cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Matematika & Sains
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 339 Documents
Degradasi Sitrinin Dalam Kaldu Fermentasi Cair Monascus Purpureus oleh Hidrogen Peroksida Inayah, Istiyati; Wibowo, Marlia Singgih; Julianti, Elin
Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Monascus purpureus menghasilkan metabolit sekunder antara lain pigmen, lovastatin, γ-aminobutyric acid (GABA), asam dimerumat, dan sitrinin. Salah satu metabolit sekundernya yaitu sitrinin, merupakan senyawa hepatotoksik-nefrotoksik. Untuk menghilangkan senyawa sitrinin dari kaldu fermentasi M. purpureus maka ditambahkan hidrogen peroksida (H2O2) ke dalamnya. Dalam penelitian ini degradasi sitrinin dilakukan dengan menambahkan H2O2 dengan variasi konsentrasi 1, 2, 3, 4, dan 5%, kemudian diinkubasi dengan variasi waktu inkubasi 2, 3, 4, dan 24 jam. Kemudian kadar sitrinin, absorbansi pigmen, dan residu H2O2 dari hasil degradasi dianalisis. Hasil percobaan menunjukkan bahwa sitrinin terdegradasi paling banyak setelah diinkubasi selama 24 jam yaitu sebesar : 89,50; 89,61; 89,42; 89,62; dan 89,62 % berturut-turut pada penambahan : H2O2  1, 2, 3, 4, dan 5 %. Namun degradasi terhadap sitrinin berdampak pada degradasi pigmen juga. Setelah inkubasi selama 24 jam, pigmen terdegradasi sebesar : 12,13; 21,15; 30,40; 39,74; dan 47,05 % berturut-turut pada penambahan H2O2  1, 2, 3, 4, dan 5 %.  Dalam waktu 24 jam, H2O2 yang ditambahkan pada kaldu fermentasi tidak seluruhnya bereaksi dengan sitrinin dan pigmen sehingga dihasilkan residu H2O2 sebesar : 0,015; 0,303; 0,491; 0,824; dan 0,954 % (gr/L) berturut-turut pada penambahan H2O2 : 1, 2, 3, 4, dan 5 %. Proses degradasi sitrinin paling baik adalah pada penambahan H2O2 1% dengan waktu inkubasi 24 jam yang mampu mendegradasi sitrinin sampai 89,50 %, namun hanya mendegradasi pigmen 12,13 % dan menyisakan residu H2O2 0,015 %. Kata kunci: Degradasi, Sitrinin, Hidrogen peroksida, Monascus purpureus   Citrinin Degradation in Liquid Fermentation Broth of Monascus Purpureus by Hydrogen Peroxide Abstract Monascus purpureus produced secondary metabolites such as pigments, lovastatin, γ-aminobutyric acid (GABA), dimerumic acid, and citrinin. One of secondary metabolites, i.e. citrinin is hepatotoxic-nephrotoxic compounds. Hydrogen peroxide (H2O2) was added to eliminated citrinin in fermentation broth of M. purpureus. In this research, citrinin was degradated by hydrogen peroxide with adding various concentration of  H2O2 : 1, 2, 3, 4, and 5 % into the liquid fermentation broth and then incubated with various incubation times 2, 3, 4, and 24 hours. Citrinin concentration, pigment absorbance and residual H2O2 were analyzed. The experimental results showed that the most widely citrinin degraded after 24-hour incubation period that was equal to : 89.50, 89.61, 89.42, 89.62, and 89.62 % on addition of : H2O2 1, 2, 3, 4, and 5 %, respectively. However, degradation citrinin impacted on degradation pigments as well. After 24 hours of incubation, pigment was degraded : 12.13, 21.15, 30.40, 39.74, and 47.05 % on addition of : H2O2 1, 2, 3, 4, and 5 % respectively. Within 24 hours, H2O2 that was added to fermentation broth was not fully reacted with citrinin and pigmen, leaving a residue of H2O2 : 0.015, 0.303, 0.491, 0.824, and 0.954 % (g / L) successive addition of H2O2 at 1, 2, 3, 4, and 5 %. The best use of H2O2 concentration to degrade citrinin is H2O2 1% with a 24-hour incubation period which can degrade citrinin up to 89.50%, but the pigment degrades only 12.13% and leaving H2O2 residue of 0.015%. Keywords : Degradation, Citrinin, Hydrogen peroxide, Monascus purpureus
Pengaruh Perbandingan Molaritas Prekursor terhadap Fotoluminesensi BCNO yang Disintesis dengan Metode Hidrotermal Septia Mahen, Ea Cahya; Nuryadin, Bebeh Wahid Nuryadin Wahid; Iskandar, Ferry; Abdullah, Mikrajuddin; Khairurrijal, Khairurrijal
Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fosfor BCNO yang terdispersi pada likuid telah berhasil disintesis menggunakan metode hidrotermal. Bahan dasar (prekursor) yang digunakan adalah asam borat [B(OH)3] sebagai sumber boron, urea [(NH2)2CO] sebagai sumber nitrogen, dan asam sitrat (C6H8O7)sebagai sumber karbon. Dalam penelitian ini, telah dilakukan variasi rasio molar nitrogen terhadap boron (N/B) dan rasio molar karbon terhadap boron (C/B) dan pengaruhnya terhadap pendaran fosfor BCNO yang dihasilkan. Hasil karakterisasi spektrum fotoluminesen dari sampel yang dibuat menunjukkan bahwa pendaran fosfor BCNO mempunyai puncak emisi tunggal disekitar warna biru (~450 nm) ketika dieksitasi dengan sinar UV(365 nm). Intensitas pendaran dipengaruhi oleh kadar karbon terhadap kandungan boron (C/B) dan kadar nitrogen terhadap kandungan boron (N/B). Penambahan kadar karbon dan nitrogen diketahui dapat meningkatkan intensitas pendaran. Sedangkan intensitas optimum pendaran fosfor BCNO dicapai pada saat ratio molar C/B = 1 dan N/B =20. Kata kunci: Fosfor BCNO, Spektrum fotoluminesen, Metode hidrotermal. Influence of Precursor Molar Ratio on the BCNO Photoluminescence synthesized by Hydrothermal Method Abstract BCNO phosphor which is dispersed into liquid has been successfully synthesized by using hydrothermal method. The precursor consists of the borate acid [B(OH)3] as boron source, urea [(NH2)2CO] as nitrogen source, and citric acid (C6H8O7) as carbon source. In this research, molar ratio variations of nitrogen and carbon  towards boron (N/B and C/B), and their influence on resulted BCNO phosphor luminescence were done. The characterization results of the sample shows the single peak of BCNO phorphorous luminescence around blue color (~450 nm) on the photoluminescence spectrum, when excited by UV light (365nm). The photoluminescence intensity was affected by the ratio N/B and C/B. The increase of carbon and nitrogen ratio can increase the photoluminescence intensity. The optimum intensity of BCNO phosphor photoluminescence was obtained at the molar ratio N/B = 20 and C/B =1. Keywords : BCNO phosphor, Photoluminescence spectrum, Hydrothermal method.
Strategi Sintesis Zeolit Hirarkis: Kajian Metode Cetak Lunak dan Cetak Keras Kadja, Grandprix T.M.; Rilyanti, Mita; Mukti, Rino Rahmata; Marsih, I Nyoman; Ismunandar, Ismunandar
Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zeolit hirarkis saat ini diminati untuk digunakan sebagai katalis yang mampu menyelesaikan masalah pada industri petrokimia dan kimia.  Masalah yang biasa ditemukan pada reaksi katalitik ini menyangkut kepada hambatan difusi molekul, deaktivasi katalis, rendahnya rendemen produk dan selektivitas produk. Hal ini dapat terselesaikan karena zeolit hirarkis memiliki pori tambahan yang berskala meso (>2 nm) selain keberadaan pori mikro (2 nm) despite the presence of micropore (
Pembentukan Ring Bersih Menggunakan Lokalisasi Ore Isnaini, Uha; Wijayanti, Indah Emilia
Jurnal Matematika dan Sains Vol 19 No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Misalkan diberikan sebarang ring R (tidak harus komutatif) dan himpunan multiplikatif S Í R yang tidak memuat elemen nol. Lokalisasi Ore merupakan salah satu teknik pembentukan ring sehingga setiap elemen S memiliki invers di ring yang baru. Ring hasil lokalisasi tidak selalu mempertahankan sifat ring awal. Suatu ring sebarang dapat disisipkan ke  ring bersih, ring bersih-n dan ring peralihan. Pada paper ini akan dikaji sifat-sifat yang diperlukan untuk menyisipkan sebarang ring ke ring tersebut menggunakan lokalisasi. Kata kunci : Lokalisasi Ore, Elemen Satuan, Ring Bersih, Ring Peralihan, Ring Bersih-n.   Construction of Clean Ring using Ore Localization Abstract Let R be any ring (can be non commutative) and S Í R is a multiplicative set that does not contain any zero element. Ore localization is a powerful technique to construct a universal S-inverting ring. However the localization results do not always inherit properties of the first ring. An arbitrary ring can be inserted into the clean ring, n-clean ring, and exchange ring. Here, we show properties needed to insert any ring to the ring using localization. Keywords: Ore Localization, Unity, Clean Ring, Exchange Ring, n-Clean Ring.
Ruang Vektor Eigen Suatu Matriks Atas Aljabar Max-Plus Interval Siswanto, Siswanto; Suparwanto, Ari; Rudhito, M. Andy
Jurnal Matematika dan Sains Vol 19 No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Misalkan  himpunan bilangan real. Aljabar Max-Plus adalah himpunan Âmax = Â È {‑¥} dilengkapi dengan operasi maksimum Å dan plus Ä. Dapat dibentuk himpunan matriks berukuran n ´ n yang elemen-elemennya merupakan anggota himpunan Âmax, ditulis . Dibentuk himpunan I(Â)max yaitu himpunan yang anggotanya merupakan interval-interval tertutup dalam Âmax. Himpunan I(Â)max dilengkapi dengan operasi  dan  disebut aljabar Max-Plus interval. Selanjutnya, dapat pula dibentuk himpunan matriks berukuran n ´ n yang elemen-elemennya merupakan anggota himpunan I(Â)max, ditulis . Misalkan  dan , dengan , matriks interval A dikatakan tak tereduksi jika untuk setiap matriks  tak tereduksi. Jika tidak demikian matriks interval A dikatakan tereduksi. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang ruang vektor eigen suatu matriks atas aljabar Max-Plus interval. Kata kunci : Ruang vektor eigen, Aljabar Max-Plus interval.   Eigenvector Space of a Matrix of Interval Max-Plus Algebra Abstract Let  be the set of real numbers. Max-Plus Algebra is the set Âmax = Â È {‑¥} equipped with the maximum operation Å and plus Ä. The set  is a set of n ´ n matrix with entries belonging to Âmax. Set I(Â)max i.e the set whose members are closed intervals in Âmax.The set I(Â)max equipped with the maximum operation  and plus  called interval Max-Plus algebra. Furthermore, we can also form the set of size n ´ n matrices whose elements are members of the set I(Â)max written . Suppose  and  where , the interval matrices A is irreducible if for any matrix  irreducible. Otherwise the interval matrix A is said reducible. In this research we will discuss eigenvector space of interval Max-Plus algebra matrix. Keywords : Eigenvector space, Interval Max-Plus algebra.
Karakteristik Submodul Prima Lemah dan Submodul Hampir Prima pada Wardhana, I Gede Adhitya Wisnu; Astuti, Pudji
Jurnal Matematika dan Sains Vol 19 No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hani A. Khashan memperkenalkan istilah submodul hampir prima yang merupakan perumuman submodul prima lemah. Telah dibahas beberapa sifat dasar submodul hampir prima dan karakterisasinya, terutama pada modul perkalian yang faithful. Pada tulisan ini dibahas mengenai karakterisasi submodul hampir prima dan submodul prima lemah pada modul siklik  yang bukan merupakan submodul faithful. Kata kunci: Submodul prima, Submodul prima lemah, Submodul hampir prima.   Characteristic of Weakly Submodules and Almost Prime Submodules of Abstract Hani A. Khashan introduces almost prime submodule term, which is generalization of weakly prime submodule. Some property of almost prime submodul had been characterized, especially for faithful multiplication modules. In this article we characterize weakly prime submodules and almost prime submodules for cyclic module, , which is not faithful. Keywords: Prime submodules, Weakly prime submodules, Almost prime submodules.
