cover
Contact Name
STT Jaffray
Contact Email
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, 90114
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Jaffray
ISSN : 18299474     EISSN : 24074047     DOI : -
Jurnal Jaffray adalah jurnal peer-review dan membuka akses yang berfokus pada mempromosikan teologi dan praktik pelayanan yang dihasilkan dari teologi dasar, pendidikan Kristen dan penelitian pastoral untuk mengintegrasikan penelitian dalam semua aspek sumber daya Alkitab. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, review, dan juga laporan kasus yang menarik. Review singkat yang berisi perkembangan teologi, tafsiran biblika dan pendidikan teologi yang terbaru dan mutakhir dapat dipublikasi dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 458 Documents
Okultisme Dalam Pelayanan Pastoral Rahel Jum Juld; I Ketut Enoh
Jurnal Jaffray Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i2.83

Abstract

Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah: Pertama, memberikan pemahamantentang strategi dan pengaruh okultisme dalam pelayanan. Kedua, menunjukkanbagaimana cara melayani orang-orang yang dikuasai oleh okultisme.Metode yang digunakan dalam penyusuanan karya ilmiah ini adalah:memakai metode penelitian studi kepustakaan yakni penulis mengambil data-datadari buku-buku perpustakaan dan tulisan-tulisan lainnya yang memiliki hubungandengan karya ilmiah ini, juga pengalaman penulis dalam pelayanan okultismemerupakan dukungan dalam penulisan karya ilmiah ini.Adapun kesimpulan karya ilmiah “Okultisme dalam Pelayanan Pastoral”adalah: Pertama, okultisme dalam pelayanan pastoral merupakan bagian yang kaitmengait dengan pemberitaan Injil. Manusia harus diinjili supaya menerima Yesussebagai Tuhan dan Juruselamatnya dan orang yang telah diselamatkan harus jugadilepaskan dari kuasa gelap atau kuasa setan. Kedua, okultisme dalam pelayananpastoral menjadi sangat penting bagi pelayanan pastoral karena iblis adalah musuhkita. Oleh karena itu, hamba-hamba Tuhan harus yakin bahwa iblis ada dan tetapbekerja memengaruhi umat Tuhan dan hamba-hamba Tuhan harus siap membelaumat Tuhan dengan melawan iblis dengan iman yang teguh. Ketiga, penguraianokultisme dalam pelayanan pastoral adalah merupakan acuan yang dapat dijadikanpedoman oleh hamba-hamba Tuhan dalam mengadakan pelepasan umat Tuhan darikuasa-kuasa gelap, sehingga umat Tuhan menjadi umat pemenang dari kuasa dosadan iblis.
Turut Membina Indonesia Sebagai Rumah Bersama - Peran Gereja Dalam Politik Di Indonesia Zakaria J. Ngelow
Jurnal Jaffray Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v12i2.16

Abstract

Artikel ini ditulis dalam rangka orasi ilmiah pada perayaan Dies Natalis ke-82 Sekolah Tinggi Theologia Jaffray di Makassar, dari suatu perspektif teologi tentang peran gereja dalam politik di Indonesia. Artikel ini terdiri atas dua bagian, yang pertama adalah tinjauan historis mengenai gereja dan politik di Barat, dari masa Perjanjian Baru sampai pasca-Reformasi ketika gereja berpisah dari negara. Bagian kedua, tentang gereja dan politik di Indonesia. Bagian inilah menjadi pokok uraian pada perayaan Dies Natalis ke-82. Pada bagian kedua ini, topiknya dibagi dalam beberapa bagian, yaitu latar belakang historitas agama dan politik di Indonesia modern, partisipasi Kristen dalam politik di Indonesia, demokrasi prosedural-transaksional dalam konteks politik saat ini dan diakhiri dengan beberapa poin bagaimana gereja berperan dalam mengembangkan substansi demokrasi di Indonesia. Bingkai teologi peran gereja dalam politik adalah misi gereja untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi, di antaranya kebenaran, kedamaian dan kemakmuran bagi semua ciptaan. Politik Kristen bukanlah politik kekuasaan atau untuk kepentingan diri sendiri, tetapi politik untuk melayani dan memperjuangkan kepentingan umum demi kebaikan semua orang dan seluruh ciptaan.Kata-kata kunci :gereja, ciptaan, politik, demokrasi, agamaThis article was written as a theological oration to celebrate the 82nd    anniversary of Jaffray Theological Seminary in Makassar. It is a theological perspective on the role of the church in Indonesian politics. This article consist of two parts, the first is a historical overview of church and politics in the West, from the New Testament period to the post-reformation period when the church was separated from the state. The second part is on the church and politics in Indonesia. This is the part that was delivered as the theological speech at the 82ndcelebration. In this second part various aspects of the topic were elaborated: the historical background of religion and politics in modern Indonesia;  Christian’s participation in Indonesian politics; the context of the recent political situation of procedural-transactional democracy; and finally some points about the church’s role in developing substantial democracy for Indonesia. The theological framework for the political role of the church is that the mission of the church is to implement the signs of the Kingdom of God, i.e. justice, peace, and welfare for all of creation. Christian politics is not the politics of power or of self-interest, but the politics of service and struggle for the common good of people and creation.  Keywords : church, creation, politics, democracy, religion 
Tindakan Preventif Orang Tua Terhadap Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja Kristen Suatu Pengamatan di GKII Efata Airmadi di Manado Esti Christina Watt; Ivone Bonyadone Palar
Jurnal Jaffray Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i2.56

