cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
PERENCANAAN MITIGASI BENCANA LONGSOR DI KOTA AMBON Kesaulya, Hertine M; Poli, Hanny; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Ambon, seperti kebanyakan kota lainnya di Indonesia secara geografis berada pada daerah rawan bencana alam dan salah satu bencana yang sering terjadi adalah bencana longsor. Oleh sebab itu perlu adanya pengendalian pemanfaatan ruang sebagai antisipasi adanya pembangunan di daerah rawan longsor, yaitu berupa perencanaan mitigasi bencana longsor agar dampak dari bencana longsor bisa dikurangi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kerawanan bencana longsor di Kota Ambon dan merencanakan pengendalian pemanfaatan  ruang  menurut tingkat kerawanan longsor di Kota Ambon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dalam menganalisis tingkat kerawanan longsor dan merencanakan pengendalian pemanfaatan ruang. Analisis tingkat kerawanan dilakukan dengan memberikan skoring pada tiap-tiap parameter. Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui persebaran tingkat kerawanan longsor di Kota Ambon, yang dibagi meenjadi tiga tingkat kerawanan yaitu tingkat kerawanan tinggi, tingkat kerawanan sedang dan tingkat kerawanan rendah,yang selanjutnya diklasifikasikan lagi berdasarkan tipologi zona daerah rawan longsor. Berdasarkan hasil analisis tingkat kerawanan maka dapat diusulkan perencanaan pengendalian pemanfaatan ruang berupa arahan pemanfaatan ruang  kawasan rawan bencana longsor dan strategi penanganannya.   Kata Kunci : Perencanaan,  Mitigasi, Longsor
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SEPANJANG KORIDOR JALAN MANADO-BITUNG DI KECAMATAN KALAWAT Tujuwale, David Hizkia; Waani, Judy O; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Kalawat adalah salah satu kecamatan yang berkembang dengan jumlah penduduk yang selalu bertambah serta memiliki lokasi yang strategis karena berada di antara dua kota, yaitu Kota Manado dan Kota Bitung, sehingga Kecamatan Kalawat merupakan salah satu daerah penghubung bagi kota – kota tersebut. Kecamatan Kalawat juga mempunyai kondisi geografi yang cenderung landai sehingga terjadinya pembangunan perumahan-perumahan baru, tokoh, hotel dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan yang terjadi di sepanjang koridor Jalan Manado – Bitung di Kecamatan Kalawat dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan di koridor jalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dan analisis SIG. Jenis perubahan penggunaan lahan yang paling dominan adalah lahan kosong menjadi komersil seluas 10.11 ha, kemudian lahan kosong menjadi pendidikan seluas 0.83 ha, dan yang ketiga jenis lahan kosong menjadi hunian seluas 0.49 ha. Jumlah perubahan penggunaan lahan seluas 12.17 ha. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut yaitu faktor aksesibilitas, perkembangan penduduk, daya dukung lahan, prasarana dan sarana, serta nilai lahan. Adapun faktor lainnya yang mempengaruhi perubahan fungsi lahan yaitu faktor ekonomi.Kata Kunci : Perubahan Penggunaan Lahan, Koridor Jalan
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SISTEM INFOMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS KOTA BITUNG) Renyut, Lukas Rezky; Kumurur, Veronika; Karongkong, Hendriek H
SPASIAL Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bitung merupakan pusat kegiatan industri dan ekonomi yang memiliki topografi berupa daratan dan berbukit yamg relatif dekat yang berdampak pada penggunaan ruangnya menyebar ke daerah pebukitan. Hal ini akan menyebabkan perubahan fungsi lahan yang sangat berdampak terhadap munculnya lahan kritis. Dengan keadaan demikian mengakibatkan tingkat kekritisan lahan semakin tinggi dan dapat berdampak pada bencana erosi dan longsor. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi bencana yang muncul akibat lahan kritis tersebut maka perlu di identifikasi dan memetakan persebaran lahan kritis di Kota Bitung serta pemanfaatan ruang pada lahan kristis. Adapun metode yang digunakan  yaitu analisis spasial dengan menggunakan perangkat ArcGis. Prosesnya dengan cara overlay, metode ini sangat baik digunakan untuk kajian keruangan. Data spasial erosi, kelerengan, penutupan tajuk dan menajemen lahan dapat digunakan untuk mengetahui persebaran lahan kritis. Secara garis besar tahapan dalam analisis spasial lahan kritis terdiri dari 3 tahap yaitu Tumpangsusun data spasial, Editing data atribut, dan Analisis tabular. Hasil dari penelitian ini yaitu mengetahui persebaran lahan kritis dan pemanfaatan ruang pada lahan kristis. Persebaran lahan kritis kota Bitung terbagi atas 8 kecamatan yaitu Kecamatan Aertembaga ±4869,21 ha, Kecamatan Girian ±422,46 ha, Kecamatan Madidir ±1833,95 ha, Kecamatan Maesa ±94,58 ha, Kecamatan Matuari ±872,65 ha, Kecamatan Ranowulu ±11568,29 ha, Kecamatan Lembeh selatan 2977,52 ha, dan Kecamatan Lembeh Utara ±2279,14 ha. Pemanfaatan ruang pada lahan kritis di Kota Bitung didominasi oleh Ladang, Pasir bukit, Rawa, tanah kosong keselurahan lahannya masuk dalam kriteria lahan kritis. Untuk pemanfaatan ruang hutan rimba, perkebunan dll sebagian ruangnya masuk dalam kriteria lahan kritis dan tidak kritis. Khususnya untuk pemanfaatan ruang permukiman dan tempat kegiatan, seluruh ruangnya termasuk pada kriteria lahan kritis hal ini akan mengakibatkan ruang permukiman sangat rentan bencana banjir, erosi dan longsor. Kata kunci: Lahan Kritis, Pemanfaatan ruang, Pemetaaan, SIG
EVALUASI PELAYANAN TRANSPORTASI BENTOR DI KOTA KOTAMOBAGU BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA Karongkong, Hendriek H; Lintang, Tessa Viola Anastassya; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angkutan umum memiliki peran dan fungsi sangat penting dalam mobilitas masyarakat untuk memenuhi pergerakannya. Dilihat dari sudut pengguna jasa, pada umumnya terdapat beberapa kebutuhan seperti, waktu perjalanan yang lebih pendek atau kecepatan perjalanan, fasilitas perpindahan yang lebih baik, waktu menunggu yang lebih pendek, kenyamanan, atau perlindungan terhadap cuaca yang lebih baik. Sesuai dengan tujuan penyediaannya, angkutan umum seharusnya bisa memberi pelayanan yang baik dan layak bagi penggunanya. Pada kenyataannya tujuan tersebut masih jauh dari harapan. Kualitas pelayanan angkutan Bentor di Kota Kotamobagu masih belum maksimal, oleh karena itu peningkatan pelayanan angkutan Bentor di Kota Kotamobagu perlu dilaksanakan untuk melayani kebutuhan pergerakan penumpang. Ketidakmampuan angkutan Bentor di Kota Kotamobagu memberi pelayanan maksimal kepada masyarakat membuat Bentor di Kota Kotamobagu tidak mampu menunjukkan fungsinya sebagai angkutan Kota yang mampu melayani penumpang dengan pelayanan maksimal. Oleh karena itu, perlu diketahui tingkat kinerja pelayanan angkutan Bentor di Kota Kotamobagu berdasarkan persepsi masyarakat di Kota Kotamobagu. Hasil dari evaluasi ini menunjukkan bahwa, kinerja pelayanan angkutan Bentor di Kota Kotamobagu pada empat Kecamatan di Kota Kotamobagu berdasarkan persepsi pengguna sudah cukup memuaskan. Walaupun ada beberapa kinerja pelayanan yang dirasa masih belum memuaskan pengguna. Adapun kinerja yang paling banyak dikeluhkan pengguna sebagai kinerja yang paling buruk adalah tingkat keamanan, kriminalitas serta tarif bentor yang tidak sesuai dengan jarak tempuh. Oleh karena itu, beberapa solusi yang menjadi rekomendasi dari hasil penelitian ini antara lain perlu adanya perubahan model (modifikasi) dimana saat ini penumpang berada tepat di depaan sopir, sementara hal utama yang harus di perhatikan pada sebuah transportasi umum adalah keselamatan penumpang, sehingga penumpang harus terletak di belakang pengemudi. Dengan demikian dari segi kenyamanan dan keamanan lebih bisa di nikmati oleh para pengguna jasa transportasi. Selain itu harus ada penetapan tarif yang pasti dari pemerintah terkait. Kata kunci: angkutan Bentor, Kendaraan Roda Tiga, kinerja pelayanan, dan evaluasi
ANALISIS KERENTANAN WILAYAH PESISIR PANTAI DI PERKOTAAN TERNATE Westplat, Muhammad Jusnardi Hardyan; Tondobala, Linda; Makarau, Vicky H
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesisir merupakan wilayah yang memiliki multifungsi, seperti : pusat pemerintahan, pemukiman, industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian dan pariwisata. Multifungsi wilayah pesisir tersebut mengakibatkan peningkatan kebutuhan lahan dan prasarana lainnya, sehingga akan timbul masalah-masalah baru di wilayah pesisir. Masalah-masalah tersebut seperti perubahan morfologi pantai seperti terjadinya abrasi dan akresi. Kawasan pesisir di Kota Ternate yang mengalami kerusakan pantai di sebabkan oleh gelombang dan abrasi  yakni terdapat di Kecamatan Ternate Selatan, Kecamatan Ternate Utara dan Kecamatan Pulau Ternate. Oleh karena itu, untuk mengembalikan fungsi strategis kota pantai guna menjamin keselamatan masyarakat pesisir diperlukan terlebih dahulu perlu adanya perencanaan  kawasan pesisir yang memperhatikan aspek pengelolaan kawasan pantai untuk meminimalisir dampak bencana. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi kawasan dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap gelombang pasang dan abrasi pada Wilayah Pesisir di Perkotaan Ternate dan menyusun rencana adaptasi di wilayah pesisir pantai Perkotaan Ternate. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara kuantitatif deskriptif yaitu menjelaskan hubungan antara variable dengan menganalisis data numeric (angka) menggunakan statistic dengan software ArcGis. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk membandingkan kondisi eksisiting di lapangan yang dilihat dari kerentanan,keterpaparan dan adaptasi di wilayah pesisir di Kota Ternate. Kondisi eksisting yang ada di konversikan ke dalam nilai dan bobot yang ditentukan sehingga memudahkan untuk melalukan analisis numerik. Setelah itu, akan dibuatkan Peta untuk melihat kondisi wilayah pesisir. Hasil studi, diketahui kawasan dengan tingkat kerentanan tinggi pada Wilayah Pesisir di Perkotaan Ternate yakni kelurahan jambula,Gambesi,Sasa dan fitu. Berdasarkan analisis menyusun rencana adaptasi di wilayah pesisir pantai Perkotaan Ternate yakni adaptasi struktural dan non struktur. Kata Kunci : Kerentanan, Adaptasi, Pesisir Pantai
UPAYA PENANGANAN INFRASTRUKTUR KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN DI TANJUNG SELOR, KALIMANTAN UTARA Sonda, Stephany Matra; Makarau, Vicky H; Karongkong, Hendriek H
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah perkotaan pada saat ini telah menjadi masalah yang cukup rumit untuk diatasi. Perkembangan perkotaan membawa pertumbuhan kota pada konsekuensi negatif lewat beberapa aspek, termasuk aspek lingkungan.Timbulnya banyak pemukiman kumuh diperkotaan dimana menjadi penyebab tidak terkendalinya pembangunan perumahan dan permukiman sehingga menyebabkan muncul kawasan kumuh pada beberapa bagian kota sebagai dampak dari penurunan daya dukung lingkungan. Permukiman kumuh hingga saat ini masih menjadi masalah utama yang dihadapi di kawasan permukiman perkotaan. Menumpuknya sumber mata pencaharian di kawasan perkotaan menjadi magnet yang cukup kuat bagi masyarakat perdesaan (terutama golongan MBR) untuk bekerja di kawasan perkotaan dan tinggal di lahan lahan ilegal yang mendekati pusat kota, hingga akhirnya menciptakan lingkungan permukiman kumuh. Di sisi lain, belum terpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM) perkotaan pada beberapa kawasan permukiman yang berada di lahan legal pun pada akhirnya juga bermuara pada terciptanya permukiman kumuh di kawasan perkotaaan.Kawasan Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia merupakan kawasan kumuh yang berada di Ibu kota Kabupaten Bulungan dalam RP2KPKP Kabupaten Bulungan 2016 kawasan ini menjadi prioritas penanganan dengan kategori kumuh berat. Permasalahan pada kawasan Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia terkait dengan ketersediaan infrastruktur yang  menggambarkan kondisi infrastruktur Bulu Perindu dan Tanjung  Rumbia yang belum memadai. Tujuan penelitian mengidentifikasi