cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 1,015 Documents
Dampak "Killing Time" Angkutan Kota Pada Waktu Peak Hour Kasus Beberapa Ruas Jalan di Kota Bandung Maharoesman, Iskandar Yusuf
Journal of Regional and City Planning Vol 20, No 3 (2009)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.498 KB)

Abstract

Kota Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia memiliki berbagai permasalahan transportasi yang begitu kompleks. Salah satu permasalahan yang sampai saat ini kurang mendapatkan tanggapan adalah permasalahan ?killing time? angkutan kota. Akibat dari permasalahan ?killing time? angkutan kota adalah penurunan tingkat pelayanan jalan sehingga dapat menimbulkan kemacetan. Teridentifikasinya ?killing time? angkutan kota terjadi pada waktu jam-jam tidak sibuk, yaitu pada waktu off peak hour. Studi ini bertujuan mengidentifikasikan dampak yang dihasilkan oleh ?killing time? angkutan kota terhadap pengguna jalan. Hasil analisa menyatakan bahwa adanya penurunan kapasitas jalan, kecepatan perjalanan kendaraan dan tingkat pelayanan jalan. Studi ini juga menganalisa pola operator angkutan kota (supir angkot) dalam melakukan ?killing time?. Hasil analisa pola tersebut adalah rata-rata supir angkutan kota melakukan ?killing time? dalam jangka waktu yang cukup lama, sekitar lebih dari 60 menit/kendaraan. Dampak dari penurunan tingkat pelayanan jalan yang dapat menyebabkan kemacetan adalah menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi pengguna jalan. Kerugian ini didapat dengan menganalisa dari pendekatan konsumsi bahan bakar.Kata kunci: killing time, angkutan kota, tingkat pelayanan jalan City of Bandung as one of the major cities in Indonesia has a variety of complex transportation problems. One of the problems which until now have not received a response is the problem of public transportation "killing time". The result of "killing time" problem is the reduction of public transportation services that can lead to traffic jam. Identification of "killing time" public transport occurs in the hours when not busy, ie at off peak hours. This study aims to identify the impact produced by the "killing time" public transportation to road users. The results of the analysis states that theres decreases in road capacity, travel speed of vehicles and road service levels. The study also analyzed the pattern of public transport operators (public transportation drivers) in doing the "killing time". Results of pattern analysis is average of public transport drivers to "killing time" in a long enough period of time, approximately more than 60 minutes / vehicle. The impacts of the decline in the level of service road that can lead to traffic jams are causing significant losses for road users. Loss is obtained by analyzing of the fuel consumption approach.Keywords: killing time, public transportation, road service levels
Pemodelan Dampak Pembangunan Jembatan Batam-Bintan Terhadap Dinamika Kependudukan, Ekonomi, Dan Guna Lahan Batam dan Bintan Chalil, Tengku Munawar
Journal of Regional and City Planning Vol 23, No 3 (2012)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.42 KB)

Abstract

Kota Batam dan Kabupaten Bintan merupakan wilayah perdagangan dan kepelabuhanan bebas yang dipersiapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi utama Kepulauan Riau. Kota Batam terus berkembang dengan pesat namun keterbatasan lahan dan kurangnya akses ke wilayah hinterland menjadi masalah dalam perkembangannya. Oleh karena itu untuk menjawab masalah tersebut, direncanakan pembangunan jembatan Batam-Bintan dengan tujuan pemerataan pembangunan antara wilayah Kota Batam dan Kabupaten Bintan. Ada dua skenario untuk melihat dampak jembatan Batam-Bintan. Pada skenario pertama, Kota Batam berkembang dengan pesat namun pada akhir simulasi pertumbuhannya melambat dikarenakan keterbatasan lahan menyebabkan daya dukung lahan Kota Batam menurun. Sementara Kabupaten Bintan berkembang dengan pelan hingga 25 tahun kemudian pertumbuhannya belum mampu setara dengan Kota Batam saat ini. Pada skenario kedua, perilaku model dinamis Batam dan Bintan dengan pembangunan jembatan Batam-Bintan memperlihatkan dampak jembatan Batam-Bintan, ada tiga efek yaitu multiplier effect, spin-off effect dan spill-over effect. Masing-masing efek memberikan dampak positif pada Kota Batam dan Kabupaten Bintan. Pada skenario ini Kota Batam masih dapat berkembang dan laju pertumbuhan Kabupaten Bintan meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan tanpa pembangunan jembatan Batam-Bintan.Kata kunci: kependudukan, ekonomi, guna lahan Batam city and Bintan regency is a free trade area and port prepared to become a major economic growth center of Riau Islands. Batam city continues to grow rapidly, but limited space and lack of access to the hinterland became development problem. Therefore, to address the issue Batam-Bintan bridges development planned with the goal of equitable development between Batam city and Bintan regency. There are two scenarios to see the impact of Batam-Bintan bridges. First scenario, Batam city is growing rapidly but growth slowed at the end of the simulation due to limited land causing Batam city carrying capacity decreases. While Bintan regency develops slowly up to 25 years then its growth has not been able to equal the current Batam. Second scenario, the behavior of dynamic models of Batam and Bintan with the development of Batam-Bintan bridges showing the impact of Batam-Bintan bridges, there are three effects, multiplier effect, spin-off effect and spill-over effect. Each of these effects has a positive impact on the city of Batam and Bintan regency. In this scenario, the City of Batam can still developing and Bintan regency growth rate increased 2-3 times compared without development of Batam-Bintan bridges.Keywords: population, economy, land use
Regional Development or Regional Policies? A Review of 60 Years of Regional Planning and Development in Pre and Post Islamic Revolution Iran Pajoohan, Musa
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 2 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.253 KB) | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.2.2

Abstract

Since the emergence of planning thought 90 years ago, planning and development in Iran has always been a subject of active debate. Despite this long history, the centralized planning system has never been able to promote development that is consistent with the advantages and disadvantages of the regions, hence the evident imbalance in regional development of the country. This article aims to investigate the obstacles to regional development in Iran before and after the 1979 revolution, using a descriptive-analytic methodology. The results show that the main obstacle in regional development in the country lies in its centralized management and planning system, having led to serious barriers such as a sectoral approach in regional planning and management system, lack of a legal status for regional development, dependence on oil revenues, and lack of data and information resources. Abstrak. Sejak kemunculan pemikiran perencanaan 90 tahun yang lalu, perencanaan dan pembangunan di Iran selalu menjadi subjek perdebatan yang aktif. Terlepas dari sejarah yang panjang ini, sistem perencanaan yang sentralistik tidak pernah mampu mempromosikan pembangunan yang konsisten dengan kekuatan dan kelemahan wilayah tersebut, dan juga pengembangan wilayah yang timpang di negara tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menyelidiki hambatan dalam pengembangan wilayah di Iran sebelum dan sesudah revolusi 1979, menggunakan metodologi deskriptif-analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama dalam pengembangan wilayah di negara ini terletak pada sistem manajemen dan perencanaan yang terpusat, yang  menyebabkan hambatan serius seperti pendekatan sektoral dalam perencanaan wilayah dan sistem manajemen, kurangnya dasar hukum untuk pengembangan wilayah, ketergantungan pada pendapatan minyak, dan kurangnya sumber daya data dan informasi.Kata Kunci. Perencanaan dan pengembangan wilayah, hambatan dan rintangan, sistem perencanaan nasional, Iran.
Evaluasi Keberhasilan Taman Lingkungan di Perumahan Padat Sebagai Ruang Terbuka Publik Studi Kasus: Taman Lingkungan di Kelurahan Galur, Jakarta Pusat Hariz, Aulia
Journal of Regional and City Planning Vol 24, No 2 (2013)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.551 KB)

Abstract

Taman lingkungan memiliki peran penting dalam perumahan, tidak hanya sebagai ruang terbuka hijau tapi juga sebagai ruang terbuka public dimana masyarakat dapat beraktifitas aktif, berekreasi, dan berinteraksi. Mengingat pentingnya taman lingkungan sebagai ruang terbuka public, khususnya di perumahan padat dimana ruang terbuka public tidak memenuhi standar, baik dari luasan maupun jumlah manusia yang dilayani, maka taman lingkungan harus optimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karenanya studi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan taman lingkungan di perumahan padat sebagai ruang terbuka public. Kelurahan Galur sebagai salah satu kelurahan perumahan padat memiliki tiga taman lingkungan, yaitu taman Kewista, Taman Komando, dan Taman Safari yang akan dievaluasi tingkat keberhasilannya sebagai ruang terbuka public.Evaluasi didasarkan pada persepsi masyarakat terhadap taman lingkungan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yang selanjutnya dievaluasi dengan metode checklist. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Kewista dan Taman Safari tidak berhasil sebagai ruang terbuka public sementara Taman Komando kurang berhasil sebagai ruang terbuka public.Kata Kunci: evaluasi, taman lingkungan, ruang terbuka public, Kelurahan Galur Neighborhood parks have an important role in the housing, not only as a green open space but also as a public open space where people can work on, recreation, and interact. Given the importance of neighborhood parks as public open space, particularly in dense housing where public open space does not meet the standards, both in area and number of people served, the neighborhood park should be optimal in meeting the needs of society. Therefore, this study was conducted to determine how far the success rate of dense residential neighborhood parks as public open space. Strain the Village as one of the dense residential village has three neighborhood parks, the Kewista Park, Komando Parks and Safari Park to be evaluated for its success as an open space public. Evaluasi based on public perception of the park environment by using a questionnaire and analyzed using descriptive analysis were subsequently evaluated with the checklist method. The results showed that Kewista Parks and Safari Park does not succeed as a public open space, while Komando Park is less successful as a public open space.Keywords: evaluation, neighborhood parks, public open space, Galur Village
Menafsirkan Penerapan Azas Keterbukaan Dalam Proses Penyusunan Rencana Tata Ruang Atmaprawira, Febi H.
Journal of Regional and City Planning Vol 5, No 16 (1994)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.234 KB)

Abstract

Selama tahun 1994, produk rencana tata ruang kembali mendapat gugatan dari berbagai ka­langan menyangkut segi kualitasnya. Pihak ter­tentu, terutama yang berkepentingan dalam pelaksanaan dan pengendalian tata ruang, me­nilai kualitas produk rencana tata ruang yang dihasilkan selama ini sudah pada tingkatan sa­ngat memprihatinkan.Namun sejauh ini, tak juga terumuskan secara baku mengenai kriteria kualitas bagi produk rencana tata ruang. Memang setiap pihak, baik kalangan akademisi maupun praktisi, telah mencoba memformulasikan ihwal kualitas ren­cana tata ruang. Hanya saja nampaknya masih belum ada kesamaan pandang atau persepsi mengenai kualitas produk rencana tata ruang.Jika dicermati, maka tentunya latar belakang masalah yang mengakibatkan "kurang berkua­litasnya" produk rencana tata ruang itu terkait erat dengan proses penyusunannya. Tidak ter­tutup pula kemungkinan, bahwa kurang berku­alitasnya suatu produk rencana tata ruang itu berkaitan dengan peranan pihak-pihak yang terlibat langsung.Terlepas dari semua itu, yang penting adalah menyiasati segala permasalahan beserta ken-dala yang masih dihadapi, guna mengupaya­kan peningkatan kualitas produk rencana tata ruang pada masa mendatang. Hal ini mengi­ngat peranan dan fungsi penataan ruang da­lam PJP II semakin strategis, seperti antara la­in diamanatkan dalam GBHN 1993.Dalam kaftan itu, agaknya hal yang mendasar untuk kembali diperhatikan lebih seksama, adalah menyangkut azas-azas yang melandasi (proses penyusunan) suatu rencana tata ru­ang. Salah satu di antaranya, adalah "azas ke­terbukaan" seperti yang diatur dalam Keputu­san Menteri Dalam Negeri Nomor 650-658 Ta­hun 1985 tentang "Keterbukaan Rencana Kota Untuk Umum". Terakhir, masalah keterbukaan rencana tata ruang juga terakomodasikan da­lam UUPR.Untuk meningkatkan kualitas produk rencana tata ruang, memang banyak hal yang telah dan masih harus ditempuh. Dalam tulisan ini, akan dicoba menyiasati peningkatan kualitas produk rencana tata ruang melalui pendekatan "pene­rapan azas keterbukaan" secara benar dan tuntas. Bahasan akan lebih diarahkan pada penafsiran azas keterbukaan tersebut berda­sarkan landasan hukum yang berlaku. Selajut­nya, akan dicoba penerapannya dalam proses penyusunan rencana tata ruang untuk kasus kota kecamatan.
Urban Transport in Asia: An Agenda For The 1990s Midgley, Peter
Journal of Regional and City Planning Vol 4, No 8 (1993)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.408 KB)

Abstract

Asia is estimated to have had a total population of 2.9 billion inhabitants in 1990 or half the world?s population. The vast majority are concentrated in the 16 countries classified as low?income economies with GNP per capita below $545 in 1988. This group of countries aiso contains the majority of the region's (and the world's) urban population and the majority of cities with populations in excess of one million.In terms of economic growth, Asia is undoubtedly the most dynamic region in the world today. Notwithstanding the disparities in the economic performance of individual economies, the growth in GNP of the region as a whole has averaged nearly seven percent per annum during the 19805. This compares with world economic growth of around three percent per annum and less than two percent for developing countries. Thus the record for the Asia region is impressive when compared with the world as a whole, and particularly when compared with developing countries in other regions.The impressive performance of Asia in terms of economic development and the growth in population is causing the region to grapple with extremely rapid rates of urbanization. Already, more than hallr of the World?s urban population increases occur in Asia and the majority of this growth is occurring in the region?s low income countries. It is estimated that by the turn of this century, the urban population in Asia will increase by 420 million from 1.2 to 1.6 billion. The resultant increase in the proportion of urban residents within the total population would be from 39 percent in 1990 to 46 percent by the year 2000.By the year 2000, there is expected to be 13 megacities (cities with populations in excess of 10 million) in Asia with a combined population of 179 million. Within a decade, more than half the world's 21 megacities and just over two thirds of the 18 megacities in the developing world would be located in Asia. And the majority of these would be in low income countries.The extent to which Asian cities meet the challenges of urbanization and contribute to macroeconomic performance will, to a large extent, depend on how efficiently they can transport the goods, services, information and people upon which their economic activities depend.
Kinerja Usaha Mikro Kerajinan Pasca Bencana di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis Fahren, Zulangga Utama
Journal of Regional and City Planning Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.615 KB)

Abstract

Pangandaran yang menjadi salah satu pariwisata andalan Jawa Barat seketika berubah akibat peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006, yang mengakibatkan banyak kerusakan di kawasan ini. Sebagai akibatnya terjadi penurunan drastis jumlah wisatawan. Hal ini berdampak terhadap usaha mikro kerajinan yang ada di Pangandaran. Kebangkitan usaha mikro kerajinan sangat penting untuk mendukung pengembangan ekonomi lokal pasca bencana. Diperlukan penelitian untuk mengkaji seberapa jauh usaha mikro kerajinan dapat memulihkan diri. Pemulihan usaha diperlihatkan melalui kajian kinerja yang tepat untuk menilai usaha mikro secara rinci dan komprehensif. Kajian kinerja mencakup tiga fase yaitu sebelum tsunami, sekarang, dan sesudah tsunami. Penelitian ini membandingkan kinerja di tiga fase tersebut, sehingga dapat terlihat apakah terjadi peningkatan kinerja atau penurunan. Setelah dilakukan penelitian, maka didapatkan hasil bahwa usaha mikro kerajinan telah mengalami pemulihan yang signifikan yang dapat dilihat dari peningkatan kinerja. Peningkatan terjadi pada tahun 2007 walaupun sedikit dan mengalami peningkatan pesat pada tahun 2010.Kata kunci: Tsunami, Usaha Mikro Kerajinan, Pengembangan Ekonomi Lokal, Kinerja dan Pemulihan. Pangandaran is one of the mainstays of tourism in West Java instantaneous change due to the earthquake and tsunami events that occurred on July 17, 2006, which resulted in a lot of damage in this region. As a result of the disaster, there was a drastic decline in tourists. This has an impact on the existing craft micro-enterprises in Pangandaran. Resurgence of micro craft is very important to support local economic development after the disaster. Research is needed to assess how far the craft micro-enterprise can recover. Recovery effort demonstrated by appropriate studies to assess the performance of micro business in detail and comprehensively. Performance review includes three phases; before the tsunami, now, and after the tsunami. This study compares the performance in three phases, so as to be seen whether an increase or decrease of performance. After doing research, it showed that micro-craft has undergone a significant recovery that can be seen from the increase in performance. The increases occurred in 2007, although slightly and have increased rapidly in 2010.Keywords:   Tsunami,    Micro    Craft,   Local   Economic   Development,    Performance   and Restoration
Industrialisasi dan Urbanisasi di Asia Tenggara Prabatmodjo, Hastu; Micklin, Michael
Journal of Regional and City Planning Vol 2, No 1 (1991)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.198 KB)

Abstract

Tulisan ini menyoroti beberapa aspek perubahan struktural di empat negara?negara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand) dengan konsentrasi pada proses industrialisasi dan urbanisasi. Disebabkan beberapa kesamaan dalam karakteristik ekonomi mereka, negara-negara tersebut nampaknya menghadapi masalah pembangunan ekonomi yang hampir serupa pula. Mereka adalah eksportir tradisional hasil?hasil pertanian dan pertambangan ke pasar yang sama (Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa Barat). Negara-negara tersebut juga memiliki pengalaman yang sama dalam mengubah strategi industrialisasi mereka dari substitusi?impor ke orientasi?ekspor melalui penggunaan tenaga kerja murah (Hara, 1984).Ke empat negara tersebut adalah anggota pokok ASEAN yang dimaksudkan untuk menggalang kerjasama ekonomi, sosial?budaya dan politik. Singapura dan Brunei tidak dibahas, berhubung karakteristik ke dua negara tersebut amat berbeda dengan ke empat anggota ASEAN lainnya. Meskipun ASEAN dapat menjadi wadah untuk menjalin kerjasama dalam menghadapai pasar internasional maupun untuk meningkatkan situasi ekonomi dalam negeri, disebabkan falsafah pembangunan ekonomi yang nasionalistik yang memandang pembangunan ekonomi sebagai kunci untuk membangun bangsa (lihat Hara, 1984), kerjasama semacam itu belum terlaksana secara baik. Kepentingan nasional adalah lebih utama daripada kepentingan regional yang pada gilirannya menghasilkan pola?pola kerjasama yang longgar, meskipUn ini juga dianggap berperan dalam menunjang Viabilitas ASEAN (Wong, 1985). Kerjasama ekonomi dalam ASEAN dipengaruhi oleh interaksi antara kerjasama dan persaingan. Bagaimana hal ini mempengaruhi industrialisasi dan urbanisasi di empatnegara tersebut adalah sebuah pertanyaan yang perlu untuk dieksplorasi jawabannya.Dalam kaitannya dengan perubahan struktur pembagian kerja internasional, ke empat negara tersebut telah membuat penyesuaian?penyesuaian yang esensial untuk menangkap peran yang lebih besar sebagai pengekspor barang?barang industri tingkat bawah. ini telah mempengaruhi struktur ekonomi subnasional, termasuk urbanisasi mereka (Lo dan Salih, 1987). Di samping peningkatan dalam tingkat urbanisasi dengan pertumbuhan tahunan sekitar 3,7 persen pada periode 1980?1985, negara?negara tersebut telah mengalami peningkatan tingkat primasi perkotaan (Pernia, 1988) dengan kekecualian Malaysia di mana primasi adalah isyu yang tidak relevan (Lo dan Salih, 1987).Tulisan ini membahas situasi dan prospek?prospek industrialisasi dan urbanisasi di empatnegara Asia Tenggara dengan memberi perhatian khusus pada konsekuensi-konsekuensi di bidang ketenagakerjaan. Harapan yang terkandung adalah agar dapat diperoleh perspektif yang lebih luas untuk mengkaji keterkaitan isyu-isyu substansial dalam konteks regional, sehingga dapat memberikan arahan untuk memantapkan kerjasama ekonomi di antara negara-negara anggota ASEAN.
The Emergence of International Urban Planning and Design Firms in China from an OLI Perspective Kim, Hyung Min; Kent, Anthony
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 2 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.185 KB) | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.2.3

Abstract

There has been high demand for planning and design services at various scales in Chinese cities. International urban planning and design (UPD) firms have taken some of these opportunities. Despite the direct relevance of UPD industries for urbanisation and the important role of international UPD firms, little attention has been paid to their spatial and operational strategies. What are the drivers for international UPD firms appearing in China? What role have they played in China?s urbanisation? This research analysed the overall trend of international UPD firms operating in China based on an extensive survey and in-depth interviews with a number of these firms. The findings suggest that the emergence of international UPD firms is largely attributable to planning system reform and internal and global forces that can be understood by the advantages that comprise the OLI framework (ownership-, location-, and internalisation-specific advantages). Ownership-specific advantages such as high-quality urban planning and design skills are the most important element for these firms, contributing to globalised urbanisation. A high locational concentration of the international UPD firms has been observed in the largest Chinese cities, i.e. Shanghai and Beijing. The establishment of international UPD offices is not limited to single Chinese cities but is spreading as further opportunities are sought in and beyond China.Abstrak. Ada permintaan tinggi untuk layanan perencanaan dan desain di berbagai skala di kota-kota Cina. Perusahaan Perencanaan dan Perancangan Kota (PPK) Internasional telah menangkap beberapa peluang ini. Terlepas dari relevansi langsung industri-industri PPK dengan urbanisasi dan peran signifikan perusahaan-perusahaan PPK internasional, sedikit perhatian diberikan pada strategi spasial dan operasional mereka. Apakah yang mendorong kemunculan PPK internasional di Cina? Peran apa yang telah mereka mainkan dalam urbanisasi Tiongkok? Penelitian ini menganalisis tren keseluruhan perusahaan PPK internasional yang beroperasi di Cina dengan survei ekstensif dan studi kasus melalui wawancara mendalam dengan perusahaan. Temuannya menunjukkan bahwa munculnya perusahaan-perusahaan PPK internasional sebagian besar disebabkan oleh perencanaan reformasi sistem dan kekuatan internal dan global yang dapat dipahami dengan menggunakan kerangka kerja OLI  (kepemilikan-, lokasi-, dan keuntungan internalisasi khusus). Keuntungan khusus kepemilikan seperti perencanaan kota dan keterampilan desain berkualitas tinggi adalah unsur yang paling penting bagi perusahaan-perusahaan ini yang berkontribusi terhadap urbanisasi global. Konsentrasi lokasi perusahaan-perusahaan PPK internasional yang tinggi telah diamati di kota-kota Cina terbesar seperti Shanghai dan Beijing. Pembentukan kantor-kantor PPK internasional tidak terbatas pada satu kota di Cina tetapi menyebar ketika peluang lebih lanjut dicari di dalam dan luar Cina.Kata Kunci. Perusahaan perencanaan dan perancangan kota, urbanisasi global, penanaman modal asing, layanan produsen, cina, paradigma OLI.
THE CORRELATIONAL RELATIONSHIP BETWEEN RESIDENTIAL SATISFACTION, PLACE ATTACHMENT, AND INTENTION TO MOVE: A PRELIMINARY STUDY IN BELAWAN, MEDAN Widya, Amelia Tri; Kusuma, Hanson Endra; Lubis, Rizal Arifin
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.2

Abstract

Page 45 of 102 | Total Record : 1015


Filter by Year

1990 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 2 (2025) Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol 30, No 3 (2019) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 3 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol 28, No 3 (2017) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol 27, No 3 (2016) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol 26, No 3 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol 25, No 3 (2014) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 3 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol 22, No 3 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol 21, No 3 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol 19, No 3 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol 18, No 3 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol 17, No 3 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol 16, No 3 (2005) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol 14, No 3 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol 12, No 4 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 3 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol 9, No 2 (1998) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol 8, No 3 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol 7, No 22 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol 6, No 19 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 16 (1994) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 11 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 9 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4 (1992) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol 3, No 3 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan More Issue