cover
Contact Name
Indah Wahyu Puji Utami
Contact Email
indahwpu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsejum@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : 19799993     EISSN : 25031147     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Terbit dua kali dalam satu volume yaitu Juni dan Desember; ISSN 1979-9993 berisi tulisan ilmiah tentang sejarah, budaya dan hubungannya dengan pengajaran, baik yang ditulis dalam Bahasa Indonesia maupun asing. Tulisan yang dimuat berupa analisis, kajian dan aplikasi; hasil penelitian, dan pembahasan kepustakaan.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2015): Desember" : 10 Documents clear
PEMAHAMAN AWAL TERHADAP ANATOMI TEORI SOSIAL DALAM PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL DAN STRUKTURAL KONFLIK Dewa Agung Gede Agung
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.862 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.4998

Abstract

Abstrak. teori struktural fungsional dan teori struktural konflik adalah dua diantara berbagai teori sosiologi yang ada. Dua teori tersebut dipandang masih relevan dalam melihat suatu realitas sosial dan peristiwa historis. Namun demikian, tidak ada ilmu yang abadi setelah diketemukan bukti-bukti terbaru. Inilah yang dikenal dengan istilah “anomali” Kuhn, bahkan Popper mengajukan “falsifikasi” untuk mengatasi kemacetan epistemologis. Begitu juga dengan kedua aliran tersebut, bahwa selalu ada kritik dalam rangka penyempurnaan, bahkan menolak teori yang ada sebelumnya karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan keilmuan atau dianggap kurang kritis dalam melihat masalah-masalah sosial. Tulisan ini mencoba melakukan anatomi teori pada teori struktural fungsional Talcott Parson dengan Robert King Merton, dan struktural konflik Karl Marx dengan Ralf Dahrendorf.Kata-kata kunci: anatomi teori, teori struktural fungsional, teori struktural konflikAbstract. Theories of structural functionalism and structural conflict are two of the existed sociological theories. Both theories are seemed to be relevant to look at a social reality and the historical event. However, there is no immortal science after the newest fact is found. This is well known as Kuhn’s anomaly. Even, Popper argues the term of falsification to cope the epistemological gap. Both two school of thoughts gain some criticisms in completing or in refusing the previous theory. This is caused by the previous theories which are not fit with the development of science or which are claimed uncritically to look at the social problems. This article tries to organize both theories of structural functionalism between Talcott Parson and Robert King Merton; and of structural conflict between Karl Marx and Ralf Dahrendorf.Keywords: anatomy of theory, theory of structural functionalism, theory of structural conflict
MEMBANGUN KOLEGIALITAS CALON GURU IPS MELALUI LESSON STUDY Neni Wahyuningtyas; Nurul Ratnawati; Khofifatu Rohmah Adi
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.923 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5004

Abstract

Abstrak: Tujuan artikel ini untuk mendeskripsikan upaya dalam membangun kolegialitas calon guru IPS melalui Lesson Study. LS dapat membantu calon guru IPS dalam mencapai tujuan pembelajaran melalui kolegialitas. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat dalam setiap tahapan LS mulai dari plan, do, sampai see selalu dilakukan secara kolaboratif antara peserta KPL (kajian & praktek Lapangan) dan dosen pendamping lapangan sehingga terjadi komunikasi intensif. Perencanaan yang dilakukan secara kolaboratif dapat menjadi modal utama untuk mewujudkan pembelajaran yang lebih efektif. Selain itu dengan penerapan LS ini terjalin mutual learning, dimana peserta LS memiliki niat yang sama untuk menciptakan komunitas belajar. Kata-kata Kunci: Kolegialitas, Calon Guru IPS, Lesson Study.Abstract: this study tends to describe the effort in shaping collegiality between the prospective social studies teacher based on lesson study (LS). LS could help the prospective teacher to gain the learning outcomes through collegiality. This might be happened when the apprenticed student and the supervisor designs the plan, the do, and the see collaboratively. Therefore, the condition creates an intensive communication. The collaborative plan could be a main basis to create the effective teaching. In addition, the practice of LS would shape the mutual learning when the apprenticed students have the same purpose in creating learning communityKeywords: collegiality, prospective social studies teacher, Lesson Study
BAHAN AJAR ALTERNATIF BERBASIS HISTORIOGRAFI Grace Leksana
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.563 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.4999

Abstract

Abstrak. Pengembangan bahan ajar alternatif berbasis biografi perlu dikembangkan karena dua alasan. Pertama pijakan filosofis keilmuan dan yang kedua teknik pendidikan. Kedua hal ini bermuara pada kebosanan siswa yang disebabkan karena pengulangan materi pelajaran. Mereka memiliki pengetahuan melebihi apa yang ada dalam buku teks. Bahan ajar yang dikembangkan tidak serta merta memindahkan historiografi atau ringkasan historiografi dalam bahan ajar. Akan tetapi, para pengembang perlu melakukan refleksi sebelum menuangkan materi dalam bahan ajar. Hal ini dilakukan agar mendorong siswa dapat berpikir secara kritis. Tantangan yang dihadapi seperti proses pengembangan yang membutuhkan waktu lama dan tampilan bahan ajar perlu dijadikan pertimbangan utama.Kata-kata kunci: bahan ajar, biografi, sejarah, ISSI, AGSIAbstract: The development of alternative teaching material based in biography needs to be devel-oped because of two reasons. The first deals with the philosophical framework and the later refers to pedagogical technique. Both reasons affect to the boredom of students caused by the repetition of the subject. They have the knowledge more than what is written in the textual book. The developed teaching material does not means to move the substance of historiography or the summary of histo-riography in teaching material. This would lead students to think critically. The challenges of the long time development and the visualization need to be the main consideration.Keywords: teaching material, biography, history, ISSI, AGSI
BERBURU KE PADANG DATAR, BERGURU KEPALANG AJAR: ARSIP SE-BAGAI BAHAN AJAR Raistiwar Pratama
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.862 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5013

Abstract

Abstrak. Keterbukaan akses atas sumber sejarah primer terutama arsip digital memudahkan para sejarawan termasuk pendidik sejarah. Hal ini akan membuat sejarah menjadi hal yang tidak monokausal, revitalisasi sumber-sumber primer, dan otonomi buku teks sejarah. Sejarawan, pen-didik sejarah, dan pegiat sejarah dapat berkolaborasi untuk mengaji sumber terkait termasuk membaca karya sastra. Arsip Nasional Republik Indone-sia (ANRI) sebagai lembaga penyimpanan sumber-sumber primer meng-gagas lima hal terkait kegiatan belajar mengajar sejarah berbasiskan sum-ber-sumber primer (dokumen, cetak biru, foto, peta, dan film dokumenter). Kelas digital, LKTI kearsipan, diorama sejarah, masyarakat sadar arsip, dan lomba apresiasi dan kreativitas.Kata-kata kunci: sumber sejarah, sadar arsip, pembelajaran sejarahAbstract. The open access of historical primary sources mainly digital ar-chives has eased the historian and the history teacher. This would make history becoming duality and interesting reality, re-vitalization of primary sources, and the autonomy of historical textbook. Historian, history teacher, and history practitioner could collaborate to discuss the related sources especially reading the literary works. The National Archive of In-donesian Republic (ANRI) as an archival institution creates the five activ-ities related to the teaching of history based on primary sources. Those activities are digital class, scientific written competition on archives, his-torical diorama, and society based on archival awareness, and apprecia-tion and creativity competition.Keywords: historical sources, archival awareness, teaching of history
POLITIK SIMBOLIS KASUNANAN Hermanu Joebagio
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.325 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5000

Abstract

Abstrak. Para Sunan telah kehilangan kekuasaan sosial politik maupun ekonomi,namun mereka dapat menggunakan kekuasaannya. Hal ini diwujudkan dalampermainan simbol-simbol politik, yang lazim disebut politik simbol. Hampir semuaelit aristokrat Jawa memainkan politik simbolis, terutama setelah raja-raja diVorstenlanden kehilangan wilayah konsentris mereka. Begitu pula kondisi yangdihadapi oleh Pakubuwana X. Otoritas yang dia miliki justru diolah dan dialihkanmenjadi kekuatan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan itu ditafsirkan sebagaisimbol publik. Dalam politik simbolis terdapat dua unsur yang saling terkait, yaknisimbol personal dan simbol publik. Kedua simbol itu memungkinkan masyarakat luasuntuk mengakses informasi melalui perspektif politik maupun ekonomi. Kesempatanitu akan menumbuhkan kesadaran kritis.Kata-kata kunci: politik, simbol, Kasunanan, Pakubuwana XAbstract. The Sunans had lost their political-social and their economical-socialpower, however they could still use their power. This is represented by producing thepolitical-symbol, well-known as the symbolic politics. All Javanese aristocratic elitesplayed the symbolic politic, mainly after the kings of Vorstenlanden losed theirconsentric areas. In addition, Pakubuwana X had the same condition. He changedand transformed his authority into the power of people’s empowerment. Theempowerment could interpreted as public symbol. The symbolic politic divided intopersonal and public symbol. Both symbols might lead people to access informationthrough political and economic perspectives. The chance would grow up the criticalawareness.Keywords: politic, symbol, Kasunanan, Pakubuwana X
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM DONGENG GAGAK RIMANG Joko Sayono; Ulfatun Nafi'ah; Daya Negri Wijaya
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.127 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5015

Abstract

Abstrak: Gagak Rimang adalah nama kuda jantan dari Arya Penangsang, pen-guasa Jipang Panolan. Semasa hidupnya Arya Penangsang terlibat konflik dengan Jaka Tingkir (penguasa Pajang, sekarang Solo) terkait dengan daerah Demak. Kisah ini yang kemudian menjadi dongeng masyarakat Desa Jipang dan diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tulisan ini akan berupaya mengupas cara kerja dari teori hermeunetik; aplikasi dari teori hermeunetik trans-formatif, reifikasi, dan gender dalam dongeng Gagak Rimang; dan nilai-nilai pendidikan karakter dalam dongeng Gagak Rimang serta bagaimana cara pena-naman nilai karakter pada masyarakat di Desa Jipang. Dongeng berguna dalam mengembangkan kesadaran sejarah pada generasi penerus sehingga mampu men-jadi pribadi yang berkarakter baik dalam hidup bermasyarakat.Kata-kata kunci: Arya Penangsang, Gagak Rimang, Pendidikan KarakterAbstract: Gagak Rimang is the male horse of Arya Penangsang, the regent of Ji-pang Panolan. The life of Arya Penangsang faced a conflict with Jaka Tingkir, the king of Pajang related the area of Demak. This story becomes a tale of Jipang society and is delivered from one generation to the next generation. This article discusses the theory of hermeneutics, the implementation of transformative her-meneutics, reification, and gender in a tale of Gagak Rimang; and the values of the character building in the tale of Gagak Rimang, in addition, some ways to shape character building values in Jipang society. The tale aims to shape the next generation’s historical consciousness therefore this might be a good personal in the society life.Keywords: Arya Penangsang, Gagak Rimang, charater building
SURVEY PERMASALAHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM NASIONAL 2013 MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI JAWA TIMUR I Nyoman Ruja; Sukamto Sukamto
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.111 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5001

Abstract

Abstrak: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan yang dihadapai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam implementasi Kurikulum Nasional 2013 yaitu 1) belum siapnya guru-guru di lapangan dalam arti sosialisasi Kurikulum Nasional 2013 dan pelatihan-pelatihan terlalu singkat, sehingga guru merasa belum siap; guru-guru mata pelajaran IPS berasal dari latar belakang salah satu disiplin ilmu, sehingga merasa kesulitan dalam mengajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial; keterampilan penggunaan teknologi sebagian besar guru masih relatif rendah; fasilitas terkait dengan informasi dan teknologi yang tersedia di sekolah masih relatif terbatas; 2) Guru masih mengalami kesulitan dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan, walaupun sudah ada silabusdan buku guru; 3) Guru masih mengalami kesulitan dalam penilaian atau  evaluasi. Sementara, harapan-harapan yang ingin dicapai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam penerapan Kurikulum Nasional 2013 adalah (1) perlunya penyederhanaan dalam penilaian; (2) untuk membuat tematik dibutuhkan sebuah tempat atau model yang wujudnya nyata, misalnya laboratorium Ilmu Pengetahuan Sosial; (3) bagaimana memprioritaskanantara kedalaman materi dengan kemampuan berpikir siswa; (4) diharapkanpembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang semula hanya 4 Jam Pelajaran bisa ditambah menjadi 6 Jam Pelajaran; (5) Perlunya menyamakan mindset tentang Kurikulum Nasional 2013.Kata-kata kunci: permasalahan, harapan, implementasi, Kurikulum Nasional 2013Abstract. The findings show that the existed problems are faced by teachers of social studies in implementing the 2013 national curriculum. Those are (1) the unpreparedness of teachers because of the short socialization of the 2013 national curriculum. The other reasons might be the teachers are come from the monodiscipline of science, the lack of technological competence, and the limited facilities of information and technology in school; (2) however the teachers have syllabi and the teacher’s guidance book but they still face a difficulty relating the lesson plan; and (3) teachers still face a difficulty in evaluating the learning outcome. In addition, the hopes of social studies teachers are (1) simplifying of the evaluation; (2) making the real model of learning such as social studieslaboratory; (3) prioritizing the depth substance based on the student’s thinking skill; 4) adding the learning time from 4 hours to 6 hours; (5) synchronizing the mindset of teacher on the 2013 national curriculum.Keywords: problem, hope, implementation, 2013 national curriculum
MODERNISASI BUDAYA POLITIK MANGKUNEGARAN Wasino Wasino
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.031 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5016

Abstract

Abstrak. Budaya politik tercermin dari cara elite dalam mengambil suatu kebijakan dan mengimplentasikannya. Mangkunegaran sebagai sebuah kepangeranan hasil dari perpecahan kerajaan Mataram tidak mengikuti budaya politik mataram yang feodal tradisional. Mereka tidak lagi melihat raja sebagai wakil dari Tuhan tetapi mereka berkuasa karena andil dari rakyat. Rakyat yang dimaksud adalah mereka yang berjuang  mendukung sang pangeran melawan penjajah Belanda dan Penguasa Mataram yang dianggap lalim. Terdapat tiga prinsip budaya politik di Mangkunegaran yakni mulat sarira hangrasa wani, rumangsa melu handarbeni, melu hangrungkebi. Ketiga hal ini yang kemudian membuat Mangkunegaran terkesan memodernisasi birokrasi pemerintahan dan secara tidak langsung merubah etiket yang ada.Kata-kata kunci. Budaya politik, elite, kebijakan, MangkunegaranAbstract. The way of elites in issuing and executing a policy reflects the political culture of a state. Mangkunegaran as a principality, from the court of Mataram disintegration, does not imitate the political culture of Mataram which has the traditional-feodal system. They do not look a king as a representation of God but they have a power from people. The people is who is pursuing and supporting the prince to face the Dutch and the corrupt king of Mataram. There are three principles of Mataram political culture. Those are (1) mulat sarira hangrasa wani, (2) rumangsa melu handarbeni, (3) melu hangrungkebi. This shapes Mangkunegaran seemed modernizing governmental bureaucracy and changing the etiquette indirectly.Keywords. Political culture, elite, policy, Mangkunegaran
PELESTARIAN KEKUASAN PADA MASA MATARAM ISLAM: SEBHA JAMINAN LOYALITAS DAERAH TERHADAP PUSAT1 Ari Sapto
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.129 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.4997

Abstract

Abstrak. Masa lalu mengandung perubahan dan keberlanjutan. Seringkali kesinambungan realitas masa lalu mengalami perbedaan tampilan, namun subtansinya tetap. Penguasa Mataram Islam me-miliki mekanisme untuk menjamin loyalitas penguasa-penguasa di daerah yang menjadi yuridiksin-ya. Jaminan loyalitas ini penting mengingat konsep kekuasaan yang dianut dan luas wilayah kera-jaan. Setelah berhasil menyatukan hampir seluruh dan beberapa wilayah di luar Jawa, Mataram mulai menata pemerintahan dan kewilayahannya. Penataan itu menghasilkan struktur pemerintahan dan kewilayahan yang pengaruhnya dapat dilihat hingga masa sekarang.Kata-kata kunci: sebha, jaminan loyalitas, kekuasaanAbstract. Learning from the past would be depicted the change and the continuity. The continuity of the past reality has the different form, however the substance continues till today. The Sultans of Mataram have a mechanism to guarantee the loyalty of remote areas. The guarantee of loyalty is important concept which is used in the remote areas. After succeeding to unite almost all Java Is-land and some areas outside of Java Island, Mataram started to organize the government and the areas. This arrangement produced the governmental structure and the structure of areas. Today, the influence could be seen clearly.Keywords: sebha, guarantee of loyalty, power
PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN IPS SEJARAH BERBASIS CRITICAL PEDAGOGY DI SEKOLAH Muhammad Iqbal Birsyada
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2015): Desember
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.819 KB) | DOI: 10.17977/sb.v9i2.5002

Abstract

Abstrak. Pengampu mata pelajaran IPS-Sejarah sebagai salah satu matapelajaran yang mengembangkan kecerdasan sosial peserta didik memerlukanterobosan pendekatan pengajaran yang lebih merangsang minat peserta didikdalam belajar sejarah di sekolah. Oleh karena itu, para perserta didik harusdidekatkan dengan isu-isu sosial di sekitar lingkunganya sehingga timbulkesadaran kritis dalam memandang persoalan-persoalan sosial dalam masyarakat.Dalam hal inilah model pendidikan IPS sejarah di sekolah haruslah berbasiskritis. Peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran tidaklah lagiterdominasi oleh setiap instruksi dan wacana pemikiran dari guru. Namun,peserta didiklah yang akan mengkonstruksi pengetahuanya sendiri secara sadardan kritis tanpa dominasi dari siapapun. Artikel ini ingin memberikan pandanganpemikiran tentang model pendidikan IPS sejarah berbasis critical pedagogy disekolah. Pendekatan critical pedagogy dapat mengantarkan peserta didik menjadipribadi warga negara yang baik.Kata-kata kunci: Pembelajaran, IPS Sejarah, Critical Pedagogy, SekolahAbstract. The teacher of social studies-history as a subject to develop pupils’social quotient needs an alternative of teaching approach. This would stimulatespupils’ motivation in learning history. Therefore, pupils have to be engaged withsocial issues to encourage the critical awareness. The teaching model of socialstudies-history should be based on the critical thinking. The pupils should not bedominated by the thinking of teachers. However, the pupils should construct theirown knowledge. This article wants to give a perspective on the teaching model ofsocial studies-history based on critical pedagogy. This approach could lead thepupils to be the well citizensKeywords : Learning, Social Studies, Critical Pedagogy, School

Page 1 of 1 | Total Record : 10