cover
Contact Name
persona
Contact Email
jurnalpersona@untag-sby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpersona@untag-sby.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Persona: Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : 23015985     EISSN : 26155168     DOI : -
Persona: Jurnal Psikologi Indonesia is a peer-reviewed journal, published by Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Persona Journal was first published in 2012. At first this journal was published three times a year. Starting in 2017 this journal is only published twice a year, in June and December
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 2 (2019): Desember" : 10 Documents clear
Pelatihan empati sebagai upaya mengurangi perilaku perundungan pada siswa SMP Lika, Lika
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2365

Abstract

AbstractBullying tends to intensify during middle school years, especially amongst students who grew up in harsh environments and were exposed to negative behaviors in their formative years. This research is aimed at assessing the effectiveness of school-based empathy training in preventing bullying behaviors in middle school students. A sample of 25 students was selected using a purposing sampling technique. The two days training was split into six sections i.e. introduction The same group of students was given Pre and Post empathy training evaluation. The two days training consisted of six sections starting from the introduction of the program, baseline assessment, intervention, post-test, playing of video and a closing discussion. Evaluation of the training effectiveness was held a month after the training. The statistical study of pretest and posttest Empathy Training, pretest, and posttest Bullying questionnaires, using Wilcoxon Signed Ranks. The finding indicated that Empathy training resulted in a change of insight and improvement in bullying tendencies.Keywords: Behavior; Empathy training; Bullying  AbstrakFenomena perundungan di lingkungan sekolah, umumnya dilatarbelakangi oleh paparan perilaku agresi (verbal dan Fisik) yang sering dialami sebelumnya oleh pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan empati dalam mengurangi perilaku perundungan pada remaja di lingkungan sekolah. Subjek penelitian terdiri dari 25 orang siswa/i yang diperoleh berdasarkan teknik purposive sampling. Perlakuan diberikan selama 2 hari, terdiri dari 6 sesi, yaitu sesi pembukaan, perkenalan, menjelaskan tahapan pelatihan, pengukuran awal, pemberian materi, pretest dan posttest,  pemutaran video dan diskusi. Evaluasi terhadap perubahan perilaku dilakukan sebulan setelah pelatihan diberikan. Uji statistik Pretest dan Posttest Materi Pelatihan Empati serta Pretest dan Posttest skala perundungan dengan menggunakan Tes Wilcoxon Signed Ranks. Hasil menunjukkan terjadinya peningkatan pemahaman peserta mengenai perilaku perundungan serta penurunan kecenderungan memunculkan perilaku perundungan setelah mengikuti pelatihan empati. Kata Kunci: Perundungan, Perilaku, Pelatihan Meningkatkan Empati. 
Cognitive-Behavioral Anger Management Training (CB-AMT) untuk menurunkan perilaku agresi pada remaja awal Sari, Atika Permata
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2787

Abstract

AbstractOvercoming anger in children and adolescents becomes a challenge considering children and adolescents cannot yet understand and manage anger. Most of teenagers tend to manifest anger in the form of aggressive behavior. The purpose of this study is to determine the effectiveness of cognitive behavior anger management training (CB-AMT) on increasing anger management related knowledge and reducing aggression in junior high school students identified as having aggression behavior problem. The study design was one group pretest-posttest with a total of six participants consists of two girls and four boys. Each participant was identified as being in borderline clinical range in the aspect of aggression using child behavior checklist (CBCL). Participants attended three sessions of training with duration ranging from 120-150 minutes each. Statistical analysis using Wilcoxon showed that there is an increase in knowledge right after training. One month after the training, all participants experienced a decrease in aggression scores based on CBCL. Four participants experienced a change in category from the borderline clinical range to normal range. CB-AMT effective in increasing anger manager related knowledge and reducing aggression in junior high school students. Keywords: Aggression; Cognitive Behavioral Anger Management Training (CB-AMT); Early adolescence  Abstrak Mengatasi rasa marah pada anak-anak dan remaja menjadi suatu tantangan mengingat anak-anak dan remaja belum memiliki kemampuan untuk memahami dan mengatur rasa marah. Mayoritas remaja cenderung mewujudkan rasa marah dalam bentuk perilaku agresi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan cognitive behavioral anger management training (CB-AMT) dalam meningkatkan pengetahuan yang berhubungan dengan anger management dan menurunkan perilaku agresi siswa SMP yang teridentifikasi memiliki permasalahan perilaku agresi. Penelitian ini merupakan penelitian one group pretest-posttest dengan partisipan sebanyak enam orang yang terdiri atas dua orang perempuan dan empat orang laki-laki. Seluruh partisipan teridentifikasi berada pada borderline clinical range pada aspek agresi menggunakan pengukuran CBCL. Partisipan mengikuti tiga sesi pelatihan dengan durasi masing-masing berkisar antara 120 – 150 menit. Analisis statistik menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan tepat setelah mengikuti pelatihan. Satu bulan setelah pelatihan diberikan diketahui seluruh partisipan mengalami penurunan skor agresi berdasarkan pengukuran CBCL. Empat dari enam partisipan mengalami perubahan rentang agresi menjadi normal range setelah sebelumnya berada pada borderline clinical range. CB-AMT terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan berhubungan dengan anger management dan menurunkan perilaku agresi pada siswa SMP. Kata kunci: Agresi; Cognitive Behavioral Anger Management Training (CB-AMT); Remaja awal
Kontrak psikologis terhadap commitment to change: Resiliensi akademik sebagai variabel mediasi sari, juwita; Suhariadi, Fendy
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2535

Abstract

AbstractChanges to regulations for publications are one of the policies towards world-class universities. This study discusses the variables that are able to influence the commitment to change students, with the aim that students committed to changes. In more detail, this journal discusses the relationship of psychological contracts to a commitment to change with academic resilience as mediation. The research method in this study is a quantitative method. The questionnaire was distributed using random sampling techniques and answers from 100 participants obtained implemented using SEM (Structure Equation Modelling) with the Smart PLS 3. The conclusion is: (1) psychological contracts have a positive and significant effect on commitment to change, (2) psychological contracts that are positive and significant to academic resilience, (3) academic resilience positive and significant to commitment to change, (4) academic resilience mediates the relationship between psychological contracts and commitment to change. That means, to increase student commitment to changes in regulations, stakeholders in higher education, can make a stronger psychological contract and assist students in increasing their academic resilience.Keywords: Psychological Contract, Academic Resilience, Commitment to Change, High Education AbstrakPerubahan peraturan terkait publikasi merupakan salah satu kebijakan perguruan tinggi menuju world class university. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel yang mampu mempengaruhi commitment to change mahasiswa, dengan tujuan agar mahasiswa tetap commit pada perubahan peraturan tersebut. Lebih detail, studi ini menguji hubungan kontrak psikologis terhadap commitment to change dengan resiliensi akademik sebagai mediasi.  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Kuesioner disebarkan menggunakan teknik random sampling dan jawaban dari 100 partisipan yang didapat dianalisis menggunakan SEM (Structure Equation Modelling) dan bantuan program Smart PLS 3. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa (1) kontrak psikologis berpengaruh positif dan signifikan terhadap commitment to change, (2) kontrak psikologis berpengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi akademik, (3) resiliensi akademik berpengaruh positif dan signifikan terhadap commitment to change, (4) resiliensi akademik memediasi hubungan antara kontrak psikologis dan commitment to change. Artinya, untuk meningkatkan komitmen mahasiswa terhadap perubahan peraturan, pemangku kepentingan di perguruan tinggi dapat membentuk kontrak psikologis yang kuat dengan mahasiswa serta membantu mahasiswa dalam meningkatkan resiliensi akademik mereka.Kata Kunci: Kontrak psikologis, resiliensi akademik, commitment to change, perguruan tinggi. 
Temperamen dan praktik pengasuhan orang tua menentukan perkembangan sosial emosi anak usia prasekolah Kusramadhanty, Meilita
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2794

Abstract

Abstract Socioemotional development is important for children to develop their own potential, cognitive development, support school readiness and academic success. This study aims to analyze the child’s temperament, parent’s parenting practices to children’s socioemotional development aged 5-6 years. This study used a quantitative survey approach.  Samples in this study were 100 children and their mothers from 6 kindergartens in Depok City. Samples were chosen by using a convenient sampling method with criteria that mothers would be a sample of research. The collected data was analyzed using a structural equation model with Smart PLS 6.0. The instruments used in this study were the mother's and father's parenting practice questionnaire, EAS temperament questionnaire, and social-emotional development questionnaire. The results of the study showed that a child’s socioemotional development is affected positive significant by the mother’s parenting practice, father’s parenting practice, and also children’s temperament. This study also showed that a father’s parenting practice provides positive significant to the mother’s parenting practice and child’s temperament. Keywords:  Children; Parenting practice; Socioemotional development; Temperaments Abstrak                Perkembangan sosial dan emosi penting dicapai anak untuk mengembangkan potensi diri anak, meningkatkan perkembangan kognitif, mendukung kesiapan sekolah dan keberhasilan akademik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh temperamen anak dan praktik pengasuhan orang tua terhadap perkembangan sosial emosi anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan survey kuantitatif. Sampel pada penelitian ini adalah 100 pasang anak prasekolah dan ibunya yang berasal dari 6 TK di Kota Depok. Sampel dipilih menggunakan metode convenient sampling dengan kriteria ibu bersedia menjadi sampel penelitian. Data dianalisis menggunakan smart PLS 6.0. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner praktik pengasuhan ibu dan ayah, kuesioner temperamen EAS, dan kuesioner perkembangan sosial emosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan sosial emosi anak dipengaruhi secara positif signifikan oleh praktik pengasuhan ibu, praktik pengasuhan ayah, dan temperamen anak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa praktik pengasuhan ayah memberikan pengaruh positif signifikan terhadap praktik pengasuhan ibu dan temperamen anak.Kata kunci:  Anak; Perkembangan sosial emosi; Praktik pengasuhan; Temperamen
Kecerdasan emosi sebagai prediktor resiliensi psikologis pada remaja di panti asuhan Apriani, Fitri; Listiyandini, Ratih Arruum
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2248

Abstract

AbstractYoung people living in social institutions are more vulnerable to have mental health problems. Thus, they need to have psychological resilience, which is the ability to thrive in the face of adversity. The aim of the study is to investigate how much emotional intelligence can predict the psychological resilience of adolescents living at social institutions (orphanage).  Research used quantitative approach and correlational design. In this study, by using purposive sampling technique, 145 adolescents aged 11 - 18 years living at orphanage around Jakarta were participated. Adaptation of resilience scale from Connor & Davidson was used to measure the psychological resilience and the scale of emotional intelligence was an adapted scale from theory of Salovey and Mayer. Both adapted scale shown good reliability index indicated that they can use to measure the variables consistently. The statistical analysis using linear regression test indicate that emotional intelligence can predict psychological resilience significantly and positively. It is implied that emotional intelligence is being an important factor for resilience development among orphanage youth. Thus, it is imperative to cultivate emotional intelligence aspects in resilience building program for young people living in social shelters. Keywords : Adolescents; Emotional intelligence; Orphanage; Resilience AbstrakRemaja di panti asuhan rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, mereka membutuhkan resiliensi psikologis, yaitu kemampuan untuk bisa bangkit dari masalah yang dihadapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana kecerdasan emosional dapat menjadi prediktor dari resiliensi psikologis pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Menggunakan teknik sampling purposive, sebanyak 145 orang remaja berusia 11 – 18 tahun yang tinggal di panti asuhan yang ada wilayah sekitar Jakarta dilibatkan dalam penelitian ini. Adaptasi skala resiliensi dari Connor dan Davidson dan skala kecerdasan emosional berdasarkan teori Salovey dan Mayer untuk mengukur kecerdasan emosional digunakan di dalam penelitian ini. Kedua skala yang diadaptasi menunjukkan reliabilitas yang baik sehingga layak digunakan. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji regresi sederhana menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosional menjadi prediktor yang signifikan terhadap resiliensi psikologis secara signifikan dan positif Hasil ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional menjadi faktor yang penting dalam peningkatan resiliensi psikologis remaja panti asuhan. Oleh karena itu, perlu untuk menumbuhkan aspek-aspek yang menyusun kecerdasan emosional di dalam program pengembangan resiliensi psikologis pada remaja yang tinggal di panti asuhan.Kata kunci : Kecerdasan emosi; Panti asuhan; Remaja; Resiliensi
Faktor yang menjadi hambatan untuk mencari bantuan psikologis formal di kalangan mahasiswa Rasyida, Afinnisa
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2586

Abstract

Abstract In spite of the fact that mental health problems are increasingly prevalent among college students, they are often disinclination to seek help from formal psychological services. There is a lack of empirical studies focusing specifically on college students’ barriers to seeking psychological help in Indonesia. This study aims to identify the factors that prevent college students from seeking psychological help at formal psychology service providers. Participants in this study were 205 college students who were obtained using purposive sampling techniques. College students are given a Willingness to Seek Professional Counseling scale at Outside the University (WSPCO) to identify factors that prevent them from seeking psychological help. Data were analyzed using descriptive statistics. The results of this study showed that there were three main factors that make students reluctant to seek psychological help from providers such as the students who do not know which counseling services are good, students have family or friends who can help, and students feel that the problem is still not serious. By knowing these barriers, formal psychological services need to add information about the services, especially the place, forms of services, and professional that capable of mental health problems to meet the public’s understanding of formal psychological services. Keywords: Barriers to seek psychological help; College student; Indonesia; Mental health; Psychological help-seeking. AbstrakTerlepas dari kenyataan bahwa masalah kesehatan mental semakin banyak terjadi di kalangan mahasiswa, mahasiswa sering enggan mencari bantuan psikologis pada penyedia layanan psikologi formal. Studi empiris yang berfokus pada hambatan mahasiswa untuk mencari bantuan psikologis di Indonesia masih jarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat mahasiswa untuk mencari bantuan psikologis pada penyedia layanan psikologi formal. Partisipan pada penelitian ini adalah 205 mahasiswa yang didapatkan melalui teknik purposive sampling. Mahasiswa diberikan skala Willingness to Seek Professional Counseling Outside the University (WSPCO) untuk mengidentifikasi faktor yang menghambat mahasiswa mencari bantuan psikologis pada penyedia layanan psikologi formal. Data yang telah didapat lalu dianalisis menggunakan statistika deskriptif. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa tiga faktor utama yang membuat mahasiswa enggan untuk mencari bantuan psikologis pada penyedia layanan psikologis formal adalah mahasiswa tidak tahu mana layanan konseling yang baik, mahasiswa memiliki keluarga atau teman yang dapat menolong, dan mahasiswa merasa selama ini masalah masih kurang serius. Dengan mengetahui faktor penghambat ini maka layanan psikologis formal perlu menambah informasi mengenai layanan khususnya tempat layanan, bentuk layanan, dan tenaga ahli yang dapat menangani masalah kesehatan mental untuk memenuhi pemahaman masyarakat atas bantuan layanan psikologis formal. Kata kunci: Bantuan psikologis; Hambatan dalam mencari bantuan psikologis; Indonesia; Kesehatan mental; Mahasiswa.
Kemandirian belajar ditinjau dari kepercayaan diri Simatupang, Juni Erlina
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2275

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between self-confidence and learning independence. This research was conducted on 233 students of Cahaya Medan High School who were selected using the disproportionate stratified random sampling method and the scale used was a scale to measure self-confidence and learning independence. The calculation is done through an analysis prerequisite test (assumption test) which consists of a normality test and a linearity test. The data analysis used is Product Moment correlation through SPSS 17 for Windows. Besides self-confidence, learning independence is influenced by other factors such as learning motivation, self-concept and democratic parenting of parents. So it can be concluded that the hypothesis is accepted, namely, there is a positive relationship between self-confidence and learning independence.Keywords: Self-confidence; Learning independence Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan kemandirian belajar. Penelitian ini dilakukan terhadap 233 orang siswa-siswi SMA Cahaya Medan yang dipilih dengan menggunakan metode disproportionate stratified random sampling dan skala yang digunakan yaitu skala untuk mengukur kepercayaan diri dan kemandirian belajar. Perhitungan dilakukan dengan melalui uji prasyarat analisis (uji asumsi) yang terdiri dari uji normalitas dan uji linieritas. Adapun analisis data yang dipakai yakni dengan korelasi Product Moment melalui bantuan SPSS 17 for Windows. Selain kepercayaan diri, variabel kemandirian belajar dipengaruhi oleh faktor lain seperti motivasi belajar, konsep diri dan pola asuh demokratis orang tua. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis dapat diterima yakni ada hubungan positif antara kepercayaan diri dengan kemandirian belajar.Kata Kunci: Kepercayaan diri; Kemandirian belajar
Perilaku eksplorasi karier, dukungan sosial, dan keyakinan dalam pengambilan keputusan karier SMP Rossallina, Lia; Salim, Romini Agoes
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2627

Abstract

AbstractMany SMP students choose mayor because of their good marks. They are not interested in that field, they just follow what their friend chooses, follow their teacher recommendation, or follow their parent’s advice, but not doing career exploration in the first. This research intended to examine the role of career exploration behavior in mediating social support and career decision making self-efficacy. Data collected from a student in grades 8 and 9 (n= 142), with convenient sampling techniques. The measuring used in this study were Carrier Decision Making Self Efficacy-SF, Adolescent Social Support Scale, and Career Exploration Survey, that have been adapted to Bahasa. Regression analysis and Sobel test showed that career exploration behavior significantly mediating the relationship between social support and career decision making self-efficacy. Social support from a parent, teacher, and friend is a trigger to emerge the career exploration behavior, which finally forms the career decision making self-efficacy. Implications, limitations, and suggestions are discussed.Keywords: Career decision making self-efficacy; Career exploration behavior; Junior high school student; Social support AbstrakBanyak siswa SMP memilih jurusan karena nilainya memadai di bidang tersebut. Padahal belum tentu sebetulnya ia berminat, mereka hanya mengikuti pilihan teman, menuruti rekomendasi gurunya, ataupun mengikuti saran orang tua, tanpa melakukan eksplorasi karier terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh perilaku eksplorasi karier dalam memediasi hubungan dukungan sosial dan keyakinan diri dalam pengambilan keputusan karier. Pengambilan data siswa kelas 8 dan 9 (n= 142), dengan teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Carrer Decision Making Self Efficacy-SF, Adolescent Social Support Scale, dan Career Exploration Survey, yang sudah diadaptasi kedalam Bahasa Indonesia. Hasil uji regresi dan uji Sobel menunjukkan perilaku eksplorasi karier signifikan memediasi hubungan dukungan sosial dan keyakinan diri dalam pengambilan keputusan karier. Dukungan sosial yang diterima dari orang tua guru, dan teman adalah pemicu munculnya perilaku eksplorasi karier, yang akhirnya membentuk keyakinan diri dalam pengambilan keputusan karier. Implikasi, keterbatasan penelitian, dan saran untuk penelitian selanjutnya didiskusikan.Kata kunci: Dukungan sosial; Keyakinan diri dalam pengambilan keputusan karier; Perilaku eksplorasi karier; Siswa Sekolah Menengah Pertama
Kecemasan dan motivasi belajar Vivin, Vivin
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2276