Abstract

Sesuai dengan permasalahan yang ada, maka tujuan penulisan karya ilmiah iniadalah: Pertama, Menemukan faktor-faktor pemicu para remaja Kristen terlibatdalam pergaulan bebas. Kedua, Menjelaskan tentang bahaya- bahaya dari pergaulanbebas bagi remaja Kristen. Ketiga, Menemukan pedoman atau langkah- langkahtindakan preventif bagi orang tua agar remaja tidak terjerumus dalam pergaulanbebas.Adapun metode penulisan yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah iniuntuk mendapatkan data yang diperlukan adalah: menggunakan metode wawancaradan metode penelitian buku-buku perpustakaan. Wawancara adalah salah satubagian yang terpenting dari setiap survai. Tanpa wawancara penelitian akankehilangan informasi yang hanya dapat di peroleh dengan jalan bertanya langsungkepada responden, wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi.Berdasarkan hasil pembahasan maka penulis menarik kesimpulan sebagaiberikut: Faktor pemicu yang menyebabkan remaja jatuh dalam pergaulan bebasadalah (1) Pola asuh orang tua. Pada umumnya pola asuh orang tua mengikuti tradisiyang telah ada yaitu membesarkan anak dan member fasilitas pendidikan formal,tetapi tidak memperhitungkan kebutuhan perkembangan anak yang memerlukankomunikasi tentang pendidikan seks untuk membentengi dirinya dari akibatpergaulan bebas. Karena itu dianggap tidak perlu atau “tabu” diperbincangkansebelum sebelum anak dewasa atau menikah. (2) Perkembangan teknologi. Remajayang tidak mendapatkan ppendidikan seks dari orang tua mudah tergiur dan terjebakoleh informasi dari dunia teknologi karena apa yang mereka dapatkan dari informasiyang terus berkembang diluar dan akibatnya teknologi tidak lagi sebagai pemberiinformasi tetapi sebagai “panutan” yang menjawab kebutuhan remaja. (3) Temansebaya. Ikatan yang kuat antara remaja dengan teman sebaya serta lingkunganmereka yang menghalalkan segala cara untuk menikmati masa remaja dapatmembawa remaja kepada pergaulan bebas.
Pengaruh Pemberian Persepuluhan Atas Kerohanian Gereja Sidang Jemaat Allah Jemaat Victorius Worship Family Makassar Paligi, Christina Evi; Weismann, Ivan Th.J
Jurnal Jaffray Vol 8, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v8i1.40

