cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 63, No 1 (2025)" : 7 Documents clear
Reformation From Within: A Contemporary Dynamics of Muhammadiyah Intellectuals in the Early 21st Century Niam, Khoirun; Arifin, Syamsul
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.35-58

Abstract

This article seeks to trace how Muhammadiyah cultivates its Muslim intellectuals, particularly in the early 21st century, and examines how their contributions promote intellectual and charitable initiatives. Through interviews with prominent Muhammadiyah leaders and scholars, as well as documentary research, the article reveals that the emergence of Muhammadiyah intellectuals in the early twenty-first century is rooted in two types of educational institutions. The first group consists of those who completed their education at pesantren, while the second comprises individuals educated within the national school system who also graduated from higher education institutions. Social and political conditions further contributed to the formation of Muhammadiyah intellectuals. The large number of Muhammadiyah charities has led to criticism that Muhammadiyah intellectual thought is stagnant. Their focus has largely been directed toward supporting regular and tangible organizational activities, including humanitarian efforts, social initiatives, and educational programs, among others. [Artikel ini menelusuri upaya Muhammadiyah membina intelektual Muslimnya, khususnya pada awal abad ke-21, serta mengkaji kontribusi mereka yang mendorong inisiatif keilmuan dan filantropis. Berdasarkan wawancara dengan tokoh dan cendekiawan terkemuka Muhammadiyah serta penelitian dokumen, tulisan ini mengungkap bahwa kemunculan intelektual Muhammadiyah pada awal abad ke-21 berakar pada dua jenis lembaga pendidikan: pertama, mereka yang menempuh pendidikan di pesantren dan, kedua, mereka yang memperoleh pendidikan melalui sistem sekolah nasional dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Kondisi sosial dan politik juga turut memengaruhi terbentuknya para intelektual Muhammadiyah. Banyaknya amal usaha Muhammadiyah memunculkan kritik bahwa pemikiran intelektual Muhammadiyah mengalami stagnasi. Fokus para intelektual Muhammadiyah lebih diarahkan untuk mendukung aktivitas organisasi yang bersifat rutin dan nyata, seperti kegiatan kemanusiaan, inisiatif sosial, dan program-program pendidikan.]
New Lights on Prophecy-Pretending and Mimetic Religions in Medieval Islamic North Africa Mansouri, Mabrouk Chibani
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.1-33

Abstract

This paper addresses the proliferation of prophetic movements and mimetic religions in medieval Islamic North Africa, focusing on the Barghwāṭa and Ghumāra tribes. It critiques medieval Arabic and Orientalist terminologies used to explain this complex issue, arguing that they fail to capture the dynamics of these movements. The paper introduces the concept of mimetic religion to interpret localized prophetic movements that emerged on the periphery of the established religion, namely Islam, retaining its structure while presenting parallel, rather than counteractive, religio-cultural projects. Drawing on primary sources, it highlights how misrule and exploitative practices by early conquerors fueled North African resistance, leading to revolutionary and prophetic movements. It challenges both medieval historiographical reductions of these movements to sectarianism and modern interpretations shaped by French colonial Orientalism, which often reduced them to ethnic or religious conflicts between Arab-Muslim conquerors and indigenous North Africans. By analyzing primary sources and questioning Orientalist biases, the paper emphasizes the interplay of political, economic, social, and cultural factors in shaping North African religious settings. Ultimately, it defines new boundaries for re-contextualizing and re-interpreting mimetic religion as expressive of a complex texture framing religious, cultural, and social nomenclature rooted in local North African indigenous heritage. [Makalah ini membahas proliferasi gerakan-gerakan kenabian dan agama-agama mimetik di wilayah Afrika Utara abad pertengahan, dengan fokus pada suku Barghwāṭa dan Ghumāra. Studi ini mengkritisi terminologi Arab klasik dan orientalis terkait persoalan yang kompleks ini, dengan kesimpulan bahwa terminologi tersebut gagal menangkap dinamika gerakan yang terjadi. Konsep agama mimetik diperkenalkan untuk memahami gerakan-gerakan kenabian lokal yang berkembang di samping agama yang mapan, yaitu Islam, dengan mempertahankan struktur dasar, namun membawa konsep religio-kultural yang sejajar tanpa mengambil posisi kontradiktif. Berdasarkan sumber-sumber primer, tulisan ini menunjukkan bahwa ketidakadilan pemerintahan dan praktik eksploitasi oleh para penakluk awal turut memicu perlawanan di Afrika Utara yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan revolusioner dan kenabian. Penulis menolak reduksi historiografi abad pertengahan yang memandang gerakan-gerakan tersebutsebagai bentuk sektarianisme semata, sekaligus menolak interpretasi modern a la orientalisme kolonial Prancis, yang menyederhanakan gerakan-gerakan tersebut menjadi konflik etnis atau agama antara penakluk Arab-Muslim dan masyarakat pribumi Afrika Utara. Tulisan ini menekankan pentingnya interaksi antara faktor politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam membentuk lanskap keagamaan di Afrika Utara. Agama mimetik adalah ekspresi dari tekstur kompleks yang membingkai nomenklatur religius, kultural, dan sosial yang berakar pada warisan budaya lokal masyarakat pribumi Afrika Utara.]
Islam At the Crossroads of Global Ethics: An Ecumenical-Pluralist Reading of Hans Küng (1928-2021) Boulaouali, Tijani
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.173-203

Abstract

Religious and cultural pluralism has introduced a new approach that differs from classical European orientalism, taking into account the historical, socio-cultural, and political transformations experienced by Western societies in their shift from monoculturalism to pluralism. Contemporary Western scholars, philosophers, and theologians have given significant space to Islamic components, offering pluralism as one of the most objective frameworks for interacting with Islam. Hans Küng stands out among other thinkers for his objectivity, courage, and ability to deconstruct Orientalist assumptions that approach Islam from a narrow ideological perspective. This study explores Küng’s main ideas and projects, particularly his concepts of global ethics, pluralism, interfaith dialogue, competing paradigms, and the reinterpretation of the friend-enemy dichotomy. This study shows that Küng’s theological and philosophical foundation in interacting with Islam is closely related to his personal experiences and intellectuality. This led him to initiate a global ethics project as a moral foundation for interfaith dialogue. Küng positions Islam in the context of cosmic pluralism as an important component in the equation of international peace and interfaith dialogue, not only through its tolerant teachings, but also through its rich legal and philosophical heritage, which has contributed to the advancement of human civilization. Therefore, he calls for a reinterpretation of Islam and a deconstruction of contemporary Muslim challenges through competing paradigms to find a viable way out of the current crisis of civilization.[Pluralisme agama dan budaya telah memperkenalkan pendekatan baru yang berbeda dari pembacaan orientalistik Eropa klasik, dengan mempertimbangkan transformasi historis, sosio-budaya, dan politik yang dialami oleh masyarakat Barat dalam pergeseran mereka dari monokulturalisme ke pluralisme. Cendekiawan, filsuf, dan teolog Barat kontemporer telah memberikan tempat yang signifikan bagi komponen Islam, dengan menawarkan pluralisme sebagai salah satu kerangka kerja paling objektif untuk berinteraksi dengan Islam. Hans Küng menonjol di antara para pemikir lainnya karena objektivitasnya, keberaniannya, dan kemampuannya untuk mendekonstruksi asumsi-asumsi orientalistik yang mendekati Islam dari perspektif ideologis yang sempit. Studi ini mengeksplorasi gagasan dan proyek utama Küng, terutama konsepnya tentang etika global, pluralisme, dialog antaragama, paradigma yang bersaing, dan reinterpretasi dikotomi teman dan musuh. Studi ini menunjukkan bahwa landasan teologis dan filosofis Küng dalam berinteraksi dengan Islam sangat berkaitan erat dengan pengalaman pribadi dan intelektualitasnya. Hal tersebut membawanya untuk menggagas proyek etika global sebagai landasan moral untuk dialog antaragama. Küng memposisikan Islam dalam konteks pluralisme kosmis sebagai komponen penting dalam persamaan perdamaian internasional dan dialog antaragama, tidak hanya melalui ajaran-ajarannya yang toleran, tetapi juga melalui warisan yuridis dan filosofisnya yang kaya, yang telah berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia. Oleh karena itu, ia menyerukan reinterpretasi Islam dan dekonstruksi tantangan Muslim kontemporer melalui metodologi paradigma yang bersaing untuk menemukan jalan keluar yang layak dari krisis peradaban saat ini.]
The Qur’anic Movement Gerakan Ayo Mengaji (Gerami) in Jambi: An Intersectional Analysis of Women, Gender, and Class Maghfirah, Moona; Rafiq, Ahmad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.143-172

Abstract

This article demonstrates that women’s experiences within religious movements are diverse and multifaceted, shaped by a complex interplay of social factors. By investigating ‘Gerakan Ayo Mengaji’ (GERAMI) as Quranic movement in Jambi City, it applies an intersectional lens to examine how gender and class dynamics influence Muslim women’s experiences within the movement, such as their space, roles, and performance. Drawing on in-depth interviews, participant observation, and the movement’s archival materials, the study analyzes the identities and activism of GERAMI’s women members. The findings suggest that the intersectionality of gender identities enables the movement to function not only as a source of Muslim women’s identity formation but also as a means of reinforcing or contesting gendered social structures. The intersection of various forms of individual capital significantly shapes members’ roles and performances within the movement, thereby constructing internal hierarchies. The article argues that the convergence of diverse social identities within a Qur’anic movement can inadvertently produce hierarchical power dynamics, leading to the emergence of new gendered public spaces and class structures within the movement itself.[Artikel ini menunjukkan bahwa pengalaman perempuan dalam gerakan keagamaan bersifat beragam dan memiliki banyak sisi, yang dibentuk oleh interaksi kompleks faktor-faktor sosial. Dengan mengkaji ‘Gerakan Ayo Mengaji’ (GERAMI) sebagai gerakan Al-Quran di Kota Jambi, penelitian ini menggunakan lensa interseksional untuk menganalisis bagaimana dinamika gender dan kelas memengaruhi pengalaman perempuan Muslim dalam gerakan tersebut, termasuk ruang, peran, dan aktivitas mereka. Menggunakan wawancara mendalam, pengamatan partisipatif, dan bahan arsip gerakan, studi ini menganalisis identitas dan aktivisme anggota perempuan GERAMI. Temuan menunjukkan bahwa interseksionalitas identitas gender memungkinkan gerakan ini berfungsi tidak hanya sebagai sumber pembentukan identitas perempuan Muslim, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat atau menantang struktur sosial yang berorientasi gender. Selain itu, persilangan berbagai bentuk modal individu secara signifikan membentuk peran dan kinerja anggota dalam gerakan, sehingga membentuk hierarki internal. Pada akhirnya, artikel ini berargumen bahwa konvergensi identitas sosial yang beragam dalam gerakan Qur’anik dapat secara tidak sengaja menghasilkan dinamika kekuasaan hierarkis, yang mengakibatkan munculnya ruang publik berjenis kelamin baru dan struktur kelas di dalam gerakan itu sendiri.]
Pasai and Constantinople: Hybrid Legitimacies and Multiple Identities in the 15th Century Muslim Societies Hasbi, Baiquni; Muhammad, Rasyidin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.115-141

Abstract

This article provides an alternative historical explanation that challenges the monolithic portrayal of premodern Muslim polities. Prevailing narratives often emphasize Islam as the sole dominant identity, relegating Southeast Asia to the ‘periphery’ of the Islamic world and reducing the Ottoman governance to purely Islamic ideals. This article reconsiders how Muslim polities in the fifteenth century forged legitimacy through strategies that were neither monolithic nor exclusively Islamic. Focusing on the Sultanate of Pasai in Sumatra and the Ottoman Empire in Constantinople, it demonstrates how rulers embedded themselves in multiple traditions, Islamic, Indic, indigenous, and Greco-Roman Christian, at once. Through textual analysis of primary texts, Hikayat Raja-Raja Pasai, Tarih-i Ebü’l Fath, Târih-i Beyân-ı Binâ-yı Ayasofya-yı Kebîr, and History of Mehmed the Conqueror, this study demonstrates that both Pasai and the Ottomans integrated hybrid traditions to construct their sovereignty. Highlighting these multilayered repertoires adopts a polycentric rather than center-periphery framework, one in which Southeast Asia and the Mediterranean emerge as dynamic, interconnected sites of Muslim statecraft.[Artikel ini menawarkan sebuah penjelasan historis alternatif yang ingin menantang gambaran monolitik tentang kerajaan muslim pramodern. Narasi yang dominan selama ini masih cenderung menekankan Islam sebagai identitas tunggal yang mendominasi, sehingga menempatkan Asia Tenggara sebagai “pinggiran dunia Islam” dan mereduksi identitas Kekaisaran Utsmani hanya menjadi sekadar Islam semata. Artikel ini meninjau kembali bagaimana Kerajaan Muslim pada abad kelima belas membangun legitimasi melalui strategi yang tidak bersifat monolitik maupun eksklusif Islami. Dengan studi kasus Kesultanan Pasai di Sumatra dan Kekaisaran Utsmani di Konstantinopel, artikel ini menunjukkan bagaimana para penguasa menggabungkan berbagai tradisi sekaligus, Islam, lokal, Indic, dan Greko-Romawi Kristen. Melalui analisis beberapa teks primer seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Tarih-i Ebü’l Fath, Târih-i Beyân-ı Binâ-yı Ayasofya-yı Kebîr, dan History of Mehmed the Conqueror, kajian ini memperlihatkan bahwa baik Pasai maupun Usmani mengintegrasikan tradisi-tradisi hibrida untuk membangun legitimasi dan kedaulatannya. Untuk menjelaskan khazanah yang berlapis ini, artikel ini mengadopsi kerangka polisentris dari pada model pusat-pinggiran, di mana Asia Tenggara dan Mediterania muncul sebagai pusat-pusat dinamis yang saling saling terhubung dalam praktik Kerajaan Muslim.]
Contemporary Islamophobia in Malaysia: Social Media, Legislation, and Cultural Tensions Rusli, Muhammad Muslim bin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.87-113

Abstract

Islamophobia in Malaysia remains a complex and under-explored phenomenon. This case especially occurs within the context of Muslim-majority society where both internal and external factors fuel hostility. Existing legal frameworks such as the Sedition Act and Penal Code inadequately address systemic and subtle Islamophobia, particularly in digital spaces. This study employs socio-political and legal analysis to examine how Islamophobia manifests in Malaysia’s context. The paper also explores the limitations of current policies. It argues for a dedicated anti-Islamophobia legal framework aligns with international human rights standards and advocates for multi-stakeholder cooperation, incorporating both civil and Syariah law systems alongside educational initiatives to counter prejudice and promote religious harmony. The findings suggest that only through nuance, inclusive strategies can Malaysia effectively confront Islamophobia while respecting freedom of expression and multicultural coexistence.[Islamofobia di Malaysia merupakan fenomena kompleks dan minim dieksplorasi. Kondisi ini utamanya dalam masyarakat mayoritas Muslim. yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal sebagai pemicu permusuhan. Kerangka hukum yang ada seperti Undang-Undang Hasutan dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana belum secara memadai menangani Islamofobia yang bersifat sistemik dan halus, khususnya dalam dunia digital. Studi ini menggunakan analisis sosial-politik dan hukum untuk mengkaji manifestasi Islamofobia dalam konteks Malaysia. Riset ini juga membahas keterbatasan kebijakan yang ada. Penelitian ini berargumen bahwa diperlukan kerangka hukum anti-Islamofobia yang menjunjung standar hak asasi manusia internasional, serta kerja sama antara sistem hukum sipil dan Syariah, disertai inisiatif pendidikan untuk melawan prasangka dan mendorong harmoni antaragama. Temuan menunjukkan bahwa hanya melalui strategi inklusif dan bernuansa Malaysia dapat menghadapi Islamofobia secara efektif sambil menghormati kebebasan berekspresi dan keberagaman budaya.]
When Policies Miss Childhood: Rethinking Indonesia’s Deradicalization Framework Munajat, Munajat; Ma’mun, Sukron
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.59-85

Abstract

This article examines the gap between regulations and practices concerning children’s deradicalization in Indonesia. The study analyses four regulations on deradicalization in comparison to the practices observed in four pesantrens (Islamic boarding schools) in the country between 2019 and 2023. The findings reveal that Indonesian deradicalization regulations remain predominantly adult-oriented and have not systematically addressed the fundamental needs of children. They emphasise nationalism, religious moderation, entrepreneurship, and rehabilitation, while education is framed merely as a mean of instilling nationalist and moderate religious values, concepts more aligned with adult-focused programmes. In contrast, the practical implementation of children’s deradicalization highlights education as their primary necessity. Education is viewed as a long-term strategy for social reintegration to ensure a better future for these children. Furthermore, critical aspects such as administrative citizenship, psychological rehabilitation, and disengagement should also receive attention. Future regulations and practices must integrate these dimensions to more effectively support the deradicalization of children associated with terrorism.[Artikel ini mengkaji disparitas antara regulasi dan praktik deradikalisasi anak di Indonesia. Studi ini menganalisis empat peraturan mengenai deradikalisasi dibandingkan dengan praktik di empat pesantren di Indonesia antara tahun 2019 dan 2023. Temuan ini menunjukkan bahwa peraturan deradikalisasi di Indonesia masih sebagian besar berorientasi pada orang dewasa dan belum secara sistematis memenuhi kebutuhan mendasar anak-anak. Peraturan-peraturan ini menekankan nasionalisme, moderasi beragama, kewirausahaan, dan rehabilitasi, sedangkan pendidikan dibingkai hanya sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai nasionalis dan agama moderat, konsep ini lebih selaras dengan program yang berfokus pada deradikalisasi untuk orang dewasa. Sebaliknya, implementasi praktis deradikalisasi anak-anak menyoroti pendidikan sebagai kebutuhan utama mereka. Pendidikan dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk reintegrasi sosial, yang menjamin masa depan yang lebih baik bagi anak-anak. Selain itu, aspek penting seperti administrasi kewarganegaraan, rehabilitasi psikologis, dan pemisihan dari kelompok mereka sebelumnya juga harus dipertimbangkan. Peraturan dan praktik di masa depan harus mengatasi dimensi-dimensi ini agar lebih efektif mendukung deradikalisasi anak-anak yang terkait dengan terorisme.]

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2025 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue