cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 1,015 Documents
ON RURAL TYPOLOGIES WITH NEURAL NETWORK METHOD: CASE STUDY ON XINING REGION Weifeng, Zhang; Li, Zhang
Journal of Regional and City Planning Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.2

Abstract

There are great differences between the rural areas of China, and rural areas themselves have complex development characteristics. With the implementation of the strategy of rural revitalization, ?one-fits-all? rural policy standards have had difficulty to meet the needs of different types of rural development. Rural policies adapted to local conditions cannot be separated from the identification of rural types. How to scientifically distinguish between rural areas and a widely ranged rural typology is of great significance. This paper attempts to introduce the artificial neural network method to identify rural types and to explore the impact of the neural network model trained with different sample data on the results of rural type recognition. Taking the Xining region as an example, rural types were identified and the applicability of the model was tested. Finally, the recognition results of the neural network model were examined and further improvement of the proposed method is discussed.Abstrak. Ada perbedaan besar di daerah perdesaan di negara China, dan daerah pedesaan itu sendiri memiliki karakteristik pembangunan yang kompleks. Dengan penerapan strategi revitalisasi pedesaan, standar kebijakan pedesaan "satu-untuk-semua" sulit memenuhi kebutuhan berbagai jenis pembangunan pedesaan. Kebijakan-kebijakan perdesaan yang disesuaikan dengan kondisi lokal tidak dapat dipisahkan dari identifikasi tipe perdesaan. Cara membedakan secara ilmiah daerah perdesaan dan berbagai tipologi perdesaan menjadi sangat penting. Makalah ini memperkenalkan metode jaringan saraf tiruan untuk mengidentifikasi tipe perdesaan, dan mengeksplorasi dampak model jaringan saraf yang telah dilatih untuk mengenaili tipe perdesaan dengan data sampel yang berbeda. Dengan mengambil wilayah Xining sebagai contoh, tipe perdesaan diidentifikasi, dan penerapan model diuji. Akhirnya, hasil pengenalan oleh model jaringan saraf dievaluasi , dan peningkatan lebih lanjut dari metode ini dibahas.Kata kunci. Daerah Pedesaan, tipologi, jaringan saraf.
URBAN PLANNING ORGANIZATION AND DEVELOPMENT OF CHILDREN’S MEDICAL INSTITUTIONS IN UKRAINE Bulakh, Irina
Journal of Regional and City Planning Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.6

Abstract

The urban planning organization and development of children?s medical institutions in Ukraine are considered in this article based on an analysis of the current state of its largest cities, metropolises. Existing problems are outlined, which are primarily related to the excessive number and specialization of medical facilities (compared to European indicators), duplication within the same territory and physical obsolescence of buildings and equipment for medical purposes. This paper contributes to reviewing the transition of planning approaches as well as proposing a fresh approach to the forming of an urban layout of children?s healthcare institutions that is designed to replace the traditional territorial-administrative approach.Abstrak. Artikel ini meninjau lembaga perencanaan kota dan pengembangan institusi medis anak-anak di Ukraina dengan fokus pada analisis kondisi eksisting di kota-kota terbesar, metropolis. Masalah yang ada diuraikan, terutama terkait dengan jumlah yang berlebihan dan spesialisasi fasilitas medis (dibandingkan dengan indikator Eropa), duplikasi dalam wilayah yang sama, keusangan fisik bangunan dan peralatan medis. Makalah ini berkontribusi untuk meninjau transisi pendekatan perencanaan serta mengusulkan pendekatan baru untuk pembentukan tata ruang perkotaan dari institusi kesehatan anak-anak, yang dirancang untuk menggantikan pendekatan tradisional teritorial-administratif.Kata kunci. sistem perencanaan kota dari institusi perawatan kesehatan; lembaga medis anak-anak; Rumah Sakit; klinik rawat jalan.
Land Use Change and Its Impacts on Surface Runoff in Rural Areas of the Upper Citarum Watershed (Case Study: Cirasea Sub-watershed) Zahrul Atharinafi; Nurrohman Wijaya
Journal of Regional and City Planning Vol. 32 No. 1 (2021)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2021.32.1.3