Properties of Platinum Sub-Nanoclusters on Graphene Nano Sheets at Cathode Siburian, Rikson; Bukit, Minsyahril
Jurnal Matematika dan Sains Vol 19 No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The catalytic activities of Pt subnano-clusters on graphene nanosheets (GNS) for oxygen reduction reaction (ORR) catalysts have been examined. The ORR activity of Pt on GNS (0.99 V) is higher than on carbon black (CB) commercial catalyst (0.94 V versus RHE). A core level shift of Pt 4f in XPS indicates that Pt is chemically interacted with GNS. It has been ascribed to difference in the interface interaction between Pt and graphene via different strength of the π–d hybridization. Keywords: Pt, Graphene nanosheet, Pt subnano-clusters, ORR.   Sifat-sifat Pt Sub-Nanocluster pada Graphen Nano Sheets (GNS) di Katoda Abstrak Aktivitas katalis dari Pt subnano-kluster dengan menggunakan material pendukung graphen nano-sheet (GNS) untuk katalis reaksi reduksi oksigen (RRO) telah diuji. Aktivitas RRO dari Pt/GNS (0.99 V) lebih tinggi dari katalis komersial Pt CB (0.94 V versus RHE). Pergeseran tingkat pusat Pt 4 f pada data XPS mengindikasikan bahwa terjadi interaksi kimia antara Pt dan graphen melalui hibridisasi π–d. Kata kunci: Pt, Graphen nano-sheet, Pt subnano-kluster, RRO.
Studi Pembentukan Kompleks Nikel-Kloramfenikol dengan Pengaturan pH dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Antimikroba pada Staphylococcus aureus, Eschericia coli, Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Vancomycin Resistant Enterococcus (VRE) Nugrahani, Ilma; Ningsih, Listia
Jurnal Matematika dan Sains Vol 19 No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kloramfenikol merupakan antibiotik dengan spektrum luas, namun karena toksisitas yang tinggi dan masalah resistensi, kloramfenikol sudah jarang digunakan. Beberapa penelitian akhir-akhir ini melaporkan bahwa kloramfenikol dapat meningkat aktivitasnya jika dikompleks dengan logam menggunakan berbagai metode. Telah dilakukan pembuatan kompleks nikel-kloramfenikol menggunakan metode yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu dengan pengaturan pH dari bahan awal kloramfenikol base dan nikel-(II)-klorida. Kompleks yang diperoleh dievaluasi strukturnya menggunakan FTIR dan H-NMR, serta diuji aktivitas antimikrobanya terhadap bakteri non-resisten Gram-positif Staphylococcus aureus, bakteri non-resisten Gram-negatif Eschericia coli, serta bakteri resisten MRSA dan VRE, menggunakan metode difusi agar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kompleks nikel-kloramfenikol yang terbentuk berwarna hijau kekuningan, dengan data spektra FTIR dan H-NMR mengindikasikan bahwa ikatan dengan metal terjadi pada NH (amina) dari gugus dikloroasetamida. Pengujian aktivitas kompleks nikel-kloramfenikol tersebut menunjukkan, bahwa aktivitas antimikroba terhadap bakteri non-resisten Gram positif Staphylococcus aureus lebih tinggi secara bermakna (p0,05). Kata kunci : Kloramfenikol, Kompleks, Nikel-(II)-klorida, Struktur, Uji potensi.   Study of Complex Formation Nickel-chloramphenicol by Setting the pH and Its Influence on the Microbial Activity toward Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) and Vancomycin Resistant Enterococcus (VRE)   Abstract Chloramphenicol is a broad spectrum antibiotic, but due to its high toxicity and resistance cases, recently this drug  is rarely used. Previous studies have reported that chloramphenicol can increase its activity when complexed with a metal with a variety of methods. The arrangement of nickel-chloramphenicol complex using pH adjustment method which has not been reported previously, from the starting material chloramphenicol base and nickel-(II)-chloride, has been performed. The complex obtained was evaluated using FTIR and H-NMR, and also evaluated its antimicrobial activity. Testing the antimicrobial activity of the nickel complex-chloramphenicol performed against Gram-positive non-resistant bacteria, e.g. Staphylococcus aureus, Gram-negative non-resistant, e.g. Escherichia coli, and resistant bacteria, e.g. MRSA and VRE, using agar diffusion method. The experimental results showed that nickel-chloramphenicol complex formed has a yellowish-green color, with FTIR data H-NMR data, supported indicated that a metal bonding occured at NH (amine) of dichloroacetamide  moeity. The activity test of this nickel-chloramphenicol complex showed that the antimicrobial activity against Staphylococcus aureus was significantly higher (p 0.05). Keywords: Chloramphenicol, Complex, Nickel-(II)-chloride, Structure, Potency Test.
Distribusi Biomassa di Atas dan Bawah Permukaan dari Surian (Toona Sinensis Roem.) Yusuf, Muhammad; Sulistyawati, Endah; Suhaya, Yoyo
Jurnal Matematika dan Sains Vol 19 No 2 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surian (Toona sinensis) merupakan spesies pohon dengan banyak kegunaan yang umum digunakan pada program aforestasi/reforestasi di Indonesia. Untuk dapat lebih memahami peranan surian dalam menyerap karbon, penghitungan biomassa surian menjadi tahap pertama yang penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan proporsi biomassa tiap bagian pohon surian melalui metode pengrusakan (destructive sampling). Sebanyak 18 pohon surian dalam rentang diameter batang setinggi dada 2 - 31 cm digunakan dalam penelitian ini. Dimensi tiap pohon diukur di lapang dan juga laboratorium, seperti diameter setinggi dada (DBH), tinggi (H), dan kerapatan kayu. Biomassa pohon dibagi menjadi lima komponen, yaitu batang, cabang, tangkai, daun, dan akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa batang adalah bagian paling dominan sedangkan tangkai daun dan daun hanya menyumbang sebagian kecil dari biomassa pohon. Biomassa di atas permukaan tanah (above-ground biomass/AGB) memiliki kontribusi paling besar dari biomassa total dengan rasio root to shoot (R/S) sebesar 0,24. Kandungan karbon tiap bagian pohon hampir sama dengan rata-rata sebesar 42% dari biomassanya. Seiring dengan perkembangan pohon surian, kerapatan kayu teramati cenderung konstan pada kisaran 0,32 - 0,5 g.cm-3 dengan rata - rata sebesar 0,43 ± 0,049 g.cm-3. Kata kunci: Biomassa, Distribusi, Simpanan karbon, Surian. Distribution of Above- and Below- Ground Biomass of Surian (Toona Sinensis Roem.) Abstract Surian (Toona sinensis) is a multi-purpose tree species commonly used in Indonesia for afforestation/reforestation program. In order to better understand the role of surian tree in sequestrating carbon, it is important to measure the biomass of surian. This study aimed to know the biomass distribution in each compartments of surian through a destructive sampling. Eighten trees with the diameter ranging from 2 cm to 30 cm were used in this study. The key dimensions of each tree were measured in the field and laboratory, i.e. diameter at breast height (DBH), height, and wood density. Biomass was divided into five compartments, i.e. stem, branches, petioles, leaves, and roots. The results showed that stem were the dominant part of the total biomass, while petioles and leaves only contributed a small fraction. Above-ground biomass (AGB) yields the highest contribution to total biomass with the root to shoot ratio of 0.24. Carbon content of each tree compartment was relatively equal with another, in average 42%. Wood density was observed relatively constant along tree development in range 0.32 - 0.5 g.cm-3 with average of 0.43 ± 0.049 g.cm-3. Keywords : Biomass, Distribution, Carbon stock, Surian.  
Semiring Pseudo-Ternary Maxrizal, Maxrizal; Suparwanto, Ari
Jurnal Matematika dan Sains Vol 19 No 2 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam makalah ini akan diperkenalkan definisi dan sifat-sifat semiring pseudo-ternary. Selanjutnya, akan diperkenalkan subsemiring pseudo-ternary dan ideal pada semiring pseudo-ternary. Lebih lanjut, ideal-ideal yang terbentuk pada semiring pseudo-ternary akan digunakan untuk membentuk semiring pseudo-ternary faktor.Pseudo-Ternary Semiring Abstract In this paper we introduce the notion of pseudo-ternary semiring. Furthermore, we will introduce pseudo-ternary subsemiring and ideals in pseudo-ternary semiring. Finally, ideals in pseudo-ternary semiring will be used for constructing pseudo-ternary factor semiring. Keywords:  Pseudo-ternary semiring, Factor pseudo-ternary semiring.