cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 47 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2014)" : 47 Documents clear
Pengaruh Pemberian Aspartam terhadap Kadar Low-Density Lipoprotein dan High-Density Lipoprotein pada Tikus Wistar Diabetes Melitus Diinduksi Aloksan Revivo Rinda Pratama; Eti Yerizel; Rahmatini Rahmatini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.172

Abstract

AbstrakAspartam telah disetujui oleh FDA untuk dikonsumsi. Konsumsi pemanis buatan ini menggunakan dosis ADI (Acceptable Daily Intake) yaitu 50 mg/kgBB. Individu dengan diabetes melitus kemungkinan menjadi antusias terhadap adanya aspartam. Aspartam dapat mempengaruhi metabolisme profil lipid. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian aspartam terhadap kadar LDL dan HDL tikus diabetes melitus diinduksi aloksan. Ini merupakan penelitian eksperimental dengan randomized post test only control group design. Subjek penelitian adalah 15 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok terdiri dari lima (5) ekor tikus. Pemberian aspartam (dosis 315 mg/kgBB tikus) diberikan kepada kelompok perlakuan selama empat (4) minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian aspartam pada tikus diabetes melitus diinduksi aloksan berpengaruh terhadap penurunan kadar LDL dan peningkatan kadar HDL. Kadar LDL pada kelompok kontrol positif adalah 30 ± 2 mg/dl, pada kelompok perlakuan adalah 24 ± 2 mg/dl. Sedangkan kadar HDL pada kelompok kontrol positif adalah 19 ± 1 mg/dl, pada kelompok perlakuan adalah 22 ± 1 mg/dl. Terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar LDL dan HDL antara kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah pemberian aspartam pada tikus diabetes melitus diinduksi aloksan berpengaruh terhadap penurunan kadar LDL dan peningkatan kadar HDL.Kata kunci: aspartam, diabetes melitus, LDL, HDLAbstractAspartame has been approved by the FDA for consumption. Consumption of artificial sweeteners is using ADI (Acceptable Daily Intake) dose which is 50 mg/kg. Individuals with diabetes mellitus would likely be enthusiastic consumers of aspartame. Aspartame can influence the metabolism of lipid profile. The purpose of this study was to determine the effect of aspartame on levels of LDL and HDL at rats with diabetes mellitus induced by alloxan. The research is experimental research with randomized post test only control group design. The subjects were 15 male Wistar rats those were divided into three groups: a negative control group, a positive control group, and the treated group. Each group consists of five (5) male rats. Administration of aspartame (dose of 315 mg/kg rat) was administered to the treatment group for four (4) weeks. The results showed that administration of aspartame in rats with diabetes mellitus induced by alloxan was influenced the decreased in LDL levels and increased in HDL levels. The LDL levels in positive control group was 30 ± 2 mg/dl, in the treatment group was 24 ± 2 mg/dl. While the levels of HDL in positive control group was 19 ± 1 mg/dl, in the treatment group was 22 ± 1 mg/dl. There is a significant difference in the levels of LDL and HDL between the positive control group with the treatment group. The conclusion of this research are the administration of aspartame in rats with diabetes mellitus induced by alloxan influenced the decreased in LDL levels and increased in HDL levels.Keywords: aspartame, diabetes mellitus, LDL, HDL
Pengaruh Pemberian Kopi Instan Oral Terhadap Kadar Asam Urat pada Tikus Wistar Fauzan Arisyi Koto; Husnil Kadri; Zelly Dia Rofinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.195

Abstract

AbstrakKopi merupakan salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Banyak studi yang meneliti efek konsumsi kopi terhadap berbagai kondisi medis tertentu. Salah satu efek dari kopi yang masih menjadi kontroversi adalah efek terhadap penurunan kadar asam urat. Kandungan polifenol dalam kopi diduga dapat menghambat kerja xantin oksidase sehingga menurunkan kadar asam urat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh pemberian kopi oral terhadap kadar asam urat serum pada tikus wistar. Ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan post test only control group design. Sampel penelitian adalah 24 ekor tikus putih jantan (Rattus novergicus) yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, perlakuan 1, perlakuan 2 dan perlakuan 3. Kontrol hanya diberi diet standar tanpa kopi, perlakuan 1diberikan diet kopi dosis rendah setara 3 cangkir kopi (0,39 mg/3 ml), perlakuan 2 diberikan diet kopi dosis sedang setara 6 cangkir kopi (0,78 mg/ 3ml), perlakuan 3 diberikan diet kopi dosis tinggi setara 10 cangkir kopi (1,3 mg/ 3ml) selama 4 minggu (28 hari). Pengukuran kadar asam urat serum menggunakan spektofotometer. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar asam urat serum kontrol (2,26+0,16 mg/dl), perlakuan 1 (2,24+0,89 mg/dl), perlakuan 2 (1,00+0,33 mg/dl), perlakuan 3 (1,96+0,43 mg/dl). Uji analisis one way Anova dan Post hoc menunjukkan bahwa perbedaan yang bermakna hanya terdapat pada perbandingan kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan 2 dan antara kelompok perlakuan 1 dengan kelompok perlakuan 2 (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat penurunan kadar asam urat serum setelah pemberian kopi dan terdapat perbedaan bermakna kadar asam urat antara kelompok kontrol dan perlakuan 1 dengan kelompok perlakuan 2.Kata kunci: kopi, polifenol, asam urat serumAbstractCoffee is one of the most frequently consumed beverages in the world. Many studies have examined the effect of coffee consumption on a wide range of specific medical condition. One of the effects of coffee that still a controversy is the effect of the reduction in uric acid levels because the polyphenol in coffee could be expected to inhibit xanthine oxidase to lower uric acid level. The objective of this study was to determine the effect of coffee on uric acid levels Wistar strain of rats (Rattus novergicus). This was a experimental study with posttest only control group design. Samples were 24 male white rats strain Wistar divided into 4 groups: control, treatment 1, treatment 2, and treatment 3. Control was not treat with coffee, treatment 1 were given low dose of coffee equivalent to 3 cups (0,39 mg/3 ml), treatment 2 were given moderate dose of coffee equivalent to 6 cups (0,78 mg/ 3ml), treatment 3 were given high dose of coffee equivalent to 10 cups (1,3 mg/ 3ml) for 4 weeks (28 days). Serum uric acid levels measured with sphectrophotometer The result showed the mean of uric acid levels control (2,26+0,16 mg/dl), treatment 1 (2,24+0,89 mg/dl), treatment 2 (1,00+0,33 mg/dl), treatment 3 (1,96+0,43 mg/dl). One way Anova dan Post hoc tests analysis showed significant differences of uric acid levels only between control and treatment 2 group and between treatment 1 group and treatment 2 group (p<0,05). The conclusion of this study is reduction of uric acid levels after coffee consumption and the significant differences in uric acid levels between control/treatment 1 group with treatment 2 group.Keywords: coffee, polyphenol, uric acid levels
Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap Suhu dan Kehilangan Panas pada Bayi Baru Lahir Hotma Sauhur Hutagaol; Eryati Darwin; Eny Yantri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.113

Abstract

AbstrakHipotermia merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian bayi baru lahir di negara berkembang. Salah satu asuhan untuk mencegah hipotermi adalah dengan melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap suhu aksila dan kehilangan panas kering pada bayi baru lahir. Ini merupakan studi cross-sectional comparative yang melakukan observasi bayi yang lahir dengan persalinan normal yang dilaksanakan IMD atau tidak, kemudian dilakukan pengukuran suhu aksila dan kehilangan panas kering pada kedua kelompok. Data dianalisa menggunakan uji t-test, dan nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Rerata suhu aksila kelompok IMD sebesar 37,1 ± 0,20C dan rerata suhu aksila pada kelompok non IMD sebesar 36,8 ± 0,40C. Rerata total kehilangan panas kering pada kelompok IMD sebesar 30,1 ± 3,4 J dan pada kelompok non IMD sebesar 31,2 ± 3,9 J. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa IMD berpengaruh terhadap peningkatan suhu aksila. Kehilangan panas kering lebih rendah pada kelompok IMD walau tidak bermakna secara statistikKata kunci: IMD, suhu aksila, kehilangan panas keringAbstractHypothermia is a major cause of morbidity and mortality in neonatal period. One of essential care for newborn to prevent hypothermia is early initiation of breastfeeding. The objective of this study was to see the effects of early initiation of breastfeeding to increase axillary temperature and decrease dry heat loss in newborn. The design of this study is observational study with cross-sectional comparative design. The subjects were normal newborn with early initiation of breastfeeding and without early initiation of breastfeeding. Axillary mean temperature after early initiation of breastfeeding is 37,1 ± 0,20C and axillary mean temperature on non early initiation of breastfeeding group is 36,8 ± 0,40C. Total dry heat loss mean on early initiation of breastfeeding group is 30,1 ± 3,4 J and on non early initiation of breastfeeding group is 31,2 ± 3,9 J. This study concluded that there is the effect of early initiation of breastfeeding to axillary temperature. Total dry heat loss is lower on early initiation of breastfeeding group but not significant statistically.Keywords: early initiation of breastfeeding, axillary temperature, dry heat loss
Metastasis Leher Tersembunyi pada Karsinoma Lidah T1-T2 Taufiqurrahman Taufiqurrahman; Camelia Herdini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.200

Abstract

AbstrakKarsinoma lidah memiliki kecenderungan yang tinggi untuk bermetastasis ke limfonodi leher, bahkan pada stadium awal (T1-T2). Tidak ada metode imaging atau pemeriksaan lain yang dapat mendeteksi metastasis leher tersembunyi. Ketebalan atau kedalaman invasi tumor adalah satu-satunya kriteria prediktor metastasis nodal pada karsinoma lidah dengan nilai cut offberkisar antara 3-9 mm. Diseksi Leher Selektif (DLE) level I-III "Diseksi Leher Supraomohioid" (DLSOH) telah direkomendasikan sebagai terapi utama karsinoma lidah stadium awal dengan klinis Node negatif (N0). Hanya pada sebagian kecil kasus yang mengalami metastasis ke level IV yang dikenal dengan “skip metastasis”,extended supraomohyoid neck dissectionlevelI-IV direkomendasikan oleh beberapa penulis. Diseksi leher bilateral harus dilakukan bila telah melibatkan struktur midline lidah.Kata kunci: karsinoma lidah, metastasis leher tersembunyi, diseksi leher supraomohioid AbstractCarcinoma of tongue has a high propensity for nodal metastasis in the neck, even in early stages (T1–T2). There is no method of imaging or other examination that will detect occult nodal metastasis. Tumor thickness or depth of invasion is the only size criterion predictor of nodal metastasis in carcinoma of tongue, the critical cut off values ranged from 3 to 9 mm. Selective dissection of levels I–III “supraomohyoid neck dissection” has been recommended as a primary treatment of neck disease in early carcinoma of tongue with clinically N0 neck. Most of the relatively small number of isolated metastasis to level IV are from primary tumours of the tongue, which are known as “skip metastasis”. Thus an extended supraomohyoid neck dissection of levels I–IV is recommended by some authors for elective treatment of the neck in carcinoma of tongue. Bilateral neck dissection should be performed in elective treatment of tumours involving midline structure.Keywords : carcinoma of tongue, occult nodal metastasis, supraomohyoid neck dissection
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Bidan dalam Pencegahan Risiko Penularan HIV/AIDS pada Pertolongan Persalinan Normal di Kota Tanjungpinang Tahun 2014 Rahmadona Rahmadona; Joserizal Serudji; Erwani Erwani
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.191

Abstract

AbstrakKasus HIV/AIDS di Kota Tanjungpinang lebih banyak dialami perempuan usia reproduksi. Dari 925 kasus HIV/AIDS hingga tahun 2013, 502 kasus diderita perempuan sementara laki-laki hanya 423 kasus. Perempuan usia reproduksi tersebut dapat saja hamil dan melahirkan ke bidan. Bidan berisiko tinggi tertular HIV/AIDS pada saat menolong persalinan. Pencegahan risiko penularan HIV/AIDS dalam pertolongan persalinan normal tercermin dari perilaku bidan dalam menerapkan kewaspadaan standar. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku bidan dalam pencegahan risiko penularan HIV/AIDS pada pertolongan persalinan normal di Kota Tanjungpinang tahun 2014. Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Dilakukan terhadap 39 orang bidan dengan menggunakan kuisioner dan pedoman observasi. Data dianalisis dengan uji Chi Square dan regresi logistik ganda. Faktor yang berhubungan dengan perilaku bidan adalah pengetahuan (p=0,027), sikap (p=0,004), motivasi (p= 0,047), supervisi (p=0,001) dan ketersediaan sarana (p=0,002). Faktor paling dominan yang berhubungan adalah supervisi (p=0,000). Kesimpulan penelitian adalah bidan akan berperilaku baik dalam pencegahan risiko penularan HIV/AIDS pada pertolongan persalinan normal apabila berpengetahuan baik, bersikap positif, memiliki motivasi tinggi, dilakukan supervisi serta didukung dengan sarana yang lengkap.Kata Kunci: Perilaku, pencegahan HIV/AIDS, pertolongan persalinan normal, pengetahuan, sikap, motivasi, supervisi, ketersediaan sarana.AbstractHIV/AIDS cases in Tanjungpinang city were suffered by women at reproductive ages. 925 HIV/AIDS cases trough 2013, 502 cases were suffered by women while 423 cases were men. This women may become pregnant and deliver their babies at midwives assistance. Midwives are at high risk of HIV/AIDS tramsmission while assisting delivery. Prevention risk of HIV/AIDS transmission in normal delivery assistance reflected from their behaviour by implementing standard precaution. This study aimed to analyze factors related to midwives behaviour toward prevention risk of HIV/AIDS transmission in normal delivery assistance in Tanjungpinang city year 2014.This is analytical observasional study with cross sectional approach to 39 midwives using self administered questionare and observasional guided forms. Data were analyzed using chi square test and multiple logistic regression. Factors related to midwives bahaviour were knowledge (p=0,027), attitude (p=0,004), motivation (p=0,047), supervision (p=0,001) and avaibility of equipment (p=0,002). Dominant factor was supervision (p=0,000).This study concluded that midwives will have good behaviour towards prevention risk of HIV/AIDS transmission in normal delivery assistance if they are having good knowledge, positive attitude, high motivation, frequently supervised and supported by complete equipment.Keywords: Behaviour, HIV/AIDS prevention, normal delivery assistance, knowledge, attitude, motivation, supervision, availability of equipment.
Screening Kandungan Plastik pada Minyak Goreng yang Terdapat pada Gorengan di Jati Padang Ayu Ratna Sari; Yustini Alioes; Rima Semiarty
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.118

Abstract

AbstrakPlastik ditambahkan ke dalam gorengan dengan cara dimasukkan ke dalam minyak goreng panas oleh penjual gorengan agar gorengannya tetap gurih dalam waktu yang lama. Praktik penggunaan plastik pada minyak goreng ini telah ditemukan pada beberapa tempat di Indonesia. Daerah Jati Padang telah dilakukan identifikasi awal kepada penjual gorengan dan diperkirakan minyak gorengnya mengandung plastik, untuk itu diperlukan screening kandungan plastik pada minyak goreng yang terdapat pada gorengan di Jati Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan plastik pada minyak goreng yang digunakan oleh penjual gorengan di Jati Padang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sampel yang diambil sebanyak 10 dari penjual gorengan dengan masing-masing sebanyak 100 ml minyak goreng. Semua sampel dilakukan uji kualitatif dengan GC-MS QP2010 jenis kolom RT-5MS (Crossbond 5% Diphenyl- 95% Dimethypoly silicone). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 dari 10 sampel minyak goreng mengandung senyawa isopropyl dari plastik polyethylene dan polypropylene. Sampel yang mengandung senyawa plastik dengan persentasenya adalah sampel 1(18.57%), 2(19.19%), 3(18.54%), 4(23.11%), 6(8.52%), 7(7.80%), 8(11.49%), 9(11.57%), dan 10(19.69%).Kata kunci: screening, plastik, minyak goreng, GC-MS, isopropylAbstractPlastics is added into frieds by entering into hot cooking oil by the seller in order fried savory fried fixed in a long time. The added of plastics in cooking oil has been found in several places in Indonesia. The fried seller in Jati Padang has made as initial identification to estimated oil-containing plastic. It is necessary for screening of plastic content in cooking oil found in fried in Jati Padang. The objective of this study was to determine whether there was any plastics content in coocking oil by the fried seller in Jati Padang. This research was a descriptive qualitative. Samples were taken from10 of fried sellers about 100 ml of cooking oil each . All samples were tested qualitatively by GC-MS QP2010 type RT-5MS column (5% Diphenyl- Crossbond 95% Dimethypoly silicone). The results showed that nine from ten samples of cooking oils contain isopropyl compound of polyethylene and polypropylene plastic. Samples containing compound is the percentage of plastic with sample 1 (18.57%), 2 (19.19%), 3 (18.54%), 4 (23.11%), 6 (8.52 %), 7 (7.80%), 8 (11.49%), 9 (11.57%), and 10 (19.69%).Keywords: screening, plastic, cooking oil, GC-MS, isopropyl.
Pengaruh Pelvic Floor Muscle Training terhadap Pengembalian Fungsi Miksi dan Defekasi pada Ibu Postpartum Spontan Mustika Dewi; Ermawati Ermawati; Nuzulia Irawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.109

Abstract

AbstrakPersalinan membawa dampak terhadap fungsi miksi dan defekasi pada ibu postpartum. Stimulasi dini yang dapat dilakukan guna memulihkan fungsi miksi dan defekasi, antara lain dengan Pelvic Floor Muscle Training (PFMT) atau latihan yang dilakukan khusus untuk otot dasar panggul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh PFMT terhadap pengembalian fungsi miksi dan defekasi pada ibu postpartum spontan (tanpa bantuan alat penolong persalinan). Penelitian ini merupakan studi kuasi eksperimen dengan post test only control group design. PFMT dilakukan setelah 2 jam persalinan sebanyak 3 sesi selama 3 hari postpartum. Selanjutnya mewawancarai kelompok yang melakukan PFMT maupun kelompok yang tidak melakukan PFMT untuk mengetahui miksi dan defekasi pertama kali dimasa postpartum. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square dan nilai p < 0.05 dianggap bermakna secara statistik. Hasil penelitian didapatkan persentase miksi spontan lebih tinggi pada ibu yang melakukan PFMT dari pada ibu yang tidak melakukan PFMT (83.3% : 58.3%), Secara statistik perbedaan tersebut tidak signifikan (p > 0.05), maka dapat dinyatakan tidak terdapat pengaruh PFMT terhadap miksi pada ibu postpatum spontan. Persentase defekasi normal lebih tinggi pada ibu yang melakukan PFMT dari pada ibu yang tidak melakukan PFMT (87.5% : 16.7%). Secara statistik perbedaan tersebut signifikan (p < 0.05), maka dapat dinyatakan ada pengaruh PFMT terhadap defekasi pada ibu postpartum spontan. Dari hasil penelitian disimpulkan tidak terdapat pengaruh PFMT terhadap miksi pada ibu postpartum spontan dan terdapat pengaruh PFMT terhadap defekasi pada ibu postpartum.Kata Kunci: PFMT, miksi, defekasi, postpartum spontanAbstractLabour have an impact on the function of micturition and defecation in postpartum. Early stimulation that can be done to restore the function of micturition and defecation, among others, with Pelvic Floor Muscle Training (PFMT). The purpose of this study was to determine the effect of PFMT on restoring the function of micturition and defecation in spontaneous postpartum. This study was a quasi-experimental study with a post test only control group design. PFMT in women post partum in the intervention group after 2 hours of labor, further interviewing intervention and control groups to determine micturition and defecation first days of postpartum. Data were analyzed using chi-square test and p value <0.05 was considered statistically significant. The percentage of spontaneous micturition was higher in mothers who did PFMT than mothers who did not PFMT (83.3% : 58.3%), the difference was not significant (p > 0.05). The percentage of normal defecation was higher in mothers who did PFMT than mothers who did not PFMT (87.5%: 16.7%), the difference was statistically significant (p < 0.05). The results showed that of PFMT did affect micturition, although there is a tendency to spontaneous micturition in the intervention group than the control group, but not statistically significant. PFMT affect defecation in spontaneous postpartum.Keyword: PFMT, micturition, defecation, spontaneous postpartum
Hubungan Jumlah Trombosit, Hematokrit dan Hemoglobin dengan Derajat Klinik Demam Berdarah Dengue pada Pasien Dewasa di RSUP. M. Djamil Padang Yobi Syumarta; Akmal M. Hanif; Erlina Rustam
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.187

Abstract

AbstrakDiagnosis yang tepat terhadap stadium dan kondisi penderita DBD penting untuk menentukan prognosisnya. Pemeriksaan trombosit, hematokrit, dan hemoglobin untuk setiap derajat klinik DBD diharapkan membantu dalam mengelompokkan dan mengelola pasien berdasarkan derajat kliniknya. Penelitan ini bertujuan untuk melihat hubungan hasil pemeriksaan trombosit, hematokrit, dan hemoglobin dengan derajat klinik DBD berdasarkan kriteria WHO.Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap 84 sampel dari rekam medik Bagian Ilmu Penyakit Dalam di RSUP. M. Djamil Padang dari januari 2011 sampai 30 April 2013. Trombosit diperiksaan menggunakan metode Rees Ecker, hematokrit dengan metode langsung cara mikro, dan hemoglobin menggunakan metode Sahli. Uji hipotesis menggunakan analisis bivariat dengan uji hipotesis nonparametrik Kendal’s Tau dengan software SPSS.Hasil penelitian ditemukan rerata umur 25.49±10.09 tahun. Laki-laki 46 orang (54.8%) lebih banyak dari wanita 38 orang (45.2%). Hasil analisis dengan uji korelasi Kendal’s Tau didapatkan trombosit berhubungan dengan derajat klinik DBD, semakin rendah trombosit semakin berat derajat kliniknya (p < 0.05, r = 0.336). Hematokrit tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD (p > 0.05, r = 0.059). Hemoglobin tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD (p > 0.05, r = - 0.036).Semakin rendah jumlah trombosit semakin berat derajat klinik DBD, hematokrit dan hemoglobin tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD.Kata kunci: jumlah trombosit, nilai hematokrit, kadar hemoglobin, derajat klinik DBD.AbstractPrompt diagnosis and as an accurate assessment of the stage and condition of DHF cases is a very important factor for determining patient prognosis. The existence of an exact value of the results of platelets, hematocrit, and hemoglobin for each grade of DHF are expected to greatly assist in classify and manage patients based on the clinical degree. This research was aimed to determine the relationship between the results of the hemoglobin, hematocrit and platelets count with the degree of clinical DHF according to WHO criteria. This research with retrospective design in 84 samples were taken from the medical records of adult patients in RSUP. M. Djamil Padang from 1 January 2011 until 30 April 2013. Platelets used direct method Rees Ecker, hematocrit’s used direct method micro method, and hemoglobin’s used Sahli method. Data processed by Kendal Tau tests using SPSS software. Results found average ages of 25.49 ± 10,09 years. The number of male patients 46 (54.8%) higher than female patients 38 (45.2%). Analysis by hypotetic test showed that there is a relationship between the platelet with clinical degree of DHF, where the lower the number, the more severe the clinical degree of DHF (p < 0.05, r = - 0336). There is no relation between hematocrit with clinical degree of DHF (p > 0.05, r = 0.059). There is no relation between hemoglobin with clinical degree of DHF (p > 0.05, r = - 0.036). More lower the number of trombosit, the more severe the clinical degree of DHF, and there is no relation between hematocrit and hemoglobin with clinical degree of DHF.Keywords: platelet count, hematocrit, hemoglobin levels, clinical degree of DHF.
Pola Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Anak Air Padang Tahun 2012 Aidil Rahman Novesar; Eryati Darwin; Finny Fitry Yani
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.114

Abstract

AbstrakInfeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu 1 dari 4 kematian yang terjadi. Kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Anak Air Kota Padang tahun 2012. Masih menduduki peringkat pertama dari sepuluh penyakit terbanyak dan merupakan puskesmas dengan angka kejadian ISPA tertinggi di Kota Padang. Desain penelitian ini adalah cross sectional study dengan menggunakan catatan rekam medik anak yang menderita ISPA di puskemas Anak Air sebagai data sekunder. Hasil penelitian diperoleh bahwa frekuensi balita ISPA adalah 28,29% dari total penderita ISPA, dimana anak berusia 0-5 tahun yang terdiiri dari bayi sebanyak 21,5% dan balita sebanyak 78,5%. Distribusi antara balita laki-laki dan perempuan sebesar 50,04% dan 49,96%. Wilayah kerja kelurahan Batipuh Panjang memiliki frekuensi sebesar 51,71% dan kelurahan Padang Sarai sebesar 47,94 sementara luar wilayah sebesar 0,25%, distribusi dan frekuensi berdasarkan bulan didapatkan bulan November sebagai bulan dengan kejadian tertinggi atau sebesar 16,56% dan bulan September sebagai bulan dengan kejadian terendah sebesar 5,10%.Kata kunci: ISPA, bayi, pola kejadian, distribusi AbstractAcute Respiratory Infection (ARI) is still an issue regarding the importance of public health, because it cause high death rates, in a scale 1 from 4. Every child was estimated having 3 - 6 episodes of ARI every year. ARI in Puskesmas Anak Air Kota Padang 2012 is still on top of ten most common disease and a Puskesmas with the highest rate of ARI in Padang. This was a cross sectional study by using medical record as secondary data. The result of the result was infants with ARI is 28,29% from the total of all ARI patients, where it happened to 0-5 years old children divided to baby as much of 21,5% and 78,5% to infants, while the gender distribution between male and female infants was 50,04% and 49,96% in the Batipuh Panjang region which is having a frequency of 51,71% and Padang Sarai region 47,94% while other region was 0,25%. The distribution and the frequency based on months, was gathered in November as the highest rate occurrences of 16,56% and September as the lowest, 5.10%.Keywords: ARI, infants , patterns, distribution
Perbedaan Kadar Formalin pada Tahu yang Dijual di Pasar Pusat Kota dengan Pinggiran Kota Padang Siti Ardina Sari; Asterina Asterina; Adrial Adrial
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.178

Abstract

AbstrakTahu merupakan makanan yang digemari oleh masyarakat.Tahu mempunyai daya tahan sekitar 1 - 2 hari sehingga pedagang sering menambahkan formalin sebagai pengawet. Formalin merupakan bahan pengawet yang dilarang oleh pemerintah yang penggunaannya masih terdapat secara luas di masyarakat dan bila dilihat dari tekstur tahu yang dijual di pasar kota Padang, dicurigai tahu memiliki kandungan formalin.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar formalin pada tahu yang dijual di pasar pusat kota dengan pinggiran kota Padang. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang.Jenis penelitian ini adalah analitik yang telah dilaksanakan pada bulan Juni-September 2013. Jumlah sampel adalah sebanyak 36 buah yang terdiri dari 18 sampel tahu yang berasal dari pasar pusat kota dan 18 sampel tahu yang berasal dari pasar pinggiran kota Padang. Uji kualitatif formalin pada tahu dilakukan dengan metode asam kromatropat dan uji kuantitatif formalin menggunakan metode titrasi asam basa. Analisis data dilakukan secara bivariat dengan menggunakan uji t. Hasil penelitian didapatkan kadar formalin pada tahu di pasar pusat kota Padang dari 18 sampel yang diperiksa terdapat 17 sampel yang positif formalin dengan kadar paling tinggi adalah 3.65%. Kadar formalin pada tahu di pasar pinggiran kota Padang dari 18 sampel yang diperiksa terdapat 17 sampel yang positif formalin dengan kadar paling tinggi adalah 2.73%. Rata-rata kadar formalin pada pasar pusat kota adalah 1.08% dan pasar pinggiran kota adalah 0.67%.Kata Kunci: kadar formalin, tahu, pasar pusat kota Padang, pasar pinggiran kota PadangAbstractTofu is a favorite food among the community. Tofu has resistance 1 - 2 days so that merchant often add formalin as a preservative. Formalin is a preservative which is banned by the government that there is still widespread use in the community and the texture of tofu sold in the market is suspected for having formaldehyde content. The purpose of this study was to difference the levels of formaldehyde in tofu sold in downtown market and suburban market of Padang. This research was conducted in the laboratory Industry Research and Standardization Padang. This research is an analytic that has been conducted in June-September 2013. The number of samples of this study are 36 units consisting of 18 pieces of tofu samples derived from downtown market and 18 pieces of tofu samples derived from suburban market of Padang. Qualitative test performed with chromotropic acid method and quantitative formalin test using acid-base titration method. Bivariate data were analyzed using t test. The results showed that the levels of formaldehyde found in tofu sold in downtown market of Padang is from 18 samples tested there were 17 positive samples with the highest levels of formaldehyde was 3.65%. Levels of formaldehyde found in tofu sold in suburban market of Padang is from 18 samples tested there were 17 positive samples with the highest levels of formaldehyde was 2.73%. Average levels of formaldehyde in downtown market is 1.08% and suburban market is 0.67%. Keywords: formaldehyde level, tofu, downtown market of Padang, suburban market of Padang

Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue