cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Psiko-Edukasi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 129 Documents
KOMUNIKASI INTERPERSONAL KARYAWAN DIVISI QUALITY CONTROL PT S.H. INDONESIA Lourentina Violita Violita
Psiko-Edukasi Vol 14, No 2 (2016): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.461 KB)

Abstract

AbstrakKomunikasi interpersonal  adalah suatu respon atau tanggapan terhadap interaksi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih melalui sarana media secara langsung untuk menyampaikan suatu pesan dan tujuan. Ciri yang harus diperhatikan dalam menentukan efektivitas suatu komunikasi interpersonal yang baik yaitu keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, dan kesamaan antar rekan kerja dan atasan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Berdasarkan hasil analisis secara keseluruhan diketahui bahwa komunikasi interpersonal karyawan divisi Quality Control PT SHI terdapat pada klasifikasi tinggi.Kata kunci: komunikasi, interpersonalAbstractInterpersonal communication is a response or responses to interactions made by two or more persons by means of the media as well as to directly convey a single message or purpose. Characteristics that must be considered in determining the effectiveness of a good interpersonal communication is openness, empathy, support, positive sense, and the similarity among colleagues and leadership. This research is descriptive in nature. Based on the overall analysis, it was found that interpersonal communication division employees Quality Control PT SHI were at a high classification.Key words: communication, interpersonal
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DAN DETERMINASI DIRI SISWA KELAS X SMA CHARITAS Stefani Aprilia Bulu Geon
Psiko-Edukasi Vol 14, No 1 (2016): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.357 KB)

Abstract

Abstrak    Determinasi diri adalah kemampuan individu untuk memiliki kontrol diri dalam memfasilitasi dirinya mencapai tujuan hidup pribadi dengan menerima kekuatan dan keterbatasan diri yang didasarkan pada tiga kebutuhan psikologis bawaan yaitu kebutuhan akan kompetensi, otonomi, dan keterikatan. Efikasi diri adalah keyakinan akan kemampuan diri dalam menyelesaikan sebuah tugas yang meliputi dimensi kesukaran, generalisasi dan kekuatan dalam penyelesaiannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan  determinasi diri. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Charitas. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen skala penilaian. Hasil analisis korelasi antara efikasi diri dengan determinasi diri menunjukkan adanya korelasi yang positif dan signifikan antara keduanya.  Saran kepada guru Bimbingan Konseling agar dapat meningkatkan efikasi diri dan determinasi diri siswa, antara lain melalui program konseling individual, refleksi harian tentang kegiatan belajar, jurnal harian, dan dinamika kelompok. Kata kunci: efikasi diri, determinasi diriAbstractSelf-determination is the ability of individual in having the  self-control of facilitating himself in fulfilling his life purposes by accepting strength and limitation based on three innate psychological needs: the need for competence, autonomy and attachment. Self-efficacy is the conviction about one’s ability in accomplishing a task, consisting of dimensions of difficulty, generalization, and strength in accomplishing it. This study aims to identify the correlation between self-efficacy and self-determination. Subjects were students of tenth grade of Charitas Senior High School. Data collection used the evaluation scale instrument. Analysis of correlation between self-efficacy and self-determination showed positive and significant correlation between both. Suggestions for guidance counseling teacher in order to enhance self-efficacy and self-determination of students include among others individual counseling program, daily reflection on study activity, daily journal, and group dynamic. Keywords: self-efficacy, self-determination
PERSEPSI MAHASISWA PRODI BK TERHADAP IKLIM SOSIAL DI LINGKUNGAN PRODI BK Maria Claudia Trihastuti
Psiko-Edukasi Vol 15, No 1 (2017): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Persepsi terhadap iklim sosial program studi Bimbingan dan Konseling (prodi BK) merupakan penilaian mahasiswa prodi BK terhadap pengalaman yang terkait interaksi timbal balik dengan anggota komunitas dalam relasi sosial, sistem kebijakan, dan perubahan sistem di komunitas prodi BK. Subjek penelitian terdiri dari mahasiswa aktif  prodi BK angkatan 2010-2015 yang berjumlah  70 mahasiswa sebagai sampel penelitian. Instrumen persepsi mahasiswa Prodi BK terhadap iklim sosial di prodi BK terdiri dari tiga komponen yaitu hubungan sosial, perkembangan pribadi, dan penetapan dan penerapan aturan kontrol terhadap perilaku terdiri yang berjumlah 45 pernyataan. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik statistik analisis deskriptif. Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa terdapat 36 mahasiswa (51,43%) memiliki persepsi yang sangat positif mengenai iklim sosial di prodi BK. Adapun mahasiswa yang memiliki persepsi cukup positif sebanyak 34 orang (48,57%).  Mahasiswa prodi BK menilai secara positif iklim sosial di prodi BK. Interaksi mahasiswa dengan sesama mahasiswa dan dengan dosen dinilai positif oleh mahasiswa. Iklim sosial yang dinilai mahasiswa kurang positif adalah yang terkait dengan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan dan melaksanakan ide kreatif yang diusulkan mahasiswa. Kata kunci: iklim sosial, hubungan sosial, perkembangan pribadi, dan penetapan dan penerapan aturan kontrol terhadap perilaku Abstract  Perceptions of a social climate of the guidance and counseling study program is students’ assessment of the program related to their experiences and mutual interactions with the community members in social relation, policy system, and system changes. Subjects were 70 active students (class of 2010-2015) from the study program. The instrument used consisted of three components: social relation, personal development, the application of control regulation towards students’ attitudes which are composed of 45 statements. Data were analyzed using descriptive statistics. Results revealed that 36 students (51.43%) had a very positive perception of the social climate of the study program, and 34 students (48.57%) had a fairly positive perception. Student-student and student-teacher interactions were perceived positively by the students. However, the component of opportunity to develop and carry out creative ideas proposed by students was perceived less positively. Key words: social climate, social relation, personal development, the application of control regulation towards students’ attitudes
HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP POLA ASUH ORANGTUA DAN HARGA DIRI DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL SISWA KELAS X SMK STRADA BUDI LUHUR BEKASI Putri Shima Shima
Psiko-Edukasi Vol 15, No 1 (2017): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.259 KB)

