberi makan.      Kalau kemudian kita menanyakan dari mana asal makanan yang diperlukan oleh manusia, dan makhluk-makhluk lain di muka bumi ini, tentu jawaban yang paling tepat adalah dari hasil eksploatasi alam. Apakah sumber alam tak akan habis kalau dieksploatasi secara terus menerus? Disitulah masalahnya!      Thomas R. Malthus yang hidup pada tahun 1766 s/d 1834 pernah membuat ramalan, bahwa jumlah penduduk akan melampaui jumlah persediaan bahan pangan yang dibutuhkan. Hipotesis yang diajukan: pertumbuhan penduduk bila tidak dilakukan pembatasan akan cenderung berkembang menurut deret ukur, bahkan diperkirakan jumlah penduduk akan berlipat dua setiap deret 25 tahun, sementara itu pertambahan bahan makanan hanya mengikuti deret hitung.
RESIKO KAMI PAK
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Banyak perusahaan mengandalkan kecepatan dalam bersaing, mulai dari kecepatan inovasi produk, kecepatan dalam menjangkau pasar, kecepatan pengembangan sumberdaya manusia sampai kecepatan dalam pelayanan. Perusahan yang dikagumi peringkat pertama, General Electric menggunakan kecepatan dalam bertindak melayani pelanggannya, selalu menggapai melebihi sasaran dan memasuki pasar tanpa batas.  dalam rangka meraih visinya. Demikian pula dengan Toyota dengan Toyota Production System (TPS) untuk mencapai kualitas, efisiensi dan kepemimpinan teknologi, sehingga mencapai tingkatan yang baru. Namun demikian, ada juga perusahaan kecil yang mencoba menggunakan kecepatan dalam bersaing tanpa harus menggunakan inovasi teknologi tingkat lanjut. Ketika bersama tiga kawan saya di Bandung, saya mampir untuk makan siang di rumah makan yang bersaing dengan caranya sendiri.. Dua orang pelayannya menghampiri kami beremapat. âPesan minum apa Pak? â tanya mereka. Kami berempat menyebutkan minuman yang kami pesan. Satu diantara kedua pelayan tersebut mencatat pesanan kami dan satu orang lainnya memperhatikan yang dicatat kawannya tersebut. âBapak mau makan apa Pak? Ini menunyaâ kata seorang pelayan yang sedang mencatat tersebut dan seorang yang lainnya masuk ke dalam. Setelah kami menyebutkan pesanan, pelayan tersebut mencatatnya dan tiba-tiba kawannya tadi keluar sambil membawa koran. âIni korannya Pak kalau mau membaca berita hari ini â kata pelayan yang membawa koran sambil menyerahkan kepada kami. Kemudian setelah menyerahkan koran, ia kembali mendapingi pelayan yang mencatat pesanan kami dan masuk ke dalam kembali. âMakanannya cukup ini Pak?â tanya pelayan yang bagian mencatat pesanan tersebut. âYa cukupâ jawab kami. Tiba-tiba pelayan yang masuk ke dalam tadi, keluar lagi sudah membawa minuman pesanan kami. Ketika itu saya terkejut melihat kejadian tersebut dan saya berkata dalam hati setengah penasaran: âCepat sekaliâ. Tidak begitu lama pelayan yang mencatat pesanan kami tadi sudah menyusul membawa makanan yang kami pesan. âLuar biasa cepatâ kata hati saya bertambah penasaran. Setelah selesai makan saya penasaran karena mendapatkan pelayanan dengan kecepatan luar biasa. Kemudaian saya memanggil pelayan tersebut dan bertanya âMas kok bisa cepat dalam Anda menyajikan tadi rahasianya bagaimana?â. âTadi kami berdua, pertama mencatat pesanan Bapak berupa minuman, setelah itu rekan saya membaca yang saya catat kemudian rekan saya tadi ke belakang pesan minuman yang Bapak pesan. Kemudian rekan saya tadi mengambil koran dan menyerahkan kepada Bapak. Setelah itu rekan saya tadi membaca makanan yang Bapak pesan pada catatan saya dan masuk ke dalam sambil pesan makanan yang Bapak pesanâ kata pelayan tersebut. âOh begitu. Mas kalau misalnya pesanan makanan itu saya ganti bagaimana?â tanya saya. âItu resiko kami Pakâ jawabnya tegas. Â
UMPTN DALAM KONSEP AKUNTABILITAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (99.582 KB)
      Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), momentum penseleksian calon mahasiswa PTN di Indonesia meskipun sudah di-selenggarakan dalam beberapa tahun tetap saja menyita perhatian masyarakat. Setiap UMPTN dilaksanakan maka perhatian masyarakat kita, khususnya masyarakat pendidikan, tertuju kepadanya. Para tamatan SMU pada khususnya dan sekolah menengah pada umumnya saling berlomba untuk memenangkan kompetisi yang berlangsung di dalamnya. Para orang tua pun sedapat mungkin membantu anaknya dalam mengikuti kompetisi akademis tahunan tersebut.      Untuk tahun 2000 ini ujian tertulis UMPTN akan dilaksanakan pada tanggal 4 dan 5 Juli; sementara itu pengumuman hasilnya akan dilaksanakan sekitar satu bulan sesudahnya. Sebagaimana de-ngan kondisi tahun-tahun yang sebelumnya maka UMPTN tahun ini diprediksi akan diikuti oleh ratusan ribu peserta yang kesemuanya ingin merebut kesempatan belajar pada PTN.      Memang jumlah kursi belajar pada PTN kita relatif terbatas; sementara itu masyarakat yang berkeinginan memperoleh kesempatan belajar pada lembaga pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah tersebut sangat banyak. Agar supaya prinsip keadilan, atau yang dalam ilmu pendidikan lazim disebut dengan terminologi ekuitas (equity), dapat ditegakkan maka tidak ada pilihan lain ter-kecuali melakukan seleksi akademis terhadap para peserta. Adapun prinsip dasarnya adalah siapa saja yang lebih memiliki keunggulan akademis akan diberi kesempatan yang lebih luas untuk dapat dite-rima sebagai mahasiswa baru PTN.      Prinsip dasar seperti itu tentu saja cukup fair, dan kiranya mudah diterima oleh masyarakat luas; masalahnya sekarang adalah apakah benar peserta UMPTN yang diterima menjadi mahasiswa baru PTN memang lebih memiliki keunggulan akademis dibanding dengan peserta yang gagal. Dengan ungkapan lain apakah proses dan hasil UMPTN dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas.Dua Kecenderungan
PENDIDIKAN BAGI BANGSA SELATAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.073 KB)
      "Challenge to The South", itulah hasil rumusan 26 ahli negara-negara "Selatan" yang dibawa Mantan Presiden Tanzania yang kini mengabdikan diri di dunia pendidikan dan kemanusiaan, Julius K. Nyerere, untuk dikomunikasikan kepada Presiden RI Soeharto di Jakarta baru-baru ini.      Dalam menghadapi globalisasi dunia sekarang ini maka kerja sama "Selatan-Selatan" memang makin diperlukan adanya. Berkait-an dengan itu maka Nyerere berhasil menghimpun kawan-kawannya dari negara-negara yang senasib untuk bertukar pengetahuan serta pengalaman sehingga akhirnya berhasil menyusun suatu rumusan untuk membangun negara-negara "Selatan".      Secara jujur memang harus diakui bahwa dalam meng hadapi era industrialisasi dan globalisasi dunia akhir-akhir ini maka negara-negara "Selatan" banyak mengalami ketertinggalan. Ibaratnya kalau negara-negara di luarnya sudah maju empat lima langkah maka negara-negara "Selatan" baru maju satu langkah; itupun dengan susah payah.
PRESTASI BELUM MEMUASKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (246.27 KB)
      Tepat tanggal 5 Juni 1992 yang lalu hasil Ebtanas SMA di lingkungan Kanwil Depdikbud Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diumumkan secara resmi kepada para siswa serta orang tuanya. Berbagai macam ekspresi bermunculan manakala saat pengumuman tiba; ada yang senang dan mengekspresikannya secara demonstratif, ada yang sedih, tetapi ada pula yang bersikap "biasa-biasa" saja karena menganggap peristiwa tersebut tidak terlalu istimewa.        Dari kalangan pendidik serta civitas sekolah yang lainnya ada yang menanggapi pengumuman Ebtanas tersebut dengan nada gembira bercampur sedih; gembira karena ting kat kelulusan sekolah umumnya relatif tinggi, sekaligus sedih karena pencapaian Nilai Ebtanas Murni (NEM) siswa yang sama sekali belum optimal. Seperti halnya yang bia-sa terjadi pada tahun-tahun yang sebelumnya maka tingkat kelulusan siswa relatif cukup tinggi, rata-rata di atas 95%, akan tetapi pencapaian NEM komulatif siswa relatif rendah, rata-rata kurang dari 55,00 untuk tujuh bidang studi yang diEbtanaskan.        Apabila diamati dengan jeli memang banyak siswa SMA yang semata-mata merasa berkepentingan terhadap kelu lusannya, namun kurang concern terhadap NEM-nya. Mungkin hal ini dianggap aneh, tetapi sebenarnya tidak. Mengapa? Karena untuk memasuki perguruan tinggi maka yang lebih diperhatikan adalah kelulusannya, bukan pada NEM; bahkan banyak perguruan tinggi, PTN mapun PTS, yang sama sekali tidak "menghargai" NEM kandidat mahasiswa barunya.