Abstract

Yang menjadi pokok masalah dalam penulisan karya ilmiah ini adalah sejauh mana sikap jemaatdalam hal perpuluhan berpengaruh atas perkembangan rohani, dan sejauh mana sikap jemaat dalamperpuluhan berpengaruh atas perkembangan usaha. Tujuan penulisan ini ialah untuk mencari tahu faktorfaktorapa yang menyebabkan jemaat tidak setia dalam memberi persepuluhan kepada Tuhan, dan untukmencari tahu mengapa jemaat tidak memahami dengan benar tentang persepuluhan. Penelitian akanmengambil sample yang terdiri dari 50 anggota jemaat yang sudah berpenghasilan. Teknik pengumpulandata melalui angket dan teknik analisis data yaitu penggunaan analisis statistic dengan program SPSS 15.Adapu hasiul penelitian bahwa tingkat pendidikan jemaat GSJA Victorious Worship FamilyMakassar sangat berpengaruh terhadap perkembangan rohani jemaat, di mana apabila terjadi peningkatanpada tingkat pendidikan jemaat maka perkembangan rohaninya mengalami penurunan. Kedua, bahwatingkat pendidikan jemaat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha jemaat, di mana apabila terjadipeningkatan pada tingkat pendidikan jemaat maka keberhasilan usaha jemaat mengalami peningkatan.Ketiga, bahwa tingkat pendidikan jemaat sangat berpengaruh terhadap sikap memberi persepuluhan kepadaTuhan, di mana apabila terjadi peningkatan pada tingkat pendidikan maka tingkat sikap memberipersepuluhan kepada Tuhan mengalami perkembangan.
Makna Tujuh Ungkapan Yesus Di Salib Bagi Orang Percaya Lele, Aldorio Flavius; Panggarra, Robi
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v13i2.181

Abstract

Tujuh perkataan Yesus di kayu salib merupakan tujuh ucapan yang mencakup seluruh pengajaran mengenai kasih Allah bagi manusia. Kasih yang sulit untuk dipahami, sulit untuk dimengerti secara tuntas karena ia melebihi kapasitas serta rasio pemikiran manusia yang terbatas. Pernyataan kasih itu disimpulkan sebagai berikut: Pertama, ucapan pengampunan yang diucapkan Yesus mengajarkan bahwa prinsip pengampunan adalah mengasihi musuh. Mendoakan dan mengharapkan dia bertobat serta mengampuni segala dosa-dosanya bukan berarti membiarkan dia berdosa terus menerus. Ucapan pengampunan yang diucapkan oleh Yesus ialah bukan supaya orang-orang yang didoakan diampuni tanpa pertobatan, tetapi supaya mereka diampuni melalui pertobatan. Kedua, dalam perkataan-Nya yang kedua, Yesus menjamin orang berdosa yang bertobat dan percaya kepada-Nya akan bersama-sama dengan Dia di Firdaus. Seruan jaminan kepastian yang diucapkan Yesus merupakan bentuk kasih yang menyelamatkan. Ketiga, Yesus adalah Allah yang peduli terhadap penderitaan umat yang dikasihi-Nya. Orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan memiliki tanggung jawab untuk melakukan segala perintah Tuhan dan dalam segala hal mengasihi sesama. Keempat, Seruan ini mengajarkan mengenai kuasa dosa yang dahsyat sehingga Allah Bapa merelakan Anak-Nya yang sangat Ia kasihi, memikul beban dosa tanpa pertolongan dan perlindungan. Kelima, ucapan kelima inilah satu-satunya ucapan yang berhubungan dengan kesakitan jasmani yang Ia ucapkan dari atas kayu salib. Rasa haus Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah benar-benar manusia. Ia adalah sumber air hidup yang rela menderita agar dapat menyelamatkan mereka yang datang kepada-Nya. Keenam, ucapan keenam ini bukanlah teriakan kekalahan, melainkan teriakan kemenangan. Ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa hingga akhir hidup-Nya menandakan kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia. Inilah kasih yang taat sampai mati. Ketujuh, ucapan terakhir Yesus menjelang kematian-Nya adalah sebuah doa. Di dalam doa-Nya itu Ia mengajarkan orang percaya bagaimana menghadapi kematian. Bentuk kasih yang penuh, terkandung di dalam penyerahan total kepada Allah.The seven statements of Jesus on the cross are seven declarations which encompass all the teachings about God’s love for people. This love is difficult to comprehend, difficult to completely understand because it is beyond the limited capacity, including the reasoning ability of man. These statements can be summarized as follows: First, the pronunciation of forgiveness which Jesus uttered teaches that a principle of forgiveness is loving one’s enemies. Praying and hoping that they repent, as well as forgiving all of their sins, does not mean allowing them to continue to sin. Jesus’ statement about forgiveness was not so that people which are prayed for are forgiven without repentance, but that they are forgiven through repentance. Second, Jesus guarantees that the sinner that repents and believes in him will be together with him in Paradise. Jesus’ statement of certain assurance shows the nature of saving love. Third, Jesus is the God who cares about the sufferings of his people whom he loves. People which genuinely love the Lord have a responsibility to obey all of the Lord’s commands and in everything love their fellow man. Fourth, the fourth appeal teaches about the power of sin which is so devastating that God the Father offered his beloved Son to shoulder the burden of sin without help or support. Fifth, this fifth cry is the only utterance which he makes from the cross which makes reference to his physical pain. Jesus’ thirst shows that he really is man. He is the source of living water who is willing to suffer in order to save those who come to him. Sixth, the sixth declaration is not a cry of defeat, but rather a cry of victory. His obedience to the will of his Father until the end of his life shows the greatness of his love toward people. This is love that is obedient until death. Seventh, the final statement of Jesus before his death is a prayer. In his prayer, he teaches believers how to face death. The nature of a love that is comprehensive is contained in complete surrender to God.
Analisis Ciri Kepemimpinan Hamba Serta Relevansinya Pada Masa Kini Berdasarkan Injil Matius 20:26-28 Pigai, Ferry
Jurnal Jaffray Vol 11, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i1.76

Abstract

Adapun yang menjadi tujuan penulisan dari penulisan penulisan ini adalah:Pertama, untuk memberikan penjelasan tentang ciri-ciri kepemimpinan hambaberdasarkan Injil Matius 20:26-28. Kedua, untuk membuktikan bahwa kepemimpinanhamba sangat relevan bagi kepemimpinan pada masa kini.Metode penelitian yang penulis gunakan dalam menulis penulisan ini adabeberapa di antaranya adalah: Pertama, metode teknik analisis teks, dalam hal inipenulis menggunakan metode hermeneutik/eksegesis langsung dari Alkitab. Kedua,berdasarkan teori ilmiah, dalam hal ini penulis menggunakan buku-buku yangberkaitan langsung dengan pembahasan penulisan ini. Ketiga, penulis juga menelitidengan metode penelitian lewat perpustakaan yaitu buku-buku dan penulisan sertadiktat-diktat perkuliahan.Berdasarkan seluruh pembahasan penulisan pada bab-bab sebelumnya, makadapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, kepemimpinan hambamempunyai beberapa ciri-ciri khusus; pertama, harus menjadi pelayan. Artinyabahwa seorang pemimpin bukan saja hanya memimpin, tetapi juga harusmembuktikan dirinya sebagai seorang pelayan. Kedua, harus menjadi hamba. Artinyabahwa seorang pemimpin bukan saja hanya memimpin orang dan memerintah saja,tetapi juga harus membuktikan dirinya sebagai seorang hamba yang merelakan dirisepenuhnya bagi kebutuhan bawahannya. Ketiga, ada harga yang harus dibayar,yaitu penyangkalan diri, bukan hanya menerima pelayan dari bawahan, tetapi jugamerelakan diri dan hidupnya untuk melayani orang lain. Kedua, kepemimpinanhamba masih dan sangat relevan bagi kepemimpinan saat ini, baik di duniakepemimpinan sekuler, secara khusus dalam dunia kepemimpinan Kristen saat ini.Kepemimpinan Yesus sangat relevan dalam kepemimpinan gereja dankepemimpinan pada lembaga-lembaga Kristen.
Peran Orang Tua Tunggal Dalam Membimbing Anak Remaja Mencapai Kualitas Hidup Di Gereja Kibaid Klasis Makassar Banni, Yuliana; Selfina, Elisabet
Jurnal Jaffray Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v9i2.98

Abstract

Berdasarkan pokok masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penulis sebagaisasaran dalam penulisan karya ilmiah ini, yaitu:Pertama, agar setiap orang tua tunggalmemahami peranan mereka dalam membimbing anak remaja.Kedua, agar anak-anakremaja dari orang tua tunggal termotivasi untuk mencapai kualitas hidup.Dalam karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode penelitian sebagaiberikut:Pertama, metode kepustakaan yaitu penulis mencari dan mengumpulkaninformasi melalui buku-buku yang berkaitan dengan karya ilmiah ini. Menurut asalkatanya kepustakaan berasal dari kata dasar “pustaka”, yang berarti (1) buku-bukukesusastraan; (2) daftar kitab yang dipakai sebagai sumber acuan untuk mengarang, dansebagainya; atau (3) semua buku atau karangan dan tulisan mengenai suatu bidang ilmu,topik, gejala atau kejadian.1 Kedua, penulis menggunakan wawancara kepada orangorangyang dapat melengkapi data yang diperlukan dalam karya ilmiah ini. Wawancaraialah (1) tanya jawab dengan seseorang (pejabat dsb) yang diperlukan untuk dimintaiketerangan atau pendapatnya mengenai suatu hal, untuk dimuat dalam surat kabar,disiarkan melalui radio, atau ditayangkan pada layar televisi atau untuk kepentinganpenulisan karya ilmiah; (2) tanya jawab direksi (kepala personalia, kepala humas)perusahaan dengan pelamar pekerjaan; (3) tanya jawab peneliti dengan narasumber.2Berdasarkan pembahasan penulis di atas, maka dapat dibuat kesimpulan sebagaiberikut: orang tua tunggal atau single parent Persekutuan Kaum Wanita KIBAID KlasisMakassar adalah mereka yang menyadari sepenuhnya tugas mereka sebagai orang tuayang berperan sebagai ayah dan juga ibu yang mengatur segala sesuatunya di rumah danbertanggung jawab sepenuhnya kepada anak-anak mereka. Orang Tua tunggal atausingle parent Persekutuan Kaum Wanita KIBAID Klasis Makassar sudah sangat baikdalam menjalankan fungsinya sebagai orang tua tunggal bagi anak-anaknya. Sehinggaanak-anak bertumbuh dengan baik dalam mencapai kualitas hidup mereka
The Implementation of Incarnational Mission Among The Bugis Using Cultural Approach Kanna, Armin Sukri
Jurnal Jaffray Vol 12, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v12i1.34

Abstract

Culture as a medium to develop the cultural and ethnic identity of the Bugis wasmostly denied at the early encounter of Christianity with the indigenous people inSouth Sulawesi. The people who were baptized had been given a new identity to identifytheir Christianity. But on the other hand, it brought them out from their own culturalidentity that had shaped them. In several areas, Western elements influenced them verystrongly, like the dress code, name, and some customary practices in society.The history of Christian mission covers a long period and cannot be separatedfrom the situation that prevailed in it, which can be analyzed through observing thepractices, habits, and concerns of a representative sample of Christians. The diversityand coherence that appeared in every century from the first to the twenty-first of thehistory of Christianity should not be an obstacle in interaction between Christianityand the context. But it will be a media for observing and evaluating the totality ofChristian mission in communicating the Gospel. During this process one can see howthe gospel [Christ] is translated into the local forms and has been absorbed by thebelievers as well as transforming and discipline the believers themselves.The Bugis Christians, in relation with these cultural-religious forms, will beable to bear witness to Christ and present him in the midst of religions and cultures.Thus, Christ can be revealed in every religion and culture as the only Savior – usingthe form and the meaning – but he is not the monopoly of Christians. This emphasizesthe uniqueness and universality of Jesus Christ that God sent his only son to redeemand save human beings who believe in him from all religions and cultures (cf. John 3:16).
Tinjauan Teologis Tentang Takut Akan Tuhan Berdasarkan Kitab Amsal Dan Implementasinya Dalam Hidup Kekristenan Tampasigi, Ril; Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 10, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i1.68