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui hubungan persepsi terhadap pola asuh orangtua dengan harga diri terhadap penyesuaian sosial siswa kelas X SMK Strada Budi Luhur. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Strada Budi Luhur Bekasi. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 73 siswa. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen skala penilaian. Instrumen persepsi pola asuh orangtua memiliki 36 pernyataan dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,89. Instrumen harga diri memiliki 44 pernyataan dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,91. Instrumen penyesuaian sosial memiliki 49 pernyataan dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,93. Hasil penelitian persepsi terhadap pola asuh dan harga diri dengan penyesuaian sosial diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,482 (p<0,05). Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi terhadap pola asuh orangtua dan harga diri dengan penyesuaian sosial. Pola hubungan yang ditunjukkan adalah positif, yang artinya semakin positif persepsi pola asuh orangtua dan semakin tinggi harga diri siswa maka semakin baik pula penyesuaian sosial siswa. Kata kunci : persepsi terhadap pola asuh orangtua, harga diri, penyesuaian socialThe aim of this study is to discover the relationship between the perceptions of parenting patterns and self-esteem towards ten graders’ social adjustment of Strada Budi Luhur Senior High School. It employs a correlation method with 73 students as its subjects. Data were collected using an assessment scale instrument. The perceptions of parenting pattern had 36 statements with the reliability coefficient of 0.89; the self-esteem instrument had 44 statements with the reliability coefficient 0.91, and social adjustment instrument had 49 statement with the reliability coefficient of 0.93.  Results showed that the perception of parenting and self-esteem toward social adjustment had a correlation coefficient of 0.482 (p<0.05). Thus, there is a positive and significant correlation between the perception of parenting patterns and self-esteem toward social adjustment, suggesting that the more positive the perception of the parenting pattern, and the higher the students’ self-esteem, the better students’ social adjustment. Key words: perceptions of parenting patterns, self-esteem, and social adjustment
KEBIASAAN BELAJAR DUA SISWA DARI KELUARGA MARGINAL DI MTS. AL-MAKMUR Basilisa Dewi Wulandari
Psiko-Edukasi Vol 14, No 2 (2016): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.655 KB)

Abstract

Kebiasaan belajar diartikan sebagai cara atau teknik yang menetap pada diri siswa pada waktu menerima pelajaran, membaca buku, mengerjakan tugas, dan pengaturan waktu untuk menyelesaikan kegiatan. Tujuan penelitian ini untuk menelaah kebiasaan belajar dua siswa dari keluarga marginal di MTs. Al-Makmur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian kebiasaan belajar subjek RG memiliki kebiasaan belajar yang baik. Kebiasaan belajar RG pada ketepatan waktu penyelesaian tugas akademis, menghindarkan diri dari penundaan penyelesaian tugas, menghilangkan stimulus yang mengganggu konsentrasi belajar, penggunaan cara belajar yang efektif dan efisien dalam mengerjakan tugas akademik dan keterampilan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek LG belum memiliki kebiasaan belajar yang baik. Kebiasaan belajar tidak teratur, daya tahan belajar rendah, belajar ketika menjelang ulangan atau ujian, tidak memiliki catatan pelajaran yang lengkap, tidak terbiasa membuat ringkasan, tidak memiliki motivasi untuk memperkaya materi pelajaran, senang menjiplak pekerjaan teman dan kurang percaya diri, dan sering datang terlambat. Saran kepada guru agar memberikan bimbingan individual dan kelompok secara berkesinambungan. Hal tersebut guna memperbaiki kebiasaan belajar siswa yang belum teratur.Kata kunci : kebiasaan belajar
Pelaksanaan Konseling Kelompok dengan Pendekatan Person-Centered Therapy dalam Menangani Regulasi Diri Rendah Empat Mahasiswa Angkatan 2014 Prodi Bimbingan dan Konseling Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya Veronika Sriyani Wikarta
Psiko-Edukasi Vol 14, No 2 (2016): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.528 KB)

Abstract

AbstrakRegulasi diri adalah perubahan yang dilakukan oleh diri sendiri dengan cara mengubah beberapa aspek dari diri sesuai dengan konsep standar yang dipilih oleh diri sendiri  atau ditentukan oleh lingkungan social. Penelitian ini adalah penelitian tindakan bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk mengetahui mengenai penanganan mahasiswa yang mempunyai regulasi diri rendah melalui konseling kelompok dengan pendekatan Person-Centered Therapy.  Pengukuran tingkat regulasi diri diukur dengan menggunakan skala penilaian yang diberikan sebelum dan sesudah tindakan berupa konseling kelompok. Pendekatan Person-Centered Therapy dalam konseling kelompok dapat membantu menangani masalah (1) pencegahan, pengembangan pribadi dan pengentasan masalah, (2) ajang latihan untuk mengubah perilaku yang kurang memuaskan menjadi lebih memuaskan, (3) tempat para anggota kelompok belajar keterampilan sosial, (4) tempat anggota akan menjalin hubungan pribadi lebih dalam, dan (5) meningkatkan motif individu untuk berkarya melalui interaksi yang intensif dan dinamis dalam kelompok. Dalam masalah regulasi diri, pendekatan Person-Centered Therapy dalam konseling kelompok berhasil meningkatkan motif para anggota kelompok untuk memperbaiki prestasi belajar dan kinerja dalam proses belajar, tetapi pendekatan ini kurang berhasil mengubah perilaku subjek penelitian untuk melakukan regulasi diri dalam waktu yang singkat. Dibutuhkan dua siklus untuk dilakukan tindakan lebih lanjut yaitu siklus pertama untuk menyembuhkan luka batin dan siklus yang kedua untuk membantu subyek memperbaiki regulasi dirinya.Kata kunci: regulasi diri, konseling kelompokAbstractSelf-regulation is changes done by oneself through changing some aspects of self with the standard concept either being chosen by oneself or being determined by the social environment. This study aims to find out how students with low self-regulation can be handled through a group counseling using the Person-Centered Therapy. The assessment scale (given before and after the group counseling) was used to measure the regulation level. This approach can help solve the problems as follows: (1) prevention, individual development and problem solution; (2) an avenue to alter behaviors; (3) a site where the group members learn social skills; (4) a site where each member build an intimate relationship; (5) an avenue where an individual can improve his/her motif to work through an intensive and dynamic interaction in a group. In the self-regulation problems, the Person-Centered Therapy approach succeeded in improving the motif of group members to correct their learning accomplishment and work in the learning process. However, this approach was less successful in changing the behaviors of the subjects of this study in conducting self-regulation in a short period of time. Two cycles are needed as a follow-up: the first cycle for healing the inner-most wounds and the second cycle for helping the subjects to fix their self-regulation.  Key words: self-regulation, group counseling
HUBUNGAN ANTARA IKLIM ORGANISASI DAN MOTIF BERPRESTASI KARYAWAN KANTOR NOTARIS & PPAT Sri Atina
Psiko-Edukasi Vol 14, No 1 (2016): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.356 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara iklim organisasi dan motif berprestasi karyawan Kantor Notaris & PPAT “X”. Peneliti mengambil subjek ujicoba terpakai sebanyak 30 karyawan sesuai dengan jumlah karyawan yang berada dalam kantor tersebut. Instrumen pengumpulan data adalah skala penilaian yang mengukur iklim organisasi dan motif berprestasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan rumus Product Moment. Hasil ujicoba instrumen motif berprestasi diperoleh 30 pernyataan valid dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,927. Instrumen iklim organisasi diperoleh 53 pernyataan yang valid dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,952. Pada variabel motif berprestasi terdapat 60% karyawan dengan klasifikasi tinggi, 40% karyawan dengan klasifikasi sedang, dan tidak ada karyawan dengan klasifikasi rendah. Pada variabel iklim organisasi terdapat 40% karyawan dengan klasifikasi positif, 53% karyawan dengan klasifikasi cukup positif, dan 7% karyawan pada klasifikasi kurang positif. Hasil analisis korelasi antara iklim organisasi dan motif berprestasi sebesar 0,74 dengan tingkat probabilitas kesalahan sebesar 0,000. Hasil tersebut menunjukkan probabilitas kesalahan hasil penelitian ini lebih kecil dari 0,01. Hal ini berarti iklim organisasi dan motif berprestasi memiliki korelasi yang positif dan signifikan. Semakin positif iklim organisasi, maka semakin tinggi motif karyawan untuk berprestasi. Sebaliknya, semakin negatif iklim organisasi, maka semakin rendah motif karyawan untuk berprestasi.Kata kunci: iklim organisasi, motif berprestasiAbstractThis study aims to determine the relationship between organizational climate and employee achievement motive Notary Office & PPAT “X”. Researchers took the test subjects used by 30 employees in accordance with the number of employees who are in the office. Data collection instrument was a rating scale that measures organizational climate and achievement motive. Analysis of the data in this study using the formula Product Moment. Achievement motive instrument test results obtained 30 valid statement with reliability coefficient of 0.927. Organizational climate instrument obtained 53 valid statement with reliability coefficient of 0.952. On the achievement motive variables there are 60% of employees with a higher classification, 40% of employees classified as moderate, and no employee with a lower classification. At the organizational climate variables there are 40% of employees with positive classification, 53% of employees with a classification quite positive, and 7% of employees in a less positive classification. The results of the analysis of the correlation between organizational climate and achievement motive of 0.74 with an error probability level of 0.000. These results indicate the probability of error on these results less than 0.01. This means that the organizational climate and achievement motive had a positive and significant correlation. The more positive organizational climate, the higher the motive employees to achive. Conversely, the negative climate of the organization, the lower the motive employees to achieve.Key words: climate organization, achievement motive
KOMPETENSI PENDIDIK PARA LULUSAN PRODI BIMBINGAN KONSELING UNIKA ATMA JAYA Henny Christine Mamahit; Yohanes Markus Papu
Psiko-Edukasi Vol 15, No 1 (2017): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.53 KB)

Abstract

Abstrak Kompetensi lulusan mahasiswa prodi BK mengacu pada kompetensi pendidik yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Terdapat empat kompetensi yang perlu dikembangkan sebagai calon pendidik yaitu kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Pengembangan keempat kompetensi ini terdapat dalam kurikulum prodi BK dan terealisasi dalam proses pembelajaran. Melalui sebaran data dengan menggunakan instrumen berbentuk skala penilaian, ditelusuri kompetensi alumni prodi BK terkait penguasaan keempat kompetensi tersebut. Untuk memperkuat hasil data deskriptif, peneliti melakukan focus group discussion bersama alumni. Hasil skor rata-rata pada komponen pedagogik sebesar 153,25; pada komponen kepribadian sebesar 212, 85; pada komponen profesional sebesar 207,2; dan pada komponen sosial sebesar 213,45. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa komponen yang berada di atas skor rata-rata keseluruhan dan merupakan komponen tertinggi adalah komponen sosial. Komponen kedua setelah komponen sosial adalah komponen kepribadian. Komponen ketiga adalah komponen professional, dan komponen yang berada di bawah komponen skor rata-rata keseluruhan adalah komponen pedagogik. Kata kunci: kompetensi pendidik, profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Abstract  Competence required by the guidance and counseling students to graduate refers to the teacher competence stipulated in the Law No. 14/2005 on Teachers.  Included in the curriculum of guidance and counseling study program and realized in the learning process, this competence encompasses such components as professional, pedagogy, personal and social. Using the assessment scale as an instrument, this study aims to find out the students’ mastery of the four components of the competence. To support results from the descriptive data, the study will use a focus group discussion with the alumnae. Findings indicate that the average score of pedagogic component is 153.25, of personal component 212. 85, of professional component 207.2, and of social component 213.45. Key words: teacher competence, professional, pedagogic, personal, social.
HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP GAYA KEPEMIMPINAN SITUASIONAL DENGAN PERILAKU KEWARGAAN ORGANISASIONAL KARYAWAN PT GRAMEDIA ASRI MEDIA PLAZA SEMANGGI Victoria Mirah Kencana
Psiko-Edukasi Vol 15, No 1 (2017): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.594 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan situasional dengan perilaku kewargaan organisasional karyawan PT Gramedia Asri Media Plaza Semanggi. Peneliti mengambil subjek ujicoba terpakai sebanyak 50 karyawan sesuai dengan jumlah karyawan yang berada dalam kantor tersebut. Instrumen pengumpulan data adalah skala penilaian yang mengukur persepsi gaya kepemimpinan dan perilaku kewargaan organisasional. Hasil ujicoba instrumen perilaku kewargaan organisasional diperoleh 30 pernyataan yang valid dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,96. Instrumen persepsi gaya kepemimpinan diperoleh 42 pernyataan yang valid dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,96. Pada variabel perilaku kewargaan organisasional terdapat 59% karyawan dengan klasifikasi tinggi, 39% karyawan dengan klasifikasi sedang dan 2% karyawan dengan klasifikasi rendah. Hasil analisis korelasi antara persepsi gaya kepemimpinan situasional dan perilaku kewargaan organisasional sebesar 0,27 (p> 0,05). Oleh karena itu hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi gaya kepemimpinan situasional dan perilaku kewargaan organisasional. Kata kunci : Gaya kepemimpinan situasional, perilaku kewargaan organisasional AbstractThis study aims to determine the relationship between employee’s perceptions of situational leadership style and their organizational citizenship behavior. Subjects were 50 employees of PT GA. The instrument used was a grading scale that measured the perception of leadership styles and organizational citizenship behavior. Data were analyzed using the product moment correlation formula. Results of testing instruments organizational citizenship behavior revealed 30 valid statements with reliability coefficient of 0.96. Instruments perception of leadership style showed 42 valid statements with reliability coefficient of 0.96. The organizational citizenship behavior variables contained 59% of employees with a higher classification, 39% of employees classified as moderate, and 2% of employees with a lower classification. The results of the analysis of the correlation between the perception of the situational leadership style and organizational citizenship behavior amounted to 0.27 (p>0,05). Therefore, the results of this study showed no significant correlation between the perception of the situational leadership style and organizational citizenship behavior. Keywords: style situational leadership, organizational citizenship behavior
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN KOMITMEN ORGANISASI PARA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI DI PT ADI Oktaviani Venlin Venlin
Psiko-Edukasi Vol 14, No 2 (2016): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKomitmen organisasi adalah keterikatan karyawan untuk bertahan dalam suatu organisasi dan meningkatkan usaha dalam organisasi tersebut. Komitmen organisasi memiliki tiga komponen yaitu komitmen afektif, komitmen kontinuitas, dan komitmen normatif. Persepsi terhadap gaya kepemimpinan adalah pandangan dan tanggapan karyawan terhadap interaksi antara pemimpin dan karyawan dalam situasi atau kegiatan kerja. Gaya kepemimpinan yang difokuskan adalah kepemimpinan transformasional, yang memiliki empat komponen yaitu pengaruh ideal, motivasi inspirasi, stimulasi intelektual, dan  pertimbangan individual. Tujuan penelitian pada karyawan PT ADI adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap gaya kepemimpinan dengan komitmen organisasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Teknik pengumpulan data menggunakan skala penilaian yang digunakan untuk mengukur persepsi terhadap gaya kepemimpinan dan komitmen organisasi. Reliabilitas instrumen komitmen organisasi sebesar 0.97 dan reliabilitas instrumen persepsi terhadap gaya kepemimpinan sebesar 0.98. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi terhadap gaya kepemimpinan dan komitmen organisasi. Kata kunci : komitmen organisasi dan persepsi terhadap gaya kepemimpinan transformasionalAbstract Organization commitment to is an employee’s dependence on an organization to survive and to improve. It has three components: affective, continuity, and normative. Perceptions on the leadership styles are perspectives and responses of employees to the interaction between the super ordinate and employees in a working situation. The focused leadership style is transformational leadership, which has four components, namely: ideal influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration. The purpose of this correlation study is to find out the correlation between the perceptions of the PT ADI employees on the leadership style and the organization commitment.  Data were collected using the assessment scale which was used to measure the perceptions on the leadership style and organization commitment. The reliability of organization commitment instrument was 0.97 and the reliability of perceptions on the leadership commitment instrument was 0.98. Results showed that there was a positive and significant correlation between these two variables.   Key words: commitment to organization, perceptions on the transformational leadership styles

Page 2 of 13 | Total Record : 129