cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 2 (2013)" : 8 Documents clear
ANALGESIA MEDIS PADA PERSALINAN Ketut Surya Negara, I Gede Sastra Winata,
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri persalinan merupakan suatu bentuk nyeri atau pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dimana terkait dengan adanya kontraksi dari uterus selama menjalani proses persalinan. Secara umum terdapat dua faktor yang mempengaruhi intensitas nyeri bagi seorang ibu yang sedang memasuki fase persalinan yaitu faktor fisik dan psikologis. Nyeri pada proses persalinan merupakan hal yang paling ditakuti oleh sebagian besar ibu hamil. Sehingga ibu hamil tersebut cenderung lebih memilih untuk menghindari proses persalinan spontan dengan melakukan seksio sesarea atau seksio sesarean on request sebagai upaya untuk tidak merasakan sensasi nyeri yang diakibatkan oleh proses persalinan spontan tersebut. Meningkatnya angka seksio sesarea di seluruh penjuru dunia sebagian besar disebabkan oleh karena adanya permintaan ibu hamil dengan alasan takut akan nyeri persalinan ini. Namun di sisi lain, prosedur operasi seksio sesarea sendiri merupakan suatu prosedur intervensi obstetri yang memiliki risiko cukup besar. National Sentinel Cesarian Section berdasarkan audit tahun 2001 melaporkan bahwa kurang lebih 20% wanita di Inggris dinyatakan takut untuk menjalani nyeri selama proses persalinan dan 5% diantaranya ternyata memilih menjalani proses persalinan dengan cara seksio sesarean tanpa indikasi medis atau on request. Penelitian yang dilakukan oleh Jackson dan Irvine pada tahun 1998 melaporkan bahwa lebih dari 3% dari proses persalinan di sebuah Rumah Sakit di Inggris adalah seksio sesarean tanpa indikasi medis. Penelitian lainnya dilakukan oleh Marx et al pada tahun 2001, memperoleh bahwa telah terjadi peningkatan angka seksio sesarean on request di Inggris dan Wales, dimana sebesar 11.3% dari tahun 1989 sampai 1990, 15,5% dari tahun 1994 sampai 1995, 17% dari tahun 1997 sampai 1998 dan bahkan mencapai 21,5% pada tahun 2001. Berdasarkan hal tersebut maka mulai dikembangkan salah satu prinsip dasar obstetri modern yaitu mengurangi nyeri selama persalinan dengan menggunakan analgesia yang adekuat. Secara umum terdapat dua metode analgesia dalam persalinan yaitu farmakologis dan non farmakologis. Sehubungan dengan hal tersebut, maka melalui tulisan ini akan berusaha dipaparkan secara mendalam mengenai metode analgesia farmakologis atau medis dalam persalinan. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan atau tambahan pemikiran dalam rangka mengkaji pemanfaatan analgesia pada persalinan, hal ini terkait dengan intervensi yang dapat dilakukan dalam upaya-upaya pencegahan nyeri selama persalinan demi meningkatkan keberhasilan persalinan secara spontan pervaginam.
KADAR MATRIX METALLOPROTEINASE (MMP-7) PADA KEHAMILAN PRETERM DENGAN KETUBAN PECAH DINI DAN KEHAMILAN PRETERM DENGAN SELAPUT KETUBAN UTUH Wiradnyana, A A G P
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Apakah kadar MMP-7 pada kehamilan preterm dengan ketuban pecah dini lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan preterm dengan selaput ketuban utuh. Rancangan penelitian: penelitian ini adalah penelitian cross-sectional study. Sejumlah empat puluh empat orang ibu hamil dijadikan sebagai sampel penelitian, dua puluh dua ibu dengan kehamilan preterm dengan ketuban pecah dini sebagai kasus dan dua puluh dua ibu dengan kehamilan preterm dengan selaput ketuban utuh sebagai kontrol. Pemilihan kelompok kasus dan kontrol ditentukan dengan cara consecutive sampling. Prosedur pengambilan sampel dengan mengambil darah vena kubiti sebanyak 5 cc, kemudian dilakukan pemeriksaan MMP-7  dengan metode ELISA yang dilakukan di Laboratorium Klinik Prodia Denpasar. Hasil: rerata kadar MMP-7 kelompok KPD preterm adalah 3,93±1,02 dan rerata kelompok hamil preterm normal adalah 2,13±0,51. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa nilai t = 7,39 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata kadar MMP-7 pada kedua kelompok berbeda secara bermakna (p < 0,05). Simpulan: Kadar MMP-7 pada kehamilan preterm dengan ketuban pecah dini lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan preterm dengan selaput ketuban utuh. Kata kunci: MMP-7, pecah ketuban dini
KADAR MALONDIALDEHYDE (MDA) PADA ABORTUS SPONTAN Putra Adnyana, I B
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abortus merupakan salah satu komplikasi obstetrik yang paling sering dijumpai pada wanita hamil. Kehamilan dapat berakhir berakhir dengan terjadinya abortus, baik itu abortus insipiens, abortus imminens, abortus inkomplit maupun komplit.1,2 Begitu banyak etiologi yang menyebabkan abortus yaitu: kelainan kromosom, faktorinfeksi, nutrisi, penyakit metabolik, anomali uterus dan stress oksidatif.2,3Teori terbaru mengenai etiologi abortus adalah adanya suatu keadaan tidak seimbangnya antara produksi prooksidan dan mekanisme pertahanan antioksidan.4,5 Stres oksidatif adalah tidak seimbangnya antara prooksidan (free radical) dan antioksidan.4,5 Stres oksidatif sendiri akan menyebabkan gangguan proses plasentasi. Peningkatan insiden kegagalan plasentasi berhubungan dengan peningkatan radikal bebas yang berpengaruh pada perkembangan fungsi plasenta dan berefek pada fetus.6 Peningkatan plasenta oksidatif stres menjadi faktor dalam patogenesis awal keguguran.3 Pada abortus spontan stres oksidatif  dapat menyebabkan degenerasi sinsiotropoblast. Stres oksidatif dapat menyebabkan kerusakan lipid membran sel, menginduksi terjadinya lipid peroksidasi.Lipid peroksidasi terjadi ketika adanya interaksi antara lipid dengan radikal bebas.Lipid peroksidasi ini tidak hanya sangat tidak stabil namun juga sangat reaktif dan juga merusak. Akhirnya, peningkatan lipid peroksidasi yang tidak terkendali menyebabkan kerusakan sel endothelial.8,16Peroksidasi lipid yang bersifat sangat reaktif menyebabkan kerusakan sel endotel melalui interaksi langsung dengan membran sel endotel maupun secara tidak langsung melalui aktifasi mediator lain oleh produk peroksidasi lipid.4 Efek secara langsung pada membran endotel adalah peroksidasi lipid memudahkan terjadinya ikatan silang rantai lemak pada membran endotel yang akan menyebabkan perubahan kandungan cairan (fluidisitas)membran dan mobilisasi enzim-enzim pada membran. Hal ini akan menyebabkan membran endotel menjadi bocor dan molekul-molekul hingga seukuran enzim dapat keluar melewati membran yang rusak tersebut. Sebagai tambahan terhadap rusaknya fungsi membran sebagai barier tersebut, peroksidasi lipid juga mengakibatkan hilangnya homeostasis ion yang menyebabkan terjadinya ganguan kompartemen dan kekacauan ion utamanya ion Ca2+. Hilangnya homeostasis Ca2+ menyebabkan hilangnya kontrol metabolik sel endotel.4Kerusakan oleh radikal bebas merupakan sumber dari kerusakan DNA.4,22Reaksi radikal bebas inilah yang menginduksi terjadinya lipid peroksidasi yang kemudian akan memicu disfungsi endotel dan akibat disfungsi endotel yang masif maka akan terjadi abortus.
PERBEDAAN KADAR INTERLEUKIN-6 SERUM IBU PADA PERSALINAN PRETERM DAN PERSALINAN ATERM Jaya Kusuma, A N
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui perbedaan kadar Interleukin 6 Serum (IL 6) pada persalinan preterm dan persalianan aterm. Metode penelitian :Penelitian ini merupakan desain cross sectional. Jumlah sampel adalah sebesar 50 sampel, dimana, 10ibu dengan persalinan preterm dengan usia kehamilan 28 minggu hingga usia kehamilan <37 minggudan 40 ibu dengan persalinanatermusia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu. Pengambilan darah pada vena cubiti sebanyak 5 cc, lalu diperiksa kadar IL 6 pada Laboratorium Prodia Denpasar. Dari data yang terkumpul dilakukan pengujian normalitas data, kemudian dilakukan analisa data dengan t-independent sample test dengan tingkat kemaknaan ? = 0,05 Hasil :Dari data penelitian didapatkan  rerata kadar IL-6 kelompok preterm adalah 41,25±75.56 pg/mldan rerata kelompok kontrol adalah 33.80±20.08pg/ml. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa nilai t = 0,563 dan nilai p = 0,576. Hal ini berarti bahwa rerata kadar IL-6 pada kedua kelompok tidak berbeda secarabermakna (p > 0,05). Simpulan : Dari penelitian ini didapatkan kadar IL 6 serum pada persalinan preterm lebih tinggi daripada  persalinanaterm, namun tidak bermakna secara statistik. Kata kunci :Kadar IL 6, persalinan preterm, persalinan aterm.
KEHAMILAN DENGAN LEUKEMIA MIELOID KRONIK Dwi Aryana, Made Bagus
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang wanita usia 32 tahun, suku Bali, agama Hindu, pekerjaan petani anggrek. Keluhan awal perut membesar, pemeriksaan fisik didapatkan splenomegali (Scuffner VI-VII), pemeriksaan penunjang didapatkan dengan leukositosis, blood smear kesan LMK. Diagnostik molekuler PCR Leukemia (bcr-abl) : tampak fusi gene bcr abl b3a2 pada amplicon product 385 bp menghasilkan ekspresi protein p210.Didiagnosa dengan leukemia mieloid kronik, kromosom Ph positif.Terapi Gleevec sejak September 2011 dosis 1x400 mg. Setelah terapi dalam pemantauan terjadi remisi hematologik. Datang ke Poliklinik Kebidanan dan Kandungan, didapatkan dengan hamil  G3P2002 23-24 minggu, tunggal/hidup, riwayat LMK dalam terapi tirosin kinase inhibitor (Gleevec). Selama kehamilan trimester kedua sampai partus terapi Gleevec ditunda dengan monitoring pemeriksaan darah lengkap tiap dua minggu.Selama ANC tidak didapatkan keluhan, pemantauan laboratorium, monitoring janin dengan USG tidak didapatkan kelainan dengan pertumbuhan janin dalam batas normal.Kehamilan mencapai aterm.Datang ke IRD dengan diagnosa G3P2002 39-40 mg, tunggal/hidup, CML, KPD. Dalam observasi pasien inpartu, persalinan spontan  pervaginam dengan lahir bayi laki-laki, 3600 gram, AS 8-9, tanpa kelainan. Masa nifas tidak didapatkan masalah, pasien menyusui bayinya. Sampai umur anak satu tahun pertumbuhan dan perkembangan anak  dalam batas normal. Enam bulan setelah partus didapatkan kembali leukositosis, dengan WBC terakhir pada bulan Mei 2013 37,82. Pasien direncanakan melanjutkan kembali terapi tirosin kinase inhibitor. Yang menarik dari kasus ini adalah selama kehamilan didapatkan remisi hematologik, walaupun remisi secara sitogenetik tidak dapat diketahui karena kendala alat dan biaya.Janin yang terpapar kemoterapi selama trimester satu, mengalami perkembangan normal dan lahir tanpa kelainan.
PERBEDAAN FUNGSI SEKSUAL WANITA PASCA PERSALINAN PERVAGINAM DENGAN EPISIOTOMI DAN SEKSIO SESAREA Darmayasa, Made
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan fungsi seksual pada pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan seksio sesarea di Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Bahan dan cara kerja : Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional analitik. Sampel diambil secara consecutive sampling dari bulan Oktober 2011 sampai dengan bulan September 2012. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi didapatkan 86 sampel, terdiri dari 43 pasca episitomi dan 43 pasca seksio sesarea. Selanjutnya fungsi seksual dinilai dengan pengisian kuisioner FSFI (Female Sexual Function Index). Skor total kuisioner dianalisis dengan uji t-independent, dan perbedaan fungsi seksual digunakan uji Chi-Square, dengan tingkat kemaknaan ?=0,05. Hasil : Karakteristik subyek kedua kelompok menunjukkan hal yang sama sehingga pengaruhnya terhadap hasil penelitian dapat diabaikan. Rata-rata saat mulai hubungan seksual pada kedua kelompok adalah tiga bulan pasca melahirkan, dengan p > 0,05. Terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara kedua kelompok pada domain rangsangan dan lubrikasi masing-masing dengan p=0,160, dan p=0,067. Sedangkan domain yang lain menunjukkan perbedaan bermakna yaitu hasrat (p=0,014), orgasme(p=0,045), kepuasan (p=0,018), nyeri (p=0,02), dan skor total FSFI (p=0,006). Pada fungsi seksual kedua kelompok didapatkan disfungsi  seksual masing-masing 18,60% pada pasca episiotomi, dan 2,33% pada pasca seksio sesarea, dengan nilai p=0,030. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang bermakna pada fungsi seksual kelompok pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dibandingkan dengan pasca seksio sesarea.   Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dibandingkan dengan pasca seksio sesarea. Kata kunci :  Episiotomi, seksio sesarea, fungsi seksual wanita.
KERJA SURFAKTAN DALAM PEMATANGAN PARU BAYI PRETERM Suardana, Ketut
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada mamalia seluruh permukaan alveolar parunya dilapisi oleh lapisan tipis kontinyu yang disebut alveolar lining layer yang di dalamnya mengandung surfaktan paru. Surfaktan paru merupakan materi kompleks yang terdiri dari lipid dan protein yang disekresi oleh pneumosit tipe II yang melapisi alveoli. Sel ini mulai muncul pada sekitar usia kehamilan 21 minggu dan mulai memproduksi surfaktan pertamakali antara minggu ke 28 dan 32 kehamilan. Surfaktan memegang peranan penting dalam fisiologi paru.. Fosfolipid utama penyusun surfaktan adalah fosfatidilkolin (disebut juga lesitin) dan fosfatidilgliserol. Protein komponen penyusun surfaktan terdiri dari empat surfactant-related proteins, yaitu dua protein hidrofilik (SP-A dan SP-D) dan dua protein hidrofobik (SP-B dan SP-C).   Fungsi utama dari lapisan surfaktan ini adalah menurunkan tegangan permukaan pada antar-muka air udara lapisan cairan alveoli, sehingga mekanisme normal pernapasan dapat terus berlangsung. Kedua, adalah mempertahankan stabilitas alveoli dan mencegah alveoli menjadi kolaps. Ketiga, surfaktan dapat mencegah terjadinya udem paru. Fungsi tambahan lain adalah berkaitan dengan imunologi yaitu melindungi paru dari cedera dan infeksi yang disebabkan oleh partikel atau mikroorganisme yang terhirup saat bernafas   Defisiensi atau disfungsi surfaktan menyebabkan penyakit pernapasan yang berat. Respiratory distress syndrome (RDS) pada neonatus merupakan bentuk penyakit akibat defisiensi surfaktan yang sering ditemukan dan ini berkaitan erat dengan prematuritas. RDS merupakan suatu kondisi pada bayi premature yang memberi gambaran klinis berupa peningkatan usaha napas, penurunan komplians paru, atelektasis yang nyata (kolaps alveoli) dengan gambaran penurunan FRC, gangguan pertukaran gas dan udem interstisial yang luas.   Terapi surfaktan secara cepat meningkatkan jumlah baik alveoli maupun jaringan interstisial sekitarnya. Surfaktan eksogen yang diberikan akan diambil oleh sel tipe II dan kemudian diproses untuk kemudian diresekresi. Surfaktan eksogen yang diberikan akan bertahan di paru dan tidak cepat mengalami degradasi. Dosis terapi surfaktan eksogen yang diberikan tidak menyebabkan umpan balik negatif berupa hambatan sintesis fosfatidilkolin ataupun protein surfaktan endogen.Hingga saat ini tidak ditemukan adanya konsekuensi metabolik atau perubahan fungsi paru dengan pemberian terapi surfaktan.   Kemajuan riset mengenai terapi surfaktan pada kasus RDS dan penyakit paru neonatus lainnya telah memberikan manfaat yang besar terhadap luaran bayi yang dilahirkan. Namun tingginya harga preparat surfaktan telah membatasi penggunaannya secara luas di berbagai negara. Untuk itu di masa mendatang diperlukan penelitian lanjutan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak akan preparat surfaktan dengan harga yang lebih murah.
KEHAMILAN ABDOMINAL Mawan, Pius Made
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehamilan abdominal adalah merupakan bagian dari kehamilan ekstrauterin atau kehamilan ektopik yaitu ovum yang terfertilisasi berimplantasi pada jaringan selain endometrium. Kehamilan abdominal dibedakan menjadi dua yaitu kehamilan abdominal primer dan sekunder.Insiden kehamilan abdominal bervariasi dari 1 dalam 372 sampai 1 dalam 9.714 kelahiran hidup. Kehamilan abdominal berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi, dengan risiko kematian 7 sampai 8 kali lebih besar dari kehamilan ektopik tuba dan 90 kali lebih besar dari kehamilan intrauterin. Faktor risiko kehamilan abdominal sama dengan kehamilan ektopik. Penegakan diagnosis merupakan tantangan tersendiri dimana hanya 40 %  yang terdiagnosis sebelum pembedahan. Tidak ada keluhan dan tanda yang khas yang dijumpai pada kehamilan abdominal, USG dan MRI merupakan modalitas dalam penegakan diagnosis. Penatalaksanaan pembedahan harus sudah dipikirkan begitu diagnosis ditegakan. Ada kalanya tindakan konservatif dilakukan sambil menunggu pematangan paru namun harus memenuhi beberapa persaratan baik ibu, janin, dan letak plasenta.  Pembedahan bertujuan untuk mengevakuasi janin dan mengevakuasi plasenta. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah perdarahan yang masif dari terlepasnya plasenta sebagian. Sebagian besar ahli penganjurkan meninggalkan plasenta pada tempatnya sebagai satu dari dua pilihan yang buruk. Plasenta masih berfungsi sampai 50 hari pasca pembedahan dan absorsi lengkap setelah 6 bulan, namun pernah dilaporkan sampai 5 tahun. Pemantaun pasca pembedahan jika plasenta ditinggalkan pada tempatnya dengan USG, kadar ? hCG dan colour doppler. Methotrexat pernah dicoba untuk mempercepat absorsi plasenta namun sering menimbulkan komplikasi nekrosis yang luas sampai sepsis. Mortalitas ibu bervariasi 0-30 %  dari berbagai kasus kehamilan abdominal dan hanya dapat diturunkan dengan diagnosis dini dan ketepatan intervensi. Dengan perencanaan operasi yang matang angka kematian dapat diturunkan dari sekitar 20 persen manjadi kurang dari 5 persen. Penyelamatan janin pada kehamilan abdominal tergantung usia kehamilan. Untuk janin dilaporkan usia kehamilan diatas 30 minggu hanya mampu bertahan 63 % dengan 20 % mengalamideformitas. Deformitas yang tersering dijumpai pada janin adalah deformitas wajah atau cranium atau keduanya dan berbagai kelainan sendi. Malformasi tersering adalah defisiensi ekstrimitas dan anomaly susunan saraf pusat.

Page 1 of 1 | Total Record : 8