Abstract

Land-use change in upstream regions is a recognized driver of the increase in surface runoff, resulting in increasing flood intensity and occurrence. The rapid urbanization of outlying districts surrounding large metropolitan areas is a known driver of land-use change. Therefore, we study land-use change patterns within the Cirasea Sub-watershed within the last 20 years and changes in the runoff coefficient within the same time frame. This paper examines how land-use change patterns on the outskirts of the Bandung Metropolitan Area influence runoff. Spatial analysis and surface runoff calculation using the curve number method were applied. The study found significant changes in land use, particularly in the watershed's southern reaches, whereby forest and shrub land gave way to agriculture in a water recharge zone, resulting in an increased runoff coefficient upstream. Urbanization within the Cirasea Sub-watershed did not encroach into areas identified as recharge zones and had a minimal direct impact on increased runoff. Aggregate runoff coefficient (curve number) in the Cirasea Sub-watershed increased from 70.98 in 1999 to 72.04 in 2018. For a design 24-hour period rainfall of 120 mm, runoff increased from 48.49 mm (1999) to 51.8 mm (2018). We conclude that the changes above in land use have increased runoff in the Cirasea Sub-watershed. Furthermore, land-use policies laid down by the RTRW Bandung Regency for 2016-2036 provide provisions to reforest previously deforested areas, with deforested areas being zoned as protected forest. Therefore, we propose promoting agroforestry as part of land use policy in order to restore runoff to its 1999 level under existing land use planning policy.Abstrak. Perubahan guna lahan pada wilayah hulu diketahui sebagai salah satu penyebab peningkatan limpasan air permukaan, meningkatkan intensitas dan frekeuensi banjir. Urbanisasi pesat pada wilayah pinggiran kawasan metropolitan diketahui sebagai faktor pendorong terjadinya perubahan guna lahan. Berdasarkan kondisi tersebut, kami melakukan studi terhadap pola perubahan guna lahan pada Sub-DAS Cirasea, pada 20 tahun terakhir, serta perubahan limpasan air permukaan pada rentang waktu yang sama. Paper ini meneliti bagaimana perubahan guna lahan pada wilayah pinggiran Metropolitan Bandung Raya mempengaruhi limpasan air permukaan. Analisis spasial dan perhitungan limpasan air permukaan dilakukan, menggunakan metode bilangan kurva. Berdasarkan hasil studi, diketahui telah terjadi perubahan guna lahan yang signifikan pada wilayah hulu DAS. Hutan dan semak belukar berubah menjadi kawasan pertanian, pada wilayah resapan air tanah, sehingga terjadi peningkatan limpasan air permukaan di wilayah hulu. Urbanisasi pada wilayah Sub-DAS Cirasea diketahui tidak menjalar hingga wilayah resapan air tanah dan memiliki dampak minim terhadap kenaikan limpasan air permukaan. Angka koefisien limpasan air permukaan (bilangan kurva) di DAS Cirasea meningkat dari 70.98 (1999), menjadi 72.04 (2018). Pada curah hujan (asumsi) 24 jam sebesar 120mm, limpasan air permukaan meningkat dari 48.49mm (1999), menjadi 51.8mm (2018). Berdasarkan hasil tersebut, kami simpulkan bahwa perubahan guna lahan telah mengakibatkan peningkatan limpasan air permukaan di DAS Cirasea.  Kata kunci.Perubahan tata guna lahan, potensi aliran permukaan, DAS citarum hulu, pencegahan banjir.
The Urban Women Travelling Issue in the Twenty-first Century Yong Adilah Shamsul Harumain; Nikmatul Adha Nordin; Goh Hong Ching; Noor Suzaini Zaid; Andree Woodcock; Deana Mcdonagh; Komal Faiz
Journal of Regional and City Planning Vol. 32 No. 1 (2021)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2021.32.1.1

Abstract

Mobility generally refers to the ability or capacity to move. The subject of women's mobility has been well documented and investigated by researchers since the 1970s. Early studies were initially inspired by the issue of gender-based violence encountered by women. At the same time, there is increasing research on women transportation mobility due to the increasing percentage of women working and travelling outside the house. However, there is an absence of studies that adopted a systematic review of studies related to women's mobility. The increase of women working in the 21st century has led to an increase in the percentage of women travelling, thus engendering issues such as safety, security, mobility and accessibility. This paper attempted to identify studies related to women's mobility in the 21st century from the year 2001 until the year of 2020 by using a systematic literature review, guided by Preferred Reporting Materials for Systematic Reviews and Meta Analyses, also known as the PRISMA Statement, to further understand the scenario of urban women travelling in the global context. This paper reviews previous studies conducted in the 21st century, revealing slight variations of focus among the authors on the urban women travelling issue.Abstrak. Mobilitas umumnya mengacu pada kemampuan atau kapasitas untuk bergerak. Subjek 'Mobilitas Wanita' telah didokumentasikan dan diteliti dengan baik oleh para peneliti sejak tahun 1970-an. Studi terdahulu awalnya terinspirasi dari isu-isu kekerasan berbasis gender yang dihadapi perempuan. Sementara itu, penelitian tentang mobilitas transportasi perempuan semakin meningkat karena meningkatnya persentase perempuan yang bekerja dan pindah ke luar rumah. Namun, belum ada penelitian yang mengadopsi tinjauan sistematis pada artikel terkait studi terkait mobilitas perempuan. Meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja di abad ke-21 juga meningkatkan persentase perempuan yang bepergian sehingga menggambarkan banyak masalah antara lain keselamatan, keamanan, mobilitas dan aksesibilitas. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba mengidentifikasi kajian-kajian yang berkaitan dengan mobilitas perempuan abad ke-21 dari tahun 2001 hingga tahun 2020 dengan menggunakan Systematic Literature Review yang berpedoman pada Preferred Reporting Materials for Systematic Reviews dan Meta Analysis atau yang lebih dikenal dengan PRISMA Statement untuk memahami lebih jauh skenario perjalanan wanita perkotaan dalam perspektif global. Makalah ini mengulas penelitian sebelumnya yang dilakukan pada abad ke-21 yang telah ditafsirkan dan diuraikan dengan sedikit variasi fokus di antara penulis tentang isu perjalanan wanita perkotaan. Kata kunci. mobilitas wanita, tinjauan literatur sistematis, perjalanan, abad ke-21.
Urban Sustainability and Resilience Governance: Review from The Perspective of Climate Change Adaptation And Disaster Risk Reduction Novi Maulida Ni'mah; Bambang Hari Wibisono; Muhammad Sani Roychansyah
Journal of Regional and City Planning Vol. 32 No. 1 (2021)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2021.32.1.6

Abstract

The imperative of ‘making cities resilient and sustainable’ necessitates cities to develop adaptation concepts and practices in response to the uncertainty, rapid change, and complexity of urban areas. A new concept of governance that can answer the challenges of contemporary urban development and ensure long-term sustainable development is required. This study aimed to identify the general framework of adaptive urban governance by review, elaboration, and analysis of documents, in this case, scientific articles that discuss urban governance specifically related to climate change adaptation (CCA) and disaster risk reduction (DRR). The results of this study include an overview of governance approaches appearing in the literature on CCA and DRR, which was parsed down to the adaptive and anticipatory approaches. Adaptive governance requires the principle of flexibility applied in the management cycle in policy formulation, while anticipatory governance requires the principle of proactivity with the application of future foresight in policy formulation. The dimension of governance consists of process/mechanism (risk management) and capacity (technical, institutional, financial, and human capacity). Some challenges in building good governance based on an adaptive approach are encouraging community involvement, increasing local government capacities, and building integration between actors, networks, and collaborations.   Abstrak. Dalam menjadikan suatu kota tangguh dan berkelanjutan,  kota diharuskan untuk mengembangkan konsep dan praktik adaptasi dalam menanggapi ketidakpastian, perubahan yang cepat, dan kompleksitas kawasan perkotaan. Diperlukan konsep tata kelola baru yang dapat menjawab tantangan pembangunan perkotaan kontemporer dan memastikan pembangunan berkelanjutan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kerangka umum tata kelola kota adaptif dengan metode review, elaborasi, dan analisis dokumen, dalam hal ini artikel ilmiah yang membahas tentang tata kelola kota secara khusus terkait dengan adaptasi perubahan iklim (CCA) dan pengurangan risiko bencana (PRB). Hasil penelitian ini meliputi gambaran pendekatan tata kelola yang muncul dalam literatur CCA dan PRB, yang diuraikan menjadi pendekatan adaptif dan antisipatif. Tata kelola adaptif membutuhkan prinsip fleksibilitas yang diterapkan dalam siklus pengelolaan dalam perumusan kebijakan, sedangkan tata kelola antisipatif membutuhkan prinsip proaktif dengan penerapan pandangan jauh ke depan dalam perumusan kebijakan. Dimensi tata kelola terdiri dari proses / mekanisme (manajemen risiko) dan kapasitas (teknis, kelembagaan, keuangan, dan kapasitas manusia). Beberapa tantangan dalam membangun tata kelola pemerintahan yang baik berdasarkan pendekatan adaptif adalah mendorong keterlibatan masyarakat, meningkatkan kapasitas pemerintah daerah, dan membangun integrasi antar aktor, jaringan, dan kolaborasi.   Kata kunci: pendekatan tata kelola; tata kelola kota; pembangunan berkelanjutan; ketahanan; kerangka konseptual.
A DSR Methodology for Conceptual Solution Development of Public Open Space Governance Gabriel Hoh Teck Ling; Pau Chung Leng; Noradila Rusli; Wai Shin Ho
Journal of Regional and City Planning Vol. 32 No. 1 (2021)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2021.32.1.2

Abstract

Considering the importance of the 11th Sustainable Development Goal on sustainable cities and communities and the New Urban Agenda, it is imperative to address one of today's crucial urban planning challenges, which concerns overexploitation, mismanagement, and quality issues related to public parks and state-owned public open space (POS). Selecting an appropriate methodological framework to formulate a solution to cope with the encountered challenges is necessary; however, finding a suitable one is difficult as there is a lack of research, particularly on the step-by-step development of a conceptual countermeasure (solution). Against this background, we adopted the revised design science research (DSR) framework and its procedural methodology to formulate a conceptual solution, represented as an artifact, within the institutional-social-ecological context of Sabah, Malaysia. The data obtained for the development and validation of the solution were secondary, based on a review via content analysis of prior studies. The proposed conceptual artifact (self-governing collective action) based on the root causes (i.e. property rights and transaction costs issues) from the 'why' analysis was then validated via the institutional analysis and development (IAD) framework using its social-ecological system (SES) criteria. The main contribution of this study is to showcase the application and relevancy of the DSR framework for urban and environmental planning research through a problem-solution analysis by demonstrating the process of how the artifact was systematically constructed, validated and standardised. It was found that the proposed conceptual solution can be considered valid and appropriate to address the local governance issues of POS. Abstrak. Mempertimbangkan pentingnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan dan Agenda Perkotaan Baru, penting untuk mengatasi salah satu tantangan perencanaan kota yang krusial saat ini terkait dengan permasalahan eksploitasi yang berlebihan, salah kelola, dan kualitas taman maupun ruang terbuka milik publik/negara (POS). Mencari kerangka metodologi yang tepat untuk mengatasi tantangan tersebut dirasakan perlu, tetapi menemukan yang cocok masih sulit karena kurangnya penelitian, terutama tahapan dan langkah mengembangkan konsep tindakan penanggulangan. Dengan latar belakang ini, dalam konteks kelembagaan-sosial-ekologis Sabah, Malaysia, kami mengadopsi kerangka kerja Penelitian Ilmu Desain (DSR) yang telah direvisi dan metodologi proseduralnya untuk merumuskan solusi konseptual yang direpresentasikan sebagai artefak. Data yang diperoleh untuk pengembangan dan validasi solusi adalah data sekunder, berdasarkan tinjauan melalui analisis konten dari studi sebelumnya. Artefak konseptual yang diusulkan (tindakan kolektif yang mengatur diri sendiri) berdasarkan akar penyebab (yaitu, masalah hak milik dan biaya transaksi) dari analisis 'mengapa'yang  kemudian divalidasi melalui kerangka Analisis dan Pengembangan Kelembagaan (IAD) dengan menggunakan kriteria social-ecological system (SES). Kontribusi utama studi ini adalah penerapan dan relevansi kerangka DSR dalam penelitian perencanaan kota dan lingkungan melalui analisis solusi masalah, dengan menunjukkan proses bagaimana artefak dibangun, divalidasi, dan distandarisasi secara sistematis. Akhirnya, artikel ini menunjukkan bahwa solusi konseptual yang diusulkan dianggap valid dan sesuai untuk mengatasi masalah tata kelola lokal POS. Kata kunci. Ruang terbuka publik, design science research, sistem tata-kelola mandiri, ekonomi kelembagaan baru, solusi konseptual. 
Planning Approach of Kebayoran New City of Jakarta: Background and Lessons Learned Erwin Fahmi
Journal of Regional and City Planning Vol. 32 No. 1 (2021)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2021.32.1.4

Abstract

The planning of Kebayoran Baru in 1948 marked the end, and perhaps the peak, of the achievements of town planning in the Dutch East Indies. In this era, a different planning approach was applied than the one used today. This study examines that approach, the challenges it faced, and the lessons learned for current and future eras. Kebayoran Baru was meant to provide housing and office buildings in view of the expected economic growth of the colony, which had begun at the turn of the century. However, its construction was only done after World War II in the context of city reconstruction. The planning of Kebayoran Baru utilized the accumulation of knowledge concerning the principles, methods, and practice of town planning in the archipelago formulated in the third decade of the century. Instrumental to the planning of Kebayoran Baru were two prominent figures: H. Mohammad Soesilo and Thomas Karsten. Two of Karsten’s conceptual legacies that Soesilo applied in the planning of Kebayoran Baru, i.e. the concepts of ‘social mix’ and ‘organic whole’, were also relevant for post-independence Indonesia (to be).   Abstrak. Perencanaan Kebayoran Baru pada tahun 1948 menandai akhir, dan mungkin puncak, dari pencapaian tata kota di Hindia Belanda. Di era ini, pendekatan perencanaan yang diterapkan berbeda dari yang digunakan dahulu. Studi ini mengkaji pendekatan tersebut, tantangan yang dihadapinya, dan pembelajaran untuk era saat ini dan masa depan. Sejak pergantian abad, Kebayoran Baru dimaksudkan untuk menyediakan perumahan dan gedung perkantoran demi mengakomodasi pertumbuhan ekonomi koloni. Walaupun demikian, pembangunan tersebut dilakukan setelah Perang Dunia II dalam rangka rekonstruksi kota. Perencanaan Kebayoran Baru memanfaatkan akumulasi pengetahuan tentang prinsip, metode dan praktik tata kota di Nusantara yang dirumuskan pada dekade ketiga abad ini. Sosok di balik perencanaan Kebayoran Baru adalah dua tokoh penting: H. Mohammad Soesilo dan Thomas Karsten. Dua warisan konseptual Karsten yang diterapkan Soesilo dalam perencanaan Kebayoran Baru, yakni konsep 'campuran sosial' dan 'keseluruhan organik', juga relevan bagi Indonesia pasca kemerdekaan.   Kata kunci. Kebayoran Baru, pendekatan perencanaan, H. Mohammad Soesilo, Thomas Karsten
Rethinking inclusive city development amid COVID-19: the Indonesia context Giska Raissa; Filia Christy; Sandhy Sihotang; Karen Wijaya
Journal of Regional and City Planning Vol. 32 No. 1 (2021)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2021.32.1.5

Abstract

Currently, cities all over the world are experiencing pressures caused by the COVID-19 pandemic, including cities in Indonesia. Studies show that the number of poor has been increasing since the spread of COVID-19, mostly in urban areas. Recent news indicates that the pandemic has the potential to add millions of new urban poor due to the threat of future layoffs faced by low-income people. The current condition in Indonesia’s urban areas indicates exclusion of the urban poor, which underlines the need for inclusive city development. Indeed, this crisis exposes the exclusion of vulnerable people, reveals deep inequalities in society and exacerbates the existing inequality among the Indonesian population. Because of the ongoing disruptions that arise in urban areas, the COVID-19 pandemic offers the opportunity to rethink the importance of inclusive city development so that they may become thriving cities for all. Besides, this study also argues that only inclusive cities can grow and thrive under all circumstances and future challenges. This paper discusses how to transform challenges amid COVID-19 to opportunities that can promote inclusive city development.   Abstrak. Saat ini, kota-kota di seluruh dunia sedang mengalami tekanan akibat pandemi COVID-19, termasuk kota-kota di Indonesia. Studi menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin terus meningkat sejak penyebaran COVID-19 yang umumnya terjadi di wilayah perkotaan. Berita terbaru menunjukkan bahwa pandemi berpotensi menambah jutaan orang miskin baru di perkotaan akibat ancaman PHK di masa depan yang dihadapi oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Kondisi perkotaan di Indonesia saat ini menunjukkan eksklusi dari kaum miskin kota, yang menggarisbawahi perlunya pembangunan kota yang inklusif. Memang, krisis ini mengekspos pengucilan orang-orang yang rentan, mengungkapkan ketidaksetaraan yang dalam di masyarakat dan memperburuk ketimpangan yang ada di antara penduduk Indonesia. Karena gangguan yang terus menerus muncul di perkotaan, pandemi COVID-19 menawarkan kesempatan untuk memikirkan kembali pentingnya pembangunan kota yang inklusif sehingga dapat menjadi kota yang berkembang untuk semua. Selain itu, studi ini juga berkesimpulan bahwa hanya kota inklusif yang dapat tumbuh dan berkembang dalam segala situasi dan tantangan di masa depan. Makalah ini membahas bagaimana mengubah tantangan di tengah COVID-19 menjadi peluang yang dapat mendorong pembangunan kota yang inklusif.   Kata kunci. kota inklusif, pengembangan kota, COVID-19, Indonesia.
The Commuting Mode Choice of Students of Institut Teknologi Bandung, Indonesia Prawira Fajarindra Belgiawan; Raden Aswin Rahadi; Annisa Rahmani Qastharin; Lidia Mayangsari; Reza Ashari Nasution; Sudarso Kaderi Wiryono
Journal of Regional and City Planning Vol. 32 No. 2 (2021)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2021.32.2.4

Abstract

This research explored the commuting mode preferences of students living near Institut Teknologi Bandung when a new mode of transportation (i.e., carpool) is introduced to the selection list. Six alternative modes were presented: minibus, car, motorcycle, car-based ride-sourcing, motorcycle-based ride-sourcing, and carpool. The data collection process was conducted using a questionnaire-based stated-preferences survey. It included eight sets of labeled scenarios with a number of attributes: travel time, travel cost, waiting time, transfer amount, access and egress time, frequency, congestion time, baggage cost, and parking cost. A total of 1416 observations were acquired for further analysis. A mixed logit (MXL) model with random cost parameter and random error components was used. From the MXL results, we found that travel cost had no significant influence on the selection of commuting mode among students. This result was unforeseen given the characteristics of Indonesian consumers, who are notoriously sensitive to price. However, based on the results for several significant attributes of carpool as well as from the value of travel time savings and demand calculation, we suggest that carpooling is a valid alternative transport mode for campus commuting. As a pioneer study on student commuting mode selection, this study provided valid and dependable evidence on how students around ITB main campus choose their transportation methods.   Abstrak. Penelitian ini mengeksplorasi preferensi moda perjalanan pulang pergi mahasiswa yang tinggal di dekat Institut Teknologi Bandung ketika moda transportasi baru (yaitu angkutan bersama) menjadi salah satu pilihan moda. Terdata enam moda alternatif yang disajikan: angkot, mobil, sepeda motor, taksi daring, ojek daring, dan angkutan bersama. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metoda survei stated-preference berbasis kuesioner. Survei tersebut meliputi delapan skenario berlabel dengan sejumlah atribut: waktu perjalanan, biaya perjalanan, waktu tunggu, banyaknya perpindahan moda, waktu perjalanan menuju tempat angkutan umum dan waktu perjalanan menuju tempat tujuan, frekuensi kedatangan, waktu kemacetan, biaya bagasi, dan biaya parkir. Sebanyak 1416 pengamatan diperoleh untuk analisis lebih lanjut. Model mixed logit (MXL) dengan parameter biaya acak dan komponen error acak digunakan. Dari hasil MXL, kami menemukan bahwa biaya perjalanan tidak berpengaruh signifikan terhadap pemilihan moda perjalanan pulang pergi di kalangan mahasiswa. Hasil ini tidak terduga mengingat karakteristik konsumen Indonesia yang terkenal sensitif terhadap harga. Namun, berdasarkan hasil untuk beberapa atribut signifikan dari angkutan bersama serta dari nilai penghematan waktu perjalanan dan perhitungan permintaan, kami menyarankan bahwa angkutan bersama adalah moda transportasi alternatif yang valid untuk komuter kampus. Sebagai studi perintis dalam pemilihan moda perjalanan pulang pergi mahasiswa, studi ini memberikan bukti yang valid dan dapat diandalkan tentang bagaimana mahasiswa di sekitar kampus utama ITB memilih metode transportasi mereka.   Keywords. angkutan bersama, mahasiswa  ITB, mixed logit, elastisitas, nilai waktu.
A New Development Model for Traditional Craft Villages in Urban Fringes: A Case Study in Ho Chi Minh City, Vietnam Le-Minh Ngo; Trinh Duy Anh
Journal of Regional and City Planning Vol. 32 No. 2 (2021)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2021.32.2.1

Abstract

Experiencing the impacts of rapid urbanization, industrialization and modernization, traditional villages of many Asian cities face the risk of encroachment or function changes. Besides providing jobs for people in their region, traditional craft villages also bring work opportunities for migrants, materials providers, salespeople, and other ancillary service providers. In the rapid process of urban sprawl, many traditional craft villages in peri-urban areas that capture heritage values are gradually shrinking and in danger of disappearing. Therefore, an urgent concern is how to protect traditional villages and traditional residential areas threatened by urbanization. Ho Chi Minh City is a large metropolis engaged in economic, financial, trading, modern industrial, and service activities. There are still many handicraft activities in Ho Chi Minh City, especially traditional occupations, with more than 60 handicrafts distributed over 19 trade villages. Many traditional villages have been encroached and demolished to make place for new developments as a result of speedy urbanization. This paper reports a qualitative study using a mixed method, which includes literature review and comparison, mapping and observation. Based on analyzing the current situation of traditional craft villages and identifying the advantages and disadvantages of two craft village models, this paper proposes a new development model for craft villages in the urban fringes of Ho Chi Minh City.   Abstrak. Mengalami dampak urbanisasi yang cepat, industrialisasi, dan modernisasi, desa-desa tradisional di banyak kota di Asia menghadapi risiko perambahan atau perubahan fungsi. Selain menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat di suatu daerah, perkampungan kerajinan tradisional juga membuka peluang kerja bagi para pendatang, penyedia bahan, tenaga penjual, dan tenaga kerja dari jasa lain. Dalam proses urban sprawl yang pesat, banyak desa kerajinan tradisional di pinggiran kota yang menyimpan nilai-nilai heritage secara bertahap menyusut dan terancam punah. Oleh karena itu, yang menjadi perhatian mendesak adalah bagaimana melindungi desa adat dan kawasan permukiman tradisional yang terancam urbanisasi? Kota Ho Chi Minh adalah kota metropolis besar yang terlibat dengan kegiatan ekonomi, keuangan, perdagangan, industri modern, dan jasa. Masih banyak kegiatan kerajinan tangan di Kota Ho Chi Minh, terutama pekerjaan tradisional, dengan lebih dari 60 kerajinan tangan didistribusikan di 19 desa perdagangan. Banyak desa tradisional telah dirambah dan dihancurkan untuk pembangunan baru akibat urbanisasi yang cepat. Makalah ini diselesaikan dengan studi kualitatif dengan menggunakan metode campuran, termasuk tinjauan pustaka dan perbandingan, pemetaan dan observasi. Berdasarkan analisis situasi desa kerajinan tradisional saat ini, mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari kedua model desa kerajinan, studi ini mengusulkan model pengembangan baru untuk desa kerajinan di pinggiran kota Kota Ho Chi Minh.   Kata kunci. model pembangunan baru, desa kerajinan tradisional, urbanisasi, pinggiran kota, Kota Ho Chi Minh.

Page 47 of 102 | Total Record : 1015


Filter by Year

1990 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 2 (2025) Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol 30, No 3 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol 29, No 3 (2018) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol 28, No 3 (2017) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 3 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol 26, No 3 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol 25, No 3 (2014) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol 24, No 3 (2013) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol 22, No 3 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol 21, No 3 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol 19, No 3 (2008) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol 18, No 3 (2007) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol 17, No 3 (2006) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol 16, No 3 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol 14, No 3 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol 12, No 4 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 3 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol 9, No 2 (1998) Vol 8, No 3 (1997) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol 7, No 22 (1996) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol 6, No 19 (1995) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol 5, No 16 (1994) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 11 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 9 (1993) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4 (1992) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol 3, No 3 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol 2, No 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan More Issue