cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2019)" : 50 Documents clear
PENDUGAAN KEINDAHAN LANSKAP CANDI PANATARAN KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR Baptisa, Faustina De Jesus; Budiyono, Debora; Soelistyari, Hesti Trisna
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Complex temple panataran is one of the largest temples in the province of East Java, located on the slope of Kelud Mountain in Penataran Village, Nglegok District, Blitar Regency. The potential that exists in Panataran temple is as a religious place for the Hindu religious community and as a tourist area that increases the economy of all communities. The current condition of the temple area is in the middle of residential areas and only separated by a fence with a visual landscape as originally planned for the area, settlements, buildings, agricultural land. The purpose of this study was to identify and analyze the visual condition of the landscape at Panataran Temple. The method used in this research is quantitative descriptive while the method for analyzing data is the method SBE (Scenic Beauty Estimation). Based on the results of research that the visual landscape of the Panataran Temple area has three beauty classifications namely beautiful 41.43%, quite beautiful 19.35%, and not beautiful 54.53%. From the results that are known under the classification of beauty that is not beautiful and quite beautiful it is necessary to add facilities, green space and RTB so that in the Panataran Temple area there is comfort, safety and beauty for the local community and visitors. Kompleks Candi Panataran merupakan salah satu Candi terbesar di provinsi Jawa Timur, terletak di lereng gunung Kelud di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Potensi yang ada di Candi Panataran adalah sebagai tempat religi bagi masyarakat agama Hindu beribadah dan sebagai tempat kawasan wisata yang meningkatkan perekonomian bagi semua masyarakat. Kondisi kawasan candi saat ini berada di tengah-tengah pemukiman penduduk dan hanya dipisahkan oleh pagar dengan visual lanskap sebagaimana awal fungsinya yang telah direncanakan pada kawasan, pemukiman, bangunan, dan lahan pertanian.Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis kondisi visual lanskap pada Candi Panataran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif sedangkan metode untuk menganalisis data adalah metode SBE (Scenic Beauty Estimation). Berdasarkan hasil penelitian yang bahwa visual lanskap kawasan Candi Panataran memiliki tiga klasifikasi keindahan yaitu indah 41.43%, cukup indah 19.35%, dan tidak indah 54.53%. Dari hasil yang sudah diketahui bawah klasifikasi keindahan yang tidak indah dan cukup indah perlu adanya penambahan fasilitas dan RTH maupun RTB sehingga dalam kawasan Candi Panataran terdapat kenyamanan, keamanan, dan keindahan bagi masyarkat setempat maupun pengunjung.
ANALISA USAHA PEMBUATAN MENTEGA BUAH PISANG DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG JAGUNG PULUT (ZEA MAYZ) Laba, Ferdinandus; Santosa, Budi; Rahmawati, Atina
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banana butter is a food product made from mashed bananas and added with pulut corn flour (Zea Mayz). Fruit butter is different from butter on the market. Fruit butter is made from fruit that is rich in vitamins, minerals and fiber. Fruit butter in the process of making bread cannot be included in the dough, but can only be used as a topping or spread. The purpose of this study was to analyze the business of making banana butter with the addition of pulut corn flour based on the best treatment. The experimental design used in the study used a single randomized complete design (CRD). The factor is the proportion between pulut corn flour consists of 5 levels, namely: J1 10%, J2 20%, J3 30%, J4 40% and J5 50%. The feasibility analysis of the business of banana butter from pulut corn flour and bananas?s industry is HPP of Rp 285,937.50 and a selling price of 25,000 per 400 grams. BEP prices obtained are in the amount of IDR 183,009,088, BEP units at 9,302 units, NPV at IDR 371,789,198, Net B / C at 2.14. The R / C ratio is 1.35, which means that this banana butter?s business is feasible to be run on a small industrial scale. Mentega buah pisang merupakan produk pangan berbahan dasar buah pisang yang dihaluskan dan ditambah dengan tepung jagung pulut (Zea Mayz). Mentega buah berbeda dengan mentega yang ada di pasaran. Mentega buah terbuat dari buah yang kaya kandungan vitamin, mineral dan serat. Mentega buah dalam proses pembuatan roti tidak dapat disertakan kedalam adonan, tetapi hanya bisa dipakai sebagai topping atau olesan. Tujuan penelitian ini untuk melakukan analisa usaha pembuatan mentega buah pisang dengan penambahan tepung jagung pulut berdasarkan perlakuan terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal. Faktornya yaitu proporsi antara tepung jagung pulut terdiri antara 5 taraf yaitu: J1 10%, J2 20%, J3 30%, J4 40% dan J5 50%. Perhitungan analisa kelayakan usaha pembuatan mentega buah pisang dari tepung jagung pulut dan buah pisang yaitu HPP sebesar Rp 285.937.50 dan harga jual 25.000 per 400 gram. BEP harga diperoleh yaitu sebesar Rp 183.009.088, BEP unit sebesar 9,302 unit, NPV sebesar Rp 371,789,198, Net B/C sebesar 2,14. Nilai R/C ratio sebesar 1,35, yang berarti usaha mentega buah pisang ini layak untuk diusahakan dalam skala industri kecil.
ANALISA KELAYAKAN USAHA PEMANFAATAN KULIT BATANG LANGSAT, KAYU SECANG, DAN JAHE DALAM MINUMAN CELUP Robi, Hadrianus; Mushollaeni, Wahyu; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to obtain a feasibility analysis of the making of a dip drink from the bark of langsat and sappan wood. The research began with the determination of the best formulation of a dip drink made from langsat bark, sappan wood, and ginger. The formulation of langsat bark, secang wood, and ginger drink which is the best treatment in terms of physical chemistry, is then analyzed for business feasibility. In this study, the best treatment of the three formulations of the ingredients in a dip drink was 40% langsat bark, 40% sappan wood, and 20% ginger. The results of the business feasibility analysis show that the cost of production is Rp. 15,258; product selling price of Rp. 17,547 per pack (50gram); and the BEP for prices within one year gained Rp. 114,945,968; and the RCR value is 1.15. RCR value of more than 1, indicates that the business of producing langsat bark, sappan wood, and ginger drinks is feasible to be developed on a small industrial scale. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan analisis kelayakan usaha pembuatan minuman celup dari kulit batang langsat dan kayu secang. Penelitian ini dimulai dengan penentuan formulasi terbaik dari minuman celup yang berbahan baku kulit batang langsat, kayu secang, dan jahe. Formulasi minuman celup kulit batang langsat, kayu secang, dan jahe yang merupakan perlakuan terbaik ditinjau dari sisi kimia fisika, kemudian dianalisa kelayakan usaha. Dalam penelitian ini, perlakuan terbaik formulasi ketiga bahan tersebut dalam minuman celup adalah 40% kulit batang langsat, 40% kayu secang, dan 20% jahe. Hasil analisa kelayakan usaha menunjukkan bahwa harga pokok produksi sebesar Rp. 15.258; harga jual produk sebesar Rp. 17.547 per bungkus (50gram); serta BEP untuk harga dalam kurun waktu 1 tahun diperoleh Rp. 114.945.968; dan nilai RCR adalah 1,15. Nilai RCR yang lebih dari 1, menunjukkan bahwa usaha produksi minuman celup kulit batang langsat, kayu secang, dan jahe layak untuk dikembangkan pada skala industri kecil.
EKSPLORASI MIKROBIA RHIZOSFER TUMBUHAN GULMA BABANDOTAN (AGERATUM CONYZOIDES L) POTENSIAL SEBAGAI PENGHASIL IAA Syahruddin, Syahruddin; Sumiati, Astri; Sutoyo, Sutoyo
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Babandotan weed sampling was carried out at lowland locations (Kepanjen) and upland locations. Sampling was carried out simultaneously with a total of 10 samples of babandotan weed, samples taken from 2 different locations were then taken to the micrological laboratory of the faculty of agriculture, tribhuwana, tunggadewi Malang. The bacteria that grows there are 2 round shapes and flower shapes in each location. This study uses qualitative and quantitative analysis, qualitative analysis by means of testing the ability of bacteria as IAA producers by using salkowski reagent solution by dropping, the bacteria that are able to produce will turn pink when they are dripped with calcowski reagent solution. The bacteria that can produce IAA are round-shaped bacteria. Quantitative analysis using spectrophotometry with a wavelength of 530 nm in order to determine the level of IAA in each incubation. Pengambilan sampel Gulma Babandotan dilakukan di lokasi Dataran Rendah (Kepanjen) dan lokasi Dataran Tinggi(Cangar) dengan serentak sejumlah 10 sampel tumbuhan gulma babandotan, Sampel yang di ambil dari 2 lokasi yang berbeda kemudian di bawa ke laboratorium mikrobiogi Fakultas Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Koloni bakteri terdapat 2 bentuk, yaitu berbentuk bulat dan bentuk lonjong pada masing-masing lokasi. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif, analisis kualitatif dengan cara Uji kemampuan bakteri sebagai penghasil IAA dengan menggunakan larutan reagen salkowski dengan cara ditetesi, bakteri yang mampu menghasilkan IAA akan berubah warna menjadi merah muda ketika di tetesi dengan larutan reagen salkowski. Bakteri yang mampu menghasilkan IAA adalah bakteri yang berbentuk bulat. Analisis kuantitatif dengan cara spektrofotometri dengan panjang gelombang 530 nm dengan tujuan mengetahui kadar IAA dalam setiap inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi IAA Dataran Tinggi tertinggi pada inkubasi 48 jam dengan rata-rata yang di peroleh 16,74 ppm. Konsentrasi IAA Dataran Rendah tertinggi pada inkubasi 72 jam dengan rata-rata yang di peroleh 16,66 ppm.
KERAGAAN UBI JALAR [IPOMOEA BATATAS (L) LAM.] AKIBAT PEMBERIAN BIOCHAR JENGKOK TEMBAKAU Lein, Johanes; Indawan, Edyson; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sweet potatoes including tuber commodities that have important prospects. Due to the high content of nutrients, minerals, vitamins and the increasing diversity of processed and industrial products sourced from sweet potatoes. The improvement of sweet potato production is still being carried out, one of the improvements in soil improvement. Provision of biochar into the soil can increase the availability of the main ratio, P and N concentrations in the soil. Increased CEC and soil pH can increase 40% Biochar's ability to bind water and nutrients in the soil helps prevent fertilizer losses due to surface erosion and washing so as to enable fertilizer savings. This study aims at agronomic performance in sweet potato plants due to biochar administration. The experiment was carried out using splitplots with 3 replications, 7 varieties namely: white brass, red brass, Beta 1, Beta 2, Sari, Boko, Jago and Biochar Dose: (Bo = No Biochar, B1 = 5 tons / ha). Variables observed included: number of tubers / plot, tuber fresh weight (kg / plot), freshly squeezed weight (kg / plot),% tuber dry weight (BK) tubers,% tuberous dry weight, tuber BK weight, and stover BK. Continued testing with the smallest Real Difference Test (LSD) with a confidence level of 5% based on research shows that the performance of yarbaik varieties in tubers is Beta 1 with the number of tubers / plots of 39.67 tubers, Beta 2 at tuber weights of 8.60 kg / plant , Beta 1 10.92 kg / fresh weight crop of stover, Sari and Beta 2 at harvest index are 92.25 and 88.81 tubers. Ubi jalar termasuk komoditas umbi-umbian yang mempunyai prospek penting. Karena tingginya kandunggan nutrisi, mineral, vitamin dan semakin beragamannya produk olahan maupun industri yang bersumber dari ubi jalar. Peningkata produksi ubi jalar masih terus dilakukan, salah satu perbaikan pembenahan tanah. Pemberian biochar ke dalam tanah dapat meningkatkan ketersediaan katioan utama, P dan konsentrasi N dalam tanah. Peningkatan KTK dan pH tanah dapat meningkat 40% Kemampuan biochar untuk mengikat air dan unsur hara dalam tanah membantu mencegah terjadinya kehilangan pupuk akibat erosi permukaan dan pencucian sehingga dapat memungkinkan penghematan pemupukan. Penelitian ini bertujuan keragaan agronomi pada tanamanubi jalar akibat pemberian biochar. Percoban di laksanakan dengan menggunakan splitplot denang 3 ulangan, 7 varietas yaitu: Kuningan putih, kuningan merah, Beta 1, Beta 2, Sari, Boko, Jago dan Dosis Biochar : (Bo= Tanpa Biochar, B1=5 ton/ha). Variabel yang di amati meiputi: jumlah umbi/plot, bobot segar umbi (kg/plot), bobot segar berangkasan (kg/plot), % bobot kering (BK) umbi, % bobot kering berangkasan, BK umbi, dan BK brangkasan. Pengujian lanjutan denagn Ujian Beda Nyata terkecil (BNT) dengan taraf kepercayaan 5% berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa keragaan Varietas yarbaik pada umbi yaitu Beta 1 dengan jumlah umbi/plot sebanyak 39,67 umbi, Beta 2 pada bobot umbi sebesar 8,60 kg/tanaman, Beta 1 10,92 kg/pertanaman berat segar brangkasan, Sari dan Beta 2 pada indeks panen yaitu 92,25 dan 88,81 umbi.
ANALISIS LANSKAP PENGARUH GREENERY TERHADAP AGROKLIMAT KOTA BATU MENGGUNAKAN SIG DAN PENGINDERAAN JAUH Reko, Reko; Budiyono, Debora; Nailufar, Balqis
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batu City is a division city of Malang Regency, East Java. The status of the administrative city of Batu became Batu City, established since the Decree of the Minister of Home Affairs decreed at the end of October 2001 and began to be active in government activities in 2002. As a tourism-based city, the face of Batu City turned into built-up land. This makes a change in the decline of greenery and agro-climate which affect the decline in the agricultural sector. The purpose of this study is to analyze the differences between greenery and agro-climate in 2003 and 2018 and analyze the relationship between greenery and agro-climate. The method used in this research is descriptive with a qualitative spatial approach. Based on the results of the study showed that, Batu City NDVI in 2003 was dominated by cloud class and NDVI 2018 obtained forest class results. The visible cloud class in 2003 was caused by weather factors during the recording process so that the forest class was covered by the cloud class. In the 2003 LST results which were between 150C-230C and 2018 LST obtained lower results, namely 60C-130C. The changes in greenery and agro-climate and the decrease in temperature are due to atmospheric phenomena namely la-nina (decrease in temperature). Furthermore, based on the correlation test there is a relationship between greenery and agro-climate at a 1% confidence interval between NDVI and LST which is positive and very strong. Kota Batu adalah kota pemekaran dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Status Kota administratif Batu menjadi Kota Batu, ditetapkan sejak turunnya Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri pada akhir Oktober 2001 dan mulai aktif dalam kegiatan pemerintahanTahun 2002. Sebagai Kota yang berbasis pariwisata, wajah Kota Batu berubah menjadi lahan terbangun. Hal ini menjadikan perubahan penurunan terhadap greenery dan agroklimat yang berpengaruh pada penurunan sektor pertanian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan greenerydan agroklimat Tahun 2003 dan 2018 serta menganalisis hubungan antara greenery dan agroklimat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan spasial kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa, NDVI Kota Batu Tahun 2003 didominasi oleh kelas awan dan NDVI 2018 memperoleh hasil kelas hutan. Terlihatnya kelas awan pada Tahun 2003 diakibatkan oleh faktor cuaca pada saat proses perekaman sehingga kelas hutan tertutupi oleh kelas awan. Pada hasil LST Tahun 2003 yaitu antara 150C-230C dan LST Tahun 2018 memperoleh hasil yang lebih rendah yaitu 60C-130C. Terjadinya perubahan greenery dan agroklimat serta penurunan suhu disebabkan karena adanya fenomena atmosfer yaitu la-nina (penurunan suhu). Selanjutnya berdasarkan uji korelasi terdapat hubungan antara greenery dengan agroklimat pada selang kepercayaan 1% antara NDVI dan LSTyang bernilai positif dan sangat kuat.
PRODUKSI BIOGAS BERBAHAN BAKU BLOTONG DENGAN FAKTOR KONSENTRASI AIR DAN LAMA FERMENTASI SECARA SPONTAN Wicaksono, Aditya; Ahmadi, Kgs; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biogas is one of the renewable energies that can be used as alternative energy. Blotong is industrial waste that can be used in making biogas. The purpose of this study was to obtain an appropriate comparison of the production of biogas made from raw materials with air composition factors and duration of fermentation, by spontaneous fermentation. This research was carried out using a split plot design, with 2 regulatory factors, namely water concentration of 1:2 and 1:3 and a fermentation time of 5, 10, 15, 20 and 25 days. The parameters used include the volume of biogas, the degree of acidity (pH) and flame. The results showed that this study was 1: 2 with a total of 5.74 liters, and the optimal fermentation time on the 25th day. The average pH shows a neutral number, and the flame test is blue and the flame is large. Biogas merupakan salah satu energi terbarukan yang dapat digunakan sebagai energi alternatif. Salah satu limbah hasil pengolahan industri gula yang dapat digunakan dalam pembuatan biogas adalah blotong. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan proporsi yang tepat pada pembuatan biogas berbahan baku blotong dengan faktor konsentrasi air dan lama fermentasi, dengan fermentasi secara spontan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan split plot, dengan 2 faktor perlakuan yaitu konsenterasi air 1:2 dan 1:3 dan lama fermentasi 5, 10, 15, 20, dan 25 hari. Parameter yang digunakan meliputi volume biogas, derajat keasaman (pH) dan nyala api. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi air paling baik adalah 1:2 dengan jumlah sebesar 5,74 liter, serta lama fermentasi paling optimal pada hari ke-25. Rata-rata pH menunjukkan angka mendekati netral, serta uji nyala berwarna biru dan nyala api yang besar.
ANALISIS POTENSI KESESUAIAN LAHAN WELCOME AREA DI PERBATASAN LOKPRI INDONESIA-MALAYSIA, DESA JAGOI KABUPATEN BENGKAYANG Ruhmana, Intan; Budiyono, Debora; Nuraini, Nuraini
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The border is an area that is in two different regions and is located in a district area. The state border area is an area that is often used in the exchange of various goods and services, but this priority location does not yet have enough facilities to support the border area in Jagoi Village. Land suitability analysis conducted in the Lokpri area aims to analyze the landscape arrangement of the Lokpri welcome area in Jagoi Village. The data used for this research are primary data and secondary data. The method used to analyze is descriptive quantitative using land suitability analysis techniques. The results of this study indicate that land suitability in the Lokpri area is divided into two parts, which are quite suitable with an area of 19,454 ha (53.18%) found in limited production forests and water bodies, while a very suitable area has an area of 16,127 ha (46.81%) contained in terrain and settlement. Areas in Lokpri Jagoi Village have land suitability to be developed as a welcome area in the border area. Perbatasan adalah daerah yang berada pada dua wilayah yang berbeda dan terletak di daerah kecamatan. Daerah perbatasan negara merupakan daerah yang sering digunakan dalam pertukaran berbagai barang dan jasa, namun di lokasi prioritas ini belum memiliki cukup fasilitas untuk menunjang daerah perbatasan di Desa Jagoi. Analisis kesesuaian lahan yang dilakukan pada daerah Lokpri bertujuan untuk menganalisis penataan lanskap welcome area Lokpri di Desa Jagoi. Data yang digunakan untuk penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Metode yang digunakan untuk menganalisis yaitu deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis kesesuaian lahan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kesesuaian lahan di daerah Lokpri terbagi menjadi dua bagian yaitu cukup sesuai dengan luas 19.454 ha (53.18%) terdapat pada hutan produksi terbatas dan badan air, sedangkan daerah yang sangat sesuai memiliki luas 16.127 ha (46.81%) terdapat pada tanah lapang dan permukiman. Kawasan di lokpri Desa Jagoi memiliki kesesuaian lahan untuk dikembangkan sebagai welcome area daerah perbatasan.
ANALISA USAHA PEMBUATAN KUE SAGON KERING MENGGUNAKAN CAMPURAN ANTARA TEPUNG KELADI TERMODIFIKASI DAN TEPUNG KETAN Frumen, Maksimus; Santosa, Budi; Rahmawati, Atina
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sagon cookies is a typical archipelago food that is well known in the community, especially in Java. Sagon cookies has a sweet and savory taste, so many people like it from children and adults. The purpose of this study was to calculate the feasibility of the dry sagon cookies industry business based on the best treatment of the research results. The experimental design used in the study used a single factor RAL (completely randomized design). The factor used is the proportion of modified taro tubers flour with sticky rice flour consisting of 5 levels, namely: T1 90% + 10%, T2 80% + 20%, T3 70% + 30%, T4 60% + 40% and T5 50% + 50%. Calculation of the feasibility analysis of the business of making dried sagon cookies from modified taro flour and sticky rice flour is a BEP unit of 1125 and a BEP price of Rp. 5,627,004 for 5 years. The calculation of NPV value is 78.02,869, Net B / C is 2.15, PP (year) is 2.0 and RCR is 1.119. An RCR of more than 1 indicates that the dry sagon cookies industry is feasible. Kue sagon merupakan makanan khas nusantara yang sudah terkenal ditengah masyarakat khususnya di pulau Jawa. Kue sagon mempunyai rasa yang manis dan gurih, sehingga banyak yang menyukainya dari kalangan anak-anak maupun dewasa. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menghitung kelayakan usaha industri kue sagon kering berdasarkan perlakuan terbaik dari hasil penelitian. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) faktor tunggal. Faktor yang digunakan adalah proporsi tepung keladi termodifikasi dengan tepung beras ketan yang terdiri antara 5 taraf yaitu: T1 90%+10%, T2 80%+20%, T3 70%+30%, T4 60%+40% dan T5 50%+50%. Perhitungan analisa kelayakan usaha pembuatan kue sagon kering dari tepung keladi termodifikasi dan tepung ketan adalah BEP unit sebesar 1125 dan BEP harga sebesar Rp. 5.627.004 selama 5 tahun. Perhitungan nilai NPV sebesar 78.02.869, Net B/C sebesar 2,15, PP (tahun) sebesar 2,0 dan RCR sebesar 1,119. NIlai RCR yang lebih dari 1 menunjukkan bahwa industri kue sagon kering telah layak untuk diusahakan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI PADI DI DESA SUTOJAYAN KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG Lebu, Junaidi Bebe; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Nurhananto, Dwi Asnawi
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the effect of age, land area, labor, seeds, ponsa fertilizer, urea fertilizer, and pesticides simultaneously and partially on the income of rice farmers. The analytica method used is multiple linaer regression. The results showed that age, land area, labor, seeds, ponsa fertilizer, urea fertilizer and pesticides simultaneously affected the income of rice farmers. The land area and seeds partially have a significant effect on farmers? income, while age, labor, ponsa fertilizer, urea fertilizer and pesticides have on significant effect. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor umur, luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk ponska, pupuk urea, dan pestisida secara simultan dan parsial terhadap pendapatan petani padi. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur, luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk ponska, pupuk urea dan pestisida secara simultan berpengaruh terhadap pendapatan petani padi. Luas lahan dan benih secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani, sedangkan umur, tenaga kerja, pupuk ponska, pupuk urea dan pestisida tidak berpengaruh sigifikan.