cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 1,015 Documents
Reduksi Panjang Perjalanan Sebagai Implikasi Pemanfaatan Fasilitas Pendidikan Sekolah Dasar Terdekat dari Tempat Tinggal Mariana Ilyani
Journal of Regional and City Planning Vol. 23 No. 3 (2012)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2012.23.3.3

Abstract

Kemacetan sebagai permasalahan utama transportasi, terjadi karena pergerakan masyarakat pada lokasi/rute dan waktu yang sama yang tidak terlayani oleh sistem jaringan yang ada. Pergerakan sekolah terjadi karena kebutuhan terhadap pendidikan belum dapat dipenuhi di tempat mereka berada pada saat ini, sehingga pergerakan tersebut turut berkontribusi terhadap terjadinya kemacetan di Kota Bandung. Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui besarnya reduksi panjang perjalanan ke sekolah dasar apabila masyarakat Kota Bandung memilih sekolah dasar yang berada dalam area walking distance. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis peramalan dan analisis perhitungan biaya pergerakan sekolah sebagai implikasi dari reduksi panjang perjalanan. Analisis peramalan menggunakan metode yang dikemukakan oleh Mokhtarian yang menggunakan persamaan T = E x A x W x C untuk menghitung tingkat kesediaan masyarakat dalam memilih sekolah dasar terdekat. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sekolah favorit bertempat tinggal lebih jauh dari jarak berjalan kaki yang disarankan karena kualitas pelajaran dan pengajaran yang diberikan oleh sekolah mereka saat ini lebih baik daripada sekolah terdekat.Kata kunci: fasilitas sekolah dasar, jarak berjalan kaki, reduksi panjang perjalanan Congestion is major transportation problems, occurs due to movement of people on the same site/route and times is not served by the existing network system. School movement occurs because of the need for education can not be met where they are at the moment so the movement contributed to occurrence of congestion in Bandung city. The purpose of this article is to know the size reduction of trip length to school when Bandung city choose elementary schools that are within walking distance area. The analytical method used is forecasting and analytical methods of analysis costing school movement as the implications of trip length reduction. Forecasting analysis using the method proposed by Mokhtarian using the equation T = E x A x W x C to calculate the level of community willingness in choosing a nearby elementary school. This article shows that most favorite school students residing further than the recommended walking distance because the quality of learning and teaching provided by their current school better than the nearest school.Keywords: primary school facilities, walking distance, the length of the trip reduction
Analisis Biaya Manfaat Sosial Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Gedebage Bagi Masyarakat Sekitar Murni Rahayu Purwaningsih
Journal of Regional and City Planning Vol. 23 No. 3 (2012)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2012.23.3.4

Abstract

Sebagai solusi atas permasalahan volume sampah yang kian meningkat, ketiadaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), dan keterbatasan lahan sebagai lahan TPA di Kota Bandung, Pemerintah Kota Bandung merencanakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Namun. banyak masyarakat yang menolak dengan alasan timbulnya dampak lingkungan yang membahayakan, tetapi banyak juga masyarakat yang mendukung dengan alasan PLTSa Gedebage merupakan solusi permasalahan persampahan di Kota Bandung. Untuk dapat mengetahui dampak positif (manfaat) serta dampak negatif (biaya) yang ditimbulkan dari keberadaan PLTSa Gedebage, dilakukan analisis biaya manfaat sosial PLTSa Gedebage bagi masyarakat sekitar. Sebagai acuan penentuan variabel biaya dan manfaat sosial PLTSa Gedebage dalam studi ini, digunakan variabel biaya manfaat keberadaan PLTSa yang diperoleh dari hasil telaah referensi dan juga hasil survei primer ke sekitar lokasi PLTSa Bantargebang. Dari hasil studi dapat disimpulkan bahwa untuk masyarakat yang berada di sekitar PLTSa, Gedebage, dimana PLTSa Gedebage (incinerator) dibangun dari tahun 2011 hingga batas waktu berakhir pada tahun 2032, lebih banyak menimbulkan dampak negative daripada positifnya. Secara ekonomi, PLTSa Gedebage dengan teknologi pirolisis akan lebih menguntungkan ketika dilihat dari lingkungan. PLTSa Gedebage dengan teknologi gasifikasi menjadi pilihan yang lebih baik.Kata kunci: persampahan, dampak, analisis biaya manfaat sosial, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) As a solution for problems of increasing waste volumes, the absence of end processing site (TPA), and the limitations of the land as a landfill in the city of Bandung, Bandung City Government is planning to build a Power Plant Waste (PLTSa). But many people reject the reason for the harmful environmental impact, but also a lot of people support on the grounds PLTSa Gedebage a solution to the problems of solid waste in the city of Bandung. To be able to find positive effects (benefits) and negative (costs) arising from the existence of PLTSa Gedebage, social cost benefit analysis PLTSa Gedebage to the surrounding community. . As a reference variable determining the social costs and benefits PLTSa Gedebage in this study, used the variable cost benefit existence PLTSa obtained from the study of reference and also to the primary survey around the site PLTSa Bantargebang. From this study, it was concluded that for the people around PLTSa Gedebage, where PLTSa Gedebage (the incinerator) starting from the construction in 2011 until its lifetime expires in 2032, more negative impact (cost) than positive impacts (benefits). Economically, PLTSa Gedebage with pyrolysis technology will be more profitable, when viewed in the environment, PLTSa Gedebage with gasification technology to be a better choice.Keywords: waste, impact, cost benefit analysis of social, Power Plant Waste (PLTSa)
Pemodelan Dampak Pembangunan Jembatan Batam-Bintan Terhadap Dinamika Kependudukan, Ekonomi, Dan Guna Lahan Batam dan Bintan Tengku Munawar Chalil
Journal of Regional and City Planning Vol. 23 No. 3 (2012)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2012.23.3.5

Abstract

Kota Batam dan Kabupaten Bintan merupakan wilayah perdagangan dan kepelabuhanan bebas yang dipersiapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi utama Kepulauan Riau. Kota Batam terus berkembang dengan pesat namun keterbatasan lahan dan kurangnya akses ke wilayah hinterland menjadi masalah dalam perkembangannya. Oleh karena itu untuk menjawab masalah tersebut, direncanakan pembangunan jembatan Batam-Bintan dengan tujuan pemerataan pembangunan antara wilayah Kota Batam dan Kabupaten Bintan. Ada dua skenario untuk melihat dampak jembatan Batam-Bintan. Pada skenario pertama, Kota Batam berkembang dengan pesat namun pada akhir simulasi pertumbuhannya melambat dikarenakan keterbatasan lahan menyebabkan daya dukung lahan Kota Batam menurun. Sementara Kabupaten Bintan berkembang dengan pelan hingga 25 tahun kemudian pertumbuhannya belum mampu setara dengan Kota Batam saat ini. Pada skenario kedua, perilaku model dinamis Batam dan Bintan dengan pembangunan jembatan Batam-Bintan memperlihatkan dampak jembatan Batam-Bintan, ada tiga efek yaitu multiplier effect, spin-off effect dan spill-over effect. Masing-masing efek memberikan dampak positif pada Kota Batam dan Kabupaten Bintan. Pada skenario ini Kota Batam masih dapat berkembang dan laju pertumbuhan Kabupaten Bintan meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan tanpa pembangunan jembatan Batam-Bintan.Kata kunci: kependudukan, ekonomi, guna lahan Batam city and Bintan regency is a free trade area and port prepared to become a major economic growth center of Riau Islands. Batam city continues to grow rapidly, but limited space and lack of access to the hinterland became development problem. Therefore, to address the issue Batam-Bintan bridges development planned with the goal of equitable development between Batam city and Bintan regency. There are two scenarios to see the impact of Batam-Bintan bridges. First scenario, Batam city is growing rapidly but growth slowed at the end of the simulation due to limited land causing Batam city carrying capacity decreases. While Bintan regency develops slowly up to 25 years then its growth has not been able to equal the current Batam. Second scenario, the behavior of dynamic models of Batam and Bintan with the development of Batam-Bintan bridges showing the impact of Batam-Bintan bridges, there are three effects, multiplier effect, spin-off effect and spill-over effect. Each of these effects has a positive impact on the city of Batam and Bintan regency. In this scenario, the City of Batam can still developing and Bintan regency growth rate increased 2-3 times compared without development of Batam-Bintan bridges.Keywords: population, economy, land use
Dampak Ekonomi Pengembangan Kawasan Ekowisata Kepulauan Seribu Hanny Aryunda
Journal of Regional and City Planning Vol. 22 No. 1 (2011)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2011.22.1.1

Abstract

Kepulauan Seribu memiliki kekayaan bahari yang berlimpah ruah sehingga menjadi salah satu atraksi wisata bagi para wisatawan. Kegiatan ekowisata tentu menghasilkan dampak bagi daerah lokalnya. Hal ini yang menjadi tujuan dalam penelitian ini, yaitu mengidentifikasi dampak ekowisata yang terjadi di wilayah tujuan wisata Kepulauan Seribu, terutama dampak ekonomi. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara langsung ke masyarakat, instansi pemerintah, wisatawan, dan tokoh masyarakat. Dari penelitian ini diketahui bahwa secara umum ekowisata yang terjadi di Kepulauan Seribu menyebabkan dampak ekonomi yang positif bagi pengembangannya. Pernyataan masyarakat mengindikasikan terjadinya peningkatan dari segi pendapatan dan/atau usaha yang berkaitan dengan kegiatan ekowisata di Kepulauan Seribu. Selain itu, kegiatan ekowisata menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup besar bagi masyarakat lokal maupun masyarakat di luar wilayah Kepulauan Seribu. Peningkatan pendapatan juga terjadi pada penerimaan daerah, terutama dari sektor perdagangan, hotel dan restoran. Perlu adanya pembenahan terhadap objek ekowisata dan pelatihan terhadap masyarakat lokal mengenai ekowisata yang berlangsung di daerahnya untuk meningkatkan minat dan daya tarik wisatawan untuk meningkatkan ekonomi lokal wilayah Kepulauan Seribu.Kata kunci: ekowisata, dampak ekonomi, peningkatan pendapatan, ketenagakerjaan, pendapatan pemerintah Kepulauan Seribu has abundant marine wealth to become one of the tourism attractions for tourists. Ecotourism activities would result in impacts to the local area. It is the goal in this study, namely to identify the impact of eco-tourism in the Kepulauan Seribu tourism destination region, especially the economic impact. Primary data obtained through observations and interviews directly to the public, government agencies, tourists, and community leaders. From this research is generally known that ecotourism is happening in the Thousand Islands led to a positive economic impact for its development. Public statements indicate an increase in terms of income and / or businesses associated with tourism activities in the Kepulauan Seribu. In addition, ecotourism activities provide significant employment for local people and communities outside of the Kepulauan Seribu region. Increased revenues also occur in the reception area, especially from trade, hotels and restaurants. It needs a revamping of the ecotourism attraction and training of local people about the ongoing eco-tourism in the region to increase interest and tourist attraction to boost the local economy of Kepulauan Seribu region.Keywords: ecotourism, economic impacts, increased income, employment, government revenues
Pengaruh Iklim dan Perubahannya Terhadap Destinasi Pariwisata Pantai Pangandaran Titania Suwarto
Journal of Regional and City Planning Vol. 22 No. 1 (2011)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2011.22.1.2

Abstract

Perubahan iklim global diperkirakan akan mempengaruhi penawaran dan permintaan pariwisata di Kawasan Pantai Pangandaran. Dari segi penawaran, perubahan iklim diprediksi akan mengakibatkan kerusakan sumber daya alam dan budaya yang menjadi produk utama pariwisata. Sedangkan, dari sisi permintaan, perubahan iklim akan memengaruhi pola kunjungan wisatawan serta persepsi dan preferensi wisatawan. Studi ini bertujuan untuk menemukenali pengaruh dari iklim dan perubahannya terhadap destinasi pariwisata Pantai Pangandaran, khususnya pada perubahan kondisi fisik (lingkungan) daya tarik wisata serta pola kunjungan, persepsi, dan preferensi wisatawan. Penelitian ini mencoba mengidentifikasi dampak potensial dari perubahan iklim terhadap variabel penawaran (supply) dan permintaan (demand) dalam sektor pariwisata. Pengidentifikasian dampak perubahan iklim terhadap variabel penawaran (supply) dapat dilihat dari dampak potensial yang ditimbulkan perubahan iklim pada kondisi fisik daya tarik wisata yang berimplikasi pada perubahan pengelolaan destinasi pariwisata. Sedangkan, pengidentifikasian dampak perubahan iklim terhadap variabel permintaan (demand) dapat dilihat melalui pengidentifikasian relevansi faktor iklim sebagai faktor penarik suatu destinasi pariwisata.Kata kunci: perubahan iklim, destinasi, permintaan, penawaran Global climate change is expected to affect the supply and demand for tourism in Pangandaran beach area. In terms of supply, climate change is predicted to result in damage to natural resources and cultural tourism as its main product. Meanwhile, from the demand side, climate change will affect the pattern of tourist arrivals, perceptions and preferences. This study aims to identify the influence of climate change on Pangandaran beach tourism destinations, especially on changes in physical conditions (environment), tourists' attraction, as well as visit patterns, perceptions, and preferences of tourists. This study sought to identify potential impacts of climate change on supply variables and demand in the tourism sector. Identifying the impacts of climate change on supply variables can be seen from the potential impacts of climate change posed to the physical condition that implicates a major tourist attraction in tourism destination management changes. Meanwhile, identification of climate change impacts on the variable demand can be seen by identifying relevance of climatic factors as a tourism destination pull factors.Keywords: climate change, destination, demand, supply
Potensi Wisata Agro Kabupaten Bandung Berdasarkan Aspek Permintaan dan Penawaran Silvia Puspitasari
Journal of Regional and City Planning Vol. 22 No. 1 (2011)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2011.22.1.3

Abstract

Salah satu penghasil pertanian terbesar di Jawa Barat, bahkan di Indonesia adalah Kabupaten Bandung. Kabupaten Bandung juga telah menetapkan sembilan kawasan wisata agro melalui RIPPDA No 6 tahun 2006-2016, yaitu Desa Alamendah, Desa Panundaan, Desa Ciwidey, Desa Pasirjambu, Desa Sukawening, Desa Nengkelan, Desa Rawabogo, Desa malabar dan Pangalengan. Kawasan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu tujuh kawasan yang tergabung dalam Kawasan Agropolitan Ciwidey dan terletak pada satu jalur pariwisata Soreang-Patengan. Penelitian ini bertujuan melihat potensi yang dapat dikembangkan di tujuh desa untuk menjadi destinasi wisata agro. Potensi yang diteliti meliputi penawaran (supply) dan permintaan (demand). Penawaran yang diteliti mencakup daya tarik alam, budaya dan khusus, selain daya tarik alam , ditinjau pula sarana dan prasarana serta aksesibilitas yang mencakup akses menuju kawasan dan akses di dalam kawasan. Sedangkan permintaan mencakup pola perjalanan, karakteristik wisatawan dan kebutuhan wisatawan akan wisata agro di Kabupaten Bandung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, tujuh kawasan yang ditetapkan oleh RIPPDA memiliki potensi pertanian yang melimpah dan beragam, sehingga memiliki peluang besar dalam pengembangan wisata agro.Kata kunci: Wisata Agro, Kabupaten Bandung, penawaran, permintaan One of the largest agricultural producers in West Java, even in Indonesia is Bandung Regency. Bandung Regency has set nine agro tourism areas through RIPPDA No. 6 of 2006-2016, Alamendah Village, Panundaan Village, Ciwidey Village, Pasirjambu Village, Sukawening Village, Nengkelan Village, Rawabogo Village, Malabar and Pangalengan Village. The area studied in this research that is incorporated in the seven areas Agropolitan Ciwidey area and is located on line-patengan Soreang tourism. This study aims to see the potential that can be developed in seven villages to become agro tourism destinations. Studied include the potential supply and demand. Studied supply includes natural attractions, cultural and special, in addition to natural attractions, also reviewed the accessibility of facilities and infrastructure and that includes access to the area and access in the region. While the demand include travel patterns, traveler characteristics and needs of tourists in the agro-tourism in Bandung regency. This study shows that in general, the seven regions defined by RIPPDA has abundant agricultural potential and diverse, so have a great chance in the development of agro tourism.Keywords: Agro Tourism, Bandung Regency, supply, demand
Pengembangan Masyarakat Untuk Pariwisata di Kampung Wisata Toddabojo Provinsi Sulawesi Selatan Andi Maya Purnamasari
Journal of Regional and City Planning Vol. 22 No. 1 (2011)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2011.22.1.4

Abstract

Keberadaan Kampung Toddabojo di jalur wisata Makassar-Tana Toraja di Km 175 dan berjarak 25 Km dari pelabuhan laut Pare Pare merupakan alternatif bagi wisatawan karena memiliki potensi agro wisata dan sekaligus potensi desa wisata. Tantangan utama adalah belum adanya kapasitas yang cukup pada masyarakat untuk secara mandiri dapat mengelola pembangunan di daerahnya termasuk pembangunan Pariwisata. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kampung Toddabojo melalui konsep pemberdayaan masyarakat pada umumnya. Dengan produk wisata yang ditawarkan, maka arahan yang paling tepat adalah mengangkat karakter asli Kampung Toddabojo dalam strategi pengembangan produk wisatanya, dan kemudian disusun kerangka pengembangannya, sehingga kegiatan pariwisata di Kampung Toddabojo dapat menjadi bentuk pariwisata yang berkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut peningkatan kualitas masyarakat harus menjadi perhatian utama, agar masyarakat mampu menciptakan produk-produk kepariwisataan yang mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif di pasar internasional sehingga mampu meningkatkan dan mewadahi potensi masyarakat dan potensi pariwisata di Kampung Toddabojo untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang selama ini mengandalkan pendapatan dari sektor pertanian.Kata kunci: pariwisata, pengembangan masyarakat, Kampung Toddabojo The existence of Kampung Toddabojo in Makassar-Tana Toraja tourist route at Km 175 and within 25 Km from the sea port of Pare Pare is an alternative for tourists because it has the potential of agro-tourism and rural tourism potential as well. The main challenge is the absences of sufficient capacity in the community to be able to independently manage the development in the area, include the development of tourism. This study aims to identify ways of improving the welfare of society through the concept of empowerment Toddabojo village society in general. With the tourism products on offer, then the most appropriate referrals are the original character of the village raised Toddabojo in tourism product development strategy, and then compiled development framework, so that tourism activities in Kampung Toddabojo can be a form of sustainable tourism. To support this public improvement should be a major concern, so that people are able to create tourism products that have competitive and comparative advantage in international markets so as to enhance and facilitate the potential for community and tourism potential in Kampung Toddabojo to improving the welfare of the community that has relied income from agriculture.Keywords: tourism, society development, Kampung Toddabojo
Adaptasi Konsep Water Sensitive Urban Design (WSUD) Di Kawasan Cagar Budaya Kota Lama Semarang Aurora Dias Lokita
Journal of Regional and City Planning Vol. 22 No. 1 (2011)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2011.22.1.5

Abstract

Keberadaan Kota Lama Semarang sebagai cagar budaya di Kota Semarang semakin mengkhawatirkan karena adanya persoalan banjir yang disebabkan oleh air pasang maupun curah hujan yang tinggi. Konsep Water Sensitive Urban Design (WSUD) merupakan suatu pendekatan rancang kota dan merupakan bagian dari konsep infrastruktur hijau yang diidentifikasi dapat mengurangi persoalan banjir. Penelitian ini bertujuan mengkaji peluang dan prinsip penerapan konsep WSUD untuk kawasan cagar budaya Kota Lama Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konsep WSUD dapat diterapkan pada Kota Lama Semarang dengan prinsip-prinsip penerapan yang terbatas. Dalam penerapan WSUD, harus dipertimbangkan komponen rancang kota yang meliputi internal dan eksternal kapling, kondisi fisik kawasan meliputi kapabilitas lahan, tata guna lahan dan ketentuan serta perundangan yang terkait preservasi Kota Lama Semarang. Prinsip utama untuk Kota Lama Semarang yaitu penerapan konsep WSUD tidak boleh merusak fasade bangunan, mengintegrasikan komponen internal dan eksternal kapling untuk menahan air, menambah luas lahan yang tidak diperkeras, mengurangi penggunaan material perkerasan, merancang ulang ruang terbuka agar dapat menampung air dan menggunakan wadah-wadah penampungan air.Kata kunci: Kota Lama Semarang, WSUD, manajemen air The existence of the Kota Lama Semarang as a culture heritage in Semarang City is increasingly worrisome because of the problems caused by tidal flooding and heavy rainfall. The concept of Water Sensitive Urban Design (WSUD) is an approach to urban design and is part of the concept of green infrastructure that can lessen the problem of flooding identified. This study aims to assess the opportunities and the principles of WSUD for application of the concept of cultural heritage of the Kota Lama Semarang. The results showed that the concept of WSUD can be applied to the Kota Lama Semarang with the principles of limited applicability. In the application of WSUD, should be considered components of urban design which includes internal and external plots, including the physical condition of the land capability, land use laws and regulations related to Kota Lama Semarang preservation. The main principles for Kota Lama Semarang is the application of WSUD concept should not damage the building fasade, integrating internal and external components plot of land to retain water, increase the area of land that is not paved, reducing the use of paving materials, redesign of open space that can hold water and using water storage containers.Keywords: Old City of Semarang, WSUD, water management
Kinerja Usaha Mikro Kerajinan Pasca Bencana di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis Zulangga Utama Fahren
Journal of Regional and City Planning Vol. 22 No. 2 (2011)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2011.22.2.1

Abstract

Pangandaran yang menjadi salah satu pariwisata andalan Jawa Barat seketika berubah akibat peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006, yang mengakibatkan banyak kerusakan di kawasan ini. Sebagai akibatnya terjadi penurunan drastis jumlah wisatawan. Hal ini berdampak terhadap usaha mikro kerajinan yang ada di Pangandaran. Kebangkitan usaha mikro kerajinan sangat penting untuk mendukung pengembangan ekonomi lokal pasca bencana. Diperlukan penelitian untuk mengkaji seberapa jauh usaha mikro kerajinan dapat memulihkan diri. Pemulihan usaha diperlihatkan melalui kajian kinerja yang tepat untuk menilai usaha mikro secara rinci dan komprehensif. Kajian kinerja mencakup tiga fase yaitu sebelum tsunami, sekarang, dan sesudah tsunami. Penelitian ini membandingkan kinerja di tiga fase tersebut, sehingga dapat terlihat apakah terjadi peningkatan kinerja atau penurunan. Setelah dilakukan penelitian, maka didapatkan hasil bahwa usaha mikro kerajinan telah mengalami pemulihan yang signifikan yang dapat dilihat dari peningkatan kinerja. Peningkatan terjadi pada tahun 2007 walaupun sedikit dan mengalami peningkatan pesat pada tahun 2010.Kata kunci: Tsunami, Usaha Mikro Kerajinan, Pengembangan Ekonomi Lokal, Kinerja dan Pemulihan. Pangandaran is one of the mainstays of tourism in West Java instantaneous change due to the earthquake and tsunami events that occurred on July 17, 2006, which resulted in a lot of damage in this region. As a result of the disaster, there was a drastic decline in tourists. This has an impact on the existing craft micro-enterprises in Pangandaran. Resurgence of micro craft is very important to support local economic development after the disaster. Research is needed to assess how far the craft micro-enterprise can recover. Recovery effort demonstrated by appropriate studies to assess the performance of micro business in detail and comprehensively. Performance review includes three phases; before the tsunami, now, and after the tsunami. This study compares the performance in three phases, so as to be seen whether an increase or decrease of performance. After doing research, it showed that micro-craft has undergone a significant recovery that can be seen from the increase in performance. The increases occurred in 2007, although slightly and have increased rapidly in 2010.Keywords:   Tsunami,    Micro    Craft,   Local   Economic   Development,    Performance   and Restoration
Fungsi Kelompok Usaha dalam Kegiatan Ekonomi Pasca Bencana Di Pangandaran trie Agustiyo
Journal of Regional and City Planning Vol. 22 No. 2 (2011)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2011.22.2.2

Abstract

Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda Pangandaran pada tanggal 17 Juli 2006 menyebabkan 202 toko dan kios cenderamata hancur. Nilai kerugian bangunan dan modal usaha mencapai 9,8 miliar Rupiah. Himpunan Pengrajin Pangandaran (HPP) sebagai salah bentuk implementasi Program Pemberdayaan Nelayan Pangandaran (PPNP) telah dijalankan sejak tahun 2007 memberikan perhatian kepada pengembangan usaha kerajinan Pangandaran. Kelompok tersebut merupakan bentuk perencanaan bottom-up yang memberdayakan masyarakat, sehingga perencanaan dapat diarahkan sesuai kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dan sejauh apa fungsi HPP bagi pemulihan usaha anggotanya. Fungsi yang dimaksud meliputi fungsi tanggap darurat, pengorganisasian, produksi, pembiayaan, pemasaran dan peningkatan kapasitas. Sampai saat ini peran yang paling menonjol oleh HPP hanya terbatas pada pengorganisasian saja. Kuatnya pengorganisasian yang ada di HPP ini tidak diikuti dengan strategi pengembangan usaha dan kelompok yang baik. Oleh karena itu, HPP perlu meningkatkan daya kompetitif melalui perluasan pemasaran, pencarian alternatif pemasok bahan baku, inovasi secara kolektif, perbaikan hubungan dengan Disperindag dan Kelompok Studi dan Pengembangan Institusi (KSPI) dan menjadi kekuatan pengembangan ekonomi lokal di Pangandaran.Kata kunci: Tsunami, Himpunan Pengrajin Pangandaran (HPP), Pangandaran, fungsi HPP Events of the earthquake and tsunami that hit Pangandaran on July 17, 2006 led to 202 shops and souvenir stalls were destroyed. The value of buildings and capital losses reached 9.8 billion Rupiah. Pangandaran Craftsmen Association (HPP) as one form of implementation of the Fisherman's Empowerment Program Pangandaran (PPNP) has been run since 2007 to give attention to the development of Pangandaran craft. The group is a form of bottom-up planning that empowers people so that planning can be directed according to community needs. This study aims to see how and to what extent the function of HPP for the recovery of its members. Functions would include emergency response functions, organization, production, financing, marketing and capacity building. Until now the most prominent role by HPP is limited to organizing it. Strong organization at HPP is not followed by the business development strategy and a good group. HPP therefore need to increase the competitive power through the expansion of marketing, the search for alternative suppliers of raw materials, collective innovation, and improved relations with Disperindag KSPI and the strength of local economic development in Pangandaran.Keywords: Tsunami, Himpunan Pengrajin Pangandaran (HPP), Pangandaran, HPP function

Page 58 of 102 | Total Record : 1015


Filter by Year

1990 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 2 (2025) Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol 30, No 3 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 3 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol 28, No 3 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 3 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol 26, No 3 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol 25, No 3 (2014) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol 24, No 3 (2013) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol 22, No 3 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol 21, No 3 (2010) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol 19, No 3 (2008) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol 18, No 3 (2007) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol 17, No 3 (2006) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol 16, No 3 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol 14, No 3 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol 12, No 4 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 3 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol 9, No 2 (1998) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol 8, No 3 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol 7, No 22 (1996) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol 6, No 19 (1995) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol 5, No 11 (1994) Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 9 (1993) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol 3, No 4 (1992) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 3 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol 2, No 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan More Issue