cover
Contact Name
Wuri Handayani, Ph.D.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada Jalan Sosio Humaniora No. 1, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Indonesian Economy and Business
ISSN : 20858272     EISSN : 23385847     DOI : -
Core Subject : Economy,
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) is open access, peer-reviewed journal whose objectives is to publish original research papers related to the Indonesian economy and business issues. This journal is also dedicated to disseminating the published articles freely for international academicians, researchers, practitioners, regulators, and public societies. The journal welcomes author from any institutional backgrounds and accepts rigorous empirical or theoretical research paper with any methods or approach that is relevant to the Indonesian economy and business content, as long as the research fits one of three salient disciplines: economics, business, or accounting.
Articles 989 Documents
PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DENGAN BALANCED SCORECARD: BENTUK, MEKANISME, DAN PROSPEK APLIKASINYA PADA BUMN Bambang Sudibyo
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 12, No 2 (1997): April
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4258.874 KB)

Abstract

Balanced Scorecaid (BSC), sebagaimana dituturkan oleh penciptanya yaitu Robert S. Kaplan dan David P. Norton (Kaplan dan Norton, 19% A), bermula dari suatu penelitian satu tahun pada selusin perusahaan-Advanced Micro Devices, American Standard, Apple Computer, Bell South, CIENA, Conner Peripherals, Coy Research, Du Pont, Electronic Data Systems, General Electric, HewlettPachard, dan Shell Canada pada tahun 1990 disponsori oleh Nolan Norton Institute, lembaga penelitian milik KPMG. Penelitian itu berjudul "Measuring Performance in the Organization of the Future," dan David Norton, CEO dari Nolan Norton, bertindak sebagai ketua tim peneliti sementara Bob Kaplan menjadi konsultan akademisnya. Studi itu dimotivasi oleh keyakinan bahwa model pengukuran kinerja perusahaan melalui akuntansi keuangan tidak lagimemadai dan bahkan bisa menghambat kemampuan perusahaan menciptakan nilai ekonomis di masa yang akan datang. Motivasi ini tentu mengingatkan kita pada buku Johnson dan Kaplan berjudul "Relevance Lost' (1987) yang menceritakan perkembangan akuntansi manajemen yang cenderung lebih memenuhi selera sofistikasi akademik daripada menjawab permasalahan rifl dalam bisnis. Temuantemuan dari studi itu diringkas dalam suatu attikel, Measures That Drive Performance!' di Harvard Business Review (HBR) edisi Januari-Februari 1992 (Kaplan dan Norton, 1992). Pengamatan lebih lanjut terhadap penerapan BSC di beberapa perusahaan menyadarkan Kaplan dan Norton bahwa BSC bisa dipakai lebih dari sekedar sebagai sistem pengukuran, melainkan juga untuk mengkomunikasikan strategi baru dan mengalign organisasi terhadap strategi baru itu. Observasi ini mereka tulis dalam artikel HBR lain dengan judul "Putting the Balanced Scorecard to Work," (Kaplan dan Norton, 1993). Pengamatan lebih lanjut terhadap penggunaan banyak ukuran dalam BSC yang satu sama lain dirangkai bersama oleh suatu serihubungan sebab-akibat mengantarkan mereka pada kesimpulan baru, yaitu bahwa BSC bisa dipakai untuk mengelok strategi. Tegasnya BSC adalah suatu sistem manajemen yang bisa dipakai sebagai kerangka sentral dalam berbagai proses managerial penting: penentuan gol individual dan tim, pemberian konpensasi, alokasi sumberdaya, perencanaan dan peranggaran, pemberian umpan balik strategis, dan pemberdayaan karyawan serta penumbuhan iklim belajar dalam organisasi. Perkembangan baru ini mereka laporkan dalam artikel HBR yang ketiga, "Using the Balanced Scorecard as a Strategic Management System' (Kaplan dan Norton, 1996). Dan akhirnya, laporan yang paling komprehensif tentang BSC ini mereka tulis dalam buku monograf berjudul "The Balanced Scorecard' (Kaplan dan Norton, 199 A), acuan utama penulis dalam penulisan makalah ini. Mereka berharap BSC masih akan berkembang lebih lanjut, terbukti dari pengakuan mereka bahwa monograf itu masih merapakan suatu progress report. Pada hemat penulis ada dua faktor penting saling berhubungan yang melatar-belakangi lahirnya BSC, yaitu 1) semakin tidak memadainya pengukuran akuntansi untuk merefleksikan realitas bisnis yang mulai terasa sejak dekade 1970an, dan 2) terjadinya pergeseran-pergeseran fundamental dalam lingkungan bisnis sejak dekade 1970 an yang menyebabkan pergeseran-pergeseran yang fundamental pula dalam paradigma dan pendekatan manajemen bisnis pada dekade 1980an dan 1990an. Akuntansi keuangan sudah dirundung kontroversi sejak dekade 1960an. Misalnya kontroversi dalam metode penilaian aset dan pengukuran zmomeantara kubu entry-value (Edwards dan Bell 1961) dan exitvalue (Sterling, 1970; Chambers, 1965), kontroversi tentang akuntansi inflasi, kontroversi tentang obyek pengukuran akuntansi (Sorter, 1969), dan kontroversi tentang tujuan akuntansi keuangan. Financial Accounting Standard Board (FASB), yang didirikan di Amerika Serikat pada akrtir dekade 1970an untuk mengatasi berbagai kontroversi ini dan sebagai tanggapan profesi akuntansiterhadap kritikan dan tekanan Konggres serta Senat alas berbagai kekurangan dalam pengukuran dan pelaporan akuntansi, menghasilkan Conseptual Framework (FASE 1978; 198Q 1984; dan 1985), yang lebih merupakan produk politik yang sangat kenyal untuk mengelabuhi Konggres dan Senat daripada suatu penyelesaian rasional yang komprehensif dan konsisten. Perkembangai akuntansi manajemen juga tidak lebih baik daripada akuntansi keuangan. Seperti telah dikemukakan di muka, Johnson dan Kaplan (1987) mensinyalir bahwa perkembangan teknik-teknik akuntansi manajemen cenderung mengarah ke sofistikasi akademis terlepas dari komitmennya untuk mengatasi masalah dantantangan riil dalam penyediaan informasi untuk bisnis. Pada hemat penulis, permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh akuntan keuangan dan akuntansi manajemen ini sebagian bersifat teknologis, sebagian lagi bersumber pada lingkungan penerapan akuntansi yang mengalami perubahan-perubahan yang mendasar. Mengenai yang terakhir, karena lingkungan penerapan yang berubah secara fundamental maka akuntansi menjadi semakin tidak memadai dalam merefleksikan realitas bisnis.  Perubahan lingkungan penerapan ini terkait erat dengan faktor penting kedua yan melatarbelakangi munculnya BSC, yaitu terjadinya pergeseran fundamental dalam lingkungan bisnis yang menyebabkan pergeseran fundamental pula dalam paradigma dan pendekatan manajemen bisnis. Dua dekade terakhir di penghujung abad ini manusia menyaksikan perubahan dan pergeseran yang mendasar sekali dalam pola hubungan dan interaksi antar sesama manusia padaskala mikro maupun makro, bahkan mondial. Penyebab utama dari perubahan dan pergeseran itu, pada hemat penulis, adalah dua hal, yaitu meredarnya semua ketegangan yang bersumber pada perang dingin dan kemajuan yang fenominal pada teknologi komputer dan komunikasi. Dampak dari dua faktor tersebut secara populer dinamai "globalisasi," yang cenderung untuk bias pada pengamatan eksoterik perubahan dan pergeseran pada skala makro mondial dan karenanya kurang peduli pada pengamatan serta analisis isoterik dan detail akan perubahan dan pergeseran pada tingkat mikro. Kegagalan sistem komunis di Eropa Timur, yang segera diikuti dengan peredaan ketegangan perang dingin antara blok Barat dan