cover
Contact Name
Saiful Anwar
Contact Email
saifulanwar@unida.gontor.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
attadib@unida.gontor.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
AT TA´DIB
ISSN : 02169142     EISSN : 25033514     DOI : -
At-Ta'dib adalah media ilmiah bidang kependidikan Islam, baik berupa studi kepustakaan, hasil penelitian maupun karya ilmiah terkait. Terbit dua kali dalam setahun, sebagai sarana pengembangan tradisi keilmuan insan tarbiyah dan pendidikan pada umumnya. Jurnal kependidikan Islam ini diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah Universitas Darussalam Gontor.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan" : 10 Documents clear
Pendidikan Seks Dalam Perspektif Tafsir Maudhu’i Akhmad Alim
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.315

Abstract

Salah satu masalah besar yang mengancam moralitas anak bangsa adalah virus pornografi. Pengaruh teknologi informasi yang kuat, yang diiringi dengan kurangnya filter akan keterbukaan informasi tersebut, merupakan penyebab utama bagi pelajar untuk mengakses pornografi tersebut. Ditambah lagi dengan adanya pergaulan bebas yang kian marak, yang diiringi dengan lemahnya pengawasan dari lembaga keluarga dan lembaga pendidikan, maupun pemerintah. Untuk itu, memberikan pendidikan tentang seks, dengan cara yang benar dan tepat adalah sebuah keharusan bagi setiap orang tua dan para pendidik, agar para generasi mendatang tumbuh kembang sesuai dengan fitrahnya, serta mengetahui batas halal dan haram dalam hal interaksi dengan lawan jenisnya. Ketidaktahuan mereka tentang pendidikan seks akan menjerumuskannya pada hal-hal negatif, akibat dorongan syahwatnya yang tidak terkendali
Kritik terhadap Kurikulum Berbasis Kesetaraan Gender Oma Komarudin
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.320

Abstract

Pendidikan merupakan tonggak sebuah peradaban. Untuk itu diperlukan implementasi kurikulum pendidikan yang mampu menunjang berdirinya peradaban tersebut. Kurikulum yang benar dalam perspektif Islam adalah kurikulum yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah. Yang mana nilai-nilai syariah diformulasikan ke dalam bentuk kurikulum pendidikan. Akan tetapi, seiring dengan berkembangnya arus globalisasi saat ini proses implementasi kurikulum berbasis al-Qur’an menghadapi tantangan tersendiri. Salah satu tantangan tersebut datang dari pemikiranpemikiran barat yang bersifat dekonstruktif. Misalnya, wacana kurikulum berbasis kesetaraan gender. Melalui wacana ini pegiat gender ingin menanamkan nilai-nilai gender equality dengan cara mendekonstruksi ketetapan al-Qur’an. Menyikapi hal itu, penulis ingin meluruskan wacana kurikulum berbasis kesetaraan gender. Karena wacana tersebut datang dari barat maka hal itu tidak sesuai apabila diimplementasikan dalam pendidikan Islam. Untuk itu, diperlukan cara pandang yang tepat yaitu cara pandang Islam (Islamic Worldview). Yaitu cara pandang yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
Pendidikan Sebagai Asas Pembangunan Negara (Studi Konseptual) Amie Primarni
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.316

Abstract

Manusia adalah makhluk yang diberi banyak kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Pada hakekatnya manusia memiliki empat elemen inti yaitu intelektual, emosi, spiritual, dan fisik-inderawi. Keempat eleman tersebut merupakan pemberian Allah SWT. Sehingga, manusia mengemban tanggungjawab yang sangat besar terhadap kegunaan elemen-elemen tersebut. Sebab manusia merupakan pemimpin di dunia, termasuk pemimpin bagi dirinya sendiri. Dan untuk melaksanakan tanggungjawab manusia sebagai pemimpin atas dirinya maupun orang lain maka manusia membutuhkan pendidikan. Dengan pendidikan tersebut manusia akan mengetahui antara yang baik dan buruk. Untuk itu, pendidikan yang dicanangkan kepada manusia hendaknya mengarah pada perilaku yang memanusiakan manusia. Artinya, manusia harus diberikan suplemen pengetahuan yang mampu mereka gunakan untuk menjalankan kebaikan. Dalam konsep Islam, kebaikan yang dimaksud adalah aturan atau syariat yang tertulis dalam al-Qur’an dan Hadits. Oleh sebab itu, pendidikan Islam semestinya selalu berdasarkan pada ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan Hadits. Terutama dimulai dari Pengakuan adanya Allah SWT, dan berakhir dengan Kepatuhan atau Ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan kesadaran penuh yang dihasilkan oleh pengembangan intelektual, emosi dan fisik Inderawi. Dengan nilai inilah manusia diharapkan mampu membangun negara yang sesuai dengan syariat Islam
Manajemen Kerjasama dan Kemitraan Pesantren dengan Dunia Usaha Ahmad Saifulloh
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.302

Abstract

Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki komitmen untuk membangun masyarakat, pesantren dituntut untuk dikelola secara modern. Hal ini menjadi sebuah keharusan karena tantangan yang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini semakin berat. Alumni pesantren dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa persaingan hidup di era global semakin keras sehingga dibutuhkan soft skill dan hard skill yang mumpuni agar bisa tetap survive. Jiwa entrepreneurship menjadi salah satu soft skill yang harus ditanamkan pesantren kepada para santrinya. Penanaman jiwa ini akan bisa dilaksanakan dengan baik jika pesantren menjalin kerjasama dengan dunia usaha. Makalah ini akan membahas dasar hukum kemitraan pesantren dengan dunia usaha dan analisa terhadap manajemen kerjasama tersebut.
Problem Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (PKBG) (Kajian kritis) Saiful Anwar
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.321

Abstract

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang sangat berpengaruh pada akhlak. Sebab, untuk menanamkan akhlak pada anak tentu memerlukan pembiasan sejak dini. Hanya saja, dalam perkembangannya, saat ini pendidikan keluarga menghadapi tantangan. Di antara tantangan tersebut datang dari pemikiran feminisme. Menurut pegiat feminis, penerapan paham kesetaraan gender di Indonesia adalah suatu keniscayaan. Mereka menganggap paham ini solusi untuk mengatasi kekerasan dan diskriminasi atas perempuan dalam lingkungan pendidikan. Pemikiran tersebut mendapat angin segar dari pemerintah. Dengan dikeluarkannya Inpres No. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional maka pegiat feminisme bisa bebas menyebarkan pemikirannya. Sebab, kebijakan ini meletakkan kesetaraan gender dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), program yang responsif gender pun termuat dalam beberapa sektor pembangunan, diantaranya sektor pendidikan Lebih dari itu, pemikiran kesetaraan gender dalam pendidikan keluarga yang diusung oleh feminis tersebut diperkuat dengan adanya buku “Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Program Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (PKBG) Dan Tata Cara Memperoleh Dana Bantuan Dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat” oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku tersebut merupakan sebagai acuan norma, standar, prosedur dan kriteria bagi para pembina, pengelola atau penyelenggara program dan kegiatan PKBG dalam melaksanakan program ini. Fakta ini tentu sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebab dalam Islam, pendidikan keluarga tidak terbatas dengan kesetaraan gender. Konsep keadilan dalam Islam bukan berarti menyamakan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Untuk itu, pendidikan keluarga hendaknya tetap berpegang pada syariah Islam yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits dan bukan paham dari Barat.
Liberalisasi Kurikulum Pendidikan (Studi Kritis Buku-Buku Pelajaran Sekolah) Muhammad Aqil Azizy
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.317

Abstract

Kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam pendidikan. Sebab, manajemen pendidikan dalam suatu lembaga akan menjadi lebih baik apabila diatur dalam suatu sistem kurikulm. Dalam kurikulum tersebut memuat tujuan, proses pembelajaran hingga tata cara evaluasi. Semua mata pelajaran yang harus diketahui dan dihayati oleh anak didik harus ditetapkan dalam kurikulum. Kurikulum merupakan media yang sangat signifikan dalam menanamkan paradigma pada diri siswa, khususnya pada fase-fase pendidikan tingkat pertama. Di samping itu, kurikulum juga merupakan sarana untuk membentuk persepsi generasi muda tentang dunia sekitar. Serta, sarana melahirkan generasi beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia adalah melalui pendidikan yang baik Akan tetapi, dewasa ini dunia pendidikan menghadapi tantangan dari pemikiran-pemikiran Barat. Seperti liberalisme, meterialisme, atheisme, feminisme, dan lain sebagainya. Paham-paham ini bermuara pada satu masalah inti yaitu merusak syariah Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Paham tersebut berupaya untuk menghapus atau menghilangkan nilai-nilai agama Islam dari dalam diri umat Islam melalui sistem kurikulum pendidikan. Dan untuk menghadapi tantangan tersebut upaya yang dapat dilakukan ialah dengan memperkuat adab/akhlak. Pendidikan adab menjadi penting sebab dengan konsep adab inilah dunia pendidikan seharusnya lebih menekankan aspek pendidikan akhlak daripada sekedar pembelajaran materi-materi tertentu.
Problem Multikulturalisme Dalam Pendidikan Agama Islam Ahmad Sofyan Hadi
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.322

Abstract

Pendidikan Islam selalu mengalami perkembangan. Seiring dengan perkembangan tersebut banyak hal yang dialami dunia pendidikan Islam. Mulai dari hal-hal yang bersifat mendukung perkembangan tersebut hingga tantangan pemikiran yang datang dari luar. Di antara tantangan pemikiran tersebut adalah munculnya wacana multikulturalisme yang mencoba untuk menyelesaikan konflik sosial-budaya. Paham tersebut berupaya untuk mengakomodir keragaman etnis, budaya, suku, bahkan agama. Seiring dengan perkembangan tersebut paham multikulturalisme mulai masuk ke ranah pendidikan Islam. Dan di antara pemikiran yang digagas melalui paham tersebut adalah paham pluralisme agama, relativisme kebenaran, rekonstruksi penafsiran al-Qur’an, dan juga religiositas dalam beragama. Beragam tantangan tersebut sebenarnya telah disikapi oleh Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 2005, MUI telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan paham Pluralisme Agama. Sebab, paham Pluralisme Agama merupakan inti dari wacana multikulturalisme agama. Dalam pandangan Islam, paham multikulturalisme yang mencoba untuk mengaburkan konsep Tuhan merupaham hal yang tidak dapat dipandang remeh. Sebab konsep Tuhan adalah poin utama yang harus ditananmkan kepada peserta didik. Untuk itu, pendidikan Islam sudah seharusnya menanamkan konsep Tuhan melalui konsep yang sesuai dengan Islam yaitu konsep Adab.
Peran Madrasah Sebagai Pendidikan Islam Masa Kini (Studi Tradisi dan Perubahan) Abdan Rahim
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.312

Abstract

Pendidikan Islam memiliki tujuan yang sangat mulia. Secara garis besar tujuan tersebut dapat digambarkan melalui istilah insan kamil atau manusia yang sempurna. Kesempurnaan manusia dapat dilihat dari akhlak yang dimilikinya. Dan akhlak tersebut merupakan pancaran dari ilmu yang ada pada dirinya. Untuk itu, ilmu yang dipelajari di bangku sekolah pada hakekatnya tidak hanya untuk menambah wawasan semata. Lebih dari itu, ilmu diajarkan kepada seseorang agar menjadi lebih baik. Madrasah adalah salah satu model lembaga pendidikan yang ada di Indonesia dengan ciri khas nilai Islam. Dalam tradisi pengajaran agama Islam, madrasah selalu memperhatikan pada penanaman akhlak. Sebab, dalam sistem madrasah terdapat nilai-nilai keislaman yang dituntut untuk selalu dikembangkan. Sehingga nilai tersebut membentuk tradisi sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya, madrasah juga menghadapi tantangan yang begitu besar. Khususnya tantangan dari Barat. Barat dengan model pendidikannya yang tidak bersingggungan dengan Islam tentu menuntut sistem madrasah untuk berubah dan berkembang. Oleh sebab itu, model pendidikan madrasah di Indonesia harus selalu berpegang pada nilai Islam untuk dapat bertahan di dunia global ini
Filsafat Ilmu dan Problem Metodologi Pendidikan Islam Kholili Hasib
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.318

Abstract

Salah satu tantangan dunia pendidikan saat ini adalah model pengajaran Filsafat Ilmu yang masih belum tampak berwarna Islam. Hal ini bisa dipahami dari fenomena minimnya buku-buku teks Filsafat Ilmu dengan menggunakan perspektif pandangan hidup Islam. Di samping itu, pendekatan pendidikan yang digunakan oleh mayoritas lembaga pendidikan di Indonesia masih menggunakan pendekatan orientalis, yaitu historis antropologis. Dalam pendekatan tersebut ditekankan pada pemahaman keagamaan berdasarkan sudut pandang sosial keagamaan yang bersifat multidisipliner. Dalam perspektif Islam, studi keilmuan akan lebih baik apabila dipahami dengan merujuk pada sumber utamanya yaitu al-Qur’an dan al- Hadits. Sebab, kedua sumber tersebut merupakan sumber utama suatu konsep ilmu pengetahuan. Hal itu dapat dianalisa dari berbagai bentuk derivasi kata ‘ilm yang diulang sebanyak 750 kali dalam berbagai konteks. Pada dasarnya, ilmu pengetahuan sangat terkait dengan akidah. Sebab, hakekat ilmu bukanlah sekedar ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, penguasaan ilmu seharusnya berdampak secara langsung perilaku atau akhlak seseorang tersebut. Atas dasar inilah Imam al-Ghazali membagi ilmu ke dalam dua klasifikasi utama yaitu ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Sebagai umat Islam yang memperhatikan hakekat ilmu pengetahuan melalui dunia pendidikan tentu pemahaman tentang klasifikasi tersebut tidak dapat diabaikan. Untuk itu, dalam konteks pendidikan sekarang, diperlukan segera desain kurikulum pendidikan Islam yang berasaskan dinamisasi konsep fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Dinamisasi demikianlah yang akan membentuk karakter secara kuat terhadap pribadi anak didik.
Analisis Pola Perilaku Individual Stage Mahasiswi STAIN Ponorogo Muhammad Mukhlas; Elfi Yuliani Rochmah
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.319

Abstract

Penelitian sederhana ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tiga hal pokok, (1) pola perilaku mahasiswi STAIN Ponorogo, (2) konsep ke-Tuhanan yang berkaitan dengan aurat dan mahram, dan (3) faktor yang mempengaruhi pola perilaku mahasiswi tersebut. Untuk menjawab permasalah di atas, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomonologis. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya mengacu pada konsep analisis data kualitatif yang diadopsi dari Miles & Hubberman yang meliputi tiga kegiatan reduksi data (data reduction), pemaparan data (data display, dan simpulan/verifikasi (conclusion/verification). Dari hasil analisis data ditemukan bahwa pertama, pola perilaku mahasiswi adalah pola perilaku yang berproses, dibentuk, dan dipelajari melalui interaksi sosial dan nonsosial di lingkungan rumah, sekolah/ pesantren/kampus, maupun masyarakat atas dasar alternatif pilihan yang memberi manfaat bagi diri dan lingkungannya yang dilengkapi perilaku atribusi dengan atau tanpa disertai perilaku insentif sesuai peran yang mereka jalankan sebagai mahasiswi PTAIN. Kedua, konsep keagamaan terkait mahram dan aurat pada tingkat individual stage ada yang bersifat konvensional cenderung modern, yakni perilaku yang didasarkan pada konsep kehidupan modern yang membuat individu lebih nyaman. Pada mereka, dimensi keagamaan ideologis ada yang cukup tinggi dan ada yang sedang, begitu juga dengan dimensi intelektual. Dimensi ritualistik mayoritas tinggi, dimensi konsekuensial rata-rata tergantung kebutuhan, begitu pula dengan dimensi eksperensial. Ketiga, pembentuk perilaku mahasiswi terkait mahram dan ’aurat adalah keteladanan keluarga, keteladanan guru, interaksi sosial, support sahabat dekat, peraturan/kebijakan/budaya sekolah/pesantren tempat mereka menimba ilmu sebelumnya, juga kebijakan kampus, dan ada juga yang disertai dengan pemahaman/pengertian dalam menjalaninya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 1 (2025): At-Ta'dib Journal of Pesantren Education Vol. 19 No. 2 (2024): The Transformation of Pesantren Education in the Disruption Era Vol. 19 No. 1 (2024): Islamic Educational Institutions and Their Dynamics in Facing the Times. Vol. 18 No. 2 (2023): At-Ta'dib Journal of Pesantren Education Vol. 18 No. 1 (2023): At-Ta'dib Journal of Pesantren Education Vol 17, No 2 (2022): Islamic Education and Its Methods Vol. 17 No. 2 (2022): Islamic Education and Its Methods Vol 17, No 1 (2022): Approaches, Strategies, Methods and Islamic Education Vol 16, No 2 (2021): Learning Strategies During The Pandemic Vol 16, No 1 (2021): Mental, Character and Moral education Vol 15, No 2 (2020): Pembelajaran Model Islami dan Efektifitasnya Vol 15, No 1 (2020): Pembelajaran Islam dalam Konteks Pesantren Masa Kini Vol 14, No 2 (2019): Pendidikan Islam Perkembangan dan Tantangannya Vol 14, No 1 (2019): Mental Education in Pesantren Vol 13, No 2 (2018): Pesantren as a Center for Developing Arabic & English Teaching Vol 13, No 1 (2018): Education System and Education Method in Pesantren Vol 12, No 2 (2017): the values of education in pesantren Vol 12, No 1 (2017): Islamic Character Education Vol 11, No 2 (2016): Standarisasi Pendidikan Islam Vol 11, No 1 (2016): Manajemen Penddiikan Islam Vol 10, No 2 (2015): Integrasi Pendidikan Vol 10, No 1 (2015): Pendidikan Akhlak Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan Vol 9, No 1 (2014): Ilmu Pendidikan Vol 8, No 2 (2013): Urgensi Pendidikan Pesantren Vol 8, No 1 (2013): Tantangan Pendidikan Islam Vol 7, No 2 (2012): Ilmu Pendidikan Vol 7, No 2 (2012): Ilmu Pendidikan Vol 7, No 1 (2012): Teori Pendidikan Vol 6, No 2 (2011): Pendidikan Karakter Vol 6, No 1 (2011): Teknologi Pendidikan Vol 5, No 1 (2010): Prinsip Pendidikan Islam Vol 4, No 2 (2009): Pendidikan Anak Vol 4, No 1 (2009): Kurikulum Pendidikan Islam Vol 3, No 2 (2008): Filsafat Pendidikan Vol 3, No 1 (2008): Dikotomi ilmu pendidikan More Issue