cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG LEBIH BAIK DENGAN PENYEDIAAN JALUR PEDESTRIAN BAGI PEJALAN KAKI Mauliani, Lily
Nalars Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya dengan judul “Kajian Jalur Pedestrian Sebagai Ruang terbuka Pada Area Kampus” yang dipublikasikan pada Jurnal yang sama Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli 2013. Tulisan ini adalah hasil akhir dari Penelitian Desentralisasi Skim Penelitian Hibah Bersaing tahun kedua. Oleh karenanya pada tulisan ini, hasil akhir luarannya adalah berupa disain sesuai dengan yang diajukan sebelumnya. Ajuan disain alternatif dari Jalur Pejalan Kaki atau dikenal dengan jalur pedestrian ini merupakan hasil telaah survey lapangan, analisa baik fisik maupun fisik dari studi kasus yang terpilih yaitu Jalan Cempaka Putih Tengah XXX Jakarta Pusat serta hasil dari pemikiran berdasarkan studi preseden dari beberapa lokasi yang dianggap berhasil dan juga teori-teori yang berkaitan dengan hal tersebut.  Sebelum solusi disain diberikan, tentunya penelitian harus melalui beberapa tahapan proses yang akan menghasilkan luaran yang optimal. Tujuan dari penelitian adalah  untuk menganalisis penerapan konsep pedestrianisasi dalam area kampus sebagai ruang terbuka bagi komunitas kampus baik untuk memfasilitasi kebutuhan sosial juga untuk beraktifitas di dalamnya. Sebagai fakta terlihat bahwa jumlah arus pejalan kaki dalam waktu area kampus cukup tinggi. Perlunya kegiatan bersosialisasi antara mahasiswa dan lain-lain sangat penting. Metode deskriptif serta metode studi banding telah dipilih sebagai metodologi penelitian dalam merangkum fakta yang ada dan menganalisa data yang didapatkan, kemudian metode perencanaan juga dilakukan dalam menghasilkan luaran solusi disain yang tentunya diharapkan dapat diadopsi untuk direalisasikan.   ABSTRACT This paper is a continuation from the former paper titled “Kajian Jalur Pedestrian Sebagai Ruang terbuka Pada Area Kampus” which had been published in the same Journal Volume 12 Number 2 July 2013. This paper is a final output from Decentralization Research Program with a scheme of Penelitian Hibah Bersaing from DP2M, second year from two years research. Therefor within this paper, will deliver an appropriate design for a better solution. The proposed alternative designed for pedestrian way is a resulft from field survey analysis either physical or non physical analysis from designated case study Jalan Cempaka Putih Tengah XXX Jakarta Pusat which had been sincronized with appropriate theories and succeeded precedent studies.       Descriptive method and comparative method have been chosen as a research methodology for concluding the existing facts and to analysis all collected data. Then planning method will be used as well to deliver solution design which hopefully could be adopted.