ketersediaan pelayanan infrastruktur permukiman kumuh berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) di lokasi penelitian, serta menganalisis upaya penanganan infrastruktur permukiman kumuh pada kawasan penelitian. Penelitian ini menggunakan Metode analisis Kuantiatif Deskriptif. Hasil analisis menunjukan kondisi faktual di lapangan yaitu belum tersedianya infrastruktur yang memadai di kedua kawasan tersebut. Identifikasi ketersediaan infrastruktur dengan perhitungan SPM dan analisis upaya penanganan infrastruktur kawasan permukiman kumuh Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia adalah dengan melakukan Pencegaha dan Peningkatan Kualitas.                                             Kata Kunci: Permukiman, Infrastruktur, Kekumuhan
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG TERBANGUN DI KAWASAN PESISIR LOKASI STUDI KASUS: SEPANJANG PESISIR KOTA MANADO Tilaar, Sonny; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado memiliki potensi yang besar dalam bidang pesisir dan kelautan. Pemanfaatan ruang terbangun yang terjadi saat ini di kawasan pesisir Kota Manado membawa pengaruh besar bukan hanya pada bertumbuhnya perekonomian Kota Manado, peningkatan aktivitas masyarakat di kawasan pesisir, tapi juga membawa pengaruh terhadap lingkungan alam dan kelangsungan ekosistem kawasan pesisir. Penelitian ini dilakukan di sepanjang kawasan pesisir Kota Manado, dengan meliputi 5 (lima) kecamatan dan 21 (dua puluh satu) kelurahan yang termasuk dalam kawasan pesisir Kota Manado. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik dan kondisi fisik (alami dan buatan), dan sosial ekonomi pemanfaatan ruang terbangun kawasan pesisir Kota Manado, serta menganalisis kesesuaian antara kondisi eksisting pemanfaatan ruang terbangun kawasan pesisir Kota Manado dengan arahan perencanaan yang ada dalam RTRW Kota Manado 2010-2030. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan (wawancara dan dokumentasi), dan survey ke instansi terkait (permintaan data). Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa adanya ketidaksesuaian pemanfaatan ruang terbangun di kawasan pesisir Kota Manado antara arahan dalam RTRW Kota Manado 2010-2030 dengan kondisi eksisting di wilayah penelitian, antara lain: Permukiman di kawasan sempadan Pantai Malalayang, permukiman di kawasan sempadan Sungai Malalayang, Sario, dan Bailang, alih fungsi lahan perkebunan/pertanian menjadi lahan permukiman dan perdagangan/jasa, pertokoan dan Hotel yang dibangun membelakangi pantai di area reklamasi B on B (Boulevard on Bussiness), tumbuhnya permukiman kumuh di kawasan pesisir Kelurahan Bahu, Sindulang I, dan Sindulang II. Kata Kunci : Pemanfaatan ruang terbangun, Kawasan pesisir, RTRW
ANALISIS URBAN COMPACTNESS KOTA MANADO Tilaar, Sonny S; Sela, Rieneke L; Tondobala, Linda
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manado sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Utara sebagaimana kota-kota pada umumnya dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat.Hal ini mendorong terjadinya pertumbuhan fisik kota sehingga direncanakan atau tidak fenomena urban sprawl akan terjadi dengan sendirinya.  Fenomena urban sprawl dapat membawa dampak negative bagi perkembangan suatu kota mulai dari sisi ekonomi, sosial dan lingkungan perkotaan.  Salah satu konsep perencanaan kota yang dapat diterapkan dalam mereduksi permasalahan urban sprawl ini adalah konsep compact city. Tujuan dari   penelitian ini adalah  menentukan factor - faktor yang mempengaruhi urban compactness kota Manado serta mengukur tingkat urban compactness serta karakteristik urbannya. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kuantitatif dengan  unit analisis yaitu sepuluh kecamatan yang  ada di kota Manado .Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan tiga faktor utama yang dipakai untuk menentukan urban compactness di kota Manado yaitu kepadatan, fungsi campuran dan intensifikasi. Dari ketiga faktor itu, ditemukan dua faktor yang secara signifikan mempengaruhi terbentuknya kota kompak di Manado yaitu faktor kepadatan permukiman dan ketersediaan fasilitas kesehatan. Dari sepuluh kecamatan yang ada di Manado, hanya kecamatan Sario dan Wenang yang saat ini memiliki karakteristik urban compactness yang tinggi berdasarkan kedua factor yang signifikan tersebut.  Kata kunci :Urban Sprawl, Urban Compactness
SISTEM DISTRIBUSI KEBUTUHAN AIR BERSIH DI PULAU – PULAU KECIL Pattinama, Arentz R. V.; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan akan air minum di pulau kecil sangat penting untuk dikaji mengingat pulau kecil juga memiliki kekurangan, salah satunya adalah keterbatasan air minum. Melihat itu semua Maka pentingnya sistem distribusi air minum yang baik agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu dilakukan penelitan yang bertujuan : 1. mengkaji eksisting distrik sorong kepulauan dengan analisis spasial. 2. mengkaji jenis sistem  distibusi air minum di distrik sorong kepulauan  berdasarkan standar  penyediaan air minum (SPAM).  3. Memproyeksikan  kebutuhan Air minum Distrik Sorong Kepulauan selama 10 tahun (2016 – 2026). Metode yang digunakan di dalam penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif dengan  kajian spasial mencakup kajian geografis, pola penggunaan lahan, kajian sumber air dengan Geography Information System (GIS), kajian mengenai sistem penyediaan air minum meliputi sistem jaringan non perpipaan (SPAM) sedangkan proyeksi kebutuhan air mmeliputi kebutuhan air di sektor domestik dan non domestik berdasarkan DPU Dirjen Cipta Karya (1996). Hasil Penelitian dapat mengetahui sebaran kelerengan terlandai dan tercuram, topogafi terendah dan tertinggi, pola pemanfaatan lahan yang tergunakan, dan titik sumber air, kemudian sistem distribusi air minum belum memenuhi syarat standar dari peraturan pemerintah republik indonesia nomor 122 tahun 2015 tentang sistem penyediaan air minum - jaringan non perpipaan (SPAM), serta proyeksi kebutuhan air lebih menonjol pada pulau doom karena faktor populasi. Oleh karena itu perlu dibuatkan sistem regulasi untuk mengontrol kebutuhan konsumsi air tanah agar tidak merusak ekosistem dan pemeliharaan sumber air minum baik secara kualitas ataupun kuantitas di distrik sorong kepulauan.Kata Kunci:  penggunaan lahan,  Sistem distribusi air , Proyeksi kebutuhan air minum
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIDAK TERKELOLANYA OBJEK WISATA PANTAI BATU PINAGUT BOLAANG MONGONDOW UTARA Datukramat, Hermawan Pratama; Kumurur, Veronika -; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Batu Pinagut terletak di Boroko Utara kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Pantai pasir putih yang indah terletak pada posisi yang strategis dalam kota, sudah termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata (KSP), beberapa fasilitas telah dibangun namun belum dilakukan pengelolaan lebih lanjut dari Pemerintah. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan menentukan faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini menggunakan metode  kuantitatif deskriptif yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengambilan data dilapangan  dengan teknik survey atau observasi lapangan dan ditunjang wawancara dengan yang memiliki kepentingan. Setelah penyusunan data dilakukan analisis data menggunakan teknik analisis SWOT untuk menstrukturkan masalah dan mengetahui besarnya nilai dan bobot dari faktor-faktor penyebab yang diperoleh sehingga dapat diketahui pula faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diketahui empat faktor yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara yaitu belum disahkannya RIPPDA, pungutan masuk (retribusi) tidak diberlakukan, status kepemilikan lahan masih dimiliki warga, kurangnnya budaya sadar wisata masyarakat/pengunjung dan lemahnya promosi. Dengan menggunakan metode skoring  maka diketahui faktor dominan yang dominan adalah belum disahkannya RIPPDA.   Kata Kunci : Faktor Penyebab Tidak Terkelola, Objek Wisata Pantai, Batu Pinagut Bolmut