cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
JURNAL PETERNAKAN
ISSN : 18298729     EISSN : 23559470     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Peternakan mengakomodir artikel/karya ilmiah meliputi aspek Nutrisi dan Makanan Ternak, Produksi Ternak, Reproduksi dan Pemuliaan Ternak, Teknologi Hasil ternak, dan Sosial Ekonomi Peternakan serta aspek Kesehatan Ternak. Naskah yang dimuat dapat berupa hasil penelitian, telaah/tinjauan literatur, penelitian singkat (short communication) dan gagasan penting dalam bidang peternakan.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021" : 10 Documents clear
Analisis Jarak Genetik Sapi Bali pada Tiga Kecamatan di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi A. S. Wilastra; Gushairiyanto Gushairiyanto; S. Erina; Depison Depison
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.10331

Abstract

ABSTRAK. Sapi potong merupakan salah satu ruminansia yang memiliki potensi besar sebagai sumber protein hewani di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bobot badan, pertambahan bobot badan harian, dan jarak genetik sapi Bali pada tiga Kecamatan di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Materi penelitian adalah sapi Bali umur I1 (12-24 bulan), sebanyak 180 ekor yang terdiri dari 30 ekor jantan dan 30 ekor betina di setiap kecamatan. Metode penelitian adalah metode survei, teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dengan jumlah sampel  sebanyak 180 ekor, yang terdiri dari 30 jantan dan 30 betina dan tidak dalam keadaan bunting. Data yang dihimpun meliputi bobot badan, pertambahan bobot badan harian dan morfometrik di tiga kecematan. Data bobot badan, rata-rata pertambahan bobot badan dan morfometri dianalisis menggunakan uji beda rata-rata (uji-t). Vektor nilai rata rata morfometrik sapi Bali di tiga kecamatan dianalisis menggunakan uji statistik T2 Hotelling. Penciri ukuran dan bentuk tubuh sapi Bali dianalisis menggunakan Analisis Komponen Utama. Fungsi diskriminan dapat digunakan untuk menganalisis jarak genetik yang dapat membentuk pohon filogenetik. Hasil penelitian ini menunjukkan bobot badan, rata-rata pertambahan bobot badan dan morfometri sapi Bali di Kecamatan Pamenang dan Bangko berbeda tidak nyata (P> 0,05), sedangkan dengan kecamatan Margo Tabir berbeda nyata (P<0,05) dengan Kecamatan  Pamenang dan Bangko. Penciri ukuran dan bentuk sapi Bali di ketiga kecamatan adalah lingkar dada dan tinggi pundak. Kesimpulan penelitian adalah jarak genetik terjauh antara sapi Bali di Kecamatan Bangko dan Margo Tabir (2,6271), dikuti antara Kecamatan Pemenang dan Margo Tabir (2,1357), jarak genetik terdekat antara sapi Bali di Kecamatan Pamenang dan Bangko (0,5772).Analysis of the Genetic Distance of Bali Cattle in Three Districts in Merangin Regency, Jambi ProvinceABSTRACT. The beef cattle are one of the ruminants that have great potential in providing sources of animal protein in Indonesia. The purpose of this research was to determine the body weight, average daily gain, and genetic distance of Bali cattle in three sub-districts of Merangin district, Jambi Province. The research method was a survey method with purposive sampling technique, as many as 180 samples consisting of 30 males and 30 females in each sub-district and were not pregnant. Data collected include body weight, avarege daily gain and morphometrics between three sub-districs. The data body weight, avarege daily gain and morphometrics were analyzed using the average difference test (t-test). The average value vector body measurement of Bali catlle in three subdistrict was analyzed using the T2 Hotelling statistical test. The main component analysis statistical test was used to determine the characteristics of the body shape and size of Bali cattle. The discriminant function can be used to analyze genetic distances, which can form a phylogenetic tree. The results of this research indicate of body weight, average daily gain and morphometrics of Bali cattle in sub-district Pamenang not significantly different (P>0,05) from Bangko sub-district, but were significantly different (P<0.05) with Margo Tabir sub-district. The characteristics of the size and shape of Bali cattle in the three sub-districts are chest circumference and shoulder height. The conclusion from this research is the genetic distance between Bali cattle in Pamenang and Bangko Sub-districts (0.57), with Margo Tabir Sub-district (2.13), and genetic distance between Bangko sub-district and Margo Tabir sub-district (2.62).
Evaluasi Performa Karkas Kelinci Lokal dan New Zealand White Jantan pada Berat Potong yang Berbeda T. Wahyono; Sadarman Sadarman; T. Handayani; A. C. Trinugraha; D. Priyoatmojo
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.11523

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa karkas kelinci jantan yang dipotong pada bangsa dan kategori berat potong yang berbeda. Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial digunakan, dimana bangsa kelinci (lokal dan New Zealand White) dan kategori berat potong (< 2 kg dan > 2 kg) sebagai faktor-faktornya. Jumlah ulangan pada setiap pengelompokan adalah 15 ekor sehingga total 60 ekor kelinci digunakan. Peubah yang diamati adalah berat karkas, berat daging, berat tulang, persentase karkas, persentase daging, persentase tulang dan meat bone ratio (MBR). Dalam penelitian ini juga dilakukan pengamatan korelasi antara berat potong dan berat karkas dengan berat karkas, berat daging, berat tulang, persentase karkas, persentase daging, persentase tulang dan MBR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bangsa dan berat potong memberikan perbedaan signifikan terhadap berat karkas, daging, dan tulang (P<0,05). Berat potong berkorelasi positif dengan berat karkas (r=0,955; P<0,01). Perbedaan bangsa dan berat potong tidak berpengaruh signifikan terhadap persentase karkas dimana karkas kelinci lokal pada kisaran 53,04%, sedangkan New Zealand White 51,66%. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara MBR di kedua kelompok dengan kategori berat > 2 kg. Kelinci New Zealand White berat < 2kg menghasilkan MBR yang terendah yaitu sebesar 2,17 (P<0,05). Terdapat interaksi yang sangat nyata (P<0,01) antara faktor perbedaan bangsa dengan berat potong terhadap berat karkas, persentase karkas dan berat daging. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kelinci lokal dengan berat potong < 2 kg dan > 2 kg menghasilkan persentase karkas dan MBR yang berbeda tidak nyata (P>0,05). Kelinci New Zealand White sebaiknya dipotong pada berat > 2 kg karena pada berat potong < 2 kg menghasilkan rasio MBR yang rendah. Terdapat interaksi antara berat potong dan perbedaan bangsa terhadap performa karkas kelinci jantan.Carcass Performance Evaluation of Local and New Zealand White Bucks from Different Slaughter WeightABSTRACT. This study investigated the performance of Local and New Zealand White buck carcass at different weights. A factorial completely randomized design was applied, with rabbit breeds (local and New Zealand White) and weight category (<2 kg and >2 kg) as factors. 60 bucks were used divided into 15 bucks per group. Carcass weight, meat weight, bone weight, carcass percentage, meat percentage, bone percentage, meat bone ratio (MBR) were observed. Correlation between slaughter and carcass weight with carcass weight, meat weight, bone weight carcass percentage, meat percentage, bone percentage and MBR also observed in this study. Results showed that the differences in breeds and slaughtering weight gave significant differences in carcass, meat, and bone weight (P<0.05). Slaughtering weight was positively correlated with carcass weight (R2=0.955; P<0.01). Breed and slaughtering weight category differences did not significantly affect carcass percentage, where local rabbit carcass was 53.04%, while New Zealand White was 51.66%. There was no significant difference between MBR in the two groups with weight >2 kg. New Zealand White rabbits in <2 kg weight categories produced the lowest MBR by 2.17 (P<0.05). Significant interaction (P<0.01) between different breed and weight categories was reported on carcass weight, carcass percentage, and meat weight. In conclusion, there are no differences in carcass percentage and MBR ratio between two rabbit breeds with <2 kg weight categories. New Zealand White rabbits should be slaughtered at >2 kg weight categories due to the lower MBR ratio on <2 kg weight categories. The current study reported that there was an interaction between different breed and weight categories on carcass performance.
Fermentabilitas Ransum Sapi Perah Berbasis Jerami Padi dan Daun Kaliandra yang Disuplementasi Konsentrat Terfermentasi T. Hidayat; S. S. Sudana; U. H. Tanuwiria; I. Hernaman
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.11241

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui fermentabilitas ransum berbasis jerami padi dan kaliandra yang mengandung konsentrat terfermentasi (in vitro). Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Data dilakukan sidik ragam dan uji Duncan. Ransum perlakuan adalah P0 = 39% jerami padi + 21% daun Kaliandra + 40% konsentrat, P1 = 39% jerami padi + 21% daun Kaliandra + 40% konsentrat fermentasi, P2 = 44% jerami padi + 21% daun Kaliandra + 35% konsentrat fermentasi, P3 = 49% jerami padi + 21% daun kaliandra + 30% konsentrat fermentasi. Hasil menunjukan bahwa bakteri dan protozoa rumen menghasilkan populasi yang tidak berbeda nyata, sedangkan konsentrasi asam lemak terbang dan amonia berbeda nyata (P<0,05). Ransum P1 menghasilkan konsentransi asam lemak terbang yang nyata (P<0,05) paling tinggi (148,80 mM) dengan amonia yang paling rendah (5,53 mM). Sementara itu, konsentrasi amonia tertinggi (P<0,05)  diperoleh pada perlakuan P0 sebesar 7,54 mM, sebaliknya menghasilkan konsnetrasi asam lemak terbang paling rendah. yaitu 5,35 mM. Kesimpulan ransum dengan komposisi 39% jerami padi, 21% kaliandra, 40% menghasilkan fermentabilitas yang terbaik. Fermentability of Rice Straw and Calliandra Leaves Based-Rations Containing Femented ConcentrateABSTRACT. This study aims to evaluate the fermentability of rice straw and Calliandra leaves-based rations supplemented fermented concentrates (in vitro). The research was conducted experimentally with a completely randomized design consisting of 4 treatments and 5 replications. The data were analyzed by variance and Duncan's test. The treatment rations were P0 = 39% rice straw + 21% Calliandra leaves + 40% concentrate, P1 = 39% rice straw + 21% Calliandra leaves + 40% fermented concentrate, P2 = 44% rice straw + 21% Calliandra leaves + 35% fermented concentrate, P3 = 49% rice straw + 21% Calliandra leaves + 30% fermented concentrate. The results showed that the treatment had no significant effect to rumen bacteria and rumen protozoa populations, while the concentrations of volatile fatty acids and ammonia were significantly different (P<0.05). Ration P1 produced the highest (P <0.05) concentration of volatile fatty acids (148.80 mM) with the lowest (P<0.05) ammonia (5.53 mM). Meanwhile, the highest ammonia concentration (P <0.05) was obtained in the P0 treatment of 7.54 mM, on the other hand it resulted in the lowest (P <0.05) concentration of volatile fatty acids, namely 5.35 mM. Conclusion, that rations with a composition of 39% rice straw, 21% Calliandra, 40% fermented concentrate yield the best fermentability.
Penanganan Ayam Broiler Sebelum dan Sesudah Pemotongan: Studi Pengolahan Daging Broiler di Kota Mataram dan Sekitarnya M. H. Tamzil; I. N. S. Jaya; M. Ichsan; Asnawi Asnawi; N. K. D. Haryani; P. Nugroho
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.11759

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola penanganan dan pemotongan ayam broiler di kota Mataram dan sekitarnya. Penelitian dilakukan dengan metode surve dan wawancara mendalam serta melakukan pengamatan langsung ke tempat usaha. Sebagai sumber data adalah peternak, pengepul, dan pemotong yang tersebar di kota Mataram dan sekitarnya. Penentuan sampel menggunakan metode Nonprobability Sampling, dengan penentuan peternak dan pengepul menggunakan metode Sampling Insidental, sedangkan penentuan sampel RPA menggunakan metode Snowball Sampling. Peubah yang diamati adalah: a). Karakteristik responden, b). Penanganan di ahir masa pemeliharaan, c). Pola penangkapan dan pemindahan ke boks dan kendaraan angkut, d). Waktu pengangkutan, e) Lama dan jarak pengangkutan, f). Penanganan ayam saat pemindahan dari kendaraan angkut ke tempat karantina, g). Perlakuan pengistirahatan, h). Pelaksanaan penyembelihan. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian mendapatkan bahwa proses penangkapan dan pengangkutan ayam broiler dari peternak ke tempat pemotongan ayam (TPA) tidak dijumpai adanya pelanggaran Animal welfare, namun ada indikasi pelanggaran di proses pencelupan di air panas setelah penyembelihan. Proses penyembelihan masih belum mengikuti prosudur baku yang ditetapkan oleh Direktorat Kesmavet dan Pasca Panen, dan BSNI, namun sudah mengikuti prosudur baku yang ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia, sehingga produk yang dihasilkan tergolong daging halal.Handling of Broiler Before and After Slaughter: Study of Broiler Meat Processing in Mataram City and its SurroundingsABSTRACT. This study aims to determine the pattern of handling and slaughtering broiler chickens in the city of Mataram and its surroundings. The study was conducted using survey methods and in-depth interviews and direct observations of the place of business. Data were collected from farmesr, distributors, and butchers in the city of Mataram and its surroundings. The samples were determined using the Nonprobability Sampling method. Farmer and distributor were determined using the Incidental Sampling method, while the RPA samples were determined using the Snowball Sampling method. The observed variables were: a). Characteristics of respondents,  b). Handling at the end of the rearing period, c). The pattern of catching and transferring of the chickens to boxes and transport vehicles, d). Time of transportation, e) Length and distance of transportation, f). Handling of chickens when moved from transport vehicles to quarantine facilities, g). Rest treatment, h). Slaughter implementation. The data obtained were analyzed descriptively. The results showed that the process of catching and transporting broiler chickens from farmer to chicken slaughterhouses did not violate animal wefare, but there were violation indications when the chickens were put in hot water after slaughtering. The slaughtering process still does not follow the standard procedure set by the Directorate of Veterinary Public Health and Post-Harvest, and BSNI, but has followed the standard procedure set by the Indonesian Ulama Council, so the final product is classified as halal meat.
Pengaruh Pemberian Limbah Daun Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) sebagai Hijauan Alternatif terhadap Profil Lemak Darah Domba R. S. Prayitno; N. Heni
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.11091

Abstract

ABSTRAK. Limbah daun bawang merah merupakan salah satu limbah pertanian yang sering terbuang secara percuma. Kandungan limbah daun bawang merah berupa senyawa allicin yang mampu memengaruhi profil lemak darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian limbah daun bawang merah terhadap profil lemak darah domba. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – September 2020 di Desa Kadirejo Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan 15 ekor domba yang terbagi dalam 5 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan limbah daun bawang merah sebesar 0%, 10%, 20%, 30% dan 40%. Parameter profil darah yang diukur adalah HDL, LDL, trigliserida dan Kolesterol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan limbah DBM 40% dalam pakan domba berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap peningkatan kandungan HDL dan penurunan kandungan Trigliserida, tetapi tidak berpengaruh terhadap penurunan kandungan LDL dan Kolesterol. Limbah daun bawang merah dapat digunakan sebagai hijauan alternatif pakan domba yang mampu memperbaiki profil lipid darah domba.The Effect of Allium ascalonicum leaves (Allium ascalonicum L.) as an Alternative Forage on blood lipid profile of sheepABSTRACT. Allium ascalonicum leaf is one of the agricultural wastes that is often wasted for nothing. The content of Allium ascalonicum leaves is in the form of allicin compounds which can affect the blood fat profile. This study aims to determine the effect of Allium ascalonicum leaf on the blood fat profile of sheep. This study was conducted in July - September 2020 in Kadirejo Village, Pabelan District, Semarang Regency. This study used 15 sheep divided into 5 treatments with 3 replications each. The treatment used was the addition of Allium ascalonicum leaf by 0%, 10%, 20%, 30% and 40%. Blood profile parameters measured were HDL, LDL, triglycerides and cholesterol. The results of this study indicated that the addition of 40% Allium ascalonicum leaf in sheep feed had a significant effect (P <0.05) on the increase in HDL content and decreased Triglyceride content, but did not affect the decrease in LDL and cholesterol content. Allium ascalonicum leaf can be used as an alternative forage for sheep feed which can improve the blood lipid profile of sheep.
Penurunan Jumlah Bakteri Staphylococcus aureus pada Susu Kambing Peranakan Etawa setelah Teat Dipping dalam Dekok Daun Pepaya (Carica papaya L.) A. S. Abni; R. Febriyanti; D. A. Mucra; J. Handoko; E. Saleh
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.11820

Abstract

ABSTRAK. Penggunaan dekok daun pepaya (Carica papaya L.) sebagai antiseptik alami untuk teat dipping adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah mastitis pada ternak kambing Peranakan Etawa (PE). Dekok daun pepaya mengandung alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid, saponin dan tannin yang bersifat sebagai anti bakteri dan anti radang alami, sehingga mampu menekan pertumbuhan bakteri S. aureus yang merupakan bakteri utama penyebab mastitis pada ternak kambing PE. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ulangan dalam penelitian berupa 16 ekor kambing PE laktasi yang diambil susunya sebagai sampel. Perlakuan dalam penelitian terdiri dari P0= Povidone Iodine 10%, P1= Dekok Daun Pepaya 30%, P2= Dekok Daun Pepaya 50% dan P3= Dekok Daun Pepaya 70%. Parameter penelitian meliputi nilai pH, Total Plate Count (TPC) dan jumlah bakteri S. auerus pada sampel susu kambing PE yang diamati.  Hasil penelitian menunjukkan penggunaan dekok daun pepaya berpengaruh sangat nyata (P<0,01) dalam mempertahankan nilai pH (6,49 – 6,57), menurunkan nilai TPC (1,794 x 106 – 0,034 x 106) dan nilai jumlah koloni bakteri S. aureus (0,70 x 102 – 0,67 x 102) pada sampel susu kambing PE yang diteliti. Kesimpulan penelitian adalah penggunaan dekok daun pepaya 70% (P3) sebagai larutan teat dipping merupakan perlakuan dengan konsentrasi terbaik yang memiliki efektivitas yang sama dengan povidone iodine 10%.Decreased Amount of Staphylococcus aureus in Etawa Crossbreed Goat Milk after Teat Dipping in Papaya Leaf Dekok (Carica papaya L.)ABSTRACT. The using of papaya leaf dekok (Carica papaya L.) as a natural disinfectant for teat dipping is the one of methods that can be done to prevent mastitis in Etawa crossbreed goat. Papaya leaf dekok contains alkaloids, triterpenoids, steroids, flavonoids, saponins and tannins that act as natural antibacterial and anti-inflammatory, so as to suppress the growth of Staphylococcus aureus which is the major bacteria that trigger udder inflammation (mastitis) for Etawa crossbreed goat. This study used a completely randomized design (CRD) with four processes and four replicas. The replication in this study were 16 lactating Etawa crossbreed goat and their milk was taken as a sample. The treatment of this study consisted of P0= 10% povidone iodine, P1= 30% papaya leaf dekok, P2= 50% papaya leaf dekok and P3= 70% papaya leaf dekok. The parameter of study are pH value, total plate count (TPC) and the number of S. aureus in the Etawa crossbreed goat milk sample. The study showed that the use of papaya leaf dekok was not very significantly different (P>0,01) to maintain the values of pH (6,49 – 6,57), decrease the levels of TPC (1,794 x 106 – 0,034 x 106) and S. auerus colony (2,70 x 102 – 0,67 x 102) in the Etawa crossbreed goat milk sample. The conclusion of this study is that the use of papaya leaf dekok 70% (P3) as a teat dipping liquid is the best concentration treatment that has the same effect as 10% povidone iodine.
Aksesibilitas Sumber Daya pada Usaha Peternakan Sapi Potong Rakyat Amam Amam; P. A. Harsita; M. W. Jadmiko; S. Romadhona
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.10923

Abstract

ABSTRAK. Keberlanjutan usaha ternak dan pengembangan usaha ternak tidak terlepas dari dukungan berbagai sumber daya. Tinggi dan rendahnya aksesibilitas peternak terhadap sumber daya dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya ialah SDM peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aksesibilitas sumber daya pada usaha ternak sapi potong rakyat berdasarkan kualitas SDM peternak. Penelitian dilakukan di Desa Petung, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Desa Petung merupakan salah satu Desa Binaan Universitas Jember dalam Program Pengabdian Desa Binaan (PPDB) untuk pengembangan komoditas sapi potong rakyat. Narasumber (responden) ialah peternak sapi potong rakyat sebanyak 120 orang. Pengumpulan data menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan survei. Survei dilakukan menggunakan teknik wawancara dan pengisian kuisioner dengan skala likert. Analisis data menggunakan metode Partial Least Square (PLS) dengan program SmartPLS 2.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas SDM peternak berpengaruh pada akses peternak terhadap sumber daya finansial sebesar 32,4%, sumber daya teknologi sebesar 35,2%, dan sumber daya fisik sebesar 28,1%. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kualitas SDM peternak memengaruhi akses terhadap sumber daya finansial dan teknologi secara positif dan signifikan, namun tidak signifikan pada akses terhadap sumber daya fisik.Resource Accessibility in Beef Cattle Farming BusinessABSTRACT. The sustainability of livestock farming business and livestock business development cannot be separated from the support of various resources. The high and low accessibility of farmers to resources is influenced by various factors, including the farmers' human resources. This research aims to assess the accessibility of resources in the beef cattle farming business based on the quality of the farmers' human resources. The research was conducted in Petung Village, Curahdami District, Bondowoso Regency, East Java Province. Petung Village is one of the Universitas Jember Assisted Villages in the Assisted Village Service Program or Program Pengabdian Desa Binaan (PPDB) for the development of community beef cattle commodities. Informants (respondents) were beef cattle farmers totaling 120 people. Collecting data using the method of Focus Group Discussion (FGD), observation, and surveys. The survey was conducted using interview techniques and filling out a questionnaire with a likert scale. Data analysis used the Partial Least Square (PLS) method with the SmartPLS 2.0 program. The results showed that the quality of the farmers' human resources had an effect on farmers' access to financial resources by 32.4%, technological resources by 35.2%, and physical resources by 28.1%. The conclusion of the research shows that the quality of the farmers' human resources affects access to financial and technological resources positively and significantly, but not significantly on access to physical resources.
Kandungan dan Kualitas Nutrisi Campuran Darah Sapi dan Limbah Pertanian yang Difermentasikan oleh Bacillus Amyloliquefaciens sebagai Pakan Broiler R. F. Ramadhan; Wizna Wizna; Y. Marlida; Mirzah Mirzah; H. Supratman
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.12060

Abstract

ABSTRAK. Campuran darah sapi dan limbah dapat dimanfaatkan sebagai pakan hal ini di karenakan kadar protein yang tinggi pada darah sapi dan ketersediaan yang melimpah sehingga sangat potensial untuk digunakan sebagai pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari perbandingan campuran terbaik antara darah sapi dan limbah industry pertanian (ampas kelapa, bungkil inti sawit dan bungkil kelapa), waktu fermentasi (24, 72 dan 120 jam) yang difermentasi oleh Bacillus amyloliquefaciens. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor 1 yaitu perbandingan level darah dan limbah pertanian terdiri  dari : A1 =  0,8:1; A2 = 1:1, A3 = 1:1,2 (v/v), faktor 2 yaitu jenis limbah (adsorben) terdiri dari: B1 = ampas kelapa, B2 = bungkil inti sawit, B3 = bungkil kelapa, dan faktor 3 yaitu lama fermentasi terdiri dari: C1 = 24 jam, C2 = 72 jam, C3 = 120 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan level darah 1:1,2, ampas kelapa, dan lama fermentasi 120 jam memiliki kandungan protein, serat kasar, retensi nitrogen, kecernaan serat kasar dan energi metabolisme terbaik dibandingkan dengan campuran yang lain. Kesimpulan penelitian ini yaitu campuran darah sapi dengan ampas kelapa (1:1,2) yang difermentasi oleh Bacillus amyloliquefaciens selama 120 jam menghasilkan kualitas nutrisi, retensi nitrogen, kecernaan serat kasar, dan metabolisme energi terbaik dibandingkan dengan campuran darah dengan limbah pertanian lainnya.Content and Nutritional Quality of Mixed Bovine Blood and Agricultural Waste Fermented by Bacillus Amyloliquefaciens as Broiler FeedABSTRACT. A mixture of bovine blood and agricultural waste that can be used as animal feed, this is due to the high protein content in cow blood and its abundant availability so it is potential to be used as animal feed. The first stage is to find out the best combination between blood and agricultural waste (coconut pulp, palm kernel cake and coconut cake), and fermentation time (24, 72 and 120 hours) which is fermented by Bacillus amyloliquefaciens. This study used a 3x3x3 factorial completely randomized design (CRD) with 3 replications. Factor 1 is the ratio of blood levels and agricultural waste consisting of: A1 = 0.8:1, A2 = 1:1, A3 = 1:1.2 (v / v), factor 2 is the type of waste (adsorbent) consisting of: B1 = coconut dregs, B2 = palm kernel meal, B3 = coconut cake, and factor 3, namely the fermentation time consisting of: C1 = 24 hours, C2 = 72 hours, C3 = 120 hours. The results of this study showed a blood level of 1:1.2, coconut pulp, and fermentation time of 120 hours had the best protein, crude fiber, nitrogen retention, crude fiber digestibility and metabolic energy compared to other mixtures. The conclusion of this study is that the mixture of bovine blood with coconut pulp (1: 1.2) fermented by Bacillus amyloliquefaciens for 120 hours resulted in the best nutritional quality, nitrogen retention, crude fiber digestibility, and energy metabolism compared to blood mixtures with other agricultural wastes.
Pengaruh Media Biakan Fermentasi dengan Mikroba yang Berbeda terhadap Produksi Maggot Black Soldier Fly (Hermetia illucens) M. Amran; Nuraini Nuraini; Mirzah Mirzah
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.11253

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media biakan fermentasi yang berbeda terhadap produksi maggot Black Soldier Fly (Hermetia illucens). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial  3x3 dengan 3 ulangan. Faktor A adalah jenis media biakan yang digunakan, yaitu A1 : Ampas kelapa, A2 : Ampas tahu dan A3 : Buah terbuang. Faktor B adalah jenis mikroorganisme yang digunakan, yaitu B1 : EM-4 peternakan, B2 : Natura organic decomposer dan B3 : Probio-7. Peubah yang diamati adalah produksi maggot berat segar (kg), panjang (cm), densitas populasi (ekor/cm3) dan kandungan protein kasar (%). Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya interaksi antara faktor A (jenis media) dan faktor B (jenis mikroba) dan memberikan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap berat segar dan kandungan protein kasar maggot, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap panjang dan densitas populasi maggot. Kesimpulan dari penelitian ini adalah media biakan ampas tahu yang difermentasi dengan Natura organik  decomposer memberikan hasil yang terbaik, dengan produksi berat segar 0,2215 kg, panjang 2,00 cm, densitas populasi 2,01 ekor/cm3 dan kandungan protein kasar  52,40 %.The Influence of Fermentation Culture Media with Different Microbes on The Production of Maggot Black soldier Fly (Hermetia illucens)ABSTRACT. This study aims to determine the effect of different fermentation culture media on the production of Black Soldier Fly (Hermetia illucens) maggot. This research used experimental method completely randomized design (CRD) with 3x3 factorial pattern with 3 replications. Factor A was the type of culture medium used, A1: Coconut dregs, A2: Tofu dregs and A3: Wasted fruit. Factor B was the type of microorganism used,B1: EM-4, B2: Natura organic decomposer and B3: Probio-7. The variables observed were maggot production, fresh weight (kg), length (cm), population density (tail/cm3) and crude protein content (%). The results showed that there was an interaction between factor A (type of media) and factor B (type of microbe) and had a very significant effect (P<0.01) on fresh weight and crude protein content of maggot, but had no significant effect (P>0.05) on the length and density of the maggot population. The conclusion of this research was tofu dregs culture medium fermented with Natura organic decomposer gives the best results, with the production of fresh weight 0.2215 kg, long 2.00 cm, population density 2.01 tails/cm3 and crude protein content 52.40%.
PENGARUH MARINASI GULA LONTAR CAIR (Borassus flabellifer) PADA DAGING SAPI TERHADAP Ph, SUSUT MASAK DAN DAYA AWET manasje manoah bani
Jurnal Peternakan Vol 18, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v18i1.7761

Abstract

Gula Lontar Cair merupakan produk pengolahan nira lontar yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pengawet alami melalui metode marinasi pada daging sapi. Salah satu caranya dengan marinasi daging sapi dengan perlakuan berbagai lama waktu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lama waktu marinasi terbaik terhadap pH, susut masak, dan daya awet. Materi yang digunakan penelitian ini yaitu 10 kg daging sapi Peranakan Ongole bagian paha (silverside). Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan yaitu marinasi daging sapi selama 1 hari (P1), 3 hari (P2), 5 hari (P3), 7 hari (P4), 10 hari (P5). Data dianalisis dengan Rancangan Acak Lengkap dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perlakuan yang terbaik. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa marinasi daging sapi dengan lama waktu marinasi berpengaruh nyata (P

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2021 2021