TENTANG EKSISTENSI PENDIDIKAN SWASTA DI BERBAGAI NEGARA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (423.393 KB)
      PAPE, Pan-Pacific Association of Private Education, adalah satu asosiasi pendidikan yang menghimpun potensi pendidikan swasta di negara-negara Pasifik. Asosiasi yang didirikan di Tokyo, Jepang, enam belas tahun yang lalu ini, tepatnya 8 November 1979, tiap tahun mengadakan kongres yang tempatnya diatur secara bergiliran pada kota tertentu di negara anggota. Indonesia sendiri sebagai pendiri dan anggota PAPE telah dua kali kena "sampur" kongres; masing-masing di Denpasar tahun 1984 dan di Yogyakarta tahun 1990.        Tahun 1995 ini kongres PAPE sudah sampai yang ke-17 kalinya; dan tempat kongres dipilih di Auckland, New Zealand. Kongres yang berlangsung dari tanggal 30 Oktober 1995 s/d 3 November 1995 ini mengambil tema "Private Education in the Community".        Tema tersebut di atas diambil dengan pertimbangan bahwa dalam realitasnya sampai kini posisi pendidikan swasta di tengah-tengah ma-syarakat menunjukkan kondisi yang berbeda antar negara; ada yang posisinya di suatu negara masih berada di "pinggiran" akan tetapi ada pula yang posisinya berada di "sentral" sehingga mampu memainkan peran secara optimal.
MELAMBUNGKAN USAHA DENGAN BERBUAT MULIA
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Banyak pengusaha atau perusahaan ketika dalam keadaan resesi atau dalam kesulitan yang dilakukan dengan memPHK karyawan, bahkan BUMN milik pemerintahpun yang berfungsi menyediakan lapangan kerja sebagai tanggungjawab terhadap pelaksaan Undang-Undang Dasar, misalnya PT. Dirgantara Indonesia lebih memilih memPHK karyawan. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh perusahaan pakaian terkenal Levi Strauss. Levi Strauss datang dari Bavaria. Ia tiba di New York pada 1847 dan bekerja sama dengan saudara tirinya dalam bisnis barang-barang yang dikeringkan. Pada 1853 Strauss pergi ke San Francisco untuk membangun bisnisnya sendiri. Kesempatan datang ketika salah seorang pelanggannya, penjahit Nevada bernama Jacob Davis, memperlihatkan sebuah ide dalam mengubah celana panjang pria. Hasilnya celana panjang yang kuat dan tahan lama, cocok dipakai bila Anda seorang penambang emas ataupun petani. Davis membutuhkan $68 untuk mendaftarkan hak paten desain itu. Pada 1873 Strauss dan Davis mempatenkan celana panjang tersebut, atau âwaist-high overallâ sebutannya ketika itu. Perusahaan semakin makmur dan ketika ia meninggal, perusahaan Levi Strauss mempunyai kekayaan $6 juta. Tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan terjadi pada 1906, yaitu ketika terjadi gempa bumi diikuti kebakaran yang menghancurkan kantor pusat perusahaan dan dua pabriknya. Tindakan yang dilakukan Levi Strauss memberikan kredit pada pelanggan grosirnya sehingga mereka dapat bangun dan kembali berbisnis. Perusahaan tetap membayar pegawai-pegawainya dan sebuah kantor sementara serta showroom terbuka untuk memberi mereka sesuatu untuk dilakukan, sementara kantor pusat baru dan sebuah pabrik dibangun. Pada saat depresi besar, ketika itu CEO Walter Haas Sr. Tetap mempekerjakan karyawan-karyawannya dengan menyuruh mereka membangun lantai baru di pabrik perusahaan di Valencia Street di San francisco dan bukannya memberhentikan mereka. Ia beragumentasi bahwa tenaga kerja yang diberi kuasa, orang-orang yang berbagi nilai-nilai dan aspirasi yang sama dengan perusahaan seperti manajer-manajer dan pemilik, akan membuat perusahaan menjadi pemimpin pasar. âAnda tak dapat membuat orang bersemangat atau mendapatkan dukungan mereka kecuali organisasi tersebut memiliki jiwa âkata Haas. Kemudian memberikan kesempatan yang sama bagi orang Afrika-Amerika untuk bekerja di pabrik pabriknya pada 1950-an dan 1960-an, ketika mereka mengembangkan bisnisnya ke negara-negara selatan. Sejalan dengan perkembangan bisnisnya, komunitas masyarakat yang menganut tradisi mereka berkembang bersamaan. Levi-Strauss sekarang mendapatkan 40 persen keuntungannya dari bisnis internasional dan produk pabrik di lebih dari 50 negara seluruh dunia. Seperempat pegawainya bekerja di luar Amerika Serikat. Levi Strauss memilih berbuat mulia untuk melambungkan usahanya dengan tetap memperkerjakan karyawannya ketika perusahaan dalam kesulitan. Dengan berbuat mulia barangkali Tuhan ikut membantu. Kita berharap PT. Dirgantara Indonesia melakukan hal yang serupa.
HATI-HATI GUNAKAN HASIL UAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.465 KB)
Setelah kesibukan Ujian Akhir Nasional (UAN) berakhir, meskipun masih menyisakan beberapa persoalan, sekarang aktivitas sekolah lebih difokuskan pada kegiatan Penerimaan Siswa Baru (PSB). Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaring siswa baru dan jumlah yang cukup, kuali-tas yang memadai, serta karakter yang sesuai dengan âseleraâ sekolah. Di dalam realitasnya memang ada beberapa sekolah yang memiliki âseleraâ tersendiri dalam memilih karakter siswa, misalnya yang punya duit, yang bebas narkoba, dan sebagainya. Â Â Â Â Â Â Â Bagi sekolah yang mutunya memadai, PSB bukanlah kegiatan yang mengkhawatirkan. Di sekolah seperti ini biasanya jumlah pendaftar siswa baru lebih besar dari kapasitas sekolah; dengan demikian pihak sekolah tinggal menyeleksinya. Â Â Â Â Â Â Â Bagi sekolah yang mutunya kurang memadai, PSB menjadi kegiatan yang mengkhawatirkan pengurus sekolah. Di sekolah seperti ini jumlah pendaftar siswa baru bisa tidak mencapai quota yang ditentukan sehingga sulit bagi sekolah untuk memilih siswa baru sesuai norma kelayakan, khususnya menyangkut kualitas input. Keadaan ini menimbulkan efek berantai karena dengan input yang kualitasnya tidak tersaring maka sulit dihasilkan mutu lulusan yang baik; akibatnya sulit diciptakan mutu pendidikan yang baik di dalam sekolah itu sendiri.
SKEMA PTS DI YOGYAKARTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.003 KB)
      Meskipun predikat sebagai Kota Pendidikan telah melekat cukup lama, tetapi Yogyakarta bukanlah merupakan kota di negara kita yang mempunyai PTS, perguruan tinggi swasta, dalam jumlah yang paling banyak. Masih ada kota lain yang memiliki PTS yang jauh lebih banyak dibandingkan jumlah PTS di kota kecil ini.      Jakarta misalnya. Jumlah PTS yang berdomisili di Jakarta ternyata telah mencapai sekitar empat kali bila dibandingkan dengan jumlah PTS di Yogyakarta.      Meskipun demikian, mendudukkan kota Yogyakarta sebagai kota yang sangat padat PTS kiranya tidak terlalu salah. Dibandingkan dengan Jakarta sekalipun, kepadatan PTS di Yogyakarta kiranya tak akan kalah. Apabila anda lebih teliti coba bandingkan proporsi jumlah PTS terhadap luas kota antara Yogyakarta dengan Jakarta; meskipun beberapa PTS tersebut secara "alami" telah berekspansi ke daerah pedesaan, tidak selalu berdomisili di dalam kota.      Disamping Yogyakarta punya nilai kepadatan yang relatif tinggi, meski standardisasinya kepadatan PTS belum pernah dibakukan, kota ini juga memiliki berbagai lembaga pendidikan swasta yang mempunyai nilai historis yang mengesankan.