cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Perkembangan Penggunaan Kosmeseutikal Herbal Pada Terapi Melasma Mimin Oktaviana; Satya Wydya Yenny
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i3.1061

Abstract

Kosmeseutikal herbal merupakan kosmetik topikal yang mengandung bahan alami, berasal dari tanaman. Banyak digunakan sebagai Skin Lightening Agent (SLA) dalam penatalaksanaan melasma. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk perkembangan kosmeseutikal herbal pada melasma, termasuk penggunaan bahan-bahan alami yang banyak terdapat di Indonesia seperti ekstrak biji mengkudu, ekstrak daun sukun, ekstrak etanol daun pare, ekstrak kulit batang nangka dan gambir. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa bahan alami dapat digunakan sebagai SLA dalam penatalaksanan melasma melalui berbagai mekanisme interferensi yang mengatur sintesis melanin, mempengaruhi satu atau lebih jalur sintesis melanin. Meskipun beberapa bahan alami tersebut belum diketahui efektivitasnya terhadap pasien melasma, namun dapat dijadikan sebahai bahan penelitian lanjutan sehingga perkembangan kosmeseutikal herbal pada melasma dapat sepenuhnya diketahui.
Uji Mikroorganisme pada Cabai (Capsicum annuum) Bakso yang Disajikan di Tempat Penjualan Bakso di Kecamatan Padang Timur Raja Nona Millani; Netti Suharti; Asterina Asterina
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.576

Abstract

AbstrakBakso merupakan salah satu kuliner yang favorit bagi sebagian besar kalangan. Penikmat bakso selalu mencampurkan cabai sebagai penambah rasa pedas. Pada beberapa tempat penjualan bakso banyak kemungkinan terjadinya kontaminasi pada cabai yang disajikan diantaranya tempat cabai bakso yang kurang bersih. Tujuan penelitian ini adalah memeriksa mikroorganisme pada cabai bakso yang disajikan di tempat penjualan bakso di Kecamatan Padang Timur. Penelitian deskriptif ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari  Oktober 2013 sampai  Desember 2014. Jumlah sampel adalah 20 yang diambil dari tempat penjualan bakso di Kecamatan Padang Timur. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar sampel (90%) mengandung bakteri yaitu Klebsiella sp, Enterobacter sp, Proteus sp, Bacillus sp,Streptococcus sp dan sisanya 10% mengandung candida. Diharapkan konsumen berhati-hati dalam mengkonsumsi cabai bakso yan disajikan ditempat penjualan bakso.Kata kunci: cabai, bakso, bakteri AbstractMeatball is  a favorite culinary food among citizens. People use spicy chili as a dipping sauce to enhance flavour. In most of the meatballs selling stalls, there are high possibilites of the chili served getting contaminated for example, due to the lack of cleanliness of the chili serving containers. The objective of this study was to identity the presence of the microorganisms in dipping sauce served in meatballs selling stalls in Padang Timur District. This research was conducted in the Laboratory of Microbiology, Faculty of Medicine, University of Andalas from October 2013 to December 2014 using descriptive method. A total of 20 samples were taken from the meatball stalls in Padang Timur District. Based on the results, The result showed that 90% of the samples contain bacteria such as Klebsiella sp, Enterobacter sp, Proteus sp, Bacillus sp, Streptococcus sp and the remaining 10% contain candida. Therefore, consumers are advised to be more cautious in consuming foods from meatball stalls.Keywords : chili, meatball, bacteria
Hubungan Kadar Albumin Serum dengan Lama Rawatan Pasien Stroke Iskemik Akut Annisa Hidayati Priyono; Hendra Permana; Nita Afriani
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i3.737

