cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Journal of Human Nutrition
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 24426636     EISSN : 23553987     DOI : https://doi.org/10.21776
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Human Nutrition (IJHN) merupakan jurnal ilmiah yang memuat artikel penelitian di bidang gizi manusia dan di terbitkan oleh Jurusan Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan terbit dua kali dalam setahun (bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2016)" : 16 Documents clear
Faktor Risiko Stunting Pada Anak Usia 6-23 Bulan di Kabupaten Jeneponto (Risk Factors of Stunting among Children Aged 6-23 Months in Jeneponto Regency) Hafid, Fahmi; Nasrul, Nasrul
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 1 (2016): Suplemen "Malang Current Issues On Nutrition (MCION)"
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.69 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016. 003. Suplemen.5

Abstract

AbstrakStunting adalah retardasi pertumbuhan linier kurang dari -2 SD panjang badan menurut usia. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis faktor risiko stunting anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto. Jenis penelitian analitik dengan disain cross sectional. Populasi penelitian adalah 410 Set e-files data Survei Gizi & Kesehatan Ibu dan Anak Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto 2014 jumlah sampel sebanyak 350 set data dengan teknik exhaustive sampling. Analisis data dengan uji Chi Square dan regresi logistic. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor risiko stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto adalah berat badan lahir rendah OR=4,018; 95%Cl 1,714-9,420, usia anak 12-23 bulan OR=2,688; 95%Cl 1,646-4,390, tinggi badan ibu <150cm dengan OR=1,948 95%Cl 1,202-3,158, pengasuh anak tidak mencuci tangan menggunakan sabun OR=1,785; 95%Cl 1,102-2,893 serta imunisasi dasar yang tidak lengkap dengan OR= 1,673; 95%Cl 1,049-2,669. Berbagai tindakan pencegahan stunting anak usia di bawah dua tahun terutama pada kelompok berisiko stunting seperti anak dengan berat lahir rendah, tinggi badan ibu<150cm dengan membiasakan praktik mencuci tangan menggunakan sabun serta imunisasi dasar yang lengkap.Kata Kunci: Stunting, Anak usia 6-23 bulan, BBLR AbstractStunting is a linear growth retardation of less than -2SD body height based on age from the WHO Child Growth Standards. This study was aimed to analyze the risk factors for Stunting of children aged 6-23 months in Regency of  Bontoramba Jeneponto. This type of research is analytic research with cross sectional design. The population was 410 Set e-files Nutrition Survey data and Maternal and Child Health District of Bontoramba Jeneponto 2014 with the total sample of 350 sets of data with exhaustive sampling technique. Data were analyzed by chi square test and logistic regression. The study found that the risk factors for Stunting in children aged 6-23 months in District Bontoramba Jeneponto is due to low birth weight OR = 4,018;95%Cl 1,714-9,420, age 12-23 months OR = 2,688; 95%Cl 1,646- 4,390), maternal height <150cm with OR = 1,948; 95%Cl 1,202-3,158, caregivers not washing hands with soap OR = 1,785;95%Cl 1,102-2,893) and incomplete basic immunization with OR = 1,673; 95%Cl 1,049-2,669. There are various prevention of stunting in children aged under two years especially at-risk groups such as the stunting of children with low birth weight, maternal height <150cm including getting the practice of washing hands with soap and complete basic immunization.Keywords: Stunting, Children aged 6-23 months, low birth body weight
Pengaruh Edukasi Gizi terhadap Feeding Practice Ibu Balita Stunting Usia 6-24 Bulan (The Effect of Nutritional Knowledge on Feeding Practice of Mothers Having Stunting Toddler Aged 6-24 Months) Dewi, Maryati; Aminah, Mimin
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 1 (2016): Suplemen "Malang Current Issues On Nutrition (MCION)"
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.378 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.Suplemen.1

Abstract

AbstrakStunting merupakan masalah gizi kurang yang kronis. Praktik pemberian makan merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting, sehingga diperlukan adanya edukasi gizi mengenai praktik pemberian makan. Tujuan dilakukannya penelitian adalah mempelajari pengaruh intervensi edukasi gizi terhadap perbaikan pengetahuan dan praktik pemberian makan (feeding practice) ibu yang memiliki balita stunting. Desain penelitian digunakan desain quasi experiment dengan pre-post test two group design. Lokasi penelitian adalah 6 posyandu di kelurahan Cibeureum Kota Cimahi yang memiliki prevalensi stunting cukup tinggi, jumlah subyek penelitian penelitian pada kelompok satu dan dua masing-masing adalah 20 orang dengan kriteria inklusi meliputi ibu memiliki anak balita stunting usia 6-24 bulan saat penelitian berlangsung, anak tidak cacat, ibu dapat diajak berkomunikasi, bersedia menjadi subyek penelitian penelitian. Intervensi berupa edukasi gizi menggunakan booklet PMBA, cara mencuci tangan yang benar, daftar ukuran rumah tangga dan contoh hidangan yang diberikan 3 kali dengan selang waktu 1 minggu. Data yang dikumpulkan meliputi usia ibu, pendidikan, status bekerja, memberikan ASI, mulai MP-ASI, mendapat penyuluhan gizi, pre-post pengetahuan, pre-post feeding practice. Analisis statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon dan uji Mann Whitney. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang bermakna pada skor pengetahuan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok (p=0,006; p=0,003), terdapat perbedaan rerata yang bermakna pada skor feeding practice sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok (p=0,002; p=0,05).Kata kunci: stunting, pengetahuan gizi, feeding practiceAbstract Feeding practices was one of the factors that contribute to the incidence of stunting and nutritional education needed to improve feeding practices. The purpose of this study was to study the effect of nutritional educational interventions to improve the knowledge and mother’s practice of feeding who has stunting toddlers. The design of this study used quasi-experimental design with pre-post test of two group design. This research was done in the six Public Health Centres of Cibeureum Cimahi which has high prevalence of stunting with the total number of samples in this study were 40 people and the member of each group was 20 people who have a criteria of mothers having stunting toddler aged 6-24 months as the research proceeds, toddler not disabled, mothers being able to communicate, willing to be a sample.  The Intervention of nutritional education using a PMBA booklet, poster about proper wash hands, and food sample given three times at intervals of one week. Data collected were maternal age, education, work status, breastfeeding, complementary feeding, nutritional counseling administration, pre-post knowledge, pre-post feeding practice. The statistical analysis used was Wilcoxon and Mann Whitney test. The result showed there were differences between the mean which was significant in knowledge score before and after the intervention in both groups (p=0,006; p=0,003), there is a mean difference that was significant in scores of feeding practices before and after the intervention in both groups (p=0,002; p=0,05).Keywords: stunting, knowledge of nutrition, feeding practices
Hubungan Status Gizi dan Pola Makan terhadap Penambahan Berat Badan Ibu Hamil (Correlation between Nutritional Status and Dietary Pattern on Pregnant Mother’s Weight Gain) Harti, Leny Budhi; Kusumastuty, Inggita; Hariadi, Irwan
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 1 (2016): Suplemen "Malang Current Issues On Nutrition (MCION)"
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.387 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.Suplemen.6

Abstract

AbstrakStatus gizi dan pola makan merupakan faktor yang mempengaruhi penambahan berat badan ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan antara status gizi dan pola makan terhadap penambahan berat badan ibu hamil. Penelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 71 orang responden di wilayah kerja Puskesmas Penujak Kecamatan Praya Barat Nusa Tenggara Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kuesioner, SQ-FFQ, dan data dari buku KIA. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden, berat badan awal, berat badan saat hamil trimester 3 serta pola makan (pola makan makanan pokok dan lauk hewani). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Pearson pada program SPSS windows version 15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berstatus gizi normal dengan rata-rata IMT 21,68 kg/m2 (±1,887 SD), rata-rata penambahan berat badan selama kehamilan 7,06+ 3,956 SD, dan sebagian besar pola konsumsi makanan pokok adalah 6 porsi dan lauk hewani <4 porsi dan >4 porsi. Berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara status gizi terhadap penambahan berat badan (p= 0,008, r = -0,311), ada hubungan antara pola makan makanan pokok terhadap penambahan berat badan (p= 0,003, r = 0,344), dan ada hubungan antara pola makan lauk sumber hewani terhadap penambahan berat badan (p= 0,024, r = 0,268). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dan pola makan (pola makan makanan pokok dan lauk hewani) terhadap penambahan berat badan ibu hamil.Kata kunci: status gizi, pola makan, penambahan berat badan ibu hamil AbstractNutritional status and diet are factors that influence weight gain for pregnant women. This study aims to prove the relationship between nutritional status and diet on weight gain for pregnant women. This study uses an analytic observational study with cross sectional approach conducted on 71 respondents in Public Health Centre of Penujak Praya District of West Nusa Tenggara Barat. Data was collected through interviews with questionnaires, SQ-FFQ, and data from KIA book. Data collected included the characteristics of the respondent, the initial weight loss, weight gain during pregnancy in the third trimester and diet (diet of staple food and animal protein dish). Statistical analysis was performed using Pearson correlation test in SPSS windows version 15. The results showed that most respondents have normal nutritional status with an average BMI of 21,68 kg / m2 (± 1,887 SD), the average weight gain during pregnancy 7,06+ 3,956 SD, and the majority of staple food consumption patterns is 6 servings and animal protein  side dish <4 servings and> 4 servings. Based on the statistical test it showed that there is a correlation between the nutritional status of the weight gain (p = 0,008, r = -0,311) and there is a relationship between diet of staple food to weight gain (p = 0,003, r = 0,344), and there is a correlation  between diet of dishes of  animal protein and weight gain (p = 0,024, r = 0,268). The conclusion of this study indicates that there is a significant relationship between nutritional status and diet (diet of staple food and animal protein  side dish) and weight gain for pregnant women.Keywords: nutrition, diet, weight gain of pregnant women
Asupan Serat dan Tekanan Darah WUS Madura Penderita Tekanan Darah Tinggi di Malang (Fiber Intake and Blood Pressure among Madurese People Residing in Malang) Sari, Novita; Rahmawati, Widya; Nugroho, Fajar Ari; Wirawan, Nia Novita
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.394 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.01.1

Abstract

AbstrakPenelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kejadian obesitas sentral pada suku Madura lebih tinggi dibandingkan suku Jawa. Obesitas sentral meningkatkan risiko kejadian penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi. Menurut Riskesdas, 2013, prevalensi kurang makan buah dan sayur di Jawa Timur adalah 90,5%. Konsumsi rendah serat memiliki risiko menderita hipertensi 4,5 kali lebih besar dibandingkan dengan sampel yang mengkonsumsi serat cukup. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan asupan serat dan tekanan darah pada Wanita Usia Subur (WUS) dengan tekanan darah tinggi di Kecamatan Kedungkandang. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah WUS usia 19-44 tahun sebanyak 48 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat sampel yang asupan seratnya sesuai dengan anjuran. Hasil uji korelasi Spearman, hubungan antara asupan serat dengan tekanan darah sistolik maupun diastolik tidak bermakna secara statistik (p=0,787 ; p=0,521). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara asupan serat dengan tekanan darah. Kata kunci : asupan serat, tekanan darah AbstractPrevious research which was conducted in Madurese and Javanese ethnic groups showed that the incidence of central obesity in Madurese ethnic group was higher than the Javanese. Central obesity increases the risk of incidence of degenerative diseases such as high blood pressure. According to Riskesdas, 2013, the prevalence of eating less fruit and vegetables in East Java were about 90.5%. People with low consumption of dietary fiber have a risk of suffering from hypertension, 4.5 times greater than the respondents with enough dietary fiber. The purpose of this study was to determine the correlation of dietary fiber intake with blood pressure in WUS with high blood pressure in Kecamatan Kedungkandang. The design of this study was a descriptive cross sectional analytic approach. Respondents in this study were 19-44 years of age WUS as many as 48 people. Respondents retrieval technique using purposive sampling technique. Analysis using Spearman correlation test with significance level of 95%. The result of the research showed that the respondents did not consume the appropriate dietary fiber intake. Spearman correlation test results, shown the correlation between dietary fiber intake with systolic and diastolic blood pressure were not statistically significant (p = 0.787 ; p = 0.521). It can be concluded that there was no statistical relationship between dietary fiber intake with blood pressure, but there was a trend where more and more dietary fiber intake, the lower the systolic and diastolic blood pressure at WUS with pre hypertension and hypertension.Keywords: dietary fiber intake, blood pressure
Sensitifitas dan Spesifisitas IMT dan Lingkar Pinggang-Panggul dalam Mengklasifikasikan Kegemukan pada Wanita (Sensitivity and Specificity of Body Mass Index and Waist-Hip-Ratio in Classifying Obesity on Woman) Wirawan, Nia Novita
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.322 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.01.6

Abstract

AbstrakPersen lemak tubuh merupakan indikator paling tepat untuk mengidentifikasi kegemukan namun memerlukan alat yang relatif mahal dan untuk pengukuran tebal lemak bawah kulit memerlukan keterampilan pengukur yang tinggi. Indikator yang sering digunakan dalam penentuan kegemukan di masyarakat adalah Indeks Masa Tubuh (IMT), Lingkar pinggang (Lipi), dan rasio lingkar pinggang panggul (RLPP). Namun uji sensitifitas dan spesifisitas ketiga parameter tersebut terhadap hasil pengukuran persen lemak tubuh perlu dilakukan. Sebanyak 185 subyek wanita usia 20-49 tahun dipilih secara convenience. Persen lemak tubuh didapatkan dari pengukuran tebal lemak suprailiac dengan skinfold caliper dan dihitung dengan rumus Sirri dan Durnin Womersly. Uji sensitifitas dan spesifisitas dilakukan menggunakan Receiver Operator Characteristic Curve (ROC). Cut-off persen lemak tubuh yang digunakan untuk mengklasifikasikan kegemukan adalah ≥32% dan ≥28%. Diagnostic power dari pengukuran IMT, Lipi, dan RLPP ditentukan berdasarkan area di bawah kurva (area under the curve (AUC)). Median IQR usia responden adalah 33 (27; 44), rata-rata IMT 24,49±0,01; Lipi 79,27±1,15, dan RLPP 0,83±0,085. Berdasarkan kurva ROC maka IMT dan lingkar pinggang mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi kegemukan yang sangat baik (AUC >0,9) dibandingkan dengan RLPP (AUC 0,79-0,8) sehingga RLPP mempunyai validitas lebih rendah dibanding IMT dan Lipi. Penggunaan cut-off IMT 25 kg/m2 dalam mengklasifikasikan kegemukan mempunyai nilai spesifisitas yang sangat baik (97%) namun sensitifitas jelek (60%).  Adapun Lipi  dengan cut-off 80 cm mempunyai spesifisitas 98% dan sensitifitas 70%; RLPP dengan cut-off 0,8 mempunyai sensitifitas dan spesifisitas tingkat sedang (70% dan 70%). Sehingga direkomendasikan cut-off dengan sensitifitas dan spesifisitas optimal untuk IMT adalah 21,41-22,7 kg/m2 dan 73,9-76,08 cm untuk Lipi.Kata kunci: sensitifitas, kegemukan, lingkar pinggang, RLPP, IMT. AbstractPercent body fat is the most appropriate indicator for identifying obesity. However this indicator requires sophisticated instruments and a high skillful personel. Some alternative indicators mostly used in community are body mass index (BMI), waist circumference (WC) and waist hip ratio (WHR). This study aims to assess sensitivity and specificity of these three indicators by comparing with two percent body fat (BF) cut-off, i.e. 32% and 28%. A total of 185 female subjects aged 20-49 years old was selected using convenience sampling. BF was derived from suprailiac skinfold thickness that was measured by using skinfold caliper and calculated using Sirri and Durnin Womersly formula. Sensitivity and specificity were performed by Receiver Operator Characteristic Curve (ROC). Diagnostic power from BMI, WC and WHR was defined based on the area under the curve (AUC). Median IQR of respondents ages was 33 (27; 44) years with the mean±SD of BMI was 24,49±0,01 kg/m2; WC 79,27±1,15cm and WHR 0,83±0,085. BMI and WC have better diagnostic power compared to WHR (AUC >0,9 and 0,79-0,8, respectively). The use of 25 kg/m2 BMI  and 80 cm of WC cut-off was shown to have a very good specificity (97 and 98%) but poor and fair sensitivity (60% and 70% respectively), whereas for 0,8 cut-off for WHR it has  fair sensitivity and specificity (each 70%). Therefore, this study suggested to use a lower cut-off of BMI and WC for classifying Indonesian women based on optimal sensitivity- specificity i,e. 21,41-22,7 kg/m2 for BMI and 73,9-76,08 cm for WC.Keywords: sensitivity, obesity, waist circumference, waist hip ratio, BMI.
Pandangan Sosial Budaya terhadap ASI Eksklusif di Wilayah Panarung Palangkaraya (Social and Cultural Aspect toward Exclusive Breastfeeding in Panarung Palangkaraya) Hervilia, Dwirina; Munifa, Dhini
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 1 (2016): Suplemen "Malang Current Issues On Nutrition (MCION)"
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.009 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.Suplemen.7

Abstract

AbstrakFaktor sosial budaya merupakan suatu faktor pendorong yang cukup kuat terhadap seseorang untuk berperilaku. Faktor sosial budaya ini yang membentuk seorang ibu mau untuk memberikan ASI eksklusif. Seorang ibu yang lingkungan sosialnya mendukung ASI eksklusif juga akan mempengaruhi sikap ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Menurut laporan bulanan di Puskesmas Panarung pada bulan September 2015 angka cakupan ASI eksklusifnya adalah 5,81%. Tujuan dari penelitian ini adalah Diketahuinya sikap dan faktor sosial budaya ibu terhadap ASI eksklusif. Metode yang dipergunakan dengan pendekatan kualitatif, dengan cara mengeksplorasi sumber-sumber informasi melalui wawancara mendalam kepada ibu dan tenaga kesehatan di Puskesmas sebagai informan. Dilakukan juga observasi partisipatif  kepada ibu dan bayi. Hasil penelitian didapatkan Semua informan berpendapat bahwa makanan yang paling bagus diberikan untuk bayi adalah Air Susu Ibu (ASI). Tetapi pada pelaksanaannya para ibu merasa masih banyak menghadapi kesulitan. Tenaga kesehatan bersikap positif dan menganggap bahwa kemauan ibu untuk memberikan ASI eksklusif merupakan kunci untuk keberhasilan. Informan percaya akan adanya makanan pelancar ASI kebanyakan menjawab bahwa sayuran hijau yang dapat memperlancar produksi ASI. Seperti daun katuk, pucuk pepaya, dan kacang-kacangan. Makanan prelakteal yang diberikan berupa madu hutan, air kopi, santan kental, air gula merah dan susu formula. Makanan prelakteal dipercaya secara budaya turun temurun contohnya untuk memberikan madu hutan karena manis, air kopi supaya tidak step, santan kental untuk membersihkan perut. Pemberian makanan bayi yang dilakukan informan paling banyak dipengaruhi oleh orang tua. Ada juga peran bidan, tetangga, posyandu dan ada juga yang mencari informasi sendiri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah menurut informan sosial budaya sangat mempengaruhi, ibu bayi sangat terpaku dan patuh dengan adat kebiasaan. Karena banyak informasi-informasi yang berdasar pada sosial budaya tidak relevan dengan informasi kesehatan.Kata kunci : ASI eksklusif, sosial budaya, makanan prelakteal. AbstractSocio-cultural factors is an adequately strong driving factor towards someone to behave. This socio-cultural factors shape a mother’s willingness to give breast feeding exclusively. A mother who supports her neighborhood to do exclusive breast feeding will also affect the attitude of the mother to give breast feeding exclusively. According to the monthly reports on the number of Puskesmas Panarung coverage exclusive breast feeding figures was 5,81%. The purpose of this research is to know the attitudes and socio-cultural factors of the mother toward  exclusive breast feeding The method used was a qualitative approach by exploring the sources of information through in-depth interviews to mothers and health workers in Puskesmas as informants as many as 28 people. Participatory observation was also performed to mothers and babies. The research results obtained by all informants argued that most good food given to infants is breast feeding. But in practice the mother feels that there are still many difficulties. Health workers had positif minds and assumed that the mother's willingness to provide exclusive breast feeding is a key to success. The informant believed the presence of food that can increase the production of breastmilk such as green vegetables including katuk leaves, cassava leaves, and beans. Prelacteal food was  given in the form of forest honey, coffee, thick coconut milk, brown sugar liquid, and infant formula. Prelacteal food was culturally trusted among generations for example, by giving the forest honey because of its sweetness, coffee drink due to its property to prevent from seizures, thick coconut milk to cleanse the stomach. Baby feeding administration conducted by informants were heavily influenced by parents. There is also midwife, neighbors, Posyandu’s role as well as the effort of individual information . It was then concluded from this study that social and cultural aspects are heavily influential in which mothers are very obedient with local customs. In addition, much information based on soial and cultural aspect is not relevant with healt information.Keywords : breast feeding exclusively, social culture, prelacteal food

Page 2 of 2 | Total Record : 16