cover
Contact Name
Suryani Dyah Astuti
Contact Email
jurnal.biosains@pasca.unair.ac.id
Phone
+6281232977983
Journal Mail Official
jurnal.biosains@pasca.unair.ac.id
Editorial Address
Postgraduate School of Universitas Airlangga Airlangga Street No. 4-6, Campus B of Universitas Airlangga , Airlangga Street, Gubeng District, Surabaya, East Java, Indonesia Postal Code 60286 Telephone 031-5041566, 5041536 Facsimile 031-5029856
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Biosains Pascasarjana
Published by Universitas Airlangga
Jurnal Biosains Pascasarjana is published not only for the publication of research results from graduates, as one of the graduation requirements but also for public that contains a discussion of the natural content, responses of living things, and their environment.
Articles 199 Documents
Komposit Kolagen Fibril-Alginat Sebagai Kandidat Membran Hidrogel Skin Substitute Faiq Nadiatul Mardia Asa; Sri Sumarsih; Andi Hamim Zaidan
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 18 No. 2 (2016): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.297 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v18i2.2016.112-122

Abstract

AbstrakTelah dilakukan sintesis membran hidrogel komposit berbahan kolagen, alginat sebagai kandidat skin substitute. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisikokimia dari membran hidrogel komposit kolagen-alginat. Metode yang dilakukan yaitu dengan teknik kering udarakan yang dicetak pada mika tipis selama tujuh hari pada suhu ruang. Hasil sintesis dikarakterisasi dengan PSA untuk mengetahui distribus ukuran nanopartikel perak, FTIR, penentuan morfologi dengan SEM, uji absorbsi dengan larutan PBS (Phospate Buffer Saline) uji kuat tarik, uji elongasi, uji sitotoksisitas dan uji antibakteri. Hasil analisis FT-IR pada membran memperlihatkan serapan kolagen dan alginat yang ditunjukkan dengan munculnya pergeseran pita serapan pada membrane komposit yaitu adanya Amida I dari kolagen, gugus karbonil (C=O) dari alginat. Hasil pengujian SEM membran komposit tanpa nanopartikel perak menunjukkan penebalan dinding dan pori yang lebar, sedangkan membran dengan penambahan nanopartikel perak ukuran pori lebih kecil. Berdasarkan hasil pengujian absorbsi menunjukkan semakin banyak komposisi kolagen pada membran maka semakin menurun lama membran hidrogel komposit menyerap larutan. Hasil pengujian kuat tarik menunjukkan nahwa semakin banyak komposisi kolagen pada membran hidrogel komposit maka semakin tinggi nilai kuat tariknya. Hasil uji elongasi menunjukkan semakin banyak komposisi kolagen maka semakin menurun nilai elongasinya.Kata kunci : membran hidrogel, kolagen, alginat
Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.) Terhadap Jumlah Sel Mast Pada Mencit(Mus Musculus) Model Endometriosis Dina Novarita Kusuma Wardani
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 19 No. 3 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.404 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v19i3.2017.260-267

Abstract

Sel mast memainkan peran penting dalam respon imun bawaan dan secara signifikanmeningkat pada endometriosis. Protease yang disekresi oleh sel mast memainkanperan penting dalam fibrogenesis. CRH dan akumulasi estrogen dapat mengaktifkan selmast untuk melepaskan tryptase, mengaktifkan PAR-2, yang menyebabkan peningkatansekresi VEGF, IL-8, dan IL-6 dan proliferasi jaringan ektopik. Daun kelor mengandung46 antioksidan dan 36 antiinflamasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmembuktikan pengaruh daun kelor terhadap penurunan jumlah sel mast pada mencit(Mus musculus) model endometriosis. Jenis penelitian ini adalah eksperimentallaboratoris. Pembuatan model endometriosis dengan diinduksi oleh siklosporin A,jaringan endometrium, dan etinil estradiol dan dilakukan pada 24 ekor mencit betinaumur 2-3 bulan dengan berat 20-30 gram. Subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompokyaitu kontrol dan perlakuan. Kedua kelompok menjadi model endometriosis pada harike-14. Selanjutnya pada hari ke-15, kelompok kontrol diberi NaCMC 0,5%, sedangkankelompok perlakuan diberikan terapi ekstrak etanol daun kelor dengan dosis 0,35 mg/gBB/ hari. Hari ke-29 mencit diterminasi dengan dislokasio os cervikalis dan melakuaknpemeriksaan jumlah sel mast dengan pewarnaan Hematoxillin Eosin. Hasil penelitianmenunjukkan rerata jumlah sel mast pada kelompok kontrol adalah 8.13 + 2.97kelompok perlakuan adalah 1.90 + 1.88. Pada uji Mann Whitney didapatkan nilai p =0,00. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak etanol daun kelor(Moringa oleifera Lam.) terbukti dapat menurunkan jumlah sel mast pada mencit (Musmusculus) model endometriosis. Kata Kunci : sel mast, endometriosis, daun kelor, mencit 
Rancang Bangun Sistem Pengendali Tegangan Stimulasi Elektrostimulator Otomatis Berbasis Resistansi Tubuh Adi Prasetyo Hutomo; Suhariningsih Suhariningsih; Suryani Dyah Astuti
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 20 No. 3 (2018): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.646 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v20i3.2018.146-159

Abstract

AbstrakPada penelitian ini, dibuat desain alat elektrostimulator yang mengeluarkan bentuk gelombang spike-eksponensial monofase. Sistem kontrol elektrostimulator dilakukan dengan menggunakan dua frekuensi dan enam belas tingkat tegangan keluaran dengan batas bawah sebesar 45 Volt dan batas atas sebesar 400 Volt. Penentuan tegangan stimulasi secara otomatis dilakukan dengan pengukuran nilai resistansi tubuh. Nilai resistansi tubuh yang dijadikan umpan balik sistem bergantung dari nilai frekuensi stimulasi yang diberikan. Penentuan nilai resistansi sebagai umpan balik sistem pada tiap frekuensi ditentukan dengan membagi nilai rerata nilai ambang sakit dengan rerata nilai resistansi, sehingga diperoleh arus stimulasi pada tiap frekuensi yaitu 0.01mA pada frekunsi 4 Hz dan 0.09 mA pada frekuensi 100 Hz. Berdasarkan VEff pada tiap tingkat pada masing-masing frekuensi dan arus stimulasi pada tiap frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai resistansi pada tiap tingkat pada tiap frekuensi yang akan dijadikan sebagai umpan balik sistem. Elektrostimulator ini memiliki ketepatan penentuan tegangan stimulasi dengan error pungukuran resistansi tubuh sebesar 1%. Studi yang telah dilakukan menunjukan bahwa alat elektrostimulator yang diwujudkan memiliki akurasi yang baik dan memiliki keuntungan di nilai tegangan puncak yang tinggi dan arus efektif yang rendah, sehingga dapat dipertimbangkan karena memberikan kenyamanan dan keamanan pada peralatan terapi medis. Kata kunci— Elektrostimulator, Elektrostimulator Otomatis, Otomatiasasi Tegangan Stimulasi
PERBANDINGAN KADAR IFN-γ DAN IL-10 PADA SERUM MATERNAL ANTARA EARLY-ONSET PREECLAMPSIA DENGAN LATE-ONSET PREECLAMPSIA Khalida, Siti Nur
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol 17, No 2 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.925 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v17i2.2015.98-104

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar IFN-γ dan IL-10 pada serum maternal antara early-onset preeclampsia dengan late-onset preeclampsia. Penelitian ini dilakukan di RSUD dr.Mohammad Suwandhie Surabaya sejak Juni – Agustus 2015, menggunakan rancangan cross-sectional. Didapatkan 13 sampel early-onset preeclampsia, 13 sampel late-onset preeclampsia, 13 sampel hamil normal <34 minggu dan 13 sampel hamil normal ≥34 minggu, total 52 sampel serum yang kemudian dilakukan pemeriksaan IFN-γ dan IL-10 serum dengan ELISA. Berdasarkan hasil analisis statistik, didapatkan nilai median kadar IFN-γ pada early-onset preeclampsia 0 pg/ml (0-149,1 pg/ml), pada late-onset preeclampsia 0 pg/ml, pada kelompok kontrol early 0 pg/ml (0-56,6 pg/ml), dan pada kelompok kontrol late 0 pg/ml (0-92,7 pg/ml). Hal ini kemungkinan terjadi karena kadar IFN-γ pada sampel lebih rendah dari ambang batas terendah deteksi kit ELISA IFN-γ human (R&D system inc). Sementara itu, nilai median kadar IL-10 pada early-onset preeclampsia adalah 91 pg/ml (6,2-163,90 pg/ml), pada late-onset preeclampsia 12,9 pg/ml (3,5 – 110,70 pg/ml), pada kontrol early 8,9 pg/ml (0-36,5 pg/ml) dan pada kontrol late 4,8 pg/ml (0-38,8 pg/ml) Secara statistik, tidak terdapat perbedaan bermakna kadar IFN-γ antara early-onset preeclampsia dengan late-onset preeclampsia, begitu pula dengan kelompok kontrol (harga p = 0,073). Sedangkan, menurut statistik didapatkan perbedaan bermakna kadar IL-10 antara early-onset preeclampsia dengan late-onset preeclampsia, begitu pula dengan kelompok kontrol (harga p <0,0001). Kesimpulan, tidak terdapat perbedaan bermakna kadar IFN-γ baik pada kelompok early-onset preeclampsia maupun late-onset preeclampsia, sedangkan kadar IL-10 pada early-onset preeclampsia lebih tinggi dari pada late-onset preeclampsia.  Kata kunci: early-onset preeclampsia, late-onset preeclampsia, preeklampsia, IFN-γ, IL-10
Response Analysis Of Urban Vaname (Litopenaeus Vannamei) Which Is Exposed to Crude Protein Zoothamniumpenaei Oral and Maintained In Ponds M. Ferri Tahta Rohmin
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 19 No. 2 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.55 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v19i2.2017.143-157

Abstract

ABSTRACTThe objectives of this study were immune response, specific growth rate and survival rate of shrimp vaname (Litopenaeus vannamei) in ponds. The research method used was experimental to know the effect of feed use and added crude protein Zoothamnium penaei on vaname shrimp (Lithopenaeus vannamei) in pond. The sample used is shrimp vaname (Lithopenaeus vannamei) as much as 10,000 heads of juvenile stadia. The food used is commercial feed added crude protein Zoothamnium penaei with a dose of 150 μl / head, which is given 7 times every 7 days interval from the age of 1 day up to Shrimp aged 56 days in ponds. The results showed that there was an increase of immune response (increase of THC and DHC) due to feeding added by Zoothamnium penaei crude. The highest total of Haemocytes (THC) occurred in commercial-fed shrimp and added crude protein ie 56,58 x 106 cell / ml, And the lowest in shrimp shrimp that is not given its crude protein 23.57 x 106 cells / ml. Similarly, the highest Differential Haemosite Count (DHC) also occurred in shrimps fed commercial and added crude protein, 26.57% aged 60 days in ponds and 14.99% low on shrimp not given 90 day crude protein in ponds . Results of parasite shrimp infestation examination exposed with crude protein showed that the highest Zoothamnium penaei infestation was obtained in shrimp fed with artificial feed and not added crude protein Zoothamnium penaei that is 63,35% in shrimp age 90 days. While the shrimp were given artificial feed and added crude protein Zoothamnium penaei infestation Zoothamnium penaei highest of 14.27% in 90 days old shrimp.The highest specific rate of vaname shrimp growth also occurred in shrimp fed commercial and added crude protein Zoothamnium penaei highest of 53.46% and the lowest 16.15% in shrimps aged 90 days in ponds. The highest shrimp life occurrence occurred in commercial vaname shrimp and added crude protein Zoothamnium penaei age of 90 days which has a higher tendency than shrimp that is not given crude protein that is 72% and 21%. The addition of Zoothamnium crude protein to commercial feed as immunostimulant material may enhance immune response, specific growth and shelf life of 30, 60 and 90 days old shrimp in ponds, so that it can be developed as an immunostimulant material.Keyword: Litopenaeus Vannamei, Zoothamnium penaei, udang vanamei
Penentu Jarak Tembak Berdasarkan Kerusakan Proyektil Timah Tanpa Jacket untuk Senjata Api Genggam Jenis Revolver S&W Kaliber .38 Spesial pada Target Tulang Sudibyo Sudibyo
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 17 No. 3 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.066 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v17i3.2015.135-140

Abstract

Abstract This study aims to predict the shooting range based on damage the type of lead a projectile without jacket caliber.38 special fired from handguns kinds brand Revolver S & W caliber .38 specials. Based on the phenomenon of criminal cases of abuse handguns types Revolver and the fact that real data it was found that 8% of the amount of lead projectiles without jacket as forensic evidence, the condition has broken the deformed moderate to severe.         The study was conducted at the Police Forensic Laboratory experimental method test-fired in the shooting box at short throw distance range of 0.5 to 6 meters , where the bone is positioned at the target position changes location every 0.5 meters, so the total number of shots is 12 times shot on 12 position target location, and finally obtained 12 variations of deformation projectile shot results.        Stages test firing conducted through three stages as follows: 1). Phase sample preparation equipment and materials firearms, bullets and target bone. 2). Phase shooting target accurately. 3). Stages of deformation measurements and weighing projectile, arranged in the form of table data.        Material samples of bullet used was the type of lead bullets without jacket caliber .38 special with technical specifications diameter of projectile 9.09 mm (real 9.05 mm), length of projectile 17.90 mm (real 18.61 mm), projectile material lead antimony, projectile weight of 10.25 grams, muzzle velocity (initial) 265 m / sec, rounded nose shape, coefficient of form C = 2, the ballistic coefficient i = 0,9 effective range or the distance accurately of 25 meters.        Material samples of bone were used as target is 1694 SR veal ribs with bone hardness values (87 ± 1.5) shore, is used for the calibration test firing, a human skull age adults (≥ 35 years) with a value of hardness (78 ± 6 ) shore, is used as the target subjects of research, human ribs (costal C-3 / C-6) adult (≥ 35 years) with a value of hardness (69 ± 19.5) shore, is used as the target subjects of research. Keywords : deformation; projectiles; bones
Penentuan Grading Tumor Ganas Oral Squamous Cell Carcinoma Berdasarkan Gambaran Histopatologi Theresia Indah Budhy
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 17 No. 1 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.418 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v17i1.2015.46-51

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Sekitar 95% dari tumor ganas diklasifikassikan secara histologis sebagai Oral Squamous Cell Carcinoma (OSCC). Secara mikroskopis OSCC diklasifikasikan berdasarkan pada metode yang mempehitungkan penilaian subjektif, tingkat keratinisasi, pleomorfik nukleus dan seluler, dan aktivitas mitosis. Tingkatan tersebut meliputi well differentiated (grade I-II), moderately differentiated (grade III), dan poorly differentiated (grade IV). Well dan moderately differentiated dapat dikelompokkan sebagai low grade sedangkan poorly differentiated tumor sebagai high grade. Standar yang paling baik untuk menegakkan diagnosis OSCC adalah pemeriksaan histopatologis dan biopsi jaringan lesi tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan grading tumor ganas OSCC berdasarkan gambaran histopatologi. Metode: Sampel terdiri dari 6 jenis OSCC kemudian dilakukan pembuatan sediaan jaringan tumor ganas OSCC kedalam blok paraffin dan dilakukan pengecatan menggunakan hematoxilin eosin (HE). Gambaran histopatologi dari keenam sampel diamati dibawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 100x dan 400x.   Hasil: Dari 6 kasus yang ditemukan satu terdiagnosa sebagai well differentiated (stage I), dua kasus terdiagnosa well differentiated(sstage II),  dua kasus terdiagnosa moderately differentiated (stage III), dan poorly differentiated (stage IV). Kesimpulan: OSCC diklasifikasikan berdasarkan gambaran histopatologi kedalam well differentiated (stage I-II), moderately differentiated (stage III), dan poorly differentiated (stage IV)Kata Kunci : OSCC, well differentiated, moderately differentiated, poorly differentiated
Potensi Pemaparan Light Emitting Diode (LED) Inframerah Untuk Fotoinaktivasi Bakteri Bacillus subtilis Suryani Dyah Astuti; Rania Basalamah; Moh. Yasin
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 17 No. 1 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbp.v17i1.2015.10-18

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan cahaya LED inframerah pada fotoinaktivasi bakteri Bacillus subtilis dengan cara melakukan uji potensi untuk mengetahui panjang gelombang yang sesuai dengan spektrum serap fotosensitiser bakteri Bacillus subtilis. Selain itu dilakukan uji optimasi untuk menentukan jarak dan waktu pemaparan yang efektif pada proses fotoinaktivasi bakteri Bacillus subtilis dengan variasi jarak 1,5 cm, 2cm, dan 3cm serta variasi waktu 5 menit, 10 menit, 15 menit dan 20 menit. Penelitian ini menggunakan metode TPC (Total Plate Count) untuk menghitung jumlah kematian koloni bakteri akibat pemaparan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LED inframerah dengan panjang gelombang 950 nm berpotensi untuk fotoinaktivasi bakteri Bacillus subtilis. Dan efek pemaparan yang paling efektif adalah pada jarak 1,5 cm pada waktu 15 menit dengan prosentase kematian sebesar 53%.
Potensi Jatropha multifida Terhadap Jumlah Fibroblast pada Aphthous Ulcer Mukosa Mulut Tikus Christina Destri
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 19 No. 1 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.969 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v19i1.2017.14-26

Abstract

AbstrakPeningkatan pemakaian obat dengan kandungan asli untuk lebih bebas efek toksik, mudah didapat dan harga yang terjangkau telah menjadi kebutuhan masyarakat dewasa ini. Jatropha multifida, dengan kandungan bioaktif alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan diterpenoid berperan dalam penyembuhan luka. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi ekstrak Jatropha multifida terhadap jumlah fibroblast pada proses penyembuhan aphthous ulcer atau sariawan yang sering terjadi di masyarakat. Subyek penelitian adalah 24 ekor tikus Rat norvegicus dibagi menjadi kelompok K0 (CMC-Na), P1 (JM 2,5%); P2 (JM5%), P3(JM10%). Perlukaan pada mukosa mulut tikus dengan memakai burnisher yang dipanaskan dan ekstrak J.Multifida diberikan secara topikal 2 kali sehari selama 5 hari. Tikus dikorbankan dan dibiopsi incise pada hari ke-5. Untuk melihat jumlah fibroblast dilakukan pembuatan preparat dengan pengecatan Hematoxylin Eosin. Hasil: Terdapat perbedaan jumlah fibroblast secara signifikan pada hari ke-5 di K0 (55,70), P1(69,60), P2(48,20), P3(65,53). Kesimpulan: ada perbedaan bermakna antara kelompok kontrol, P1 dan P2 dengan P3. Ektrak  gel Jatropha multifida 5% paling efektif terhadap jumlah fibroblast pada proses penyembuhan mukosa mulut tikus rat norvegicus.Kata kunci : Aphthous ulcer, Jatropha multifida, fibroblast
Variability Result Induction Of Ionization By Gamma Cobalt-60 Ray Wahlia Fullah Fina
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 21 No. 2 (2019): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.979 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v21i2.2019.84-94

Abstract

ABSTRACTThe research was conducted to study the effect of 60Co gamma irradiation to the growth of adenium (Apocynaceae sp.) and to findout the effective dose of  gamma 60Co irradiation to adenium (Apocynaceae sp.). The research was designed using Completely Randomized Post Design with 5 groups of treatment and 4 replicants for every treatment with variation of irradiating dose 2, 6, 12 dan 20 gray, all treatment were observed every 3 weeks until 12 weeks. The growth of adenium (Apocynaceae sp.) : biomassa, high of crop and the number of leaf was analyzed by ANAVA and followed by Tuckey (Honestly Significant Difference) with α = 0,05% for high and dry weight crop, while the number of leaf were analyzed with Kruskal-Wallis with α = 0,05%, then was analyzed with regression test. The Results showed that the irradiating caused influence the increased of biomassa and high of adenium (Apocynaceae sp.)  crop significantly at observation of week 3, 9 and 12. For number of leaf, irradiating dose giving no significant influence. The optimum doses of 60Co gamma irradiation for the growth of biomassa and high of adenium (Apocynaceae sp.) crop at observation of week 3, 9, and 12 were 6 gray. Keyword : 60Co, gamma irradiation, adenium (Apocynaceae sp.).

Page 3 of 20 | Total Record : 199


Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 27 No. 2 (2025): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 27 No. 1 (2025): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 26 No. 2 (2024): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 26 No. 1 (2024): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 25 No. 2 (2023): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 25 No. 1 (2023): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 24 No. 1 (2022): VOL 24, NO 1 (2022): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 24 No. 2 (2022): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 24 No. 1SP (2022): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA: SPECIAL ISSUE Vol. 23 No. 2 (2021): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 23 No. 1 (2021): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 22 No. 2 (2020): Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 22 No. 1 (2020): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 21 No. 2 (2019): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 21 No. 1 (2019): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 20 No. 3 (2018): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 20 No. 2 (2018): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 20 No. 1 (2018): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 19 No. 3 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 19 No. 2 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 19 No. 1 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 18 No. 3 (2016): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 18 No. 2 (2016): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 18 No. 1 (2016): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 17 No. 3 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 17 No. 2 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol 17, No 2 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA Vol. 17 No. 1 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA More Issue