cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,226 Documents
Contemporary Islamophobia in Malaysia: Social Media, Legislation, and Cultural Tensions Rusli, Muhammad Muslim bin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.87-113

Abstract

Islamophobia in Malaysia remains a complex and under-explored phenomenon. This case especially occurs within the context of Muslim-majority society where both internal and external factors fuel hostility. Existing legal frameworks such as the Sedition Act and Penal Code inadequately address systemic and subtle Islamophobia, particularly in digital spaces. This study employs socio-political and legal analysis to examine how Islamophobia manifests in Malaysia’s context. The paper also explores the limitations of current policies. It argues for a dedicated anti-Islamophobia legal framework aligns with international human rights standards and advocates for multi-stakeholder cooperation, incorporating both civil and Syariah law systems alongside educational initiatives to counter prejudice and promote religious harmony. The findings suggest that only through nuance, inclusive strategies can Malaysia effectively confront Islamophobia while respecting freedom of expression and multicultural coexistence.[Islamofobia di Malaysia merupakan fenomena kompleks dan minim dieksplorasi. Kondisi ini utamanya dalam masyarakat mayoritas Muslim. yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal sebagai pemicu permusuhan. Kerangka hukum yang ada seperti Undang-Undang Hasutan dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana belum secara memadai menangani Islamofobia yang bersifat sistemik dan halus, khususnya dalam dunia digital. Studi ini menggunakan analisis sosial-politik dan hukum untuk mengkaji manifestasi Islamofobia dalam konteks Malaysia. Riset ini juga membahas keterbatasan kebijakan yang ada. Penelitian ini berargumen bahwa diperlukan kerangka hukum anti-Islamofobia yang menjunjung standar hak asasi manusia internasional, serta kerja sama antara sistem hukum sipil dan Syariah, disertai inisiatif pendidikan untuk melawan prasangka dan mendorong harmoni antaragama. Temuan menunjukkan bahwa hanya melalui strategi inklusif dan bernuansa Malaysia dapat menghadapi Islamofobia secara efektif sambil menghormati kebebasan berekspresi dan keberagaman budaya.]
When Policies Miss Childhood: Rethinking Indonesia’s Deradicalization Framework Munajat, Munajat; Ma’mun, Sukron
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 1 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.631.59-85

Abstract

This article examines the gap between regulations and practices concerning children’s deradicalization in Indonesia. The study analyses four regulations on deradicalization in comparison to the practices observed in four pesantrens (Islamic boarding schools) in the country between 2019 and 2023. The findings reveal that Indonesian deradicalization regulations remain predominantly adult-oriented and have not systematically addressed the fundamental needs of children. They emphasise nationalism, religious moderation, entrepreneurship, and rehabilitation, while education is framed merely as a mean of instilling nationalist and moderate religious values, concepts more aligned with adult-focused programmes. In contrast, the practical implementation of children’s deradicalization highlights education as their primary necessity. Education is viewed as a long-term strategy for social reintegration to ensure a better future for these children. Furthermore, critical aspects such as administrative citizenship, psychological rehabilitation, and disengagement should also receive attention. Future regulations and practices must integrate these dimensions to more effectively support the deradicalization of children associated with terrorism.[Artikel ini mengkaji disparitas antara regulasi dan praktik deradikalisasi anak di Indonesia. Studi ini menganalisis empat peraturan mengenai deradikalisasi dibandingkan dengan praktik di empat pesantren di Indonesia antara tahun 2019 dan 2023. Temuan ini menunjukkan bahwa peraturan deradikalisasi di Indonesia masih sebagian besar berorientasi pada orang dewasa dan belum secara sistematis memenuhi kebutuhan mendasar anak-anak. Peraturan-peraturan ini menekankan nasionalisme, moderasi beragama, kewirausahaan, dan rehabilitasi, sedangkan pendidikan dibingkai hanya sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai nasionalis dan agama moderat, konsep ini lebih selaras dengan program yang berfokus pada deradikalisasi untuk orang dewasa. Sebaliknya, implementasi praktis deradikalisasi anak-anak menyoroti pendidikan sebagai kebutuhan utama mereka. Pendidikan dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk reintegrasi sosial, yang menjamin masa depan yang lebih baik bagi anak-anak. Selain itu, aspek penting seperti administrasi kewarganegaraan, rehabilitasi psikologis, dan pemisihan dari kelompok mereka sebelumnya juga harus dipertimbangkan. Peraturan dan praktik di masa depan harus mengatasi dimensi-dimensi ini agar lebih efektif mendukung deradikalisasi anak-anak yang terkait dengan terorisme.]
Riding to Paradise: Pop-Islamism and Muslim Biker Movement in Central Java Rosyid, Muhammad; Rijal, Syamsul
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 2 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.632.205-230

Abstract

This article examines the rise of the Muslim biker movement in Indonesia through an ethnographic case study of Bikers Subuhan (BS), a motorcycle-based community that promotes congregational dawn (Subuh) prayers. Over the past eight years, BS has expanded to 108 chapters across Indonesian cities, driven by interpersonal networks, ritualised rides such as the Safar Ride, and intensive social media engagement. Drawing on Dominik Müller’s concept of Pop-Islamism, which theorizes the integration of Islamist ideas into popular culture, the study analyzes how BS blends religious piety with lifestyle appeal to mobilize urban Muslim youth. Based on six months of fieldwork in Solo, Central Java, including participant observation, digital ethnography, and interviews, the article argues that BS operates less as a hobbyist club and more as an Islamist movement leveraging motorcycle culture for ideological outreach. While it maintains a public image of casual community engagement, it internally circulates Islamist discourses, including support for Islamic law and the establishment of an Islamic state. The study contributes to scholarship on Islamic activism by showing how leisure-based practices function as vehicles for religious and ideological mobilization.[Artikel ini mengkaji kemunculan gerakan biker Muslim di Indonesia melalui studi etnografis terhadap Bikers Subuhan (BS), sebuah komunitas pengendara motor yang mempromosikan salat Subuh berjemaah di masjid. Selama delapan tahun terakhir, BS telah berkembang menjadi 108 cabang di berbagai kota di Indonesia, dengan pertumbuhan yang didorong oleh jejaring antarpribadi, kegiatan touring ritual seperti Safar Ride, dan keterlibatan aktif di media sosial. Menggunakan konsep Pop-Islamisme dari Dominik Müller, yang menyoroti integrasi gagasan Islamisme ke dalam budaya popular, studi ini menganalisis bagaimana BS memadukan kesalehan religius dengan gaya hidup untuk menarik dan menggerakkan pemuda Muslim urban. Berdasarkan penelitian lapangan selama enam bulan di Solo, Jawa Tengah, yang mencakup observasi partisipatif, etnografi digital, dan wawancara, artikel ini berargumen bahwa BS lebih berperan sebagai gerakan Islamis daripada sekadar klub hobi, dengan memanfaatkan budaya motor sebagai sarana penyebaran ideologi. Meskipun menampilkan citra publik sebagai komunitas santai dan inklusif, BS secara internal menyebarkan wacana Islamis, termasuk dukungan terhadap hukum Islam dan negara Islam. Studi ini berkontribusi pada kajian aktivisme Islam dengan menunjukkan bagaimana praktik berbasis hiburan dan gaya hidup dapat menjadi wahana mobilisasi keagamaan dan ideologis.]
Southesast Asian Proto-Pan-Islamism: A Preliminary Remark of The Genealogy of Muslim Cosmopolitanism in Aceh Dhuhri, Saifuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 2 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.632.231-257

Abstract

While Pan-Islamism is commonly framed as a nineteenth-century political discourse emerging from the Ottoman response to Western imperialism, this article argues that Aceh, a westernmost province of today’s Indonesia, articulated earlier forms of Islamic solidarity that may be considered as a proto-Pan-Islamic imaginaries. Adopting a conceptual-historical and historiographical approach, the study critically synthesizes historical narratives, available in modern scholarship to examine how Acehnese actors positioned their polity within transregional Islamic networks. Rather than claiming the existence of modern Pan-Islamism avant la lettre, the article traces three interrelated dimensions of Aceh’s early Islamic political imagination; cosmopolitan connectivity, transregional Muslim belonging, and resistance to imperial encroachment, shaped through sustained engagements with major Islamic centers such as Mecca, Persia, the Mughal world, and Istanbul. These connections informed Aceh’s political culture, religious authority, and self-representation as a Muslim power in Southeast Asia. In dialogue with Cemil Aydin’s argument that Pan-Islamism and the notion of a unified “Muslim world” crystallized in the nineteenth century, this article suggests that Aceh’s earlier experiences provided historical conditions that later rendered such global Islamic consciousness intelligible. By foregrounding Aceh as an active imperial periphery, the article challenges Eurocentric periodization and recenters Southeast Asia within global Islamic intellectual history.[Meskipun Pan-Islamisme lazim dipahami sebagai sebuah wacana politik abad ke-19 yang muncul dari respons Kesultanan Utsmaniyah terhadap imperialisme Barat, artikel ini berargumen bahwa Aceh, sebuah provinsi di ujung barat Indonesia masa kini, telah mengartikulasikan bentuk-bentuk awal solidaritas Islam yang dapat dipahami sebagai imajinasi proto-Pan-Islamik. Dengan mengadopsi pendekatan konseptual-historis dan historiografis, studi ini secara kritis mensintesis narasi-narasi sejarah yang tersedia dalam kajian ilmiah modern untuk menelaah bagaimana para aktor Aceh memosisikan polities mereka dalam jaringan Islam transregional. Alih-alih mengklaim keberadaan Pan-Islamisme modern sebelum waktunya, artikel ini menelusuri tiga dimensi yang saling berkaitan dari imajinasi politik Islam awal Aceh, yakni konektivitas kosmopolitan, afiliasi Muslim lintas wilayah, dan perlawanan terhadap penetrasi imperial, yang dibentuk melalui interaksi berkelanjutan dengan pusat-pusat Islam utama seperti Mekah, Persia, dunia Mughal, dan Istanbul. Koneksi-koneksi ini membentuk budaya politik Aceh, otoritas keagamaan, serta representasi diri sebagai sebuah kekuatan Muslim di Asia Tenggara. Dalam dialog dengan argumen Cemil Aydin bahwa Pan-Islamisme dan gagasan tentang “dunia Muslim” yang bersatu mengalami kristalisasi pada abad ke-19, artikel ini menunjukkan bahwa pengalaman-pengalaman Aceh pada periode sebelumnya menyediakan kondisi historis yang kemudian membuat kesadaran Islam global semacam itu menjadi dapat dipahami. Dengan menempatkan Aceh sebagai sebuah periferium imperial yang aktif, artikel ini menantang periodisasi Eurosentris dan memusatkan kembali Asia Tenggara dalam sejarah intelektual Islam global.]
A Utopian Life, Yet Not Antinomian: Abrogation of Sharīʻa and the Qiyāma Doctrine in Ismāʻīlī Thought Sansarkan, Yusuf
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 2 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.632.259-282

Abstract

Early Ismāʻīlī belief describes the advent of the seventh imam as qiyāma. However, this qiyāma does not signify the end of the world. Rather, it marks the end of the era of concealment (satr), which began with the first imam, and the beginning of the era of revelation (kashf). This event is also understood as the moment when the Sharīʻa (Islamic law) will be abolished. Throughout history, certain Ismā’īlī groups have believed that the Qāʼim, the seventh imam, had already appeared and attempted to live a utopian life without Sharīʻa. These beliefs, along with historical experiences associated with them, gave rise to accusations of antinomianism (ibāḥa) against the Ismāʻīlīs. The present study seeks to clarify the Ismā’īlī understanding of the abolition of Sharīʻa by examining the views of prominent missionaries (dāʻī) who may be regarded as the founders of this intellectual tradition. It argues that Ismāʻīlī authors generally agreed that the Sharīʻa would remain in force until qiyāma, after which a period without it would begin.[Dalam keyakinan awal Ismāʻīlī, kemunculan imam ketujuh digambarkan sebagai qiyāma. Namun, qiyāma ini tidak menandakan akhir dunia. Sebaliknya, ia menandai berakhirnya era penyembunyian (satr), yang dimulai sejak imam pertama, serta dimulainya era peningkapan (kashf). Peristiwa ini juga dipahami sebagai saat ketika hukum Islam (Sharīʻa) akan dihapuskan. Sepanjang sejarah, beberapa kelompok Ismāʻīlī meyakini bahwa Qā’im, yaitu imam ketujuh, telah muncul dan berupaya menjalani kehidupan utopis tanpa Sharīʻa. Keyakinan-keyakinan ini, bersama dengan pengalaman historis yang berkaitan dengannya, memunculkan tuduhan antinomianisme (ibāḥa) terhadap kaum Ismāʻīlī. Kajian ini bertujuan untuk memperjelas pemahaman Ismā’īlī mengenai penghapusan Sharīʻa dengan menelaah pandangan para misionaris terkemuka yang dapat dianggap sebagai para perintis tradisi intelektual ini. Kajian ini berargumen bahwa para penulis Ismāʻīlī pada umumnya sepakat bahwa Sharīʻa akan tetap berlaku hingga qiyāma, setelah itu barulah dimulai suatu periode tanpa keberlakuannya.]
Reconfiguraring Zinā: The Criminalization of Adultery in Modern Egyptian Criminal Law Mohamed, Abdalgaber
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 2 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.632.283-321

Abstract

The Egyptian parliamentary debates on the criminalization of adultery reveal how Sharīʻa is invoked to penalize conduct that does not correspond to the conceptual foundations, definitions, evidentiary standards, or procedural rules of zinā in Islamic jurisprudence. This article examines how opposing sides in these debates construct their legal arguments and deploy distinct modes of reasoning, each grounding its position in Sharīʻa to justify the penalization of adultery. It asks why Sharīʻa doctrines of zinā are mobilized to legitimize the criminalization of adultery in Egyptian criminal law. The article argues that this strategy generates ambiguity, inconsistency, and doctrinal indeterminacy, while simultaneously undermining the function of modern criminal law within the framework of the modern state. In doing so, it produces a distorted mode of rearticulating Sharīʻa within contemporary legal institutions. Finally, the article contends that any attempt to reclaim Sharīʻa within the modern state must take into account the public function of criminal justice institutions, particularly their role in securing constitutional values such as fairness, non-discrimination, justice, and equality.[Perdebatan parlementer di Mesir mengenai kriminalisasi perzinaan memperlihatkan bagaimana syariat Islam diargumentasikan untuk menghukum suatu perbuatan yang tidak sejalan dengan landasan konseptual, definisi, standar pembuktian, maupun prosedur zinā dalam fikih Islam. Artikel ini mengkaji bagaimana pihak-pihak yang berseberangan dalam perdebatan tersebut membangun argumen hukum mereka dan menggunakan metode penalaran yang berbeda, masing-masing dengan mendasarkan posisinya pada Syariat untuk membenarkan kriminalisasi perzinaan. Pertanyaan utama yang diajukan adalah mengapa doktrin Syariat tentang zinā dimobilisasi untuk melegitimasi kriminalisasi perzinaan dalam hukum pidana Mesir. Artikel ini berargumen bahwa strategi tersebut melahirkan ambiguitas, inkonsistensi, dan ketidakpastian doktrinal, sekaligus melemahkan fungsi hukum pidana modern dalam kerangka negara modern. Dalam prosesnya, hal ini menghasilkan cara yang terdistorsi dalam mengartikulasikan kembali Syariat di dalam institusi hukum kontemporer. Pada akhirnya, artikel ini menegaskan bahwa setiap upaya untuk mereklaim Syariat dalam negara modern harus mempertimbangkan fungsi publik lembaga peradilan pidana, khususnya perannya dalam menjamin nilai-nilai konstitusional seperti keadilan, non-diskriminasi, kesetaraan, dan kepastian hukum.]

Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue