cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 1,015 Documents
PLACE, SPACE AND IDENTITY THROUGH GREENING IN KAMPUNG KOTA Putra, Bagas Dwipantara; Horne, Ralph; Hurley, Joe
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.3

Abstract

As an integral part of the urban landscape in Indonesian cities, kampung kota (urban villages) provide shelter for many marginalised urban dwellers. The presence of green open space in kampung kota has multiple meanings, one of which is the significance it has for the socio-cultural identity of the inhabitants. This article explores the meaning of green open space for kampung dwellers and how it fits in the dynamics of space creation in kampung kota. The methodology employed in this research was a qualitative approach, which was applied in two case studies of separate communities in South Jakarta to understand the meaning of space from their perspective. Based on the findings, green open space plays a significant role in building a community?s identity through shared memories and communally agreed images of the neighbourhood, thus confirming the importance of the community in place-making processes in kampung kota.Abstrak. Sebagai bagian integral dari lanskap perkotaan di kota-kota Indonesia, kampung kota (desa kota) menyediakan tempat berteduh bagi banyak penduduk kota yang terpinggirkan. Kehadiran ruang terbuka hijau di kampung kota memiliki banyak makna, salah satunya adalah signifikansinya bagi identitas sosial-budaya penduduk. Artikel ini mengeksplorasi makna ruang terbuka hijau bagi penghuni kampung dan bagaimana ruang itu sesuai dengan dinamika penciptaan ruang di kampung kota. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yang diterapkan dalam dua studi kasus komunitas terpisah di Jakarta Selatan untuk memahami makna ruang dari perspektif mereka. Berdasarkan temuan tersebut, ruang terbuka hijau memainkan peran penting dalam membangun identitas komunitas melalui ingatan bersama dan gambar yang disepakati bersama tentang lingkungan, sehingga menegaskan pentingnya masyarakat dalam proses pembuatan tempat di kampung kota.Kata kunci. Identitas, kampung kota, komunitas, pembuatan tempat.
A STUDY OF THE EFFECTS OF LIFESTYLE CHANGES ON URBAN TRIP GENERATION WITH AN APPROACH TO FUTURES STUDIES: A CASE STUDY OF TEHRAN REGION 6 Rastad Borujeni, Marzieh; Shafiee-Masuleh, Seyedeh-Samira; Shafiee Masouleh, Seyed Reza
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.1

Abstract

This research is a descriptive analytical study. The goal was to identify the key factors that affect lifestyle changes and urban trip generation. To achieve this goal, we used two components (pattern, value), 20 criteria (social, economic, cultural, psychological, political, etc.), and 56 variables. For data analysis, the Delphi method, cross-impact analysis and MICMAC were used. The results showed that 25 factors were key factors affecting urban lifestyle changes and urban trip generation. These factors, in order of priority, were: increasing income level of people; more welcoming to urban residents from well-kept homes and high-quality residential neighborhoods; changing role of streets for a new type of recreational trips apart from serving traffic;increasing number of young and adolescents in the region; increasing daily, monthly, seasonal and annual purchases from large retail stores and luxury shopping malls away from downtown; increasing residency of people in new and high-quality urban areas away from the central areas of the city; increasing rate of apartment living and people?s preference to stay in apartments rather than single-family houses; increasing number of single people; increasing non work-related trips, etc. Moreover, the results showed that changes in patterns lead to changes in values and, ultimately, lifestyle changes and increased urban trip generation.Abstrak. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi perubahan gaya hidup dan generasi perjalanan perkotaan. Untuk mencapai tujuan ini, kami menggunakan dua komponen (pola, nilai), 20 kriteria (sosial, ekonomi, budaya, psikologis, politik, dan lain-lain), dan 56 variabel. Untuk analisis data, digunakan metode Delphi, analisis dampak silang dan MICMAC. Hasil penelitian menunjukkan ada 25 faktor yang merupakan faktor kunci yang mempengaruhi perubahan gaya hidup perkotaan dan generasi perjalanan perkotaan. Faktor-faktor ini, dalam urutan prioritas, adalah: peningkatan tingkat pendapatan masyarakat, peningkatan sambutan penduduk kota yang berasal dari rumah yang terawat baik dan lingkungan perumahan yang berkualitas tinggi, perubahan peran jalan untuk perjalanan rekreasi jenis baru selain melayani lalu lintas, perluasan kelompok usia muda (kenaikan jumlah kaum muda dan remaja) di wilayah tersebut, peningkatan belanja harian, bulanan, musiman dan tahunan dari toko ritel besar dan pusat perbelanjaan mewah yang jauh dari pusat kota, peningkatan jumlah penduduk di daerah perkotaan baru dan berkualitas tinggi yang jauh dari pusat kota, kenaikan tingkat kehidupan di apartemen dan preferensi orang untuk tinggal di apartemen daripada di rumah keluarga tunggal, penambahan jumlah orang lajang, kenaikan perjalanan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu, hasil menunjukkan bahwa perubahan pola tersebut menyebabkan perubahan nilai dan, pada akhirnya, perubahan gaya hidup dan peningkatan generasi perjalanan perkotaan.Kata kunci. Gaya hidup, generasi perjalanan perkotaan, studi masa depan, metode Delphi.
APPLYING THE URBAN POLITICAL ECOLOGY (UPE) FRAMEWORK TO RE-VISIT DISASTER AND CLIMATE CHANGE VULNERABILITY-RISK ASSESSMENTS Rahman, M. Bobby; Nurhasanah, Isye Susana; Nugraha, Erwin; Harahap, Tetty
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.4

Abstract

Abstract. Vulnerability and risk assessment (VRA) is increasingly becoming more popular as a tool to assess and evaluate the likelihood and externalities that are faced by urban areas because of environmental hazards and climate change. However, urban dynamics are increasingly putting communities in a vulnerable/riskier situation, calling for a more comprehensive and inter-disciplinary approach. Urban Political Ecology (UPE) was utilized as a framework to reflect upon the empirical findings and literature review with two urban villages (kelurahan) in Bandar Lampung, Indonesia?Kangkung and Kota Karang?as case studies. We argue that the existing VRA is not adequate to address fundamental issues of environmental hazards and climate change. Different aspects, such as the city?s metabolism of human-nature interaction, contribute to producing vulnerability and need to be taken into account. This research also recommends that future urban disaster governance should incorporate the production and alteration of (social) vulnerability by considering spatial and temporal dimensions in disaster risk reduction and climate change adaptation.Abstrak. Penilaian kerentanan dan risiko (VRA) semakin populer sebagai alat untuk menilai dan mengevaluasi kemungkinan dan eksternalitas yang dihadapi oleh daerah perkotaan karena bahaya lingkungan dan perubahan iklim. Namun, dinamika perkotaan dari waktu ke waktu menempatkan masyarakat dalam situasi yang rentan/berisiko, sehingga menyerukan pendekatan yang lebih komprehensif dan antar-disiplin. Kami memobilisasi Ekologi Politik Perkotaan (PDU) digunakan sebagai kerangka kerja untuk merefleksikan temuan empiris dan tinjauan literatur melalui dua desa perkotaan (kelurahan) di Bandar Lampung, Indonesia?Kangkung dan Kota Karang?sebagai studi kasus. Kami berpendapat bahwa penilaian kerentanan dan risiko yang saat ini ada tidak memadai untuk menangani masalah-masalah inti dari bahaya-bahaya lingkungan dan perubahan iklim. Aspek-aspek yang berbeda, seperti metabolisme kota dari interaksi manusia-alam, berkontribusi untuk menghasilkan kerentanan, yang perlu diperhitungkan juga. Penelitian ini juga merekomendasikan bahwa tata kelola bencana perkotaan masa depan harus memasukan bagaimana produksi dan perubahan  kerentanan (sosial) dengan mempertimbangkan dimensi spasial dan temporal dalam pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim.Kata kunci. Ekologi politik perkotaan, bencana, perubahan iklim, penilaian kerentanan dan risiko, Bandar Lampung.
MORPHOLOGY OF RESIDENTIAL ENVIRONMENT OF SINGENGU VILLAGE IN MANDAILING JULU, NORTH SUMATRA Nuraini, Cut
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.5

Abstract

This study aimed to determine the morphology of the residential environment of Singengu Village in Mandailing Julu between 1880 and 2019. This time frame was taken because primary data that available were refer to that range of years. This research is an interpretive historical research that narratively constructs the morphology of the residential environment in Singengu Village through four sources: archives, documents, evidence from the location, and explanations from interviewees/eyewitnesses. The result showed that the morphological component of Singengu Village?s residential environment includes three main aspects, namely: land-use pattern, building layout, and the road network. The roads in Singengu Village?s residential environment are quite unique because they were formed after the construction of the residential area and not vice versa. Aspects of the land use and urban design patterns have a typical Mandailing character because they are consistent with the local concept of bincar-bonom.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan morfologi lingkungan perumahan di Desa Singengu di Mandailing Julu antara tahun 1880 dan 2019. Kerangka waktu ini diambil karena data primer yang tersedia merujuk pada rentang tahun tersebut. Penelitian ini adalah penelitian sejarah interpretatif yang secara naratif membangun morfologi lingkungan perumahan di Desa Singengu melalui empat sumber: arsip, dokumen, bukti dari lokasi, dan penjelasan dari narasumber/saksi mata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen morfologis lingkungan perumahan Desa Singengu meliputi tiga aspek utama, yaitu: pola penggunaan lahan, tata letak bangunan, dan jaringan jalan. Jalan-jalan di lingkungan perumahan Desa Singengu cukup unik karena terbentuk setelah pembangunan daerah perumahan dan bukan sebaliknya. Aspek penggunaan lahan dan pola desain perkotaan memiliki karakter Mandailing yang khas karena konsisten dengan konsep lokal bincar-bonom.Kata kunci. Morfologi, lingkungan perumahan, penggunaan lahan, tata letak bangunan, bincar-bonom.
RECONSTITUTED VILLAGE: RELOCATING TRADITIONAL HOUSES AND TRANSFORMING TRADITIONAL MALAY VILLAGES Tan, Yung Ren
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.6

Abstract

In the current social and economic conditions, the preservation and conservation of historic buildings has become a challenge. The city of Kuala Terengganu dates as far back as the 17th century, however, the city currently has very few historical buildings. What is worse is that within the short period of the last 20 years, the town has lost almost half of its 200-year old Straits-Chinese shophouses. Architecturally significant traditional Malay houses are being torn down on a large scale to free up land on the fringes of the city. The loss of old villages that have always been a significant part of the town at this scale have raised awareness to start protecting some of the architecturally and historically important Malay houses and, in a wider context, some of the traditional villages. However, the increasing land value of the land where these villages sit on poses a great challenge. This paper discusses the idea of having a reconstituted village as a refuge to save traditional Malay houses from being demolished. Unlike brick and masonry based historical buildings, traditional Malay houses are sophisticated prefabricated houses and can be dismantled and reconstructed in a new location. This supports the idea of forming a reconstituted village with a collection of architecturally significant Malay houses. The idea of relocating these houses and putting them back in their original context could create a harmonious ambience. This process will eventually lead to an urbanized village that is a destination by itself. From an architecture enthusiast?s perspective, such a village would be a last resort to protect these precious old houses from being demolished and at the same time contribute to the tourism sector. Recreating a collective village with real traditional Malay houses is a feasible option for the future of these villages and an approach of reinventing heritage tourism in the city.Abstrak. Dalam kondisi sosial dan ekonomi saat ini, preservasi dan konservasi bangunan bersejarah telah menjadi tantangan. Kota Kuala Terengganu berasal dari abad ke-17, namun kota ini saat ini memiliki sangat sedikit bangunan bersejarah. Yang lebih buruk adalah bahwa dalam kurun waktu singkat selama 20 tahun terakhir, kota ini telah kehilangan hampir setengah dari ruko Peranakan yang berusia 200 tahun. Rumah-rumah tradisional Melayu yang signifikan secara arsitektur dihancurkan secara besar-besaran untuk membebaskan tanah di pinggiran kota. Hilangnya desa-desa tua yang selalu menjadi bagian penting kota pada skala ini telah meningkatkan kesadaran untuk mulai melindungi beberapa rumah Melayu yang penting secara arsitektur dan historis, dan dalam konteks yang lebih luas, beberapa desa tradisional. Namun, meningkatnya nilai dari tanah di mana desa-desa ini berada merupakan tantangan besar. Makalah ini membahas gagasan pembangunan kembali desa sebagai tempat perlindungan untuk menyelamatkan rumah-rumah tradisional Melayu agar tidak dihancurkan. Tidak seperti bangunan bersejarah berbasis batu bata dan batu, rumah tradisional Melayu adalah rumah prefabrikasi yang canggih dan dapat dibongkar dan direkonstruksi di lokasi baru. Ini mendukung gagasan pembentukan desa yang dibangun kembali dengan koleksi rumah-rumah Melayu yang secara arsitektur penting. Gagasan merelokasi rumah-rumah ini dan mengembalikannya ke dalam konteks aslinya dapat menciptakan suasana yang harmonis. Proses ini pada akhirnya akan mengarah ke desa perkotaan yang merupakan tujuan dengan sendirinya. Dari sudut pandang pemerhati arsitektur, desa seperti itu akan menjadi pilihan terakhir untuk melindungi rumah-rumah tua yang berharga ini dari kehancuran dan pada saat yang sama berkontribusi pada sektor pariwisata. Menciptakan desa kolektif dengan rumah-rumah tradisional Melayu yang nyata adalah pilihan yang layak untuk masa depan desa-desa ini dan sebuah pendekatan untuk menciptakan kembali pariwisata warisan di kota.Kata kunci. Preservasi, desa, rumah tradisional, desa perkotaan.
CONTRIBUTORS Regional and City Planning, Journal of
Journal of Regional and City Planning Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LOCAL PAPUAN MIGRANTS: WAMENA MIGRANTS IN AN URBAN CITY OF JAYAPURA, PAPUA-INDONESIA Timisela, Marthen; Kameo, Daniel D; Rupidara, Neil S; Siahainenia, Roberth
Journal of Regional and City Planning Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.3

Abstract

This study aimed to understand the role of local migrants in urban economic development. A qualitative case study approach was used to examine the characteristics and role of the social capital of migrants from Wamena in Jayapura, Indonesia. The data used in this study were collected through in-depth interviews and field observation as well as statistical data from the Central Statistics Agency of Jayapura. The results indicate that the social capital of migrants reconstructed cultural values through an intensification of multi-ethnic relations within the domestic economic system of urban areas. Wamena migrants contributed to the economic growth in urban areas because of the correlation between norms, beliefs and social networking as forms of local wisdom. Local wisdom was able to strengthen the internal and external social relations of the Wamena migrant community in various economic activities as coping and survival strategies. Specifically, the findings of this study offer an additional view to the conceptual framework of sustainable livelihoods from Robert Chambers and Gordon Conway (1991), namely that local wisdom integrated with forms of social capital can be utilized to create sustainable livelihoods. Thus, this study shows that the local migrants from Wamena have formed a community-based economic system integrated with local wisdom to maintain a livelihood in urban areas, in this case Jayapura, Indonesia.Abstrak. Artikel ini bertujuan untuk memahami peran migran lokal dalam pembangunan ekonomi perkotaan. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan untuk memeriksa karakteristik dan peran modal sosial migran dari Wamena di Jayapura, Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan serta data statistik dari Badan Pusat Statistik Jayapura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial yang dibentuk telah merekonstruksi nilai-nilai budaya yang konservatif ke liberal, melalui intensifikasi hubungan multi-etnis yang terintegrasi dalam sistem ekonomi domestik di daerah perkotaan. Migran Wamena memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi di perkotaan karena korelasi antara norma, kepercayaan, dan jejaring sosial sebagai bentuk kearifan lokal. Kearifan lokal mampu memperkuat hubungan sosial internal dan eksternal komunitas migran Wamena dalam berbagai kegiatan ekonomi sebagai strategi koping dan bertahan hidup. Secara khusus, temuan ini menawarkan ide baru dalam kerangka konseptual pendekatan penghidupan berkelanjutan oleh Robert Chambers dan Gordon Conway pada tahun 1991, bahwa kearifan lokal yang diintegrasikan dengan bentuk modal sosial dapat digunakan untuk mempertahankan strategi penghidupan. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa para migran lokal dari Wamena telah membentuk sistem ekonomi berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan kearifan lokal untuk mempertahankan mata pencaharian di daerah perkotaan, yang dalam hal ini adalah Jayapura, Indonesia.Kata kunci. Migran lokal, ekonomi perkotaan, pengetahuan lokal, modal sosial.
INVESTIGATING COMMUNITY PREFERENCES IN FULFILLING DOMESTIC WATER NEEDS TO IMPROVE PUBLIC WATER SERVICE PROVISION A CASE STUDY IN KOTA METRO, LAMPUNG PROVINCE, INDONESIA Sugiyono, Sugiyono; Dewancker, Bart J.
Journal of Regional and City Planning Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.4

Abstract

Public water service provision is a big challenge for local authorities in Indonesia. Not only does this sector currently require large investments, it also has multi-dimensional impacts on society, the economy, and the environment because of poor service performance. Kota Metro in Lampung province, Indonesia generally faces a similar problem in managing its public water sector. The latest data show that only about five percent of households utilize piped water for their domestic water usage, while others rely on individual water source exploitation. Low service coverage area and poor service performance are frequently blamed as causes of this unfavorable situation. However, few studies have discussed this issue from the perspective of the consumers in Kota Metro. This study specifically looked at the issue of the community?s preferences related to their domestic water source and their motivation. We did an online survey among the residents of Kota Metro to get their opinion on this issue. First, we elaborated the respondents? spatial distribution and socioeconomic backgrounds by asking their address and income. This aimed to assess the respondents? accessibility to the existing piped water network and their financial ability to pay the water bill. Furthermore, we asked the respondents about water sources that they use daily and the reasons for using them. Correspondence analysis was used to assess the relationship between their choices and specific factors determining their decision. It is expected that the results of this study can broaden the perspective on drinking water issues by incorporating the consumer?s point of view. Moreover, the result can also be used by the local authority of Kota Metro to improve its public water service.Abstrak. Penyediaan layanan air bersih menjadi tantangan besar yang harus ditangani oleh pemerintah daerah di Indonesia. Sektor ini tidak hanya membutuhkan investasi besar tetapi juga memiliki dampak multi-dimensional pada masyarakat, ekonomi, dan lingkungan yang disebabkan oleh kinerja layanan yang buruk. Kota Metro di Provinsi Lampung umumnya menghadapi masalah serupa dalam mengelola sektor air bersihnya. Data terakhir menunjukkan bahwa hanya sekitar lima persen rumah tangga yang menggunakan air pipa untuk penggunaan air domestik mereka, sementara yang lain bergantung pada eksploitasi sumber air individu. Wilayah cakupan layanan yang rendah dan kinerja layanan yang buruk sering disalahkan sebagai penyebab kemajuan yang tidak menyenangkan ini. Makalah ini secara khusus membahas masalah preferensi masyarakat untuk sumber air domestik dan motif yang melekat padanya. Kami melakukan survei online kepada penduduk Kota Metro untuk memahami pendapat mereka tentang masalah ini. Awalnya, kami menguraikan distribusi spasial responden dan latar belakang sosial ekonomi dengan menanyakan alamat dan pendapatan mereka. Ini bertujuan untuk menilai aksesibilitas responden ke jaringan air pipa yang ada dan kemampuan keuangan mereka untuk membayar tagihan air. Selain itu, kami bertanya kepada responden tentang sumber air yang mereka gunakan sehari-hari dan alasan untuk menggunakannya. Analisis Korespondensi digunakan untuk menilai hubungan antara pilihan mereka dan faktor spesifik yang menentukan keputusan mereka. Singkatnya, hasil yang diharapkan dapat memperluas perspektif masalah air dari sudut pandang pelanggan. Tidak hanya itu, tetapi hasilnya juga dapat digunakan oleh Pemerintah Derah Kota Metro untuk meningkatkan layanan air bersihnya.Kata kunci. Preferensi masyarakat, analisis korespondensi, penggunaan air rumah tangga, Kota Metro.
ARE WEALTHY REGIONS ALSO ENTREPRENEURIAL? THE CASE OF INDONESIA Widiastuti, Wini
Journal of Regional and City Planning Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.5

