Articles
344 Documents
Manajemen Kerjasama dan Kemitraan Pesantren dengan Dunia Usaha
Ahmad Saifulloh
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.302
Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki komitmen untuk membangun masyarakat, pesantren dituntut untuk dikelola secara modern. Hal ini menjadi sebuah keharusan karena tantangan yang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini semakin berat. Alumni pesantren dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa persaingan hidup di era global semakin keras sehingga dibutuhkan soft skill dan hard skill yang mumpuni agar bisa tetap survive. Jiwa entrepreneurship menjadi salah satu soft skill yang harus ditanamkan pesantren kepada para santrinya. Penanaman jiwa ini akan bisa dilaksanakan dengan baik jika pesantren menjalin kerjasama dengan dunia usaha. Makalah ini akan membahas dasar hukum kemitraan pesantren dengan dunia usaha dan analisa terhadap manajemen kerjasama tersebut.
Konsep Mutu dan Kepuasan Pelanggan dalam Pendidikan Islam
Samsirin .
At-Ta'dib Vol 10, No 1 (2015): Pendidikan Akhlak
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v10i1.336
Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan ke sistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus dilakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negaranegara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu. Dan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan cara memperhatikan Total Quality Management (TQM) . Sistem Total Quality Management merupakan strategi manajemen yang ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi. Maka diharapkan pendidikan Islam mengimplementasikan konsep TQM yang sesuai dan cocok dengan tujuan dan filosofi pendidikan Islam untuk meningkatan kualitas layanan pendidikan yang berwawasan bermutu sehingga akan mampu bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat tanpa menghilangkan tujuan utama pendidikan Islam.
Problem Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (PKBG) (Kajian kritis)
Saiful Anwar
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.321
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang sangat berpengaruh pada akhlak. Sebab, untuk menanamkan akhlak pada anak tentu memerlukan pembiasan sejak dini. Hanya saja, dalam perkembangannya, saat ini pendidikan keluarga menghadapi tantangan. Di antara tantangan tersebut datang dari pemikiran feminisme. Menurut pegiat feminis, penerapan paham kesetaraan gender di Indonesia adalah suatu keniscayaan. Mereka menganggap paham ini solusi untuk mengatasi kekerasan dan diskriminasi atas perempuan dalam lingkungan pendidikan. Pemikiran tersebut mendapat angin segar dari pemerintah. Dengan dikeluarkannya Inpres No. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional maka pegiat feminisme bisa bebas menyebarkan pemikirannya. Sebab, kebijakan ini meletakkan kesetaraan gender dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), program yang responsif gender pun termuat dalam beberapa sektor pembangunan, diantaranya sektor pendidikan Lebih dari itu, pemikiran kesetaraan gender dalam pendidikan keluarga yang diusung oleh feminis tersebut diperkuat dengan adanya buku “Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Program Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (PKBG) Dan Tata Cara Memperoleh Dana Bantuan Dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat” oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku tersebut merupakan sebagai acuan norma, standar, prosedur dan kriteria bagi para pembina, pengelola atau penyelenggara program dan kegiatan PKBG dalam melaksanakan program ini. Fakta ini tentu sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebab dalam Islam, pendidikan keluarga tidak terbatas dengan kesetaraan gender. Konsep keadilan dalam Islam bukan berarti menyamakan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Untuk itu, pendidikan keluarga hendaknya tetap berpegang pada syariah Islam yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits dan bukan paham dari Barat.
Studi Korelasi Implementasi Fiqh Parenting Terhadap Pola Internet Sehat Dalam Pendidikan Anak
Moh. Ismail
At-Ta'dib Vol 9, No 1 (2014): Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v9i1.310
Derasnya arus globalisasi merupakan tantangan dunia pendidian yang harus dihadapi dengan persiapan yang kuat. Terlebih lagi ketika arus tersebut menyerang anak-anak umat Islam. Salah satu tantangan yang sangat perlu untuk direspon secara serius saat ini adalah media internet. Internet merupakan media yang memiliki dua pengaruh yaitu positif dan negatif. Karena sifatnya yang hanya sebatas media maka pengaruh tersebut sangat bergantung pada penggunanya. Namun, ketika yang berhadapan dengan internet adalah anak-anak maka perlu kiranya bimbingan khusus dari orang tua. Model pembimbingan tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan fiqh parenting. Di antara poin fiqh parenting yang terpenting adalah mendidik anak melalui contoh (uswatun hasanah). Pola seperti ini hendaknya melibatkan peran kedua orang tua secara aktif yaitu dengan cara memberikan teladan yang baik dalam setiap tindakan, termasuk juga dalam kegiatan berinternet sehat. Untuk itu, perlu bimbingan dan perhatian yang penuh dalam diri orang tua ketika ingin memperkenalkan internet kepada anak.
الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وآثارهما التربوية
Heru Saiful Anwar
At-Ta'dib Vol 10, No 1 (2015): Pendidikan Akhlak
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v10i1.332
للتربية دور عظيم لتعليم التوحيد في نفس الأولاد، ومن التعاليم القرآنية وصية لقمان الحكيم يعظ ابنه بالتوجه إلى الناس بأمرهم بالمعروف ونهىهم عن المنكر والصبر على تكاليف الدعوة. المعروف اسم لكل فعل يعرف بالعقل أو الشرع حسنه، والمنكر ما ينكر بهما. والأمر بالمعروفهو الإرشاد إلى المراشد المنجية، والنهي عن المنكر الزجر عما لا يلائم في الشريعة،. والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فرض متفق عليه، غير أن العلماء اختلفوا هل هو فرض عين أم فرض كفاية. للأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فقه أصيل مستمد من الكتاب والسنة ومن تطبيقات السلف الصالح رضوان الله عليهم، وهو فقه ينبغى استيعابه والتزامه حتى تؤدى الرسالة على خير وجه.
Liberalisasi Kurikulum Pendidikan (Studi Kritis Buku-Buku Pelajaran Sekolah)
Muhammad Aqil Azizy
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.317
Kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam pendidikan. Sebab, manajemen pendidikan dalam suatu lembaga akan menjadi lebih baik apabila diatur dalam suatu sistem kurikulm. Dalam kurikulum tersebut memuat tujuan, proses pembelajaran hingga tata cara evaluasi. Semua mata pelajaran yang harus diketahui dan dihayati oleh anak didik harus ditetapkan dalam kurikulum. Kurikulum merupakan media yang sangat signifikan dalam menanamkan paradigma pada diri siswa, khususnya pada fase-fase pendidikan tingkat pertama. Di samping itu, kurikulum juga merupakan sarana untuk membentuk persepsi generasi muda tentang dunia sekitar. Serta, sarana melahirkan generasi beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia adalah melalui pendidikan yang baik Akan tetapi, dewasa ini dunia pendidikan menghadapi tantangan dari pemikiran-pemikiran Barat. Seperti liberalisme, meterialisme, atheisme, feminisme, dan lain sebagainya. Paham-paham ini bermuara pada satu masalah inti yaitu merusak syariah Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Paham tersebut berupaya untuk menghapus atau menghilangkan nilai-nilai agama Islam dari dalam diri umat Islam melalui sistem kurikulum pendidikan. Dan untuk menghadapi tantangan tersebut upaya yang dapat dilakukan ialah dengan memperkuat adab/akhlak. Pendidikan adab menjadi penting sebab dengan konsep adab inilah dunia pendidikan seharusnya lebih menekankan aspek pendidikan akhlak daripada sekedar pembelajaran materi-materi tertentu.
Kritik Terhadap Pendidikan Agama Berbasis Multikulturalisme
Abdul Qohar
At-Ta'dib Vol 9, No 1 (2014): Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v9i1.306
Multikulturalisme merupakan paham atau aliran yang membahas tentang kemajemukan budaya, kemudian berupaya untuk mengembangkan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku, dan agama. Melihat realitas kemajemukan tersebut, multikulturalisme mencoba menggagas wacana tentang pendidikan agama, yaitu pendidikan Islam, dengan membawa misi pluralisme agama, humanisme dan demokrasi. Harapannya dengan wacana dan misi tersebut, dapat memberikan solusi dan pencerahan dalam menuju suatu perubahan yang signifikan terhadap pendidikan Islam dengan segala aspeknya, sehingga pendidikan Islam menjadi pendidikan yang inklusif dan dinamis.
Kebijakan Pengembangan Ilmu di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia
Syamsul Huda
At-Ta'dib Vol 10, No 1 (2015): Pendidikan Akhlak
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v10i1.337
The concept of policy developing knowledge both at IIUM integrates the knowledge into religious knowledge (fardhu ayn) and science(fardu kifayah) by using the concept of Imam al-Ghazali (ihya’ulum al-din). Both IIUM develop religious knowledge to all of their students, and develop science to a part of students based on their choices and departments though education, research and dedication to society. IIUM integrates the development of knowledge either fardu ayn orfardu kifayah only in the units, faculties, and departments not on-Campus Housing. Furthermore, on-Campus Housing at IIUM is not functioned as a place to develop intellectuality, akhlaq and spirituality, but merely as facilities (mushalla, imam/leader of communal prayer and weekly discussion) eventough the student study here for four years (S1).
Problem Multikulturalisme Dalam Pendidikan Agama Islam
Ahmad Sofyan Hadi
At-Ta'dib Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v9i2.322
Pendidikan Islam selalu mengalami perkembangan. Seiring dengan perkembangan tersebut banyak hal yang dialami dunia pendidikan Islam. Mulai dari hal-hal yang bersifat mendukung perkembangan tersebut hingga tantangan pemikiran yang datang dari luar. Di antara tantangan pemikiran tersebut adalah munculnya wacana multikulturalisme yang mencoba untuk menyelesaikan konflik sosial-budaya. Paham tersebut berupaya untuk mengakomodir keragaman etnis, budaya, suku, bahkan agama. Seiring dengan perkembangan tersebut paham multikulturalisme mulai masuk ke ranah pendidikan Islam. Dan di antara pemikiran yang digagas melalui paham tersebut adalah paham pluralisme agama, relativisme kebenaran, rekonstruksi penafsiran al-Qur’an, dan juga religiositas dalam beragama. Beragam tantangan tersebut sebenarnya telah disikapi oleh Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 2005, MUI telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan paham Pluralisme Agama. Sebab, paham Pluralisme Agama merupakan inti dari wacana multikulturalisme agama. Dalam pandangan Islam, paham multikulturalisme yang mencoba untuk mengaburkan konsep Tuhan merupaham hal yang tidak dapat dipandang remeh. Sebab konsep Tuhan adalah poin utama yang harus ditananmkan kepada peserta didik. Untuk itu, pendidikan Islam sudah seharusnya menanamkan konsep Tuhan melalui konsep yang sesuai dengan Islam yaitu konsep Adab.
Konsep Pendidikan Ibn Khaldun
Qosim Nurseha
At-Ta'dib Vol 9, No 1 (2014): Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21111/at-tadib.v9i1.311
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu yang terangkum dalam al-Qur’an merupakan gambaran hakekat alam semesta yang harus diajarkan dengan terus menerus. Ibn Khaldun merupakan contoh kecil dari mereka yang berupaya mengajarkan hakekat pendidikan Islam. Melalui bukunya yang berjudul al-Muqaddimah dan al-‘Ibar, Ibn Khaldun ingin menegaskan bahwa ilmu yang dipelajari oleh manusia harus tercermin dalam perilakunya (adab). Selain itu, poin penting yang ditulis dalam bukunya yaitu bahwa dalam Islam tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan. Sebab, dalam perspektif Islam, ilmu bersumber dari satu Dzat Agung yaitu Allah SWT.