Abstract

AbstractThis study aims to determine the relationship between anxiety with learning motivation and the hypothesis of this study stated that there is a negative correlation between anxiety with learning motivation, assuming the higher anxiety, the lower the learning motivation will be and conversely the lower anxiety, the higher learning motivation will be. The subject population of this study was 1.241 students, and the number of samples used was 275 students of 13th State Senior High School Medan selected by disproportionate stratified random sampling. Data were obtained from the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) to measure anxiety and learning motivation scale. The analysis of the data was performed by Pearson Product Moment Correlation with SPSS 17 for Windows. The results of this research showed that there is a negative relationship between anxiety with learning motivation. Students who have no acute anxiety feelings would be able to cope with difficult learning situations with prepare through learning activities. Conversely, the students who have excessive anxiety would tend to have a negative perception that there is no motivation and passion for learning. Keywords: Anxiety; Learning motivation AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan motivasi belajar dan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara kecemasan dengan motivasi belajar, asumsinya bahwa semakin tinggi kecemasan, maka semakin rendah motivasi belajar dan sebaliknya semakin rendah kecemasan maka semakin tinggi motivasi belajar. Populasi subjek penelitian ini sebanyak 1.241 orang, dan jumlah sampel yang digunakan adalah 275 orang siswa-siswi SMA Negeri 13 Medan yang dipilih dengan metode disproportionate stratified random sampling. Data diperoleh dari Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) untuk mengukur kecemasan dan skala motivasi belajar. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan korelasi Pearson Product Moment melalui bantuan SPSS 17 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara kecemasan dengan motivasi belajar. Siswa-siswi yang tidak memiliki perasaan cemas berlebihan, akan mampu mengatasi situasi pembelajaran yang sulit dengan mempersiapkan diri melalui kegiatan belajar. Sebaliknya siswa-siswi yang mengalami perasaan cemas berlebihan akan cenderung memiliki persepsi negatif sehingga tidak memiliki motivasi dan gairah untuk belajar. Kata kunci: Kecemasan; Motivasi belajar
Efektifitas individual work system untuk meningkatkan kemandirian penyelesaian tugas anak dengan autisme Istiqomah, Adinda
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2727

Abstract

Abstract Individual work systems develop independence by organizing tasks and activities that can be carried out by individuals with ASD (Autism Spectrum Disorder). This research develops a work system that can help organize the task  using the visual-spatial strengths of children with ASD.The aim of this study is to investigate  the effectiveness of Individual Work System for students with ASD making  easier to understand the given instructions and respond appropriately. The research is being conducted by applying individual work system for students with ASD to improve completing the task. This research uses quasi experimental using reversal design A-B design in five subjects diagnosed with mild autism, aged elementary school, had problems in completing the tasks and have ability to simple instruction. The data collection tool uses observations that assess off-task/on-task behavior, teacher prompting, task completion. Data obtained were analyzed using the non-parametric Wilcoxon statistical test. The result showed that the intervention using that idividual work system was effective increase independence of task completion for student with autism. Keywords: Autism spectrum disorder (ASD); Independence of task completion; Individual work system AbstrakIndividual work systems atau sistem kerja individu mengembangkan kemandirian dengan cara mengorganisasikan tugas dan aktivitas yang dapat dipahami oleh individu dengan ASD (Autism Spectrum Disorder). Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas Individual Work System siswa dengan (ASD). Penelitian ini menciptakan struktur kerja yang dapat membantu mengorganisir penugasan yang dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan visual-spasial anak ASD. Kurangnya kemandirian pada anak ASD terlihat pada seringkali guru membantu atau mengarahkan anak ASD dalam menyelesaikan tugas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas Individual Work System  anak dengan ASD sehingga lebih mudah memahami intruksi yang diberikan dan berespon dengan tepat. Penelitian ini menggunakan desain reversal dengan jenis A-B design pada lima orang subjek yang telah didiagnosis autisme sedang, berusia sekolah dasar, mempunyai permasalahan dalam penyelesaian tugas dan telah mampu mengikuti perintah sederhana. Alat pengumpulan data menggunakan observasi yang disusun oleh peneliti yang terdiri dari respon off-task/on-task, teacher prompting, dan task completion. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji statistik non-parametric Wilcoxon. Hasil analisis data statistik menunjukkan bahwa individual work system efektif meningkatkan kemandirian penyelesaian tugas anak ASD. Kata kunci: Autism spectrum disorder (ASD); Individual work system; Kemandirian penyelesaian tugas.

Page 1 of 1 | Total Record : 10