Timur, menyebabkan timbulnya persepsi pada tingkat mondial akan supremasi sistem ekonomi pasar di atas sistem ekonomi komando. Dua kekuatan raksasa komunis pun, yaitu UniSoviet dan RRC, serta-merta mempercayai dan mengadopsi sistem ekonomi pasar. Langkah Uni-Soviet dan RRC itu segera diikuti oleh negara-negara komunis lainnya. Pada negara-negara non komunis terjadi pendalaman sistem pasar dalam bentuk deregulasi, yang dilakukan tidak hanya oleh negara-negara berkembang yang masih malu-malu terhadap sistem pasar, tetapi bahkan juga oleh negaranegara yang sudah lama dikenal sebagai strong advocate sistem pasar seperti Amerika Serikat, Canada, dan Inggris. Bersamaan dengan itu kemajuan pada teknologi elektronika dan material telah melahirkan teknologi komputer, yang secara drastis merubah teknologi desain dan produksi informasi. Munculnya teknologi komputer yang segara tumbuh dan berkembang secara cepat itu terjadi kontemporer dengan kemajuan yang luar biasa pada teknologi komunikasi, terutama telekomunikasi satelit. Perkembangan dan interaksi antara teknologi komputer dan teknologi komunikasi itu melahirkan serta menyuburkan pertumbuhan teknologi informasi. Adalah perluasan serta pendalaman sistem ekonomi pasar dan perkembangan yang luar biasa pada teknologi informasi itulah yang menyebabkan perubahan pola hubungan antar manusia, baik pada skala mikro kelembagaanmaupun pada skala makro mondial. Secara bersama-sama kedua faktor tersebut telah berdampak menambah keberdayaan manusia sebagai individu relatif terhadap semua bentuk kelembagaan seperti perusahaan, partai politik, organisasi masa, negara, dan lain sebagainya. Proses pemberdayaan manusia sebagai individu itu terjadi baik dalam arti meningkatnya kekuatan, kekuasaan, dan pengaruh manusia individual, maupun dalam arti melonggarnya berbagai ikatan struktural dan kultural yang membelenggu kebebasannya sebagai pribadi. Perluasan dan pendalaman pasar, atau liberalisasi pasar, berdampak pada semakin kuatnya posisi tawar-menawar konsumen relatif terhadap posisi produsendan/atau penjual. Pasar, bila terbebas dari berbagai bentuk intervensi dari luar sistem, adalah lembaga ekonomi yang sangat demokratis. Keputusan terpenting di pasar, yaitu keputusan tentang harga, terjadi melalui proses tawar-menawar yang demokratis tanpa paksaan dan pengaruh siapapun. Kedaulatan konsumen dalam lingkungan seperti itu ditentukan oleh perimbangan antara jumlah konsumen dan produsen/penjual Semakin besar jumlah produsen/penjual relatif terhadap konsumen, artinya semakin pasar efisien, semakin kuat posisi konsumen dalam tawar-menawar. Liberalisasi pasar menghilangkan berbagai bentuk intervensipasar dan menghilangkan entry baniers bagi produsen/penjual baru untuk masuk ke pasar, dan berakibat pada semakin kuatnya kedaulatan atau keberdayaan konsumen. Sebelum merebaknya teknologi informasi seperti sekarang ini, manusia individual hanya bisa dengan mudah mengakses informasi pasar dan informasi tak resmi dalam pergaulan sosial, tetapi sangat tidak mudah untuk mengakses informasi resmi kelembagaan. Informasi kelembagaan terproteksi baik secara horisontal maupun vertikal Secara horisontal, ada filter kelembagaan yangmembatasi lalulintas informasi keluar dan masuk lembaga. Bahkan di dalam lembaga itu sendiri infortnasi tidak bebas mengalir horisontal keluar-masuk unitunit di dalam organisasi secara vertikal informasi mengalir melalui jalur di dalam struktur politik yang hierarkis. Setiap hierarki berfungsi sebagai filter aliran informasi baik ke atas maupun ke bawah. Birokrat yang berpengalaman, baik dari lembaga pemerintah maupun swasta, bisa dengan piawai memainkan filter-filterinformasi vertikal dan horisontal itu untuk membangun kekuasaan dan pengaruh efektif, dan pada saat yang sama mengurangi atau membatasi keberdayaan stakeholders yang mereka layani. Kemajuan yang pesat dalam teknologi informasi secara drastis mengurangi keefektifan filter-filter informasi vertikal dan horisontal itu. Terhadap mereka yang di luar lembaga, organisasi menjadi lebih transparan. Di dalam lembaga, organisasi juga menjadi lebih transparan baik vertikal maupun horisontal. Informasi di puncak piramid organisasi menjadi lebih mudah untukdiakses oleh para pelaksana yang berada di dasar piramid, dan demikian pula sebaliknya, sehingga relevansi lapis tengah piramid yang berfungsi sebagai perantara antara puncak dan dasar piramid menjadi berkurang sekali. Teknologi informasi juga memperluas span of control seorang fungsionaris, sehingga jumlah sekat yang membagi organisasi secara horisontal juga menurun secara drastis. Dengan demikian, organisasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman adalah yang lebih melebar (Bat) dan transparan. Perkembangan yang seperti itu berdampak pada semakin berdayanya mereka yang berada di luar lembaga dan mereka yang berada di lapis lebih bawah dalam organisasi. Apa yang terjadi pada era revolusi informasi sekarang ini adalah kebalikan daripada era revolusi industri. Pada era revolusi industri masuknya teknologi ke dalam fungsi produksi menyebabkan tumbuhnya organisasi-organisasi birokratis,yang berfungsi sebagai teknostruktur yang cocok untuk mengelola kegiatan produksi dan distribusi yang agar ekonomis ham bersekala besar (Galbraith, 1973). Munculnya lembaga-lembaga birokratis dan tertutup itu mengurangi keberdayaan individu melalui dua cara. Pertama, penerapan teknologi memerlukan skala ekonomi besar, yang mendorong pada semakin terkonsentrasinya pasar dari sisi penawaran (Galbraith,1973). Semakin terkonsentrasinya sisi penawaran itu memperlemah keberdayaan sisi permintaan, yaitu sisinya konsumen. Kedua, lembaga besar yang birokratis dan tertutup itu mempunyai tabiat alami suka memonopoli informasi yang berdampak pada semakin tak berdayanya individu di hadapan lembaga. Era revolusi informasi sekarang ini mengembalikan kedaulatan konsumen di pasar, dan kedaulatan individu di hadapan lembaga. Faktor inilah yang menjadi pemicu utama munculnya berbagai metoda atau pendekatan baru dalam pengelokan organisasi.Organisasi-organisasi bisnis adalah lembaga yang paling responsif danadaptif terhadap perubahan lingkungan yang terutama ditandai oleh menguatnya keberdayaan konsumen di pasar dan keberdayaan individu di hadapan lembaga tersebut.flat-nonbureaucratic-intelligent-enterpreneurial organization, partisipative workteams, cross training, downsizing, push-ing decision making down the pyramid,customer orientation, outsourcing, just-in-time inventory, activity basedmanagement, dan overhead reduction- pada hakekatnya merapakan upaya-upayaflat-nonbureaucratic-intelligent-enterpreneurial organization, partisipative workteams, cross training, downsizing, push-ing decision making down the pyramid,customer orientation, outsourcing, just-in-time inventory, activity basedmanagement, dan overhead reduction- pada hakekatnya merapakan upaya-upayaflat-nonbureaucratic-intelligent-enterpreneurial organization, partisipative workteams, cross training, downsizing, push-ing decision making down the pyramid,customer orientation, outsourcing, just-in-time inventory, activity basedmanagement, dan overhead reduction- pada hakekatnya merapakan upaya-upaya
STUDI EKSPLORASI TENTANG PENYEBARAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK USAHA KECIL DAN MENENGAH Hargo Utomo
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 16, No 2 (2001): April
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.135 KB)

Abstract

This paper investigates factors contributing to the diffusion and adoption of IT within small and medium-sized firms in Indonesia. Both quantitative and qualitative approaches were used to answer detailed research questions about IT diffusion at the level of the firm. Based on the exploratory nature of the study, it is believed that internal innovative capabilities of firms have a prominent role in facilitating IT diffusion. This factor is made up of three proxy variables: level of IT knowledge, level of IT investment and coherent IT strategy reflecting the circumstances by which small and medium-sized firms are able to respond to possible technological changes. The existence of government support is also a contributing factor to the diffusion and adoption of IT. However, weak relationship between the institutions and industry groups could inhibit the diffusion and adoption of IT within firms.
INDUSTRI GULA NASIONAL DI PERSIMPANGAN JALAN: MAMPU BERTAHAN ATAU TERSINGKIR M. Husein Sawit
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 16, No 2 (2001): April
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.316 KB)

Abstract

The Indonesian sugar industry is having shocked recently. The price of sugar in the world market has dropped significantly and the imported sugar cannot be controlled properly. Since January 2000, Government had imposed tariff of 25% for white sugar; however, the effective tariff must be lower due to miss management in the implementation of the policy. The government has protected heavily the sugar industry for a long time, and when the monetary crisis came almost all of them were abolished. Since then, the inefficient sugar industry directly faced competition with the world efficient sugar industry. The purpose of this article is to analyse the constrains for increasing efficiency and productivity of sugar mills in Java, and the constrains faced when it is expanded to the outer island of Java. In the long run, the sugar industry has to be designed in such a way in order to be expanded to the dry land areas and to the outer island of Java, managed by private sector.
KEPUTUSAN KEPUTUSAN STRATEJIK UNTUK MENGEKSPLORASI SIKAP DAN PERILAKU KONSUMEN Basu Swastha Dharmmesta
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 12, No 3 (1997): July
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1828.732 KB)

Abstract

Sikap konsumen telah terbukti menjadi prediktor bagi perilakunva. Prediksi perilaku konsumen yang didasarkan pada pendekatan statistikmelibatkan empat tahapan: (1) menemukan korelasi antar variabel, (2)memfokuskan model Ajzen-Fishbein sebagai a wal bahasan, (3) mengkaji model alternatif, dan (4) mencari variabel penengah. Eksplorasi model yang mengkaitkan sikap dengan perilaku yang telah melibatkan berbagai bidang keilmuan, seperti ilmu psikologi sosial, sosiologi, dan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan riset keputusan, dilakukan untuk mencari pembandingan bagi kemunculan model serupa dari psikologi kognitif. Makalah ini juga membahas pemahaman tentang perilaku konsumen yang terarah pada tujuan, persiapan konsumen untuk berperilaku, struktur sikap, dan pendekatan eksperimental.
PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DENGAN BALANCED SCORECARD: BENTUK, MEKANISME, DAN PROSPEK APLIKASINYA PADA BUMN Bambang Sudibyo
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 12, No 1 (1997): January
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4258.874 KB) | DOI: 10.22146/jieb.40008

Abstract

Balanced Scorecaid (BSC), sebagaimana dituturkan oleh penciptanya yaitu Robert S. Kaplan dan David P. Norton (Kaplan dan Norton, 19% A), bermula dari suatu penelitian satu tahun pada selusin perusahaan-Advanced Micro Devices, American Standard, Apple Computer, Bell South, CIENA, Conner Peripherals, Coy Research, Du Pont, Electronic Data Systems, General Electric, HewlettPachard, dan Shell Canada pada tahun 1990 disponsori oleh Nolan Norton Institute, lembaga penelitian milik KPMG. Penelitian itu berjudul "Measuring Performance in the Organization of the Future," dan David Norton, CEO dari Nolan Norton, bertindak sebagai ketua tim peneliti sementara Bob Kaplan menjadi konsultan akademisnya. Studi itu dimotivasi oleh keyakinan bahwa model pengukuran kinerja perusahaan melalui akuntansi keuangan tidak lagi memadai dan bahkan bisa menghambat kemampuan perusahaan menciptakan nilai ekonomis di masa yang akan datang. Motivasi ini tentu mengingatkan kita pada buku Johnson dan Kaplan berjudul "Relevance Lost' (1987) yang menceritakan perkembangan akuntansi manajemen yang cenderung lebih memenuhi selera sofistikasi akademik daripada menjawab permasalahan rifl dalam bisnis. Temuantemuan dari studi itu diringkas dalam suatu attikel, Measures That Drive Performance!' di Harvard Business Review (HBR) edisi Januari-Februari 1992 (Kaplan dan Norton, 1992).  Pengamatan lebih lanjut terhadap penerapan BSC di beberapa perusahaan menyadarkan Kaplan dan Norton bahwa BSC bisa dipakai lebih dari sekedar sebagai sistem pengukuran, melainkan juga untuk mengkomunikasikan strategi baru dan mengalign organisasi terhadap strategi baru itu. Observasi ini mereka tulis dalam artikel HBR lain dengan judul "Putting the Balanced Scorecard to Work," (Kaplan dan Norton, 1993). Pengamatan lebih lanjut terhadap penggunaan banyak ukuran dalam BSC yang satu sama lain dirangkai bersama oleh suatu serihubungan sebab-akibat mengantarkan mereka pada kesimpulan baru, yaitu bahwa BSC bisa dipakai untuk mengelok strategi. Tegasnya BSC adalah suatu sistem manajemen yang bisa dipakai sebagai kerangka sentral dalam berbagai proses managerial penting: penentuan gol individual dan tim, pemberian konpensasi, alokasi sumberdaya, perencanaan dan peranggaran, pemberian umpan balik strategis, dan pemberdayaan karyawan serta penumbuhan iklim belajar dalam organisasi. Perkembangan baru ini mereka laporkan dalam artikel HBR yang ketiga, "Using the Balanced Scorecard as a Strategic Management System' (Kaplan dan Norton, 1996). Dan akhirnya, laporan yang paling komprehensif tentang BSC ini mereka tulis dalam buku monograf berjudul "The Balanced Scorecard' (Kaplan dan Norton, 199 A), acuan utama penulis dalam penulisan makalah ini. Mereka berharap BSC masih akan berkembang lebih lanjut, terbukti dari pengakuan mereka bahwa monograf itu masih merapakan suatu progress report.
RESPON PROFESI AKUNTAN MANAJEMEN INDONESIA TERHADAP PERGESERAN PERAN PROFESI TERSEBUT DALAM ERA TEKNOLOGI INFORMASI Mulyadi Mulyadi
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 16, No 2 (2001): April
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.793 KB)

Abstract

The shifting role of management accounting profession has demanded a radical change on the core competence of the profession. The Management Accountant Compartment of Indonesian Institute of Accountants has responded strategically to the change, in order for the profession to adapt to the new environment. It published a very fundamental statement on management accounting, concerning the framework for formulating the competencies of management accounting profession. Using the framework, then, it formulated the new roles and the core competencies of management accounting profession needed to fulfill the roles. This article describes the strategic steps taken by the Indonesian management accounting professional organization in responding to the radical change in its environment.
KEBIJAKAN MONETER RULE ATAU DISCRETION Angelina Ika Rahutami
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 9, No 1 (1994): May
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.063 KB)

Abstract

Kebtiakan moneter yang diambil pemertntah dapat bersifat rule maupun discretion. Sampai saat ini masih terdapat isu perbedaan pendapat mengenai efektivitas penerapan kebijakan rule atau discretion. Dalam beberapa tulisan dikatakan kebijakan rule merupakan kebijakan yang akan menjamin stabilitas pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan karena tingkat pertumbuhan JUB yang konstan. Sedang ada pendapat bahwa kebijakan rule tldak dapat menjangkau seluruh permasalahan yang ada, maka kebijakan discretionlah alternatifnya.Selanjutnya makalah akan mencoba melihat kebijakan moneter yang diterapkan di Indonesia dari tahun 1970 sampai dengan 1991. Hasil studi secara sederhana menunjukkan bahwa Indonesia menggunakan kebijakan discretion.
Hubungan Antara Partisipasi dengan Kepuasan Pemakai Dalam Pengembangan Sistem Berbasis Komputer: Suatu Tinjauan Dua Faktor Kontijensi Grahita Chandrarin; NUR INDRIANTORO
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 12, No 2 (1997): April
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2260.514 KB)

Abstract

User participation has been widely touted by the MIS community as ameans to improve user satisfaction within systems development This claim, however, has not been consistently substantiated in the empirical literature. In seeking to explain such equivocal results, the effects of two contingency factorstask complexity and system complexity-on the relationship between user participation and user satisfaction were investigated. As suggested in the literature, this research tests hypotheses that these specific contingency factors should aid in identifying situations where user participation would have a strongrelationship with satisfaction. Analysis of 135 respondents in different organizations indicated that user participation has direct relationship with user satisfaction. In addition, the two contingency factors task complexity and system complexity prove to be not pure moderator. Task complexity was shown to be independent predictor of user satisfaction, and system complexity to be quasi moderator of relationship betweenuser participation and user satisfaction The results help explain the relationship between user participation and user satisfaction by suggesting the nature of the relationship under different sets of conditions. In the implications are relevant to systems developers and toacademicians seeking to explain how, when, why, and where user participation is needed.
AKUNTAN PUBLIK DALAM ERA PERDAGANGAN BEBAS NOPIRIN NOPIRIN
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 12, No 2 (1997): April
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.79 KB)

Abstract

Idea perdagangan bebas itu didasarkan ada konsep opportunity costMenghasilkan (mengkonsumsi sesuatu barang selalu ada yakni tidakmenghasilkan mengkonsusmi) barang lain. Dasar pemikirannya adalah satu masyarakat/negara memiliki sumber daya yang berbeda jumlah dan jenisnya dan negara lain. Oleh karena itu, setiap masyarakat/negara akan memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi yang didasarkan pada keunggulan relative (comparative advantage) yang kemudian dilanjutkan dengan perdagangan secara bebas. Spesialisasi cenderung meningkatkan efisiensi. Dengan demikian setiap Negara akan lemperoleh keuntungan (gains from trade) yang berupa kenaikan pendapatan dan konsumen memperoleh harga yang lebih murah alternatif barang yang lebih banyak perdagangan bebas akan merupakan motor pertumbuhan ekonomi (Trade is an engjne of growt.) Pemikiran bersebut melandasi: apabila satu negara ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka negara tersebut tidak seharusnya menghambat perdagangan bebas, lebih-lebih apabila negara tersebut kecil sebagai "price taker" dalam perdagangan dunia. Dalam menuju perdagangan bebas (liberalisasi perdagangan) ini sering muncul masalah politik dalam pasar luar negeri, karena selalu saja ada yang dirugikan. Meskipun hal ini dapat dikompensasi namun prakteknya tidak semudah itu. Satu negara memperoleh keuntungan dari perdagangan bebas bahkan lebih besar, apabila juga diikuti oleh negara lain. Hal inilah yang mendorong negara-negara melakukan perjanjian perdagangan multilateral. Satu negarabesar, dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dengan menggunakan tarif apabila negara tersebut dapat mempengaruhi harga pasar dunia. Namun negara lain tentu akan mengikutinya dengan mengenakan tarif juga. Apabila hal ini terjadi (perang tarif) semuanya malah rugi. Oleh karena itu negara besarpun cenderung akan mengurangi hambatan perdagangan. Untuk itulah maka muncul GATT dan kemudian dilanjutkan dengan The World Trade Organiaation (WTO).
EFEKTIVITAS PIRANTI SBI DAN SBPU DALAM PENGENDALIAN MONETER Rijanto Rijanto
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 9, No 1 (1994): May
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.361 KB)

Abstract

Operasi pasar terbuka merupakan salah satu bentuk kebijakan moneterguna mempengaruhi dan mengendallkan likuiditas perekonomian dalam rangka tercapainya keseimbangan interen dan ekstern (Internal and external balances). Otorltas moneter di Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan kebljakan ini sepertl tertuang dalam Paket Kebljakan 27 Oktober 1988(Pakto 1988).Tulisan ini mengkaji efektivltas kebljakan operasl pasar terbuka melalui bekerjanya peranti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan SBPU (Surat Berharga Pasar Uang). Hasll studi menunjukkan bahwa operasl peranti SBI dan SBPU belum mampu mencapai sasaran optimal dan Justru berdampak kurang menguntungkan bagi upaya pengendalian moneter.

Filter by Year

1986 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 36, No 1 (2021): January Vol 35, No 3 (2020): September Vol 35, No 2 (2020): May Vol 35, No 1 (2020): January Vol 34, No 3 (2019): September Vol 34, No 2 (2019): May Vol 34, No 1 (2019): January Vol 33, No 3 (2018): September Vol 33, No 2 (2018): May Vol 33, No 1 (2018): January Vol 32, No 3 (2017): September Vol 32, No 2 (2017): May Vol 32, No 1 (2017): January Vol 31, No 3 (2016): September Vol 31, No 2 (2016): May Vol 31, No 1 (2016): January Vol 30, No 3 (2015): September Vol 30, No 2 (2015): May Vol 30, No 1 (2015): January Vol 30, No 1 (2015): January Vol 29, No 3 (2014): September Vol 29, No 3 (2014): September Vol 29, No 2 (2014): May Vol 29, No 2 (2014): May Vol 29, No 1 (2014): January Vol 29, No 1 (2014) Vol 29, No 1 (2014): January Vol 28, No 3 (2013): September Vol 28, No 3 (2013): September Vol 28, No 2 (2013): May Vol 28, No 2 (2013): May Vol 28, No 1 (2013): January Vol 28, No 1 (2013): January Vol 27, No 3 (2012): September Vol 27, No 3 (2012): September Vol 27, No 2 (2012): May Vol 27, No 2 (2012): May Vol 27, No 1 (2012): January Vol 27, No 1 (2012): January Vol 26, No 3 (2011): September Vol 26, No 3 (2011): September Vol 26, No 2 (2011): May Vol 26, No 2 (2011): May Vol 26, No 1 (2011): January Vol 26, No 1 (2011): January Vol 25, No 3 (2010): September Vol 25, No 3 (2010): September Vol 25, No 2 (2010): May Vol 25, No 2 (2010): May Vol 25, No 1 (2010): January Vol 25, No 1 (2010): January Vol 24, No 3 (2009): September Vol 24, No 3 (2009): September Vol 24, No 2 (2009): May Vol 24, No 2 (2009): May Vol 24, No 1 (2009): January Vol 24, No 1 (2009): January Vol 23, No 4 (2008): October Vol 23, No 4 (2008): October Vol 23, No 3 (2008): July Vol 23, No 3 (2008): July Vol 23, No 2 (2008): April Vol 23, No 2 (2008): April Vol 23, No 1 (2008): January Vol 23, No 1 (2008): January Vol 22, No 4 (2007): October Vol 22, No 4 (2007): October Vol 22, No 3 (2007): July Vol 22, No 3 (2007): July Vol 22, No 2 (2007): April Vol 22, No 2 (2007): April Vol 22, No 1 (2007): January Vol 22, No 1 (2007): January Vol 21, No 4 (2006): October Vol 21, No 4 (2006): October Vol 21, No 3 (2006): July Vol 21, No 3 (2006): July Vol 21, No 2 (2006): April Vol 21, No 2 (2006): April Vol 21, No 1 (2006): January Vol 21, No 1 (2006): January Vol 20, No 4 (2005): October Vol 20, No 4 (2005): October Vol 20, No 3 (2005): July Vol 20, No 3 (2005): July Vol 20, No 2 (2005): April Vol 20, No 2 (2005): April Vol 20, No 1 (2005): January Vol 20, No 1 (2005): January Vol 19, No 4 (2004): October Vol 19, No 4 (2004): October Vol 19, No 3 (2004): July Vol 19, No 3 (2004): July Vol 19, No 2 (2004): April Vol 19, No 2 (2004): April Vol 19, No 1 (2004): January Vol 19, No 1 (2004): January Vol 18, No 4 (2003): October Vol 18, No 4 (2003): October Vol 18, No 3 (2003): July Vol 18, No 3 (2003): July Vol 18, No 2 (2003): April Vol 18, No 2 (2003): April Vol 18, No 1 (2003): January Vol 18, No 1 (2003): January Vol 17, No 4 (2002): October Vol 17, No 4 (2002): October Vol 17, No 3 (2002): July Vol 17, No 3 (2002): July Vol 17, No 2 (2002): April Vol 17, No 2 (2002): April Vol 17, No 1 (2002): January Vol 17, No 1 (2002): January Vol 16, No 4 (2001): October Vol 16, No 3 (2001): July Vol 16, No 2 (2001): April Vol 16, No 1 (2001): January Vol 16, No 1 (2001): January Vol 15, No 4 (2000): October Vol 15, No 3 (2000): July Vol 15, No 2 (2000): April Vol 15, No 1 (2000): January Vol 14, No 4 (1999): October Vol 14, No 3 (1999): July Vol 14, No 2 (1999): April Vol 14, No 1 (1999): January Vol 13, No 4 (1998): October Vol 13, No 3 (1998): July Vol 13, No 2 (1998): April Vol 13, No 1 (1998): January Vol 12, No 3 (1997): July Vol 12, No 2 (1997): April Vol 12, No 1 (1997): January Vol 11, No 1 (1996): January Vol 10, No 1 (1995): September Vol 9, No 1 (1994): May Vol 8, No 1 (1993): September Vol 7, No 1 (1992): September Vol 6, No 1 (1991): September Vol 5, No 2 (1990): September Vol 5, No 1 (1990): April Vol 4, No 1 (1989): April Vol 3, No 1 (1988): September Vol 2, No 1 (1987): September Vol 1, No 1 (1986): September More Issue