cover
Contact Name
STT Jaffray
Contact Email
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, 90114
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Jaffray
ISSN : 18299474     EISSN : 24074047     DOI : -
Jurnal Jaffray adalah jurnal peer-review dan membuka akses yang berfokus pada mempromosikan teologi dan praktik pelayanan yang dihasilkan dari teologi dasar, pendidikan Kristen dan penelitian pastoral untuk mengintegrasikan penelitian dalam semua aspek sumber daya Alkitab. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, review, dan juga laporan kasus yang menarik. Review singkat yang berisi perkembangan teologi, tafsiran biblika dan pendidikan teologi yang terbaru dan mutakhir dapat dipublikasi dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 458 Documents
Analisis Biblika Terhadap Konsep ‘ϵv Χριστω’ (Dalam Kristus) Berdasarkan Surat Efesus 1 Selvester Melanton Tacoy
Jurnal Jaffray Vol 17, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj.v17i2.337

Abstract

Surat Efesus ditulis oleh rasul Paulus. Surat ini ditujukan kepada orang-orang kudus yang percaya kepada Kristus Yesus di Efesus. Secara umum dapat dikatakan bahwa penulis surat ini memberikan penekanan penting tentang karya Allah dalam Kristus Yesus bagi manusia berdosa dan gaya hidup orang percaya yang ada di dalam Kristus. Ungkapan ‘εν Xριστος’ (dalam Kristus) yang digunakan berulang kali oleh penulis dalam Efesus 1 bertujuan untuk merangkum semua hal yang ia bahas dalam suratnya ini dengan maksud menunjukkan posisi sentral Kristus dalam melaksanakan rencana kekal Allah bagi manusia. Oleh penulis surat Efesus, ungkapan ‘εν Xριστος’ (dalam Kristus) dihubungkan dengan berbagai hal seperti, pemilihan Allah, penebusan yang dikerjakan Kristus, serta penyatuan segala ciptaan. Berdasarkan uraian di atas maka sangatlah penting untuk mengadakan penyelidikan mendalam tentang ungkapan ‘εν Xριστος’ (dalam Kristus) tersebut agar diperoleh pemahaman yang utuh tentang berbagai kebenaran yang terkandung di dalamnya.The apostle Paul wrote the Ephesians letter. This letter is addressed to the saints who believe in Christ Jesus at Ephesus. In general, it can be said that the writer of this letter gives an essential emphasis on the work of God in Christ Jesus for sinful humans and the lifestyle of believers who are in Christ. The phrase εν Xριστος (in Christ) which is used repeatedly by the writer in Ephesians 1 aims to summarize all the things he discussed in this letter to show Christ's central position in carrying out God’s eternal plan for humans. By the writer of the letter Ephesians, the phrase “in Christ” is related to various things such as God's election, Christ’s redemption, and the union of all creation. Based on the description above, it is essential to conduct an in-depth investigation of the phrase “in Christ” to obtain a complete understanding of the various truths contained therein.
Membangun Spiritual Remaja Masa Kini Berdasarkan Amsal 22 : 6 Herianto Sande Pailang; Ivone Bonyadone Palar
Jurnal Jaffray Vol 10, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i1.63

Abstract

Adapun tujuan penulis menulis karya ilmiah ini ialah: Pertama, Memberikanpenjelasan mengenai pentingnya membangun kerohanian spiritual remaja masa kini.Kedua, Memberikan panduan kepada para pembina remaja dalam membangunspiritual remaja masa kini berdasarkan kitab Amsal 22:6. Ketiga, Sebagai salah satusyarat untuk memenuhi tuntutan akademik dalam mencapai gelar Sarjana Teologi diSekolah Tinggi Teologia Jaffray Makassar.Metode yang penulis gunakan untuk menyelesaikan karya ilmiah ini adalahdengan metode pengumpulan data melalui: Alkitab, buku-buku, majalah, diktat,renungan, internet, dan artikel-artikel lainnya yang sehubungan dengan penulisankarya ilmiah ini.Dalam penelitian ini diberikan kesimpulan, Pertama membangun spiritualremaja ialah suatu upaya yang terus menerus untuk mendemonstrasikan hidup yangberarti atau bermakna dengan menjaga dan memelihara iman remaja serta faktoryang berkaitan supaya dapat mengambil sikap dan keputusan dalam realitas hidup ditengah-tengah kesempatan dan tantangan kehidupan. Kedua, masa remaja adalahmasa transisi dari dunia kanak–kanak yang telah ditinggalkan, tetapi masakedewasaan belum dijalani dengan sungguh–sungguh. Itu sebabnya dalammembangun spiritualitas remaja diperlukan orang-orang dewasa yang kompetenseperti orang tua dan gereja. Orang tua dan gereja berperan untuk menjaga danmemelihara kehidupan mereka dari awal sehingga mereka mengetahui jalankebenaran melalui firman Tuhan setiap hari, supaya di masa yang akan datangmereka akan menjadi seorang pribadi yang kuat, kokoh dalam imannya dan takutkepada Tuhan, sehingga hidupnya menjadi berkat atau berarti bagi sesama.
Kajian Analisis Terhadap Konsep Pemikiran John Dewey Peniel C.D. Maiaweng
Jurnal Jaffray Vol 7, No 2 (2009): Oktober 2009
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v7i2.29

Abstract

John Dewey dikenal oleh karena konsep pemikirannya tentang pragmatisme, relativisme, dan active learner. Untuk itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang riwayat hidup John Dewey sebagai dasar pemunculan konsep pemikirannya (yang tertuang dalam konsep filsafat, agama, dan pendidikan), sumbangsihnya dalam dunia pendidikan, dan kritik terhadap konsep pemikirannya berdasarkan perspektif Krisren.
Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Transformatif Berdasarkan Kitab Nehemia dan Implikasinya Bagi Kepemimpinan Rohani Masa Kini Sail Lola; Petronella Tuhumury
Jurnal Jaffray Vol 8, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v8i2.48

Abstract

Kepemimpinan adalah suatu proses atau cara yang dilakukan oleh seorang pemimpindalam mempengaruhi, mengajak, mendorong dan melibatkan orang lain (bekerja sama), sertamemberdayakan potensi yang dimiliki orang lain dalam pencapaian tujuan bersama.Kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan dalam hal berkelompok baiksecara formal, non formal, dan informal untuk mencapai suatu keteraturan dan keharmonisandalam menetapkan dan mencapai tujuan bersama.Hal kepemimpinan Nehemia patut menjadi pedoman bagi pemimpin-pemimpin masa kini.Prinsip-prinsip kepemimpinan Nehemia dapat diimplikasikan oleh pemimpin-pemimpin rihanipada masa kini untuk membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik melalui beberapaaspek yaitu aspek spiritual : setia berdoa, taat pada firman Tuhan dan mengandalkan kuasaAllah; aspek intelektual mempunyai wawasan yang luas dan punya perencanaan yang baik;aspek integritas, dan aspek sosial.Inilah rahasia kekayaan dalam kepemimpinan Nehemia sebagai pemimpin transformatif. Iaberhasil mengadakan perubahan secara fisik dengan menyelesaikan pembangunan tembokYerusalem. Dalam hal rohani ia mampu mengadakan kebangunan rohani. Suatu prestasi yangluar biasa.
Strategi Pertumbuhan Gereja Melalui Pendidikan Anak Usia Dini Elisabet Selfina
Jurnal Jaffray Vol 11, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i1.65

Abstract

Sesuai dengan permasalahan yang ada, maka tujuan penulisan karya ilmiah iniadalah: Pertama, mengintegrasikan kurikulum PAUD khususnya dalam pendidikanTK Kristen sebagai jenjang pendidikan formal yang tertuang dalam Kegiatan BelajarMengajar (KBM) dengan iman Kristen. Kedua, menggunakan kurikulum PAUDdalam jenjang pendidikan formal yaitu TK Swasta Zion di mana GKKA-UP sebagaipenyelenggara bagi strategi pertumbuhan gereja lokal dapat mendukung pertumbuhangereja khususnya gereja pemilik institusi PAUD, dalam hal ini institusi dalam jenjangpendidikan formal yaitu TK Kristen Zion yang dimiliki oleh GKKA-UP.Adapun metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah:Pertama, penulis melakukan kajian pustaka yaitu dengan mengumpulkan datatentang pendidikan anak usia dini dan korelasinya bagi perkembangan iman sertakerohanian anak, juga bagaimana PAUD menjadi strategi pertumbuhan gereja.Kedua, melalui wawancara ke obyek kajian. Ketiga, melalui angket terbuka (openended questions) yang disebarkan kepada alumni TK Swasta Zion dan guru-guru TKtersebut, serta kepada orang tua murid TK Kristen Zion.Adapun kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan karya ilmiah iniadalah: Pertama, gereja dapat bertumbuh melalui dua cara, yaitu penginjilan danpemuridan. Penginjilan adalah pemberitaan kabar baik kepada orang yang belumpercaya kepada Tuhan Yesus agar mereka menjadi percaya dan kemudian menjadianggota tubuh Kristus, yaitu gerejaNya. Pemuridan adalah pengajaran bagi orangorangpercaya agar mereka bertumbuh dan berfungsi dengan baik sebagai anggotatubuh Kristus. Kedua, ada berbagai metode pertumbuhan gereja melalui penginjilan.Salah satunya adalah melalui sarana pendidikan formal, yaitu sekolah yangdiselenggarakan oleh gereja. Ketiga, PAUD pada jenjang pendidikan formal yaitu TK,dalam hal ini TK Kristen yang diselenggarakan oleh gereja lokal dapat dijadikansebagai salah satu strategi bagi pertumbuhan gereja. Keempat, anak usia dini yangmengikuti pendidikan TK, yaitu usia 4-6 tahun adalah ladang misi yang luar biasa.Karakteristik murid TK sangat terbuka terhadap pengajaran tentang kasihYesus/Allah.
Organizational Justice in Young Churches: Maximizing Fair Treatment of Others and Responding to Violations Dunaetz, David R.
Jurnal Jaffray Vol 18, No 1 (2020): Jurnal Jaffray 18, no. 1 April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj.v18i1.405

Abstract

Organizational justice is the perception that one is being treated fairly in an organization, especially by those who hold power, such as the leaders within a church, both lay and staff. These perceptions of fairness (or lack of fairness) will influence church members’ commitment to, satisfaction with, and involvement in their church, as well as their psychological and spiritual well-being. Young churches are especially susceptible to the consequences of violations of organizational justice because young churches experience frequent changes in programs and delegation of responsibilities. Leaders of young churches should seek to maximize organizational justice, grounded in biblical principles, in order to have a healthy, functional body of believers who work together to serve God. These leaders need to respond to justice violations with humility, managing any conflicts that occur in effective and constructive ways. They must also work to prevent organizational justice violations in young churches from becoming engrained in the churches’ culture.
Manfaat Kebenaran Perbuatan: Suatu Analisis Terhadap Ajaran Filsafat Pragmatisme Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i1.69

Abstract

Pragmatisme adalah pandangan filsafat yang menekankan bahwa kebenaranadalah manfaat dari sebuah tindakan atau perbuatan. Tokoh-tokoh yangberpengaruh dan yang mengembangkan filsafat pragmatisme adalah Charles SandersPeirce (1839-19I4), Willian James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), dan RichardRorty (1931-2007). Inti pengaran filsafat pragmatisme adalah, Pertama, Etikabukanlah apa yang benar, tetapi prilaku dan tujuan diri. Kedua, Keyakinan manusiaterdapat pada manusia itu sendiri karena menjadi dasar baginya untuk melakukanyang benar, dan keyakinan dimulai dari proposisi yang dinilai benar. Ketiga,Kebenaran adalah relatif karena setiap fakta baru akan memunculkan kebenaranbaru yang pengujiannya melalui pembahasan diskusi. Keempat, Kebenaran yangmenjadi tuntutan agama dapat ditemukan secara ilmiah. Kelima, Manusiamemercayai bahwa kehendaknya yang membebaskannya dari kekasaran, ketakutan,dan kematian, dan manusia harus diperbudak oleh kebebasannya. Keenam, Wahyuadalah mistik, tidak dapat diklaim sebagai kebenaran jika tanpa pengalaman pribadi.Ketujuh, Pengalaman manusia menjadi unsur penting untuk menentukan kebenarandan metode digunakan untuk mencapai kebenaran yang terdapat dalam pengalaman.Kedelapan, Pengalaman spiritualis dan kesusilaan bukan hasil pembentukan secarakeagamaan, tetapi pemberdayaan seluruh potensinya yang direalisasikan dalammasyarakat. Kesembilan, Penyataan bukanlah dari Tuhan, tetapi penemuan yangdilakukan manusia dan kebenaran supernatural tidak diakui karena masalahadikodrati. Kesepuluh, Kesalahan bukanlah dosa, tetapi ketidaksesuaian antarametode dengan akal. Kesebelas, Kebenaran keagamaan bukanlah sesuatu yangdiwahyukan, tetapi muncul dari keinginan, dorongan, perasaan dan kebiasaanmanusia.
Magic in Greco-Roman Era: A Historical Context to Understand Magic in the Acts of the Apostles Chandra Han
Jurnal Jaffray Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj.v18i1.398

Abstract

Magic is an important topic in the New Testament but compared to other topics of discussion in New Testament Studies, the significance of the theme of magic has been unjustly undermined as indicated by David E. Aune. From the all eight occurrences of magic in the New Testament, four are found in the Acts of the Apostles. Therefore, the Acts of the Apostles is the most significant source to understand magic in the New Testament. The purpose of this thesis is to demonstrate the significant of magic in the Greco-Roman era as the historical context to understand magic in the Acts of the Apostles. Since Christianity flourished in the Greco-Roman era, the understanding of magic in the Greco-Roman era is significant to understand its confrontation with Christianity in the Acts of the Apostles. This article will analyze mainly the first source of magic in the Greek magical papyri, the definition of magic, its principles, and its spell related to the Acts of the Apostles, and the relation between magic and religion in Greco-Roman Era. The judgment on magic will then be provided in the end of this article as the foundation to further study of the Acts of the Apostles.
Norming the Norm of Relationality: A Theological and Interreligious Exploration of the Trinitarian Doctrine David Muthukumar Sivasubramanian
Jurnal Jaffray Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj.v18i1.419

Abstract

Should all metaphysical reflections on the Trinity begin with the “substance/essence” ontology? This approach has frequently regression into metaphysical speculation, as in the historical theology of the Church. Are there alternative models that we can glean from the history of the Church that can provide a new means of conceptualizing the doctrine of the Trinity? This essay considers this issue at length to suggest a “relational ontology” paradigm in constructing the Trinitarian doctrine. It also makes use of Vishishtadvaita (Qualified Non-Dualism in Hindu philosophy) conception of “body-soul” analogy to render a “qualitative panentheistic” model in construing the doctrine of the Trinity. These theological and interreligious explorations are expected to shed more light on the issue.Haruskah semua refleksi metafisik tentang Trinitas bermula dengan ontologi “substansi/esensi”? Pendekatan ini seringkali menyebabkan kemunduran spekulasi metafisik, sebagaimana disaksikan dalam teologi sejarah gereja. Apakah ada model alternatif yang bisa kita ambil dari sejarah gereja yang dapat menyediakan cara baru untuk mengkonsepkan doktrin Trinitas? Esai ini mempertimbangkan isu ini panjang lebar untuk menunjukkan paradigma “ontologi relasional” dalam membina doktrin Trinitarian. Hal ini juga membuat penggunaan Vishishtadvaita (Kualifikasi Non-Dualisme dalam filsafat Hindu) konsepsi analogi “tubuh-jiwa” untuk membuat model “kualitatif panenteistik” dalam membangun doktrin Trinitas. Eksplorasi teologi dan keberagaman agama ini diharapkan lebih menjelaskan masalah ini.
Piety in Thoughts of John Wesley And Friedrich Schleiermacher Bobby Kurnia Putrawan; Ludwig Beethoven Jones Noya
Jurnal Jaffray Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj.v18i1.426

Abstract

It is a misconception to identify modernity with secularization. When modernity simply creates the potential platform for secularization. On the one hand, modernity lessens the influence of piety to a minimum, and on the other hand, it restores piety and even modernizes piety without secularization. This essay focuses on telling the story of modernity in attempting to build a knowledge of God through the lens of piety. It centers on the work of two modern theologians: John Wesley and Friedrich Schleiermacher. The juxtaposition of Wesley and Schleiermacher is not without reason. Both of them are strongly influenced by the Moravian Brethren, which heavily emphasized a pietistic element in their community. This essay, however, will not explain the teaching of Moravian Brethren other than presenting their pietistic emphasis that was retained in Wesley and Schleiermacher's works. This essay argues that Schleiermacher's notion of a feeling of absolute dependence’ fills the rational gap of Wesleyan pietistic concept. It also discusses how the ‘Evangelical Revival/First Great Awakening’ and ‘Romanticism’ shaped Wesley and Schleiermacher, respectively, as they formulated their concept of piety. This essay is structured as follows. First, it presents the Evangelical Revival/First Great Awakening as the historical backdrop of Wesley's thought and continues with exhibiting Wesley’s concept of piety. Then, the essay describes the Romantic era and Schleiermacher's idea of piety.Adalah sebuah miskonsepsi untuk mengidentifikasi modernitas dengan sekularisasi, ketika modernitas hanya sekedar menciptakan panggung yang potensial untuk sekularisasi. Di satu sisi, modernitas mengurangi pengaruh kesalehan hingga taraf minimal, namun di sisi lain, modernitas memulihkan kesalehan. Makalah ini berfokus dalam menceritakan ulang kisah modernitas dalam upaya membangun pengetahuan akan Allah melalui lensa kesalehan. Makalah ini memusatkan diri pada karya dua teologi modern: John Wesley dan Friedrich Schleiermacher. Penjajaran Wesley dan Schleiermacher bukan tanpa alasan. Keduanya sangat dipengaruhi oleh Persaudaran Moravianyang sangat menekankan pada elemen kesalehan dalam komunitas mereka. Makalah ini, bagaimanapun, tidak menjelaskan pengajaran Persaudaraan Moravian selain menyajikan penekanan kesalehan yang dipertahankan dalam karya Wesley dan Schleiermacher. Makalah ini berupaya untuk menunjukkan bahwa gagasan Schleiermacher tentang perasaan akan ketergantungan absolut mengisi celah rasional dari konsep kesalehan John Wesley. Makalah ini juga membahas bagaimana Evangelical Revival/First Great Awakening dan Romantisisme membentuk Wesley dan Schleiermacher kala mereka merumuskan konsep kesalehan mereka masing-masing. Untuk mendukung argumen ini, makalah ini disusun sebagai berikut. Pertama, makalah ini menyajikan Evangelical Revival/First Great Awakening sebagai latar sejarah dari pemikiran Wesley dan dilanjutkan dengan menyajikan konsep kesalehan Wesley. Kemudian, makalah ini menjelaskan era Romantis dan konsep kesalehan Schleiermacher.

Filter by Year

2003 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 2 (2023): October 2023 Vol 21, No 1 (2023): April 2023 Vol 20, No 2 (2022): October 2022 Vol 20, No 1 (2022): April 2022 Vol 19, No 2 (2021): October 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 1 (2020): Jurnal Jaffray 18, no. 1 April 2020 Vol 18, No 2 (2020): October 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 1 (2019): Jurnal Jaffray Volume 17, no. 1 April 2019 Vol 17, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13, No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Vol 10, No 1 (2012): Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 2 Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Vol 9, No 1 (2011): Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 1 April 2010 Vol 8, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): April 2010 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Oktober 2008 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 More Issue