Abstract

Kadar albumin serum yang rendah pada penderita stroke iskemik akut dikaitkan dengan perburukan status fungsional, yang mungkin akan mempengaruhi lama rawatan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara albumin dan lama rawatan pada pasien stroke iskemik akut. Penelitian ini merupakan studi observasional menggunakan disain potong lintang (cross sectional). Subjek penelitian adalah pasien stroke iskemik akut yang dirawat di bangsal penyakit saraf RS. DR. M. Djamil Padang selama bulan Maret sampai September 2015 dengan onset kurang dari 24 jam yang memenuhi kriteria inklusi. Kadar albumin serum diukur dalam 24 jam pertama rawatan. Kadar albumin serum, derajat stroke, komplikasi dan faktor risiko merupakan variabel yang akan dianalisis dan lama rawatan. Hubungan antar variabel diuji dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil dianggap bermakna secara statistik apabila nilai p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 50 subjek dievaluasi selama penelitian, usia rerata adalah 59 tahun (36-85 tahun), dan rerata kadar albumin serum adalah 3,86 mg/dL. Tidak terdapat hubungan antara kadar albumin serum dan dengan lama rawatan (p=0,715), serta faktor risiko dan lama rawatan (p=0,76), namun terdapat hubungan antara derajat stroke dan lama rawatan (p<0,001,OR=12,6), serta hubungan antara komplikasi dan lama rawatan (p<0,001,OR=17,6). Simpulan studi ini adalah tidak terdapat hubungan antara kadar albumin serum dan faktor risiko terhadap lama rawatan, namun terdapat hubungan signifikan antara derajat stroke dan komplikasi terhadap lama rawatan.
Fungsi Tiroid Pasca Radioterapi Tumor Ganas Kepala- Leher Ade Chandra; Sukri Rahman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.611

Abstract

Abstrak                 Latar Belakang : Radioterapi merupakan salah satu pilihan modalitas pada penatalaksanaan tumor ganas kepala dan leher selain pembedahan dan kemoterapi. Radioterapi pada tumor ganas kepala dan leher dapat mempengaruhi kelenjar tiroid dan merangsang kelainan. Diantara efek samping akibat radioterapi pada kelenjar tiroid tersebut, hipotiroid merupakan kelainan yang paling sering ditemukan. Hipotiroid akibat radioterapi ini bersifat irreversibel dan mempengaruhi kualitas hidup pasien.  Tujuan : Untuk mengetahui fungsi tiroid setelah dilakukan radioterapi pada pasien tumor ganas kepala dan leher. Tinjauan Pustaka : Hipotiroid merupakan efek samping yang paling sering ditemukan pasca radioterapi tumor ganas kepala dan leher. Kelainan pada tiroid pasca radioterapi dihubungkan dengan kerusakan sel dan pembuluh darah kecil kelenjar tiroid serta fibrosis kapsul kelenjar tiroid yang selanjutnya menyebabkan kelenjar tiroid mengecil. Kesimpulan : Radioterapi pada pasien tumor ganas kepala dan leher dapat menimbulkan efek samping berupa hipotiroid yang dibuktikan dengan peningkatan nilai TSH dan penurunan nilai T4  pada pemeriksaan fungsi tiroid.Kata kunci: Radioterapi, tumor ganas kepala dan leher, hipotiroid AbstractBackground: Radiotherapy is one option of modality in the management of head and neck cancer beside surgery and chemotherapy. Radiotherapy in the head and neck cancer can affect the thyroid gland and stimulates the gland disorders. Among the side-effects of radiotherapy on the thyroid gland, hypothyroidism is a disorder most commonly found. Hypothyroidism due to radiotherapy is irreversible and affect quality of life of patients Objective: To determine the function of the thyroid after radiotherapy in patients with the head and neck cancer. Literature Review: Hypothyroidism is the most common side effects found after radiotherapy of the head and neck cancer. Abnormalities of the thyroid after radiotherapy is associated with damage cells and small blood vessels of the thyroid gland and capsule fibrosis of the thyroid gland which in turn causes the thyroid gland to shrink. Conclusion: Radiotherapy in patients with the head and neck cancer can cause side effects such as hypothyroidism as evidenced by the increase in the value of TSH and T4 in the impairment of thyroid function tests. Keywords:  Radiotherapy, head and neck cancer, hypothyroid
Profil dari Cortical Visual Impairment di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang Kemala Sayuti; Suci Permata Sari
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.769

