cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 52 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017)" : 52 Documents clear
ANALISIS PERMINTAAN BAHAN PANGAN STRATEGIS (BERAS, DAGING SAPI DAN CABAI MERAH) DI INDONESIA Meilani, Ema; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Sa'diyah, Ana Arifatus
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the factors that are suspected to affect strategic food demand (rice, beef and red pepper) in Indonesia. The analysis was performed using multiple linear regression analysis model. The data used in the study is the annual time series data with a span of time for 30 years (1986-2015). Variables used are rice price, beef price, red chili price, population, income per capita, and production amount (rice, beef and red pepper). The results of the analysis show that multiple linear regression model is suitable to be used as a model of estimation equation from demand of rice, beef and red pepper. This is evident from the statistical F test on 3 (three) models of real demand at 99% confidence level, while viewed from the value of coefficient of determination (R2), free variable demand rice model contributes a value of 90.6%, beef demand model for 93.4% and the demand for red chili is 61.3%. The elasticity analysis shows that rice and red pepper are inferior goods, while beef is elastic. Rice is substitute for beef and red pepper. Beef is substitute to rice and complementary to red pepper. The red chili is complementary to rice and beef. The findings in this study are expected to have implications of government policies or intansi relating to the food of the people, especially in the making of food policy related to the demand of rice, beef and red pepper so that economic development indicators can be fulfilled in accordance with expectations in order to realize the welfare of Indonesian society. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang diduga mempengaruhi permintaan bahan pangan strategis (beras, daging sapi dan cabai merah) di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan model analisis regresi linear berganda. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data time series tahunan dengan rentang waktu selama 30 tahun (tahun 1986-2015). Variabel yang digunakan yaitu harga beras, harga daging sapi, harga cabai merah, jumlah penduduk, pendapatan perkapita, dan jumlah produksi (beras, daging sapi dan cabai merah). Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi linear berganda sesuai untuk digunakan sebagai model persamaan penduga dari permintaan beras, daging sapi dan cabai merah. Hal ini terbukti dari uji F statistik pada 3 (tiga) model permintaan nyata pada taraf kepercayaan 99%, sedangkan dilihat dari nilai koefisien determinasi (R2), model permintaan beras variabel bebas memberikan kontribusi nilai sebesar 90,6%, model permintaan daging sapi sebesar 93,4% dan model permintaan cabai merah sebesar 61,3%. Hasil analisis elastisitas menunjukkan bahwa beras dan daging sapi merupakan barang inferior, sedangkan cabai merah merupakan barang normal. Beras bersifat substitusi terhadap daging sapi dan cabai merah. Daging sapi bersifat substitusi terhadap beras dan komplementer terhadap cabai merah. Cabai merah bersifat komplementer terhadap beras dan daging sapi. Penemuan dalam penelitian ini diharapkan mempunyai implikasi kebijakan pemerintah atau intansi yang berhubungan dengan pangan masyarakat, khususnya dalam pengambilan kebijakan pangan yang berkaitan dengan permintaan beras, daging sapi dan cabai merah sehingga indikator pembangunan ekonomi dapat terpenuhi sesuai dengan harapan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
PENGARUH PERIODE KELAHIRAN TERHADAP PERSENTASE HETEROSIS, BOBOT LAHIR, PERTUMBUHAN UKURAN TUBUH SEBELUM SAPIH, DAN BOBOT SAPIH, PADA KAMBING BOERJA Nggiku, Adrianus Keba; Susanti, Sri; Suharto, Kresno
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to calculate the profile of the productivity of Boerja goats at included: birth weight, body size growth prior to weaning and weaning weight. The research was conducted in the CV. Peternakan Kambing Boerja for 3 months, (In early May until early July 2016).The material used in this study was the parent of Boerja goat (F1 and F2) with the number of 20 goats (10 Boerja F1 and 10 Boerja F2) which had a complete recording. Based on the result, it showed that the heterosis birth weight and weaning weight of Boerja goat F1 and F2 indicated that the period of third birth increased compared to the first, second and fourth period of the birth. It was influenced by the high weight of the calf born to the third period which effected the growth size of the body prior to weaning and weaning weight. Because different birth weight would require different feeding and body size. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung profil produktifitas ternak kambing meliputi: bobot lahir, pertumbuhan ukuran tubuh sebelum sapih, bobot sapih. Penelitian ini dilaksanakan di CV. Peternakan Kambing Boer jaselama 3 bulan, (pada awal mei sampai awal juli 2016). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah induk kambing Boerja (F1 dan F2) dengan jumlah 20 ekor (10 ekor Boerja F1 dan 10 ekor Boerja F2) yang memiliki recording lengkap. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa heterosis bobot lahir, dan bobot sapih kambing boerja F1 dan F2 menunjukkan bahwa periode kelahiran ke ? 3 lebih meningkat di bandingkan dengan periode kelahiran 1, 2 dan 4. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya bobot lahir anak periode ke ? 3 yang berdampak pada peningkatan perkembangan ukuran tubuh sebelum sapih dan bobot sapih. Karena bobot lahir yang berbeda akan memiliki kebutuhan pakan dan perkembangan ukuran tubuh yang berbeda.
APLIKASI PUPUK NITROGEN DAN KALIUM PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annum L.) Age, Yustina; Indawan, Edyson; Hapsari, Ricky Indri
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Large chili plants (Capsicum annum L.) is one type of horticultural crops that many people need in daily life. The decrease of pepper production is caused by poor soil structure, and low availability of soil nutrients. Nitrogen needs to improve vegetative growth of plants, while potassium is intended to increase the production and quality of plants. The objective of this research is to know the effect of Nitrogen (Urea), Potassium (KCl) fertilizer interaction on growth and yield of big chilli plant. The experiment was conducted in Gading Kulon Village, Dau District, Malang Regency, starting from June to September 2015. The materials used are Chili Fada varieties. The method using RAK consists of two factors. First factor : N0 (control), N1 (75 kg N/ha), N2 (151 kg N/ha), N3 (302 kg N/ha). The second factor : K1 (60 kg K2O/ha), K2 (120 kg K2O/ha, K3 (240 kg K2O/ha) .The results showed the interaction of Nitrogen 302 kg N/ha and Koderous fertilizer of 240 kg K2O/ha Flowers 7,33 higher than on the application of Nitrogen 151 kg N/ha fertilizer and the fertilizer Potassium 240 kg K2O/ha yield 7.00 flower. Tanaman cabai besar (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang banyak dibutuhkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Penurunan produksi cabai disebabkan oleh struktur tanah tidak baik, dan rendahnya ketersediaan unsur hara dalam tanah. Kebutuhkan Nitrogen untuk memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman, sedangkan Kalium dimaksudkan meningkatkan produksi dan kualitas tanaman. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh interaksi pupuk Nitrogen (Urea), Kalium (KCl) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar. Penelitian dilaksanakan di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, dimulai dari bulan Juni-September 2015. Bahan yang digunakan cabai varietas Gada F1. Metode mengunakan RAK terdiri dua faktor. Faktor pertama : N0 (kontrol), N1 (75 kg N/ha), N2 (151 kg N/ha), N3 (302 kg N/ha). Faktor kedua : K1 (60 kg K2O/ha), K2 (120 kg K2O/ha, K3 (240 kg K2O/ha). Hasil penelitian menunjukan interaksi pemberian Nitrogen 302 kg N/ha dan pupuk Kalium 240 kg K2O/ha menghasilkan jumlah bunga 7,33 lebih tinggi dari pada pemberian pupuk Nitrogen 151 kg N/ha dan pupuk Kalium 240 kg K2O/ha menghasilkan jumlah bunga 7,00.
PERFORMAN BROILER YANG DIBERI SUPLEMEN “PUYER HERBAL” Deta, Yonatan; Setiyawan, Ahmad Iskandar; Supartini, Nonok
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Broilers who are given synthetic antibiotics will produce less healthy meat to consumption, due to the residue of chemicals contained in the meat. kunyit, kencur and temulawak are plants that contain curcumin and atsiri oils. This active substance can replace antibiotics to improve performance and quality of meat broiler. The aim of this study to determine the effect of puyer herbal as supplement on broiler performance which includes the consumption of rations, weight gain and fed conversion. This research was conducted on 28 March 2017 - 01 May 2017 At the Agricultural Laboratory of Tribhuwana Tunggadewi University Malang. The material used is DOC amounted to 80 chick with the average body weight of 50.39 grams / chick, kunyit, kencur and temulawak. The method used was experimental method using completely randomized design, with 4 treatments and 4 replications. Each treatment with detail P0 = giving of ration without puyer herbal, P1 = giving of ration + puyer herbal 0,3%, P2 = giving of ration + puyer herbal 0,6%, P3 = giving of ration + puyer herbal 0,9%. the data were analyzed by RAL, if any real different will be tested by BNT test. The results of the study showed that using puyer herbal in the ration gave a very real signifancantly diferent on ration consumption, body weight gain and fed conversion. The highest ration consumption was in P3 that is 3267,25 gram / chick, the highest body weight gain in P3 is 39,67 gram / chick and the lowest fed conversion at P3 that is 2,27 / chick. the results of the study can be concluded that the provision of puyer herbal as supplements gave a very real effect on the research variables at the level of supplementation 0.9%. It is recommended if there is application about giving herbal powder supplements on broiler, as well as given with level 0,9%. Broiler yang diberi antibiotik sintetik akan menghasilkan daging yang kurang sehat untuk dikonsumsi, disebabkan residu bahan ? bahan kimia yang terdapat dalam dagingnya. Kunyit, kencur dan temulawak merupakan tanaman yang memiliki kandungan kurkumin dan minyak atsiri. Zat aktif ini mampu menggantikan fungsi antibiotik sintetik didalam tubuh ayam broiler. Seperti memperbaiki performan dan kualitas daging. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh suplemen puyer herbal terhadap performan broiler yang meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 maret 2017 - 01 mei 2017 Di Laboratorium Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Materi yang digunakan yaitu DOC berjumlah 80 ekor dengan rataan bobot badan 50,39 gram/ekor, kunyit temulawak dan kencur. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap, dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap perlakuan dengan rincian P0 = pemberian ransum tanpa puyer herbal, P1 = pemberian ransum + puyer herbal 0,3 %, P2 = pemberian ransum + puyer herbal 0,6 %, P3 = pemberian ransum + puyer herbal 0,9 %. Data penelitian dianalisis menggunakan RAL, jika terdapat perbedaan yang sangat nyata akan diuji lanjut dengan uji BNT. Dari hasil penelitian menunjukkan pemberian suplemen puyer herbal memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Konsumsi ransum tertinggi terdapat pada P3 yaitu 3267,25 gram/ekor, pertambahan bobot badan tertinggi pada P3 yaitu 39,67 gram/ekor dan konversi ransum terendah pada P3 yaitu 2,27/ekor. Dengan demikian hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian suplemen puyer herbal memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap variabel penelitian pada level pemberian suplemen 0,9 %. Disarankan apabila ada penerapan mengenai pemberian suplemen puyer herbal pada broiler, sebaik diberikan dengan level 0,9 %.
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN CABAI RAWIT DI DESA GIRIMOYO KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Halimaking, Rosalina Ose; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Mutiara, Farah
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) is one type of chili known as vegetables, spices or herbs that the community needs as a flavoring dish. The amount of availability with the amount of demand for cayenne pepper is not always balanced. This is due to the unstable number of chilies produced or the number of consumer demand so that the price of chili is not stable. The aim of this research is to analyze the factors influencing the demand of cayenne pepper, the most dominant factor and the response of pepper demand to the change of cayenne pepper price, red chili price, onion price and family income. Data collected from households were analyzed by multiple linear regression tests. The results of this research show that factors influencing the demand of cayenne pepper are the price of cayenne pepper, the price of red pepper, the price of onion, the number of family member and the family income. The most dominant factor influencing the demand of cayenne pepper is the price of cayenne pepper. The demand for cayenne pepper is inelastic. Cayenne pepper is a normal item, or an item whose number of requests increases if the income of the family also increases. Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu jenis cabai yang dikenal sebagai sayuran, rempah atau bumbu dapur yang diperlukan masyarakat sebagai penyedap masakan. Jumlah ketersediaan dengan jumlah permintaan cabai rawit tidak selalu seimbang. Hal ini disebabkan karena tidak stabilnya jumlah cabai yang diproduksi atau jumlah permintaan konsumen sehingga harga cabai tidak stabil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor - faktor yang mempengaruhi permintaan cabai rawit, faktor yang paling dominan dan respon permintaan cabai terhadap perubahan harga cabai rawit, harga cabai merah, harga bawang merah dan pendapatan keluarga. Data yang dikumpulkan dari rumah tangga dianalisis dengan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa, Faktor - faktor yang mempengaruhi permintaan cabai rawit adalah harga cabai rawit, harga cabai merah, harga bawang merah, jumlah anggota keluarga dan pendapatan keluarga, Faktor yang paling dominan mempengaruhi permintaan cabai rawit adalah harga cabai rawit. Permintaan cabai rawit bersifat inelastis. Cabai rawit merupakan barang normal, atau barang yang jumlah permintaannya meningkat apabila pendapatan keluarga juga meningkat.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN ANGGOTA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) DEWI SARTIKA DALAM PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN DI DESA PETUNGSEWU KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG Alfines, Alfines; Suwasono, Son; Pudjiastuti, Agnes Quartina
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Utilization of backyard in the field of agriculture is one of the activities to meet the family needs such as vegetables and fruits and can create food independency in the household. in its application, the role of woman farmers becomes an important element in the implementation on the activities utilization of backyard. This study aims to examine the factors that affect the role of woman farmer group members and the most dominant factors that affect the role of woman farmer group Dewi Sartika in the utilization of backyardin Petungsewu Village, Dau Subdistrict. The research method used is quantitative descriptive by using multiple linear regression test with SPSS 2.1, and to obtain more in-depth data the researcher have done direct interview and questionnaire. The result of the research show that the factors that influence the role of woman farmer group members are age, education, family income, family members, time span, motivation, land area, counseling intensity and the most influential factor is time span, woman farmer in Petungsewu village in desperate need of counselor's guidance and mentoring from UPT BP Dau Subdistrict. Pemanfaatan lahan pekarangan adalah suatu kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga antara lain sayuran dan buah-buahan agar dapat mewujudkan kemandirian pangan dalam rumah tangga. Pada penerapannya, peran wanita tani menjadi unsur penting dalam pelaksanaan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh dan faktor paling dominan dalam mempengaruhi peran anggota kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Desa Petungsewu Kecamatan Dau. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan uji regresi linier berganda serta untuk memperoleh data yang lebih mendalam dilakukan dengan wawancara langsung serta kuisioner. Hasil Penelitian menujukkan bahwa faktor yang mempengaruhi peran anggota kelompok wanita tani adalah umur, pendidikan, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, curahan waktu, motivasi, luas lahan, intensitas penyuluhan dan faktor yang paling berpengaruh adalah curahan waktu, wanita tani di Desa Petungsewu sangat membutuhkan bimbingan penyuluh dan pendampingan dari UPT BP Kecamatan Dau.
SUBTITUSI PARSIAL TEPUNG TERIGU DENGAN TEPUNG KELADI TERMODIFIKASI DALAM PEMBUATAN ROTI TAWAR Paranggi, Ferdinan Landu; Ahmadi, KGS; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yam is a tuber plant that has long been known and can be found in various places. But the utilization of yam has been used for animal feed or limited to snack foods. The aim of this research was to get the partial substitution of wheat flour with modified yam flour in bread. The experimental design used in the study was Randomized Complete Random (RAL) of one factor with 3 replications, the factor being substitution of wheat flour with modified yam flour. The substitutions were as follows: 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%. The results showed that the best treatment was by the substitution of wheat flour with 10% of modified yam flour. The bread had a moisture content characteristic of 40%, 8.93% of protein content, texture 21.6 N, ash content of 1.71%, color preference 4.09 (like), scent preference 3.91 (like), texture prefence 3, 91 (like), taste prefence 3.68 (Neutral). Keladi merupakan tanaman umbi yang telah lama dikenal dan ditemukan diberbagai tempat. Namun pemanfaatan keladi selama ini digunakan untuk pakan ternak atau sebatas makanan kudapan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan subtitusi parsial tepung terigu dengan tepung keladi termodifikasi yang tepat pada roti tawar. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 3 kali ulangan, faktornya yaitu substitusi tepung terigu dengan tepung keladi termodifikasi. Adapun substitusi sebagai berikut: 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik yaitu dengan substitusi tepung terigu dengan tepung keladi termodifikasi 10%. Roti tawar yang dihasilkan mempunyai kerakteristik kadar air 40%, kadar protein 8.93%, tekstur 21,6 N, kadar abu 1,71%, kesukaan warna 4,09 (suka), kesukaan aroma 3,91 (suka), kesukaan tekstur 3,91 (suka), kesukaan rasa 3,68 (Netral).
PENGGUNAAN TEPUNG DAUN KELOR DAN TURI SEBAGAI PAKAN KONSENTRAT TERHADAP INCOME OVER FEED COST NILAI EKONOMIS PAKAN PADA BUDIDAYA KELINCI NEW ZEALAND WHITE Wandal, Defrini Konga; Marhaeniyanto, Eko; Santoso, Erik Priyo
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research studies flour aims to use leaves Moringa oleifera, Lamk (MOL) and Sesbania grandiflora as feed concentrates To iofc economic value feed on cultivation rabbits New Zealand White. The feed material used was corn flour, soybean meal, rice bran, mineral, MOL and Sesbania grandiflora leaf meal. The use of MOL and Sesbania grandiflora leaf meal as much as 7-11% in the concentrate. Twenty male New Zealand White rabbits at the average body weight of 1650,75 ± 370,94 g arranged in Randomized Block Design (RBD) with 4 treatments and 5 groups. The treatments applied were P14(basal diet+concentrate without leaf meal; 14% crude protein/CP), PD14 (basal diet+concentrate with leaf meal;14%CP), P18 (basal diet+concentrate without leaf meal;18%CP), PD18 (basal diet+concentrate with leaf meal; 18%CP). Basal diet given was a cabbage leaf. The result showed the positive on iofc economic value feed and found in treatment pd18 ( rp .8373,34 , not with standing the differ across treatment. Influence on both caused consumption feed and extra weight good agency said. We can conclude that the use of feed formulations have a positive impact on iofc economic value feed. We can conclude that the use of feed formulations have a positive impact on iofc economic value feed. Can be advised use flour and leaves kelor turi with a mixture of materials different feed or with the price of feed materials cheaper so can reduce the cost of feed. Penelitian bertujuan menentukan penggunakan tepung daun kelor dan turi sebagai pakan konsentrat terhadap IOFC nilai ekonomis pakan pada budidaya kelinci New Zealand White. Materi yang digunakan terdiri dari 20 ekor kelinci New Zealand White, rata ? rata bobot badan 1650,75±370,94 gram, jagung giling, bungkil kedelai, bekatul, mineral, tepung daun kelor dan turi. Tepung daun kelor dan turi digunakan sebanyak 7-11% dalam konsentrat. Metode yang digunakan adalah metode percobaan, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 5 kelompok. Perlakuan yang diuji yaitu P14(pakan basal+pakan konsentrat tanpa tepung daun; protein kasar/PK 14%), PD14(pakan basal+pakan konsentrat dengan tepung daun; PK 14%), P18(pakan basal+pakan konsentrat tanpa tepung daun; PK 18%), PD18 (pakan basal+pakan konsentrat dengan tepung daun; PK 18%). Pakan basal yang diberikan berupa daun kol. Hasil penelitian menunjukkan dampak yang positif terhadap IOFC nilai ekonomis pakan dan terdapat pada perlakuan PD18 (Rp. 8373,34), meskipun terdapat pengaruh yang berbeda antar perlakuan. Pengaruh yang baik diakibatkan pada konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan yang baik atau meningkat. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan pakan formulasi memberikan dampak positif terhadap IOFC nilai ekonomis pakan. Disarankan menggunakan tepung daun kelor dan turi dengan campuran bahan pakan yang berbeda atau dengan harga bahan pakan yang lebih murah sehingga dapat menekan biaya pakan.
PERSEPSI DAN PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP ALUN-ALUN KOTA MALANG Taty, Delviany Lisonio; Alfian, Rizki; Soelistyari, Hesti Triana
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A city developed not only in its physical form but also will grow with its people. The urban center is often regarded as a public place, where the center of all urban activities, whether political, social or economic, with a high physical development, it can be utilized by all interested people freely. Malang town square consists of locations that hasits own uniqueness. The conditions created in the town square give a perception and preference for the visitors in assessing the aspects to give an opinion about the location whether it is liked or disliked. This study aimed to (1) explain the perceptions and preferences of the community to Malang Town Square; (2) explain the design of the square based on perceptions and preferences. This research was carried out in Malang Town Squarefrom July to August 2016. The method used in this research was quantitative descriptive/calculation. The questionnaire data analysisused the Chi-Square Analysis. Based on the result, it can be concluded that there is a significant effec on perception and visitor preference towards beautyaesthetic and recreation place, flowering plant element, pondelement, and round crop shape. The recommendation for the management of Malang Town Square based on the equation value are: 1) 75% of respondents wanted Malang Town Square in order with regular or with different types of plants. 2) 73.33% of respondents wanted the square with a garden that has plants / flowering trees. 3) 61.67% as a place of recreation. Suatu kota tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi akan berkembang bersama dengan masyarakatnya. Kawasan pusat kota seringkali dianggap sebagai tempat publik/ruang publik, yaitu tempat berpusatnya segala aktivitas masyarakat kota, baik yang bersifat politik, sosial maupun ekonomi, dengan perkembangan fisik yang tinggi, dapat dimanfaatkan oleh semua orang yang berkepentingan secara bebas. Alun-alun kota malang terdiri dari lokasi yang memiliki keunikan tersendiri antara satu sama lain. Kondisi yang tercipta di Alun alun menimbulkan persepsi dan preferensi bagi pengunjung dalam menilai aspek-aspek untuk memberikan suatu pendapat mengenai lokasi yang dianggap disukai dan tidak disukai. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan persepsi dan preferensi masyarakat terhadap Alun-alun Kota Malang; (2) menjelaskan desain Alun-alun berdasarkan persepsi dan preferensi. Penelitian ini di laksanakan di Alun-alun Kota Malang pada bulan Juli sampai Agustus 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kuantitatif/hitungan, Pengolahan dan analisis data kuesioner responden menggunakan Ujianalisis Chi-Square. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara jenis kelamin pada persepsi dan preferensi pengunjung terhadap keindahan estetika dan tempat rekreasi, elemen tanaman berbunga, elemen kolam, dan bentuk tajuk tanaman bulat. Rekomendasi untuk pengelolaan Alun-alun Kota Malang di lihatdari nilai persamaan adalah: 1) 75% responden menginginkan Alun-alun Kota Malang di tata dengan teratur atau dengan jenis tanaman yang beragam. 2) 73,33% responden menginginkan Alun-alun dengan taman yang memiliki tanaman/pohon berbunga. 3) 61,67% sebagai tempat rekreasi.
PENGELOLAAN KAWASAN WISATA PREDATOR FUN PARK Di TLEKUNG, KOTA BATU suma sala, Melkisedek syukur EL; Alfian, Rizki; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research can are conducted for 1 month starting in April until the month of May 2015. This study aimed to determine and compare the combination treatment in feed rations Ducks Mojosari with duck egg production. The study used a completely randomized design because what if there was a very noticeable difference then continued by real difference. and each treatment can be repeated three times resulting in 21 experimental unit, The results showed that consumption is highest in treatment A0B2 which is a mixture of feed materials between Conch rice field 25% Rice bran 75% with the average of the highest value in the treatment of A0B2 gr / head / day. At intake and feed conversion with the highest value of 7.07%. Average feed conversion highest in A0B3 treatment (without the use of parched rice paddy conch + 45%), the effect of treatment (conch rice fields and parched rice) to feed conversion. It means giving different treatment would result in an average feed conversion was significantly different. Average feed conversion highest in A0B3 treatment (without the use of parched rice paddy snail + 45%). Average daily production of eggs The highest research results on A0B3. and the lowest in treatment A1B1. Based on the results of analysis of variance has been done, note that there is no effect of parched rice and paddy snails to total egg production. Average egg production research results reach the highest egg production in A0B3, and the lowest in treatment A1B1. Based on the results of analysis of variance has been done, it is known that there is no effect of parched rice and paddy snails to total egg production. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun suatu konsep Kegiatan pemeliharan pada kawasan Predator Fun Park. Hal ini dapat terlihat dari kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada tapak, baik pada kegiatan pemeliharaan elemen keras dan kegiatan pemeliharaan elemen lunak. Agar eksistensi kawasan Predator Fun Park dapat berfungsi dengan baik,maka diperlukan adanya pengelolaan lanskap, Penelitian ini menggunakan metode Swot observasi/pengamatan secara langsung,wawancara serta penyebaran kuisioner dan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi terkait (pemerintah desa). Hasil penelitian menunjukan bahwa Rekomendasi strategi yang diberikan adalah strategi di verisifikasi, artinya pengelolaan eksisting berada dalam kondisi baik namun desain ini akan mengalami tantangan yang dari lingkungannya untuk terus berlanjut (sustainable) apabila hanya bertumpu pada strategi sebelumnya. Oleh sebab itu dalam pengelolaan kawasan wisata Predator Fun Park direkomendasikan untuk memperbanyak ragam strateginya. Prioritas Pertama, Dalam pengelolaan kawasan wisata Predator Fun Park, aspek yang pertama perlu dipertimbangkan adalah aspek biofisik tapak.Prioritas kedua, Pengembangan identitas kawasan. Kawasan wisata predator fun park yang berpotensi untuk menjadi area wisata ekologi atau rekreasi perlu untuk membentuk identitas kawasannya. Identitas ini dapat diaplikasikan dalam bentuk elemen-elemen desain pembentuk lanskap. Dalam hai ini seperti kandang buaya dan vegetasi pendukungnya.Prioritas ketiga, pengelolaan kawasan wisata predator fun park perlu pengelolaan bangunan maupun tata hijau di kawasan yang nyaman dan aman bagi masyarakat. Prioritas keempat, Mendesain fasilitas dan utilitas penunjang bagi kawasan wisata predator fun park. Prioritas kelima, Menyusun tata letak bangunan baik kandang buaya, kandang ular, caffe, dan lainnya yang sesuai bagi kawasan wisata predator fun park.