cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP POTENSI BAHAYA LONGSOR DENGAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KOLONODALE KABUPATEN MOROWALI UTARA Mala, Bayu Kristanto Setiawan; Moniaga, Ingerid L; Karongkong, Hendriek H
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan wilayah perkotaan Kolonodale sebagai ibukota Kabupaten Morowali Utara, telah menyebabkan perubahan tutupan lahan dari lahan tidak terbangun (lahan hijau) menjadi lahan terbangun. Perubahan tersebut terjadi akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur wilayah. Pembangunan di Kabupaten Morowali Utara belum terarah pada perencanaan ruang yang berkelanjutan sehingga pembangunan cenderung mengarah pada tata ruang yang dapat menyebabkan munculnya potensi bahaya longsor. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perubahan tutupan lahan dan menentukan tingkat kerawanan longsor di kawasan perkotaan Kolonodale. Perencanaan tata ruang terhadap bahaya longsor dikaji dalam analisis keruangan (spasial). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan superimpose (overlay).  Data-data fisik dasar yang berkaitan dengan perubahan tutupan lahan merupakan data series tahun 2006, 2011, 2016 yang dioverlay untuk mengetahui perubahan tutupan lahan di kawasan perkotaan Kolonodale. Parameter bencana longsor yang dianalisis yakni  kelerengan, jenis tanah, curah hujan, dan penggunaan lahan. Hasil analisis, diketahui bahwa kawasan perkotaan Kolonodale mengalami perubahan tutupan lahan dalam kurun waktu 10 tahun seluas 75,81 Ha atau 4,71%. Dengan menggunakan metode overlay berdasarkan empat parameter bencana longsor (kelerengan, jenis tanah, curah hujan, dan penggunaan lahan) maka diperoleh tiga klasifikasi tingkat kerawanan longsor yakni tingkat kerawanan rendah, tingkat kerawanan sedang, tingkat kerawanan tinggi. Kerawanan longsor  terbesar yakni klasifikasi tingkat kerawanan sedang seluas 1.424.16 Ha atau 88,46 % dari luas total wilayah perkotaan Kolonodale. Kata Kunci : Tutupan Lahan, Longsor, Sistem Informasi Geografis
PERENCANAAN KAWASAN SEMPADAN SUNGAI SAWANGAN DI KOTA MANADO Gay, Faris Sasma; Warouw, Fela; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hujan deras yang terjadi menyebabkan bencana banjir pada tiap tahun di Kota Manado. Di sebagian besar Kecamatan Wenang, Kecamatan Tikala dan Kecamaan Paal Dua, terdapat DAS sawangan yang melewati sepuluh kelurahan.  Sungai sawangan memiliki wilayah rawan banjir oleh kondisi fisik alaminya sementara pemanfaatan lahan sebagian besar di dominasi oleh pembanngunan rumah tinggal, perdagangan dan jasa, serta kawasan peruntukan lainya. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik pemanfaatan ruang di kawasan Sempadan Sungai Sawangan di Kota Manado. Untuk Merencanakan kawasan sempadan sungai sawangan, memenuhi fungsi ekologi, perlindungan terhadap banjir dan amenity (ruang terbuka publik). Metode penelitian ini menggunakan deskriptif, eksploratif analisis spasial bersifat pendekatan kuantitatif yang memiliki dua tahap.  Tahap pertama deskriptif kesesuaian menurut aturan, metode eksploratif dan kuantitatif untuk analisis spatial, mengidentifikasi karakteristik tata bangunan dan tataguna lahan. Instrumen penelitian Arc GIS. Tahap kedua konsep perencanaan, solusi penanganan menurut krakteristik kawasan perencanaan. Instrumen penelitian Google SketchUp 3D. Hasil identifikasi serta dilakukan analisis maka perencanaan kawasan sempadan sungai sawangan berdasarkan kebutuhan ekologi adalah berupa perencanaan pelebaran sungai, pembersihan sampah-sampah serta pengerukan dasar sungai dari endapan sedimen pada segmen 1,2,3,4,5,6,7,8. Pada aspek perlindungan banjir diperlukan pembuatan saluran buangan air drainase, tanggul dan talud pada segmen 1,2,3,4,5 sedangkan pembuatan tanggul dan bendungan pada segmen 6,7,8. Untuk penyediaan ruang terbuka publik (Amenity) maka diperlukan pembuatan ruang terbuka hijau skala kecil seperti taman RT/RW pada segmen 1,2,3,4,5 dan untuk segmen 6,7,8 pembuatan ruang terbuka berskala kota Kata Kunci : Permukiman Kota, Perubahan Penggunaan Lahan, Sempadan Sungai.