Abstract

AbstrakAnak-anak dengan cortical visual impairment (CVI) pada umumnya mempunyai hasil pemeriksaan okular yang normal disamping penurunan ketajaman penglihatan dan respon pupil yang normal. Penyebab dari CVI bisa kongenital atau didapat. Penyebab prenatal dan perinatal termasuk hipoksia atau iskemia (periventricular leukomalacia (PVL) adalah bentuk yang paling umum dari kerusakan hipoksia pada bayi prematur dan PVL bisa mengakibatkan cerebral palsy), infeksi intrauteri, perdarahan intrakranial, kelainan struktur sistem saraf pusat, kejang dan hidrosefalus. Penyebab yang didapat termasuk trauma yang tidak disengaja, trauma kepala akibat penganiayaan, infeksi seperti meningitis, ensefalitis dan sepsis. Penelitian ini untuk mendiskripsikan profil kasus CVI di RSUP Dr. M. Djamil Padang dari tahun 2012-2015. Data diperoleh dari rekam medis 26 pasien yang didiagnosa dengan CVI selama 2012-2015. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 57,69% : 42,31%. Ditemukan kelainan kongenital pada 17 pasien (65,38%) dan kelainan yang didapat pada 9 pasien (34,61%). Kelainan kongenital yang ditemukan : hipoksia pada 5 kasus ( 1 kasus dengan leucomalacia periventrikular dan 4 kasus dengan cerebral palsy) (29,41%), kelainan dari struktur sistem saraf pusat pada 4 kasus (23,52%), kejang pada 4 kasus (23,52%), perdarahan intrakranial pada 2 kasus (11,76%), dan infeksi intrauterin, hidrosefalus 1 kasus untuk masing-masing etiologi (5,88%). Kelainan yang didapat adalah meningitis pada 8 kasus (88,89% dan ensefalitis dalam 1 kasus (11,11%). Di RSUP dr. M. Djamil Padang, etiologi kongenital yang paling umum adalah hipoksia dan etiologi yang didapat adalah meningitis.
Analisis Pelaksanaan Program Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular di Kota Solok Yulia Primiyani; Masrul Masrul; Hardisman Hardisman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i2.1018

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Peningkatan PTM juga terjadi di Provinsi Sumatera Barat. Demikian juga halnya dengan Kota Solok. Salah satu kebijakan pengendalian PTM saat ini adalah melalui Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM berbasis masyarakat dengan melakukan deteksi dini, pemantauan faktor risiko dan tindak lanjut secara promotif dan preventif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pelaksanaan program posbindu PTM di Kota Solok dengan menganalisis input (kebijakan, ketersediaan sumber daya manusia, anggaran biaya, sarana dan prasarana, petunjuk teknis, peran serta kemitraan), process (perencanaan, pelaksanaan, monitoring evaluasi) dan output (capaian indikator posbindu PTM). Penelitian studi kebijakan dengan pendekatan kualitatif ini dilaksanakan pada bulan April-November 2018. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, Focus Goup Discussion (FGD) dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan posbindu ditetapkan melalui SK Walikota Nomor 188 tahun 2018 namun belum tersosialisasikan sampai pelaksana posbindu, SDM pelaksana posbindu masih belum mencukupi karena baru memiliki 3 orang kader, anggaran biaya berasal dari APBD dan BOK, sarana dan prasarana masih belum memadai, petunjuk teknis telah ada tapi belum dikuasai oleh kader dan kemitraan dengan lintas sektor juga belum terjalin. Pada perencanaan, posbindu belum mempunyai Plan Of Action (POA) dan belum pernah dilakukan sosialisasi dan advokasi, pelaksanaan sudah memakai sistem lima meja, monitoring dan evaluasi masih belum optimal, output posbindu PTM di Kota Solok masih belum tercapai karena angka kunjungan masih rendah.
Gambaran Hasil Pemeriksaan Urine pada Pasien dengan Pembesaran Prostat Jinak di RSUP DR. M. Djamil Padang Azia Putri Al Jamil; Dian Pertiwi; Dwitya Elvira
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i1.792

Abstract

Pembesaran prostat jinak dapat menyebabkan terjadinya hambatan aliran urine, sehingga pasien akan merasakan keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom (LUTS). Urinalisis merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan LUTS yang terdiri dari pemeriksaan fisik, mikroskopik dan kimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan urine pada pasien dengan pembesaran prostat jinak di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jenis penelitian adalah deskriptif observasional. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling di bagian Bedah dan Rekam Medik RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari 2016 sampai Desember 2016 dengan jumlah sampel adalah 40 orang. Data yang digunakan adalah hasil pemeriksaan pH, protein, leukosit, eritrosit dan epitel urine pada rekam medik pasien pembesaran prostat jinak. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan program komputer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% pasien memiliki hasil pH urine 4.5 sampai 8. Sebanyak 42,5% memiliki hasil protein urine 1+, 60% pasien memiliki nilai leukosit >5/LPB, 80% pasien dengan nilai eritrosit >1/LPB serta 100% pasien dengan epitel gepeng positif satu (+). Simpulan penelitian ini adalah terdapat peningkatan leukosit, eritrosit dan protein urine pada pasien dengan pembesaran prostat jinak namun pH dan epitel urine pasien masih dalam nilai normal.
Hubungan Faktor Risiko terhadap Kejadian Asma pada Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang Adefri Wahyudi; Finny Fitry Yani; Erkadius Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i2.514

Abstract

AbstrakPrevalensi asma  terus meningkat (5—30% dalam satu dekade terakhir) dan lebih dari 50% penderita saat ini adalah anak-anak. Fenomena ini tidak terlepas dari kompleksitas patogenesis asma yang melibatkan faktor genetik dan lingkungan  yang dimulai sejak masa fetal. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara faktor genetik, demografi, lingkungan, dan perinatal terhadap kejadian asma anak di RSUP Dr. M.. Djamil Padang. Desain penelitian ini adalah case-control study terhadap pasien rawat inap di bangsal anak. Pemilihan sampel menggunakan teknik simple randomized sampling dengan jumlah 78 pasien (39 kasus dan 39 kontrol). Data didapatkan melalui rekam medis subyek penelitian. Analisis data yang digunakan yaitu univariat dan bivariat dengan chi-square. Hasil uji chi-square menunjukkan usia < 5 tahun (p= 0,364), jenis kelamin laki-laki (p=0,255), berat badan lahir rendah (p=0,358), obesitas (p=0,382)  tidak memiliki hubungan bermakna dengan asma anak. Hanya riwayat atopi (p <0,05) yang memiliki hubungan berarti. Riwayat paparan asap rokok dan bulu binatang tidak lengkap; sedangkan  usia gestasional hanya satu kelompok saja sehingga tidak dianalisis. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara usia <5 tahun, jenis kelamin laki-laki, prematuritas dan obesitas dengan kejadian asma anak. Hubungan bermakna hanya terdapat pada riwayat atopi dengan kejadian asma anak.Kata kunci: asma anak, faktor risiko, riwayat atopi  AbstractPrevalence of asthma is  still elevating (5—30% at last decade) and more than 50% of asthmatic is children. This phenomenon is predicted correlating with the complexity of pathogenesis of asthma (included genetic, environtment and perinatal factors) that began from fetal-age. The objectives of this study was to deternine the correlation of genetic, demographic, environtment, perinatal factors to asthma in children in RSUP Dr. M. Djamil Padang. Research design was case-control study. The pediatric patients in RSUP Dr. M. Djamil Padang were the population. The 78 samples were taken by simple randomized sampling technique (39 cases and 39 controls). The chi-square test showed no correlation among age <5 years old (p=0,364), male for sex (p=0,255), low birth-weight (p=0,358), obesity (p=0,382) to children asthma. The history of atopy (p <0,05) was the only correlation to asthma in RSUP M. Djamil Padang. The data of environtment tobacco smoke and pet’s hair were not completed and prematurity history  just the only grouped in class of gestasional age, so the data were not analyzed. In conclusion, there are no correlation among age <5 years old, male for sex, low birth-weight, and obesity with children asthma. Atopic history is the  only data that has correlation with children ashtma in RSUP M. Djamil Padang. Keywords: children asthma, risk factors, atopic history
Gambaran Karsinoma Prostat di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2010-2013 Muhammad Iqbal Andreas; Alvarino Alvarino; Noza Hilbertina
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i2.696

Abstract

Karsinoma prostat merupakan kasus neoplasia yang kedua tersering ditemukan pada pria dan tersering kelima dari kasus keganasan pada pria dan wanita. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi kasus  karsinoma prostat berdasarkan umur, kadar PSA (Prostate Specific Antigen), metode diagnostik, derajat histopatologis (skor Gleason), stadium dan tatalaksana pada pasien karsinoma prostat di Rumah Sakit Umum  Pusat  (RSUP)  Dr. M. Djamil Padang. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan data rekam medik di  RSUP Dr. M.  Djamil Padang periode 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2013. Didapatkan hasil sebanyak 51 kasus pada periode tersebut. Penderita terbanyak ditemukan pada rentang usia 70-79 tahun, yaitu sebanyak 39,22%. Sebagian besar kasus (49,02%) memiliki kadar PSA >20 ng/ml. Hampir seluruh kasus (94,12%) karsinoma prostat ditemukan secara insidental melalui hasil kerokan TURP (Transurethral resection of the prostate) dan sisanya ditegakkan melalui biopsi. Skor Gleason yang terbanyak adalah skor 5-7 (moderately differentiated) sebanyak 45,10%. Pada kelompok usia 50-59 tahun, karsinoma prostat terbanyak dengan skor 5-7 (moderately differentiated); kelompok usia 60-69 tahun terbanyak skor 8-10 (poorly differentiated); kelompok usia 70-79 tahun terbanyak skor 5-7 (moderately differentiated); dan kelompok usia 80-89 tahun terbanyak skor 8-10 (poorly differentiated). Hanya terdapat 7,84% kasus yang dapat ditentukan stadiumnya yang seluruhnya sudah stadium 4. Dari seluruh kasus hanya 23,53% kasus yang didapatkan oleh peneliti data mengenai tatalaksana yang dilakukan setelah dilakukan TURP. Dari 23,53% kasus tersebut, seluruhnya dilanjutkan dengan terapi hormonal, 19,61% kasus diberikan melalui injeksi antiandrogen, 3,92% kasus dilakukan melalui Orkidektomi.
Gambaran Antropometri pada Penyakit Jantung Bawaan di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2010 -2013 Muhammad Nadirsyah; Didik Haryanto; M. Setia Budi Zein
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.565

Abstract

AbstrakPenyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah  salah satu kelainan kongenital dengan abnormalitas pada struktur maupun fungsi sirkulasi yang telah ada sejak lahir. Anak-anak dengan PJB seringkali terganggu asupan makanannya sehingga berdampak pada tumbuh-kembangnya. Antropometri adalah cara untuk mengetahui status gizi yang salah  satunya dengan menggunakan parameter umur, berat badan, dan tinggi badan. Pengukuran antropometri dapat menggunakan  Berat Badan per Umur (BB/U), Tinggi Badan per Umur (TB/U) dan Berat Badan per Tinggi Badan (BB/TB). Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran antropometri pada penderita penyakit jantung bawaan (PJB) sianotik dan non-sianotik di RSUP Dr. M. Djamil Padang  dari tahun 2010 sampai 2013. Jenis penelitian ini adalah penelitian  retrospektif deskriptif dengan metode total sampling data rekam medis pasien PJB. Hasil penelitian ini mendapatkan  51 sampel. BB/U  kelompok PJB sianotik terbanyak yaitu dengan status gizi buruk sebanyak 5 orang (9,8%) sedangkan kelompok PJB non-sianotik terbanyak yaitu dengan status gizi baik sebanyak 16 orang (31,4%); TB/U kelompok PJB sianotik terbanyak yaitu dengan status sangat-pendek sebanyak 6 orang (11,8%) sedangkan  kelompok PJB non-sianotik terbanyak yaitu dengan status normal sebanyak 16 orang (31,4%); BB/TB kelompok PJB sianotik terbanyak yaitu dengan status normal sebanyak 9 orang (17,6 %) sedangkan kelompok PJB non-sianotik terbanyak yaitu dengan status normal sebanyak 19 orang (37,3%).Kata kunci: penyakit jantung bawaan, berat badan, tinggi badan, umur AbstractCongenital Heart Disease (CHD) is a disease with abnormalities in the structure and function of circulation that are present at birth. Children with congenital heart disease are disrupted in food intake which affect their growth and development. Anthropometry is a method to determine the nutrition status by using the anthropometric measurement; Weight-for-Age, Length for Age, and Weight for Length.The  objective of this study was to observe the anthropometric description in cyanotic and non-cyanotic congenital heart disease at Dr. M. Djamil Hospital Padang from 2010 until 2013. The research is a descriptive retrospective study on medical records of congenital heart disease patients with total sampling method. The study results showed that there were 51 samples. Weight-for-Age group, as many as 5 patients (9.8%) of cyanotic congenital heart disease with malnutritionals and 16 patients (31.4%) of  the non-cyanotic congenital heart disease with good nutrition. In the Length-for-Age group, there were 6 patients (11.8%) with lowest status of the cyanotic congenital heart disease and 16 people (31.4%) with normal status of non-cyanotic congenital heart disease. In the Weight-for-Length group, there were 9 patients (17.6%) of the cyanotic congenital heart disease with normal status and 19 patients (37.3%) of  non-cyanotic congenital heart disease with normal status.Keywords: congenital heart disease), weight, length, age

Page 87 of 130 | Total Record : 1294


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue