cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Journal of Human Nutrition
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 24426636     EISSN : 23553987     DOI : https://doi.org/10.21776
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Human Nutrition (IJHN) merupakan jurnal ilmiah yang memuat artikel penelitian di bidang gizi manusia dan di terbitkan oleh Jurusan Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan terbit dua kali dalam setahun (bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2014)" : 7 Documents clear
HUBUNGAN ASUPAN MAGNESIUM DAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PASIEN RAWAT JALAN DIABETES MELITUS TIPE 2 (CORRELATION BETWEEN MAGNESIUM INTAKE AND FASTING BLOOD GLUCOSE LEVEL IN OUTPATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS) Faradhita, Anggun; Handayani, Dian; Kusumastuty, Inggita
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.731 KB)

Abstract

Abstrak Pada Diabetes Melitus Tipe 2 terjadi resistensi insulin, dimana salah satu faktor yang dapat menyebabkan resistensi insulin adalah kurangnya asupan magnesium. Peran potensial magnesium dalam penyakit Diabetes Melitus adalah memperbaiki sensitifitas insulin. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada hubungan terbalik antara asupan magnesium dengan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan magnesium dan kadar glukosa darah puasa pasien rawat jalan Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Desain dalam penelitian ini adalah Cross Sectional dengan jumlah responden 46 orang yang diambil secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan bulan Juni-Juli tahun 2013 yang meliputi data umum, kebiasaan olahraga, status gizi, asupan energi, asupan magnesium, asupan protein, asupan serat dan data kadar glukosa darah puasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan magnesium dan kadar glukosa darah puasa pasien (p < 0,001) dengan kekuatan korelasi sedang (r = -0,562), semakin tinggi asupan magnesium semakin rendah kadar glukosa darah puasa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar para penderita Diabetes Melitus mengkonsumsi magnesium dalam jumlah cukup serta mengatur pola makan yang baik dan berolahraga secara teratur sebagai langkah dalam pengendalian kadar glukosa darah. Kata Kunci: Asupan Magnesium, Kadar Glukosa Darah Puasa, Diabetes Melitus Tipe 2 AbstractDiabetes Mellitus type 2 reveals resistance insulin. Inadequate magnesium consumption has been reported to promote insulin resistance. The potential role of magnesium in Diabetes Mellitus is improving insulin sensitivity. Previous studies indicated that there is an inverse correlation between magnesium intakes and the incidence of type 2 Diabetes. This study aimed to analyze the association between magnesium intake and fasting blood glucose levels in outpatients with Type 2 Diabetes Mellitus in Al Ihsan Hospital. Cross-sectional study in 46 participants was taken by purposive sampling. Data collection was conducted in June-July 2013 which included common data, exercise habits, nutritional status, energy intake, magnesium intake, protein intake, fiber intake and fasting blood glucose levels. This research showed that there was a significant association between magnesium intake and fasting blood glucose levels of patients (p < 0.001) with a correlation of moderate strength (r = -0.562), high magnesium intake was followed by a decrease in fasting blood glucose levels. It is then suggested that people with diabetes mellitus consume adequate amounts of magnesium and set a good diet and regular exercise as a step in the control of blood glucose levels. Keywords: Magnesium Intake, Fasting Blood Glucose, Type 2 Diabetes Mellitus
PERBEDAAN METODE TEAM GAME TOURNAMENT DAN CERAMAH TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN PEMILIHAN JAJANAN SEHAT (THE DIFFERENCE BETWEEN TEAM GAME TOURNAMENT AND LECTURE IN INCREASING THE KNOWLEDGE OF CHOOSING HEALTHY SNACKS) Safitri, Cynthia Herdiana; Wilujeng, Catur Saptaning; Handayani, Dian
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.832 KB)

Abstract

Abstrak Siswa sekolah dasar termasuk kelompok yang paling rentan menjadi korban dalam kasus keracunan makanan. Kejadian tersebut mencapai 17,26 – 25,15% kasus terjadi di lingkungan sekolah yaitu sebagian besar karena Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) tidak memenuhi syarat kesehatan. Ceramah merupakan metode dasar pembelajaran yang sering digunakan, namun cara ini terkadang membosankan karena responden cenderung lebih pasif, sedangkan bermain pada masa anak-anak merupakan sarana pendidikan yang penting untuk mengeksplorasi otak. Team Game Tournament (TGT) adalah salah satu metode pendidikan yang memadukan konsep pendidikan dengan kegiatan bermain. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan metode TGT dan ceramah terhadap peningkatan pengetahuan siswa kelas 5 SDN Tumpakrejo 1 dan SDN Tumpakrejo 2 kabupaten Malang tentang pemilihan jajanan sehat. Jenis penelitian ini adalah studi eksperimental, desain penelitian yang digunakan adalah quasy experimental study dengan pretest-posstest design. Metode sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel sebesar 41 orang dari siswa kelas 5B SDN Tumpakrejo 1 dan siswa kelas 5 SDN Tumpakrejo 2. Variabel yang diteliti dan dianalisis pada responden tersebut adalah pengetahuan gizi terkait jajanan sehat pada kelompok ceramah dan kelompok TGT berdasarkan nilai pretest-posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan yang signifikan antara kelompok TGT dan kelompok ceramah (p < 0,05). Peningkatan rata-rata nilai kelompok TGT lebih tinggi 2,93% dibandingkan kelompok ceramah. TGT dapat direkomendasikan sebagai metode pendidikan yang lebih sesuai untuk sasaran anak usia sekolah. Kata Kunci: Team game Tournament (TGT), Ceramah, Pengetahuan, Jajanan Sehat AbstractElementary school students is one of the most vulnerable groups to become victims food poisoning. The incidence occurring in the school environment reaches 17,26 to 25,15% cases, which was due to PJAS (snack for aged school children) not fulfilling the health requirements. Providing a Lecture is the basic learning method often used, but this method is occasionally boring due to passive respondents, while  playing in childhood is an important educational tool to explore brain. Team Game Tournament (TGT) is  one of the educational methods combining educationional concept and play activities. This study aims to determine the method differences of TGT and lectures to increase students’s knowledge of grade 5 students in SDN Tumpakrejo 1 and SDN Tumpakrejo 2 electoral district of Malang concerning healthy snacks. This research was an experimental study in which the research design was quasy experimental study with  pretest-posttest design. The sampling method in this research was 41 samples from grade 5 students in class B of SDN Tumpakrejo 1 and grade 5 students of SDN Tumpakrejo 2. The variables studied and analyzed in the respondents are nutritional knowledge concerning healthy snacks related to the lecture group and TGT group based on the value of the pretest and posttest. The results showed that there were significant differences between the increased knowledge of TGT group and lecture group (p<0.05), accounting for 2,93% higher average value in the former group. Team Game Tournament is then recommended as an educational method, more appropriate to target  school-aged children. Keywords: Team Game Tournament (TGT), Lecture , Knowledge, Healthy Snacks
EFEK DIET TINGGI KARBOHIDRAT DAN DIET TINGGI LEMAK TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN KEPADATAN SEL BETA PANKREAS PADA TIKUS WISTAR (EFFECT OF HIGH CARBOHYDRATE DIET AND HIGH FAT DIET ON BLOOD GLUCOSE AND BETA CELL PANCREAS DENSITY IN WISTAR RATS) Mutiyani, Mira; Soeatmadji, Djoko Wahono; Sunindya, Bernadus Rudy
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.371 KB)

Abstract

Abstrak Sindroma metabolik yang ditandai dengan abdominal obesity, resistensi insulin, dislipidemia, perubahan tekanan darah, dan obesitas, prevalensinya semakin meningkat setiap tahun, serta disinyalir sebagai penyebab tingginya penyakit diabetes mellitus tipe 2, penyakit kardiovaslular, dan kematian, baik di negara maju maupun berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari pemberian diet tinggi karbohidrat dibandingkan dengan diet tinggi lemak terhadap kadar glukosa darah  dan kepadatan sel beta pankreas tikus Rattus novergicus strain wistar. Kadar glukosa darah diukur dengan menggunakan metode Glukose Oksidase (GOD-PAP); kepadatan sel Sel-β pankreas dihitung jumlahnya menggunakan mikroskop elektron dalam 20 lapang pandang dengan perbesaran 1000 x. Diet tinggi karbohidrat dan diet tinggi lemak diberikan secara isokalori selama 12 minggu, dengan komposisi: diet tinggi karbohidrat (80,57%; 14% protein; dan 5,41% lemak); diet tinggi lemak (55,63% karbohidrat; 14,25% protein; dan 30,10% lemak). Kadar glukosa darah puasa berbeda signifikan antar kelompok perlakuan (p=0.000); rerata kadar glukosa darah puasa darah tertinggi terdapat pada kelompok (P2) 293.57 mg/dl. Kepadatan sel beta pankreas berbeda signifikan antar kelompok perlakuan (p=0.000); rerata kepadatan sel beta pankreas terkecil  terdapat pada kelompok (P2) 45,06 mm2. Diet tinggi karbohidrat dan diet tinggi lemak, keduanya menstimulasi perubahan kadar glukosa darah dan mengurangi kepadatan sel beta pankreas pada tikus wistar jantan. Kata Kunci: diet tinggi karbohidrat, diet tinggi lemak, glukosa darah, kepadatan sel beta pankreas  AbstractThe metabolic syndrome includes the clustering of abdominal obesity, insulin resistance, elevated blood pressure, and obesity associated with the increasing risk of diabetes mellitus, cardiovascular diseases, and death both in less developed and developed countries in the world. The prevalence of metabolic syndrome increasES every year. The aim of this study was to assess blood glucose level using Glucose Oksidase (GOD-PAP) and beta cell pancreas density using microscope.  Blood glucose concentration and beta cell pancreas density were compared in rats fed isocalorically a high carbohydrate diet for 12 w (80,57% carbohydrate, 14% protein, and 5.41% fat) or a high fat diet for 12 w (55,63% carbohydrate; 14,25% protein; and 30,10% fat). At the end of the study, high carbohydrate rats had higher blood glucose concentration than the high fat group (293.57 mg/dl). High carbohydrate and high fat diet both resulted in elevated beta cell pancreas density, but the density was seen lowest in high carbohydrate fed (45,06 mm2). The findings suggest that both high carbohydrate and high fat fed elevated blood glucose concentration and decreased the density of beta cell in rats. Keywords: high carbohydrate diet, high fat diet, blood glucose, beta cell pancreas density
PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TEPUNG DAUN TURI (Sesbania grandiflora) TERHADAP MUTU DAGING NABATI (EFFECT OF SUBSTITUTING WHEAT FLUOR WITH TURI LEAVE FLUOR (Sesbania grandiflora) ON MEAT ANALOGUE QUALITY) Sappu, Ellen Ernesta B.; Handayani, Dian; Rahmi, Yosfi
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.48 KB)

Abstract

Abstrak Pola makan vegetarian yang tidak seimbang dapat menyebabkan defisiensi kalsium. Pada vegetarian, asupan kalsium yang terutama berasal dari susu dapat digantikan dengan kalsium dari daun Turi melalui fortifikasi pada daging nabati. Penggunaan daun Turi dalam daging nabati belum pernah dilakukan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang substitusi tepung terigu dengan tepung daun Turi pada daging nabati untuk mengetahui pengaruhnya pada peningkatan mutu daging nabati yang meliputi kadar kalsium, kadar air, dan mutu organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur) daging nabati. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 pengulangan. Perlakuan substitusi tepung terigu dengan tepung daun Turi yang diterapkan adalah P0 (100%:0%),P1 (95%:5%), P2 (90%:10%), dan P3 (85%:15%). Variabel yang dinilai meliputi nilai gizi dan mutu organoleptik. Analisis data organoleptik menggunakan uji Kruskal Wallis dan Uji lanjut Mann Whitney sedangkan analisis data kalsium dan kadar air menggunakan One Way ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan tepung daun Turi cenderung berpengaruh pada warna (p=0,050), berpengaruh nyata pada rasa (p=0,000), aroma (p=0,040), tekstur (p=0,032), kadar kalsium (p=0,000), dan pada kadar air (p=0,000). Hasil uji hedonik rangking menunjukkan P0 sebagai rangking tertinggi. P2 merupakan perlakuan terbaik dari variabel kadar kalsium dan kadar air. Dapat disimpulkan bahwa P2 sebagai perlakuan terbaik meningkatkan mutu daging nabati, yakni dengan menaikkan kadar kalsium menjadi 15,71 mg, menurunkan kadar air menjadi 37,16%, dan dari segi mutu organoleptik dapat diterima oleh panelis. Kata kunci: vegetarian, tepung daun turi, daging nabati, kadar kalsium, kadar air, mutu organoleptik AbstractImbalanced vegetarian diet can cause calsium deficiency. The Vegetarian intake of calcium, mainly coming from milk can be replaced by calcium from Turi’s leaves through meat analogs fortification. As they were never used in meat analogs, it is necessary to study about wheat flour substitution with Turi’s leaves flour in meat analogs to determine the effect on meat analogs quality enhancement,  including calcium level, water level, and organoleptic quality (colour, taste, aroma, and texture) of meat analogs. This study method was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 6 replications. The treatment to substitute wheat flour with Turi’s leaves flour used the ratio of P0 (100%:0%), P1(95%:5%), P2 (90%:10%), and P3 (85%:15%). Variables assessed were  nutritional value and organoleptic quality. Organoleptic data was analyzed using Kruskal Wallis test and followed with Mann Withney test, while calcium and water level data was analyzed using One Way ANOVA test and was followed with Duncan test. The result showed that Turi leaves flour was likely to affect organoleptic color quality (p=0,050) as it showed a significant effect on flavor (p=0,000), aroma (p=0,040), texture (p=0,032), calcium level (0,000) and water level (0,000). A test result of hedonic rank shows that P0 occupied the highest ranking. The result of De Garmo test shows that P2 is the best treatment from calcium level variable and waterlevel. It could be concluded that P2 is the best treatment for meat analogs quality enhancement  by increasing calcium level to 15,71 mg, reducing water levels to 37,16%, and was accepted by consumer from its organoleptic quality. Keywords: vegetarian, Turi leaves flour, meat analog, calcium level, water level, organoleptic quality.
PENGARUH DAUN UBI JALAR UNGU TERHADAP KADAR SUPEROKSID DISMUTASE TIKUS YANG DIPAPAR ASAP ROKOK (EFFECT OF PURPLE SWEET POTATO LEAVES ON SUPEROXIDE DISMUTASE LEVEL ON RATS EXPOSED TO CIGARETTE SMOKE) Kusumastuty, Inggita; Falahia, Emirani; Adi, Prasetyo
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.054 KB)

Abstract

Abstrak Superoksid Dismutase (SOD) merupakan suatu antioksidan enzimatik yang melindungi sel dari stres oksidatif dengan mengkatalisa dismutase dari superokside (O2-) menjadi O2 dan H2O2. Daun ubi jalar ungu atau Purple sweet potato leaves (PSPL) merupakan sejenis sayuran yang mengandung antioksidan polifenol yang cukup tinggi. Daun ubi jalar unggu dalam bentuk tepung memiliki kandungan polifenol 1805 mgGAE per 100 gram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung PSPL terhadap kadar SOD hewan coba yang dipapar asap rokok. Hewan coba yang digunakan dalam penelitian adalah jenis Rattus novergicus strain wistar, jantan, usia 6-8 minggu dengan berat badan 140-250 gram serta dalam keadaan sehat selama penelitian dan tidak mendapat pengobatan sebelumnya. Hewan coba yang memenuhi kriteria inklusi diadaptasikan selama satu minggu kemudian dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu tidak dipapar asap rokok (P0), dipapar asap rokok (P1), dan dipapar asap rokok dengan penambahan PSPL sebesar 0,07g (P2), 0,14g (P3), dan 0,28g (P4) selama 30 hari dalam bentuk tepung. Di akhir penelitian dilakukan pemeriksaan SOD serum dengan metode spektrofotometri. Hasil analisa menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan (ANOVA, p=0,000). Pemberian tepung PSPL dapat meningkatkan kadar SOD pada semua kelompok perlakukan. Semakin banyak dosis tepung PSPL yang diberikan pada penelitian ini maka kadar SOD semakin meningkat. Kata kunci : daun ubi jalar ungu, kadar SOD, paparan asap rokok AbstractSuperoxide Dismutase (SOD) is an enzymatic antioxidant that protects cells from oxidative stress by catalyzing dismutase from superoxide into O2 and H2O2. The purple sweet potato leave (Ipomoea batatas L. Lam) is a kind of vegetable plant that contains  high polyphenol which is about 1805 mgGAE on 100-gram edible portions. This research was aimed to determine the effect of purple sweet potato leaves powder in SOD levels that had been given to an animal model with cigarette smoke exposure. 6-8 week- male Rattus novergicus-wistar’s strain was used in this experiment that weighed about 140-250 gram and the entire rats were in healthy condition and were never exposed to another treatment before. Firstly, the rats were prepared in one week which was then divided into 5 treatment groups, a group that had not been exposed to cigarette smoke (P0), cigarette smoke exposed (P1), and exposed to cigarette smoke with the addition PSPL flour treatment in varying doses: 0.07g (P2), 0.14g (P3), and 0.28g (P4) for 30 days. After that, SOD levels were measured with spectrophotometry method. The result shows that there was obviously a significant difference between the treatment groups (ANOVA, p=0.000). In short, it was found that the given PSPL dosages resulted in higher SOD’s level. Keywords :, purple sweet potato leaves, Superoxide Dismutase level, cigarette smoking
STATUS GIZI BERDASARKAN POLA MAKAN ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN RAJEG TANGERANG (NUTRITIONAL STATUS BASED ON PRIMARY SCHOOL STUDENT’S DIETARY INTAKE IN RAJEG DISTRICT TANGERANG CITY) Anzarkusuma, Indah Suci; Mulyani, Erry Yudhya; Jus’at, Idrus; Angkasa, Dudung
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.411 KB)

Abstract

Abstrak Penduduk yang mengkonsumsi makanan dengan nilai gizi di bawah 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) masih tinggi (40,6%) dan banyak dijumpai pada anak usia sekolah (41,2%). Prevalensi anak usia sekolah dengan status gizi kurus di provinsi Banten sebesar 9,5% lebih tinggi dari angka nasional (7,6%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi berdasarkan pola makan anak sekolah di Kecamatan Rajeg Tangerang. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi merupakan anak sekolah dasar di wilayah Kecamatan Rajeg Tangerang. Sampel berjumlah 124 anak. Analisis data dengan menggunakan pengujian statisik dengan uji t tidak berpasangan, one-way ANNOVA dan korelasi Pearson. Sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (53.2%) dengan rata-rata umur 10 tahun dan berada pada kelas 4 SD (37.9%). Berdasarkan IMT/U didapatkan rata-rata nilai Z-score (-0.4±1.8). Responden yang memiliki frekuensi makan 3 kali dalam sehari sebanyak 53.2%, memiliki kebiasaan sarapan pagi sebanyak (94.4%) dan tidak memiliki kebiasaan membawa bekal makanan sebanyak (79,0%), dengan rata-rata nominal uang saku sebesar (3200±1.400) rupiah. Ada perbedaan status gizi anak berdasarkan frekuensi makan (p<0,05), tidak ada perbedaan status gizi anak berdasarkan jenis kelamin, umur,  nominal uang saku, kebiasaan sarapan pagi dan kebiasaan membawa bekal makanan (p≥0.05). Perlu dilakukan program pembinaan gizi dan pengetahuan kesehatan seperti diadakannya penyuluhan untuk siswa dan pembinaan UKS tentang pentingnya sarapan dan membawa bekal makanan, sanitasi dan makanan jajanan yang sehat Kata Kunci: Status Gizi, Pola Makan, Anak Sekolah Dasar AbstractRISKESDAS 2010 showed the prevalence of food consumption below 70% of Recommended Daily Intake (RDI) 2004 was 40.6% while among school-age children was about 41.2 %. The prevalence of underweight (Body-Mass-Index for age = BMI/A) was 7.6%; in Banten province was about 9.5%. This study aims to determine the differences of nutritional status among school aged children in relation to their dietary pattern in a primary school, District of Rajeg, Tangerang, Banten. This is a cross-sectional study. The population is a primary school children, with total respondent of 124 children. Dietary patterns and anthropometric measurements were conducted by trained junior nutritionists. Independent t-test, correlation and one-way Anova were employed to answer research questions. Most of respondent are male (53.2 %) with an average 10 years of age and in mostly in 5th grade (62.1 %). Average value of Z –score BMI/Age was (-0.4 ± 1.8). About 53.2% have 3 meals a day, 94.4 % having breakfast, and if there is no breakfast at home (79%) those students get their pocket money about 3200 ± 1400 rupiah/day. There is a difference OF nutritional status based on the frequency of meals (p< 0.05). There were no difference in nutritional status by sex, age, having breakfast at home, and no correlation with nominal allowances (p ≥ 0.05). Intensive counseling and nutrition education for school children should be given by teacher, especially information regarding the importance of breakfast or habit of bringing food or healthy snack, sanitation and personal hygiene. Keywords: Nutritional Status, Dietary Pattern, School Aged-children
HUBUNGAN ASUPAN MAGNESIUM DAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PASIEN RAWAT JALAN DIABETES MELITUS TIPE 2 Anggun, Faradita; Handayani, Dian
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.731 KB)

Abstract

Diabetes Mellitus type 2 reveals resistance insulin. Inadequate magnesium consumption has been reported to promote insulin resistance. The potential role of magnesium in Diabetes Mellitus is improving insulin sensitivity. Previous studies indicated that there is an inverse correlation between magnesium intakes and the incidence of type 2 Diabetes. This study aimed to analyze the association between magnesium intake and fasting blood glucose levels in outpatients with Type 2 Diabetes Mellitus in Al Ihsan Hospital. Cross-sectional study in 46 participants was taken by purposive sampling. Data collection was conducted in June-July 2013 which included common data, exercise habits, nutritional status, energy intake, magnesium intake, protein intake, fiber intake and fasting blood glucose levels. This research showed that there was a significant association between magnesium intake and fasting blood glucose levels of patients (p < 0.001) with a correlation of moderate strength (r = -0.562), high magnesium intake was followed by a decrease in fasting blood glucose levels. It is then suggested that people with diabetes mellitus consume adequate amounts of magnesium and set a good diet and regular exercise as a step in the control of blood glucose levels.Pada Diabetes Melitus Tipe 2 terjadi resistensi insulin, dimana salah satu faktor yang dapat menyebabkan resistensi insulin adalah kurangnya asupan magnesium. Peran potensial magnesium dalam penyakit Diabetes Melitus adalah memperbaiki sensitifitas insulin. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada hubungan terbalik antara asupan magnesium dengan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan magnesium dan kadar glukosa darah puasa pasien rawat jalan Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Desain dalam penelitian ini adalah Cross Sectional dengan jumlah responden 46 orang yang diambil secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan bulan Juni-Juli tahun 2013 yang meliputi data umum, kebiasaan olahraga, status gizi, asupan energi, asupan magnesium, asupan protein, asupan serat dan data kadar glukosa darah puasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan magnesium dan kadar glukosa darah puasa pasien (p < 0,001) dengan kekuatan korelasi sedang (r = -0,562), semakin tinggi asupan magnesium semakin rendah kadar glukosa darah puasa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar para penderita Diabetes Melitus mengkonsumsi magnesium dalam jumlah cukup serta mengatur pola makan yang baik dan berolahraga secara teratur sebagai langkah dalam pengendalian kadar glukosa darah. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7