PERUBAHAN FUNGSI PEMANFAATAN RUANG DI KELURAHAN MOGOLAING KOTA KOTAMOBAGU Umar, Feki Pebrianto; Sela, Rieneke L. E.; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota dalam perjalanannya selalu tumbuh dan berkembang. Seiring dengan perkembangan kota, berbagai macam aktifitas perkotaan mulai tumbuh dan salah satu yang memicu perkembangan tersebut adalah Penduduk. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan semakin tingginya permintaan lahan untuk fungsi permukiman. Seperti yang terjadi di Kota Kotamobagu, dimana salah satu wilayah yang mengalami perubahan dalam pemanfaatan ruang adalah Kelurahan Mogolaing. Pembangunan yang terjadi rata-rata berfokus mengikuti jalur jalan dengan kepadatan yang tinggi terutama pada Jln. Adampe Dolot dan Jln Kampus yang masing masing mengalami perubahan dengan fungsi pemanfaatan ruang yang berbeda. Tujuan penelitian ini pada dasarnya adalah untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan tersebut serta mengkaji faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perubahan dengan mengambil 10 tahun perbandingan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dimana pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis dengan SIG. Hasil analisis menunjukan peningkatan persen lahan terbangun yang dimanfaatkan untuk fungsi komersial serta adanya perubahan fungsi bangunan seperti perubahan hunian menjadi hunian sekaligus komersial dimana perubahan tersebut mengikuti koridor atau merembet secara linear dan terfokus pada bagian wilayah penelitian yang berdekatan dengan pusat kota. Selanjutnya ditemukan faktor yang menyebabkan perubahan fungsi pemanfaatan ruang adalah Topografi, Penduduk, Nilai Lahan, Aksesibilitas, dan Daya Dukung Lahan. Kata Kunci : Perubahan Fungsi, Pemanfaatan Ruang, Koridor, Mogolaing Kotamobagu
KETERSEDIAAN PRASARA SARANA DALAM MENDUKUNG KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN Lamia, Liwe Brian; Rengkung, Michael M; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa dan kegiatan pendukung lainnya. Tujuan dari pengembangan kawasan Minapolitan adalah untuk mendorong percepatan pengembangan wilayah dengan kegiatan perikanan sebagai kegiatan utama dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dengan mendorong keterkaitan Desa dan Kota dan berkembangnya sistem dan usaha minabisnis yang berdaya saing berbasis kerakyatan, berkelanjutan (tidak merusak lingkungan) dan terdesentralisasi (wewenang berada di pemerintah daerah dan masyarakat) di kawasan Minapolitan. Kabupaten Minahasa Selatan merupakan wilayah pesisir, dengan memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 168,59 Km dari Kecamatan Sinonsayang sampai ke Kecamatan Tatapaan. Hal ini terlihat dalam kebijakan pemerintah pusat dalam pengembangan kawasan pesisir Indonesia yang memiliki potensi yang sangat besar, berdasar keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 35/KEPMEN-KP/2013 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan di seluruh wilayah Indonesia. Dimana keputusan tersebut Kabupaten Minahasa Selatan ditetapkan dua Kecamatan yaitu Kecamatan Tatapaan dan Kecamatan Tumpaan. Hasil produksi perikanan tangkap Kecamatan Tatapaan dan Tumpaan pada tahun 2015 sebesar 7.855,00 ton dan 7.892,00 ton. Kabupaten Minahasa Selatan yang dimana masyarakatnya sebagian besar petani dan juga nelayan yang masih jauh dari tingkat kesejakteraan sebagian nelayan yang miskin, maka daerah ini perlu adanya penangan khusus untuk  meningkatkan hasil perikanan yang ada agar dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi lokal di daerah tersebut. Namun kendala yang dialami dalam pengembangan kawasan Minapolitan dalam lingkup Kecamatan yaitu keterbatasan ketersediaan Prasarana Sarana dalam pengembangan kawasan Minapolitan Kabupaten Minahasa Selatan. Maka dari itu ketersediaan Prasara Sarana Kawasan Minapolitan sangatlah dibutuhkan. Kata Kunci : Prasarana Sarana Kawasan Minapolitan, Tingkat Ketersediaan.
STUDI PENGEMBANGAN KEBUTUHAN AIR MINUM DI PERMUKIMAN DESA BAJO KECAMATAN SANANA UTARA KABUPATEN KEPULAUAN SULA Than, Ferdy; Supardjo, Suryadi; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Bajo merupakan salah satu desa di Kabupaten Kepulauan Sula yang merupakan bagian dari Provinsi Maluku Utara. Di desa ini juga tidak terlepas dari masalah ketersediaan air minum. Masalah ini timbul karna berkembangnya Desa Bajo sehingga menambah jumlah penduduk yang ada,  Seiring dengan itu jumlah kebutuhan air yang layak diminum pun meningkat. Namun fasilitas sarana dan prasarana yang ada tidak memadai untum memudahkan setiap masyarakat untuk mengakses air minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengedentifikasi kondisi kebutuhan air minum dan mengembangkan kondisi kebutuhan air minum di permukiman Desa Bajo Kecamatan Sanana Utara. Metode yang digunakan adalah metode kuesioner, observasi, dan wawancara dengan analisis deskriptif, proyeksi penduduk, jumlah kebutuhan air minum. Dari hasil penelitian dan pembahasan kondisi pemenuhan kebutuhan air minum tahun 2016, tidak merata ke seluruh warga, adapun yang terpenuhi hanya sebesar ± 50% saja dan Kondisi pemenuhan kebutuhan air minum untuk kebutuhan domestik tahun 2016 yang harus terpenuhi 1,11 ltr/detik,  ditahun proyeksi 2031 total keseluruhan dalah 1,65 ltr/detik. Sementara untuk kebutuhan Non Domesti di tahun 2016 hingga 2031 adalah masi tetap sama yaitu 0,96 liter/detik. Untuk pengembangan kebutuhan air minum di permukiman Desa Bajo diperlukan penambahan 2 titik likasi sumur bor baru untuk memenuhi kebutuhan sekarang dan dimasa yang akan datang, pembuatan sistem penampungan air baku untuk dijadikan cadangan ketika sistem pengaliran air listrik mati dan pembuatan kran umum di setiap kawasan permukiman, membuat saringan air minum untuk membersihkan air bersih dari zat berbahaya, bekerja sama dengan pemerintah dalam perencanaan PDAM di desa pohea dan membentuk lembaga swadaya masyarakat. Kata Kunci : Pengembangan Air Minum, Kebutuhan Air Minum, Pengelolaan air baku dan Permukiman
EVALUASI KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DALAM MEWUJUDKAN KOTA HIJAU (P2KH) Monoarfa, Richard Vennesanki; Moniaga, Ingerid; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai upaya dilakukan pemerintah guna meningkatkan jumlah RTH perkotaan agar tercipta keseimbangan lingkungan yang berkelanjutan dan  meningkatkan kualitas lingkungan hidup di perkotaan salah satunya yaitu Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Kota Kotamobagu sejak tahun 2013 merupakan salah satu kota yang termasuk dalam program P2KH. Beberapa program telah di jalankan guna untuk menambah jumlah ruang terbuka hijau yang ada di Kota Kotamobagu. Namun,  beberapa program yang di jalankan terkesan tidak  terealisasi dan  terkelola dengan baik.  Oleh karena itu, Tujuan penelitian ini adalah perlu dievaluasi apa-apa saja ruang terbuka hijau yang ada di Kota Kotamobagu, serta sejauh apa Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dalam hal ini atribut Green open space dan atribut Green community di Kota Kotamobagu berjalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, SIG, dan AHP dibantu dengan software ArcGIS 9.2 dan Expert choice. Berdasarkan hasil penelitian RTH di Kota Kotamobagu terdiri dari RTH Publik  dan RTH Private dengan luasan keseluruhan 4664 hektar atau 67,92% dari luas wilayah Kota Kotamobagu. Sedangkan Untuk Program (P2KH) telah di jalankan dengan baik oleh pemerintah kota, atribut Green open space telah menjalankan 5 program dan atribut Green community telah menjalankan 3 program namun pengelolaan masih menjadi masalah utama. Kata Kunci     : Ruang terbuka hijau, Program Pengembangan Kota Hijau
KAJIAN PENGGUNAAN LAHAN PADA KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Rumagit, Eliska S.G.; Waani, Judy O; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Kalawat  adalah salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Minahasa Utara (luas 44.21 km²) Kecamatan Kalawat yang berkembang dengan jumlah penduduk yang selalu bertambah serta memiliki lokasi yang strategis karena berada di antara dua kota, yaitu Kota Manado dan Kota Bitung, sehingga Kecamatan Kalawat merupakan salah satu daerah penghubung bagi kota – kota tersebut. Kecamatan Kalawat juga mempunyai kondisi geografi yang cenderung landai sehingga terjadinya pembangunan perumahan-perumahan baru, tokoh, hotel dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Kalawat dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan. Perubahan  penggunaan  lahan  adalah bertambahnya suatu  penggunaan  lahan dari satu sisi penggunaan  ke penggunaan  yang  lainnya diikuti dengan berkurangnya  tipe  penggunaan lahan yang  lain dari suatu waktu  ke waktu berikutnya, atau berubahnya fungsi suatu lahan pada  kurun  waktu  yang  berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dan analisis SIG. Analisis Overlay. Dalam SIG berguna untuk menghasilkan penilaian terhadap perkembangan kota yang terjadi di Kawasan Cepat Tumbuh sedangkan Analisis Deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan hasil overlay peta time series berdasarkan citra satelit dan peta kondisi eksisisting kawasan cepat tumbuh.  Kata Kunci : Perkembangan Perkotaan, Lahan, Kawasan Cepat Tumbuh
IDENTIFIKASI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN KORIDOR JALAN TRANS SULAWESI DI AMURANG Tambajong, Josal; Mononimbar, Windy; Lahamendu, Verry
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan lahan di suatu wilayah selalu terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas penduduk di suatu tempat berdampak pada meningkatnya perubahan penggunaan lahan. Salah satu ditunjukan yaitu perubahan di sepanjang koridor Jalan Trans Sulawesi di Amurang. Amurang termasuk salah satu kota yang berkembang dengan jumlah penduduk yang setiap harinya meningkat serta memiliki berbagai macam kegiatan perkotaan yang tidak sedikit yang menyebabkan kebutuhan akan ruang juga tidak sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan dan mengkaji  faktor – faktor apa yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan koridor Jalan Trans Sulawesi di Amurang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan metode deskriptif dan menggunakan analisis SIG (Sistem Informasi Geografi). Perubahan penggunaan lahan koridor jalan Trans Sulawesi di Amurang meliputi perubahan luas lahan dan fungsi bangunan perubahan tersebut cenderung meningkat setiap tahunnya, yaitu perubahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Jenis perubahan fungsi yang terjadi yaitu perubahan fungsi dari tanah kosong menjadi perdagangan jasa, hunian menjadi perdagangan jasa, hunian menjadi perdagangan jasa sekaligus hunian, dan perdagangan jasa menjadi perdagangan jasa lainnya. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Koridor Jalan Trans Sulawesi adalah penduduk, aksesibiltas, prasarana dan sarana, daya dukung lahan, ekonomi dan kebijakan pemerintah.Kata Kunci : Penggunaan lahan, Koridor
PERENCANAAN KOMPONEN “WATER SENSITIVE URBAN DESIGN” KAWASAN RAWAN BANJIR DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO Asrar, Ramadhani -; Warouw, Fela -; Moniaga, Ingerid L
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Singkil merupakan salah satu Kecamatan di Kota Manado yang sebagian wilayahnya merupakan daerah yang termasuk dalam kategori rawan terhadap bencana banjir (RTRW Kota Manado).Water Sensitive Urban Design (WSUD) adalah konsep perencanaan lahan dan rekayasa pendekatan keteknikan yang mengintegrasikan siklus air perkotaan,  air hujan, air tanah, pengelolaan air limbah dan air bersih, ke dalam desain perkotaan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan dan meningkatkan daya tarik estetika dan rekreasi.WSUD dianggap dapat meminimalisir dampak dari bencana banjir yang terjadi pada Kecamatan Singkildengan memanfaatkan langkah yang tepat dalam desain dan operasi pembangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi,mengevaluasi, dan menganalisis kondisi dan ketersediaan komponen WSUD yang terdapat di Kecamatan Singkil serta untuk merencanakan komponen WSUD yang tepat pada kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptifkualitatif terhadap komponen WSUD eksisting pada Kecamatan Singkil. Tahapan pada penelitian yaitu identifikasi elemen WSUD pada kondisi eksisting, evaluasi berupa potensi dan masalah pada sampel, dilanjutkan dengan analisis sampel yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangan bagi tahapan perencanaan nantinya. Berdasarkan hasil studi, dapat ditarik 2 kesimpulan  yaitu elemen eksisting dari 5 komponen WSUD. Pada hasil evaluasi dan analisis didapati berbagai kondisi beragam dari elemen tersebut mulai dari kondisi, luasan, karakteristik, potensi, masalah, dan ketersediaan yang beragam dari setiap sampel tersebut dan menjadi pengantar bagi analisis berdasarkan karakteristik elemen tersebut serta kebijakan dan guidelines WSUD yang digunakan peneliti. Perencanaan menghasilkan peta rencanan zonasi dari ke 5 komponen tersebut serta Peta Grand Design untuk menunjukan integrasi antar kelima komponen tersebut.   Kata Kunci : Perencanaan, Komponen, Rawan Banjir, Water Sensitive Urban Design
PENGEMBANGAN OBJEK WISATA BAHARI DI LIKUPANG TIMUR (STUDI KASUS : PANTAI PULISAN) Thaib, Koesmayadi H; Supardjo, Suryadi; Lahamendu, Verry
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Pulisan merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat potensial di kembangkan yang terletak di Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara. Di desa ini terdapat beberapa objek wisata menarik seperti pantai, goa dan terumbu karang bawah laut. Sehingga menarik banyak wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing datang berkunjung ke desa ini. Namun akses menuju ke desa ini masih belum memadai karena kondisi infrastruktur jalan yang masih belum diperbaiki. Di tambah pula sarana dan prasarana serta fasilitas penunjang pariwisata lainnya belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi–potensi wisata yang ada di desa Pulisan, kemudian membuat strategi pengembangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis SWOT dengan dengan menggunakan matriks IFAS dan EFAS dan matriks SWOT. Matriks SWOT menunjukkan arahan dan strategi pengembangan potensi objek wisata Pantai Pulisan.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa objek wisata yang ada di Desa Pulisan sangat berpeluang untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Minahasa Utara hal tersebut dilihat dari hasil analisis Strength (Kekuatan) yaitu Desa Pulisan memiliki pantai dengan daya tarik flora dan fauna yang indah, pemandangan laut yang masih alami dan pasir putih yang asri serta keindahan terumbu karang bawah laut yang tak kalah menariknya dengan Taman Laut Bunaken. Sedangkan Opportunities (peluang) dengan dikembangkannya objek wisata ini dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyakarat sekitar dan  menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Minahasa Utara. Kata Kunci: Pengembangan, Wisata, Bahari, Desa Pulisan