cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
PAWIYATAN
Published by IKIP Veteran Semarang
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 21 No 1 (2014)" : 12 Documents clear
Implementasi Kebijakan Ujian Nasional Di SMA Kota Semarang Zusrotin, Ag. Sutriyanto Hadi, Sri Sayekti,
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ujian Nasional secara khusus diperuntukkan bagi jenjang pendidikan dasar SD/MI dan menengah yakni SLTP dan SLTA. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 58 ayat 1 menyebutkan evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh guru. Ujian nasional bagi siswa sendiri sampai saat ini merupakan momok yang paling menakutkan, khususnya bagi siswa kelas III. Semakin tinggi standar nilai kelulusan yang ditetapkan pemerintah membuat siswa merasa takut dan tertekan untuk mengikuti ujian nasional. Permasalahan yang dikaji yaitu bagaimana implementasi kebijakan ujian nasional di SMA Kota Semarang?. Sedangkan pendekatan penelitian menggunakan pendekatan etnografi. Teknik analisis menggunakan analisis kualitatif, dengan tahapan: (1) reduksi data, (2) sajian data, (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil analisis menunjukkan Implementasi kebijakan Ujian Nasional (UN) untuk Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) di Kota Semarang tahun pelajaran 2012/2013 telah berjalan dengan lancar, tertib dan dapat mencapai target atau sasaran. Pelaksanaan Ujian Nasional telah sesuai dengan ketentuan yang digariskan dan prosedur operasional standar (POS) yang diterbitkan oleh BSNP, sebagai tindakan lanjut dari Permendiknas RI Nomor 45 tahun 2006 tentang Ujian Nasional tahun pelajaran 2012/2013. Faktor yang mendukung implementasi kebijakan Ujian Nasional untuk SMAN di Kota Semarang adalah sumber-sumber dalam hal ini adalah staf-staf cukup yang mau dan mampu untuk melaksanakan Ujian Nasional sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan.Kata Kunci : Ujian Nasional
Kreatifitas Guru Paud Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Sopiah, Cucu
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kreativitas Guru PAUD sebagai faktor penting dalam pembelajaran pada PAUD mempengaruhi proses pembelajaran. Berbagai faktor dan bagaimana perkembangan kreatifitas itu terbentukagar kreativitas guru dapat ditingkatkan perlu dikaji. Metoda penelitian kualitatf memberikan analisis mendalam terhadap terbentuknya kreativitas guru dan pengkajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut antara lain faktor internal dan eksternal dari Guru PAUD, adapun yang menjadi aspek kreatifitas Guru PAUD dalam kegiatan pembelajaran adalah fluency, flexibility, originality, dan redifination. Semua aspek tersebut ikut mempengaruhi bagaimana kreativitas Guru PAUD dalam kegiatan proses belajar mengajar. Keterbukaan seorang guru PAUD harus lebih terbuka dengan pengetahuan yang baru, agar dapat mengetahui informasi-informasi terbaru yang dapat diaplikasikan untuk KBM, selain itu Guru PAUD juga harus memiliki keyakinan diri yang baik pada setiap karyanya yang menjadikan Guru PAUD lebih percaya diri pada hasil yang dia buat sendiri, kemampuan bereksplorasi juga diperlukan agar dapat memperoleh prodak yang baru dalam KBM dengan membuat hasil karya yang baru dalam bentuk media, metode dan cara penanganan pada anak saat proses KBM, penghargaan psikologis yang diberikan kepala sekolah dan lingkungan diperlukan bagi Guru PAUD agar dapat meningkatkan kreativitasnya dalam KBM, selain itu pemberian waktu dan dorongan yang penuh untuk bereksplorasi dengan berimajinasi sangat diperlukan untuk Guru PAUD agar dapat menghasilkan ide dan gagasan baru dalam KBM.Kata Kunci : Kreativitas Guru, Kegiatan belajar Mengajar
Penanggulangan Narkoba Di Kalangan Remaja Rejeki, Sri
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Narkoba merupakan obat, bahan, atau zat dan bukan tergolong makanan jika diminum, diisap, dihirup, ditelan atau disuntikkan, berpengaruh terutama pada kerja otak (susunan syaraf pusat), dan sering menyebabkan ketergantungan. Akibatnya kerja otak berubah, demikian juga fungsi vital organ tubuh lain ( jantung, peredaran darah, pernapasan dan lainnya). Dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba sudah terbukti pada generasi muda seperti kerusakan fisik (otak, paru-paru, jantung, syaraf-syaraf, gangguan mental, emosional dan spiritual, akibat lebih lanjut adalah daya tahan tubuh lemah. Remaja merupakan usia transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa. Usia ini sangat rentan dengan pengaruh dari luar termasuk penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu arahan dan bimbingan dari orang tua sangat dibutuhkan agar remaja terhindar dari penggunaan narkoba. Kualitas bangsa dimulai dari kualitas keluarga, oleh karena itu kesadaran para orang tua untuk menjaga anak-anaknya terutama remaja dari pencemaran akibat narkoba sangat signifikan. Upaya penanggulangan narkoba di kalangan remaja menjadi tanggung jawab bersama keluarga, sekolah dan masyarakat.Kata Kunci : Penyalahgunaan narkoba, Remaja
Evaluasi Pemukiman Dan Perumahan Kumuh Berbasis Lingkungan Di Kel. Kalibanteng Kidul Kota Semarang to, Supar
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan hutan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan. Pemukiman berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri-kehidupan dan penghidupan (UU RI No. 4/1992). Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian yang dilengkapi dengan prasarana lingkungan yaitu kelengkapan dasar fisik lingkungan, misalnya penyediaan air minum, pembuangan sampah, listrik, telephon, jalan, yang memungkinkan lingkungan pemukiman berfungsi sebagaimana mestinya; dan sarana lingkungan yaitu fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan serta pengembangan kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya, seperti fasilitas taman bermain, olah raga, pendidikan, pertokoan, sarana perhubungan, keamanan, serta fasilitas umum lainnya. Perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan sebagai faktor yang dapat meningkatkan standar kesehatan penghuninya. Konsep tersebut melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor resiko yang berorientasi pada lokasi, bangunan, kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan dan pemeliharaan rumah dan lingkungan di sekitarnya, serta mencakup unsur rumah tersebut memiliki penyediaan air minum dan sarana yang memadai untuk memasak, mencuci, menyimpan makanan, serta pembuangan kotoran manusia maupun limbah lainnya (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001). Kawasan pemukiman di dominasi oleh lingkungan hunian dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, tempat bekerja yang memberi pelayanan dan kesempatan kerja terbatas yang mendukung peri-kehidupan dan penghidupan. Satuan lingkungan pemukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan terstuktur yang memungkinkan pelayanan dan pengelolaan yang optimal.Kata Kunci : Pemukiman dan Perumahan, Berbasis Lingkungan
Pengelolaan Sumber Daya Air Samidjo, Jacobus
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dan semua makhluk membutuhkan air sebagai salah satu sumber kehidupan. Dengan kata lain air merupakan material yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan dibumi. Bentuk kepentingan manusia dan kepentingan komersial lainnya ketersediaan air dari segi kualitas dan kuantitas mutlak diperlukan. untuk mencapai terbentuknya kelestarian sumberdaya air diperlukan pengelolahan sumberdaya air yang baik guna mewujudkan pendayagunaan sumberdaya air yang optimal dengan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat secara adil, merata dan berkelanjutan. Pertanyaannya adalah bagaimana sistem pengelolaan sumberdaya air. Karena itu pengelolaan sumberdaya air memerlukan pendekatan yang integrative, komprehensif dan holistik yakni hubungan timbal balik antara teknik, sosial dan ekonomi serta harus berwawasan lingkungan agar terjaga kelestariannya.Kata Kunci : Bagaimana sistem pengelolaan sumberdaya air
Analisis Dan Simulasi Dengan Program Win-Gen (Strategi Dalam Mengkonstruk Instrumen Soal) Setiawan, Risky
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengetahui pengaruh N (jumlah peserta) terhadap kestabilan parameter estimate, 2) mengetahui pengaruh model terhadap kestabilan item dan parameter estimasi fix N n respons, 3) Pengaruh N (jumlah peserta) dan n (jumlah butir soal) terhadap kestabilan item parameter dan examinee estimate, dan 4) mengetahui pengaruh N (jumlah peserta), n (jumlah butir) dan model (1PL, 2PL, 3PL) terhadap kestabilan item parameter (b). Metode penelitian yang digunakan adalah permodelan dengan menggunakan teknik simulasi data guna menghasilkan replikasi menurut kriteria yang diinginkan. Pemilihan item tes dalam prosedur pengembangan tes menggunakan CTT didasarkan pada: (a) nilai kesukaran item, dan (b) korelasi skor item dan skor total atau disingkat korelasi item-total. Item yang memiliki korelasi item-total paling tinggi dipakai sebagai elemen suatu tes untuk membentuk suatu skala dengan konsistensi internal tinggi guna memperkecil sumbangan error acak skor-skor tes. Program yang digunakan adalah Win-Gen (Han Software) yang berfungsi untuk melakukan simulasi data dengan menyusun spesifikasi N, n, tingkat kemampuan, dan model parameter pengukuran dengan membuat replikasi yang akan kita inginkan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa untuk memaksimalkan nilai estimasi theta (θ) yang tinggi maka perlu melihat dari besar N (peserta), n (butir) dan model yang digunakan (1PL, 2PL atau 3PL) sehingga dapat menjadi sebuah instrumen yang baik dan teruji secara empiris.Kata Kunci : peserta, butir, examinee estimate, parameter test
Pengaruh Praktek Kerja Industri ( Prakerind ) Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Teknik Otomotif Kendaraan Ringan Di SMK Negeri 10 Semarang Suwignyo, Joko
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah Menengah Kejuruan adalah sekolah yang mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi pasar kerja, PRAKERIND adalah sistem pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan oleh SMK untuk mewujudkan hasil belajar siswa dengan industri, dari hasil diskusi dan pengamatan dengan Ketua Program Studi TOKR beserta guru pembimbing PRAKERIND, siswa kelas XI TOKR SMK Negeri 10 Semarang Tahun Pelajaran 2011 / 2012 masih dalam kategori rendah, sehingga penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui pengaruh antara Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) terhadap Motivasi Belajar pada Siswa Kelas XI Teknik Otomotif Kendaraan Ringan di SMK Negeri 10 Semarang Tahun Ajaran 2012/2013, sehingga hasil dari penelitian yang dilakukan ini supaya dapat meningkatkan serta mengembangkan proses pembelajaran Tahun Ajaran selanjutnya. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 82 siswa. Sehingga Penetuan jumlah sampel yang digunakan berdasarkan tabel krejcie dan morgan adalah 82 siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif karena penelitian ini mengunakan data nilai PRAKERIND dan angket kuesioner PRAKERIND (variabel X) dan angket kuesioner Motivasi Belajar (variabel Y), Hasil angket PRAKERIND dan Motivasi Belajar sebanyak 82 siswa yang menjawab baik yaitu sebesar 54,8% sedangkan angket Motivasi Belajar yaitu sebesar 66,9%. Dengan demikian apabila nilai PRAKERIND tinggi maka Motivasi Belajar siswa juga akan tinggi, begitu juga sebaliknya apabila nilai PRAKERIND rendah maka Motivasi Belajar siswa akan rendah juga. Berdasarkan hasil uji regresi variabel Praktek Kerja Industri menunjukkan ada pengaruh positif variabel Praktek Kerja Industri terhadap Motivasi Belajar, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,200.hasil tersebut mengidentifikasikan semakin baik PRAKERIND, maka Motivasi Belajar akan semakin meningkat. Sedangkan hasil uji hipotesis (uji t) diperoleh nilai signfikansi t sebesar 0,000 lebih rendah dari 0,05 (Ü = 5%) yang menunjukkan Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga hipotesis yang menyatakan “ ada pengaruh Praktek Kerja Industri terhadap Motivasi Belajar siswa kelas XI Teknik Otomotif Kendaraan Ringan di SMK Negeri 10 Semarang” dapat diterima. Berdasarkan hasil Hasil Uji koefisien determinasi (R square) menunjukkan bahwa nilai PRAKERIND dan Motivasi Belajar siswa sebesar 0,298. Bahwa hasil tersebut menunjukkan pengaruh hasil PRAKERIND terhadap Motivasi Belajar siswa sebesar 29,8%. Sedangkan selebihnya 70,2%, (100% - 29,8% = 70,2%) dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti, Misalnya Motivasi Belajar, keadaan keluarga, fasilitas dan lain-lain. Maka disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima artinya bahwa secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara prakerin terhadap motivasi belajar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini adalah terdapat pengaruh Praktek Kerja Industri (PRAKERIND) terhadap Motivasi belajar siswa kelas XI Teknik Otomotif Kendaraan Ringan di SMK Negeri 10 Semarang.Kata Kunci : Prakerind dan Motivasi Belajar
Kepercayaan Diri Anak TK Yang Berasal Dari Kelompok Bermain dan Yang Tidak Berasal Dari Kelompok Bermain Di TK Belia Semarang Sri Redjeki, Khasanah,
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan kelompok bermain memiliki peranan yang cukup penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Kegiatan pada kelompok bermain seharusnya memiliki ciri-ciri kegiatan bermain, dengan demikian anak-anak akan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. Salah satu tujuan kelompok bermain adalah untuk menyiapkan anak memasuki lembaga formal Taman Kanak-Kanak, maupun di lembaga dasar. Di dalam kelompok bermain, anak-anak dilatih dan dimatangkan kondisi psikis, rohani, intelektual dan kepribadiannya serta tingkah laku dan stabilitasnya. Salah satu kepribadian yang terbentuk adalah kepercayaan diri anak. Dengan kepercayaan diri ini anak akan dapat melaksanakan tugas-tugas di TK dengan lancar dan tak tergantung pada orang lain. Bervariasinya kepercayaan diri pada anak TK Belia Semarang yang mempunyai jumlah siswa sebanyak 41 anak membuat peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut. Anak-anak yang masuk ke TK adalah anak-anak yang dahulunya pernah masuk di kelompok bermain. Namun juga banyak yang tidak berasal dari kelompok bermain, pastinya mereka langsung memasuki TK tanpa dengan pendidikan anak usia dini sebelumnya. Atas dasar hal tersebut di atas peneliti tertarik untuk mengetahui kepercayaan diri mereka baik yang berasal dari kelompok bermain maupun yang bukan berasal dari kelompok bermain. Dari hasil penelitian sebanyak 41 anak diperoleh data sebagai berikut: terdapat 27% anak kepercayaan dirinya tinggi, 63% anak kepercayaan diri anak cukup, 10% kepercayaan diri anak sedang dan tidak terdapat kepercayaan diri rendah (0%). Dari 27% anak yang kepercayaan dirinya tinggi, sebagian besar berasal dari kelompok bermain. Dengan uji T-Test diperoleh perbedaan yang signifikan kepercayaan diri anak antara yang berasal dari kelompok bermain dan yang bukan berasal dari kelompok bermain. Artinya anak-anak yang berasal dari kelompok bermain kepercayaan dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang bukan berasal dari kelompok bermain. Oleh karena itu digunakan angket untuk mengetahui kepercayaan diri anak, dimana guru-gurulah yang mengisi atau mengevaluasi anak-anak tersebut. Atas dasar hasil penelitian tersebut, disarankan bahwa pada orang tua untuk memasukkan pendidikan anak sejak usia dini lewat jalur-jalur pendidikan yang tersedia seperti TPA, kelompok bermain dan sebagainya, sebelum anak dimasukkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Sebab pemberian rangsangan belajar sejak dini memungkinkan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang lebih baik. Di samping guru yang berperan untuk membantu anak mewujudkan rasa percaya diri mereka, orang tua anak juga harus bertanggung jawab untuk tercapainya kepercayaan diri anak. Mengingat hasil penelitian ini baru mengupas sedikit tentang kepercayaan diri anak, maka menjadi rujukan bagi peneliti lain untuk mengupas lebih dalam lagi tentang kepercayaan diri anak agar diperoleh masukan yang komprehensif.Kata Kunci : kepercayaan diri, kelompok bermain
Implementai Pembinaan Teritorial Dalam Penanggulangan Kemiskinan Apriyanto, Nuraedhi
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-Undang RI No. 34 Tahun 2004 tentang TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Dalam Pasal 8, salah satu tugas Angkatan Darat adalah “Melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat” atau yang dikenal dengan pembinaan teritorial. Pembinaan teritorial yang pada hakekatnya merupakan setiap usaha dan kegiatan menumbuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dengan meningkatkan kepekaan dan daya tangkal setiap ancaman terhadap NKRI. Pembinaan teritorial semestinya juga ikut membuat masyarakat sadar akan berbangsa dan bernegara yang baik. Dalam kondisi sekarang, pembinaan teritorial merupakan alat sistem pertahanan dan keamanan untuk membina agar rakyat waspada terhadap ancaman-ancaman instabilitas. Fungsi teritorial melekat dengan tentara. Salah satu ancaman instabilitas adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan merupakan potensi ancaman yang berkembang di masyarakat khususnya ancaman dari sumber daya manusia (SDM) yang berakibat ancaman bagi keutuhan Bangsa dan Negara yang harus diperangi oleh seluruh masyarakat. Implementasi Binter Dalam Penanganan Kemiskinan Melalui Kebijakan Pemerintah. Kebijakan yang ditempuh Provinsi Jawa Tengah dalam rangka penanggulangan kemiskinan yang disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah pada acara rakor Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) tanggal 15 Nopember 2010 mencakup: (1)Kebijakan ekonomi, (2)Kebijakan perluasan kesempatan kerja dan berusaha, (3)Kebijakan pengurangan kesenjangan antar wilayah, (4)Kebijakan pemenuhan hak dasar. Target implementasi binter dalam penanggulangan kemiskinan adalah tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dengan meningkatkan kepekaan dan daya tangkal setiap ancaman terhadap keutuhan NKRI. Dalam hal ini kemiskinan merupakan salah satu bentuk potensi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan (AGHT) yang berkembang di masyarakat yang mempengaruhi ketahanan wilayah. Untuk mewujudkan target tadi tidak bisa lepas dari target pengentasan kemiskinan itu sendiri. Sasaran implementasi binter dalam penanggulangan kemiskinan adalah pelaku dan pemanfaat langsung penanggulangan kemiskinan, khususnya untuk PNPM-MP di tingkat Kabupaten/Kota sasarannya Kelompok Belajar Perkotaan (KBP), sedangkan ditingkat masyarakat sasarannya angggota BKM/LKM, relawan, Kelompok swadaya Masyarakat (KSM). Sedangkan sasaran penanggulangan kemiskinan sendiri. Monitoring/pemantauan dan evaluasi penanggulangan kemiskinan dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang kondisi kemiskinan dan kinerja kebijakan/program secara obyektif dan sistematik. Monitoring/pemantauan dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam penanggulangan kemiskinan, baik institusi pemerintah maupun non pemerintah, di pusat maupun di daerah termasuk dalam hal ini TNI. Hasil monitoring/pemantauan dan evaluasi oleh berbagai pihak harus diverifikasi dan dikonsolidasi agar menghasilkan informasi yang akurat dan sistematis. Diharapkan dengan monev partisipatif masyarakat dapat tumbuh kesadaran dan partisipasinya yang dapat meningkatkan kepekaan dan daya tangkal setiap ancamanterhadap keutuhan NKRI.Kata Kunci : NKRI, kemiskinan, territorial
Meningkatkan Pemberdayaan Dan Partisipasi Masyarakat Dalam Mewujudkan Masyarakat Yang Semakin Sejahtera Di Jawa Tengah Sarsetyono, Y.
PAWIYATAN Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengurangi tingkat kemiskinan pada hakekatnya untuk mewujudkan masyarakat yang semakin sejahtera dan merupakan tugas bersama tidak hanya tugas Pemerintah saja. Namun perlu kerjasama yang baik dan konsisten antara pemerintah pusat dan daerah agar program penanggulangan kemiskinan bisa terus berlanjut dari waktu ke waktu. Pemerintah daerah juga dituntut makin responsif agar bisa mereplikasi program penanggulangan kemiskinan. Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, Pemerintah menerbitkan Perpres Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. Dalam perpres tersebut, telah ditetapkan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang dikonsolidaasikan menjadi 3 kelompok program penanggulangan kemiskinan, yaitu :ï‚· Kelompok Program Berbasis Bantuan dan Perlindungan Sosialï‚· Kelompok Program Berbasis Pemberdayaan Masyarakatï‚· Kelompok Program Berbasis Pemberdayaan Usaha Mikro dan KecilPada kelompok program berbasis pemberdayaan masyarakat, pendekatan pemberdayaan masyarakat selama ini telah banyak diupayakan melalui berbagai kegiatan pembangunan sektoral maupun regional. Namun berbagai kegiatan itu masih dianggap kurang efektif dan dilaksanakan secara parsial dan tidak berkelanjutan, sehingga digulirkanlah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri oleh Presiden RI pada tanggal 30 April 2007 di kota Palu, Sulawesi Tengah. Ada 2 program inti salah satu Program intinya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan. Salah satu strategi dasar dalam PNPM Mandiri Perkotaan adalah menciptakan sustainibility development atau pembangunan berkelanjutan dalam hal penanggulangan kemiskinan. Agar hal itu terwujud, dibutuhkan sejumlah langkah agar pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perkotaan mampu mengintegrasikan perannya dengan program pemberdayaan lainnya.. Dan dalam pelaksanaan PNPM-Mandiri Perkotaan baik yang program Reguler, Paket, maupun program PLP-BK/ND dintegrasikan dengan prinsip: (1) Desentralisasi, (2) Keterpaduan, (3) Efektif dan Efisien, (4) Partisipatif, (5) Transparasi dan Akuntabel, (6) Keberlanjutan. Sedangkan unsur-unsur yang diintegrasikan adalah: (1) Nilai/Prinsip, (2) Mekanisme Pengambilan Keputusan, (3) Mekanisme Proses Perencanaan, (4) Mekanisme Pengelolaan Kegiatan, (5) Mekanisme Pertanggungjawaban, (6) Pelaku. Peningkatkan pemberdayaan dan partisipasi masyarakat perlu dilakukan beberapa langkah/kegiatan yang dilakukan dengan pendekatan struktural dan kultural. Pendekatan struktural dan kultural ini implementasinya dapat dilakukan secara struktural di tingkat Kabupaten/Kota dan tingkat Kelurahan/Desa, sedangkan pendekatan kultural mengikuti sesuai kultural/budaya lokal.Kata Kunci : pemberdayaan masyarakat, kemiskinan, partisipasi

Page 1 of 2 | Total Record : 12