LANSKAP BUDAYA WISATA BUDAYA BETAWI Wardiningsih, Sitti
Nalars Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Jakarta banyak memiliki beragam potensi, salah satu diantaranya berupa wisata kota. Melihat potensi ini Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta merencanakan jalur wisata kota, dimana di dalamnya terdapat wisata budaya. Banyak sumber daya wisata budaya potensial yang dapat diangkat menjadi daya tarik wisata budaya kota Jakarta. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi kawasan budaya Betawi yang potensial untuk diangkat menjadi obyek wisata budaya. Penelitian dan perencanaan diperlukan untuk menunjang kegiatan wisata budaya Betawi di Kota Jakarta.Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kawasan sebagai lanskap budaya Betawi, menganalisis potensi kawasan wisata budaya Betawi Kota Jakarta dan menghasilkan rekomendasi tata ruang budaya Betawi sebagai sumber daya wisata budaya Betawi kota Jakarta. Metode yang digunakan berupa identifikasi kawasan sebagai lanskap budaya dan analisis pembobotan pada parameter kelangkaan dan kenyamanan lingkungan, obyek wisata, pencapaian, serta sarana dan prasarana wisata. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 2 kawasan termasuk dalam klasifikasi tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan  sebagai  kawasan  wisata yaitu  Kota Tua, dan Setu  Babakan yang masing-masing perlu dikembangkan dan direncanakan berdasarkan potensinya. ABSTRACT. Jakarta has been regarded as a big city in Indonesia and has various potency, such as city tourism.  By looking at this potency, Local Government of DKI Jakarta is planning to deliver city tour line, which consist some cultural tour. There are so many cultural tourism potencies that could be promoted as a point of interest of Jakarta cultural tourism. Therefore, it should be needed to identify the potential of Betawi cultural area which could be promoted as an object of cultural tourism.         Research study and planning will be needed to support the activities of Betawi cultural tourism in Jakarta. This research is aimed to identify the area as Betawi cultural landscape, to analyze the potency of Betawi cultural tourism in Jakarta and to deliver recommendation of Betawi cultural spatial as a Betawi cultural tourism resources in Jakarta. Research method that has been used is an identification of area as cultural landscape and analysis of the quality of rareness parameter and comfort of environtment, tourism object, achievement, as well as facilities and tourism infrastructures. The result of this research has shown that there are 2 significant areas which have been designated as high classification and potential to be developed as tourism area. There are Kota Tua area and Setu Babakan area which each of them has their own potency to be developed and planned.         
THE IMPLICATIONS OF DENSIFICATION POLICIES FOR GREATER RESISTENCIA (ARGENTINA): AN ASSESSMENT OF RECENT EXPERIENCE Schneider, Valeria
Nalars Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. Since 2001, Resistencia City Council has been promoting growth in building height by steering development towards built-up areas in central districts that already have complete infrastructure, through the implementation of the Ordinance 5403/01 - high density. If Ordinance 5403/01 is to be accomplished, with the proposed density of up to 2400 inhabitants, there is a need for 128 hectares of green open space at the neighborhood level (Pérez and Schneider, 2011). In the last 10 years, although the population growth of the city (16%) has been followed by an increase in the supply of greenfield per inhabitant (85%), this increase has not been reflected in the inner city areas, where there is a higher population density. This legislation does, however, include sections that make it possible to optimize this situation.  This paper continues on from previous studies and attempts an analysis of the application of existing legislation that proposed the intensification of land use in built up core of Resistencia city. It is focused on an assessment of the scope of the implementation of this legislation, with an emphasis on the design of buildings which enable the supply of areas dedicated to leisure or recreation, which would allow a decompression in the demand for green spaces in the central area.  ABSTRAK. Sejak tahun 2001, Dewan Kota Resistencia sudah mulai mempromosikan pertumbuhan kotanya secara vertikal yang terlihat pada area-area terbangun dengan mengarahkan pembangunan menuju ke daerah-daerah di distrik pusat kota yang sudah memiliki infrastruktur lengkap melalui pelaksanaan Ordonansi nomor 5403/01 tentang kepadatan tinggi.     Apabila Ordonansi nomor 5403/01 telah dilaksanakan secara menyeluruh, dengan kepadatan yang diusulkan mencapai 2400 jiwa, maka akan diperlukan sekitar 128 hektar Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada tingkat lingkungan/ RT (Perez dan Schneider, 2011). Pada sepuluh tahun terakhir, walaupun pertumbuhan penduduk pada kota (16%) diikuti dengan peningkatan suplai dari area hijau/ penduduk (85%), peningkatan ini tetap saja tidak terlihat secara signifikan pada area pusat kota, dimana kepadatan penduduknya relatif sangat tinggi. Peraturan ini bagaimanapun juga melibatkan bagian-bagian yang memungkinkan untuk mengoptimalkan kondisi tersebut.    Tulisan ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya dan bertujuan untuk menganalisa aplikasi dari peraturan yang ada dimana di dalamnya diusulkan mengenai intensifikasi tata guna lahan dalam pembangunan pusat kota Resistensia. Penelitian ini difokuskan pada penilaian tentang ruang lingkup pelaksanaan dari peraturan tersebut, dengan penekanan pada perencanaan dan perancangan bangunan-bangunan yang dapat mensuplai kawasan-kawasan yang ditujukan untuk rekreasi dan hiburan, dimana akan mendorong untuk kebutuhan akan ruang-ruang hijau di dalam kawasan pusat kota.
TERITORI PEDAGANG INFORMAL Agustin, Alin Pradita
Nalars Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. An informal trade sector is a part of the informal sector that emerged as a result of the increasing urbanization. The existence of this informal trade sector cannot be separated from urban spatial elements. Johar market is a considerable trade area having high historical value.  Informal traders in Johar occupy public spaces and form mutual environment among them.The rapid growth triggers claims of public spaces. Claim of public space is a problem between humans’ behavior and their territories.  These claims disrupt the public spaces function.  The space between Johar and Yaik market is strategic. This space is the main circulation towards the parking garage from northerly direction and becomes the transitional space between Johar market building and Yaik market building. This strategic feature makes the growth of informal sector traders increases. These traders occupy right and left of the road by placing sign as a physical border to state their territory and as self-image recognition to control and personalizing space. By understanding the territorial behavior, it is expected the territory formation pattern and the factors influencing it can be understood, so the problems related to informal sector traders territorial claims over public space can be coped. Keywords: informal sector traders, territories, claims of space  ABSTRAK. Pedagang sektor informal merupakan bagian dari sektor informal yang muncul sebagai hasil meningkatnya urbanisasi. Keberadaan dari pedagang sektor informal ini tidak dapat dipisahkan dari elemen-elemen ruang kota. Pasar Johar dianggap sebagai kawasan perdagangan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Pedagang-pedagang informal di pasar Johar menempati ruang-ruang publik dan membentuk ruang baru diantara mereka. Perkembangan yang sangat pesat memicu timbulnya klaim atas ruang-ruang publik tersebut. Pada akhirnya klaim atas ruang-ruang publik tersebut menjadi masalah baru antara perilaku pedagang-pedagang informal tersebut dan teritorinya. Klaim inilah yang menjadi mengganggu dan merubah fungsi asal dari ruang publik tersebut.   Ruang antar pasar Johar dan pasar Yaik merupakan lokasi yang strategis. Ruang inilah yang menjadi sirkulasi utama menuju ke area parkir dari arah utara dan menjadi ruang transisi antara bangunan pasar Johar dengan bangunan pasar Yaik. Keberadaan dari ruang strategis inilah yang memicu munculnya dan meningkatnya pedagang-pedagang sektor informal. Pedagang-pedagang tersebut menempati sepanjang jalan baik sisi kanan maupun kiri dengan meletakkan penanda teritori mereka sebagai bukti fisik. Selain itu penanda tersebut dianggap sebagai pengakuan terhadap ruang teritori untuk kontrol dan personalisasi ruang. Dengan memahami perilaku teritori, diharapkan pola pembentukan teritori dan faktor-faktor yang mempengaruhi dapat dipahami, sehingga masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan klaim ruang-ruang publik oleh pedagang-pedagang sektor informal dapat diatasi  Kata Kunci: pedagang sektor informal, teritori, klaim ruang
KARAKTERISTIK LINGKUNGAN DAN PERILAKU MASYARAKAT KAWASAN PERMUKIMAN NELAYAN DI SEKITAR TELUK KENDARI Andreas, Asri
Nalars Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK.  Pada suatu permukiman terjadi hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam serta manusia dengan pencipta-Nya. Permukiman tersebut sangat berkaitan erat dengan karakteristik lingkungan dan perilaku penggunanya yang dominan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menemukan karakteristik lingkungan dan faktor-faktor  lingkungan yang membentuk kawasan permukiman nelayan yang berada di  pinggiran Teluk Kendari, serta mengetahui seberapa jauh perilaku masyarakat nelayan yang berada di kawasan permukiman tersebut mempengaruhi lingkungannya.  Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dengan pendekatan rasionalistik, dan pengambilan sampel dilakukan secara purposif (bertujuan). Pengambilan data dilakukan dengan metode observasi, yaitu melakukan pengamatan sistematis terhadap karakteristik lingkungan dan perilaku masyarakatnya; dan metode survey, yaitu pengumpulan informasi dengan menggunakan kuesioner kepada responden, wawancara secara verbal  yang tidak diamati secara langsung, dan kajian literatur. Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik permukiman merupakan perpaduan antara pola pikir manusia dan perwujudan kebudayaan yang sama yang menghasilkan suatu karakteristik yang dapat dikenali, ini dapat dilihat melalui struktur fisik lingkungan permukiman tersebut serta perilaku masyarakat yang mendiami permukimannya.  ABSTRACT. There are several relationships in the settlements i.e between human and human, human and nature, as well as humans with God. Those settlements are very closely related to the environmental characteristics and the dominant user behavior.The purpose of this study was to find the characteristics of the environment and environmental factors that form the fishermen settlement located on the outskirts of Kendari Bay, and to investigate how the behavior of a fishermen community within area of the settlement affect their environment. This study has chosen a descriptive qualitative methodology with rationalistic approach as a method to complete the research. Sample selection is done purposively. Data collection was performed by the systematic observation method by observing the environmental characteristics and behavior of society; and survey methods by collecting information using a questionnaire to the respondents, verbal interview that was not observed directly, and reviews of the literature. The result of this study has shown that the characteristics of the settlements are a fusion between the human mindset and the realization of their culture that produces a recognized characteristic. It can be seen through the physical structure of the settlement environment and the people behavior in the settlement.
HEALING ARCHITECTURE: DESAIN WARNA PADA KLINIK KANKER SURABAYA Purisari, Rahma
Nalars Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Arsitektur rumah sakit/ klinik merupakan bangunan fisik dimana dalam perancangannya didekati dengan indikator kenyamanan, keindahan, serta keberpihakan pada lingkungan, yang dapat membangun citra layanan kesehatan rumah sakit/ klinik itu sendiri. Pada kasus penyakit kanker, kondisi psikis pasien memiliki karakteristik cukup berbeda dengan pasien penyakit lainnya, yaitu tingkat kecemasan dan depresi yang cukup tinggi akan penyakitnya. Keberhasilan proses penyembuhan kanker tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisiologis saja, tetapi juga kondisi psikologis. Dalam kaitannya dengan tujuan mengembalikan keseimbangan antara kondisi fisik dan psikologis pasien, maka isu healing architecture dipilih dengan warna sebagai komponennya pada Klinik Kanker yang berlokasi di Perumahan Citra Raya Surabaya. Berdasarkan studi literatur dan wawancara dengan pasien kanker, maka didapatkan bahwa warna hijau, biru, kuning, dan cokelat merupakan warna-warna yang dapat membantu proses penyembuhan pasien. Proses desain pada rancangan ini menggunakan Design Development Spiral, dimana terdapat imaging, presenting, dan testing pada tahap perancangannya, sedangkan metode desain adalah dengan menggunakan alam sebagai cara untuk menghadirkan kreatifitas dalam arsitektur. Konsep rancangan dikaitkan dengan kriteria desain: warna sebagai representasi dari alam, warna sebagai elemen estetika, dan warna sebagai representasi dari material pembawanya, yang kemudian diwujudkan pada rancangan tapak, denah, bentuk dan facade bangunan, serta interior. Bangunan yang dihasilkan adalah sebuah Klinik Kanker dengan massa yang dipisahkan oleh void sebagai taman dan kolam yang terbuka dengan alam, serta ruang-ruang yang berorientasi pada warna yang diperoleh dari properti alam dimana pasien dapat mengakses alam tersebut dari dalam dan luar bangunan. Kata kunci: healing architecture, klinik kanker, warna  ABSTRACT. Healthcare buildings are the physical buildings that have been approached with indicator of comfort, beauty, and in the context of environment. In the case of cancer, patient’s psychological condition has quite different characteristic―the level of anxiety and depressions are quite high about this disease. The success of cancer curing process is not only determined by physiological conditions, but also the psychological state. In the aim of restoring the balance between physical and psychological condition, the healing architecture was selected with the color as its component in Cancer Clinic design located in Citra Raya Residence of Surabaya. Based on literature and interviews with cancer patients, it was found that green, blue, yellow, and brown are the colors that help the healing process. Design process that has been used is Design Development Spiral, which have imaging, presenting, and testing on the stages, then the design method has used nature as a way to create architectural creativity.The design concept is connected to the design criterias: color as a representation of the nature, color as aesthetic elements, and color as a representation of its material, which are presented in the site plan, floor plan, form and building façade, and interior. The building form is separated by void as garden space and pond that blending with the nature and the treatment areas are oriented to the color taken from the nature’s color properties. Thus, the patients could access those natures from inside and outside of the building. Keywords: healing architecture, cancer clinic, color 
SINKRETISME DALAM ARSITEKTUR: METODOLOGI Hadiwinoto, Ashadi
Nalars Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Sinkretisme sudah ada sejak zaman dulu dan terus bergema di relung-relung kehidupan manusia hingga sekarang ini; ia menjadi tema yang tidak pernah usang untuk dijadikan bahan diskusi dan arena penelitian para ilmuwan. Pada awalnya, sinkretisme memang terjadi pada bidang agama dan filsafat, namun lambat laun merambah pula pada aspek arsitektur. Hal ini bisa kita lihat pada bangunan-bangunan kuil, candi, gereja dan mesjid. Dengan metodologi penelitian yang tepat, sinkretisme dalam aspek arsitektur diharapkan bisa ditelusuri apa penyebabnya, bagaimana proses terjadinya, dan mengapa hal itu bisa terjadi. Dalam tulisan ini ditunjukkan bagaimana cara-cara mengungkap makna dibalik wujud fisik arsitektur yang mengalami proses sinkretisasi dan simbol-simbol yang diciptakan dan digunakan oleh masyarakat pendukung arsitektur itu dalam melaksanakan fungsi-fungsi arsitekturnya. Yaitu dengan bantuan perangkat penelitian: metodologi.Kata Kunci: sinkretisme, arsitektur, metodologi ABSTRACT. Syncretism has existed since along time ago and continuously take part in the human life until present day. Syncretism become significant issue which never been obsolescented to be a discussion material and research topic for researcher. At first, syncretism only be focused in the field of religion and philosophy, but then gradually touch on architectural aspects. This can be seen on temple’s buildings, churches, mosques. By conducting appropriate research method, syncretism in architectural aspect could be explored the causes, how the process and why it could be happended. This paper is aimed to show how to explore the meaning behind architectural physical form which encounters the process of syncretism and created symbols which has been used by community of architecture. Those proceses will be conducted by using research tool called methodology.Keywords: syncretism, architecture, methodology
KONSEP AMALGAMATION SEBAGAI SUATU PENYESUAIAN DALAM PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DI KAWASAN NAGOYA BATAM, PROVINSI KEPULAUAN RIAU Prawesthi, Ashri
Nalars Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Amalgamation merupakan kombinasi dari dua atau lebih sebuah lahan/ kavling; subdivision merupakan pembagian dari lahan besar menjadi beberapa blok atau kavling untuk tujuan pengembangan. Amalgamation dan subdivision adalah perangkat penting dalam pengembangan dan perencanaan dalam restrukturisasi kawasan yang akan dirubah. Blok-blok dan kavling-kavling menentukan tipe-tipe bangunan yang memungkinkan dibangun dan kapasitasnya yang sesuai dengan kawasan yang terpilih. Ketika sebuah area berubah dari satu fungsi ke fungsi lain – misalnya dari rumah berkapasitas keluarga tunggal atau dari kawasan industrial menjadi area perumahan vertikal – maka bentuk dan ukuran dari kavling tentunya harus dipertimbangkan kembali, selain itu juga layout dari jaringan jalan serta ukuran blok juga perlu dirubah.Terkadang, akan lebih mudah untuk menggabungkan kavling-kavling kecil menjadi kavling besar. Dengan cara ini, kita dapat membangun pengembangan yang lebih besar dengan besaran lahan yang sama. Strategi ini juga dapat membantu untuk merevitalisasi kawasan seperti halnya pada Nagoya Square di kota Batam. Hal ini membawa kehidupan baru dengan penduduk baru dan bisnis baru, karena dengan merevitalisasi sebuah area juga dapat menyediakan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih nyaman seperti halnya area parkir, taman, tempat makan dan juga pertokoan. Tipikal rumah toko dapat mengakomodasi pertokoan/ retail kecil dan juga kantor kecil. Beberapa rumah toko bahkan dapat dikombinasikan sehingga menjadi satu properti dengan menyediakan blok baru terbangun di belakangnya.Konsep ini dapat diaplikasikan di Nagoya Square, dimana area ini merupakan area untuk perdagangan dan layanan internasional namun memiliki kondisi fisik bangunan yang sangat buruk. Melalui cara ini, kita dapat menciptakan ruang untuk bernafas seperti kantong-kantong taman di antara bangunan-bangunan padat atau merubah jalur kendaraan menjadi jalur pedestrian serta menciptakan ruang-ruang publik baru yang dapat dinikmati oleh pengguna yaitu masyarakat. Tulisan ini akan menjelaskan tentang konsep tersebut dan hasilnya bagaimana sebuah kehidupan baru akan terjadi dengan aplikasi konsep tersebut. Beberapa rumah toko dapat dikombinasikan menjadi satu properti, dengan membangun satu blok baru di belakangnya. Deretan rumah toko yang lama adalah model pengembangan baru dan lama dengan menggandakan ruang yang disediakan.Kata Kunci: amalgamasi, penggabungan kecil, kavling besar ABSTRACT. Amalgamation is the combination of two or more lots; subdivision is the division of large land holdings into blocks and/or lots for the purpose of redevelopment. Amalgamation and subdivision are important planning and redevelopment tools for restructuring an area undergoing change. Blocks and lots determine the possible building types and capacities that fit into an area. When areas change from one use to another - for example, from single family detached houses or from industrial estates into residential flats - the size and shape of lots need to be considered, and street layout and block sizes may need to change.Sometimes, it is better to join small, fragmented plots of land into bigger plots. This way, we can build larger developments with the same amount of land. This strategy also helps to revitalise mature areas such as Nagoya Square in Batam City. This brings in new population and business, revitalizing an area; it also provides more amenities such as parking lots and parks, eateries and shops. A typical shophouse can accomodate small retail shops and small offices. Several shophouses can combine to become one property, with a new block built behind.This concept can be applied in Nagoya Square which is as an are for international trading and services but has poor condition of old buildings. Through this way, we can create breathing spaces like a pocket park between densely packed buildings, or pedestrianise a road to become and create new public spaces that all can enjoy. This paper tells about the concept itself and the result how a new lease of life happen. Several shophouses can combine to become one property, with a new block built behind. The old shophouse row is modeled to an old-new development, with double the space it used to provide.Keywords: Amalgamation, join small, bigger plots
