cover
Contact Name
Zaffril Syam
Contact Email
zaffril.syam@uin-suska.ac.id
Phone
+6282385365000
Journal Mail Official
imam.hanafi@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM UIN SUSKA Riau Jl. H.R. Soebrantas KM. 15,5 Panam – Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Toleransi: Media Ilmiah komunikasi Umat Beragama
ISSN : 20860315     EISSN : 24071595     DOI : https://doi.org/10.24014/trs.v12i2.13542
Core Subject : Religion,
Jurnal Toleransi mempublikasikan hasil-hasil penelitian, baik hasil kajian lapangan maupun kepustakaan. Fokus utama Jurnal Toleransi meliputi: Relasi antar dan intern umat beragama; Pluralisme; Multikulturalisme; Hubungan antar etnik.
Articles 210 Documents
THEOLOGI FUNDAMENTALISME Abu Bakar
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 1, No 1 (2009): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v1i1.440

Abstract

Fundamentalism does not just show up, because fundamentalism is a phenomenon that always appears in every religion and belief which represents a rebellion against moderniry. Indeed only a small partial fundamentalists who peiform acts of terrorism, but its impact is global For groups. for groups who do not like the violence come to enjoy as a result of a handful of Islamic groups called fanatics or radicals. Islamic fundamentalism is one of the new phenomenon in world politics. Western world has experienced a failure in managing world politics, so they try to replace the new world order based on the political interpretation of Islam by thinker
PEMBELAJARAN FIQH YANG HUMANIS Analisis terhadap Kurikulum Fiqh MTs Sri Mawarti
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 11, No 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v11i2.10649

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan akan pentingnya upaya mengembangkan model pembelajaran fiqh yang lebih humanis. Pembelajaran fiqh perlu didorong ke arah yang lebih transformatif, mau melihat perbedaan, menyadari tentang pentingnya pluralitas dalam pemahaman fiqh. Oleh karena itu, pembelajaran fiqh semestinya harus humanis, yaitu meneguhkan kembali kepentingan manusia dalam beribadah. Model pembelajaran fiqh yang humanis diantaranya adalah menekankan akan pembelajaran yang bermakna dan pendekatan dialogis.
NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME DALAM AL-QUR’AN & URGENSI SIKAP KEBERAGAMAAN MULTIKULTURALIS UNTUK MASYARAKAT INDONESIA Masthuriyah Sa’dan
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 7, No 1 (2015): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v7i1.1423

Abstract

Indonesian muslim society was judgment that multiculturalism is a method for faith shallow muslim in be religious and go in the pluralism until religion’s as it should be nothing differen or equal. Whereas Indonesian people have “bhinneka Tunggal Ika” symbol but the reality it is nonsense. Muslim people always make us of teks interpretasion (Qur’an) for ligitimision group need, class, or religios need. Because of that, investigate interpretasion teks Qur’an by fenomenology approach for teks Qur’an be correlation for multiculturalism is important for research
Pola Pemahaman Keagamaan HMI DIPO, HMI MPO, KAMMI UIN Suska Riau terhadap Kesadaran Pluralitas Khotimah Khotimah
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 1, No 1 (2009): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v1i1.445

Abstract

In a social context, religious understanding usually can not stand alone. Social factors, environment, education, and politics go hand in influencing one's religious understanding. Thus, moderate or radical understanding of a person is not merely influenced by the doctrine of religion, but also by various factors which in turn gave birth attitudes and social behavior. View and attitude of the organization groups on a plurality of consciousness, can not be separated from how the interaction of the people (in group ) is done, both individually and with community groups welcome (out group). Social changes often occur which are a response from the various interactions, which then led to a reaction or attitude. This reaction, could form the opposition, cooperation, and differentiation
KEMENANGAN MENAHAN HAWA NAFSU Sebuah Perbandingan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Galungan Putri Maharani
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 12, No 2 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v12i2.13559

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang tata cara pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri dalam Islam dan Hari Raya Galungan dalam Hindu.Terdapat persamaan dan perbedaan antara kedua hari raya tersebut, karena ada beberapa persamaan makna yaitu memiliki arti kemenangan diantara kedua hari raya tersebut. Disinilah penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Reseach), yang merujuk pada buku-buku yang memang khusus membahas permasalahan ini sebagai data primer, sementara data sekunder diambil dari buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang memang ahli tentang Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Galungan seperti ensiklopedia, artikel dan skripsi. Dalam menganalisis data yang diperoleh dan diolah penulis menggunakan Content analiysis, yakin metode untuk mengetahui prinsip-prinsip dari suatu konsep untuk keperluan mendeskripsikan secara objekti-sistemasis tentang suatu teks. Hasil temuan dari permasalahan tersebut didapatkan bahwa persamaan mendasar dari kedua agama tersebut di hal makna hari raya Idul Fitri merupakan suatu kemenangan karena telah melakukan ibadah yaitu berpuasa. Kemenangan melawan hawa nafsu, setelah sebulan berpuasa manusia dapat dorongan dari dalam diri seseorang, oleh karena itu melawan hawa nafsu harus mampu dikendalikan oleh diri sendiri. Han hari raya galungan merupakan suatu kemenangan antara Dharma (kebaikan) dan Adharma (keburukan). Perbedaan mendasar dari keduanya adalah sejarah adanya hari raya tersebut, serta tata cara pelaksaannya sendiri
ISLAM DAN BUDAYA LOKAL Studi terhadap Pemahaman, Keyakinan, dan Praktik Keberagamaan Masyarakat Batak Angkola di Padangsidimpuan Perspektif Antropologi Sumper Mulia Harahap
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 7, No 2 (2015): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v7i2.1428

Abstract

Ritual is an expression of the religious ceremony system that reflect the relationship between human and spiritual nature. For user or participants, the ritual has an important social function, namely to integrate individuals in the community and to become instruments tend to channel negative energy. In the context of Islam, elements in Panaek Bungkulan scent mystical and superstitious deem incompatible with Sharia rules need to be eliminated, but for the elements of the other during the ritual can still be communicated and do not damage the faith of course still be done. Penetration of religion in the perspective of Panaek Bungkulan does not necessarily all eliminate the ritual practices of Angkola Batak Padangsidimpuan society. Although people accept Islam as a faith, in addition to receiving the teachings of Islam as a faith, in addition to receiving the teachings of modern into building a house, they still do not lose local traditions as custom value in the middle of modern globalisation era. The relationship between Islam and local traditions has formed a new habitat called local Islamic traditions. Dialectic between Islam and culture puts religious and local ritual as a field of contestation; it is such as panaek bungkulan tradition. This tradition is a heritage tradition that has been known to the people of Angkola batak long before Islam entered the batak land
KONFLIK MINORITAS MELAYU DAN MILITER THAILAND ANALISIS TERHADAP KRISIS POLITIK DI SELATAN THAILAND Yasril Yazid
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 1, No 2 (2009): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v1i2.450

Abstract

Political crisis in southern Thailand today can be regarded as manifestation of conflict between two of nature, namely the traditional context of the Sultanate of Pattani which is part of nature Malay (Malay world) and the status of these territories as part of the modern kingdom of Thailand oriented Buddhist world-view. Dualism between traditional (historical nature) with the contemporary as today's reality, is one of the main causes of conflict in these areas
BELAJAR TOLERANSI DI SEKOLAH Studi di SMA Negeri 2 Tualang Kabupaten Siak Yola Ferdian; Alpizar Alpizar
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 13, No 1 (2021): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v13i1.13650

Abstract

Tulisan ini, membahas tentang toleransi beragama antar siswa Muslim dan Kristen di SMA Negeri 2 Tualang Kabupaten Siak. Agama sebaiknya digunakan untuk mempererat tali silahturahmi antar sesama tanpa memandang suatu golongan ras, suku atau budayanya. Sehingga keberagaman di Indonesia dapat menjadi identitas tersendiri untuk terlihat berbeda di mata dunia, agar Indonesia dapat menjadi contoh yang baik bagi negara-negara lain. Untuk mencapai tujuan tersebut pemahaman akan keberagaman ini sudah dimulai dari jenjang pendidikan, dimana disetiap sekolah sudah memberikan pembelajaran tentang pentingnya memahami toleransi beragama dalam kehidupan ditengah masyarakat yang beraneka ragam. Karena lembaga pendidikan merupakan media untuk mereparasi kerangka berpikir seseorang, seperti upaya pembinaan Toleransi Beragama Antar Siswa Muslim dan Kristen di SMAN 2 Tualang lembaga ini menggunakan cara yang efektif dan efesien dalam lingkungan sekolah. Aktifitas dalam bertoleransi di SMA Negeri 2 Tualang ini berjalan dengan sangat baik, tentu dengan adanya peran serta para guru untuk memaksimalkan dan meminimalisir akan adanya konflik antar siswa maupun konflik antar guru mengenai perbedaan yang umum terhadap agama dalam ruang lingkup sosial. Hal ini dibuktikan dengan adanya sikap menerima antar siswa dalam ruang lingkup sekolah dengan berbagai macam perbedaan, seperti menghormati dan menghargai perbedaan dan keyakinan orang lain, menjalin kerjasama dalam bidang sosial, seperti ekstrakulikuler, osis, gotong royong belajar bersama maupun ikut serta dalam acara sekolah yang terkait dengan acara keagamaan.
BASIS TEOLOGIS UNTUK PLURALISME BERAGAMA; Menimbang Pandangan Kaum Sufi dalam Memahami Tuhan Imam Hanafi; Hasbullah Hasbullah; Yusuf Ahmad
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 8, No 1 (2016): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v8i1.2469

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan tentang tiga yang mendasari proses pemahaman manusia tentang Tuhan ; Pertama, Tuhan yang Transeden dan Tuhan yang Imanen. Tuhan pada satu sisi adalah identik, atau lebih tepat serupa dan satu dengan alam, meskipun keduanya tidak setara, karena Allah melalui asma-asma-Nya menampakkan Diri-Nya dalam alam. Tetapi disisi lain, Tuhan sama sekali berbeda denga alam, karena Dia adalah Dzat Mutlak yang tidak terbatas, dan berada di luar alam nisbi yang terbatas. Kedua, Tuhan obyektif dan Tuhan subyektif. Tuhan dipahami dalam pengetahuan, konsep, penangkapan atau persepsi manusia. Disini Tuhan dipahami melalui penggambaran manusia, sehingga setiap manusia mempunyai persepsi sendiri-sendiri dalam mendekati, mencintai, dan ber-ibadah kepada-Nya. Ketiga, Tuhan yang Eksoteris dan Tuhan yang Esoteris. Memahami Tuhan, secara baik dan benar tidak akan mungkin bertemu pada jalur, eksoteris. Karena yang tampak di permukaan adalah realitas pluralitas agama, seperti dipresentasikan oleh kehadiran agama Yahudi, Kristen, Islam, dan seterusnya itu. Tetapi, titik temu agama-agama itu hanya mungkin terealisasi pada level esoteris (kata Huston Smith), esensial (kata Baghavan Das), atau transenden (kata Frithjof Schuon)
Etika Global; Sumbangan Hans Kung DALAM dialog ANTAR agama Khairiah Husin
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 1, No 2 (2009): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v1i2.455

Abstract

This paper look at how the transition from the modern era to the post modern era of kung saw several important factors that make a paradigm in the theology of crisis. these factors are critical of the existing paradigm, every attempt to make a paradigm shift must take into account these factors include: knowledge of science, phylosophy democracy critisme of religion social science hystory and exegesis liberation movements. hat kind of paradgm most suitable for the postmodern era kung call the four dimensions that must be emanating from post modern paradigm ie dimension alkitabiyah ecumenical and politically. in the fiedof the theology he purposed a model of postmodern theology,which he called critical ecumenical theology. this model is considered appropriate theology for the needs of inter-religious dialogue