Abstract

Sebagai tujuan penelitian adalah Untuk memaparkan konsep Takut akanTUHAN berdasarkan kitab Amsal, Untuk menjelaskan manfaat dari TakutakanTUHAN. Dan Untuk menjelaskan implementasinya dalam kehidupan Kekristenansetiap hari.Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatifyaitu metode penelitian Kepustakaan (library research), terhadap berbagai sumberdata antara lain: Alkitab, tafsiran-tafsiran kitab Amsal dan buku-buku yangmembahas tentang Takut akan TUHAN serta penulis menggunakan metode eksegesis.Yang disusun secara deskriptif untuk mencapai sasaran dan tujuan penulisan.Dalam penelitian ini, ditemukan hasil bahwa Kekristenan seharusnya hidupberdasarkan takut akan TUHAN dengan menyadari akan kemahakuasaan-Nya,kekudusan-Nya, kemahahadiran-Nya dan kemahatahuanNya dalam setiap aspekkehidupan manusia lewat tindakan dan perilaku manusia. Banyak hal dalam duniaini yang akan membuat manusia merasa takut dan gentar, baik itu ketakutanterhadap sesamanya manusia maupun ketakutan terhadap hal-hal yang lainnya.Takutakan TUHAN merupakan suatu perasaan takut yang positif bukan negatif.Takutakan TUHAN bukan seperti perasaan takut yang dialami oleh manusiaterhadap hal-hal yang biasa, tetapi takutakan TUHAN merupakan penghormatanmanusia terhadap TUHAN.
Tinjauan Etika Kristen Terhadap Operasi Transeksual Purnama, I Wayan; Tarigan, Simon Alexander
Jurnal Jaffray Vol 9, No 1 (2011):
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v9i1.89

Abstract

Adapun tujuan penulisan dari pokok masalah diatas adalah: Untuk mengetahuipandangan etika Kristen tentang operasi transeksual.Mengingat begitu luasnya pembahasan tentang transeksual secara umum makapenulis membatasi karya ilmiah ini hanya berfokus pada operasi transeksual.Pembahasan operasi disini juga dibatasi hanya operasi alat kelamin ditinjau dari etikaKristen. Etika yang digunakan dalam penulisan ini dibatasi hanya etika yang bersifatdeontologis.Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan oleh penulis dalam karyailmiah ini maka penulis menyimpulkan. Pertama, tubuh, seks, jenis kelamin, dan kepuasanseksual, pada dasarnya diciptakan Allah sangat baik, mulia dan suci dan dengan tujuanyang baik, dan ini juga merupakan gambar Allah. Akibat kejatuhan manusia pertamakedalam dosa maka gambar Allah menjadi rusak, sehingga Tubuh, seks, jenis kelamin,kepuasan seksual kehilangan peranannya. Banyak penyimpangan seksual yangberkembangan saat ini, dan sudah sangat meresahkan di dalam masyarakat. Kedua,transeksual adalah salah satu bentuk kelainan seksualitas yang abnormal dimanaseorang penderita mengalami ganguan identitas gender, yaitu seseorang merasa terjebakdalam tubuh yang berbeda. Ketiga, secara etika Kristen menjadi seorang transeksualatau waria tidak menjadi masalah. Karena secara Alkitabiah ada orang yang terlahirdengan keadaan abnormal. Perilaku homoseksual bagi seorang transeksual secaraAlkitabiah dilarang karena melanggar prinsip Alkitab. Keempat, segala bentuk tindakanoperasi transeksual yang mementingkan keegoisan dan kenikmatan belaka dari segi etikaKristen adalah salah dan melanggar kaidah Tuhan yang sudah ditetapkan. Seorang yangmelakukan operasi transeksual sudah menghina dan tidak menghargai dan juga tidakmengucap syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan yaitu kodrat sejak lahir sebagailaki-laki maupun perempuan. Seorang yang melakukan operasi transeksual akanmempunyai prilaku homoseksual. Kelima, orang kristiani harus dapat menampung danmenerima mereka sebagai bagian dari tubuh Kristus, mungkin Tuhan punya rencana bagikaum transeksual yang rohani untuk menjadi penginjil kaum transeksual.

Filter by Year

2003 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 2 (2023): October 2023 Vol 21, No 1 (2023): April 2023 Vol 20, No 2 (2022): October 2022 Vol 20, No 1 (2022): April 2022 Vol 19, No 2 (2021): October 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 1 (2020): Jurnal Jaffray 18, no. 1 April 2020 Vol 18, No 2 (2020): October 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 1 (2019): Jurnal Jaffray Volume 17, no. 1 April 2019 Vol 17, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13, No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Vol 10, No 1 (2012): Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 2 Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Vol 9, No 1 (2011): Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 1 April 2010 Vol 8, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): April 2010 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Oktober 2008 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 More Issue