cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 1,011 Documents
Sistem Informasi Perkotaan: Bagian Dari Manajemen Perkotaan Roos Akbar
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada saat ini, peran komputer dalam perencanaan kota relatif kurang dibandingkan dengan penggunaannya pada disiplin lain seperti pada bussiness dan engineering (TAJ. Kim, L.L. Wiggins, J.R. Wright, 1990). Lebih banyak buku mengenai sistem informasi untuk akuntansi dibandingkan untuk perencanaan perkotaan. Sebagai salah satu kemungkinan penjelasannya, Dueker (1982) mengutip bahwa the distinctive nature of data used in urban planning-public goods and services- is that they are indivisibie and therefore more difficult to describe discretely for computer processing (Sang Yun Han, Tschangho John Kim, 1990).Namun dengan perkembangan Sistem informasi Geografis yang berbasiskan komputer lebih dari 25 tahun yang lalu yang kemudian lebih berkembang pesat pada 10 tahun terakhir ini (Roos Akbar, 1993) menyebabkan penggunaan komputer dalam perencanaan menjadi semakin penting dan juga semakin mendesak. Bukan hanya paket-paket analisis numerical (kuantitatif) seperti SPSS, Alloc, Statgraf dan sebagainya, namun penggunaan komputer untuk pemetaan dan analisis keruangan menjadi mutlak. Bukan hanya karena kecepatan dalam proses perhitungan dan analisis, tetapi juga karena konsistensi data yang tersimpan dapat terjaga, proses monitoring dan updating yang mudah dan juga karena kemampuannya dalam menggabungkan dan mengolah data dalam jumlah yang besar.Perencanaan kota yang pada dasawarsa 70-80-an lebih menitikberatkan pada perencanaan yang 2 dimensi, pada dasawarsa 5363-an ini dihadapkan pada masalah pengembangan atau manajemen perkotaan. Perencanaan yang dulu lebih dititikberatkan pada aspek fisik semata dirasakan kurang dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara spesifik oleh suatu kota, termasuk didalamnya kekurangmampuan dalam menggali dan mengembangkan produktivitas perkotaan. Pertumbuhan kota-kota besar yang cenderung semakin meluas bukan lagi merupakan isyu terhadap besaran kota yang optimum, tetapi lebih bergeser pada aspek manajemen perkotaan.Salah satu bagian terpenting dalam manajemen perkotaan adalah data atau informasi yang dapat menggambarkan keseluruhan kinerja dari suatu perkotaan, sehingga keputusan yang diambil atau kebijaksanaan yang akan diterapkan pada kota tersebut sudah memperhitungkan semua informasi yang ada dan benar. Sistem informasi Perkotaan kemudian. menjadi suatu solusi yang dapat diandalkan untuk menggabungkan antara kecepatan perkembangan kemampuan komputer dalam perencanaan kota baik dari segi analisis numerik maupun analisis keruangan dengan tuntutan untuk dapat melihat aspek perkotaan secara utuh dan lengkap dalam manajemen perkotaan.
Pola Perkembangan Permukiman Koridor Jakarta-Surabaya Deddy S. Bratakusumah; Leroy Samy Uguy
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah koridor antara Kota Jakarta dan Surabaya "dalam kedudukan dan peranannya yang sangat strategi boleh dikatakan sebagai pita pertumbuhan utama Jawa, bahkan boleh jadi Indonesia. Kerap pula, wilayah koridor berporoskan jalan arteri yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya itu disebut sebagai jalur (pertumbuhan) ekonomi.Kepadatan lalu lintas, khususnya arus pergerakan barang, mencerminkan betapa pesat perkembangan wilayah sepanjang koridor tersebut. Pengaruh arus pergerakan yang padat dan ramai tersebut terhadap wilayah sekitarnya sungguh sangat kentara secara fisik, dan terejawantahkan pada pertumbuhan permukiman yang dapat diamati secara kasat mata.Jika dicermati, maka permukiman yang tumbuh dan berkembang di belahan utara Pulau Jawa itu berpola linier, dan menjadikan jalan arteri penghubung Jakarta dan Surabaya sebagai orientasinya. Perumahan, fasilitas umum dan pelayanan serta kegiatan ekonomi jelas-jelas "menghadap" dan memanfaatkan pengaruh arus pergerakan Jakarta-Surabaya sebagai daya bertumbuhnya.Kepesatan laju perkembangan permukiman di wilayah koridor Jakarta-Surabaya itu ternyata menghadirkan pula sejumlah perSoalan. Pertentangan kepentingan dalam pemanfaatan lahan antara sektor pertanian dengan kawasan permukiman, misalnya, diantisipasikan dapat "mengganggu" swasembada pangan. Juga persoalan sosial budaya maupun lingkungan kian menggejala, tercermin dari masih bertebarannya permukiman kumuh, misalnya.Pada gilirannya, perkembangan permukiman yang pesat itu menuntut sikap arif dalam menyiasati berbagai masalah serta dampak yang tidak dikehendaki. Paparan dalam tulisan ini didasarkan pada pengamatan visual semata, namun diharapkan dapat memberikan pemikiran awal serta merangsang kajian lebih lanjut. 
Masalah Pengembangan Kota Baru di Indonesia Tommy Firman
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9 (1993)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
Perkembangan Kota Baru Djoko Sujarto
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9 (1993)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai suatu kota, perwujudan "kota lama' "”kota yang sudah tumbuh dan berkembang"” dengan 'kota baru' "”kota yang direncanakan dan dibangun baru secara utuh dan lengkap "” pada hakekatnya sama saja. Keduanya mempunyai batasan dan pematakan yang sama (Von Hertzen, Spreiregen, 1978).Namun demikian, sejak awal dikembangkannya kota baru, maka dari segi istilah, kriteria, pola kehidupan serta dampak sosial-budaya, sosial"”ekonomi dan tisiogralis, kota baru ditampilkan sebagai wujud tersendiri yang mempunyai pengertian, batasan serta perwatakan yang dibedakan dengan kota lama.Kenyataan itu dapat dibuktikan dengan luas dan berkembangnya wawasan serta sorotan terhadap masalah, tata laku dan peri kehidupan "kota baru' sebagai wujud wadah kehidupan perkotaan yang sejak pemikiran pengembangannya, erencanaannya, pengisian dan perkembangannya kemudian mempunyai ciri"”ciri tersendiri. Wawasan ter adap pengertian, batasan serta perwatakan 'kota baru' yang dikemukakan para pakar mencakup kota-kota baru yang direncanakan dan dikembangkan sejak masa silam, khususnya sejak kebangkitan peradaban budaya Masa Yunani Kuno (Gideon Golany 1976).Wawasan selanjutnya yang berkaitan erat dengan pertumbuhan kota"”kota baru modern selalu dikaitkan dengan konsep pemikiran kota baru yang dikembangkan sejak dikenalnya iilsafat perencanaan modern yang dimulai akhir abad ke 19, yaitu sejak dicetuskannya konsepsi 'Garden City' oleh Ebenezer Howard di inggris (A.C. Duff, 1964).Sebagai suatu 'konsepsi', kota baru kemudian dianggap merupakan salah satu cara dalam pemecahan masalah perumahan dan permukiman kota. Konsepsi dasar mengenai 'kota baru' yang pada awalnya dikembangkan di inggn's tersebut telah berkembang menjadi landasan pemikiran konsepsual untuk memecahkan masalah perumahan dan permukiman kota di belahan bumi lainnya.Demikian spesifik dan tipikainya perilaku 'kota baru' ini, sehingga pengertian, batasan dan perwatakannya telah mengalami perkembangan yang tipikal untuk setiap negara. Berbagai literatur memberikan wawasan yang seolah bersifat 'khas' dari berbagai sudut pandang (ond Rodwin, 1964," Jorge E. Hardoy, 1964; William A. Robson, 1964; Peter Hall, 1980).Secara geografis misalnya, dikenal wawasan tipikal tentan 'Kota Baru lnggn's' (Britain's New Towns); 'Kota Baru Amerika' (American New Towns); 'Kota Baru Eropa'( uropean New owns), bahkan juga berkembang wawasan mengenai kota baru di negara dunia kati a, seperti 'Latin American New Towns'; African New Towns' dan 'Asian New Towns'. Secara subtantif, ' oia baru' mempunyai watak yang tipikal dalam segi kehidupan perekonomian, sosial-budaya serta perwatakan pola fisiknya (Boleslaw Malisz, 1970; Athens Technological institute, 1965).Di indonesia, konsepsi 'kota baru' juga dikenal meski relatif baru diperkenalkan sejak awal penerapan rkonsepsi perencanaan kota modern" sekitar awal abad ke 20. Penerapan konsepsi 'kota baru modem' yang n ata baru dimulai sekitar dekade 1950-an, se erti Kota Baru Kebayoran di sebelah selatan Jakarta atau ola Baru Banjarbaru di sebelah tenggara anjarmasin atau Kota Baru Palangkaraya di Kalimantan Tengah.Konsepsi 'kota baru' sampai saat ini telah mengalami perkembangan di negara kita, sebagai salah satu acara dalam mengupayakan pemecahan masalah perumahan dan permukiman kota (Repelita IV, 1983-1988).Pemikiran yang kelak akan menjadi dasar pengembangan pola "kota baru' di indonesia merupakan"tantangan" yang sangat esensial, Untuk memperoleh rentang wawasan 'kota baru', maka pengenalan dan pemahaman tentang pengertian, batasan dan pematakan 'kota baru' akan menjadi landasan dalam upaya pengembangan kota"”kota baru di Indonesia.
Pengembangan Kota Baru di Indonesia Mochtarram Karyoedi
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9 (1993)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah utama dalam pembangunan tata ruang di Indonesia adalah lokasi geografis pulau-pulau yang tersebar. Keadaan tersebut diperburuk dengan persoalan distribusi penduduk yang tidak merata, ketimpangan pendapatan antara wilayah dan ketidakmerataan struktur ekonomi di antara pulau"”pulau tersebut. Hal ini juga menyangkut perbedaan karakter kawasan desa dan kota. Penduduk kota tumbuh dengan cepat, dalam Repelita IV ( 1984-7 988) diperkirakan penduduk kota berjumlah 50 juta orang (sekitar 28% totalpenduduk).Pertumbuhan kota yang cepat terutama disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan aktivitas pembangunan sektor industri dan jasa, yang dapat menarik penduduk desa ke kota. Apa pun usaha pemerintah Indonesia, fakta menunjukkan masih besarnya jumlah migrasi dari desa mencari peluang yang lebih baik untuk hidup di kota. Ketersediaan fasilitas dan jasa di kota-kota juga lebih baik dan kenyamanan yang lebih dibanding dengan lingkungan kawasan desa.Para migran dari desa menyerbu kawasan hunian, apakah mereka bertempat tinggal bersama"”sama dengan sanak famili mereka, di rumah sewa (atau kosl atau membangun rumah baru, dengan atau tanpa ijin formal dari pemerintah kota.Kebanyakan kota-kota besar utama berpenduduk lebih dari 1 juta orang, berlokasi di pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya) dan hanya satu kota di luar Jawa (Medan di pulau Sumatera). Disetiap propinsi terdapat kota-kota dengan penduduk 200.000 "” 500.000 jiwa, yang berfungsi sebagai ibukota propinsi. Kemudian sejumlah besar kota"”kota lebih kecil dengan penduduk kurang dari 50.000 orang (di luar Jawa bahkan kurang dari 10. 000 orang), sementara kota-kota menengah berjumlah lebih sedi-kit. Dalam kaitannya dengan keseimbangan sistem kota, nampak adanya kekurangan kota menengah di propinsi-propinsi.Perkembangan kota"”kota besar Indonesia kebanyakan berasal dari permukiman pedesaan yang tumbuh meluas. Selama masa penjajahan belanda, banyak kota dibangun dengan tujuan tertentu. Pengembangan kota ditujukan untuk memperkuat administrasi penjajah, sebagai pusat eksploatasi sumbervsumber atau dikembangkan sebagai pusat perdagangan untuk pasaran dunia timur-barat, ketimbang memperhatikan situasi lokal. Hingga 1970 tidak ada usaha yang berarti dalam pengembangan kota untuk mengubah struktur internal kota warisan penjajah.Pada era Pelita, pemerintah Indonesia mulai lebih menekankan program-program pembangunan kota, seperti Program Perbaikan Kampung (KIP/, program perbaikan dan penyediaan perumahan dan program pengembangan prasarana. Program-program tersebut nampaknya hanya mampu mencakup struktur internal kota, tetapi tidak terlihat dampak dalam kaitan dengan struktur eksternal.
Konsepsi Pedoman Perencanaan Kota Baru B. Kombaitan; Djoko Sujarto
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9 (1993)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kota baru di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dasar kebijaksanaan pengembangan dan pembangunan kota pada umumnya. Dalam memikirkan kemungkinan pengembangan kota baru sebagai salah satu upaya mendorong pembangunan daerah, seperti digariskan dalam GBHN dan Repelita Nasional, maka kebijaksanaan dan langkah pembinaan kota nasional perlu melandasi hal tersebut.Berdasarkan hal pokok yang telah digariskan dalam kebijaksanaan dan langkah pembinaan kota dan pengembangan sektor permukiman dan perumahan, maka hal yang perlu ditekankan sebagai landasan pengembangan kota baru di Indonesia meliputi: azas pemerataan daerah, azas tata ruang wilayah, azas pemerataan penyebaran penduduk, azas pembangunan kota berwawasan lingkungan.Dengan keempat landasan kebijaksanaan tersebut, maka pengembangan kota baru di lndonesia perlu memperhatikan arahan berikut:Penentuan jenis kota baru yang didasarkan pada fungsi pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan kini maupun mendatang;Penentuan lokasi dan pengembangan kota baru perlu didasarkan pada pertimbangan untuk dapat menunjang pengembangan wilayah dan membantu memecahkan masalah kota besar;Penentuan dan pengembangan jenis kota baru perlu disesuaikan dengan jumlah penduduk, kegiatan usaha serta komponen kebutuhan yang menunjang kehidupan dan penghidupan di kota tersebut sampai batas yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kota baru mandiri atau penunjang;Penentuan dan pengembangan kota baru harus dilihat dari wawasan dan ruang lingkup perwilayahan lebih luas, sehingga fungsi yang diharapkan dapat dicapai, termasuk pentingnya keterpaduan pengembangan kota baru dengan sistem jaringan prasarana perangkutan wilayah yang dapat menghubungkan dengan kota besar, kota menengah dan kota kecil di sekitarnya;Pengadaan dan pengembangan prasarana dan sarana perkotaan perlu dipadukan dengan program pengembangan prasarana kota terpadu agar efisien dan efektif;Penentuan, perencanaan dan pembangunan kota baru perlu ditunjang suatu penelitian guna menentukan wilayah yang memungkinkan dikembangkan, wilayah kendala serta wilayah limitasi. 
Aplikasi Sistem Informasi Geografis: Land Use Accounting System Roos Akbar
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9 (1993)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan sistem informasi geografis saat ini telah menunjukkan suatu fenomena yang menarik. Tidak hanya dalam pengembangan perangkat lunak maupun perangkat keras, namun yang lebih penting lagi adalah dalam aplikasi sistem informasi geografis tersebut untuk kepentingan perencanaan tata ruang.Rangkaian tulisan tentang Sistem Informasi Geografis yang disajikan berseri dalam Jurnal PWK, telah menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tersebut menuntut suatu persiapan perangkat peraturan dan administratif yang berbeda.Kesulitan"”kesulitan dalam menyiapkan basis data yang dimulai dari penyiapan peta dasar, keseragaman sistem proyeksi, klasifikasi yang dipergunakan dalam hal peta penggunaan tanah dan sebagainya, menyebabkan pemanfaatan sistem informasi geografis sebagai suatu 'tool' harus dilihat dan dipertimbangkan dalam suatu spektrum yang luas.Peran pemerintah, swasta maupun perguruan tinggi mutlak diperlukan untuk sampai pada suatu kerangka tata informasi geografis yang baik dan benar.Tulisan berikut ini merupakan sebuah kerangka pemikiran dalam penyusunan Land Use Accounting System dalam pekerjaan Urban Fringe Area Planning Studies sebagai salah satu komponen Jakarta Urban Development Project III (JUDP III)
Kebijaksanaan Pengarahan Mobilitas Penduduk Dalam Menghadapi Mega Urban dan Kota Kecil di Indonesia Haryono Suyono
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
Arahan Kebijakan Tata Ruang Nasional Dalam Menghadapi Fenomena Wilayah Mega Urban di Indonesia Budhy Tjahjati S.
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
Kebijaksanaan Pengembangan Kota Kecil dan Wilayah Pedesaan di Sekitar Metropolitan H M Parawansa
Journal of Regional and City Planning Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.

Page 85 of 102 | Total Record : 1011


Filter by Year

1990 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol 30, No 3 (2019) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 3 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol 28, No 3 (2017) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol 27, No 3 (2016) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol 26, No 3 (2015) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol 25, No 3 (2014) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol 24, No 3 (2013) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol 22, No 3 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol 21, No 3 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol 20, No 3 (2009) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol 19, No 3 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol 18, No 3 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol 17, No 3 (2006) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol 16, No 3 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol 14, No 3 (2003) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol 12, No 4 (2001) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 10, No 3 (1999) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol 9, No 2 (1998) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol 8, No 3 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol 7, No 22 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol 6, No 19 (1995) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 16 (1994) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 16 (1994) Vol 5, No 11 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 9 (1993) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4 (1992) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol 3, No 3 (1992) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan More Issue