cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Matematika & Sains
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 339 Documents
Sintesis Zeolit Mordenit dengan Bantuan Benih Mineral Alam Indonesia Shofarul Wustoni; Rino R. Mukti; Agus Wahyudi; Ismunandar Ismunandar
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Commercialized Indonesian natural mineral was generally suspected to contain natural zeolite. However, according to X-ray diffraction pattern, there is no indication of zeolite fingerprint. Hence, this research aims to use this mineral as seed in a hydrothermal synthesis to further investigate the possibility of growing zeolite material. Mordenite zeolite was resulted as the product and this concludes that the building blocks of natural zeolite might be present in this local mineral. Keywords: Indonesian mineral, Natural zeolites, Mordenite, Zeolite synthesis, Seed, Hydrothermal. Abstrak Mineral alam Indonesia yang sudah komersial pada umumnya dianggap mengandung zeolit alam. Namun, pola difraksi sinar X nya menunjukkan bahwa tidak ada indikasi puncak-puncak khas zeolit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggunakan mineral alam sebagai benih dalam sintesis hidrotermal sebagai upaya menginvestigasi kemungkinan untuk menumbuhkan material zeolit. Zeolit Mordenit dapat dihasilkan sebagai produk dan hal ini menyimpulkan bahwa mineral lokal ini mengandung unit pembangun zeolit alam. Kata kunci: Mineral alam Indonesia, Zeolit alam, Mordenit, Sintesis zeolit, Benih, Hidrotermal.
Vertex-Magic Total Labeling Algorithms on Unicycle Graphs and Some Graphs Related to Wheels Denny Riama Silaban; Budi Utami; Alfa Isti Ananda; Dhian Widya; Siti Aminah
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Let G be a graph with vertex set V and edge set E, where |V| and |E| be the number of vertices and edges of G. A bijection λ : V È E ® {1, 2, …, |V| + |E|} is called a vertex-magic total labeling if there is a constant k so that the weight of vertex x, wλ(x) = λ(x) + åyÎN(x) λ(xy) = k, for all x in V where N(x) is the set of vertices adjacent to x. This paper gives algorithms to generate all vertex-magic total labelings on some classes of unicycle graphs (suns and tadpoles) and some classes of graph related to wheels (friendships, fans, generalized Jahangirs). Using those algorithms, we enumerate all non isomorphic vertex-magic total labelings on those classes of graphs for some values of |V|.   Keywords: Fan, Friendship, Generalized Jahangir, Sun, Tadpole, Unicycle, Vertex magic total labeling, Wheel.   Algoritma Pelabelan Total Simpul Ajaib pada Graf Unicyle dan Beberapa Graf yang Terkait dengan Roda Abstrak Misalkan G adalah graf dengan himpunan simpul V dan himpunan busur  E dengan |V| dan |E| menyatakan banyak simpul dan banyak busur pada G. Fungsi bijektif  λ : V È E ® {1, 2, …, |V| + |E|} disebut pelabelan total simpul ajaib jika ada konstanta k sedemikian sehingga bobot simpul x, wλ(x) = λ(x) + åyÎN(x) λ(xy) = k, untuk setiap x di V dengan N(x) menyatakan, himpunan simpul yang berdekatan dengan x. Makalah ini memberikan algoritma-algoritma untuk menghasikan semua pelabelan-pelabelan  total simpul ajaib pada beberapa kelas graf unicycle (matahari dan kecebong) dan beberapa kelas graf yang terkait dengan roda (friendship, kipas, generalized Jahangir). Menggunakan algoritma-algoritma tersebut, dienumerasi semua pelabelan total simpul ajaib yang tidak isomorfik pada kelas-kelas graf yang menjadi perhatian, untuk beberapa nilai dari |V|. Kata kunci: Friendship, Generalized Jahangir, Kecebong, Kipas, Matahari, Pelabelan total simpul ajaib, Unicycle. 
Model Matematika Pada Mekanisme Laju Korosi Logam Baja Karbon dengan Penambahan Inhibitor Nuning Nuraini; Novriana Sumarti; Deana Wahyuningrum
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi pada logam, yang disebabkan reaksi dengan lingkungannya, merupakan proses pelarutan logam membentuk senyawanya dalam lingkungan korosif seperti adanya air, gas oksigen dan karbondioksida.  Korosi tidak dapat dihilangkan, namun dapat dikendalikan atau dicegah. Salah satu cara untuk mengatasi korosi, terutama yang terjadi pada permukaan bagian dalam suatu pipa logam, adalah dengan penambahan suatu inhibitor korosi.  Dengan melihat proses terjadinya korosi dari sudut pandang berkurangnya logam persatuan waktu, diturunkanlah suatu model matematika yang memperlihatkan pengaruh senyawa inhibitor korosi terhadap logam, khususnya baja karbon dalam larutan NaCl 1%.  Model yang diperoleh, yang merupakan pengembangan dari model sebelumnya, menggambarkan penambahan senyawa inhibitor dengan 2 cara, yaitu pada saat awal saja dan cara penambahan secara kontinu. Hasil yang didapat menunjukkan beberapa nilai konsentrasi dari inhibitor memberikan pengaruh pada mekanisme laju korosi secara efisien untuk menghentikan proses korosi. Kata kunci: Baja karbon, Inhibitor korosi, Laju korosi, Model matematika.   Mathematical Model on Corrosion Rate Mechanism of Carbon Steel by Inhibitor Addition Abstract Corrosion is the deterioration of a material due to interaction with its environment. It is the dissolution process of metal in which metallic atoms are oxidized to form its compounds in the presence of water and gases, such as oxygen and carbon dioxide. Even though this corrosion cannot be eliminated, it can be controlled or prevented.  One way to control corrosion, especially corrosion that occurred at the inner parts of metallic pipelines, is by addition of corrosion inhibitor. If the corrosion process was assumed as the rate of decaying process of metal per times unit, then the mathematic model can be derived to describe the effect of addition of inhibitor towards corrosion rate of metal, especially carbon steel in 1% NaCl solution. The result show that several values of inhibitor concentration provide the efficient effect on the corrosion rate mechanism to stop the corrosion process. Keywords: Carbon steel, Corrosion inhibitor, Corrosion rate, Mathematical model.
Grup Defect pada Grup PSL(2,3) dan PSL(2,5) Aditya Purwa Santika
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Misalkan p bilangan prima, G grup dengan p membagi orde G dan F lapangan dengan karakteristik p. Aljabar grup atas F adalah ruang vektor dengan basis unsur di G dan dinotasikan sebagai FG. Misalkan B adalah blok dari FG, grup defect bagi B merupakan suatu verteks bagi F(G ´ G)-modul B. Dalam tulisan ini, penulis memberikan contoh perhitungan grup defect dari aljabar grup dengan basis grup PSL(2,3) dan PSL(2,5). Kata kunci: Aljabar grup, Blok, grup Defect, Verteks.   Defect Grup on PSL(2,3) and PSL(2,5) Grups Abstract Let p be a prime, G be a group with p divides the order of G and F be a field with characteristic p. Group algebra over F is a vector space with elements in G as its basis and it is denoted by FG. Let B be a block of FG, a  defect group for B is a vertex of F(G ´ G)-module B. In this paper, we give examples of defect group of group algebras with basis PSL(2,3) and PSL(2,5). Keywords: Group algebra, Block, Defect group, Vertex.
Penanganan Rehidrasi Setelah Olahraga dengan Air Kelapa (Cocos nucifera L.), Air Kelapa ditambah Gula Putih, Minuman Suplemen, dan Air Putih Samsul Bahri; Joseph Iskendiarso Sigit; Tommy Apriantono; Rini Syafriani; Lusi Putri Dwita; Yoza H. Octaviar
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah diteliti pengaruh rehidrasi menggunakan air kelapa dan air kelapa ditambah gula putih, dibandingkan terhadap minuman suplemen yang telah beredar di pasaran. Penelitian ini dilakukan dengan metode double blind cross over design  sebanyak empat kali penelitian dengan masa washout selama satu minggu. Pertama dilakukan pengkondisian status hidrasi, kemudian atlet diminta berlari pada 75% VO2maks selama 1 jam sehingga mengalami dehidrasi. Penggantian cairan tubuh dilakukan setelah berlari yaitu pada periode rehidrasi dengan volume minuman uji yang setara dengan 120% cairan yang hilang selama berolah raga. Rehidrasi menggunakan air kelapa dan air kelapa ditambah gula putih mengembalikan berat badan tubuh dan hematokrit kembali ke normal (mencapai tahap euhidrasi), dengan indeks rehidrasi lebih baik dari pada air biasa (kontrol), yaitu 2,09±0,32, 2,40±0,45,  2,14±0,38 dan 3,02±0,52 berturut-turut  untuk air kelapa, air kelapa ditambah gula putih, minuman suplemen “X”, dan kontrol. Selain itu air kelapa menginduksi produksi urin lebih sedikit dibandingkan air kelapa ditambah gula putih dan minuman suplemen “X”, namun air kelapa ditambah gula putih lebih baik dalam mempertahankan kadar glukosa darah atlet selama periode rehidrasi. Kata kunci: Indeks rehidrasi, Dehidrasi, Air kelapa, Air kelapa ditambah gula putih, Glukosa darah.   Treatment for Rehidration After Exercise with Coconut Water (Cocos nucifera L.), White Sugar Enrichted Coconut Water, Suplement Beverage and Water Abstract The influences of coconut water and white sugar enriched coconut water compared to commercial supplement beverage to heal dehydration, have been investigated. Method used in this assesment was double blind cross over design in four times experiment  and one week washout period. After conditioning athletes’ hydration, athletes ran at 75% VO2max  for one hour until reached dehydration state. Then body fluid loss recovered during rehydration period equal to 120% fluid lost during exercise. Rehydration used coconut water recovered athletes’ condition back to normal through body weight and hematocrit recovery, with rehydration index better than control, which were 2,09±0,32, 2,40±0,45,  2,14±0,38 and 3,02±0,52 respectively for coconut water, enriched coconut water, “X” supplement beverage and plain water (control). Coconut water induced urine production less than sugar enriched coconut water and “X” supplement beverage, but enriched coconut water was better in maintaining athletes blood sugar levels during the rehydration period. Keywords: Rehydration index, Dehydration, Coconut water, White sugar enriched coconut water, Blood glucose.
Dirac Quantization for Interaction Lagrangian with Time Derivative Terms Syaefudin Jaelani; Anto Sulaksono
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The presence of the second order time derivative terms in interaction Lagrangian density of fermions system precludes to apply directly the quantization procedure to its canonical Hamiltonian. Field transformation is used here to handle this problem, so that the transformed Hamiltonian density can be quantized by using Dirac quantization procedure. We obtain the two sets primary constraints which are used to construct Dirac matrix, bracket relation as well as the transformed Hamiltonian. Using this transformed Hamiltonian, the 00-component of energy momentum tensor as well as the equation of state of the system are calculated. Keywords: Field transformation, Canonical Hamiltonian, Transformed Hamiltonian density, Dirac quantization procedure.   Kuantisasi Dirac untuk Lagrangian Interaksi dengan Suku-Suku Turunan terhadap Waktu Abstrak Keberadaan suku turunan orde kedua terhadap waktu pada kerapatan Lagrangian interaksi pada sistem fermion menghalangi penggunaan prosedur kuantisasi secara langsung pada Hamiltonian kanonik sistem. Transformasi medan digunakan disini untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga kerapatan Hamiltonian hasil transformasi dapat dikuantisasi dengan menggunakan prosedur kuantisasi Dirac. Kami memperoleh dua buah kendala primer yang digunakan untuk membentuk matriks Dirac, relasi braket dan memperoleh Hamiltonian yang siap dikuantisasi. Dengan menggunakan Hamiltonian ini, komponen-00 tensor momentum energi dan persamaan keadaan sistem dapat diperoleh. Kata kunci: Ttransformasi medan, Hamiltonian kanonik, Kerapatan Hamiltonian hasil transformasi, Prosedur kuantisasi Dirac.
Pengaruh Fotoperiode terhadap Respon Stres dan Parameter Reproduksi pada Mencit Jantan (Mus musculus L.) Galur Swiss Webster Ahmad Ridwan; Zuliyanto Zakaria; Anggraini Barlian
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modernisasi mengubah pola aktivitas manusia dalam rentang waktu 24 jam. Dewasa ini banyak pola aktivitas manusia yang bergeser ke malam hari sehingga terjadi  peningkatan aktivitas dan paparan cahaya hingga malam hari. Pergeseran pola aktivitas ini diduga akan mengubah ritme jam biologis dan dapat menimbulkan stres serta gangguan vitalitas seseorang. Namun kajian tentang pengaruh perubahan fotoperiode terhadap respon stres serta parameter reproduksi masih jarang dilakukan. Penelitian ini menggunakan hewan model mencit SW jantan berumur 4 minggu sebanyak 25 ekor yang dibagi ke dalam 4 kelompok perlakuan berdasarkan durasi fotoperiode yang digunakan yakni 0T, 6T, 18T, 24T dengan 12T sebagai kelompok kontrol (T = durasi terang dalam jam). Intensitas cahaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 100-110 lux. Seluruh hewan uji didedahkan dengan masing-masing perlakuan fotoperiode selama 2 bulan. Parameter yang diukur meliputi kadar kortikosteron plasma dan berat badan sebagai parameter respon stres, serta kadar testosteron plasma, jumlah sperma dan berat testis sebagai parameter reproduksi. Pengukuran parameter berat badan dilakukan selama pendedahan, sedangkan pengukuran parameter lainnya dilakukan setelah pendedahan fotoperiode. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa fotoperiode 0T dan 24T dapat meningkatkan kadar kortikosteron plasma secara signifikan dari kelompok kontrol (p
Studi Model Heksagonal MCNP5 Dalam Perhitungan Benchmark Fisika Teras HTR-10 Zuhair Zuhair; Suwoto Suwoto; Piping Supriatna
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 2 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desain HTR memunculkan tantangan komputasi khusus yang berkaitan dengan penyelesaian problema fisika teras dan karakteristik termohidrolika. Streaming neutron dan heterogenitas ganda adalah salah satu bentuk tantangan fisika teras sedangkan aliran gas di sela-sela rongga kosong di antara bahan bakar pebble dan moderator pebble dalam teras grafit temperatur tinggi merupakan tantangan lain selain burn-up tinggi. Tujuan makalah ini adalah mendiskusikan penyelesaian problema fisika teras HTR dengan teknik pemodelan heksagonal MCNP5. Hasil perhitungan benchmark kritikalitas pertama memperlihatkan ketinggian teras kritis HTR-10 sebesar 127,1 cm yang diperoleh MCNP5 dengan ENDF/B-VII berada dalam rentang perhitungan Haceteppe University Turki, INET Cina dan MIT USA. Komparasi yang dibuat dengan data eksperimen (ketinggian kritis = 123,06 cm) menunjukkan bahwa MCNP5 merefleksikan model yang cukup baik dan presisi dengan rasio C/E = 1,03283. Hasil perhitungan problema benchmark untuk mengevaluasi koefisien reaktivitas temperatur pada 20 oC, 120 oC dan 250 oC dalam teras penuh memperlihatkan keff yang diprediksi MCNP5 lebih dekat dengan estimasi TRIPOLI4. Tidak tersedianya data eksperimen benchmark koefisien reaktivitas temperatur HTR-10 menyebabkan validasi benchmark experiment to code tidak dapat dilakukan untuk membuktikan model simulasi yang paling baik. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa metodologi pemodelan ini, yang mempertimbangkan zona eksklusif untuk mengkompensasi kontribusi pebble-pebble parsial, menjustifikasi aplikasi MCNP5 untuk analisis reaktor pebble bed lainnya. Kata-kunci: Model heksagonal, Benchmark fisika teras, HTR-10, MCNP5, ENDF-B-VII.   MCNP5 Hexagonal Model Studies in Benchmark Calculation HTR-10 Core Physics Abstract Design of HTR raises special computational challenges associated with solving problems in core physics and thermalhydraulics characteristics. Neutron streaming and double heterogenity is one of core physical challenges while the gas flow on the sidelines of an empty cavity between the fuel and moderator pebbles in the high-temperature graphite core is another challenge in addition to high burn-ups. The purpose of this paper is to discuss the solving of HTR core physics problems with MCNP5 hexagonal modeling techniques. The results of the first criticality benchmark calculations show the critical height of the HTR-10 core of 127.1 cm obtained by MCNP5 with ENDF/B-VII is in the calculation range of Haceteppe University Turkey, INET China and MIT USA. Comparison which is made with experimental data (critical height = 123.06 cm) indicates that MCNP5 reflect a fairly good and precision model with the ratio of C/E = 1.03283. The results of the calculation of benchmark problems to evaluate the temperature coefficient of reactivity at 20 oC, 120 oC and 250 oC in full core shows the MCNP5 predicted keff is close to the TRIPOLI4 estimation. The unavailability of HTR-10 temperature reactivity coefficient benchmark experimental data causes validation of benchmark experiment to code can not be done to prove the best simulation model. From the analysis it can be concluded that this modeling methodology, which considers the exclusive zone to compensate the partial pebbles contribution, justify the MCNP5 application for the analysis of other pebble bed reactors. Keywords: Hexagonal model, Core physics benchmark, HTR-10, MCNP5, ENDF-B-VII.
Karakteristik Pola Curah Hujan di Wilayah Sekitar Teluk (Studi Daerah Nabire Provinsi Papua dan Fakfak Papua Barat) Rully Affandi; Atika Lubis; Deni Septiadi
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 2 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola curah hujan di suatu wilayah memiliki karateristik yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan lintang, gerak semu matahari, letak geografis, topografi serta interaksi berbagai macam sirkulasi udara baik itu lokal, regional maupun global. Analisis spektral merupakan suatu cara untuk melihat adanya periodisitas yang mungkin tersembunyi dalam suatu deret waktu, dengan melakukan suatu transformasi dari domain waktu ke domain frekuensi, pola osilasi akan terlihat sebagai puncak energi spektral. Fakfak yang berada dekat dengan Teluk Berau, pola curah hujannya bersifat lokal. Hasil ini sama dengan yang dipublikasikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hal ini dikuatkan oleh analisis spektral dengan kuatnya osilasi harian. Pengaruh monsunal memperkuat sirkulasi harian serta distribusi massa udara yang berasal dari Laut Aru, Arafura dan wilayah lainnya di Belahan Bumi Selatan (BBS). Akan tetapi interaksi teluk kurang kuat dibandingkan pengaruh  lautan yang berada di bagian selatan. Nabire yang secara langsung dekat dengan Teluk Cenderawasih, pola curah hujannya cenderung bersifat monsunal, berbeda dengan yang telah dipublikasikan BMKG dan dapat menjadi masukan terhadap penyusunan peta sebaran pola curah hujan. Adanya Teluk Cenderawasih, memberikan pengaruh yang kuat dalam sirkulasi harian. Pada periode Desember, Januari dan Februari (DJF), sirkulasi monsunal Asia semakin memperkuat pola angin dan distribusi massa udara yang berasal dari Teluk Cenderawasih bagian utara, Samudera Pasifik dan wilayah lainnya di BBU. Kata Kunci : Monsun, Teluk, Sirkulasi lokal, Wavelet, FFT, Curah hujan.   Rainfall Pattern Characteristic Around Bay Area (Case studies of Nabire area, the Province of Papua, and Fakfak the Western Papua) Abstract The rainfall pattern has different characteristics, due to latitude, the suns apparent motion, geography, topography, and interactions of various scales in the local, regional, and global air circulation. Spectral analysis is a way to see the existence of periodicity that may be hidden in the time series. The spectral analysis carried out transformation from the time domain to the frequency domain where the oscillation pattern could be seen as a peak of spectral energy. The rainfall pattern of Fakfak, near to the Berau Bay, is considered as local type. This result is inline with the previously published results by Meteorological Climatological and Geophysical Agency (BMKG). This is strengthened by spectral analysis with a strong daily oscillation. Monsunal circulation  strengthen daily circulation and distribution of air masses from the Aru Sea, Arafura and other areas in the Southern Hemisphere. However, the interaction of the bay is less powerful than the ocean in the southern region. The rainfall pattern of Nabire which is close to the Cenderawasih Bay tends to be monsunal, in contrast to be published results of BMKG. It could be used as additional input to the distribution of rainfall pattern map’s construction. The existence of Cenderawasih Bay, has provided a powerfull influences in daily circulation. In the December, January and February (DJF) period, Asian winter monsoon circulation strengthen distribution of air masses from the northern Cenderawasih Bay, The Pacific Ocean and other regions in The Northern Hemisphere. Keywords : Monsoon, Bay, Local circulation, Wavelet, FFT, Rainfall.
Pemodelan Temperatur Keluaran Sistem Downhole Heat Exchanger dengan Metoda Elemen Hingga Alamta Singarimbun; Gilang Satria Prayoga
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 2 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Downhole Heat Exchanger (DHE) merupakan salah satu teknologi untuk memanfaatkan energi panas bumi. Secara umum DHE terdiri dari pipa berbentuk U yang ditanam secara vertikal di dalam tanah. Ke dalam pipa DHE dialirkan air dan jika temperatur di bawah tanah cukup tinggi, maka air tersebut akan terpanaskan. Air yang telah terpanaskan bertemperatur tinggi dapat dimanfaatkan misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dalam penelitian ini, kami mengembangkan sebuah model dalam bentuk simulasi numerik untuk memperkirakan temperatur sebagai keluaran DHE berdasarkan parameter fisik optimal yang mempengaruhi sistem. Sebagai hasilnya, diperoleh kaitan antara debit air yang dimasukkan dengan temperatur keluaran untuk temperatur masukan tertentu. Juga diperoleh hasil berupa kaitan antara temperatur masukan dengan temperatur keluaran untuk debit air tertentu. Parameter ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai kontrol untuk parameter keluaran yang diinginkan. Kata kunci : DHE, Pipa berbentuk U, Simulasi numerik, Output termal, Debit air, Temperatur keluaran, Temperatur masukan.   A Model for Temperature Estimation as Output of Downhole Heat Exchanger by Using Finite Element Method Abstract Downhole Heat Exchanger (DHE) is one of the technologies for harnessing geothermal energy. DHE generally consists of a U-shaped pipe planted in the ground vertically. Water is flowed into the DHE pipe and if the temperature below ground is high enough, then the water will be heated. Water that has been heated by high temperature can be used for example for household needs. In this research, we develop a model in the form of numerical simulations to estimate temperature as output of DHE based on the optimal physical parameters that affect the system. As a result, the relationship between water debit discharge and output is obtained as function of temperature. The relationship between temperature insert with the water discharge temperature are obtained also for a specific output. The parameter input can be used as a control for the desired output parameter. Keywords: DHE, U-shaped, Numerical simulation, Thermal output, Water discharge, Temperature output, Input temperature.