Articles
21 Documents
MARIA BUNDA ALLAH ADALAH BUNDA TIAP ORANG BERIMAN
Mahulae, Kristinus C.
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Santa Maria, yang mengandungkan serta melahirkan Yesus, dengan setia menyertai Yesus Puteranya dalam jalan salibNy sampai ke detik-detik terakhir Yesus tergantung di kayu salib. Maria dengan setia mendampingi para murid/rasul yang merasa ketakutan di hadapan orang-orang Yahudi sampai turunnya Roh Kudus yang dijanjikan. Maria dengan setia mendampingi jemaat perdana. Dengan cepat jemaat perdana melihat dan merenungkan hidup Maria. Jemaat beriman menyapa Maria dengan sapaan malaekat Gabriel âsalam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamuâ. Kemudian salam ini dikembangkan jemaat beriman dengan menambahkan kata-kata Elisabeth ketika dia dikunjungi Maria. Dengan cepat jemaat beriman menyampaikan permohonan kepada Maria, agar Maria mendoakan tiap orang beriman âsanta Maria bunda Allah, doakanlah kamiâ. Doa ini telah menjadi harta karun gereja katolik dan kaum beriman. Maria yang disapa dan didoakan menjawab kaum beriman dengan penampakan-penampakan dirinya yang sudah terjadi beberapa kali di tempat-tempat yang berbeda. Kiranya tulisan ini membangun dan mendorong kita untuk makin mendekatkan diri kita kepada Maria, bunda Yesus, agar dia juga menjadi bunda kita orang beriman kepada Yesus Puteranya.
VINCENTâS SPIRITUALITY IN FRANCE
Purba, Mida
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 9, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dalam artikel ini penulis mencoba menggambarkan kaitan antara bentuk panggilan religious seseorang dengan waktu dan tempat dimana orang bersangkutan berada. Waktu dan tempat seseorang berada, secara mendalam mempengaruhi bentuk atau manifestasi spiritualitasnya. St. Vinsensius misalnya, seperti akan diuraikan falam artikel ini, bertemu dengan Allah melalui sesamanya, khususnya mereka yang miskin. Pertemuan yang terjadi di tempat tententu dan pada waktu yang spesifik ini memberi pengaruh pada bentuk panggilan religiousnya. Baginya, perjumpaannya dengan orang-orang miskin yang terjadi secara tak terduga adalah medium yang dipakai oleh Allah untuk menyapanya secara personal, menuntun dan memanggilnya untuk menjadi rasul bagi orang-orang miskin. Vinsensius secara perlahan berkembang terus dalam pemahaman dan penerimaan apa yang dia yakini merupakan panggilan hidupnya. Dia melihat berbagai bentuk derita dan keresahan orang miskin dan berupaya hadir serta meringankan derita mereka.
PATROLOGI, STUDI TENTANG BAPA-BAPA GEREJA Sebuah catatan pengantar
Situmorang, Sihol
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kongregasi untuk Pendidikan Katolik mengeluarkan Instruksi tentang Studi Bapa-bapa Gereja dalam Pembinaan Imam karena melihat sumbangan para Bapa Gereja yang tak ternilai harganya bagi teologi dan hidup Gereja masa kini, khususnya dalam kerangka pembinaan calon-calon imam. Mereka berjasa dalam menetapkan dasar iman, kanon Kitab Suci, memprakarsai liturgi yang stabil. Di tengah rumitnya persoalan yang dihadapi Gereja pada masa mudanya, para Bapa Gereja mewariskan kepada kita cara berteologi yang berorientasi pada Kitab Suci dan bermuara bagi pengembangan hidup rohani umat beriman. Mereka menggagas inkulturasi tanpa kehilangan nilai-nilai fundamental iman. Karya mereka yang sarat dengan kekayaan kultural, spiritual, kateketik, homiletik dan apostolik ini merupakan sumber inspirasi bagi teologi masa kini.
BORU NI RAJA HATOBAN - Tinjauan Filsafat Anthropologis atas Kaum Perempuan di dalam Budaya Batak Toba
Simamora, Serpulus T.
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 1, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
One of many definitions offered to explain human existence is that human being is a paradoxal being. By paradoxical being one intends that the very existence of human being is perceived in its seemingly contradictory expression without being contradiction. Human being is material-spiritual, individual-social, etc. This paradoxical nature constitutes human existence. It affects essentially his/her personality, religion, act, culture, etc. Social status of women in Toba Batak culture is placed in such paradoxical situation too. In one hand, they are invoked as âBoru ni Rajaâ (the honored daughter), but on the other hand, they are treated as âhatobanâ (slaves). This article seeks to show critically the place of Toba Batak women in Toba Batak culture. Our purpose, therefore, is to present the social status of Toba Batak women inherited culturally from ancestors. By critically we mean that we seek to present fairly the social status of women in both its negative side and positive one.