Abstract

The relationship between economic development and entrepreneurship is complex and dynamic, especially at the regional level. Entrepreneurship can emerge in both wealthy and poorer regions, triggered either by necessity or opportunity. This article performed a spatial analysis of Indonesian data to identify the regional patterns of entrepreneurial activity and to test whether wealthy regions are more entrepreneurial than poorer regions, considering both supply and demand factors. Spatial regression analysis using GeoDa was performed to examine the extent to which regional conditions affect different types of enterprises (formal and informal). The results show that wealthy regions are more entrepreneurial with regard to informal businesses but not formal businesses. The supply side analysis confirmed that being unemployment stimulates individuals to become entrepreneurs (necessity-based entrepreneurship). Meanwhile, the demand side analysis confirmed that the size of market demand positively influences entrepreneurship (opportunity-based entrepreneurship).Abstrak. Hubungan antara pengembangan ekonomi dan kewirausahaan adalah kompleks dan dinamis terutama pada tingkat regional. Kewirausahaan dapat muncul baik di daerah kaya maupun miskin karena dipicu oleh faktor kebutuhan atau peluang. Artikel ini melakukan analisis spasial pada data Indonesia untuk mengidentifikasi pola regional kegiatan kewirausahaan dan untuk menguji apakah daerah kaya lebih berjiwa wirausaha daripada yang lebih miskin dengan mempertimbangkan faktor penawaran dan permintaan. Analisis regresi spasial menggunakan Geoda dilakukan untuk memeriksa sejauh mana kondisi regional mempengaruhi berbagai jenis bisnis, perusahaan formal dan informal. Hasilnya menunjukkan bahwa daerah kaya lebih berwirausaha dalam hal perusahaan informal tetapi tidak untuk perusahaan formal. Analisis sisi penawaran menegaskan bahwa menganggur merangsang individu untuk menjadi wirausaha yang merupakan kewirausahaan berbasis kebutuhan. Sementara itu, analisis sisi permintaan menegaskan bahwa ukuran permintaan pasar secara positif mempengaruhi kewirausahaan yaitu kewirausahaan berbasis peluang.Kata kunci. Kewirausahaan, tingkat permulaan, pembangunan ekonomi wilayah, negara-negara berkembang. 
RETHINKING SLUM PLANNING: A COMPARATIVE STUDY OF SLUM UPGRADING PROJECTS Sibyan, Istifada Alhidayatus
Journal of Regional and City Planning Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.1

Abstract

The stigma slums have of being an urban problem is influenced by theoretical and empirical knowledge. This article reports a comparative study on the failure and success of slum upgrading projects in the Gecekondu slum area in Ankara, Turkey and the Semanggi slum area in Surakarta, Indonesia. In both cases there were different orientations and approaches in planning influenced by the perspective on slums. Related to the result of the study, this article offers at least three key perspectives to understand slums in the context of urban planning. Slum upgrading projects are not always about space formalization, physical improvement, or economic enhancement. Slum upgrading projects are also about community empowerment and social transformation contributing to urban development. The success of a slum upgrading project depends on the approach and perspective toward these urban issues within the local context. Different methods and focuses could result in different outcomes of the project. As such, those differences should be taken into account in the planning process.Abstrak. Stigma permukiman kumuh sebagai masalah perkotaan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan yang bersumber dari teori dan pengetahuan empiris. Artikel ini adalah studi komparatif yang mencoba menggambarkan kegagalan dan keberhasilan proyek peningkatan permukiman kumuh dalam kasus daerah kumuh Gecekondu di Ankara, Turki dan daerah kumuh Semanggi di Surakarta, Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa ada berbagai orientasi dan pendekatan dalam perencanaan. Perbedaan-perbedaan ini dipengaruhi oleh perspektif terhadap kumuh dalam perencanaan. Terkait dengan hasilnya, artikel ini menawarkan setidaknya tiga perspektif kunci untuk memahami daerah kumuh dalam konteks perencanaan kota. Proyek peningkatan permukiman kumuh tidak selalu tentang formalisasi ruang, peningkatan fisik atau peningkatan ekonomi. Selain itu, proyek perbaikan permukiman kumuh adalah tentang pemberdayaan masyarakat dan transformasi sosial yang berkontribusi terhadap pembangunan perkotaan. Keberhasilan proyek peningkatan permukiman kumuh tergantung pada pendekatan dan perspektif konteks lokal terhadap masalah perkotaan ini. Berbagai metode dan fokus dapat menghasilkan berbagai hasil proyek. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan tersebut harus diperhitungkan dalam proses perencanaan.Kata kunci. Perspektif, perencanaan, pendekatan perencanaan, orientasi perencanaan, daerah kumuh.

Page 46 of 102 | Total Record : 1015


Filter by Year

1990 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 2 (2025) Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol 30, No 3 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 3 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol 28, No 3 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 3 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol 26, No 3 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol 25, No 3 (2014) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol 24, No 3 (2013) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol 22, No 3 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol 21, No 3 (2010) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol 19, No 3 (2008) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol 18, No 3 (2007) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol 17, No 3 (2006) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol 16, No 3 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol 14, No 3 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol 12, No 4 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 3 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol 9, No 2 (1998) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol 8, No 3 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol 7, No 22 (1996) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol 6, No 19 (1995) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol 5, No 11 (1994) Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 9 (1993) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol 3, No 4 (1992) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 3 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol 2, No 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan More Issue