KAJIAN KENYAMANAN TERMAL PADA RUMAH TINGGAL DENGAN MODEL INNERCOURT Azizah, Ronim
Nalars Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Sejak akhir abad ke-20, kota-kota dunia telah dilanda pemanasan global. Untuk mengatasi kondisi itu, rumah masyarakat kota tropis pada umumnya menggunakan sistem penghawaan buatan demi mendapatkan kenyamanan termal, seperti AC, ceiling fan atau kipas angin. Cara ini tentu mengakibatkan pemborosan energi dan memicu kondisi global itu lebih buruk lagi. Secara umum rumah tinggal mempunyai halaman depan dan belakang bangunan serta pada bagian ruang dalam dibuat tertutup. Untuk mendapatkan kenyamanan termal secara alami maka diupayakan terjadi pergerakan angin dari luar ke dalam bangunan melalui bukaan yaitu berupa  pintu dan jendela pada bagian depan dan belakang rumah. Selain menggunakan bukaan di depan dan belakang bangunan maka ada beberapa cara lain untuk memperoleh kenyamanan termal secara alami antara lain dengan menggunakan air (kolam atau air mancur) dan cerobong udara. Rumah yang diteliti merupakan rumah kuno milik keturunan Tionghoa yang telah direnovasi pada tahun 1912. Rumah ini terletak di kawasan Pasar Gede yang biasa disebut kawasan Pecinan yang merupakan permukiman padat kota. Tujuan penelitian ini adalah berupaya membangun konsep desain yang membantu memecahkan permasalahan kenyamanan termal pada rumah tinggal di perkotaan yang padat dengan cara menguji kenyamanan termal pada rumah tinggal dengan model innercourt. Penelitian ini dilakukan melalui uji kenyamanan termal dengan cara mengukur suhu, kelembaban udara dan kecepatan angin pada area teras, innercourt dan ruang dalam. Alat ukur kenyamanan termal yang digunakan adalah model dijital LM-81HT dan LM-81AM. Pengukuran dilakukan pada 16 September 2013 jam 11.30 – 12.30 wib. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dengan media innercourt maka pada lantai satu terjadi penurunan suhu didalam bangunan terhadap suhu di luar bangunan mencapai 4°C sedangkan pada lantai dua terjadi penurunan suhu didalam bangunan terhadap suhu diluar bangunan mencapai 2°C. Dan pada lantai tiga menghasilkan suhu dalam ruang sama dengan suhu diluar bangunan. ABSTRACT. Since end of 20th century, cities in the world have been hit by global warming. To   overcome this condition, tropical house of community of the city have used artificial thermal system to get thermal comfort such as Air Conditioner, ceiling fan as well as fan. This methods will give another impact of waste energy and supporting worst global warming. Generally, a house has a front and rear yard in the building and spaces inside the house have made separately enclosed. To get thermal comfort naturally, thus it should be planned to have air circulation from outside to inside the house through windows and doors at the front and the rear of the house. There area some methods to get thermal comfort beside using doors and windows, such as providing waters inside the house (pools and fountain) as well as air chimney. The object of the research has been regarded as an old house belong to Chinese which had been renovated in 1912. This house is located at the area of Pasar Gede which known as China Town (Pecinan). The aim of this research is to create design concept which could solve a problem of thermal comfort within houses in the crowded cities by testing and assessing thermal comfort of houses with innercourt model. This research will be completed by measuring the temperature within the house, humidity and speed of the wind at terrace area, innercourt and space within the house. Measuring instrument that has been used is a digital model LM-81HT and LM-81AM. Measurement has been completed on 16th September 2013, time 11.30-12.30 WIB. The result of the research has shown that innercourt media has an significant role within house. There are significant changes on the first floor, temperature of this floor has decreased to 4°C. On the other hand, on second floor the temperature has decreased to 2°C. And on third floor the temperature is remain the same with the outside of the house. 
PENYEDIAAN PERUMAHAN DAN INFRASTRUKTUR DASAR DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN (STUDI KASUS DI KOTA BANDUNG) Kusumawardhani, Veronica; Sutjahjo, Surjono Hadi; Dewi, Indarti Komala
Nalars Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bandung sebagai salah satu kota metropolitan yang berkembang di Indonesia tidak dapat menghindar dari masalah-masalah yang berkaitan dengan permukiman kumuh. Masalah permukiman kumuh biasanya dikarakteristikan dengan menurunnya kondisi lingkungan seperti masalah keterbatasan ketersediaan air tanah dan polusi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkalkulasi kesenjangan sumber daya dalam hal kuantitas maupun kualitas air dan tanah, bagi masyarakat yang tinggal di daerah kumuh di Kota Bandung yang didasari pada standar pelayanan minimum dan standar kualitas lingkungan serta menentukan bentuk dari infrastruktur dasar seperti penyedia pengganti dari sumber daya alam air dan tanah yang paling tepat. Penelitian ini menetapkan tiga kelurahan yang mewakili tia tipologi kawasan kumuh yaitu, kumuh berat pada Kelurahan Tamansari, kumuh sedang pada Kelurahan Babakan Ciamis, dan kumuh ringan pada Kelurahan Cihargeulis.  Hasilnya menunjukkan bahwa kaitannya dengan kuantitas air pada ketiga kelurahan tersebut dipenuhi dari air tanah dan juga sumber PDAM. Hal ini mengingat bahwa ketersediaan tanah untuk perumahan pada ketiga kelurahan tersebut sudah mencukupi. Sementara bila dikaitkan dengan kualitas air pada ketiga kelurahan, nampaknya kualitas air dari PDAM memenuhi standar lingkungan namun kualitas air dari air tanah tidak memenuhi standar tersebut. Sehingga untuk kualitas tanah dengan mengacu pada Soil Quality Index dari BPS terlihat bahwa indeks kualitas tanah di Kelurahan Tamansari-lah yang paling rendah, dan di Kelurahan Cihargeulis-lah yang paling tinggi. Bentuk dari prioritas infrastruktur pada Kelurahan Tamansari untuk pengadaan air adalah melalui pipa dari PDAM atau pengolahan air permukaan tanah tingkat kelurahan, sementara untuk air buangan adalah MCK untuk “black water” dan instalasi pengolahan air buangan untuk “grey water”. Sementara itu untuk buangan padat adalah merupakan buangan bukan organik dan pengolahan kompos buangan organik serta dari buangan rumah berlantai banyak atau hunian vertikal. Bentuk dari  prioritas infrastruktur dari Kelurahan Babakan Ciamis untuk air adalah sama dengan Kelurahan Tamansari. Sementara itu pada Kelurahan Cihargeulis, prioritas infrastruktur untuk air adalah juga melalui pemipaan PDAM, dan untuk buangan air menggunakan instalasi pengolahan air buangan pada tingkat kota, untuk buangan padat adalah merupakan buangan bukan organik, pengolahan kompos buangan organik dan perumahan horizontal.  Kata Kunci: kumuh, sumber daya alam dan air, standar layanan minimum, standar lingkungan, insfrastruktur dasar permukiman  ABSTRACT. Bandung as one of the growing metropolitan in Indonesia did not escape from the problems of slums emerging. The problem of slums is characterized by such as a decrease in environmental conditions such as lack of raw water availability and pollution. Based oh those facts, this study aimed to calculate the resource gap in terms of quantity and quality of water and land, for people living in the slums in Bandung city based on minimum service standards and environment quality standards, and determining the form of basic infrastructure as a substitute provider of natural resources water and land that most appropriate. The study was conducted in three kelurahan which represent the three typologies of slums that are heavy is Kelurahan Tamansari, moderate is Kelurahan Babakan Ciamis, and light is Kelurahan Cihargeulis.   The results showed that in terms of quantity water in the three kelurahans are met from the ground water and piped water from PDAM.  As for the existing land for housing in the three kelurahans are sufficient. In terms of water quality in the three kelurahans is seen that the quality from PDAM have met the environment standards but the quality from ground water have not.  Then for soil quality with reference to Soil Quality Index of BPS was seen that the Land Quality Index in the Kelurahan Tamansari is the lowest, and Kelurahan Cihargeulis is the highest.  The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Tamansari for water is piping from PDAM or local surface water treatment, for wastewater is MCK Communal for black water and local wastewater instalation treatment plant for grey water, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, and multistorey housing.  The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Babakan Ciamis for water is piping from PDAM, for wastewater is MCK Communal for black water and local wastewater instalation treatment plant for grey water, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, and multistorey housing. The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Cihargeulis for water is piping from PDAM, for wastewater is city level wastewater installation treatment, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, landed housing Keywords: Slums, water and natural resources of land, minimum service standards, environmental standards, the basic infrastructure of the settlements

Page 2 of 35 | Total Record : 349


Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue