Articles
200 Documents
Perempuan dalam Film-film Horor Hollywood Periode Tahun 2000-2017
Deandra Rizky Sagita
MOZAIK HUMANIORA Vol. 18 No. 1 (2018): MOZAIK HUMANIORA VOL. 18 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (561.468 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9885
Film-film horor Hollywood yang hadir pada periode tahun 2000-2017 memuat unsur-unsur yang senantiasa berulang. Hal-hal terkait dengan perempuan hadir secara konsisten dan memiliki porsi yang berbeda dalam setiap film. Konsistensi hadirnya hal-hal terkait perempuan dalam kesepuluh film horor Hollywood yang dijadikan objek penelitian ini menimbulkan asumsi adanya makna tekstual yang perlu dibahas lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami keberulangan hal-hal terkait perempuan yang hadir melalui penceritaan dalam film serta mengupas makna di balik fenomena tersebut. Penelitian ini memanfaatkan teori struktur naratif Vladimir Propp, yang terdiri atas dua metode. Pertama, identifikasi struktur cerita, yakni berkaitan dengan fungsi atau unsur tetap yang hadir dalam kesepuluh film horor. Kedua, setelah ditemukan bagaimana keberulangannya kemudian dilakukan pemaknaan. Melalui kedua metode tersebut dapat diperoleh makna kehadiran perempuan dalam kesepuluh film horor Hollywood. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa tujuh unsur yang senantiasa berulang dalam setiap film: perempuan sebagai tokoh sentral, keluarga sebagai ruang problematis, penjelasan tentang masa lalu di tengah penceritaan, hantu perempuan semasa hidup merupakan sosok marjinal dan terdominasi, ketidakhadiran tokoh Ayah, kehadiran sosok pastor, dan akhir cerita menghadirkan problematika baru. Dari ketujuh unsur tersebut, dua hal hadir secara dominan dan selalu ada dalam setiap film, yaitu perempuan sebagai tokoh sentral dan penjelasan tentang masa lalu di tengah penceritaan. Hal ini dapat dimaknai sebagai sebuah pembalikan atas pemahaman patriarki. Tokoh-tokoh perempuan di dalam film digambarkan sebagai sosok yang independen dan mampu berdiri sendiri dengan atau tanpa bantuan laki-laki. Hal-hal berkaitan dengan kehadiran perempuan dalam film-film horor Hollywood merupakan gambaran atas kekuatan-kekuatan perempuan yang seringkali dianggap remeh dibanding dengan kekuatan laki-laki.
Laki-Laki vs Perempuan: Penggunaan Keterangan Penghubung dalam Tulisan Akademis
Viqi Ardaniah
MOZAIK HUMANIORA Vol. 18 No. 1 (2018): MOZAIK HUMANIORA VOL. 18 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (612.291 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9892
Perbedaan laki-laki dan perempuan dalam berbahasa selalu tampak terutama ketika mereka terlibat dalam percakapan. Bahwa laki-laki lebih sering mendominasi percakapan, dan perempuan lebih sering menggunakan bentuk Bahasa standar di suatu percakapan antara laki-laki dan perempuan merupakan hasil yang sering ditemukan dalam fitur bahasa yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Selain ragam lisan, perbedaan penggunaan bahasa antara laki-laki dan perempuan juga bisa ditemukan di tulisan akademis mereka melalui fitur-fitur dalam penulisan akademis. Artikel ini bertujuan untuk menunjukan perbedaan penggunaan bahasa antara laki-laki dan perempuan yang terlihat dalam penggunaan keterangan penguhubung di tulisan akademis mereka. Tulisan akademis dari lima belas mahasiswa laki-laki dan lima belas mahasiswa perempuan di Departemen Sastra Inggris, Universitas Airlangga dipilih secara acak untuk menjadi data untuk mendapatkan pola penggunaan keterangan penghubung. Tulisan akedemis yang didapatkan sebagai data merupakan hasil tulisan mahasiswa dikelas academic writing dan critical reading. Dari tulisan akademis yang sudah dibuat, ada perbedaan penggunaan keterengan penghubung kategori enumeration & addition, contrast/concession, apposition, dan summation di paragraf dan esai yang mahasiswa buat. Persentase frekuensi penggunaan jenis enumeration & addition tertinggi. Namun, presentase frekuensi penggunaan enumeration & addition di tulisan mahasiswa laki-laki lebih rendah daripada presentase frekuensi penggunaan enumeration & addition di tulisan mahasiswa perempuan. Hal ini berbeda dengan frekuensi keterangan penghubung transition yang tidak ditemukan sama sekali di tulisan akademik laki-laki dan perempuan
Praktik Konsumsi dan Pemaknaan terhadap Komik “Garudayana” Karya Is Yuniarto oleh Anak Muda Penggemar Manga sebagai Agen Pelestarian Wayang
Rahaditya Puspa Kirana
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (367.42 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10227
Komik Jepang terjemahan atau yang disebut dengan manga telah menjadi salah satu budaya popular di Indonesia. Dalam skala nasional, telah muncul anak muda yang mulai memproduksi komik sendiri, yaitu Is Yuniarto, yang telah mengangkat pewayangan sebagai latar belakang cerita dalam komiknya dengan gaya gambar seperti halnya manga atau komik Jepang. Komik Garudayana karya Is Yuniarto menunjukkan bahwa komik yang merupakan budaya populer dan wayang yang merupakan seni tradisional Indonesia dapat bersatu dengan harmonis. Oleh karena itu, penelitian ini membahas bagaimana penerimaan generasi muda terutama penggemar manga terhadap komik Garudayana. Dengan menggunakan kerangka metode kualitatif, penelitian ini mengambil data penelitian melalui wawancara dengan anak muda penggemar manga yang juga merupakan anggota komunitas pecinta budaya Jepang di Surabaya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori resepsi (Encoding Decoding) dari Stuart Hall dan teori identitas Jenkins. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anakanak muda tersebut melakukan praktik konsumsi tidak hanya dengan membaca komiknya saja tetapi juga memproduksi makna baru dari kegiatan konsumsi mereka dengan melakukan cosplay. Cosplay Garudayana tersebut menunjukkan bahwa bentuk konsumsi tersebut menciptakan identitas baru bagi mereka yaitu sebagai agen pelestari seni budaya tradisional Indonesia, yaitu wayang. Mereka merupakan penggemar budaya populer Jepang yang juga turut melestarikan seni budaya wayang pada saat yang bersamaan.
The U.S. Homeland Security’s Biopolitics in the Age of “Terrorism”
Andrianoavina Tolotra
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (364.394 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10220
Makalah ini membahas biopolitik dan keamanan dalam konteks terorisme dan melihat implikasi dari pergeseran orientasi ini terhadap hubungan antara negara dan populasi. Studi ini menawarkan analisis kritis terhadap aparatus keamanan yang diberlakukan oleh pemerintah AS dalam perang melawan terorisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis atau yang disebut filsafat sains. Salah satu aliran dalam pendekatan ini adalah social studies of science (SSS), yang mendalami bagaimana sains terjalin dalam kehidupan sosial. Makalah ini menunjukkan bahwa proses pengamanan imigrasi dan penguatan keamanan dalam negeri di Amerika Serikat merupakan tanda-tanda transformasidi mana bentuk pemerintahan yang berorientasi pada keamanan transnasional telah menggantikan “kekuasaan pastoral.” Argumen yang dikemukakan dalam makalah ini adalah bahwa keputusan politik mengenai keamanan negara menyiratkan kontrol tubuh berdasarkan norma-norma tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan hidup populasi sebagai entitas yang homogen, tetapi juga mengakibatkan pemisahan entitas yang layak dan tidak layak untuk hidup dan legal/ilegal dalam keadaan tertentu. Manajemen risiko menjadi wajah lain promosi kebebasan yang di dalamnya terdapat teknologi biopolitika pemerintah, seperti asuransi, pengawasan, penahanan, penyiksaan, dan hukuman mati, dalam mengontrol populasi.
Growing and Archiving Youth Aspirations: Efforts of C20 Community in Preserving Surabaya Heritage
Rahmad Hidayat
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10228
The paper attempts to highlight the efforts of C20 community in Surabaya to actively ‘remind’ Surabaya youngsters especially to their own identity as the heirs of Surabaya, which is rich in its coastal urban traditions such as culinaries, buildings, and the plurality of the people. Its base camp, located on Cipto street number 20 (which explains how it gets its name from), is a place to record and publish through activities in public spaces, such as Ayorek.org, a site to gather any facts and values about Surabaya which seem to be forgotten by Surabaya young people. The paper specifically focuses on the way youngsters involved in the community are aspired to (re)capture their identities and find their place in this global world. By doing qualitative research, I interviewed the members of community and was also involved in their activities in Surabaya. It is argued that the community of C20 in Surabaya is filling the empty space left by the Surabaya government in empowering the youth to preserve their own city. C20 is also successful in creating a place for youth aspirations not only to “memorize” Surabaya but also to make Surabaya a better place to live and to be creative.
Peran Partai Masjumi dalam Dinamika Perkembangan Demokrasi di Kota Surabaya 1945-1960
Arya W. Wirayuda
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (362.026 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10222
Artikel ini bertujuan menggambarkan bagaimana Masjumi, sebagai partai Islam modern, mencerap, menerima, memahami, dan menafsirkan nilai-nilai demokrasi yang banyak diyakini oleh kalangan muslim berasal dari Barat, sehingga mampu menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Kota Surabaya. Hal ini dapat dilihat dari peran Masjumi pada awal tahun 1950-an di pemerintah pusat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Peralihan. Kota Surabaya adalah tempat di mana Masjumi dapat berkembang, meski lebih banyak dihuni oleh Muslim tradisional. Kajian ini menghasilkan temuan bahwa Masjumi memainkan peranan penting di dalam sistem pemerintahan kota karena mendapatkan kursi mayoritas dalam DPRDS. Banyak keputusan yang lahir diinisiasi atau paling tidak mendapat dukungan yang besar dari anggotaanggota dewan yang berasal dari Masjumi. Namun, kenyataan bahwa Masjumi hanya menguasai struktur pemerintahan berbanding terbalik dengan kekuatan di lapangan, di mana masyarakat Kota Surabaya tidak lagi memandang Masjumi sebagai partai yang paling harus dipilih dalam Pemilu 1955. Kemerosotan dukungan terhadap Masjumi di masyarakat secara pasti memengaruhi komposisinya di struktur pemerintahan menjelang tahun 1960.
Sepak Bola dan Eksistensi Bangsa Dalam Olimpiade Masa Orde Lama (1945-1966)
Rojil Bayu Aji
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (394.543 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10229
Setelah Kemerdekaan, olahraga adalah salah satu sektor yang menjadi perhatian pemerintah untuk dikembangkan secara serius. Olahraga, terutama sepak bola, merupakan ajang penting dalam memperkenalkan Indonesia dan membuktikan eksistensi bangsa baru secara global. Sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia karena hampir setiap negara di dunia memainkan dan mengembangkan olahraga, sehingga keberhasilan dan prestasi dalam kompetisi sepak bola dunia akan membuat bangsa bangga dan pada saat yang sama meningkatkan citra negara di mata di dunia. Artikel ini bertujuan untuk membahas pemanfaatan sepak bola untuk mengonfirmasi keberadaan Indonesia di Olimpiade, terutama pada era Orde Lama (1945-1966). Metode sejarah digunakan sebagai metode penelitian dengan menggunakan arsip dan media massa sebagai sumber utama. Sumbersumber ini kemudian diteliti dan dianalisis untuk menghasilkan penulisan sejarah (historiografi). Penelitian ini menemukan bahwa sepak bola dapat digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Nasionalisme tidak hanya dalam bentuk perjuangan dengan mengangkat senjata, tetapi dapat ditampilkan melalui keterlibatan dalam olahraga. Meskipun negara Indonesia belum terbentuk, PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) telah menegaskan ‘keindonesiaan’ melalui sepakbola. Sepakbola memiliki misi diplomatik untuk memperkenalkan sepak bola Indonesia dan sebagai alat kampanye untuk mendukung Indonesia dengan cara menciptakan citra positif bangsa melalui olahraga. Keikutsertaan tim sepak bola Indonesia di acara olahraga internasional dan dalam Ganefo (Games of the New Emerging Forces) adalah upaya untuk menunjukkan eksistensi bangsa dalam masyarakat internasional melalui olahraga.
Strategi Literer Suparto Brata dalam Kontestasi Simbolik Arena Sastra Indonesia
Dheny Jatmiko
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (459.375 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10223
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis strategi perjuangan dan pergulatan Suparto Brata dalam arena sastra Indonesia. Hal ini bermuara pada penjelasan atas kegagalan Suparto Brata sebagai pengarang senior yang hampir sepanjang kehidupan kepengarangannya tidak pernah memperoleh legitimasi dalam dunia sastra Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan yang dapat melihat sastra secara keseluruhan, yaitu pembacaan secara eksternal dan internal novel Suparto Brata, pembacaan terhadap kondisi sastra dan kondisi sosial politik yang ketika Suparto Brata menuliskan novel dan memperjuangkan nilai karyanya. Oleh karena itu, teori yang dianggap sesuai adalah strukturalisme genetik Pierre Bouedieu. Operasionalisasi teori Bourdieu mencakup tiga konsep utama, yaitu, habitus, modal, dan arena. Habitus didefinisikan sebagai sebuah sistem disposisi terhadap suatu praktik adalah basis generatif bagi perilaku-perilaku yang teratur; oleh karena itu menjadi basis bagi regularitas bentuk-bentuk praktik Bourdieu. Berdasarkan metode arena produksi kultural Pierre Bourdieu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Suparto Brata pada dasarnya memiliki modal positif sebagai pengarang berupa penguasaannya terhadap sejumlah fakta sejarah yang didasari oleh pengalaman hidupnya pada masa perjuangan Indonesia. Strategi literernya dibentuk oleh pandangan sosial dan pilihan cara artistik yang memadukan ragam sastra serius dan sastra populer. Namun demikian, modal dan strategi tersebut ternyata tidak sepenuhnya relevan dengan politik sastra pada masa Orde Baru.
Error Analysis on the Use of Noun Article: A Case Study of a Second Language Learner in the U.S.
Sidarta Prassetyo
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (357.561 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10230
The present study examines error analysis of second language learner of English. It aims to describe the errors made by the learner especially in her written production and to explain the reasons why the errors occur. The focus of explaining the error is the use of article since the article has been widely known to be one error often found in the L2 learners. Cloze tests (filling in the blanks), multiple choice questions, essay writing (the participant was asked to write a 250 word essay), and in-depth interview were conducted to collect the data from the participant. In addition, observation on the learner’s performance for oral production was also conducted. The learner’s native languages are Javanese and Indonesian language. She has been exposed to English language since she was the fourth grader, but she admits that writing is difficult for her. The result of analysis found that the learner indeed made error in the use of article, and she inconsistently used the article and the nouns that follow the article. It happened because of interlingual transfer (negative transfer from L1 to L2) and intralingual transfer in which she made false analogy and misanalysis on the second language.
Young People, Religion, and the Everyday Practice of Popular Culture: The Case of Urban Muslim Young People
Hariyadi Hariyadi
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (385.334 KB)
|
DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.10224
This article aims to reveal popular culture and religious practices of urban Muslim youth in everyday life. By utilizing interviews, focus group discussions, and participant observation to informants who are students in Jakarta and Bandung, especially the State University of Jakarta and Bandung Institute of Technology, this research showed that they had mixed views on popular culture, religion, and the relationship between them. On the one hand, they assume that the majority of popular culture has a negative impact toward religious practices. Popular culture reduced the time for someone to get closer to God. On the other hand, they cannot detach themselves from popular culture and consume it. In addition, they put religion as something that is not completely dogmatic but can be adjusted with the condition of individual believers, including young people. They can be said to be in the stage of knowing themselves and their religion, thus having the tendency to be more open in accepting forms of popular culture that are not considered fully in accordance with their religious beliefs. Their consumption of popular culture and declaration of religion suggests that urban young people in Indonesia are aiming to be modern and pious at the same time. In doing so, urban Indonesian Muslim young people demonstrate that they do not exclusively belong to either Westernisation or Islamism; they are creating their own distinctive identity.