cover
Contact Name
Arum Budiastuti
Contact Email
arumbudi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
up2dfibunair@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Mozaik Humaniora
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 24428469     EISSN : 2442935X     DOI : -
Mozaik Humaniora is a journal that focuses on the scope of humanities and accepts articles on cultural studies, linguistic and literary studies, as well as philology and historical studies.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
Dua Muka Janus: Revolusi dan Kekerasan di Surabaya 1945-1949 Adrian Perkasa Adrian Perkasa
MOZAIK HUMANIORA Vol. 15 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.856 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v15i2.3848

Abstract

AbstrakPeriode Revolusi khususnya pascaproklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 menduduki peran penting dalam sejarah Indonesia. Di Surabaya, yang menjadi batasan spasial penelitian ini, terjadi berbagai peristiwa yang berujung pada konflik pada bulan Oktober hingga November 1945. Peristiwa tersebut kemudian diabadikan oleh pemerintah dan ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Sebuah monumen didirikan oleh Presiden Soekarno yang kemudian dikenal dengan nama Tugu Pahlawan menjadi penanda tegas kepahlawanan mereka yang menjadi korban dalam konflik fisik di Surabaya. Tidak bisa dihindarkan terdapat kesan sakralisasi terhadap periode ini. Memori kolektif yang diproduksi dan terus-menerus direproduksi seolah menempatkan sosok pahlawan sebagai orang yang berjuang dengan mengangkat senjata. Periode yang penuh konflik dan menggambarkan masa Revolusi ini tidak bisa tidak lekat dengan kekerasan. Penelitian ini berupaya memperlihatkan wajah kekerasan pada masa tersebut serta sejauh mana aparat resmi negara terlibat di dalamnya. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, khususnya pendekatan sejarah baru atau new history yang digagas oleh Alun Munslow, penelitian ini menggali historiografi Surabaya dan Jawa Timur tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada periode Revolusi. Keasyikan para pemuda yang didapatkan ketika berusaha menembaki orang-orang Belanda, Jepang, dan Tionghoa sebanyak mungkin seharusnya dimaknai sebagai wajah Revolusi yang memang berkelindan dengan kekerasan ibarat bermuka dua seperti Dewa Janus, bukan dengan reproduksi memori yang naif bahkan narsistis. Penelitian ini diharapkan dapat mengundang penelitian dalam topik serupa untuk menghasilkan interpretasi yang mungkin berbeda.Kata kunci: kekerasan, revolusi, Surabaya, sejarah baru
The Function of Intertextuality in Religious Humor Text Iwan Marwan Marwan
MOZAIK HUMANIORA Vol. 17 No. 1 (2017): MOZAIK HUMANIORA VOL. 17 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.555 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i1.6593

Abstract

Sebagai sebuah teks, humor dapat dipahami melalui untaian makna yang terkandung dan tersebar didalam teks lain. Hubungan antarteks tersebut memiliki fungsi tertentu untuk menyampaikan pesan humor. Penelitian  ini  bertujuan  menjelaskan  fungsi  intetekstualitas dalam  teks  humor  keagamaan. Metode  yang  digunakan adalah  kualitatif  deskriptif dengan  ancangan  teori  intertekstualitas. Teksdipilih  secara  acak  dengan  pertimbangan:  (1) teks tersebut  berbahasa  Indonesia,  (2) teks  humorkeagamaan, dan (3) teks tersebut  mengandung  hubungan  intertekstualitas.  Analisis  data  dalam penelitian ini dilakukan melalui mendeskripsikan teks, menjelaskan hubungan intertekstualitas, dan menjelaskan  fungsi  intertekstualitas. Berdasarkan  analisis  data  dapat  disimpulkan  bahwa  fungsi intertekstualitas  dalam  wacana  humor  meliputi:  memperdalam  topik  humor,  memberi  kesan tertentu, menjelaskan konteks budaya, memperhalus pesan, dan menghidupkan teks-teks lama.
Apakah Pisuhan Selalu Bermakna Negatif?: Fungsi Pisuhan dalam Masyarakat Arek dan Masyarakat Mataraman Endang Sholihatin Endang
MOZAIK HUMANIORA Vol. 13 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.165 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3843

Abstract

Ada banyak ekspresi manusia dalam mengungkapkan perasaannya melalui bahasa, salah satunya melalui pisuhan. Pisuhan merupakan bahasa tabu namun kenyataannya justru sering diucapkan. Tujuan penelitian ini menghasilkan deskripsi perbandingan fungsi pisuhan yang digunakan masyarakat arek (MA) dan masyarakat mataraman (MM). Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pemahaman yang tepat mengenai penggunaan pisuhan dalam komunikasi bermasyarakat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan pisuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan teknik partisipasi berperan-serta. Penelitian ini dilakukan pada MA di Surabaya dan MM di Yogyakarta dengan latar belakang alamiah. Analisis menunjukkan bahwa ada persamaan dan perbedaan pisuhan di dua masyarakat tersebut. Ada sebelas fungsi pisuhan yaitu untuk mengekspresikan kegembiraan/ harga diri, keberanian, salam, pembelaan diri, memberi saran, bahasa slang, memecah kekakuan suasana, menekankan sesuatu, memuji, merepresentasikan identitas, dan sebagai pemersatu. Pada masyarakat Matraman pisuhan diplesetkan dengan bentuk lain sehingga tidak langsung menunjuk pada kata yang dimaksud. Sedangkan pisuhan dalam MA untuk menunjukkan kemandiriannya tidak secara langsung menggunakan pisuhan yang ada dalam MM, tetapi menggantikan atau menambahkannya dengan kata lain sehingga tidak sama persis dengan pisuhan pada MM.Kata kunci: arek, mataraman, pisuhan, pragmatik, sosiolinguistik
TEATER KITSCH NGESTI PANDOWO DI KOTA SEMARANG TAHUN 1950an – 1970an Dhanang Respati Puguh, Rabith Jihan Amar respati puguh
MOZAIK HUMANIORA Vol. 17 No. 1 (2017): MOZAIK HUMANIORA VOL. 17 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.692 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i1.6588

Abstract

Ngesti Pandowo yang didirikan di Madiun pada 1937 merupakan salah satu dari rombongan wayang orang panggung yang mampu bertahan sampai hari ini. Setelah banyak mengadakan pentas keliling di berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pada tahun 1954 paguyuban ini menetap di Kota Semarang dan memasuki masa kegemilangannya sampai pada dasawarsa 1970. Artikel ini membahas mengenai kiprah Ngesti Pandowo dan sejumlah faktor yang membuat keberhasilannya dalam dasawarsa 1950-1970. Artikel ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode sejarah dan sejarah lisan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dalam dasawarsa tersebut Ngesti Pandowo merupakan sebuah teater kitsch yang sempurna, karena paguyuban ini mampu mengemas pertunjukan wayang orang yang berkualitas tinggi, inovatif, dan penuh spectacle. Pencapaian itu membuat paguyuban ini mendapat penghargaan  dan prestasi sebagai salah satu kelompok wayang orang terbaik pada level nasional dan berperan dalam lawatan budaya ke berbagai negara di Asia, sehingga membuat Ngesti Pandowo menjadi ikon budaya Kota Semarang. Keberhasilan Ngesti Pandowo dalam mencapai kejayaannya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yaitu adanya seniman-kreator, para penari yang mumpuni dan menjadi idola penonton, gaya kepemimpinan yang sesuai dengan karakteristik kelompok ini sebagai paguyuban, dan dukungan pemerintah daerah.
Food Metaphor in Jhumpa Lahiri's The Lowland Retno Wulandari
MOZAIK HUMANIORA Vol. 17 No. 2 (2017): MOZAIK HUMANIORA VOL. 17 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.056 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i2.5356

Abstract

As food is now also observed through the lens of social sciences,  the relation of food and literature is inevitable. In diasporic identity, the existence of food as one of the elements that immigrants usually long for is thus unavoidable. This paper discusses the metaphor of food and foodways in the novel The Lowland by Jhumpa Lahiri. Through postcolonial analysis, the results show that food and foodways metaphorically represent nostalgia experienced by the main character. Food also becomes the field of showing identity, and negotiation process which bridges the binary cultural differences. Moreover, Lahiri also implies the metaphor of food as the oppression of women due to the existence of patriarchal values in the old world. Domesticity symbolized through food and foodways puts women in an uneasy situation. Lahiri also parallels the food as the medium of the old and new world: the poor and sufficiency, and the resistance to capitalism.Keywords : Food, nostalgia, identity, oppression, binary opposition
Implikasi Sosialisasi Bahasa dan Perspektif Sosiokultural untuk Instruksi Literasi: Studi Kasus pada SD Negeri Jagir 2 Surabaya Layli Hamida
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 2 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.36 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5859

Abstract

AbstrakSiswa-siswa yang ada di sekolah umumnya berasal dari latar belakang budaya dan linguistik yang berbeda-beda. Banyak siswa yang datang ke sekolah dengan membawa tidak hanya bahasa yang baru tetapi juga budaya baru yang tidak sama dengan budaya sekolah pada umumnya. Perbedaan-perbedaan ini dapat membuat guru salah mengartikan atau meremehkan kemampuan siswa sehingga dapat menjadi penghambat dalam interaksi dan komunikasi antara guru dan siswa, serta  dapat pula membuat guru memberikan instruksi literasi yang tidak dipahami oleh siswa karena perbedaan cara penggunaan bahasa. Metode penelitian yang  digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara observasi partisipatoris dan wawancara. Pengamatan dilakukan selama dua minggu di SD Negeri Jagir 2 Surabaya. Dari hasil penelitian didapatkan simpulan bahwa guru seharusnya membangun interaksi komunikatif yang lebih relevan dengan budaya siswa dengan bentuk aktivitas literasi oral bersama guru dan teman sebaya pada kelas-kelas rendah seperti kelas satu dan kelas dua. Hal ini dapat dilaksanakan dengan banyak melibatkan siswa dalam kegiatan yang bersifat cooperative learning, yaitu kerja kelompok di mana siswa dapat menggunakan bahasa lokalnya, yaitu bahasa Jawa dengan sesama teman sebayanya untuk membantu mereka menguasai literasi dalam bahasa formal sekolah, yaitu bahasa Indonesia. Kata kunci: literasi, siswa, sosialisasi bahasa AbstractPupils in school generally come from different cultural and linguistic backgrounds. Many children going to school do not only bring a new language, but also a new culture which is not the same as their school culture in general. These differences can make teachers misunderstand or underestimate the children’s ability as a student. This can hinder any interaction and communication between teachers and students; later, this can lead the teachers to give a literacy instruction that may not be understood by the students due to the difference of how the language is used. The present study applied a qualitative method with an ethnographic approach. Some participatory observations and interviews were conducted. The observations were conducted in two weeks in a public elementary school SD Negeri Jagir 2 Surabaya. The findings of the study show that the teacher should build more relevant communicative interactions which fit with the culture of the students in the forms of oral literacy activities. These activities involved the teachers and peers at the lower grades such as the first grade one and the second grade. In addition, the students could work in group work where they can use their local language. Keywords: language socialization, literacy, pupils 
The Influence of Sentence Element Awareness on English Language Proficiency Test’s Score Viqi Ardaniah
MOZAIK HUMANIORA Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.449 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v14i2.7812

Abstract

This study concerns the influence of sentence element awareness on the score of Grammar, Structure,and Written Expression (GSWE) in English Language Proficiency Test (ELPT). Some teaching methodsneed to be proposed to increase students’ awareness of sentence element. A class action methodwas used in this study, including planning, action, observation, and evaluation/reflection. For thispurpose, the study was conducted for 7 weeks involving the students taking Extensive English coursein the second semester of the academic year of 2013/2014. In the first week, the students were taughtEnglish simple sentence. In the next two weeks, students were taught English compound sentence.In the next two weeks, students were taught English complex sentences. In the last two weeks, theevaluation of GSWE was conducted. The results show that, first, the teaching method focusing onincreasing students’ awareness of English sentence elements was designed by comparing thoseelements to Indonesian sentence elements. Second, this teaching method design was able to increasestudents’ score of GSWE in ELPT, about 6.64%. Thus, teaching method focusing on increasingstudents’ awareness of English sentence elements can increase students’ score of GSWE in ELPT.Keywords: GSWE, sentence element, ELPT
Corporate Strategies in the Spread of Hallyu (Korean Wave) in Indonesia Citra Henninda Citra Henninda
MOZAIK HUMANIORA Vol. 13 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.928 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3830

Abstract

Artikel ini membahas strategi korporasi untuk meraih lebih banyak keuntungan dengan memanfaatkan perubahan-perubahan yang dibawa oleh globalisasi. Globalisasi telah membawa budaya hibrida yang merupakan kombinasi antara budaya lokal dan luar dan membentuk budaya baru. Budaya hibrida tersebut tidak hanya diinterpretasi sebagai hasil proses produksi korporasi tetapi juga simbol gaya hidup yang bertransformasi melalui penggunaan jaringan media global, yang didukung terutama oleh keberadaan masyarakat konsumen yang besar di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus Hallyu di Indonesia dengan metode deskripsi analisis pada data-data sekunder yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan produk-produk televisi dan perusahaan- perusahaan di dunia hiburan maupun nonhiburan. Dengan menggunakan pendekatan globalisasi budaya, artikel ini berargumen bahwa penerimaan dan penyebaran hallyu di Indonesia yang cukup mudah dipengaruhi oleh keberhasilan strategi perusahaan dalam mengeksploitasi pergeseran budaya dan masyarakat. Ada beberapa strategi yang digunakan oleh perusahaan: komoditisasi produk budaya, harga dan diferensiasi produk, penggunaan media sosial, dan dukungan dari peraturan pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa Hallyu mudah berterima karena merupakan produk budaya hybrid yang memuat simbol-simbol modernitas Asia perkotaan dan budaya lokal.Kata kunci: budaya hibrida, globalisasi, hallyu, konsumen, strategi perusahaan
The U.S. Homeland Security’s Biopolitics in the Age of “Terrorism” Andrianoavina Tolotra Andrianoavina Tolotra
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 1 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.394 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i1.3849

Abstract

Makalah ini membahas biopolitik dan keamanan dalam konteks terorisme dan melihat implikasi dari pergeseran orientasi ini terhadap hubungan antara negara dan populasi. Studi ini menawarkan analisis kritis terhadap aparatus keamanan yang diberlakukan oleh pemerintah AS dalam perang melawan terorisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis atau yang disebut filsafat sains. Salah satu aliran dalam pendekatan ini adalah social studies of science (SSS), yang mendalami bagaimana sains terjalin dalam kehidupan sosial. Makalah ini menunjukkan bahwa proses pengamanan imigrasi dan penguatan keamanan dalam negeri di Amerika Serikat merupakan tanda-tanda transformasi di mana bentuk pemerintahan yang berorientasi pada keamanan transnasional telah menggantikan“kekuasaan pastoral.” Argumen yang dikemukakan dalam makalah ini adalah bahwa keputusan politik mengenai keamanan negara menyiratkan kontrol tubuh berdasarkan norma-norma tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan hidup populasi sebagai entitas yang homogen, tetapi juga mengakibatkan pemisahan entitas yang layak dan tidak layak untuk hidup dan legal/ilegal dalam keadaan tertentu. Manajemen risiko menjadi wajah lain promosi kebebasan yang di dalamnya terdapat teknologi biopolitika pemerintah, seperti asuransi, pengawasan, penahanan, penyiksaan, dan hukuman mati, dalam mengontrol populasi.Kata kunci: biopolitika, Foucault, keamanan, perang terhadap terorisme
Etnografi Warung Kopi: Politik Identitas Cangkrukan di Kota Surabaya dan Sidoarjo Listiyono Santoso Santoso
MOZAIK HUMANIORA Vol. 17 No. 1 (2017): MOZAIK HUMANIORA VOL. 17 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.237 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i1.6594

Abstract

Cangkrukan merupakan  fenomena  kota  metropolitan  yang  menunjukkan  makna  kehadiran  subjekpelaku  dalam  komunitas  warung  kopi  di  tengah-tengah  warga  kota. Cangkrukan dalam  banyak  haltelah  digunakan  sebagai  pola  untuk  mengidentifikasi  konstruksi  identitas  yang  terbentuk  dalam kebiasaan cangkrukan di warung kopi, dan memberikan fungsi sosial kebiasaan cangkrukan di warung kopi.  Fungsi cangkrukan di  warung  kopi  tidak  hanya  bersifat  ekonomi,  melainkan  bersifat  sosio-kultural  hingga  sosio-psikologis.  Melalui  budaya cangkrukan,  setiap  warga  mengidentifikasi  dirisecara  netral,  tanpa  ada  kekhawatiran  ada  perlakuan  diskriminatif  dan  ketidakdilan  sosial. Dalam warung kopi, setiap individu berpartisipasi dalam setiap hubungan sosial satu sama lain, dan realitasini menghadirkan terciptanya kohesi sosial dinamis dalam masyarakat kota. Terbentuknya solidaritas organik di warung kopi merupakan bukti betapa secara manusiawi, manusia membutukan kehadiran orang  lain,  tetapi  tidak  untuk  tergantung  pada  satu-dua  tokoh  kuat,  melainkan  satu  sama  lain terhubung pada harapan dan kepercayaan yang sama.

Page 4 of 20 | Total Record : 200