cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Matematika & Sains
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 339 Documents
Pemodelan Magnetotellurik 2D Menggunakan Metode Elemen Batas Imran Hilman Mohammad; Wahyu Srigutomo; Doddy Sutarno
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 2 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam permasalahan elektromagnetik untuk aplikasi geofisika, rangkaian persamaan Maxwell dapat disederhanakan menjadi persamaan Helmholtz, sehingga dapat dicari solusi permasalahan menggunakan berbagai skema numerik. Metode elemen batas merupakan metode numerik untuk memecahkan persamaan diferensial parsial yang telah dikembangkan dalam beberapa dekade ini untuk memecahkan berbagai permasalahan medan elektromagnet. Metode ini memiliki keunikan dibandingkan metode numerik lain untuk memecahkan persamaan diferensial parsial, karena hanya membutuhkan diskretisasi pada bidang-bidang batas domain pemodelan. Solusi pada batas domain dapat digunakan untuk mencari solusi pada seluruh  domain pemodelan, membuat metode ini memiliki algoritma numerik yang sangat efisien. Dalam makalah ini, metode elemen batas digunakan untuk menghitung respon magnetotellurik 2D dalam bentuk resistivitas semu dan fasa impedansi modus TE (transverse electric). Pemodelan elemen hingga digunakan sebagai pembanding hasil pemodelan elemen batas yang dikembangkan. Kata kunci : Metode elemen batas, Magnetotelurik 2D.   2D Magnetotelluric Modelling using Boundary Element Method Abstract In most formulations of electromagnetic methods in geophysics, the set of Maxwell’s equations can be simplified into Helmholtz’s equation which leads to possibility of solving electromagnetic problems using various numerical schemes. The boundary element method is a numerical method for solving partial differential problems which in the last several decades has been applied in electromagnetic problems. The method poses unique advantage in comparison to other methods; it requires discretization only on the boundaries of the modeling domain.  Solutions in the boundaries can be used to find solutions on the entire modeling domain, which makes the boundary element method a highly efficient numerical method. This paper will discuss 2D magnetotelluric (MT) modeling using boundary element method. The method is applied to calculate 2D MT responses, expressed in apparent resistivity and phase of impedance, for transverse electric (TE) mode.  The results obtained by the method are compared to those calculated by analytical solution and finite element modeling to show the accuracy of boundary element method. Keywords: Boundary-element method, 2D magnetotelluric.
Efek Stres Anthropogenik Terhadap Struktur Komunitas Makrozoobentik Substrat Lunak Perairan Laut Dangkal di Teluk Buyat, Teluk Totok dan Selat Likupang (Semenanjung Minahasa, Sulawesi Utara) Lawrence J. L. Lumingas; Ruddy D. Moningkey; Alex D. Kambey
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 2 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem perairan laut dangkal di Semenanjung Minahasa diduga telah mengalami tekanan akibat berbagai kegiatan pembangunan dari daratan seperti pertambangan, pertanian dan limbah domestik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon makrozoobentos terhadap berbagai tingkat stres anthropogenik seperti tailing, tambang tradisional dan kegiatan pertanian terhadap struktur komunitas makrozoobentos substrat lunak di Semenanjung Minahasa. Pengambilan sampel (sampling) telah dilaksanakan pada bulan April dan Mei 2010 pada 10 stasiun sampling di zona subtidal di Teluk Buyat, Teluk Totok, dan Selat Likupang. Dalam penelitian ini, telah dikaji variabel komunitas seperti kelimpahan dan keanekaragaman spesies termasuk indeks keanekaragaman spesies Shannon-Wiener (H’), indeks kekayaan spesies (SR), indeks kemerataan spesies (J’), indeks dominasi Berger-Parker (d), kurva ‘K-dominance’ serta ‘assemblage’ (grup) makrozoobentik dengan analisis multivariat baik analisis klasifikasi maupun analisis faktorial korespondens. Dalam penelitian ini telah diperoleh total 543 individu yang termasuk dalam 114 spesies (takson). Struktur komunitas dan ‘assemblage’ makrozoobentik substrat lunak di Semenanjung Minahasa ditentukan oleh kondisi substrat dan  tingkat stres anthropogenik khususnya sedimentasi, baik berasal dari ‘tailing’ maupun dari kegiatan pertambangan rakyat. Struktur komunitas serta ‘assemblage’ makrozoobentik di perairan dangkal Selat Likupang umumnya berada pada kondisi alamiah dengan dominasi spesies sensitif, sedangkan yang berada di Teluk Totok khususnya dekat muara Sungai Ratatotok berada pada kondisi buruk (awal suksesi) dengan dominasi spesies oportunis. Berdasarkan karakteristik struktur komunitas serta ‘assemblage’ makrozoobentiknya, ekosistem bentos di Teluk Buyat belum mencapai tahap akhir suksesi (ekosistem ekuilibrium) kecuali pada kedalaman yang lebih dangkal dekat muara Sungai Buyat. Kata kunci: Komunitas makrozoobentik, Ekologi bentik, Teluk Buyat, Analisis multivariat. The Effect of Anthropogenic Stresses on the Soft Substrate Macrozoobenthic Community Structure in Buyat Bay, Totok Bay and Likupang Strait (Minahasa Pennisular, North Sulawesi) Abstract The ecosystem of shallow marine waters in Minahasa Penninsular has got pressures from various development activities in the land, such as mining, agriculture and or domestic wastes. This study was aimed at analyzing the macrozoobenthos response to various levels of anthropogenic stresses, such as tailing, traditional mining and agricultural activities on the community structure of soft substrate macrozoobenthos, in Minahasa Penninsular. Sampling was carried out in April and May, 2010, at 10 sampling sites in the subtidal zone of Buyat Bay, Totok Bay and Likupang Strait. In this study, the community variables, such as species abundance and diversity using species diversity index of Shannon-Wiener (H’), richness index (SR), eveness index (J’), dominance index of Berger-Parker (d), ‘K-dominance’ curve, were measured. Macrobenthos assemblage was analysed using multivariate analysis, both for classification analysis and factorial correspondence analysis. The study recorded a total of 543 individuals of 114 species (taxa). The soft substrate macrozoobenthic community structure and assemblage in Minahasa Penninsular were determined by the substrate condition and the level of anthropogenic stresses, especially sedimentation from either tailing or traditional mining activities. Both macrozoobenthos community structure and assemblage in shallow waters of Likupang Strait were in natural condition dominated by sensitive species, but those in Totok Bay, near Ratatotok downstream, were in bad condition (early succession) dominated by opportunistic species. Based on the characteristics of macrozoobenthic community structure and assemblage, it was found that the benthic ecosystem of Buyat Bay has not reached the final phase of succession (ecosystem equilibrium), except the shallow waters near Buyat river mouth. Keywords: Macrozoobenthic communities, Benthic ecology, Buyat Bay, Multivariate analysis.
Karboksimetil Kitosan sebagai Inhibitor Korosi pada Baja Lunak dalam Media Air Gambut Maria Erna; Emriadi Emriadi; Admin Alif; Syukri Arief
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 2 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dites efek karboksimetil kitosan (KMK) sebagai inhibitor korosi pada baja lunak dalam air gambut menggunakan metode berat hilang. Efisiensi inhibisi juga  dikarakterisasi berdasarkan energi aktivasi reaksi korosi dengan dan tanpa KMK dan pembentukan lapisan film pasif pada permukaan logam dipelajari menggunakan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX) dengan dan tanpa menggunakan KMK. Hasil menunjukkan bahwa efisiensi inhibisi korosi dipengaruhi oleh pH air gambut, waktu perendaman dan konsentrasi KMK. Inhibisi optimum yaitu  93,66%. terjadi pada pH 7 dan waktu perendaman 3 hari. Efisiensi inhibisi inhibitor ini meningkat dengan naiknya konsentrasi KMK. Inhibisi KMK pada permukaan baja mematuhi modifikasi persamaan isoterm adsorpsi  Langmuir dan  diasumsikan terjadi melalui adsorpsi kimia pada permukaan logam dengan nilai DGoads -35,413 kJ mol-1. Nilai negatif DGoads menunjukkan bahwa adsorpsi KMK terjadi secara spontan pada permukaan baja lunak. Kata kunci: Air gambut, Baja lunak, Inhibitor korosi, Karboksimetil kitosan.   Carboxymethyl Chitosan as a Corrosion Inhibitor for Mild Steel in Peak Water Abstract Carboxymethyl chitosan (CMC) had been tested as a corrosion inhibitor for mild steel in peat water using weight loss method. The inhibition efficiency is also characterized based  on activation energies of corrosion reaction and the formation of passive film on the surface of the metal was studied using Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX) in the presence and absence  of CMC. Result showed that the inhibition was influenced by the peat water pH, immersion time and CMC concentration. The optimum inhibition i.e. 93,66%  obtained at pH 7 and immersion time 3 days. The inhibition efficiency of this inhibitor increased with the increasing of CMC  concentration. The inhibition of CMC on the steel surface followed modified Langmuir isotherm equation and assumed to occur through chemical adsorption  on the metal surface with DGoads -35.413 kJ mol-1 . The negative value of DGoads  indicated that the adsorption of CMC  onto the mild steel surface occured spontaneously. Keywords: Carboxymethyl chitosan, Corrosion inhibitor, Mild steel, Peat water.
Method to Calculate the Average Overal Value of Modulus Elasticity and Modulus of Rupture for Glulam I-Joist in Bending Effendi Tri Bahtiar; Naresworo Nugroho; Rentry Augusti N; Han Roliadi
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Glulam consists of laminaes and each laminae influences glulams strength. Transformed cross section (TCS) method is well known as a method to calculate the average overall value of Modulus of Elasticity (E) and Modulus of Rupture (SR) of layer system (e.g. glulam) based on its laminaes.  But, TCS does not follow the principal due to assumption that the material properties depend on its shape and size. Therefore, new calculation method is required.  This paper discusses the formulation of a new method to determine the E and SR of glulam.  E and SR calculated by TCS and new method give identical value. The new method applies the independencies of E and SR which could not be fulfilled by TCS.  According to this fact, TCS could be replaced by new method. The theoretical value as a result of TCS and the new method were verified by empirical test based on ASTM D198 two points loading bending test. The theoretical E value is higher than the empirical value, but it has high correlation (R2=68.53%). On the contrary, the theoretical SR value is not significant different with its empirical value, but it has poor correlation (R2=27.93%).  This condition is happened because of finger joint effect on the compression and tension side of the sample. By including finger joint effect into regression analysis, the equation results very good estimation.  The coefficient of determination is 99.58% and 97.19%, for E and SR respectively. Keywords: Glulam I-joist, Modulus of elasticity, Modulus of rupture, Transformed cross section (TCS), New method. Abstrak Glulam tersusun dari lamina-lamina dan setiap lamina  menyumbangkan pengaruh terhadap kekuatan glulam.  Transformed Cross Section (TCS) telah dikenal luas sebagai sebuah metode untuk menghitung nilai Modulus Elastisitas (E) dan Keteguhan Lentur Statis (SR) sistem lapisan termasuk glulam berdasarkan sifat-sifat lamina penyusunnya. Namun TCS tidak memenuhi prinsip asumsi keterkaitan antara sifat material dengan ukuran dan bentuknya. Oleh karena itu diperlukan suatu metode baru yang lebih konsisten terhadap prinsip independensi tersebut. Di dalam tulisan ini dibahas formulasi metode baru untuk memperkirakan E dan SR  glulam.  Perhitungan TCS dan metode baru memberikan nilai yang identik baik untuk E maupun SR, namun metode baru menunjukkan konsisten yang lebih baik terhadap independensi sifat material. Berdasarkan fakta tersebut maka TCS dapat digantikan oleh metode baru yang dibahas. Hasil perhitungan teoritis menggunakan TCS dan metode baru tersebut, selanjutnya diverifikasi empiris melalui pengujian lentur berdasar ASTM D198 dengan konfigurasi beban ganda. Nilai E teoritis lebih tinggi daripada hasil empirisnya, namun keduanya memiliki korelasi yang relatif tinggi (R2=68,53%). Sebaliknya, SR teoritis tidak berbeda nyata dibanding nilai empirisnya, namun korelasi keduanya rendah (R2=27.93%). Kondisi ini terjadi akibat pelemahan oleh keberadaan sambungan jari pada wilayah tarik ataupun tekan pada contoh uji. Dengan memasukkan pengaruh sambungan jari pada analisis regresi berganda, dapat diperoleh persamaan regresi yang cukup baik untuk menduga nilai E dan SR glulam. Nilai koefisien determinasinya adalah 99,58% untuk E, dan 97,19% untuk SR. Kata kunci: Glulam I-joist, Modulus elastisitas, Keteguhan lentur patah, Transformed cross section (TCS), Metode baru.
The Optimum Design of 3D Sensor for Electrical Capacitance Volume-Tomography (ECVT) Marlin Ramadhan Baidillah; W. Warsito; Muhammad Mukhlisin
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A tomography system based on capacitance measurement is attempts to map dielectric permittivity of materials. The measured capacitance of the pair between source and detector is dependent to surface area enclosing detector electrode. Imaging a three-dimensional object requires sensitivity matrix with three-dimensional variation, especially in axial (z-axis) direction to differentiate the depth along the sensor length. Therefore, the fundamental concept of electrical capacitance sensor design for 3-D volume imaging is to distribute equally electrical field intensity all over three-dimensional space. In ECVT, due to the weakness of the electrical field, the capacitance measurement that generates information simultaneously of the volumetric properties can be made using arbitrary shapes of sensors and vessels. In this study, we designed and analyzed the 3-D sensitivity matrix for 4 different geometry sensors: hexagonal, rectangular, trapezoid and triangular. The comparisons of sensitivity distribution showed that hexagonal sensor gives relatively more uniform sensitivity variation in both the radial and axial directions. Keywords: ECVT, 3-D volume imaging, 3-D sensitivity matrix, 3-D sensor capacitance.  Desain Optimum Sensor 3D untuk Tomografi Volum Kapasitansi Listrik Abstrak Sebuah sistem tomografi yang berdasarkan pengukuran kapasitansi diterapkan untuk pemetaan permitivitas bahan dielektrik. Kapasitansi pasangan sumber dan detektor yang diukur tergantung pada luas permukaan elektroda detektor. Pencitraan sebuah objek tiga dimensi memerlukan matriks sensitivitas tiga dimensi, terutama dalam arah aksial (sumbu z) untuk membedakan variasi sepanjang sensor. Oleh karena itu, konsep mendasar dari desain sensor kapasitansi listrik untuk pencitraan 3-D volume adalah mendistribusikan intensitas medan listrik yang sama besar di seluruh ruang tiga dimensi. Dalam ECVT, karena medan listrik yang lemah, pengukuran kapasitansi yang menghasilkan informasi secara simultan dari sifat volumetrik dapat dibuat dengan menggunakan bentuk sensor dan tabung yang sebarang. Dalam studi ini, kami merancang dan menganalisis matriks sensitivitas 3-D untuk 4 geometri sensor yang berbeda: heksagonal, segi empat, trapesium, dan segitiga. Perbandingan distribusi sensitivitas menunjukkan bahwa sensor heksagonal memberikan variasi sensitivitas  lebih seragam baik dalam arah radial dan aksial. Kata kunci: ECVT, Pencitraan 3-D volume, Matriks sensitivitas 3-D, Sensor kapasitansi 3-D.
On Gamma-Labeling of (n,t)-Kite Graph Diari Indriati
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Let G(V,E) be a graph of order n and size m. A g-labeling of G is an one-to-one function f: V(G) ® {0, 1, 2, ..., m} that induces a labeling f: E(G) ® {1, 2, 3, ..., m} of the edges of G defined by f(e) = |f(u)-f(v)| for each edge e = uv of G. The value of a g-labeling f is denoted by val(f) = SeeEf(e). The maximum value of a g-labeling of G is defined by valmax(G) = max{val(f) : f is a g ‑ labeling of G}, while the minimum value of a g-labeling of G is defined by valmin (G) = min{val(f) : f is a g ‑ labeling of G}.  In this paper we investigate the valmin(G) of an (n,t)-kite graph G for every integer n ³ 3, and  the lower bound of the valmax(G) of an (n,t)-kite graphs G for n =3 and  n=4. Keywords: g-labeling, (n,t)-kite graphs, Maximum value, Minimum value. Abstrak Misal  G(V,E) adalah graf dengan banyak titik n dan banyak sisi m. Suatu pelabelan-g  pada graf G adalah fungsi satu-satu f: V(G) ® {0, 1, 2, ..., m} yang menghasilkan pelabelan f: E(G) ® {1, 2, 3, ..., m} pada sisi-sisi dari  G yang didefinisikan oleh  f(e) = |f(u)-f(v)| untuk setiap sisi e = uv pada G. Nilai dari pelabelan-g  f dilambangkan dengan val(f) = SeeEf(e). Nilai maksimum untuk pelabelan-g f dari graf G didefinisikan oleh valmax(G) = max{val(f) : f adalah pelabelan ‑g dari G}, sedangkan nilai minimum untuk pelabelan-g  f dari G didefinisikan oleh valmin (G) = min{val(f) : f adalah pelabelan ‑g  dari G}. Pada artikel ini kami memberikan valmin(G) dari graf  (n,t)-kite G untuk sembarang bilangan bulat n ³ 3, dan batas bawah untuk  valmax(G) dari graf (n,t)-kite G untuk n=3 dan  n=4. Kata kunci: Pelabelan-g, Graf (n,t)-kite, Nilai maksimum, Nilai minimum.
Sensitivitas Metode Ensemble Kalman Filter untuk Mendeteksi Gangguan pada Masalah Konduksi Panas Satu Dimensi Erna Apriliani; Wiwit Sofiyanti Budiono
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Misalkan diberikan batang logam yang terisolasi, yang dipanaskan dengan suhu konstan pada satu sisi, sedangkan sisi yang lain diisolasi. Jika terdapat lubang kecil pada isolasi batang logam tersebut, maka hal ini akan mempengaruhi distribusi panas sepanjang batang logam. Oleh karena itu sangat penting untuk mengestimasi posisi lubang tersebut. Ensemble Kalman filter adalah metode estimasi variable keadaan dari sistem dinamik stokastik berdasarkan model matematika dari sistem tersebut dan beberapa data pengukuran. Pada paper ini, Ensemble Kalman filter digunakan untuk mengestimasi distribusi panas pada batang logam dan mendeteksi posisi lubang berdasarkan distribusi  panas tersebut. MATLAB digunakan untuk mensimulasikan gangguan oleh aliran panas melalui lubang. Simulasi bervariasibervariasi baik dalam hal posisi maupun temperatur. Simulasi ini menunjukkan bahwa Ensemble Kalman Filter dapat digunakan untuk mendeteksi posisi gangguan, jika rasio antara besar temperatur gangguan dan temperature batang logam sendiri lebih besar dari 10%. Kata kunci: Ensemble Kalman Filter, Sensitifitas, Transformasi panas pada batang. Abstract Suppose, we have an isolated metal rod, which it is heated with a constant temperature in the one side and is isolated the other side. If there is a small hole on isolating, then the hole influences the heat distribution in rod. So, it is important to estimate the position of hole. Ensemble Kalman filter is a method to estimate the state variable of dynamic stochastic sistem based on mathematical model of these sistem and some measurement data. Here, we use the Ensemble Kalman filter to estimate the distribution of heat transfer on along the rod, and based on that distribution we estimate the position of hole. We used MATLAB to simulate disturbances by heat flow through hole, varied in positions and temperature. The simulation shows that we can use Ensemble Kalman Filter to detect the position of the disturbance, if the ratio between the magnitude of temperature disturbance and the temperature of metal rod is greater than 10%. Keywords: The ensemble Kalman Filter, Sensitivity, Heat transfer of rod.
Spatial Modeling on the Relationship between Asset Society and Poverty in East Java Rokhana Dwi Bekti; Sutikno Sutikno
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Each region has assets of life, especially in compliance of food necessity, that different according to their respective characteristics. These assets are closely related with poverty rates of each region. Spacial modeling is a tool to observe the relationship between asset life of the community and poverty as stated by Head Count Index (HCI). In this study, point approach with Geographically Weighted Regression (GWR) was used. The approach taken is point approach using Geographically Weighted Regression (GWR). Location of this study is the districts in East Java Province. The result shows that the relationship between assets life of HCI are different in each location or region. Moreover, in general, twice irrigation of year of paddy cultivation and percentage of 10 years old without formal education citizens are significant to HCI difference. Keywords: Poverty, HCI, GWR. Abstrak Setiap wilayah memiliki aset-aset kehidupan khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang berbeda sesuai karakteristik masing-masing. Aset-aset tersebut berhubungan erat dengan jumlah angka kemiskinan masing-masing wilayah. Untuk mengetahui hubungan aset kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan terhadap kemiskinan yang dinyatakan dengan Head Count Index (HCI), suatu pemodelan spasial. Dalam penelitian ini, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan titik menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR). Lokasi penelitian adalah kabupaten-kabupaten di Propinsi Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara asset kehidupan dan HCI adalah berbeda untuk masing-masing lokasi. Namun demikian, secara umum dapat disimpulkan bahwa frekuensi penanaman padi setahun dengan teknik 2 kali irigasi dan persentase penduduk usia di atas 10 tahun yang tidak/belum pernah sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap HCI. Kata kunci: Kemiskinan, HCI, GWR.
Analisis Kandungan Minyak Atsiri dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) Aliya Nur Hasanah; Fikri Nazaruddin; Ellin Febrina; Ade Zuhrotun
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu tanaman Suku Zingiberaceae yang diketahui mengandung  minyak atsiri. Secara empirik rimpang kencur sering digunakan sebagai obat tradisional, salah satunya untuk mengobati radang (inflamasi). Sampai saat ini, belum pernah dilaporkan aktivitas antiinflamasi dari ekstrak rimpang kencur. Penelitian ini bertujuan mempelajari aktivitas antiinflamasi, kandungan minyak atsiri, dan pengaruh kandungan minyak atsiri tersebut terhadap aktivitas antiinflamasi rimpang kencur. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang kencur yang berasal dari dua daerah yaitu Kabupaten Subang dan Kabupaten Sukabumi. Aktivitas antiinflamasi ditentukan melalui uji terhadap inflamasi akut yang diinduksi dengan karagenan dan analisis kandungan minyak atsirinya dilakukan menggunakan GC/MS. Hasil pengujian aktivitas antiinflamasi menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kencur dari Kab. Subang dapat menginhibisi inflamasi sebesar 36,47±2,46; 40,07±2,09; dan 51,27±2,63 % sedangkan dari Kab. Sukabumi menghambat sebesar 40,19±4,12; 39,44±6,66; dan 48,90±5,09 % berturut-turut pada dosis 18, 36, dan 45 mg/kg bobot badan  tikus. Kadar minyak atsiri ekstrak rimpang kencur dari Kab. Subang lebih kecil yaitu  sebesar 5,825% dibandingkan kadar minyak atsiri  ekstrak kencur dari Kab. Sukabumi(14,41%),  namun rimpang kencur dari Kabupaten Subang maupun dari Sukabumi mengandung minyak atsiri yang sama yaitu  2,4,6-trimetil oktan, etilsinamat, limonen dioksida, asam etil ester 3-(4-metoksifenil)-2-propenoat, dan etil p-metoksisinamat. Kata kunci : Kaempferia galanga L., Aktivitas antiinflamasi, Minyak atsiri, etil-p-metoksisinamat Abstract Kencur (Kaempferia galanga L.) is a plant of Zingiberaceae family which is well known as essential oil containing plant. Traditionally, kaempferia rhizome was used to treat inflammation. Untill now, there is no report of the  anti-inflammatory activity of this plant  rhizome extract. This research aim is to study the anti-inflammatory activity of the extract, its essential oil contents, and the influence of its essential oil contents on its anti-inflammatory activity. The kaempferia rhizome used in this research was collected from two diffrent parts that is from Kabupaten Subang and Kabupaten Sukabumi. The anti-inflammmatory activity of the extract was detemine through acute inflammatory test  which is induced by carrageenan and analysis of the essential oil contents was done using GC/MS. The anti-inflammatory activity test showed that at the same tested doses i.e. 18, 36, and 45 mg/kg rat body weight, kaempferia rhizome extract from Kabupaten Subang  inhibited  the inflammatory response:  36.47±2,46; 40.07±2,09; and 51.27±2,63 % while kaempferia rhizome extract from Sukabumi inhibited: 40.19±4,12; 39.44±6,66; and 48.90±5,09%,  respectively. The essential oil contents of Kaempferia rhizome from Kabupaten Subang lower that is 5.825% compared to the amount of essential oil from Kabupaten Sukabumi (14.41%). However, the rhizomes either collected from Sukabumi or Subang contained the same essential oil i.e.  2,4,6-trimethyl octane, ethyl cinnamate, limonene dioxide, ethyl ester 3-(4-methoxyphenyl)-2-propenoic acid, and ethyl p-methoxycinnamate. Keywords : Kaempferia galanga, L., Anti-inflammatory activity, Essential oils, etil-p-metoksisinamat.
Low Temperature Oxidation by Continuous UV Generated Ozone on Nanometer-thick Amorphous Silicon Surface as Characterized by XPS Yudi Darma
Jurnal Matematika & Sains Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Ozone assisted oxidation of amorphous silicon (a-Si) by continuously working ultraviolet lamps has been studied for low temperature oxidation (LTO) method instead of conventional high temperature furnace initiated growth of SiO2. The growth mechanism of SiO2 thin film on Si at room temperature by UV-lamps generated ozone have been investigated using X-ray photoelectron spectroscopy (XPS). Efficient ozone assisted oxidation of Si is obtained due to the replacing of O2 by atomic oxygen as the effective oxidant through the directly attacks of back bond Si. Layer by layer SiO2 growth occurs accompanied with slightly etch back of formed SiO2 by active oxygen atoms and promote a few volatile O2 units. Unbond precipitate oxygen atoms can be reduced by thermal annealing at 800 oC to obtain a high quality SiO2 film. Keywords: Oxidation, Low Temperature Oxidation, Ozone, UV-lamp, XPS. Abstrak Oksidasi amorpous silikon (a-Si) berbantuan Ozon dengan pemaparan sinar ultraviolet secara kontinu untuk pengembangan metode oksidasi pada suhu rendah telah dipelajari sebagai alternatif dari metode oksidasi konvensional yang biasanya menggunakan suhu tinggi. Pada penelitian in,i ozon dihasilkan melalui penyinaran molekul oksigen dengan lampu UV secara terus-menerus pada suhu ruang. Selanjutnya penumbuhan lapisan tipis SiO2 dengan ozon dipelajari secara sistematis menggunakan X-ray photoelectron spectroscopy (XPS). Didapat bahwa proses oksidasi dengan ozon lebih efisien dibandingkan dengan cara konvensional, karena molekul O2 dibantu oleh atom oksigen yang lebih reaktif berikatan dengan Si. Penumbuhan lapisan oksida terjadi secara kontinyu diiringi dengan sedikit pengikisan kembali lapisan oksida yang sudah terbentuk. Pengikisan oksida yang sudah terbentuk dipicu oleh ozon yang membentuk molekul O2 dan terlepas dari permukaan lapisan SiO2. Sisa atom oksigen yang tidak berikatan dengan Si dapat dikurangi melalui "annealing" pada suhu 800 oC sehingga diperoleh SiO2 dengan kualitas yang lebih baik. Kata kunci: Oksidasi, Oksidasi dengan suhu rendah, Ozon, Lampu-UV, XPS.