BONUM COMMUNE SEBAGAI SASARAN GERAKAN BURUH MENURUT AJARAN SOSIAL GEREJA
Nadeak, Largus
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 1, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The labourersâ numbers have increased in line with the development of industrialization. But this development did not parallel to the appreciation on the fruit of the labourersâ work. Since long labourers become the object of work and violence. Church social teaching has anticipated labourersâ problem since the year 1891 through the Encyclical letter âRerum Novarumâ. Itâs main point is that man is homo laborans. When human put in on the job, they will fulfil their needs and also form their self-integrity. Therefore menâs/womenâs job must be paid in a proper payment in accordance to the fruit of their work and ability of enterprise. Communion secure and prosperous should be the aim of this movement. Bonum Commune gives assurance to the rights of every human as individual, and right of every human in the certain social communities. The church social teaching should be the light on the labourersâ movement to make a change in an injustice toward bonum commune.
SEBUAH TANGGAPAN ATAS EMPAT DOKUMEN YANG DIKELUARKAN DAN DISAHKAN OLEH KONFERENSI WALI GEREJA INDONESIA TENTANG PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK INDONESIA
Simanullang, Gonti
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The Indonesian bishops have issued four documents in which they state their pastoral responses to the Indonesian Catholic Charismatic Renewal (CCR). The 1993 Various Charisms, One Spirit, addressed to all Catholics of Indonesia, gives significant attention to CCR Service Committees at various levels and briefly the term âbaptism in the Holy Spiritâ. The 1995 The Renewal of Christian Lifewas a revision of the 1983 Pastoral Guidelines,is particularly addressed to Indonesian CCR and speaks of issues among which are âbaptism in the Holy Spiritâ, praying in tongues, and Service Committees. These 1993 and 1995 documents will be reviewed since they speak, although briefly, about the issue of âbaptism in the Holy Spiritâ. This article is a critical comment on the documents and recommends their need for revision.
PRIVILEGI PAULINUM
Pujiwahyulistyanto, Toto
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 9, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perkawinan dalam Gereja Katolik memiliki koderat tak terceraikan. Prinsip ini dipegang teguh oleh Gereja. Namun atas pertimbangan tertentu prinsip ini bisa diabaikan Privilegi paulinum adalah satu istilah dalam Kitab Hukum Kanonik dalam Gereja Katolik, yang memberi kemungkinan pemutusan hubungan nikah dengan alasan tertentu. Pemutusan hubungan seperti itu tentu harus melalui pertimbangan yang sangat hati-hati dari otoritas Gereja. Dalam artikel ini penulis mencoba menguraikan perkawinan yang bagaimana dan alasan-alasan apa saja yang dapat dipertimbangkan untuk penerapan privilese ini.
THE EVOLUTION OF JOHN HENRY NEWMANâS SPIRITUALITY
Ola, Dominikus Doni
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
John Henry Newman is an outstanding pupil. He had a great desire for knowledge, falls in love with music, poem and expressed his thought in speech and writing, always ready for wonder, wholly hearted and entirely ready to the call of everything around him, loved solitude, and ready to seek the Lord will provide in every changes in the external circumstances of life. For Newman, Evangelical teaching had been a great blessing for England and had led him to a spiritual life. Together with his knowledge of the doctrine of Calvinism and Catholic delivered Newman in a big conflict of his mind in one side, but in another side he looked it as a source of a personal encounter with God. Since the first conversions of 1816, Newman who has a sharp consciousness of the realities of the world beyond knew that he was powerless without Divine assistance.
AGRESIVITAS DAN VIOLENSIA
Simorangkir, Hieronymus
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 1, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
There is a number of distinctions regarding the nature of aggression and its function. Therefore it is necessary to elucidate clear differences between the active engagement in gaining mastery over the environment for survivalâs sake, and self defence with force when threatened, and enjoyment of torturing, controlling, or killing without provocation or real need. Of these explanations it would elucidatively appear that aggression and violence differ, but both interact one another.
KEMBALI MENJADI TANAH Satu Refleksi Ekologis Prapaska
Nadeak, Largus
LOGOS - Jurnal Filsafat Teologi Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Fenomena manusia yang terasing dari tanah, terasing dari bumi, terasing dari Allah bisa kita amanti di data ekologis dan perilaku manusia dewasa ini. Di beberapa tempat tanah jadi tandus sulit hidup tanam-tanaman kerena sudah rusak oleh pestisida dan pupuk kimia; di beberapa kota dan daerah banjir makin sering karena hutan dan air tanah tidak dikelola dengan baik; di bumi manusia tidak peduli dengan tata ciptaan yang dikehendaki Allah Pencipta. Pandangan manusia atas statusnya yang bukan bagian bumi, dan tindakan yang berhubungan dengan pandangannya atas statusnya tersebut, turut memengaruhi keterasingan yang terjadi. Kembali menjadi tanah! Seruan ini yang disampaikan pada hari Rabu Abu, merupakan ajakan agar umat Kristen berubah dan bertobat, kembali menata hidup, kembali menata relasi dengan sesama dan dengan ciptaan lain di bumi, dan juga dengan Allah yang sudah memilih tinggal di bumi ini. Kembali menjadi tanah, merupakan proses perjalanan pengolahan tanah, pengolahan hidup sehingga manusia merasa damai sebagai tanah, dan bersama komunitas ciptaan Allah mengalami at home on earth.